lotharmatheussitanggang

wordpress

PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA


BUNG KARNO

 PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

BIOGRAPHY AS TOLD TO CINDY ADAMS

 

Bab 1

 

Alasan Menulis Bab ini

 

TJARA  jang  paling  mudah  untuk  melukiskan  tentang  diri  Sukarno  ialah  dengan  menamakannja  seorang  jang  maha-pentjinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakjatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan  melebihi daripada segala-galanya ia tjinta kepada dirinya sendiri.

 

Sukarno   adalah   seorang   manusia   perasaan.   Seorang   pengagum.   Ia   menarik   napas   pandjang   apabila  menjaksikan  pemandangan  jang  indah.  Djiwanja  bergetar  memandangi  matahari  terbenam  di  Indonesia.  Ia  menangis dikala menjanjikan lagu spirituil orang negro.

 

Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banjak memiliki darah seorang seniman.”Akan  tetapi  aku  bersjukur  kepada  Jang  Maha  Pentjipta,  karena  aku  dilahirkan  dengan  perasaan  halus  dan  darah  seni. Kalau tidak demikian, bagaimana aku bisa mendjadi Pemimpin Besar Revolusi, sebagairnana 105 djuta  rakjat menjebutku ? Kalau tidak demikian, bagairnana aku bisa memimpin bangsaku untuk merebut kembali  kemerdekaan  dan  hak-azasinja,  setelah  tiga  setengah  abad  dibawan  pendjadjahan  Belanda?  Kalau  tidak  demikian  bagaimana  aku  bisa  mengobarkan  suatu  revolusi  ditahun  1945  dan   mentjiptakan  suatu  Negara  Indonesia  jang  bersatu,  jang  terdiri  dari  pulau  Djawa,  Bali,  Sumatra,  Kalimantan,  Sulawesi,  Kepulauan  Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda ?

 

Irama suatu-revolusi adalah mendjebol dan membangun. Pernbangunan menghendaki djiwa seorang arsitek.  Dan  didalam  djiwa  arsitek  terdapatlah  unsur-unsur  perasaan  dan  djiwa  seni.  Kepandaian  memimpin  suatu  revolusi  hanja  dapat  ditjapai  dengan  rnentjari  ilham  dalam  segala  sesuatu  jang  dilihat.  Dapatkah  orang  memperoleh  ilham  dalam  sesuatu,  bilamana  ia  bukan  seorang  manusia-perasaan  dan  bukan  manusia-seni  barang sedikit ?

 

Namun  tidak  setiap  arang  setudju  dengan  gambaran  Sukarno  tentang  diri  Sukarno.  Tidak  semua  orang  menjadari,  bahwa  djalan  untuk  mendekatiku  adalah  semata-mata  melalui  hati  jang  ichlas.  Tidak  semua  orang  menjadari,  bahwa  aku  ini  tak  ubahnja  seperti  anak  ketjil.  Berilah  aku  sebuah  pisang  dengan  sedikit  simpati jang keluar dari lubuk-hatimu, tentu aku akan mentjintaimu untuk selama-lamanja.

 

Akan  tetapi  berilah  aku  seribu  djuta  dollar  dan  disaat  itu  pula  engkau  tampar  mukaku  dihadapan  umum,  maka sekalipun ini njawa tantangannja aku akan berkata kepadamu, “Persetan !”

 

Manusia  Indonesia  hidup  dengan  getaran  perasaan.  Kamilah  satu-satunja  bangsa  didunia  jang  mempunjai  sedjenis  bantal jang  dipergunakan sekedar  untuk  dirangkul. Disetiap tempat-tidur orang Indonesia terdapat  sebuah  bantal  sebagai  kalang  hulu  dan  sebuah  lagi  bantal  ketjil  berbentuk  bulat-pandjang  jang  dinamai  guling. Guling ini bagi kami gunanja hanja untuk dirangkul sepandjang malam.

 

Aku  mendjadi  orang  jang  paling  menjenangkan  didunia  ini,  apabila  aku  merasakan  arus  persahabatan,  sirnpati terhadap persoalan-persoalanku, pengertian dan penghargaan datang menjambutku. Sekalipun ia tak  diutjapkan,  ia  dapat  kurasakan.  Dan  sekalipun  rasa-tidak-senang  itu  tidak  diutjapkan,  aku  djuga  dapat  merasakannja. Dalam  kedua hal  itu aku  bereaksi menurut instink. Dengan  satu perkataan jang lembut, aku  akan melebur. Aku bisa keras seperti badja, tapi akupun bisa sangat lunak.

 

Seorang  diplomat  tinggi  Inggris  masih  belum  menjadari,  bahwa  kuntji  menudju  Sukarno  akan  berputar  dengan  mudah,  kalau  ia  diminjaki  dengan  perasaan  kasih-sajang.  Dalam  sebuah  suratnja  belum  lama  berselang  jang  ditudjukan  ke  Downing  Street  10  ia  menulis,  “Presiden  Sukarno  tidak  dapat  dikendalikan,  tidak dapat diramalkan dan tidak dapat dikuasai. Dia seperti tikus jang terdesak.

 

“Suatu utjapan jang sangat bagus bagi seseorang jang telah mempersembahkan seluruh hidupnja kepangkuan  tanah-airnja, orang jang 13 tahun lamanja meringkuk dalam pendjara dan pembuangan, karena ia mengabdi  kepada  suatu  tjita-tjita.  Mungkin  aku  tidak  sependapat  dan  sependirian  dengan  dia  tetapi  seperti  seekor

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 1 dari 109

 

tikus  ?  Djantungku  berhenti  mendenjut  ketika  surat  itu  sampai  ditanganku.  Ia  mengachiri  suratnja  dengan  mengatakan, bahwa ia telah mengusahakan agar Sukarno mendapat perlakuan jang paling buruk dalam surat-  surat kabar.

 

“Aku  tidak  tidur  selama  enam  tahun.  Aku  tak  dapat  lagi  tidur  barang  sekedjap.  Kadang-kadang,  dilarut  tengah  malam,  aku  menelpon  seseorang  jang  dekat  denganku  seperti  misalnja  Subandrio,  Wakil  Perdana  Menteri  Satu  dan  kataku,  “Bandrio,  datanglah  ketempat  saja,  temani  saja,  tjeritakan  padaku  sesuatu  jang  gandjil,  tjeritakanlah  suatu  lelutjon,  bertjeritalah  tentang  apa  sadja  asal  djangan  mengenai  politik.  Dan  kalau saja tertidur, ma’afkanlah.” Aku membatja setiap malam, berpikir setiap malam dan aku sudah bangun  lagi djam lima pagi. Untuk pertamakali dalam hidupku aku mulai makan obat-tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.

 

Aku  bukan  manusia  jang  tidak  mempunjai  kesalahan.  Setiap  machluk  membuat  kesalahan.  Dihari-hari  keramat  aku  minta  ma’af  kepada  rakjatku  dimuka  umum  atas  kesalahan  jang  kutahu  telah  kuperbuat,  dan  atas   kekeliruan-kekeliruan   jang   tidak   kusadari.  Barangkali   suatu   kesalahanku   ialah,   bahwa   aku   selalu  mengedjar   suatu   tjita-tjita   dan   bukan   persoalan-persoalan   jang   dingin.   Aku   tetap   mentjoba   untuk  menundukkan  keadaan  atau  mentjiptakan  lagi  keadaan-keadaan,  sehingga  ia  dapat  dipakai  sebagai  djalan  untuk mentjapai apa jang sedang dikedjar. Hasilnja, sekalipun aku berusaha begitu keras bagi rakjatku, aku  mendjadi korban dari serangan-serangan jang djahat.

 

Orang bertanja,  “Sukarno, apakah engkau tidak merasa tersinggung bila  orang mengeritikmu ?”  Sudah tentu  aku  merasa  tersinggung.  Aku  bentji  dimaki  orang.  Bukankah  aku  bersifat  manusia  seperti  djuga  setiap  manusia  lainnja  ?  Bahkan  kalau  engkau  melukai  seorang  Kepala  Negara,  ia  akan  lemah.  Tentu  aku  ingin  disenangi  orang.  Aku  mempunjai  ego.  Itu  kuakui.  Tapi  tak  seorangpun  tanpa  ego  dapat  menjatukan  10.000  pulau-pulau  mendjadi  satu  Kebangsaan.  Dan  aku  angkuh.  Siapa  pula  jang  tidak  angkuh  ?  Bukankah  setiap  orang jang membatja buku ini ingin mendapat pudjian ?

 

Aku  teringat  akan  suatu  hari,  ketika  aku  menghadapi  dua  buah  laporan  jang  bertentangan  tentang  diriku.  Kadang-kadang  seorang  Kepala  Pemerintahan  tidak  tahu,  mana  jang  harus  dipertjajainja.  Jang  pertama  berasal dari madjalah “Look”. “Look” menjatakan, bahwa rakjat Indonesia semua menentangku. Madjalah ini  memuat  sebuah  tulisan  mengenai  seorang  tukang  betja  jang  mengatakan  seakan-akan  segala  sesuatu  di  Indonesia  sangat  menjedihkan  keadaannja  dan  orang-orang  kampungpun  sekarang   sudah  muak  terhadap  Sukarno.

 

Kusudahi membatja artikel itu pada djam lima sore dan tepat pada waktu aku telah siap hendak berdjalan-  djalan   selama   setengah   djam,   seperti   biasanja   kulakukan   dalam   lingkungan   istana-inilah   satu-satunja  matjam  gerak  badan  bagiku  seorang  pedjabat  polisi  jang  sangat  gugup  dibawa  masuk.  Sambil  berdjalan  kutanjakan  kepadanja,  apa  jang  sedang  dipikirkannja.”Ja,  Pak,”  ia  memulai,  “Sebenarnja  kabar  baik.”  “Apa  maksudmu dengan sebenarnja kabar baik ?” tanjaku. “Ja,” katanja, “Rakjat sangat menghargai Bapak. Mereka  mentjintai Bapak. Dan terutama rakjat-djelata. Saja mengetahui, karena saja baru menjaksikan sendiri suatu  keadaan  jang  menundjukkan  penghargaan  terhadap  Bapak.  Kemudian  ia  berhenti.  “Teruslah,”  desakku,  “Katakan padaku.

 

Darimana engkau dan siapa jang kautemui dan apa jang mereka lakukan ?” “Begini, Pak,” ia mulai lagi. “Kita  mempunjai suatu daerah, dimana perempuan-perempuan latjur semua ditempatkan setjara berurutan. Kami  memeriksa  daerah  itu  dalam  waktu-waktu  tertentu,  karena  sudah  mendjadi  tugas  kami  untuk  mengadakan  pengawasan  tetap.  Kemarin  suatu  kelompok  memeriksa  keadaan  mereka  dan  Bapak  tahu  apa  jang  mereka  temui  –  Mereka  menjaksikan  potret  Bapak,  Pak.  Digantungkan  didinding.”  “Dimana  aku  digantungkan  ?”  tanjaku  kepadanja.  “Ditiap  kamar,  Pak.  Ditiap  kamar  terdapat,  sudah  barang  tentu,  sebuah  tempat-tidur.  Dekat  tiap  randjang  ada  medja  dan  tepat  diatas  medja  itu  disitulah  gambar  Bapak  digantungkan.  “Dengan  gugup  ia  mengintai  kepadaku  sambil  menunggu  perintah.  “Pak,  kami  merasa  bahagia  karena  rakjat  kita  memuliakan   Bapak,   tapi   dalam   hal   ini   kami   masih   ragu   apakah   wadjar   kalau   gambar   Presiden   kita  digantungkan  didinding  rumah  pelatjuran.  Apa  jang  harus  kami  kerdjakan  ?  Apakah  akan  kami  pindahkan  gambar Bapak dari dinding-dinding itu ?” “Tidak,” djawabku. “Biarkanlah aku disana. Biarkan mataku jang tua  dan  letih  itu  memandangnja!  “Tidak  seorangpun  dalam  peradaban  modern  ini  jang  menimbulkan  demikian  banjak  perasasn  pro  dan  kontra  seperti  Sukarno.  Aku  dikutuk  seperti  bandit  dan  dipudja  bagai  Dewa.Tidak  djarang  kakek-kakek  datang  berkundjung  kepadaku  sebelum  mereka  imengachiri  hajatnja.  Seorang  nelajan  jang sudah tua, jang tidak mengharapkan pudjian atau keuntungan, berdjalan kaki 23 hari lamanja sekedar  hanja  untuk  sudjud  dihadapanku  dan  mentjium  kakiku.  Ia  menjatakan,  bahwa  ia  telah  berdjandji  pada  dirinja  sendiri,  sebelum  mati  ia  akan  melihat  wadjah  Presidennja  dan  menundjukkan  ketjintaan  serta  kesetiaan  kepadanja.  Banjak  jang  pertjaja  bahwa  aku  seorang  Dewa,  mempunjai  kekuatan-kekuatan  sakti  jang menjembuhkan.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 2 dari 109

 

Seorang petani-kelapa jang anaknja sakit keras bermimpi, bahwa ia harus pergi kepada Bapak dan minta air  untuk  anaknja.  Hanja  air-leding  biasa  dan  jang  diambil  dari  dapur.  Ia  jakin,  bahwa  air  ini,  jang  kuambil  sendiri,  tentu  mengandung  zat-zat  jang  menjembuhkan.  Aku  tidak  bisa  bersoal-djawab  dengan  dia.  karena  orang  Djawa  adalah  orang  jang  pertjaja  kepada  ilmu  kebatinan,  dan  ia  jakin  bahwa  ia  akan  kehilangan  anaknja kalau tidak membawa obat ini dariku. Kuberikan air itu kepadanja. Dan seminggu kemudian anak itu  sembuh kembali. Aku senantiasa mengadakan perdjalanan kepelbagai pelosok tanah air dari Sabang, negeri  jang  paling  utara  dari  pulau  Sumatra,  sampai  ke  Merauke  di  Irian  Barat  dan  jang  paling  timur.  Beberapa  tahun  jang  lalu  aku  mengundjungi  sebuah  desa  ketjil  di  Djawa  Tengah.  Seorang  perempuan  dari  desa  itu  mendatangi  pelajanku  dan  membisikkan,  “Jangan  biarkan  orang  mengambil  piring  Presiden.  Berikanlah  kepada saja sisanja. Saja sedang mengandung dan saja ingin anak laki-laki. Saja mengidamkan seorang anak  seperti Bapak. Djadi tolonglah, biarlah saja memakan apa-apa jang telah didjamah sendiri oleh Presidenku.”

 

 

Dipulau  Bali  orang  pertjaja,  bahwa  Sukarno  adalah  pendjelmaan  kembali  dari  Dewa  Wishnu,  Dewa  Hudjan  dalam   agama   Hindu.   Karena,   bilamana   sadjapun   Bapak   datang   ketempat   istirahat   jang   ketjil,   jang  kurentjanakan   dan   kubangun   sendiri   diluar   Denpasar,   bahkan   sekalipun   ditengah   musim   kemarau,  kedatanganku bagi mereka berarti hudjan. Orang Bali jakin, bahwa aku membawa pangestu kepada mereka.  Dikala  terachir  aku  terbang  ke  Bali  disana  sedang  berlangsung  musim  kering.  Tepat  setelah  aku  sampai  disana,  langit  tertjurah.  Berbitjara  setjara  terus-terang,  aku  memandjatkan-  do’a  sjukur  kehadirat  Jang  Maha-Pengasih  manakala  turun  hudjan  selama  aku  berada  di  Tampaksiring.  Karena,  kalaulah  ini  tidak-  terdjadi,  sedikit  banjak  akan  mengurangi  pengaruhku.Namun,  dunia  hanja  membatja  tentang  satu-orang  tukang  betja.  Dunia  hanja  tahu,  bahwa  Sukarno  bukan  ahli  ekonomi.  Itu  memang  benar.  Aku  bukan  ahli  ekonomi.  Tapi  apakah  Kennedy  ahli  ekonorni  ?  Apakah  Johnson  ahli  ekonomi?  Apakah  itu  suatu  alasan  bagi  madjalah-madjalah Barat untuk menulis bahwa negeriku sedang menudju kepada keruntuhan ekonomi ? Atau  bahwa  kami  adalah  “bangsa  jang  bobrok”.  Atau  untuk  mendjuduli  sebuah  tjerita:  “Mari  kita  bergerak  menentang Sukarno”? Kalau para wartawan membentji Djepang atau Filipina, mereka dapat menjebut suatu  daerah  disana,  dimana  seluruh  keluarga  —  ibu,  bapak  dan  anak-anaknja— bunuh  diri,  karena  menderita  kelaparan.  Ini  semua  sudah  diketahui  orang.  Tapi  tidak!  Hanja  mengenai  “Orang  Djahat  dari  Asia”  mereka  membuat foto-foto dari penderitaan rakjat, karena kekurangan makanan oleh musim kering dan hama tikus,  sementara   dilatarbelakangnja   digambarkan   hotelku   jang   indah.   Lalu   kepala   karangannja:   “Indonesia  kepunjaan  Sukarno”.  Tapi  itu  BUKAN  Indonesia  kepunjaan  Sukarno.  Indonesia  kepunjaan  Sukarno  sekarang  adalah suatu bangsa jang 10051 bebas butahuruf dibawah umur 45 tahun. Pada waktu Negara kami dilahirkan  duapuluh tahun jang lalu hanja 6% dari kami jang pandai tulis-batja. Indonesia kepunjaan Sukarno sekarang  adalah suatu bangsa jang dua intji lebih tinggi daripada generasi terdahulu. Apakah masuk diakal, anak-anak  bisa tumbuh lebih subur dalam keadaan kelaparan ?

 

 

Akan  tetapi  wartawan-wartawan  terus  sadja  menulis,  bahwa  aku  ini  seorang  “Budak  Moskow”.  Marilah  kita  perbaiki ini sekali dan untuk selama-lamanja. Aku bukan, tidak pernah dan tidak mungkin mendjadi seorang  Komunis.  Aku  menjembah  ke  Moskow  ?  Setiap  orang  jang  pernah  mendekati  Sukarno  mengetahui,  bahwa  egonja  terlalu  besar  untuk  bisa  mendjadi  budak  seseorang— ketjuali  mendjadi  budak  dari  rakjatnja.  Namun  para  wartawan  tidak  menulis  tentang  apa-apa  jang  baik  dari  Sukarno.  Pokok-pokok  jang  dibitjarakan  hanja  tentang  jang  djelek  dari  Sukarno.Mereka  suka  memperlihatkan  Hotel  Indonesiaku  jang  penuh  gairah  dan  dibelakangnja  gambar-gambar  daerah  pinggiran  jang  miskin.  Alasan  dari  “orang  jang  menghamburkan  uang”  mendirikan gedung itu ialah, untuk memperoleh devisa jang tidak dapat kami tjari dengan djalan lain. Kami  menghasilkan dua djuta dollar Amerika setelah hotel itu berdjalan selama setahun. Aku sadar, bahwa kami  masih mempunjai daerah pinggiran jang miskin dekat itu. Akan tetapi negeri-negeri jang kajapun punja hotel  jang  gemerlapan,  empuk  dari  jang  harganja  djutaan  dollar,  sedang  disudutnja  terdapat  bangunanbangunan  jang  tertjela  penuh  dengan  kotoran,  busuk  dan  djelek.  Aku  melihat   orang-orang  kaja  dengan  segala  kemegahannja berdjalan dengan sedan-sedan jang mengkilap, akan tetapi aku djuga melihat mereka-mereka  jang malang mentjakar-tjakar dalam tong-sampah mentjari kulit kentang. Memang ada daerah  pinggiran jang  miskin  diseluruh  kota  didunia.  Bukan  hanja  di  Djakarta  kepunjaan  Sukamo.  Barat  selalu  menuduhku  terlalu  memperlihatkan  muka  manis  kepada  Negara-Negara  Sosialis.  “Ooohh,”  kata  mereka,  “Lihatlah  Sukarno  lagi-  lagi bermain-main sahabat dengan Blok Tnmur.”

 

 

Jah,  mengapa  tidak  ?  Negara-Negara  Sosialis  tak  pernah  mengizinkan  seorangpun  mengedjekku  dalam  pers  mereka. Negara-Negara Sosialis selalu memudjiku. Mereka tidak membikin aku malu keseluruh dunia ataupun  tidak memperlakukanku dimaka umum seperti seorang anak jang tertjela dengan menolak memberikan lebih  banjak  djadjan  sampai  aku  mendjadi  anak  jang  manis.  Negara-Negara  Sosialis  selalu  mentjoba  untuk  merebut hati Sukarno. Krushchov mengirimi aku jam dan pudding dua minggu sekali dan memetikkan appel,  gamdum  dan  hasil  tanaman  lain  dari  panennja  jang  terbaik.  Djadi,  salakkah  aku  kalau  berterima-kasih  kepadanja ? Siapakah jang takkan ramah terhadap seseorang jang bersikap ramah kepadanja? Aku mengedjar  politik  netral,  ja  !  Akan  tetapi  dalam  hati-ketjilnja  siapa  jang  menjalahkanku,  djika  aku  berkata,  “Terima-  kasih rakjat-rakjat Negara Blok Timur, karena engkau selalu memperlihatkan kepadaku tanda persahabatan.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 3 dari 109

 

Terima-kasih rakjat-rakjat Negara Blok Timur, karena engkau berusaha tidak menjakiti hatiku. Terima-kasih,  karena  engkau  telah  menjampaikan  kepada  rakjatmu  bakwa  Sukamo  setidak-tidaknja  mentjoba  sekuat  tenaganja berbuat untak negerinja. Terima-kasih atas pemberianmu.” Apa jang kuutjapkan itu adalah tanda  terima-kasih—   bukan   Komunisme   !   Aku   ditjela   dalam   berbagai   soal.   Mengapa   dia   –   terlalu   banjak  mengadakan perdjalanan, musuh-musuhku selalu bertanja. Dibulan Djuni 1960, pada waktu aku mengadakan  perlawatan  selama  dua  bulan  empat  hari  ke  India,  Hongaria,  Austria,  RPA,  Guinea,  Tunisia,  Marokko,  Portugal,  Cuba,  Puerto  Rico,  San  Francisco,  Hawaii  dan  Djepang,  kepadaku  ditudjukan  kata-kata  baru  jang  dikarang  buat  diriku.  Aku  malahan  tidak  tahu  apa  maksud  “Have  707  Will  Travel”  hingga  seorang  sahabat  bangsa Amerika menerangkannja.

 

Memang benar, bahwa aku adalah satu-satunja Presiden jang mengadakan demikian banjak perlawatan. Aku  sudah   kemana-mana   ketjuali   ke   London,   sekalipun   Ratu   Inggris   sudah   dua   kali   mengundangku   untuk   berkundjung.   Aku   mengharapkan,   disatu   saat   dapat   menerima   keramahannja   itu.   Ada   sebabnja   aku  mengadakan  perlawatan  itu.  Aku  ingin  agar  Indonesia  dikenal  orang.  Aku  ingin  memperlihatkan  kepada  dunia, bagaimana rupa orang Indonesia. Aku ingin menjampaikan kepada dunia, bahwa kami bukan “Bangsa  jang  pandir”  seperti  orang  Belanda  berulang-ulang  kali  mengatakan  kepada  kami.  Bahwa  kami  bukan  lagi  “Inlander  goblok  hanja  baik  untuk  diludahi”  seperti  Belanda  mengatakan  kepada  kami  berkali-kali.  Bahwa  kami  bukanlah  lagi  penduduk  kelas  kambing  jang  berdjulan  menjuruk-njuruk  dengan  memakai  sarung  dan  ikat-kepala,  merangkak-rangkak  seperti  jang  dikehendaki  oleh  madjikan-madjikan  kolonial  dimasa  jang  silam.  Setelah  Republik  Rakjat  Tiongkok,  India,  Uni  Soviet,  dan  Amerika  Serikat,  maka  kami  adalah  bangsa  jang  kelima  didunia  dalam  hal  djumlah  penduduk.  3000  dari  pulau-pulau  kami  dapat  didiami.  Tapi  tahukah  Saudara  berapa  banjak  rakjat  jang  tidak  mengetahui  tentang  Indonesia  ?  Atau  dimana  letaknja  ?  Atau  tentang warna kulitnja, apakah kami sawomatang, hitam, kuning atau putih ?

 

 

Jang mereka ketahui hanja nama Sukarno. Dan mereka mengenal wadjah Sukarno.Mereka tidak tahu, bahwa  negeri kami adalah  rangkaian  pulau jang  terbesar didunia.  Bahwa negeri kami terhampar sepandjang 5.000  kilometer atau menutupi seluruh negeri-negeri Eropa sedjak dari pantai Barat benuanja sampai keperbatasan  paling  udjung  disebelah  Timur.Mereka  tidak  tahu,  bahwa  kami  sesudah  Australia  adalah  negara  keenam  terbesar,  dengan  luas  tanah  sebesar  dua  djuta  mil  persegi.  Mereka  umumnja  tidak  menjadari,  bahwa  kami  terletak  antara  dua  benua,  benua  Asia  dan  Australia,  dan  dua  buah  Samudra  raksasa,  Lautan  Teduh  dan  Samudra  Indonesia.  Atau,  bahwa  kami  menghasilkan  kopi  jang  paling  baik  didunia;  dari  itu  timbulnja  utjapan: “A cup of Java”. Bahwa setelah Amerika Serikat dan Uni Sovjet maka Indonesialah penghasil minjak  jang  terbesar  di  Asia  Tenggara  dan  penghasil  timah  jang  kedua  terbesar  didunia,  negara  terkaja  dialam  semesta  dalam  hal  sumber  alam.  Atau,  bahwa  satu  dari  empat  buah  ban  mobil  ~Amerika  dibuat  dari  karet  Indonesia. Namun apa jang mereka mau tahu hanja nama Sukarno.

 

 

Departemen  Luar  Negeri  kami  menjatakan  kepadaku,  bahwa  satu  kali  kundjungan  Sukarno  sama  artinja  dengan  sepuluh  tahun  pekerdjaan  Duta.  Dan  itulah  alasan,  mengapa  aku  mengadakan  perlawatan  dan  mengapa   aku   selalu   memberikan   kenjataan-kenjataan   tentang   tanah-airku   dalam   setiap   pidato   jang  kuutjapkan  disetiap  pendjuru  dunia.  Aku  hendak  mengadjar  orang-orang-asing  dan  memberikan  pandangan  pertama selintas lalu tentang negeriku, jang terhampar menghidjau dan tertjinta ini laksana untaian zamrud  jang   melingkar   disepandjang   katulistiwa.Pada   suatu   hari   sekretarisku   menjerahkan   sebuah   surat   jang  beralamat  singkat  “Presiden  Sukarno,  Indonesia,  Asia  Tenggara”.  Penulis  surat  ini  berkata,  ia  mendengar  bahwa  aku  ini  mengekang  kemerdekaan  pers  dan  apakah  itu  benar  dan  kalau  memang  demikian  alangkah  kedjamnja  aku  ini  !  Orang  jang  menulis  surat  pitjisan  ini  menamakan  aku  seorang  jang  angkara.  Dia  mengedjek kepadaku, tapi ini tidak kupedulikan. Tahukah engkau apa jang membuat aku gusar ? Kenjataan  bahwa dia menganggap kantorpos tidak tahu dimana letak Indonesia. Dan oleh sebab itu dia menambahkan  kata-kata ,,Asia Tenggara” pada alamatnja ! Pendapat manusia berdjalan bagai gelombang. Dalam tahun ’56  ketika   aku   pertamakali   berkundjung   ke   Amerika   Serikat,   setiap   orang   menjukaiku.   Sekarang   arusnja   mendjadi terbalik, menentang Sukarno. Betapapun, aku telah didjadikan bulan-bu}anan.

 

 

Baru-baru  ini  diserahkan  kepadaku  sebuah  madjalah  remadja  Amerika.  Madjalah  itu  memperlihatkan  gadis  striptease   setengah   telandjang,   jang   hanja   memakai   tjelana-dalam   dan   berdiri   disamping   Sukarno  berpakaian seragam militer lengkap. Ini adalah kombinasi jang ditempelkan mendjadi satu supaja kelihatan   seolah-olah satu foto dari seorang gadis penari-telandjang membuka pakaiannja dihadapan Presiden Republik  Indonesia.  Kedua  foto  ini  ditempelkan  -satu  dengan  jang  lain.  Ini  adalah  perbuatan  kotor  jang  dilakukan  terhadap  seorang  Kepala  Negara.  Apakah  aku  harus  mentjintai  Amerika,  kalau  ia  melakukan  perbuatan  seperti  itu  terhadap  diriku?  Aku  memperbintjangkan  muslihat  sematjam  ini  dengan  Presiden  Kennedy  jang  sangat  kuhormati.  John  F.  Kennedy  dan  aku  saling  menjukai  pergaulan  kami  satu  sama  lain.  Dia  berkata,  ,,Presiden   Sukarno,  saja  sangat  mengagumi  Tuan.  Seperti  saja  sendiri,  Tuan  mempunjai  pikiran  jang  senantiasa menjelidiki dan bertanja-tanja. Tuan membatja segala-galanja. Tuan sangat banjak mengetahui.”  Lalu dia membitjarakan tjita-tjita politik jang kupelopori dan mengutip bagian-bagian dari pidato-pidatoku.  Kennedy   mempunjai   tjara   untuk   mendekati   seseorang  melalui   hati   manusia.   Kami   banjak   mempunjai

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 4 dari 109

 

persamaan.  Kennedy  adalah  orang  jang  sangat  ramah  dan  menundjukkan  persahabatan  terhadapku.  Dia   membawaku   ketingkat   atas,   kekamartidurnja   sendiri   dan   disanalah   kami   bertjakap-tjakap.Kukatakan  kepadanja, ,,Tuan Kennedy, apakah Tuan tidak menjadari, bahwa sementara Tuan sendiri memadu hubungan  persahabatan,  seringkali  Tuan  dapat  merusakkan  hubungan  dengan  negara-negara  lain  dengan  membiarkan  edjekan, serangan makian dan mengizinkan kritik-kritik setjara tetap terhadap pemimpin mereka dalam pers  Tuan ? Kadang-kadang kami lebih tjondong untuk bertindak atau memberikan reaksi lebih keras, oleh karena  kami  dilukai  atau  dibikin  marah.  Sesungguhnja  apakah  pergaulan  internasional  itu  bukan  pergaulan  antar  manusia  dalam  hubungan  jang  lebih  besar  ?  Penggerogotan  terus-menerus  sematjam  ini  merobek-robek  keseimbangan  dan  mempertegang  lebih  hebat  lagi  hubungan  jang  sulit  antara  negara  lain  dengan  negeri  Tuan.”  ,,Saja  setudju  dengan  Tuan,  Presiden  Sukarno.  Sajapun  telah  mendapat  kesukaran  dengan  para  wartawan  kami,”  dia  mengeluh.  ,,Apakah  kami  beruntung  atau  tidak,  namun  kemerdekaan  pers  merupakan  satu  bagian  dari  pusaka  peninggalan  Amerika.”  ,,Ketika  Alben  Barkley  mendjadi  Wakil  Presiden  Amerika  Serikat,  ia  mengundjungi  tanah-air  saja,”  kataku.  ,,Dan  saja  sendiri  berdiri  dekat  beliau  diwaktu  beliau  ditjium oleh serombongan anak-anak gadis tjantik remadja.”,,Saja jakin, tentu Wakil Presiden Barkley sangat  bersenang  hati,”  kata  Kennedy  dengan  ketawa  jang  disembunjikan.  ,,Sekalipun  demikian  tak  satupun  surat  kabar Indonesia mau menjiarkannja.

 

 

Dan  disamping  itu  mereka  tak  berani  mengambil  risiko  untuk  menimbulkan  kesusahan  terhadap  seorang  negarawan keseluruh dunia. Barkley adalah seorang jang gembira dan barangkali tidak peduli bila gambarnja  itu  dimuat.  Akan  tetapi  bukanlah  itu  soalnja.  Jang  pokok  adalah  bahwa  kami  berkejakinan  perlunja  para  pemimpin  dunia  dilindungi  dinegeri  kami.  “Kennedy  sangat  seperasaan  denganku  mengenai  soal  ini  dan  berkata  kepadaku  dengan  penuh  kepertjajaan,  ,,Tuan  memang  benar  sekali,  tapi  apa  jang  dapat  saja  lakukan  ?  Sedangkan  saja  dikutuk  dinegeri  saja  sendiri.”Karena  itu  kataku,  ,,Ja,  itulah  sistim  Tuan.  Kalau  Tuan  dikutuk  dirurnah  sendiri,  saja  tidak  dapat  berbuat  apa-apa.  Akan  tetapi  saja  kira  saja  tidak  perlu  menderita   penghinaan   seperti   itu   dinegeri   Tuan,   dimana   Kepala   Negaranja   sendiri   harus   menderita  sedemikian.  Madjalah  Tuan  ,,Time”  dan  ,,Life”  terutama  sangat  kurang-adjar  terhadap  saja.  Tjoba   pikir,  ,,Time” menulis, ,,Sukarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu”. Selalu mereka menulis jang  djelek-  djelek. Tidak pernah hal-hal jang baik jang telah saja kerdjakan.”Sekalipun Presiden Kennedy dan aku telah  mengadakan  pertemuan  pendapat,  persetudjuan  dalam  lingkungan  ketjil  ini  tidak  pernah  tersebar  dalam  pers  Amerika  Serikat.  Masih  sadja,  hari  demi  hari,  mereka  menggambarkanku  sebagai  pengedjar- tjinta.  Ja,  ja, ja, aku mentjintai wanita. Ja, itu kuakui. Akan tetapi aku bukanlah seorang anak-pelesiran sebagaimana  mereka tudukkan padaku.

 

 

Di  Tokyo  aku  telah  pergi  dengan  kawan-kawan  kesuatu  Rumah  Geisha.  Tiada  sesuatu  jang  melanggar  susiia  mengenai  Rumah  Geisha  itu.  Orang  sekedar  duduk,  makan-makan,  bertjakap-tjakap  dan  mendengarkan  musik.  Hanja  itu.  Akan  tetapi  dalam  madjalah-madjalah  Ba  rat  digembar-gemborkn  seolah-olah  aku  ini  Le  Grand  Seducteur.Tanpa  hiburan-hiburan  ketjil  ini  aku  akan  mati.  Aku  mentjintai  hidup.  Orang-orang-asing  jang  mengundjungi  istanaku  menjatakan,  bahwa  aku  menjelenggarakan  ,,suatu  istana  jang  menjenangkan.”  Adjudan-adjudanku  mempunjai  wadjah-wadjah  jang  senjum.  Aku  berkelakar  dengan   mereka,  menjanji  dengan  mereka.  Bila  aku  tidak  memperoleh  kegembiraan,  njanjian  dan  sedikit  hiburan  kadang-kadang,  aku  akan  dibinasakan  oleh  kehidupan  ini.  Umurku  sudah  64  tahun.  Mendjadi  Presiden  adalah  pekerdjaan  jang  membikin  orang  lekas  tua.  Dan  kalau  orang  mendjadi  tua,  tentu  tidak  baik  bagi  seseorang.  Karena  itu,  sesekali  aku  harus  lari  dari  keadaan  ini,  supaja  aku  dapat  hidup  seterusnja.Banjak  kesenangan-kesenangan  jang sederhana telah dirampas dariku. Misalnja, dimasa ketjilku aku telah mengelilingi pulau Djawa dengan  sepeda. Sekarang perdjalanan sematjam itu tidak dapat kulakukan lagi, karena tentu tidak sedikit orang jang  akan mengikutiku.

 

 

Di  Hollywood  aku  diberi  kesempatan  untuk  rnelihat-lihat  disekitar  studio-studio  film.  Waktu  meninggalkan  halaman   studio   aku   melihat   seorang   anak   pengantar-surat   lewat   dengan   sepeda,   lalu   menghentikan  sepedanja untuk sesaat. Tiba-tiba aku merasa senang dan pikiranku terbuka, karena itu aku naik dan pergi.  Aku bukan hendak memberi kesan kepada siapapun. Hanja karena merasa senang. Jah, gema dan gambarku  ini  tersebar keseluruh dunia ini. Dinegeriku sendiripun aku tak dapat lagi menikmati kesenangan jang paling  memuaskan  hati,  jaitu  menggeledahi  toko-toko  kesenian,  melihat-lihat  benda  jang  akan  dikumpulkan,  lalu  menawarnja. Kemanapun aku pergi, rakjat berkumpul berbondong-bondong. Dokterku telah memperhatikan,  bahwa  kegembiraan  memang  mutlak  perlu  buat  mendjaga  kesehatanku.  Dengan  demikian  aku  bisa  terlepas  sedikit dari diriku sendiri dan dari pendjaraku. Karena begitulah keadaanku. Seorang tawanan. Tawanan dari  tata-tjara  serba  resmi.  Tawanan  dari  tata-tjara  kesopanan.  Tawanan  dari  peri-laku  jang  baikSetiap  orang  harus  mentjari  suatu  kesenangan  supaja  terlepas  dari  segala  tata-laku  ini.  Presiden  Ayub  Khan  main  golf,  Kennedy berperahu lajar, Pangeran Norodom Sihanouk mengarang musik, Radja Muang Thai main saxophone,  Lyndon  Johnson  mempunjai  tempat  peternakan.  Akupun  memerlukan  kesenangan.  Karena  itu,  bila  aku  mengadakan  perdjalanan,  aku  mengizinkan  diriku  sendiri  dengan  kesenangan  mendjalankan  tugas  dalam  mengedjar   kebahagiaan.   Sesuai   dengan   Undang-Undang   Dasar   Amerika   Serikat   setiap   orang   berhak  mengedjarnja.Mendjadi  Presiden  karena  diperlukan  menjebabkan  orang  mendjadi  terasing.  Ketjakapan  dan  sifat-sifat jang memungkinkan orang menduduki djabatan Presiden itu adalah ketjakapan dan sifat itu djuga

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 5 dari 109

 

jang  menjebabkan  ia  diasingkan.  Akan  tetapi,  dimata  orang  luar  aku  selalu  gembira.  Pembawaanku  adalah  demikian,   sehingga   perasaan   susah   jang   teramat   sangat   tidak   pernah   memperlihatkan   diri.   Sekalipun  perasaanku   hantjur-luluh   didalam,   orang   tak   dapat   menduganja.   Bukankah   Sukarno   terkenal   dengan  ,,senjumnja” ? Apapun djuga persoalanku— Malaysia, kemiskinan, lagi-lagi pertjobaan pembunuhan— Sukarno  dari luar senantiasa gembira. Seringkali aku duduk-duduk seorang diri diberanda Istana Merdeka. Beranda itu  tidak   begitu   indah.   Setengah   tertutup   dengan   lajar   untuk   menghambat   panas   dan   tjahaia   matahari.  Perabotnja  terdiri  dari  korsi  rotan  jang  tidak  dilapis  dan  tidak  ditjat  dan  medja  beralas  kain  batik  halus  buatan  negeriku.  Suatu  keistimewaan  jang  kuperoleh  karena  djabatan  tinggi  adalah  sebuah   korsi  jang  menjendiri  pakai  bantal.  Itulah  jang  dinamakan  ,,Korsi  Presiden”.’Dan  aku  duduk  disana.  Merenung.  Dan  memandang  keluar  ketaman  indah  jang  menghilangkan  kelelahan  pikiran,  taman  jang   kutanami  dengan  tanganku sendiri. Dan batinku merasa sangat sepi.Aku ingin bertjampur dengan rakjat. Itulah jang mendjadi  kebiasaanku. Akan tetapi aku tidak dapat lagi berbuat demikian.

 

 

Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas, napasku akan berhenti, apabila aku tidak bisa keluar  dan bersatu dengan rakjat-djelata jang melahirkanku. Kadang-kadang aku mendjadi seorang Harun al Rasjid.  Aku berputar-putar keliling kota. Seorang diri. Hanja dengan seorang adjudan berpakaian preman dibelakang  kendaraan. Terasa olehku kadangkadang, bahwa aku harus terlepas dari berbagai persoalan untuk sesaat dan  merasakan   irama   denjut   djantung   tanah-airku.   Namun   persoalan-persoalan   selalu   mengikutiku   bagai  bajangan  besar  dan  hitam  dan  jang  datang  dengan  samar  menakutkan  dibelakangku.  Aku  takkan  bisa  lepas  daripadanja. Aku takkan keluar dari genggamannja. Aku takkan dapat madju dengannja. Ia bagai hantu jang  senantiasa mengedjar-ngedjar. Pakaian seragam dan petji hitam merupakan tanda pengenalku. Akan tetapi  adakalanja kalau hari sudah malam aku menukar pakaian pakai sandal, pantalon dan kalau hari terlalu panas  aku  hanja  memakai  kemedja.  Dan  dengan-  katjamata  berbingkai  tanduk  rupaku  lain  samasekali.  Aku  dapat  berkeliaran  tanpa  dikenal  orang  dan  memang  kulakukan.  Ini  kulakukan  karena  ingin  melihat  kehidupan  ini.  Aku  adalah  kepunjaan  rakjat.  Aku  harus  melihat  rakjat,  aku  harus  mendengarkan  rakjat  dan  bersentuhan  dengan mereka. Perasaanku akan tenteram kalau berada diantara mereka. Ia adalah roti-kehidupan bagiku.  Dan   aku   merasa   terpisah   dari   rakjat-djelata.Kudengarkan   pertjakapan   mereka,   kudengarkan   mereka  berdebat,   kudengarkan   mereka   berkelakar   dan   bertjumbu-kasih.   Dan   aku   merasakan   kekuatan   hidup  mengalir  keseluruh  batang  tubuhku.  Kami  pergi  dengan  mobil  ketjil  tanpa  tanda  pengenal.  Adakalanja  aku  berhenti  dan  membeli  sate  dipinggiran  djalan.  Kududuk  seorang  diri  dipinggir  trottoir  dan  menikmati  djadjanku  dari  bungkus  daun  pisang.  Sungguh  saat-saat  jang  menjenangkan.  Rakjat  segera  mengenalku  apabila  mendengar  suaraku.  Pada  suatu  malam  aku  pergi  ke  Senen,  disekitar  gudang  kereta-api,  dengan  seorang  Komisaris  Polisi.  Aku  berputar-putar  ditengah-tengah  rakjat  dan  tak  seorangpun  memperhatikan  kami.  Achirnja,  untuk  sekedar  berbitjara  aku  bertanja  kepada  seorang  laki-laki,  ,,Dari   mana  diambil  batubata ini dan bahan konstruksi jang sudah dipantjangkan ini ?” Sebelum ia dapat memberikan djawaban,  terdengar teriakan, ,,Hee,” teriak suara perempuan, ,,Itu suara Bapak Ja suara Elapak Hee, orang-orang, ini  Bapak Bapak “Dalam beberapa detik ratusan kemudian ribuan rakjat datang berlari-lari dari segala pendjuru  Dengan tjepat Komisaris itu membawaku keluar dari situ, masuk mobil ketjil kami dan menghilang. Ditindjau  setjara keseluruhan maka djabatan Presiden tak ubahnja seperti suatu pengasingan jang terpentjil. Memang  ada   beberapa   orang   kawanku.   Tidak   banjak.   Seringkali   pikiran   oranglah   jang   berobah-obah,   bukan  pikiranmu.  Mereka  memperlakukanmu  lain.  Mereka  turut  mentjiptakan  pulau  kesepian  ini  disekelilingmu.  Karena itulah, apabila aku terlepas dari pendjaraku ini, aku menjenangkan diriku sendiri.

 

 

 

Di  Tokyo  aku  bisa  pergi  ke  Kokusai  Gekijo,  dimana  mereka  mempertundjukkan  diatas  panggung  sekaligus  empatratus  gadis-gadis  djelita.  Ditahun  1963  aku  baru  tahu,  bahwa  Duta  Besar  Indonesia  untuk  Djepang  diwaktu itu tidak pernah mengundjungi panggung ini. Aku mengumpatnja, ,,Hei, Bambang Sugeng, engkau ini  Duta  Besar  jang  malang.  Seorang  diplomat  harus  mengetjap  setiap  djenis  kehidupan  negeri  dimana  dia  ditempatkan.  Hajo  Mari  kita  pergi  melihat  gadis-gadis  itu.  “Akupun  mengadjak  seorang  Indonesia  jang  bersusila  kawakan,  jang  kaget  apabila  Presidennja  mempertjakapkan  wanita.  Orang  ini  mengerling  pada  gadis-gadis  jang  tjantik  ini,  kemudian  bangkit  dan  berkata,  ,,Saja  tidak  dapat  menjaksikannja.  Saja  akan  pergi sadja. Terlalu menegangkan pikiran saja.” Dia seorang munafik. Aku bentji orang-orang munafik. Sudah  barang  tentu  lagi-lagi  reputasiku  menjebabkan  aku  mendjadi  korban  keadaan.  Di  Fiiipina  ditahun  1964,  Presiden  Diosdado  Macapagal  menjambutku  dilapangan  terbang.  Beliau  mengiringkanku  ke  Laurels  Mansion  dimana  aku  menginap.  Disana  tinggal  Tuan  Laurels  bekas  Presiden  Filipina,  isterinja  dan  anak-tjutjunja.  Untuk   lebih   memeriahkan   kedatanganku   mereka   mendatangkan   Bayanihan   Cultural   Ensemble,   suatu  perkumpulan  paduan-suara,  jang  menjambutku  dengan  Tari  Lenso  sebagai  tanda  penghormatan.  Dua  orang  wanita  muda  tampil  dari  dalam  kelompok  ensemble  itu  dan  meminta  kepadaku  untuk  turut  menari.  Sukar  untuk  menolaknja,  karena  itu  aku  mulai  menari  dan  GEGER  !  Kilat  lampu  !  Djepretan  karnera  !  Dan  induk  karangannja:   “Lihat   Sukarno   pengedjar-tjinta   mulai   lagi”.   Aku   menjukai   gadis-gadis   jang   menarik  disekelilingku, karena gadis-gadis ini bagiku tak ubahnja seperti kembang jang sedang mekar dan aku senang  memandangi  kembang.  Ditahun  1946,  dihari-hari  jang  berat  itu  semasa  revolusi  fisik,  isteri  dari  sekretaris-  duaku datang setiap pagi hanja sekedar untuk membelah telor untuk sarapanku. Ah, sebenarnja aku sendiri  bisa memetjahkannja, akan tetapi isteriku tak pernah bangun begitu pagi dan aku merasa lebih tenang dan  kuat  disaat-saat  jang  tegang  seperti  itu  apabila  melihat  barang  sesuatu  tersenjum  disekitarku.  Aku   merasa

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 6 dari 109

 

terhibur  oleh  wanita-wanita  muda  disekeliling  kantorku.  Apabila  para  tetamu  menjiasati  tentang  adjudan-  adjudan wanitaku jang masih muda-belia, aku berkelakar kepada mereka, ,,Perempuan tak ubahnja seperti  pohon  karet.  Dia  tidak  baik  lagi  setelah  tigapuluh  tahun.”  Katakanlah,  aku  bereaksi  lebih  baik  terhadap  wanita.   Wanita   lebih   mengerti.   Wanita   lebih   bisa   turut   merasakan.   Kuanggaip   mereka   memberikan  kesegaran.  Djustru  wanitalah  jang  dapat  memberikan  ini  kepadaku.  Sekali  lagi,  aku  tidak  berbitjara   dalam  arti djasmaniah. Aku hanja sekedar tertarik pada suatu pandangan jang lembut atau sesuatu jang kelihatan  indah.   Sebagai   seorang   seniman,   aku   tertarik   menurut   pembawaan   watak   kepada   segala   apa   jang  menjenangkan  pikiran.  Bila  hari  sudah  larut  aku  merasa  lelah.  Seringkali  aku  kehabisan  tenaga,  sehingga  sukar  untuk  menggerakkan  persendian.  Dan  apabila  seorang  sekretaris  laki-laki  berbadan  besar,  tidak  menarik,  buruk  dan  botak  datang  membawa  setumpukan  tinggi  surat-surat  untuk  ditandatangani,  aku  akan  berteriak kepadanja supaja dia segera pergi dan membiarkanku seorang diri. Sepihan-sepihan kulitnja akan  rontok  dari  badannja  karena  kaget.  Aku  akan  menggeledek  kepadanja.  Aku  akan  bangkitkan  petir  diatas  kepalanja.  Akan  tetapi  bilamana  jang  datang  seorang  gadis  sekretaris  berbadan  ramping,  dengan  dandan  jang  rapi  dan  meluapkan  bau  harum  menjegarkan  tersenjum  manis  dan  berkata  kepadaku  dengan  lunak,  ,,Pak,  silahkan  “,  tahukah  engkau  apa  jang  terdjadi  ?  Bagaimanapun  keadaan  hatiku,  aku  akan  mendjadi  tenang.  Dan  aku  akan  selalu  berkata,  “Baik”.  Ditahun  ’61  aku  sakit  keras.  Di  Wina  para  ahli  mengefuarkan  batu dari gindjalku. Waktu itu adalah saat memuntjaknja perdjoangan kami merebut kembali Irian Barat dan  dalam kalangan lawan-lawan kami timbul kegembiraan.

 

 

Tidak  guna  lagi  mengutuk  Sukarno  dan  memintaminta  supaja  dia  mati,  karena  Sukarno  sekarang  sedang  menudju kematiannja. Karena itu para dokter melakukan perawatan jang lebih teliti terhadap diriku. Mereka  membudjuk  hatiku,  ,,Djangan  kuatir,  Presiden  Sukarno,  kami  akan  memberikan  perawat-perawat  jang  berpengalaman untuk mendjaga Tuan.” Hehhhh ! ! Ketika hal ini disampaikan kepadaku, keadaanku mendjadi  lebih  pajah  daripada  sewaktu  aku  mula-mula  masuk.  Aku  tahu  apa  jang  akan  kuhadapi.  Aku  tidak  berkata  apa-apa, karena aku tidak mau menentang dokter. Pendeknja dihari berikut ia melakukan pembedahan dan  aku  ingin  agar  hatinja  senang  terhadapku  selama  ia  mendjalankan  pembedahan  itu.  Akan  tetapi   sementara  itu aku berpikir dalam hatiku sendiri, “Aku akan lebih tjepat sembuh idengan gadis-gadis perawat jang tidak  berpengalaman,  karena  jang  sudah  punja  pengalaman  40  tahun  tentu  setidak-tidaknja  sekarang  sudah  berumur  55  !”Orang  mengatakan,  bahwa  Sukarno  suka  melihat  perempuan  tJantik  dengan  sudut  matanja.  Kenapa  mereka  berkata  begitu  ?  Itu  tidak  benar.  Sukarno  suka  memandangi  perempuan  tjantik  dengan  seluruk  bola  matanja.  Akan  tetapi  ini  bukanlah  suatu  kedjahatan.  Sedangkan  Nabi  Muhammad  sallallahu  ‘alaihi  wasallam  mengagumi  keindahan.  Dan  sebagai  seorang  Islam  jang  beriman  aku  adalah  pengikut  Nabi  Muhammad jang mengatakan, “Tuhan jang dapat mentjiptakan machluk-machiuk jang tjantik seperti wanita  adalah   Tuhan   Jang   Maha-Besar   dan   Maha-Pengasih.”   Aku   setudju   dengan   utJapan    beliau.Seperti   jang  dikisahkan,  Muhammad  mempunjai  seorang  budak  bernama  Said.  Said,  orang  jang  pertama-tama  masuk  Islam,  mempunjai  isteri  jang  sangat  tjantik  bernama  Zainab.  Ketika  Muhammad  melihat  Zainab,  beliau  mengutjapkan   “Allahu   Akbar”,    Tuhan    MahaBesar.Tatkala   murid-muridnja   bertanja,   mengapa   beliau  mengutjapkan  Allahu  Akbar  ketika  melihat  Zainab,  maka  beliau  mendjawab,  “Aku  memudji  Tuhan  karena  telah mentjiptakan machluk-machluk jang tjantik seperti perempuan ini.” Aku mendjundjung Nabi Besar. Aku  mempeladjari utjapan-utjapan beliau dengan teliti. Djadi, moralnja bagiku adalah: bukanlah suatu dosa atau  tidak sopan kalau seseorang mengagumi seorang perempuan jang tjantik. Dan aku tidak malu berbuat begitu,  karena dengan melakukan itu pada hakekatnja aku memudji Tuhan dan memudji apa jang telah ditjiptakan-  Nja.Aku hanja seorang pentjinta ketjantikan jang luarbiasa. Aku mengumpulkan benda-benda perunggu karja  seni dari Budapest, seni pualam dari Italia, lukisan-lukisan dari segala pendjuru.

 

 

Untuk Istana Negara di Djakarta aku sendiri berbelandja membeli kandil kristal jang berat dan korsi beludru  tjukilan  emas  di  Eropa.  Aku  memungut  permadani  di  Iraq.  Aku  membnat  sendiri  rentjana  medja  kantorku  dari  satu  potong  kajudjati  Indonesia  jang  utoh.  Aku  merentjanakan  medja  ruang-makan  Negara  dari  satu  potong   kajudjati   Indonesia.   Aku   menggantungkan   setiap   kain-hiasan-dinding,   memilih   setiap   barang,  merentjanakan dimana harus diletakkan setiap pot-bunga atau karja seni-pahat.Kalau aku melihat sepotong  kertas  dilantai,  aku  akan  berhenti  dan  memungutnja.  Anggota  Kabinet  tertawa  melihat  bagaimana  aku,  ditengah-tengah  persoalan  jang  pelik,  datang  kepada  mereka  dan  meluruskan  dasinja.  Aku  senang  bila  makanan diatur setjara menarik diatas medja. Aku mengagumi keindahan dalam segala bentuk.

 

Dalam  perkundjungannja  ke  Istana  Negara  di  Bogor,  seorang  Texas  terpikat  hatinja  pada  salah-satu  benda  seniku. “Tuan Presiden,” katanja tiba-tiba. “Saja akan menjampaikan apa jang hendak saja kerdjakan untuk  Tuan.  Saja  akan  menjerahkan  sebuah  Cadillac  sebagai  ganti  ini.”  Kukatakan  kepadanja  jah,  tak  soal  kata-  kata  apa  jang  telah  kuutjapkan  kepadanja.  Tapi  pokoknja  adalah  “Tidak”.  Tidak  satupun  dari  benda-benda  indah  jang  telah  kukumpulkan  dapat  ditukar  dengan  Cadillac.  Kalau  aku  senang  kepadamu,  engkau  akan  kuberi sebuah lukisan atau barang tenunan sebagai hadiah. Akan tetapi untuk mendjualnja, tidak, sekali-kali  tidak.   Semua   itu   akan   kuwariskan   kepada   rakjat   Indonesia,   bilamana   aku   pergi.   Biarlah   rakjatku  memasukkannja kedalam Museum Nasional. Kemudian, apabila mereka lelah atau pikirannja katjau, biarlah  mereka  duduk  dihadapan  sebuah  lukisan  dan  meneguk  keindahan  dan  ketenangannja,  sehingga  mengisi  seluruh kalbu mereka dengan kedamaian seperti ia djuga terdiadi terhadap diriku. Ja, aku akan mewariskan

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 7 dari 109

 

hasil-hasil   seni   ini   kepada   rakjatku.   Untuk   didjual?   Djangan   kira!   Seorang   orang-asing   jang   mengerti  kepadaku adalah Dutabesar Amerika di Indonesia, Howard Jones.

 

Ia  sudah  lama  ditempatkan  di  Djakarta  dan  mendjabat  sebagai  Ketua  dari  Korps  Diplomatik.  Kami  sering  terlibat  dalam  perdebatan-perdebatan  sengit  dan  pahit,  akan  tetapi  aku  semakin  memandangnja  sebagai  seorang kawan jang tertjinta. Uraian Howard tentang diri pribadiku adalah: “Suatu perpaduan antara Franklin   Delano  Roosevelt  dan  Clark  Gable.”  Apakah  orang  heran,  apabila  aku  menjebutnja  sebagai  seorang  kawan  jang tertjinta ? Disuatu hari Minggu beberapa tahun jang silam, ia dengan isterinja Marylou makan bersama-  sama   denganku   dan   isteriku   Hartini   dipaviljun   ketjil   karni   di   Bogor.   Bogor   adalah   tempat   didaerah  pegunungan  jang  sedjuk  diluar  kota  Djakarta.  Berlainan  dengan  dugaan  orang  bahwa  aku  mempunjai  kran-  kran  dari  emas  murni  seperti  sepantasnja  bagi  Jang  Dipertuan  didaerah  Timur,  maka  aku  tidak  tinggal  di  Istana  Negara  jang  besar  itu.  Dipekarangannja  kami  mempunjai  sebuah  bungalow  ketjil  jang  besaruja  kira-  kira sama dengan jang dipunjai oleh seorang pedjabat biasa. Bungalow ini terdiri dari beberapa kamar-tidur,  suatu ruang-makan ketjil dan ruang-duduk jang sangat ketjil. Ia tidak mewah. Sederhana sekali. Akan tetapi  menjenangkan dan itulah rumahku.Selagi makan Howard berkata, “Tuan Presiden, saja kira sudah waktunja  bagi Tuan untuk melihat kembali djalan-djalan dalam sedjarah. Menurut pendapat saja sudah tepat waktunja  bagi Tuan untuk menuliskan sedjarah hidup Tuan.”Seperti biasa, apabila seseorang menjebut-njebut tentang  otobiografi, aku mendjawab, “Tidak”.

 

 

Insja Allah, djika Tuhan mengizinkan, saatnja masih 10 atau 20 tahun lagi. Bagaimana saja bisa mengetahui  apa jang akan terdjadi terhadap diriku ? Siapa jang dapat mentjeriterakan, bagaimana djalannja kehidupan  saja ? Itulah sebabnja mengapa saja selalu menolak hal ini, karena saja jakin bahwa buruk-baiknja kehidupan  seseorang   hanja   dapat   dipertimbangkan   setelah   ia   mati.”   “Terketjuali   Presiden   Republik   Indonesia,”  djawabnja.  “Disamping  telah  mendjadi  Kepala  Negara  selama  20  tahun,  ia  telah  dipilih  sebagai  Presiden  seumur   hidup.   Ia   adalah   orang   jang   paling   banjak   diperdebatkan   dan   dikritik   didjaman   kita   ini.   Ia  “mempunjai  banjak  rahasia,”  kataku  dengan  senjum  jangdisembunjikan.  “Akan  tetapi  dialah  satu-satunja  orang jang dapat memberanikan diri untuk mengguratkannja dan disamping itu mendjawab seranganserangan  dari para pengeritiknja—dan kawan-kawannja.”Pertemuan ini merupakan pertemuan kekeluargaan jang tidak  formil.  Aku  pakai  badju  sport  dan  tidak  bersepatu.  Hartini  membuat  nasigoreng,  karena  dia  tahu  bahwa  keluarga  Jones  sangat  dojan  pada  nasi-goreng-ajam  dan  Presiden  makan  puluk—artinja  makan  dengan  tangan— dan  kami  duduk  disekitar  medja  bersama-sama  menikmati  saat-saat  istirahat  jang  menjenangkan,  jang  hanja  dapat  dilakukan  diantara  kawan-kawan  lama.  “Untuk  membuat  otobiografi  jang  sesungguhnja  sipenulis hendaknja dalam keadaan jang- susah seperti Rousseau ketika dia menulis pengakuan-pengakuannja  dan  pengakuan  jang  demikian  ternjata  sukar  bagi  saja.  Banjak  tokoh  jang  masih  hidup  akan  menderita,  apabila   saja   mentjeriterakan   semuanja.   Dan   banjak   pemerintahan-pemerintahan,   dengan   mana   saja  sekarang mempuniai hubungan jang baik, akan mendapat serangan sedjadi-djadinja apabila saja menjatakan  beberapa hal jang ingin saja tjeriterakan.” “Walaupun bagaimana, Tuan Presiden, orang-orang-asing merobah  pendirian  mereka  setelah  bertemu  dengan  Tuan  dan  djatuh  kedalam  kekuatan  pribadi  Bung  Karno  jang  terkenal  dan  menarik  seperti  besiberani.  Kalau  Tuan  terus  madju  dengan  daja-penarik  pribadi  Tuan  itu,  maka  saja  jakin  kritikus  jang  paling  tadjampun  kemudian  akan  berkata,  “Hee,  dia  sesungguhnja  tidak  bernapaskan asap dan api seperti naga. Dia sangat menjenangkan.” “Itulah sebabnja saja pada dasarnja ingin  berkawan,” kuterangkan kepadanja. “Saja menjukai orang Timur, saja menjukai orang Barat bahkan Tengku  Abdul  Rahman  sendiri  dan  orang  Inggris.  Pun  djuga  orang-orang  jang  membentji  saja.  Setiap  saat  apa-bila  mereka  ingin  bersahabat,  saja  lebih  ingin  lagi  dari  itu.  Suatu  kalisaja  mengetahui  bahwa  De  Gaulle  tidak  senang     kepada     saja.     Sekalipundemikian     saja     bertemu     dengan     dia     di     Wina.     Setelah     itu  sikapnjaberobah.”,,Itulah  maksud  saja,”  Jones  melandjutkan.  “Tuan  tidak  bisa  mendatangi  sendiri  seluruh  rakjat didunia, akan tetapi Tuan dapat datang kepada mereka dengan melalui halaman-halaman buLu. Tuan  menawan hati sedjuta pendengar dilapangan terbuka. Mengapa Tuau tidak menghendaki djumlah pendengar  jang  lebih  besar  lagi.  “Pertjakapan  ini  berlangsung  terus  sampai  makan  perabung,  berupa  pisang-rebus  kesukaanku.   “Begini,”   kataku.   “Suatu   otobiografi   tidak   ada   harganja,   ketjuali   djika   sipenulis   merasa  kehidupannja  tidak  berguna  apa-apa.  Kalau  dia  menganggap  dirinja  seorang  besar,  karjanja  akan  mendjadi  subjektif.  Tidak  objektif.  Otobiografiku  hanja  mungkin  djika  ada  perimbangan  dari  kedua-duanja.  Sekian  banjak jang baikbaik supaja dapat menenangkan egoku dan sekian banjak jang djelek-djelek sehingga orang  mau membeli buku itu. Kalau dimasukkan hanja jang baik-baik sadja orang akan menjebutmu egois, karena  memudji  diri  sendiri.  Memasukkan  hanja  jang  djelek-djelek  sadja  akan  menimbulkan  suasana  mental  jang  buruk bagi rakjatku sendiri. Hanja setelah mati dunia ini dapat ditimbang dengan djudjur, ‘Apakah; Sukarno  manusia jang baik ataukah manusia jang buruk ?’ Hanja di-saat itulah dia baru dapat diadili.”Bertahun-tahun  lamanja  orang  mendesakku  untuk  menuliskan  kenang-kenanganku.  Press  Officerku,  Njonja  Rochmuljati  Hamzah, selalu mendjadi perantara.Satu kali aku betul-betul membentak-bentak Roch jang manis ituDitabun  1960, ketika Krushchov sedang berkundjung kemari, ada seratus orang wartawan-asing berkerumun dibawah  tangga.   Disatu.   saat   dia   berkata,   “Ma’af,   Pak,   Bapak   djangan   marah,   karena   kami   sendiripun   tidak  mengetahui  sedjarah  hidup  Bapak.  Dan  Bapak  sedikit  sekali  memberikan  wawantjara.  Oleh  karena  itu  dapatkah  Bapak  menenteramkan  hati  saja  barang  sedikit  dan  menerima  seorang  wartawan  CBS  jang  ramah  sekali  dan  ingin  menulis  riwajat  hidup  Bapak  ?”  Aku  berpaling  kepadanja  dan  menjembur.  “Berapa  kali  aku

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 8 dari 109

 

harus mengatakan kepadamu, T-I-D-A-K ! ! Pertama, aku tidak mengenalnja, akan tetapi kalau aku pada satu  saat menulis riwajat hidupku, aku akan kerdjakan dengan seorang perempuan. Sekarang djauh-djauhlah dari  penglihatanku.     Engkau     seperti     pesurah     wartawanasing.”      Roch      berlari     keluar     dan     pulang  kerumahnja.Kemudian  aku  merasa  menjesal.  Adjudanku  menelpon  Roch  dan.  memberitahukan,  bahwa  aku  hendak beItemu dengan dia. Lalu kukirimi kendaraan untuk mendjemputnja. Dia datang dan mengira bahwa  akan menerima semprotan lagi, akan tetapi sebaliknja, Presidennja hendak minta ma’af kepadanja.

 

“Ma’afkanlah aku, Roch,” kataku. “Kadang-kadang aku berteriak dan menjebut nama-nama buruk, akan tetapi  sebenarnja akulah itu. Djangan masukkan kata-Lata itu dalam hatimu. Kalau aku meradang, itu berarti aku  mentjintaimu. Aku menjemprot kepada orang-orang jang terdekat dan paling kusajangi. Hanja mereka jang  mendjadi   papan-suaraku.”   Kemudian   kutjium   dia   dipipinja,   tjara   jang   biasa   kulakukan   sebagai   salam  pertemuan dan perpisahan dengan anakanak perempuan sekretarisku—dan dia pergi dengan hati jang senang  sekali.Itu   sebabnja,   mengapa   persoalan-persoalan   Asia   harus   diselesaikan   dengan   tjara   Asia.   Tjaraku  bukanlah  sesungguhnja  gaja  Barat,  kukira.  Aku  tak  dapat  membajangkan  seorang  Perdana  Menteri  Inggris  memeluk  sekretaris-wanitanja  sebagai  utjapan  selamat  pagi  atau  utjapan-ma’af,  setelah  mana  perempuan  itu lari keluar dan membiarkan dia sendiri.Aku tidak menduga, tidak lama setelah kedjadian ini aku bertemu  dengan  Cindy  Adams.  Cindy,  seorang  wartawan-wanita,  berada  di  Djakarta  ditahun  1961  dengan  suaminja  pelawak  Joey  Adams,  jang  memimpin  Missi  Kesenian  Presiden  Kennedy  ke  Asia  Tenggara.  Wanita  Amenka  jang riang dan rapi ini, dengan pembawaannja jang suka berkelakar, menjebabkan aku seperti kena pukau.  Wawantjara  dengan  Cindy  menjenangkan  sekali  dan  tidak  menjakitkan  hati.  Tulisannja  djudjur  dan  dapat  dipertjaja  sepen~nja.  Bahkan  dia  nampaknja  dapat  merasakan  sedikit  tentang  Indonesia  dan  persoalan  persoalannja  dan,  jah,  dia  adalah  seorang  penulis  jang  palingmenarik  jang  pernah  kudjumpai  !Kami  orang  Djawa  bekerdja  dengan  instink.  Setahun  lamanja  aku  mentjari-tjari  seorang  wanita  jang  akan  mendjabat  sebagai  press  officer,  akan  tetapi  ketika  aku  melihat  Roch  aku  segera  mengetabui~  bahwa  dialah  jang  kutjari.  Kupekerdjakan  dia  segera.  Begitupun  halnja  dengan  Cindy.Pada  kesempatan  lain,  ketika  Howard  Jones  memulai  lagi  pokok  pembitjaraan  tentang  sedjarah  hidupku,  aku  memberikan  ‘surprise~  kepadanja.  Aku meringis. ,,Dengan satu sjarat. Bahwa aku mengerdjakannja dengan Cindy Adams.”Dan apakah achiroja  jang  menjebabkan  aku  mengambil  keputusan  uatuk  mengerdjakan  sedjarah  hidupku  ?  Jah,  mungkin  djuga  benar, sudah mendekat waktu aku harus rnenjadari, bahwa aku sud’ah tua

 

 

Sekarang, mataku jang sudah tua dan malang itu berair. Aku harus memandang gambaran ini dengan alasan.  Disatu pagi jang lain seorang kemenakan datang menemuiku. Aku biasa memangkunja kelika dia masih ketjil.  Sekarang beratnja 70 kilo. Aku menjadari dengan tibatiba, bahwa aku tidak dapat memangkunja lagi diatas  lututku.  Mungkin  dia  akan  memataLkan  kakiku  jang  tua  dan  lelah  itu.  Memang  wanita  tjantik  dapat  membikin  hatiku  mendjadi  muda  lagi,  akan  tetapi  bila  aku  menginsjafi  bahwa  anak  itu  sekarang  mendjadi  ibu  dari  beberapa  orang  anak,  tahulah  aku  bahwa  aku  sudah  berangsur  tua  djuga.Dan  begitulah,  waktunja  sudah  datang.  Kalau  aku  hendak  menuliskan  kisahku,  aku  harus  mengguratkannja  sekarang.  Mungkin  aku  tidak  mempunjai  kesempatan  nanti.  Aku  tahu,  bahwa  orang  ingin  mengetabui,  apakah  Sukarno  seorang  kolaborator  Djepang  semasa  Perang  Dunia  Kedua.  Kukira  hanja  Sukarno  jang  dapat  menerangkan  periode  kehidupannja itu dan karena itu ia bersedia menerangkannja. Bertahun-tahun lamanja orang bertanja-tanja,  apakah   Sukarno   seorang   Diktator,   apakah   dia   seorang   Komunis;   mengapa   dia   tidak   membenarkan  kemerdekaan  pers;  berapa  banjak  isterinja;  mengapa  dia  membangun  departemen-store-departemen-store  jang baru, sedangkan rakjatnja dalam keadaan tjompang-tjamping ………Hanja Sukarno sendiri jang dapat  mendjawabnja.Ini adalah pekerdjaan jang sukar bagiku. Suatu otobiografi adalah ibarat pembedahan-mental  bagiku. Sungguh berat. Menjobek plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka  itu,   memang   sakit-sekalipun   banjak   diantaranja   jang   sudah   mulai   sembuh.   Tambahan   lagi,   aku   akan  melakukannja  dalam  bahasa  Inggris,  bahasa  asing  bagiku.  Terkadang  aku  membuat  kesalahan  dalam  tata-  bahasa  dan  seringkali  aku  terhenti  karena  merasa  agak  kaku.Akan  tetapi,  mungkin  djuga  aku  wadjib  mentjeritakan  kisah  ini  kepada  tanah-airku,  kepada  bangsaku,  kepada  anak-anakku  dan  kepada  diriku  sendiri. Karenanja kuminta kepadamu, pembatja, untuk mengingat bahwa, lebih daripada bahasa kata-kata  jang  tertulis  adalah  bahasa  jang  keluar  dari  lubuk-hati.  Buku  ini  tidak  ditulis  untuk  mendapatkan  simpati  atau  meminta  supaja  setiap  orang  suka  kepadaku.  Harapanku  hanjalah,  agar  dapat  menambah  pengertian  jang  lebih  baik  tentang  Sukarno  dan  dengan  itu  menambah  pengertian  jang  lebih  baik  terhadap  Indonesia  jang tertjinta.

 

 

Bab 2

 

Putera Sang Fadjar

 

IBU  telah  memberikan  pangestu  kepadaku  ketika  aku  baru  berumur  beberapa  tahun.  Dipagi  itu  ia  sudah  bangun sebelum matahari terbit dan duduk didalam gelap diberanda rumah kami jang ketjil, tiada bergerak.  Ia  tidak  berbnat  apa-apa,  ia  tidak  berkata  apa-apa,  hanja  memandang  arah  ke  Timur  dan  dengan  sabar  menantikan  hari  akan  siang.Akupun  bangun  dan  mendekatinja.  Diulurkannja  kedua  belah  tangannja  dan

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 9 dari 109

 

meraih  badanku  jang  ketjil  kedalam  pelukannja.  Sambil  mendekapkan  tubuhku  kedadanja,  ia  memelukku  dengan  tenang.  Kemudian  ia  berbitjara  dengan  suara  lunak,  ,,Engkau  sedang  memandangi  fadjar,  nak.  Ibu  katakan  kepadamu,  kelak  engkau  akan  mendjadi  orang  jang  mulia,  engkau  akan  mendjadi  pemimpin  dari  rakjat kita, karena ibu melahirkanmu djam setengah enam pagi disaat fadjar mulai menjingsing.

 

Kita  orang  Djawa  mempunjai  suatu  kepertjajaan,  bahwa  orang  jang  dilahirkan  disaat  matahari  terbit,  nasibnja  telah  ditakdirkan  terlebih  dulu.  Djangan  lupakan  itu,  djangan  sekali-kali  kaulupakan,  nak,  bahwa  engkau ini putera dari sang fadjar. “Bersamaan dengan kelahiranku menjingsinglah fadjar dari suatu hari jang  baru  dan  menjingsing  pulalah  fadjar  dari  satu  abad  jang  baru.  Karena  aku  dilahirkan  ditahun  1901.Bagi  Bangsa Indonesia abad kesembilanbelas merupakan djaman jang gelap. Sedangkan djaman sekarang baginja  adalah djaman jang terang-benderang dalam menaiknja pasang revolusi kemanusiaan. Abad ini adalah suatu  djaman   dimana   bangsa-bangsa   baru   dan   merdeka   dibenua   Asia   dan   Afrika   mulai   berkembang   dan  berkembangnja  negara-negara  Sosialis  jang  meliputi  seribu  djuta  manusia.  Abad  inipun  dinamakan  Abad  Atom.  Dan  Abad  Ruang  Angkasa.  Dan  mereka  jang  dilahirkan  dalam  Abad  Revolusi  Kemanusiaan  ini  terikat  oleh suatu kewadjiban untuk mendjalankan tugas-tugas kepahlawanan.

 

Hari  lahirku  ditandai  oleh  angka  serba  enam.  Tanggal  enam  bulan  enam.  Adalah  mendjadi  nasibku  jang  paling   baik   untuk   dilahirkan   dengan   bintang   Gemini,   lambang   kekembaran.   Dan   memang   itulah   aku  sesungguhnja. Dua sifat jang berlawanan. Aku bisa lunak dan aku bisa tjerewet. Aku bisa keras laksana badja  dan  aku  bisa  lembut  berirama.  Pembawaanku  adalah  paduan  daripada  pikiran  sehat  dan  getaran  perasaan.  Aku  seorang  jang  suka  mema’afkan,  akan  tetapi  akupun  seorang  jang  keras-kepala.  Aku  mendjebloskan  musuh-musuh Negara kebelakang djeradjak-besi, namun demikian aku tidak sampai hati membiarkan burung   terkurung didalam sangkar.Pada suatu kali di Sumatra aku diberi seekor monjet. Binatang itu diikat dengan  rantai.   Aku   tidak   dapat   membiarkannja   !   Dia   kulepaskan   kedalam   hutan.Ketika   Irian   Barat   kembali  kepangkuan  kami,  aku  diberi  hadiah  seekor  kanguru.  Binatang  itu  dikurung.  Kuminta  supaja  dia  dibawa   kembali ketempatnja dan dikembalikan kemerdekaannja. Aku mendjatuhkan hukuman mati, namun aku tak  pernah mengangkat tangan untuk memukul mati seekor njamuk. Sebaliknja aku berbisik kepada binatang itu,  ,,Hajo,  njamuk,  pergilah,  djangan  kaugigit  aku.”  Sebagai  Panglirna  Tertinggi  aku  mengeluarkan  perintah  untuk  membunuh.  Karena  aku  terdiri  dari  dua  belahan,  aku  dapat  memperlihatkan  segala  rupa,  aku  dapat  mengerti  segala  pihak,  aku  memimpin  semua  orang.  Boleh  djadi  mi  setjara  kebetulan  bersamaan.  Boleh  djadi  djuga  pertanda  lain.  Akan  tetapi  kedua  belahan  dari  watakku  itu  mendjadikan  aku  seseorang  jang  merangkul semuanja.

 

 

Masih  ada  pertanda  lain  ketika  aku  dilahirkan.  Gunung  Kelud,  jang  tidak  djauh  letaknja  dari  tempat  kami,  meletus. Orang jang pertjaja kepada tahjul meramalkan, ,,Ini adalah penjambutan terhadap baji Sukarno.”  Sebaliknja  orang  Bali  mempunjai  kepertjajaan  lain;  kalau  gunung  Agung  meletus  ini  berarti  bahwa  rakjat  tielah   melakukan   maksiat.   Djadi,   orangpun   dapat   mengatakan   bahwa   gunung   Kelud   sebenarnja   tidak  menjambut  baji  Sukarno.  Gunung  Kelud  malah  menjatakan  kemarahannja,  karena  anak  jang  begitu  djahat  lahir kemuka bumi ini.Berlainan dengan pertanda-pertanda jang mengiringi kelahiranku itu, maka kelahiran  itu  sendiri  sangatlah  menjedihkan.  Bapak  tidak  mampu  memanggil  dukun  untuk  menolong  anak  jang  akan  lahir.  Keadaan  kami  terlalu  ketiadaan.  Satu-satunja  orang  jang  menghadapi  ibu  ialah  seorang  kawan  dari  keluarga kami, seorang kakek jang sudah terlalu amat tua. Dialah, dan tak ada orang lain selain dari orang  tua itu, jang menjambutku mengindjak dunia ini. Di Bogor ada sebuah plaket-timbul jang terbuat dari batu  pualam  putih  lagi  bersih,  jang  melukiskan  kelahiran  Hercules.  Ia  tergantung  diruang  gang  jang  menudju  keruangan  resepsi  Negara.  Plaket  ini  memperlihatkan  baji  Hercules  dalam  pangkuan  ibunja  dikelilingi  oleh  empatbelas  orang  wanita-wanita  tjantik  —  semua  dalam  keadaan  telandjang.  Tjobalah  bajangkan,  betapa  bahagianja  untuk  dilahirkan  ditengah-tengah  empatbelas  orang  wanita  tjantik  seperti  ini  !  Akan  tetapi  Sukarno  tidak  sama  beruntungnja  dengan  Hercules.  Pada  waktu  aku  dilahirkan,  tak  seorangpun  jang  akan  mengambilku kedalam pangkuannja, ketjuali seorang kakek jang sudah terlalu amat tua.

 

 

Lalu  50  tahun  kemudian.  Ini  bukanlah  lelutjon  sebagai  bahan  tertawaan.  Ditahun  1949  Republik  kami  jang  masih muda mengindjak tahun keempat dari revolusi kami melawan Belanda. Suatu perdjuangan jang hebat  dengan menggunakan berbagai muslihat. Pihak sana di Negeri Belanda bentji kepadaku habis-habisan seperti  mereka  habis-habisan  membentji  neraka.  Mereka  menentangku  melalui  radio.  Dan  mereka  menentangku  melalui  pers.  Sebuah  madjalah  membuat  suatu  pengakuan  dengan  menjatakan  bahwa,  ,,Sukarno  adalah  seorang  jang  bersemangat,  dinamis  dan  berlainan  samasekali  dengan  orang  Djawa  jang  lamban  dan  lambat  berpikir.  Sukarno  dapat  berbitjara  dalam  tudjuh   bahasa  dengan  lantjar.  Kita  hendaknja   bisa  melihat  kenjataan   dan   kenjataan   adalah,   bahwa   Sukarno   sesungguhnja   seorang   pemimpin.”   Dalam   tulisan   ini  diuraikan   segala   sifat   dan   tanda   jang   baik   mengenai   diriku.   Dengan   segera   aku   menjadari   maksud-  tudjuannja.  Tulisan  itu  akhiruja  menjimpulkan,  ,,Pembatja  jang  budiman,  tahukah  pembatja  mengapa  Sukaroo  memiliki  sifat-sifat  jang  luar-biasa  itu?  Karena  Sukarno  bukanlah  orang  Indon!esia  asli.  Itulah  sebabnja.  Dia  adalah  anak  jang  tidak  sah  dari   seorang  tuan-kebun  dari  perkebunan  kopi  jang  mengadakan  hubungan  gelap  dengan  seorang  buruh  perempuan  Bumiputera,  kemudian  menjerahkan  anak  itu  kepada

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 10 dari 109

 

orang   lain   sebagai   anak-angkat.”Sajang   !   Satu-satunja   saksi   untuk   bersumpah   kepada   bapakku   jang  sesungguhnja  dan  untuk  mendjadi  saksi  bahwa  aku  dilahirkan  oleh  ibuku-jang  sebenarnja  bukan  oleh  pekerdja diperkebunan kopi sudah sedjak lama meninggal.

 

Melalui  generasi  demi  generasi  darah  Indonesia  sudah  bertjampur  dengan  orang  India,  Arab,  Polynesia  asli  dan sudah barang tentu dengan orang Tionghoa. Pada dasarnja kami adalah suku bangsa rumpun MeIaju. Dari  kata  asal  Ma  timbul  kata-kata  Manila,  Madagaskar,  Malaja,  Madura,  Maori,  Himalaja.  Nenek-mojang  kami  berpindah-pindah  disepandjang  daerah  Asia,  menetap  ditigaribu  pulau  jang  kemudian  mendjadi  orang  Bali,  Djawa,  Atjeh,  Ambon,  Sumatra  dan  seterusnja.  Aku  adalah  anak  dari  seorang  ibu  kelahiran  Bali  dari  kasta  Brahmana.  Ibuku,  Idaju,  asalnja  dari  keturunan  bangsawan.  Radja  Singaradja  jang  terachir  adalah  paman  ibu.  Bapakku  berasal  dari  Djawa.  Nama  lengkapnja  Raden  Sukemi  Sosrodihardjo.  Dan  bapak  berasal~dari  kieturunan  Sultan  Kediri.  Lagi-lagi,  merupakan  suatu  kebetulan  ataupun  suatu  takdir  padaku   bahwa  aku  dilahirkan  dalam  lingkungan  kelas  jang  berkuasa.  Namun  betapapun  asal  kelahiranku  ataupun   nasibku,  pengabdianku  untuk  kemerdekaan  rakjatku  bukanlah  suatu  keputusan  jang  tiba-tiba.  Aku  mewarisinja.  Semendjak  ta-hun  1596,  jaitu  pada  waktu  Belanda  per  tamakali  menjerbu  kepulauan  kami,  maka  tindakan  Belanda  menguasai  daerah  kami  dan  perlawanan  kami  jang  sia-sia  dalam  merebut  kembali  tanah-pusaka  kami  telah  membikin  hitam  Iembaran-lembaran  dalam  sedjarah  kami.  Kakek  dan  mojangku  dari  pihak  ibu  adalah  pedjuang-pedjuang  kemerdekaan  jang  gagah.  Mojangku  gugur  dalam  Perang  Puputan,  suatu  daerah  dipantai  utara  Bali  ditempat  mana  terletak  Keradjaan  Singaradja  dan  dimana  telah  berkobar  pertempuran  sengit dan bersedjarah melawan pendjadjah. Ketika mojangku menjadari, bahwa semuanja telah hilang dan  tentaranja  tidak  dapat  menaklukkan  lawan,  maka  ia  dengan  sisa  orang  Bali  jang  bertjita-tjita  mengenakan  pakaian  serba  putih,  dari  kepala  sampai  kekaki.  Mereka  menaiki  kudanja,  masing  masing  menghunus  keris,  lalu menjerbu musuh.

 

 

Mereka   dihantjurkan.   Radja   Singaradja   jang   terakhir   setjara   litjik   dikeluarkan   oleh   Belanda   dan  keradjaannja.  Kekajaannja,  tempat  tinggal,  tanah  dan  semua  miliknja  dirampas.  Mereka  mengundangnja  kesebuah kapaI perang untuk berunding. Begitu sampai diatas kapal, Belanda menahannja setjara paksa, lalu  berlajar dan mendjebloskannja ketiempat pembuangan. Setelah Belanda menduduki istananja dan merampas  miliknja, keluarga ibu djatuh melarat. Karena itu kebentjian ibu terhadap Belanda tak habis-habisnja dan ini  disampaikannja  kepadaku.Ditahun  1946,  ketika  itu  umur  ibu  sudah  lebih  dari  70  tahun,  Republik  kami  jang  masih   muda   terlibat   dalam   pertempuran-pertempuran   djarak   dekat   dengan   musuh.   Dalam   suatu  pertempuran,  pasukan  kami  berkumpul  dipekarangan  belakang  rumah  ibu  di  Blitar.  Kisah  ini  kemudian  ditjeritakan  oleh  pedjuang  gerilja  kepadaku,  ,,Ditempat  ini  keadaan  gerakan  kami  tenang  sekali.  Kami  semua  tiarap  menunggu.  Rupanja  ibu  tidak  mendengar  apa-apa  dari  pihak  kita.  Tidak  ada  tembakan,  tidak  ada teriakan. Dengan mata jang bernjala-njala beliau keluar mendatangi kami, ‘kenapa tidak ada tembakan ?  Kenapa tidak bertempur ? Apa kamu semua penakut ?

 

 

Kenapa kamu tidak keluar menembak Belanda Hajo, terus, semua kamu, keluar dan bunuh Belanda-Belanda  itu !'” Pihak bapakpun adalah patriot-patriot ulung. Nenek dari nenek bapak kedudukannja dibawah seorang  Puteri,  namun  dia  seorang  pedjoang-puteri  disamping  pahlawan  besar  kami,  Diponegoro.  Dengan  menaiki  kuda  dia  mendampingi  Diponegoro  sampai  menemui  adjalnja  dalam  Perang  Djawa  jang  besar  itu,  jang  berkobar  dari  tahun  1825  sampai  tahun  1830.Sebagai  kanak-kanak  aku  tidak  mendapat  tjeritera-tjeritera  seperti  ditelevisi  atau  tjeritera  Wild  West  jang  dibumbui.  Ibu  selalu  mentjeritakan  kisah-kisah  kebangsaan  dan kepahlawanan. Kalau ibu sudah mulai bertjerita, aku lalu duduk dekat kakinja dan dengan haus meneguk  kisah-kisah    jang    menarik    tentang    pedjoang-pedjoang    kemerdekaan     dalam    keluarga    kami.Ibupun  mentjeritakan tentang bagaimana bapak merebutnja. Semasa mudanja ibu mendjadi seorang gadis-pura jang  pekerdjaannja membersihkan rumah-ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak bekerdja sebagai guru sekolah  rendah gubernemen di Singaradja dan setelah selesai sekolah sering datang kelubuk dimuka pura tempat ibu  bekerdja untuk menikmati ketenangannja.

 

Pada suatu hari ia melihat ibu. Pada kesempatan lain ketika duduk lagi dekat lubuk itu ia melihat ibu sekali  lagi.  Setelah  sore  demi  sore  berlalu,  ia  menegur  ibu  sedikit.  Ibu  mendjawab.  Segera  ia  merasa  tertarik  kepada  ibu  dan  ibu  kepadanja.  Seperti  biasanja  menurut  adat,  bapak  mendatangi  orangtua  ibu  untuk  meminta  ibu  setjara  beradat.  ,,Bolehkah  saja  meminta  anak  ibu-bapak  ?”  Orangtua  ibu  lalu  mendjawab,  ,,Tidak  bisa.  Engkau  berasal  dari  Djawa  dan  engkau  beragama  Islam.  Tidak,  sekali-kali  tidak  !  Kami  akan  kehilangan  anak  kami.  ‘Seperti  halnja  dengan  keadaan  sebelum  Perang  Dunia  Kedua,  perempuan  Bali  tidak  ada jang mengawini orang luar. Jang kumaksud bukan orang luar dari negara lain, akan tetapi orang luar dari  pulau  lain.  Waktu  itu  tidak  ada  perkawinan  tjampuran  antara  satu  suku  dengan  suku  lain  samasekali.  Kalaupun  terdjadi  bentjana  sematjam  ini,  maka  pengantin  baru  itu  diasingkan  dari  rumah  orangtuanja.  sendiri.  Suatu  keistimewaan  dari  Sukarno,  ia  dapat  menjatukan  rakjatnja.  Warna  kulit  kami  mungkin  berbeda,  bentuk  hidung  dan  dahi  kami  mungkin  berlainan  lihat  orang  Irian  hitam,  lihat  orang  Sumatra  sawomatang, lihat orang Diawa pendek-pendek, orang Maluku lebih tinggi, lihat orang Lampung mempunjai  bentuk  sendiri,  rakjat  Pasundan  mempunjai  tjiri  sendiri,  akan  tetapi  kami  tidak  lagi  djadi  inlander  atau

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 11 dari 109

 

menganggap diri kami orang-asing satu sama lain. Sekarang kami sudah mendjadi orang Indonesia dan kami  satu.  Sembojan  negeri  kami  Bhineka  Tunggal  Ika  ,,Berbeda-beda  tapi  satu  djua’,.Kembali  kepada  kisah  bapakku, betapa sukanja situasi ketika ia hendak mengawini ibu. Terutama karena ia resminja seorang Islam,  sekalipun  ia  mendjalankan  Theosofi.  Untuk  kawin  setjara  Islam,  maka  ibu  harus  menganut  agama  Islam  terlebih dulu. Satu-satunja  djalan bagi mereka ialah kawin lari. Kawin lari menurut kebiasaan di Bali harus  mengikuti tata-tjara tertentu.

 

Kedua   merpati   itu   bermalam   dimalam   perkawinannja   dirumah   salah   seorang   kawan.   Sementara   itu  dikirimkan utusan kerumah orangtua sigadis untuk memberitahukan bahwa anak mereka sudah mendjalankan  perkawinannja.  Ibu  dan  bapakku  mentjari  perlindungan  dirumah  Kepala  Polisi  jang  mendjadi  kawan  bapak.  Keluarga  ibu  datang  mendjemputnja,  akan  tetapi  Kepala  Polisi  itu  tidak  mau  melepaskan.  ,,Tidak,  dia  berada dalam perlindungan saja,” katanja. Bukanlah kebiasaan kami untuk menghadapkan pengantin kemuka  pengadilan, sekalipun orangtua tidak setudju. Akan tetapi kedjadian ini adalah keadaan jang luarbiasa ketika  itu.  Bapak  seorang  IslamTheosof  dan  ibu  seorang  Bali  Hindu-Buddha.  Pada  waktu  perkara  itu  diadili,  ibu  ditanja, ,,Apakah laki-laki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri ?” Dan ibu mendjawab,  ,,Tidak,  tidak.  Saja  mentjintainja  dan  melarikan  diri  atas  kemauan  saja  sendiri.”Tiada  pilihan  lain  bagi  mereka, ketjuali mengizinkan perkawinan itu. Sekalipun demikian pengadilan mendenda ibu 25 ringgit, jang  nilainja  sama  dengan  25  dollar.  Ibu  mewarisi  beberapa  perhiasan  emas  dan  untuk  membajar  denda  itu  ibu  mendjuaI   perhiasannja.Karena   bapak   merasa   tidak   disukai   orang   di   Bali,   ia   kemudian   mengadjukan  permohonan  kepada  Departemen  Pengadjaran  untuk  dipindahkan  ke  Djawa.  Bapak  dikirim  ke  Surabaja  dan  disanalah putera sang fadjar dilahirkan.

 

 

Bab 3

 

Modjokerto: Kesedihan Dimasa Muda

 

MASA kanak-kanakku tidak berbeda dengan David Copperfield Aku dilahirkan ditengah-tengah kemiskinan dan  dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunjai sepatu. Aku mandi tidak dalam air jang keluar dari kran.  Aku  tidak  mengenal  sendok  dan  garpu.  Ketiadaan  jang  keterlaluan  demikian  ini  dapat  menjebabkan  hati  ketjil didalam mendjadi sedih. Dengan kakakku perempuan Sukarmini, jang dua tahun lebih tua daripadaku,  kami  merupakan  suatu  keluarga  jang  terdiri  dari  empat  orang.  Gadji  bapak  f  25  sebuIan.  Dikurangi  sewa  rumah kami di Djalan Pahlawan 88, neratja mendjadi f 15 dan dengan perbandingan kurs pemerintah f 3,60  untuk  satu  dollar  dapatlah  dikira-kira  betapa  rendahnja  tingkat  penghidupan  keluarga  kami.  Ketika  aku  berumur enam tahun kami pindah ke Modjokerto. Kami tinggal didaerah jang melarat dan keadaan tetangga-  tetangga kami tidak berbeda dengan keadaan sekitar itu sendiri, akan tetapi mereka selalu mempunjai sisa  uang sedikit untuk membeli pepaja atau djadjan lainnja.

 

Tapi aku tidak. Tidak  pernah. Lebaran adalah hari besar bagi ummat Islam, hari penutup dari bulan puasa,  pada bulan mana para penganutnja menahan diri dari makan dan minum ataupun tidak melewatkan sesuatu  melalui  mulut  mulai  dari  terbitnja  matahari  sampai  ia  terbenam  lagi.  Kegembiraan  dihari  Lebaran  sama  dengan  hari  Natal.  Hari  untuk  berpesta  dan  berfitrah.  Akan  tetapi  kami  tak  pernah  berpesta  maupun  mengeluarkan  fitrah.  Karena  kami  tidak  punja  uang  untuk  itu.  Dimalam  sebelum  Lebaran  sudah  mendjadi  kebiasaan bagi kanak-kanak untuk main petasan. Semua anak-anak melakukannja dan diwaktu itupun mereka  melakukannja. Semua, ketjuali aku.

 

Dihari Lebaran lebih setengah abad jang lalu aku berbaring seorang diri dalam kamar-tidurku jang ketjil jang  hanja tjukup untuk satu tempat-tidur. Dengan hati jang gundah aku mengintip keluar arah kelangit melalui  tiga  buah  lobang-udara  jang  ketjil-ketjil  pada  dinding  bambu.  Lobang-udara  itu  besarnja  kira-kira  sebesar  batubata. Aku merasa diriku sangat malang. Hatiku serasa akan petjah. Disekeliling terdengar bunji petasan  berletusan  disela  oleh  sorak-sorai  kawankawanku  karena  kegirangan.  Betapa  hantjur-luluh  rasa  hatiku  jang  ketjil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan djalan bagaimanapun dapat membeli petasan  jang harganja satu sen itu— dan aku tidak !

 

Alangkah  dahsjatnja  perasaan  itu.  Mau  mati  aku  rasanja.  Satu-satunja  djalan  bagi  seorang  anak  untuk  mempertahankan  diri  ialah  dengan  melepaskan  sedu-sedan  jang  tak  terkendalikan  dan  meratap  diatas  tempat-tidurnja.  Aku  teringat  ketika  aku  menangis  kepada  ibu  dan  mengumpat,  ,,Dari  tahun  ketahun  aku  selalu  berharap-harap,  tapi  tak  sekalipun  aku  bisa  melepaskan  mertjon.”  Aku  sungguh  menjesali  diriku  sendiri.  Kemudian  dimalam  harinja  datang  seorang  tamu  menemui  bapak.  Dia  memegang  bungLusan  ketjil  ditangannja. ,,Ini,” katanja sambil mengulurkan bingkisan itu kepadaku. Aku sangat gemetar karena terharu  mendapat  hadiah  itu,  sehingga  hampir  tidak  sanggup  membukanja.  Isinja  petasan.  Tak  ada  harta,  lukisan  ataupun  istana  didunia  ini  jang  dapat  memberikan  kegembiraan  kepadaku  seperti  pemberian  itu.  Dan  kedjadian  ini  tak  dapat  kulupakan  untuk  selama-lamanja.  Kami  sangat  melarat  sehingga  hampir  tidak  bisa

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 12 dari 109

 

makan satu kali dalam sehari. Jang terbanjak kami makan ialah ubi kaju, djagung tumbuk dengan makanan  lain.  Bahkan  ibu  tidak  mampu  membeli  beras  murah  jang  biasa  dibeli  oleh  para  petani.  Ia  hanja  bisa  membeli padi. Setiap pagi ibu mengambil lesung dan menumbuk, menumbuk, tak henti-hentinja menumbuk  butiran-butiran berkulit itu sampai mendjadi beras seperti jang didjual orang dipasar.,,Dengan melakukan ini  aku  menghemat  uang  satu  sen,”  katanja  kepadaku  pada  suatu  hari  ketika  sedang  bekerdja  dalam  teriknja  panas  matahari  sampai  telapak  tangannja  merah  dan  melepuh.  ,,Dan  dengan  uang  satu  sen  kita  dapat  membeli  sajuran,  ‘nak.”  Semendjak  hari  itu  dan  seterusnja  selama  beberapa  tahun  kemudian,  setiap  pagi  sebelum  berangkat  kesekolah  aku  menumbuk  padi  untuk   ibuku.  Kemelaratan  seperti  jang  kami  derita  menjebabkan orang mendjadi akrab.

 

Apabila tidak ada barang mainan atau untuk dimakan, apabila nampaknja aku tidak punja apa-apa didunia  ini  selain daripada ibu, aku melekat kepadanja karena ia adalah satu-satunja sumber pelepas kepuasan hatiku.  Ia adalah ganti gula-gula jang tak dapat kumiliki dan ia adalah semua milikku jang ada didunia ini. Jah, ibu  mempunjai  hati  jang  begitu  besar  dan  mulia.  Dalam  pada  itu  bapakku  seorang  guru  jang  keras.  Sekalipun  sudah  berdjam-djam,  ia  masih  tega  menjuruhku  beladjar  membatja  dan  menulis.  ,,Hajo,  Karno,  hafal  ini  luar kepala. Ha—Na—Tja—Ra— Ka Hajo, Karno, hafal ini; A-B-C-D-E” dan terus-menerus sampai kepalaku jang  malang ini merasa sakit. Lagi-lagi kemudian,

 

,,Hajo Karno, ulangi abdjad Hajo, Karno, batja ini Karno, tulis itu ” Tapi ajahku mempunjai kejakinan,  bahwa  anaknja  jang  lahir  disaat  fadjar  menjingsing  itu  kelak  akan  mendjadi  orang.  Kalau  aku  berbuat  nakal—ini  djarang   terdjadi—dia   menghukumku   dengan   kasar.   Seperti   dipagi   itu   aku   memandjat   pohon   djambu  dipekarangan  rumah  kami  dan  aku  mendjatuhkan  sarang  burung.  Ajah  mendjadi  putjat  karena  marah.  ,,Kalau   tidak   salah   aku   sudah   mengatakan   padamu   supaja   menjajangi   binatang,”   ia   menghardik.Aku  bergontjang ketakutan. ,,Ja, Pak.”,,Engkau dapat menerangkan arti kata-kata: ‘Tat Twan Asi, Tat Twam Asi’  ?”,,Artinja  ‘Dia  adalah  Aku  dan  Aku  adalah  dia;  engkau  adalah  Aku  dan  Aku  adalah  engkau.’  “,,Dan  apakah  tidak  kuadjarkan  kepadamu  bahwa  ini  mempunjai  arti  jang  penting  ?”,,Ja,  Pak.  Maksudnja,  Tuhan  berada  dalam  kita  semua,”  kataku  dengan  patuh.  Dia  memandang  marah  kepada  pesakitannja  jang  masih  berumur  tudjuh tahun.

 

,,Bukankah   engkau   sudah   ditundjuki   untok   melindungi   machluk   Tuhan   ?”,,Ja,   Pak.”,,Engkau   dapat  mengatakan  apa  burung  dan  telor  itu  ?”,,Tjiptaan  Tuhan,”  djawabku  dengan  gemetar,  ,,tapi  dia  djatuh  karena   tidak   disengadja.   Tidak   saja   sengadja.   “Sekalipun   dengan   permintaan   ma’af   demikian,   bapak  memukul  pantatku  dengan  rotan.  Aku  seorang  jang  baik  laku,  akan  tetapi  bapak  menghendaki  disiplin  jang  keras  dan  tjepat  marah  kalau  aturannja  tidak  dituruti.  Aku  segera  mentjari  permainan  jang  tidak  usah  mengeIuarkan uang untuk memperolehnja. Dekat rumah kami tumbuh sebatang pohon dengan daunnja jang  lebar.  Daun  itu  udjungnja  ketjil,  lalu  mengernbang  lebar  dipangkalnja  dan  tangkainja  pandjang  seperti  dajung. Adalah suatu hari jang gembira bagi anak-anak, kalau setangkai daun gugur, karena ini berarti bahwa  kami mempunjai permainan. Seorang lalu duduk dibagian daun jang lebar, sedang jang lain menariknja pada  tangkai  jang  pandjang  itu  dan  permainan  ini  tak  ubahnja  seperti  eretan.  Kadang-kadang  aku  mendjadi  kadanja, tapi biasanja mendjadi kusir. Watakku mulai berbentuk sekalipun sebagai kanak-kanak.

 

 

Aku  mendjadikan  sungai  sebagai  kawanku,  karena  ia  mendjadi  tempat  dimana  anak-anak  jang  tidak  punja  dapat  bermain  dengan  tjuma-tjuma.  Dan  iapun  mendjadi  sumber  makanan.  Aku  senantiasa  berusaha  keras  untuk   menggembirakan   hati   ibu   dengan   beberapa   ekor   ikan   ketjil   untuk   dimasak.   Alasan   jang   tidak  mementingkan  diri  sendiri  demikian  itu  pada  suatu  kali  menjebabkan  aku  kena  gandjaran  tjambuk.  Hari  sudah mulai sendja. Ketika bapakku melihat bahwa hari mulai gelap dan botjah Sukarno tidak ada dirumah,  dia  menuntut  ibu  dengan  keras:  ,,Kenapa  dia  bersenang-senang  tak  keruan  begitu  lama  ?  Apa  dia.  tidak  punja  pikiran  terhadap  ibunja  ?  Apa  dia  tidak  tahu  bahwa  ibunja  akan  susah  kalau  terdjadi  ketjelakaan  ?”,,Negeri   begini   ketjil,   Pak,   tidak   mungkin   kita   tidak   mengetahui   kalau   terdjadi   ketjelakaan,”   ibu  menerangkan.  Sekalipun  demikian,  bapak  jang  agak  keras  kepala  marah  dan  ketika  aku  sedjam  kemudian  melondjak-londjak gembira pulang dengan membawa ikan kakap untuk ibu, bapak menangkapku, merampas  ikan dan semua jang ada padaku, lalu aku dirotan sedjadi-djadinja.Tetapi ibu selalu mengimbangi tindakan  disiplin itu  dengan kebaikan hatinja. Oh, aku sangat  mentjintai  ibu. Aku  berlari berlindung kepangkuan ibu  dan  dia  membudjukku.  Sekalipun  rumput-rumput  kemelaratan  mentjekik  kami,  namun  bunga-bunga  tjinta  tetap   mengelilingiku   selalu.   Aku   segera   menjadari   bahwa   kasih-sajang   menghapus   segala   jang   buruk.  Keinginan akan tjinta-kasih telah mendiadi suatu kekuatan pendorong dalam hidupku.

 

 

Disamping  ibu  ada  Sarinah,  gadis-pembantu  kami  jang  membesarkanku.  Bagi  kami  pembantu  rumah-tangga  bukanlah pelajan menurut pengertian orang barat. Dikepulauan kami, kami hidup berdasarkan azas gotong-  rojong.  Kerdjasama.  Tolong-menolong,  Gotong-rojong  sudah  mendarah-daging  dalam  djiwa  kami  bangsa  lndonesia.  Dalam  masjarakat  jang  asli  kami  tidak  mengenal  kerdja  dengan  upah.  Manakala  harus  dilakukan  pekerdjaan jang berat, setiap orang turut membantu engkau perlu mendirikan rumah ? Baik, akan kubawakan  batu  tembok;  kawanku  membawa  semen.  Kami  berdua  membantumu  mendirikannja.  ltulah  gotong-rojong.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 13 dari 109

 

Setiap orang turun tangan. Ada tamu dirumahmu achir-achir ini ? Baik, djangan kuatir, akan kuantarkan kue  kerumahmu setjara diam-diam melalui djalan belakang. Atau beras. Atau nasi-goreng. ltulah gotong-rojong.  Bantu-membantu.  Sannah  adalah  bagian  dari  rumah-tangga  kami.  Tidak  kawin.  Bagi  kami  dia  seorang  anggota keluarga kami.

 

Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa jang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat  gadji sepeserpun. Dialah jang mengadjarku untuk mengenal tjinta-kasih. Aku tidak menjinggung pengertian  djasmaniahnja  bila  aku  menjebut  itu.  Sarinah  mengadjarku  untuk  mentjintai  rakjat.  Massa  rakjat,  rakjat  djelata. Selagi ia memasak digubuk ketjil dekat rumah, aku duduk disampingnja dan kemudian ia berpidato,  ,,Karno, jang terutama engkau harus mentjintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mentjintai pula  rakjat  djelata.  Engkau  harus  mentjintai  manusia  umumnja.”  Sarinah  adalah  nama  jang  biasa.  Akan  tetapi  Sarinah  jang  ini  bukanlah  wanita  jang  biasa.  Ia  adalah  satu  kekuasaan  jang  paling  besar  dalam  hidupku.  Dimasa  mudaku  aku  tidur  dengan  dia.  Maksudku  bukan  sebagai  suami-isteri.  Kami  berdua  tidur  ditempat-  tidur  jang  ketjil.  Ketika  aku  sudah  mulai  besar,  Sarinah  sudah  tidak  ada  lagi.  Aku  mengisi  kekosongan  ini  dengan  tidur  bersama-sama  kakakku  Sukarmini  ditempat  tidur  itu  djuga.  Kemudian  aku  tidur  dengan  Kiar,  suatu tjampuran dari fox terrier dengan andjing djenis Indenesia. Aku tidak tahu pasti, akan tetapi dia bukan  djenis  jang  murni.  Orang  lslam  agaknja  tidak  menjukai  andiing,  akan  tetapi  aku  mengaguminja.  Dengan  tjaranja  sendiri  bapakku  mentjurahkan  kasih  sajangnja  kepadaku.  Ketika  aku  berumur  sebelas  tahun  aku  diserang  penjakit  thypus.  Dua  setengah  bulan  lamanja  aku  berada  diambang-pintu  kematian.  Aku  hanja  bersandar  pada  kekuatan  bapak  jang  mendorongku  untuk  hidup.  Selama  dua  setengah  bulan  penuh  bapak  tidur  dibawah  tempat-tidur  bambuku.  Ia  berbaring  diatas  lantai  semen  jang  lembab,  dialas  dengan  tikar  pandan  jang  tipis  dan  lusuh,  tepat  dibawah  bilah-bilah  tempat-tidurku.Sepandjang  hari  dan  sepandjang  malam  selama  dua  setengah  bulan  bapak  berbaring  dibawahku.  Bukan  karena  ia  tidak  dapat  memperoleh  tempat barang setumpak untuk menjelip dalam kamarku jang sempit itu.

 

Tidak. Ini dilakukannja karena kepertjajaan mistik bapak. Ia hendak mendota terus, memohon siang-malam  agar  aku  diselamatkan  dan  memohon  agar  aku  mendapat  keLuatan-kekuatan  dari  Jang  MahaKuasa.  Akan  tetapi  supaja  kekuatan  mistiknja  dapat  memberikan  manfa’at  setjara  penuh,  jang  ditjurahkannja  langsung  dari  badannja  keseluruh  tubuhku,  maka  ia  harus  berbaring  dibawahku.  Tempat  ajah  berbaring  itu  hanja  beberapa  kaki,  gelap,  lembab  dengan  udaranja  jang  tidak  enak  dan  menjesakkan,  siang  dan  malam  sama  sadja dan disanalah ia selama itu menelentang hingga aku sehat sama sekali.Sewa rumah kami sangat murah,  karena  letaknja  kerendahan,  dekat  sebuah  kali.  Kalau  musim  hudjan  kali  itu  meluap,  membandjiri  rumah  dan   menggenangi   pekarangan   kami.   Dan   dari   bulan   Desember   sampai   April   kami   selalu   basah.   Air  menggenang jang mengandung sampah dan lumpur inilah jang mendjangkitkan penjakit thypusku.Setelah aku  sehat  kembali  kami  pindah  ke  Djalan  Residen  Pamudji.  Rumah  ini  tidak  lebih  baik  keadaannja,  akan  tetapi  setidak-tidaknja  ia  kering.  Kamar-kamarnja  melalui  ruangan  gelap  jang  pandjang.  Jang  paling  ketjil  adalah  kamarku,  jang  mempunjai  djendela  atap  sebagai  ganti  lobang-udara.  Untuk  memperoleh  uang  tambahan  beberapa  sen  kami  menerima  orang  bajar-makan;  tiga  orang  gurubantu  dari  sekolah  bapak  dan  dua  orang  kemenakan seumurku.

 

 

Nama  kelahiranku  adalah  Kusno.  Aku  memulai  hidup  ini  sebagai  anak  jang  penjakitan.  Aku  mendapat  malaria,  disenteri,  semua  penjakit  dan  setiap  penjakit.  Bapak  menerangkan,  ,,Namanja  tidak  tjotjok.  Kita  harus memberinja  nama lain supaja  tidak  sakit-sakit  lagi.”Bapak  adalah  seorang  jang  sangat  gandrung  pada  Mahabharata,  tjerita  klasik  orang  Hindu  djaman  dahulu  kala.  Aku  belum  mentjapai  masa  pemuda  ketika  bapak  menjampaikan  kepadaku  ,,Kus,  engkau  akan  kami  beri  nama  Karna.  Karna  adalah  salah-seorang  pahlawan  terbesar  dalam  tjerita  Mahabharata.”  ,,Kalau  begitu  tentu  Karna  seorang  jang  sangat  kuat  dan   sangat  besar,”  aku  berteriak  kegirangan.,,Oh,  ja,  nak,”  djawab  bapak  setudju.  ,,Djuga  setia  pada  kawan-  kawannja   dan   kejakinannja,   dengan   tidak   mempedulikan   akibatnja.   Tersohor   karena   keberanian   dan  kesaktiannja.  Karna  adalah  pedjoang  bagi  negaranja  dan  seorang  patriot  jang  saleh.”,,Bukankah  Karna  berarti djuga ‘telinga ?” aku bertanja agak kebingungan,,Ja, pahlawan-perang ini diberi nama itu disebabkan  kelahirannja. Dahulu kala, sebagaimana dikisahkan oleh Mahabharata, ada seorang puteri jang tjantik. Pada  suatu hari,  selagi bermain-main  dalam taman, puteri Kunti terlihat oleh  Surja Dewa Matahari.  Batara Surja  hendak   bertjinta-tjintaan  dengan  puteri   itu,  oleh   sebab  itu   dia  memeluk  dan   membudjuknja  dengan  keberanian dan tjahaja panasnja.

 

 

Dengan   kekuatan   sinar   tjintanja,   puteri   itupun   mengandung   sekalipun   masih   perawan.   Sudah   tentu  perbuatan  Dewa  Matahari  terhadap  perawan  jang  masih  sutji  itu  diluar  perikemanusiaan  dan  menimbulkan  persoalan  besar  baginja.  Bagaimana  tjaranja  mengeluarkan  baji  tanpa  merusak  tanda  keperawanan  puteri  itu.   Dia  tidak  berani  memetik  gadis  itu  dengan  memberikan  kelahiran  setjara  biasa.  Apa  akal  ………  Apa  akal  Ah,  persoalan  jang  sangat  besar  bagi  Batara  Surja.  Achirnja  dapat  dipetjahkannja,  dengan  melahirkan  baji  itu  melalui  telinga  sang  puteri.  Djadi,  karena  itulah  pahlawan  Mahabharata  itu  dinamai  Karna  atau  ‘telinga’.”  Sambil  memegang  bahuku  dengan  kuat  bapak  memandang  djauh  kedalam  mataku.  ,,Aku  selalu  berdo’a,”  dia  menjatakan,  ,,agar  engkaupun  mendjadi  seorang  patriot  dan  pahlawan  besar  dari  rakjatnja.

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 14 dari 109

 

Semoga engkau mendjadi Karna jang kedua.” Nama Karna dan Karno sama sadja. Dalam bahasa Djawa huruf  ,,A” mendjadi ,,O”. Awalan ,,Su” pada kebanjakan nama kami berarti baik, paling baik.

 

Djadi  Sukarno  berarti  pahlawan  jang  paling  baik.  Karena  itulah  maka  Sukarno  mendjadi  namaku  jang  sebenarnja dan satu-satunja. Sekali ada seorang wartawan goblok jang menulis, bahwa nama awalku adalah  Ahmad. Sungguh menggelikan. Namaku hanja Sukarno sadja. Memang dalam masjarakat kami tidak luar biasa  untuk  memakai  satu  nama  sadja.  Waktu  disekolah  tanda-tanganku   diedja  Soekarno—  menurut  edjaan  Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan supaja segala edjaan ,,OE” kembali ke ,,U”. Edjaan  dari  perkataan Soekarno sekarang mendjadi Sukarno. Akan tetapi, tidak mudah untuk merobah tanda-tangan  setelah berumur 50 tahun djadi kalau aku sendiri menulis tanda-tanganku, aku masih menulis S-O-E. Memang  aku  penjakitan  diwaktu  ketjil.  Dan  sekalipun  umpamanja  tidak  ada  penjakit  jang  diderita  oleh  baji  Kusno-  Karno,  beban  untuk  memberi  makan  dua  orang  anak  masih  terlalu  berat  bagi  bapak.  Seringkali  kami  harus  bergantung kepada kebaikan dan keramahan dari tetangga kami. Keluarga Munandar menempati rumah jang  serangkai  dengan  kami.  Menurut  tjara  Djawa  jang  sebenarnja,  kalau  kami  tidak  punja  beras,  kami  makan  punja mereka. Kalau kami tidak ada pakaian, kami pakai mereka punja. Sewaktu aku berumur sekitar empat-  lima tahun nenekku dari pihak bapak hendak membawaku ketempatnja.

 

 

,,Berikanlah  anak  itu  kepadaku  untuk  sementara,”  katanja.  ,,Aku  akan  mendjaganja.”  Dan  begitulah  aku  tinggal  di  Tulungagung jang letaknja tidak djauh  dari Modjokerto. Nenekku tidak kaja. Siapa  diantara kami  jang kaja diwaktu itu ? Tapi memang ada djuga jang sedikit berada. Nenek berdagang batik, djadi setidak-  tidaknja dia sanggup memberiku makan. Kakek dan nenek kedua-duanja mengatakan bahwa aku mempunjai  kekuatan-kekuatan  gaib.  Bilamana  ada  orang  sakit  dikampung  itu  atau  mendapat  luka  jang  terasa  sakit,  nenek  selalu  memanggilku  dan  dengan  lidah  aku  mendjilat  bagian  dimana  terasa  sakit.  Anehnja,  sisakit  mendjadi  sembuh.  Nenekpun  menduga  bahwa  aku  dapat  melihat  apa-apa  jang  gaib,  akan  tetapi  lintasan-  lintasan  penglihatan  galb  itu  menghilang  ketika  aku  mulai  menemukan  kekuatan  pidatoku  terhadap  rakjat.  Nampaknja,  apa  jang  disebut  kekuatan  ini  kemudian  tersalur  kearah  lain,  Pendeknja,  sesudah  berumur  17  tahun   aku   tak   pernah   lagi   memperoleh   penglihatan   setjara   ilmu   kebatinan.   Watakku   tidak   berobah  sedikitpun  selama  hampir  enam  dasawarsa.  Dalam  umur  tudjuh  tahun  aku  sudah  mendjadi  seorang  pemuja  seni.  Aku  memudja  Mary  Pickford,  Tom  Mix,  Eddie  Polo,  Fatty  Arbuckle,  Beverly  Bayne  dan  Francis  X.  Bushman.  Setiap  bungkus  rokok  Westminster  keluaran  Inggris  berisi  gambar  dari  seorang  bintang  sebagai  hadiah.  Aku  mengumpulkan  bungkus-  bungkus  rokok  jang  sudah  terbuang  dan  menempelkan  pahlawan-  pahlawan jang kupudja itu didinding. Aku mendjaga kumpulan ini dengan njawaku. Ini adalah harta-milikku  sendiri jang pertama.

 

Pada  waktu  berumur  10  tahun  djagoan  Karno  sudah  ternjata  mempunjai  kemauan  jang  keras.  Dengan  kekuatan  pribadiku  aku  mendjadi  tokoh  jang  berkuasa  setiap  kali  berkumpul.  Bahkan  keluargaku  sendiri  berkumpul mengelilingiku dan aku mendjadi pusat perhatian. Pada hari ulang-tahunku jang keduabelas, aku  sudah  mempunjai  pasukan.  Dan  aku  memimpin  pasukan  ini.  Kalau  Karno  bermain  djangirik  dalam  debu  dilapangan  Modjokerto,  jang  lain-lainpun  turut  main.  Kalau  Karno  mengumpulkan  perangko,  mereka  djuga  mengumpulkan. Mereka menamakanku seorang ,,djago” Aku mempunjai sebuah sumpitan jang kuperoleh dari  seorang   kawan.   Kami   menempatkan   bambu   jang   pandjang   dan   berlobang   ketjil   ini   kemulut   dan  menembakkan katjang kearah sasaran. Tentunja si Karno mendjadi djago penjumpit. Kalau kami memandjat  pohon, aku memandjat lebih tinggi dari jang lain. Dan akupun djatuh paling keras pula daripada anak-anak  lain. Akupun lebih sering melukai kepalaku dari jang lain.

 

Tapi setidak-tidaknja tak ada orang jang dapat mengatakan, bahwa aku tidak mentjobanja. Nasibku adalah  untuk  menaklukkan,  bukan  untuk  ditaklukkan,  sekalipun  pada  waklu  ketjilku.  Dalam  permainan  adu  gasing  ada  sebuah  gasing  kepunjaan  kawan  jang  berputar  lebih  tjepat  daripada  kepunjaanku.  Kupetjahkan  siluasi  itu  dengan  berpikir  tjepat  ala  Sukarno  kulemparkan  gasing  itu  kedalam  kali.  Bagaimanapun  djuga,  ada  permainan  dimana  seorang  anak  bangsa  Indonesia  dari  djamanku  tidak  dapat  menundjukkan  keahliannja.  Misalnja  Perkumpulan  Sepakbola.  Aku  bukan  hanja  tidak  bisa  mendjadi  ketuanja,  bahkan  aku  tidak  dapat  lama  mendjadi  anggotanja.  Anggota  jang  lain  adalah  anak-anak  Belanda  jang  terus-terang  tidak  senang  padaku.  Anak  Belanda  tidak  pernah  bermain  dengan  anak  Bumiputera.  Ini  tidak  bisa.  Mereka  orang  Barat  jang  putih  seperti  saldju,  jang  asli,  jang  baik  dan  mereka  memandang  rendah  kepadaku  karena  aku  anak  Bumiputera atau ,,inlander”. Bagiku Perkumpulan Sepakbola itu merupakan pengalaman pahit jang membikin  hati luka didalam. Anak-anak jang berambut djagung mendjaga kedua sisi dari pintu masuk sambil berteriak,  ,,Hei  ………  kauuuu  Bruine  Hei,  anak  kulit  tjoklat  goblok  jang  malang  …..Bumiputera  ……….inlander

 

……….anak  kampung  Hei,  kamu  lupa  memakai  sepatu…………”  Sedangkan  baji-baji  pirang  sudah  tahu  meludah  kepada  kami.  Begitu  mereka  keluar  dari  kain-bedung  orok,  inilah  pengadjaran  pertama  jang  diadjarkan  orangtuanja  kepada  mereka.  Dipagi  hari  aku  bergembira,  karena  aku  bersekolah  disekolah  Bumiputera, dirnana kami semua sama.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 15 dari 109

 

Kami  semua  tigapuluh  orang  murid  di  Inlandsche  School  kelas  dua.  Bapakku  mendjadi  Mantri  Guru  jang  berarti kepala sekolah. Orang Bumiputera dilarang memakai pangkat Kepala Sekolah. Diwaktu itu belum ada  bahasa  Indonesia  persatuan.  Sampai  kelas  tiga  setiap  murid  berbitjara  dalam  bahasa  Djawa  sebagai  bahasa  daerah.  Dari  kelas  tiga  sampai  kelas  iima  guru  memakai  bahasa  Melaju,  bahasa  Melaju  asli  jang  telah  tersebar  keselurah  bagian  dari  Hindia  Belanda  dan  achirnja  mendjadi  dasar  bagi  bahasa  nasional  kami,  bahasa  Indonesia.  Dua  kali  seminggu  kami  diadjar  bahasa  Belanda.Ketika  aku  naik  kekelas  lima,  bapak  menerangkan  maksudnja.  ,,Tjita-tjitaku  hendak  mengirim  kau  kesekolah  tinggi  Belanda,”  katanja.  ,,Karena  itu, usaha kita jang pertama ialah memasukkan engkau kesekolah rendah Belanda. “Karena teringat kembali  akan pengalamanku di Perkumpulan Sepakbola aku bertanja, ,,Apakah saja tidak dapat meneruskan sekolah  Bumiputera ?”,,Pendidikan Bumiputera hanja sampai kelas lima.

 

Tidak  ada  landjutannja  buat  kita.  Kita  tidak  boleh  masuk  Sekolah  Menengah  Belanda  kalau  tidak  keluaran  Sekolah Rendah Belanda dan tanpa idjazah ini orang tidak bisa masuk Sekolah Tinggi Belanda.”,,Apakah saja  bisa masuk kesana berdasarkan kepandaian ?” aku bertanja dengan perasaan kuatir.,,Kau masuk dengan hak  istimewa.   Pegawai   Gubernemen   dan   orang   kelahiran   bangsawan   diberi   kesempatan   untuk   menikmati  pendidikan Belanda. Jang lain tidak.”Mengingat keadaan kami aku bertanja, ,,Apakah tjuma-tjuma ?”,,Mana  bisa.   Kita   mesti   membajar   uang   sekolah.”,,Belanda   djuga?”,,Tidak,   mereka   bebas.   Akan   tetapi   dalam  pendjadjahan  tak  seorangpun  dapat  mentjapai  suatu  kedudukan  tanpa  pendidikan  Belanda.  Kita  harus  madju.  Aku  akan  menemui  Kepala  Sekolah  Rendah  Belanda  untuk  mengadjukan  permohonan.”Gedung  itu  bagus terbuat dari kaju, bukan bambu seperti sekolah kami dan dinding luarnja berwarna biru-muda. Disitu  terdapat  tudjuh  kelas.  Berlainan  dengan  medja  kami  di  Sekolah-Bumiputera,  maka  bangku-bangku  disini  mempunjai tempat tinta dan latji untuk buku.

 

 

Setelah  aku  menempuh  udjian,  Kepala  Sekolah  memberitahukan  kepada  bapak,  ,,Anak  tuan  sangat  pintar,  akan  tetapi  bahasa  Belandanja  belum  tjukup  baik  untuk  kelas  enam  Europeesche  Lagere  School.  Kami  terpaksa  mendudukkannja  satu  kelas  lebih  rendah.  “Ketika  kami  pergi  kami  merasa  sangat  tertekan.  Bapak  mengeluh.  ,,Ini  suatu  pukulan  jang  hebat  bagi  kita.  Tapi  walaupun  bagaimana,  tidak  ada  djalan  lain  lagi.”,,Umur  saja  sudah  empatbelas,”  aku  memprotes.  ,,Terlalu  tua  untuk  kelas  lima.  Tentu  orang  mengira  saja  tinggal  kelas  karena  bodoh.  Saja  tentu  diberi  malu.”,,Baiklah,”  bapak  memutuskan  disaat  itu  djuga,  ,,Kalau  perlu  kita  membohong.  Akan  kita  kurangi  umurmu  satu  tahun  Kalau  sudah  mulai  tahun-peladjaran  baru  engkau  didaftarkan  dengan  umur  tiga-belas.”Masih  ada  satu  persoalan  mengenai  bahasa  Belandaku.  Sekalipun kami orang jang tidak mampu, bapak mengambil seorang guru jang mengadjar bahasa Belanda di  Europeesche Lagere School ini untuk memberikan peladjaran chusus kepadaku sedjam setiap hari. Aku ingat  betul  namanja.  Juffrouw  M.P.  De  La  Riviere.  M.P.  kependekan  dari  Maria  Paulina.  Katakanlah,  bahwa  ia  orang  jang  paling  tidak  menarik  didunia  ini  dibandingkan  dengan  perempuan  lain  dan  karena  itu  ia  tetap  melekat  dalam  pikiranku.  Tjara  jang  paling  baik  untuk  menerangkan  arti  daripada  pendidikan  barat—dan  bagaimana  bapak  telah  bersusah-pajah  mengorbankan  uang,  prinsip  dan  segala  sesuatu  untuk  itu—- ialah  dengan  menghubungkannja  dengan  kisah  pertjintaanku  jang  pertamakali.  Aku  berumur  empatbelas  tahun  dan tidak ragu lagi hatiku jang muda ini telah tertambat pada Rika Meelhuysen, seorang gadis Belanda. Rika  adalah  gadis  pertama  jang  kutjium.  Dan  harus  kuakui,  bahwa  aku  sangat  gugup  waktu  itu.  Sedjak  itu  aku  lebih   ahli   dalam   hal   itu.Tapi,   aduh,  aku   mentjintai   gadis   itu   mati-matian   dan   kuikuti   turun   naiknja  gelombang   irama   dari   seluruh   kehidupan   anak   sekolah.   Aku   membawakan   buku-bukunja,   aku   dengan  sengadja  berdjalan  melalui  rumahnja,  karena  mengharapkan  sekilas  pandang  dari  dia.  Dan  nampaknja  aku  selalu  setjara  kebetulan  berada  dimana  dia  ada.  Tjintaku  ini  kusimpan  dalam  kalbuku  sendiri.  Aku  takut  mengutjapkan  sepatah  kata,  karena  takut  ketahuan  oleh  orangtuaku.  Aku  jakin,  bahwa  bapak  akan  sangat  marah  kepadaku  kalau  sekiranja  ia  mendengarku  bergaul  dengan  anak  gadis  kulitputih.  Sunggubpun  aku  sangat   ingin   menjampaikan   sesuatu   tentang   hal   itu   kepadanja,   ketakutan   terhadap   kemarahannja  menjebabkan  kata-kataku  membeku  dikerongkongan.  Karena  itu,  keinginan  jang  menjala-njala  ini  hanja  kupertjajakan kepada diriku jang sedang dimabuk kepajang.

 

 

Pada  suatu  sore  aku  berdjalan-djalan  naik  sepeda  dengan  Rika  Meelbuysen  dan  ketika  membelok  diudjung  djalan  gang  kami  tepat  menubruk  bapak.  Aku  mulai  menggigil  karena  takut.  Dia  bersikap  hormat,  tapi  aku  sangat kuatir akan apa jang akan menjusul nanti kalau aku sudah sampai dirumah. Inilah aku, putera bapak  satu-satunja,  jang  bertjinta-tjintaan  dengan  orang  Belanda  jang  dibentji.  Sedjam  kemudian  aku  menjusup  masuk rumah dalam keadaan masih tergontjang. Bapak segera mendekatiku dan berkata, ,,Nak, djangan kau  takut  tentang  perasaanku  terhadap  teman  perempuanmu  itu.  Itu  baik  sekali.  Pendeknja,  hanja  dengan  djalan  itu  engkau  dapat  memperbaiki  bahasa  Belandarnu  !”  Ketika  datang  waktunja  untuk  masuk  sekolah  menengah,  bapak  sudah  tahu  apa  jang  harus  dikerdjakannja.  Ia  menggunakan  pengaruh  kawan-  kawannja  untuk  memasukkanku  kesekolah  menengah  jang  tertinggi  di  Djawa  Timur,  jaitu  Hogere  Burger  School  di  Surabaja.,,Nak,” katanja, ,,Maksud ini sudah ada dalam pikiranku semendjak kau dilahirkan kedunia.” Semua  telah  diaturnja  dan  aku  akan  tinggal  dirumah  H.O.S.  Tjokroaminoto,  ialah  orang  jang  kemudian  merobah  seluruh  kehidupanku.,,Tjokro,”  ia  menerangkan  padaku,  ,,Adalah  kawanku  di  Surabaja  sedjak  sebelum  kau  ada.”,,0,”  kataku  gembira,  ,,Saja  kira  dia  keluarga  kita.”  ,,Tidak,”  djawab  bapak.  ,,Oo,  barangkali  mungkin

 

 

keluarga   jang   sangat   djauh,   tapi   tidak

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

 

serapat

 

seorang

 

kemenakan

 

atau

 

paman.”

 

Kemudian   bapak

 

Halaman 16 dari 109

 

memandang   kepadaku   sesaat.   ,,Kautahu   siapa   Tjokro?”   ,,Saja   hanja   tahu,   dia   berkeliling   untuk  mempropagandakan  kejakinan  politiknja.  Saja  ingat  dia  datang  kekampung  kita  untuk  mengadakan  pidato  dan  menginap,  bapak  dengan  dia  mengobrol  sampai  waktu  subuh.”  ,,Tjokro  adalah  pemimpin  politik  dari  orang Djawa.

 

Sungguhpun  engkau  akan  mendapat  pendidikan  Belanda,  aku  tidak  ingin  darah  dagingku  mendjadi  kebarat-  baratan. Karena itu kau kukirim kepada Tjokro, orang jang didjuluki oieh Belanda sebagai ‘Radja Djawa jang  tidak  dinobatkan.  Aku  ingin  supaja  kau  tidak  melupakan,  bahwa  warisanmu  adalah  untuk  mendjadi  Karna  kedua.”  Aku  tidak  membawa  apa-apa  ketika  berangkat  ke  Surabaja.  Tak  ada  barang  untuk  dibawa.  Satu-  satunja jang mengikuti kepergianku adalah sebuah tas ketjil dengan pakaian sedikit. Bapak menundjuk salah   seorang  guru  untuk  mengiringi  perdjalananku  dikereta-api  jang  lamanja  enam  djam  itu.  Tidak  dirajakan,  tidak  dipestakan  kepergianku  itu.  Jang  kuingat  hanja  bahwa  aku  menangis  getir.  Aku  meninggalkan  rumah.  Aku   meninggalkan   ibu.   Aku   baru   seorang   anak   15   tahun   jang   masih   takut-takut.   Dipagi   itu,   dihari  keberangkatanku   ibu   melepasku   dengan   peringatan   bahwa   aku   tidak   lagi   akan   kembali   untuk   tinggal  bersama-sama  dengan  mereka.  Didepan   rumah  kami  dia  memerintahkan,  ,,Berbaringlah  ditanah,  nak.  Berbaring  sadja  biarpun  kotor.”  Kemudian  ibu  melangkahi  badanku  pulang-balik  sampai  tiga  kali.  lni  sesuai  dengan kepertjajaan menurut ilmu kebatinan. Dengan melangkahi anaknja dengan tubuhnja sendiri darimana  sianak  dilahirkan  dan  jang  mengandung  kekuatan  kekuatan  sakti  dari  kehidupan,  berarti   bahwa  sianak  mendapat restu dari ibunja untuk selama-lamanja. Seakan-akan ia berkata setiap kali, ,,Anak ini berasal dari  kandunganku dan kuberkati dia.”Kemudian dia menjuruhku bangkit. Sekali lagi ia memutar badanku arah ke  Timur dan berkata dengan sungguh-sungguh, ,,Djangan sekali-kali kaulupakan, anakku, bahwa engkau adalah  putera sang fadjar.”

 

 

Bab 4

 

Surabaja: Dapur Nasionalisme

 

DARI  djenis  binatang  prasedjarah  jang  digali  dikepulauan  kami,  ahli-ahli  purbakala  membuktikan  bahwa  setengah  djuta  tahun  jang  lalu  pulau  Djawa  sudah  didiami  orang.  Kebudajaan  kami  adalah  kebudajaan  purba.  Bukalah  buku  Ramayana.  Didalamnja  orang  akan  membatja  keterangan  mengenai  ,,Negeri  Suarna  Dwipa jang mempunjai tudjuh buah keradjaan besar”. Suarna Dwipa, jang berarti pulau-pulau emas, adalah  nama negeri kami pada waktu ia diabadikan dalam tjerita-tjerita klasik Hindu duaribu limaratus tahun jang  lalu.Dari  abad  kesembilan  ketika  negeri  kami  bernama  Keradjaan  Sriwidjaja  sampai  abad  keempatbeias  waktu   negeri   kami   bernama   Madjapahit,   kami   punja   ,,negeri   jang   terkenal   makmur   telah   mentjapai  tingkatan ilmu jang demikian tinggi sehingga mendjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh dunia-beradab”.  Demikianlah   keterangan   jang   terdapat   dalam   surat-surat-gulung-perkamen   jang   berharga   dari   negeri  Tiongkok dan menurut dugaan adalah bibit dari kebudajaan seluruh Asia. Negeri kami masih tersohor dalam  lingkungan  internasional  ketika  Christopher  Columbus  mentjari  kepulauan.  Rempah-rempah  gugusan  pulau-  pulau  jang  sekarang  kita  namakan  Kepulauan  Maluku.  Seumpama  Columbus  tidak  berlajar  mentjari  djahe,  buah-pala,  lada  dan  tjengkeh  kami  dan  tidak  sesat  pula  didjalan,  tentu  dia  tidak  akan  menemukan  benua  Amerika.  Ketika  djalan  laut  menudju  Hindia  achirnja  ditemukan  orang,  modal  asing  mengerumuni  pantai  kami,  seperti  semut  mengerumuni  tempat  gula.  Dari  Lisboa  datanglah  Vasco’da  Gama.  Dari  negeri  Belanda  Cornelis de Houtman: Ini merupakan titik-tanda dimulainja ,,Revolusi Perdagangan” di Eropa.

 

 

Kapitalisme  ini  tumbah  hingga  ia  mengenjangkan  lapangan  eksploitasi  dalam  masjarakat  mereka  sendiri.  Barang-barang jang sebelumnja diimpor dari Timur, sekarang sudah diekspor ke Timur; djadi Timur mendjadi  pasar-pasar  tambahan  untuk  barang-barang  berlebih.  Daerah  Timur  mendjadi  suatu  pasar  untuk  modal  berlebih   jang   tidak   lagi   bisa   memperoleh   djalan   keluar.   Liberalisme   dalam   ekonomi   lalu   membawa  Liberalisme  dalam  politik.  Untuk  mengendalikan  ekonomi  dari  negara  lain,  terlebih  dulu  negara  itu  harus  ditaklukkan.  Pedagang  pedagang  mendjadi  penakluk;  bangsa-bangsa  Asia-Afrika  didjadjah  dan  kelobaan  ini  membuka  pintu  kepada  djaman  Imperialisme.  Djawa  diduduki  diabad  ke  16;  Maluku  diabad  ke  17  dan  lambatlaun  Negeri  Belanda  menguasai  kepulauan  kami  setjara  berturut-turut  hingga  ke  Bali  jang  baru  dikuasai   ditahun   1906.   Dengan   tjepat   kekuasaan   asing   menanamkan   akar-akarnja.   Mereka   mengambil  kekajaan  kami,  mengikis  kepribadian  kami  dan  musnalah  Putera-puteri  harapan  bangsa  dari  suatu  Bangsa  jang  Besar  jang  pandai  melukis,  mengukir,  membuat  lagu,  mentjiptakan  tari.  Kami  tidak  lagi  dikenal  oleh  dunia   luar,  ketjuali   oleh   penghisap-penghisap  dari  Barat   jang  mentjari  kemewahan  di  Hindia.  Akibat  daripada  Imperialisme  sungguh  djahat  sekali.  Orang  laki-laki  diambil  dari  rumahnja  dan  dipaksa  mendjadi  budak  dipulau-pulau  jang  djauh,  dimana  terdapat  kekurangan  tenaga  manusia.  Perempuan-perempuan  dipaksa bekerdja dikebun tarum dan mereka tidak boleh menghentikan pekerdjaannja, sekalipun melahirkan  pada waktu menanam. Tempe adalah bungkah jang lunak dan murah terbuat dari katjang kedele jang diberi  ragi.  Negeri  tempe  berarti  negeri  jang  lemah.  Itulah  kami  djadinja.  Kami  terus-menerus  dikatakan  sebagai  bangsa  jang  mempunjai  otak  seperti  kapas.  Kami  mendjadi  pengetjut;  takut  duduk,  takut  berdiri,  karena  apapun  jang  kami  lakukan  selalu  salah.  Kaml  mendiadi  rakjat  seperti  dodol  dengan  hati  jang  ketjil.  Kami

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 17 dari 109

 

lemah seperti katak dan lembut seperti kapok. Kami mendjadi suatu bangsa jang hanja dapat membisikkan,  ,,Ja  tuan”Sampai  sekarang  orang  Indonesia  masih  terbawa-bawa  oleh  sifat  rendah  diri,  jang  masih  sadja  mereka  pegang  teguh  setjara  tidak  sadar.  Hal  itu  menjebabkan  kemarahanku  baru-baru  ini.  Wanita-wanita  dari kabinetku selalu menjediakan djuadah makanan Eropa. ,,Kita mempunjai penganan enak kepunjaan kita  sendiri,” kataku dengan marah.

 

,,Mengapa  tidak  itu  sadja  dihidangkan  ?”  ,,Ma’af,  Pak,”  kata  mereka  dengan  penjesalan  ,,Tentu  bikin  maIu  kita  sadja.  Kami  rasa  orang  Barat  memandang  rendah  pada  makanan  kita  jang  melarat.”  Ini  adalah  suatu  pemantulan  kembali  dan  pada  djaman  dimana  Belanda  masih  berkuasa.  Itulah  perasaan  rendah-diri  kami  jang  telah  berabad-abad  umurnja  kembali  memperlihatkan  diri.  Edjekan  jang  terus-menerus  dipompakan  oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidak-mampuan kami, menjebabkan kami jakin akan hal tersebut.  Dan  kejakinan  bahwa  engkau  bangsa  jang  hina,  lagi  bodoh  adalah  suatu  sendjata  jang  ada  dalam  tangan  pendjadjah.   lmperialisme   adaIah   kumpulan   kekuatan   djahat   jang   nampak   dan   jang   tidak   nampak.  Penindasan jang sudah demikian lama dirasakan menjebabkan bangkitnja suatu masa para pelopor. Sun Yat  Sen  mendirikan  Gerakan  Nasional  Tiongkok  ditahun  1885.  Kongres  Nasional  India:  ditahun  1887.  Aguinaldo  dan Rizal membangkitkan Filipina. ditahun-tahun permulaan abad ke-20.

 

Seluruh  Asia  bangkit  dan  diabad  keduapulah  jang  megah  ini,  dalam  mana  isolasi  tidak  akan  terdjadi  lagi,  maka  bangsa  Indonesia  jang  lemah  dan  pemalu  itupun  dapat  merasakan  gelora  daripada  kebangkitan  ini.  Dalam bulan Mei 1908 para pemimpin di Djawa menjusun partai nasional jang pertama dengan nama ,,Budi  Utomo”,  jang  artinja  ,,Usaha  jang  Sutji”.  Ditahun  1912  organisasi  ini  memberi  djalan  kepada  Sarekat  Islam  jang  mempunjai  anggota  sebanjak  dua-setengah  djuta  orang  dibawah  pimpinan  H.O.S.  Tjokro  Aminoto.  Bangsa  Indonesia  jang  menderita  setjara  perseorangan  sekarang  mulai  menjatukan  diri  dan  persatuan  nasional mulai tersebar. Ia lahir di Djakarta,.akan tetapi sang baji baru pertamakali melangkahkan kakinja di  Surabaja.  Ditahun  1916  maka  Surabaja  merupakan  kota  pelabuhan  jang  sangat  sibuk  dan  ribut,  lebih  menjerupai  kota  New  York.  PeIabuhannja  baik  dan  mendjadi  pusat  perdagangan  jang  aktif.  Ia  mendjadi  suatu  kota  industri  jang  penting  dengan  pertukaran  jang  tjepat  dalam  perdagangan  gula,  teh,  tembakau,  kopi.  Ia  mendjadi  kota  tempat  perlombaan  dagang  jang  kuat  dan  orang-orang  Tionghoa  jang  tjerdas  ditambah  dengan  arus  jang  besar  dan  para  pelaut  dan  pedagang  jang  membawa  berita-berita  dari  segala  pendjuru  dunia.  Penduduknja  semakin  bertambah,  terdiri  dari  pekerdja  pelabuhan  dan  peketdja  bengkel  jang masih muda-muda dan jang bersemangat menjala-njala.la mendjadi kota dimana bergolak persaingan,  pemboikotan,   perkelahian   didjalan-djalan.   Kota   itu   bergolak   dengan   ketidak-puasan   dari   orang-orang  revolusioner.  Ketengah-tengah  kantjah  jang  mendidih  demikian  itulah  seorang  anak-ibu  berumur  15  tahun  masuk dengan mendjindjing sebuah tas ketjil.

 

 

Keluarga  Tjokroaminoto  terdiri  dari  enam  orang.  Jaitu  Pak  dan  Bu  Tjokro,  anak-anaknia  Harsono  jang  12:tahun  lebih  muda  daripadaku,  Anwar  10  tahun  lebih  muda,  puteri  mereka  Utari  lima  tahun  lebih  muda  dan  seorang  baji  ,  Pak  Tjokro  semata-mata  bekerdja  sebagai  Ketua  Sarekat  Islam  dan  penghasilannja  tidak  banjak. Dia tinggal dikampung jang penuh sesak tidak djauh dari sebuah kali. Menjimpang dari djalanan jang  sedjadjar dengan kali itu ada sebuah gang dengan deretan rumah dikiri-kanannja dan ia terlalu sempit untuk  djalan  mobil.  Gang  kami  namanja  Gang  7  Peneleh.  Pada  seperempat  djalan  djauhnja  masuk  kegang  itu  berdirilah  sebuah  rumah  buruk  dengan  paviljun  setengah  melekat.  Rumah  itu  dibagi  mendjadi  sepuluh  kamar-kamar ketjil, termasuk ruang loteng.

 

Keluarga  Pak  Tjokro  tinggal  didepan;  kami  jang  bajar-makan  dibelakang.  Sungguhpun  semua  kamar  sama  melaratnja,  akan  tetapi  anak-anak  jang  sudah  bertahun-tahun  bajar  makan  mendapat  kamar  jang  namanja  sadja  lebih  baik.  Kamarku  tidak  pakai  djendela  samasekali.  Dan  tidak  berpintu.  Didalam  sangat  gelap,  sehingga  aku  terpaksa  menghidupkan  lampu  terus-menerus  sekalipun  disiang  hari.  Duniaku  jang  gelap  ini  mempunjai sebuah medja gojah tempatku menjimpan buku, sebuah korsi kaju, sangkutan badju dan sehelai  tikar  rumput.  Tidak  ada  kasur.  Dan  tidak  ada  bantal.  Surabaja  diwaktu  itu  sudah  menikmati  kemegahan  lampu  listrik.  Setiap  kamar  mempunjai  fitting  dan  setiap  pembajar-makan  membajar  ekstra  untuk  lampu.  Hanja  kamarku  jang  tidak  punja.  Aku  tidak  punja  uang  untuk  membeli  bolanja.  Aku  beladjar  sampai  djauh  malam  dengan  memakai  pelita.  Bahkan  akupun  tidak  mampu  membeli  kelambu  untuk  menutupi  balai-balai  dan  supaja  terhindar  dari  njamuk.  Kamar  itu  ketjil  seperti  kandang-ajam.  Tidak  ada  udara  segar  dan  mendjadi  sarang  serangga.  Akan  tetapi  karena  tak  ada  orang  lain  jang  mau  tinggal  denganku  dikamar  jang  gelapi itu, maka setidak-tidaknja aku dapat memilikinja untuk diriku sendiri.

 

 

Sewanja  11  rupiah,  termasuk  makan.  Atau  setjara  perhitungan  kasarnja  empat  dollar  sebulan.  Bapak  mengirimiku  uang  duabelas  rupiah  setengah,  dengan  sisanja  limapuluh  sen  untuk  uang-saku.  Ditahun  1917  bapak  dipindahkan  ke  Blitar.  Karena  pemindahan  ini  merupakan  kenaikan  djabatan,  nasib  bapak  berobah   sedikit.  Oleh  sebab  itu  ia  dapat  mengirimiku  f  1,50  untuk  uang-saku  setiap  bulannja.Memang  sukar  bagi  seorang  inlander  untuk  memasuki  H.B.S.  Disamping  f  15,00  sebulan  untuk  uang-sekolah  dan  pet  seragam  bertuliskan H.B.S., kami harus membajar lagi f 75,00 setiap tahun untuk uang buku. Aku ingat betul djumlah

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 18 dari 109

 

ini,   karena   aku   menghitung   setiap   rupiahnja.   Kudjaga   agar   djangan   ada   jang   terpakai   setjara   tidak  disengadja. Walaupun aku anak jang patuh, harus kuakui, bahwa aku menulis surat pulang hanja kalau dalam  kesempitan  sadja.  Kukira  ini  sama  sadja  dengan  setiap  anak  muda,  bukan  ?  Dengan  tidak  usah  membuka-  surat-suratku  terlebih  dulu  bapakpun  sudah  tahu  isinja,  bahwa  si  Karno  minta  uang.  Suratku  kepada  orangtuaku selalu dimulai dengan kalimat manis jang itu-itu djuga dan tidak pernah berobah-robah: ,,Bapak  dan lbu jang tertjinta’ saja berada dalam keadaan sehat-sehat sadja dan harapan saja tentu agar Bapak dan  Ibu keduanja demikian pula hendaknja.”

 

Kemudian  setelah  salam  itu,  dibaris  jang  ketiga  aku  langsung  menjampaikan  maksud  jang  terpenting.  Aku  menulis,  ,,Sekarang  saja  sedang  kekurangan  uang.  Apakah  Bapak  dan  lbu  dapat  mengirimi  barang  sedikit  ?”Disamping ibuku jang penjajang itu selalu mengirimiku setjara diam-diam satu atau dua rupiah bila ia punja  uang,  akupun  mengusahakan  sumber  lain.  Pak  Poegoeh,  suami  kakakku.  Mereka  tinggal  sekira  50  kilometer  dari  Surabaja  dan  Pak  Poegoeh  selalu  memberiku  uang  lima  rupiah  untuk  ongkos  pulang.  Karena  uang  itu  tidak  habis  semua  untuk  ongkos  perdjalanan,  maka  aku  sering  menemui  mereka.  Pak  Poegoeh  enam  tahun  lebih  tua  daripadaku  dan  bekerdja  dikantor  irigasi  dari  Departemen  Pekerdjaan  Umum.  Sekalipun  kami  seperti  kakak  beradik,  aku  tak  pernah  minta  bantuan  uang  kepadanja  setjara  terang-terangan.  Tjara  orang  Djawa  kebanjakan  tidak  langsung.  Kuminta  kepada  kakakku  jang  menjampaikannja  pula  kepadanja.  Dan  permintaan   ini   kupikirkan   lebih   dulu   semasak-masaknja.   Aku   tak   pernah   meminta   diluar   batas   jang  kuperkirakan dapat diperoleh dengan mudah.

 

 

Sebagai hasil dari kebidjaksanaan sematjam ini aku kadang-kadang mendapat lebih dari pada jang kuminta.  Terasa  hari  Iibur  sangat  menjenangkan  apabila  hadiah  itu  datang  karena  aku  lalu  bisa  mendjamu  kawan-  kawanku dengan kopi atau djadjan. H.B.S. terletak satu kilometer dari Gang Paneleh Setiap anak mempunjai  sepeda. Aku sendiri jang tidak. Biasanja aku membontjeng dengan salah seorang kawan atau berdjalan kaki.  Aku mulai menabung dan menabung terus dan ketika uangku terkumpul delapan rupiah, kubeli Fongers jang  hitam  mengkilat,  sepeda  keluaran  Negeri  Belanda.  Aku  merawatnja  bagai  seorang  ibu.  Ia  kugosok-gosok.  Kupegang-pegang.  Kubelai-belai.  Pada  suatu  kali  Harsono  jang  berumur  tudjuh  tahun  setjara  diam-diam  memakai   sepedaku   itu   dan   menabrakkannja   kepohon   kaju.   Seluruh   bagian   mukanja   patah.   Harsono  ketakutan.  Ia  tidak  berani  mengatakan  padaku,  dan  ketika  aku  mendengar  berita  itu,  kusepak  pantatnja  dengan keras. Kasihan  Harsono. Ia menangis. Ia berteriak. Berminggu-minggu lamanja  aku tergontjang  oleh   Fongersku    jang    hitam    mengkilat    itu    jang    sekarang    sudah    bengkok-bengkok.    Achirnja    aku    dapat  mengumpulkan  delapan  rupiah  lagi  dan  membeli  lagi  sepeda  jang  lain  tapi  untuk  Harsono.  Sekali  dalam  seminggu  aku  menikmati  satu-satunja  kesenanganku  Film,  Aku  sangat  menjukainja.  Betapapun,  tjaraku  menonton  sangat  berbeda  dengan  anak-anak  Belanda.  Aku  duduk  ditempat  jang  paling  murah.  Tjoba  pikir,  keadaanku  begitu  melarat,  sehingga  aku  hanja  dapat  menjewa  tempat  dibelakang  lajar.  Kaudengar  ?  Dibelakang lajar ! ! Diwaktu itu belum ada film bitjara, djadi aku harus membatja teksnja dan terbalik dan  masih  dalam  bahasa  Belanda  !  lama-kelamaan  aku  mendjadi  biasa  dengan  keadaan  itu  sehingga  aku  dapat  dengan tjepat membatja teks itu dari kanan kekiri. Aku tidak peduli, karena tak ada tjara lain lagi. Bahkan  aku  bersjukur  karena  masih  bisa  menjaksikannja.  Saat  satu-satunja  jang  menjebabkan  aku  ketjewa  ialah,  bila  dipertundjukkan  film  adu-tindju.  Aku  samasekali  tak  dapat  menaksir,  tangan  siapa  jang  melakokan  pukulan.

 

 

Dimasa  itu  ,,Yankee  Doodle”  jang  mendjadi  lagu  kegemaranku.  Mereka  memutarnja  pada  tiap  istirahat  dan  sambil  duduk  seorang  diri  dalam  gelap  dibelakang  lajar  aku  menjanjikannja  dengan  lunak  untuk  diriku  sendiri. Sampai sekarang aku masih menjanjikan lagu itu. Pada suatu kali sebuah sirkus datang kekota kami.  Dalam pertundjukan itu mereka melepaskan merpati-merpati dan kalau ada jang hinggap dibahu seseorang,  itulah  jang  memenangkan  hadiah.  Kami  segera  mengetahui  bahwa,  ketika  burung  itu  hinggap  pada  teman  kami,  jang  sama-sama  bajar-makan,  hadiahna  seekor  kuda.  Djadi  berkupullah  kami  Suarli  pemenang  jang  beruntung  itu,  kami  pemuda  lainnja  sebanjak  setengah  lusin  dan  seekor  kuda  tua  jang  sudah  letih.  Kami  tidak  dapat  akal  akan  diapakan  kuda  itu.  Tapi  kami  harus  membawanja  keluar,  karena  itu  kami  bawa  ia  pulang. Dibagian belakang rumah ada pekarangan, akan tetapi tidak ada djalan untuk bisa sampai ketempat  itu ketjuali melalui tengah rumah. Dengan tenang kami buka pintu serambi muka dan rumah Pemimpin Besar  Rakjat  Djawa  dan  mempawaikan  kuda  kami  melalui  kamar-duduk,  terus  kehalaman  belakang  dimana  ia  ditambatkan kebatang sawo.

 

Tak seorangpun diantara kami jang punja uang untuk membeli makan mulut orang lain, sekalipun mulut itu  kepunjaan seekor kuda. Begitulah, dua hari kemudian Suarli mendjualnja. Ketjuali satu sirkus dan film, masa  itu  bukanlah  masa  jang  menggembirakan  bagiku.  Aku  tidak  mempunjai  kesenangan  semasa  mudaku.  Aku  terlalu  serius.  Aku  tidak  mengikuti  kesenangan  seperti  iang  dialami  oleh  anak-anak  sekolah  iang  lain.  Mungkin  apa  jang  dinamakan  tindakan  kegila-gilaan  sebagaimana  jang  dituduhkan  kepadaku·  sekarang,  adalah sematjam imbangan untuk mengedjar kerugian dimasa muda. Tidak ada kesenangan-kesenangan jang  menjegarkandalam  kehidupanku  hingga  aku  berumur  50  tahun.  Kegembiraan  jang  kutjari  sekarang  mungkin  sebagai   usahaku   untuk-menutupi   segala   sesuatu   jang   tidak   pernah   kunikmati   dimasa   muda,   sebelum

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 19 dari 109

 

waktunja  terlambat.  Aku  tidak  tahu  dengan  pasti.  Aku-  tak  pernah  memikirkannja  hingga  datang  waktunja  bagiku untuk mendjalankan pembedahan diri dengan djalan otobiografi ini.

 

Bagaimanapun  djuga,  ini  adalah  pertjakapan  antara  kita  antara  engkau,  pembatja,  denganku.  Dan  karena  aku-berbitjara  dan  gelora  hati  jang  meluap-luap,  kemudian  merenungkan  semua  ini  sebagai  kesedihanku  dimasa  jang  silam,  aku  merasa  mungkin  djuga  benar  bahwa  aku  sedang  berusaha  mengimbangi  kekurangan  diriku  sendiri  sekarang.  Pendeknja,  aku  tidak  mengalami  masa  senang  di  Surabaja.  Pada  waktu  aku  mula  datang,  aku  menangis  setiap  hari.  Ah,  aku  sangat  kehilangan  ibu  tak  dapat  kutjeritakan-kepadamu  betapa  Wanita senantiasa memberikan pengaruh jang besar dalam hidupku. Sekarang, aku tidak punja ibu, tidak ada  nenek   untuk   membudjukku   jang   selamanja   mengagumiku   —   tidak   ada   Sarinah   jang   dengan   tekun  mendjagaku.  Aku  merasa  sebatang  kara.  Bu  Tjokro  adalah  seorang  wanita  jang  manis  dengan  perawakan  ketjil  bagus.  Dia  sendirilah  jang  mengumpulkan  uang  makan  kami  saban  minggu.  Dialah  jang  membuat  peraturan  seperti:  (l)  Makan  malam  djam  sembilan  dan  barangsiapa  jang  datang  terlambat  tidak  dapat  makan. (2) Anak sekolah sudah harus ada  dikamarnja djam 10  malam. (3) Anak sekolah harus bangun djam  empat  pagi  untuk  beladjar.  (4)  Main-main  dengan  anak  gadis  dilarang.  Aku  memelihara  hubungan  rapat  dengan Bu Tjokro, akan tetapi dia terlalu sibuk untuk dapat memperhatikanku sebagai seorang ibu. Karena  memerlukan    hati    seorang    perempuan,    aku    menoleh    pada    Mbok    Tambeng,    perempuan    pembantu  rumahtangga, untuk menghiburku. Dia mendjadi pengganti ibuku. Dia menambal tjelanaku. Dia tahu bahwa  gado-gado  adalah  kegemaranku,  karena  itu  dia  suka  menjusupkan  ekstra  untukku.  Mbok  sajang  kepadaku,  tapi  ah  !  aku  sangat  merindukan  kasih-sajang  itu.  Masih  sadja  si  Mbok  tidak  bisa  mendjadi  penghibur  jang  tjukup  bagi  seorang  anak  jang  halus  perasaannja.  Djiwaku  mendjerit- djerit  mentjari  kepertjajaan  hati,  bahkan hati seorang bapak kemana aku dapat menoleh. Pak Tjokro bukanlah orangnja.

 

Seorang pemimpin hanja tertarik pada soal-soal politik. Bahunja bukanlah tempat bersandar untuk menangis.  Atau tangannja bukanlah tempat merebahkan diri dengan enak.Sekalipun demikian Pak Tjokro sangat senang  kepadaku.  Kasih  sajangnja  ini  dinjatakannja  terutama  dimusim  kemarau  tahun  1918.  Biasanja  aku  pulang  mengundjungi  orangtuaku  dalam  waktu  libur.  Dalam  dua  bulan  libur  tinggal  di  Blitar  aku  merentjanakan  pergi ketempat kawan-kawan untuk sehari di Wlingi, jang djaraknja 20 kilometer dari Blitar. Semua rentjana  telah   disiapkan   dan   dengan   keinginan   jang   besar   menghadapi   tudjuan   aku   melambai   kepada   bapak,  mentjium  ibu  dan  memulai  perdjalananku.  Aku  baru  sadja  sampai  dirumah  kawan  kawanku  ketika  bahana  menggemuruh   jang   menakutkan   memenuhi   angkasa   dan   tanah   bergontjang-gontjang   dibawah   kakiku.  Perempuan-perempuan  tua  jang  ketakutan,  anak-anak  jang  mendjerit  dan  para  pekerdja  jang  letih  oleh  membanting-tulang  terpentjar  keluar  dari  pondok-pondok  mereka  menudju  kampung  jang  penuh  sesak.  Ketakutan, kebingungan dan kekatjauan menghinggapi rakjat kampung.

 

 

Raksasa Gunung Kelud, gunung berapi di Blitar, mentjari saat itu untuk menundjukkan kemurkaan dari Dewa-  dewa. Langit mendjadi hitam oleh arang dan abu bermil-mil djauhnja. Dimana-mana ledakan lahar. Daerah  itu diselubungi oleh asap, api dan ratjun. Dengan kekuatan jang hebat lahar jang mendidih-didih mentjurah  menuruni lereng gunung ketempat jang lebih rendah dan menggenang disana antara Blitar dan Wlingi. Banjak  orang   jang   mati.Aku   sangat   kuatir   karena   kutahu   orangtuaku   tentu   sangat   susah   memikirkan   diriku  …….Hidupkah  dia  ……..Matikah  dia.  Mereka  sadar,  bahwa  anaknja  berada  tepat  didjalan  dimana  gunung  itu  memuntahkan  isinja  dan  mereka  tidak  dapat  memperoleh  berita.  Sementara  itu   aku  mendengar,  bahwa  separo negeri kami telah kena landa, karena itu pikiranku dilumpulkan oleh kekuatiran tentang apakah jang  mungkin   terdjadi   terhadap   orangtuaku.   Aku   harus   kembali   setjepat   mungkin,   akan   tetapi   tidak   ada  kendaraan   jang  bagaimanapun   bentuknja  jang  dapat  menjeberangi  lautan  lahar   jang  menggelora  itu.  Achirnja,  satu-satunja  djalan  jang  harus  ditempuh  ialah  dengan  mengarunginja  berdjalan  kaki.  Selagi  lahar  masih  agak  panas,  aku  mulai  melangkahkan  kaki  menudju  djalan  pulang.  Aku  masih  djauh  ketika  mereka  menampakku,   lalu   datang   berlari-lari   menjongsongku   ditengah   djalan.   Mereka   memelukku.   Mereka  mentjiumku.

 

Mereka mengelus pipiku. ,,0, engkau masih hidup,” teriak bapak. ,,Engkau masih hidup engkau masih hidup.”  Ibu menangis. Aku merangkul orangtuaku dengan kedua belah tanganku. Aduh, kami gembira, gembira sekali  bertemu  satu  sama  lain.  Di  Surabaja,  Pak  Tjokropun  rupanja  merasa  tjemas  memikirkan  keadaanku.  Ia  menaiki  mobilnja  dan  melakukan  perdjalanan  sehari  penuh  hanja  karena  hendak  mengetahui  bagaimana  keadaanku. Mula-mula ia tidak dapat menemuiku atau orangtuaku. Rumah kami selamat, akan tetapi rumah  itu sudah mendjadi tumpukan lahar dan lumpur. Sampai di Djalan Sultan Agung 53 ia hanja mendapati rumah  kosong  samasekali.  Ketjuali  beberapa  ekor  burung-burung  ketjil.  Ia  djadi  sangat  bingung  sebelum  bertemu  dengan  kami.  Djadi  aku  menjadari  bahwa  Pak  Tjokro  mentjintaiku  dengan  tjaranja  sendiri.  Hanja  tjaranja  itu  tidak  tjukup  bagi  seorang  anak  jang  kesepian.  Ia  djarang  berbitjara  denganku.  Bahkan  aku  djarang  melihatnja.  Ia  tidak  mempunjai  waktu  jang  senggang.  Kalau  ia  dirumah  tentu  ada  tamu  atau  ia  bersamadi  dalam kesunjian.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 20 dari 109

 

Oemar  Said  Tjokroaminoto  berumur  33  tahun  ketika  aku  datang  ke  Surabaja.  Pak  Tjokro  mengadjarku  tentang  apa  dan  siapa  dia,  bukan  tentang  apa  jang  ia  ketahui  ataupun  tentang  apa  djadiku  kelak.  Seorang  tokoh  jang  mempunjai  daja-tjipta  dan  tjita-tjita  tinggi,  seorang  pedjoang  jang  mentjintai  tanah  tumpah  darahnja.  Pak  Tjokro  adalah  pudjaanku.  Aku  muridnja.  Setjara  sadar  atau  tidak  sadar  ia  menggemblengku.  Aku  duduk  dekat  kakinja  dan  diberikannja  kepadaku  buku-bukunja,  diberikannja  padaku  miliknja  jang  berharga  Ia  hanja  tidak  sanggup  memberikan  kehangatan  langsung  dari  pribadinja  kepada  pribadiku  jang  sangat  kuharapkan.  Karena  tak  seorangpun  jang  mentjintaiku  seperti  jang  kuidamkan,  aku  mulai  mundur.  Kenjataan-kenjataan  jang  kulihat  dalam  duniaku  jang  gelap  hanjalah  kehampaan  dan  kemelaratan.  Karena  itu  aku  mengundurkan  diri  kedalam  apa  jang  dinamakan  orang  Inggris  ,,Dunia  Pemikiran”.  Buku-buku  mendjadi   temanku.   Dengan   dikelilingi   oleh   kesadaranku   sendiri   aku   memperoleh   kompensasi   untuk  mengimbangi  diskriminasi  dan  keputus-asaan  jang  terdapat  diluar.  Dalam  dunia  kerohanian  dan  dunia  jang  lebih  kekal  inilah  aku  mentjari  kesenanganku.  Dan  didalam  itulah  aku  dapat  hidup  dan  sedikit  bergembira.  Selurah   waktu   kupergunakan   untuk   membatja.  Sementara   jang   lain   bermain-main,  aku   beladjar.   Aku  mengedjar  ilmu  pengetahuan  disamping  peladjaran  sekolah.  Kami  mempunjai  sebuah  perpustakaan  jang  besar dikota-ini jang diselenggarakan oleh Perkumpulan Theosofi. Bapakku seorang Theosof, karena itu aku  boleh memasuki peti harta ini, dimana tidak ada batasnja buat seorang anak jang miskin.

 

 

 

Aku menjelam samasekali kedalam dunia kebatinan ini. Dan disana aku bertemu dengan orang-orang besar.  Buah pikiran mereka mendjadi buah pikiranku. Tjita-tjita mereka adalah-pendirian dasarku. Setjara mental  aku   berbitjara   dengan   Thomas   Jefferson.   Aku   merasa   dekat   dan   bersahabat   dengan   dia.   karena   dia  bertjeritera    kepadaku    tentang    Declaration    of    Independence    jang    ditulisnja    ditahun    1776.    Aku  memperbintjangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perdjalanan Paul Revere.  Aku  dengan  sengadja  mentjari  kesalahan-kesalahan  dalam  kehidupan  Abraham  Lincoln,  sehingga  aku  dapat  mempersoalkan   hal   ini   dengan   dia.Pada   waktu   sekarang,   apabila   ada   orang   menegur,   ,,Hai    Sukarno,  mengapa  engkau  tidak  suka  kepada  Amerika  ?”  maka  aku  akan  mendjawab,  ,,Apabila  engkau  mengenal  Sukarno,  engkau  tidak  akan  -mengadjukan  pertanjaan  itu.?  Masa  mudaku  kupergunakan  untuk  memudja  bapak-bapak  perintis  dari  Amerika  Aku  ingin  berlomba  dengan  pahlawan-pahlawannja.  Aku  mentjintai  rakjatnja.  Dan  aku  masih  mentiintainja.  Bahkan  sekarangpun  aku  masih  membatja  madjalah  Amerika  dari  ,,Vogue”  sampai  ke  ,,Nugget’..Aku  akan  selalu  merasa  berkawan  dengan  Amerika.  Ja,  berkawan.  Aku  mengatakannja  setjara  terbuka  Aku  menuliskan  tentang  diriku  sendiri.  Kunjatakan  ini  dengan  tertjetak.  Suatu  pendirian  dasar  seperti  jang  kumiliki  takkan  dapat  membiarkanku  tidak  berkawan  dengan  Amerika.  Didalam dunia pemikiranku akupun berbitjara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan  Beatrice  Webb  jang  mendirikan  Gerakan  Buruh  Inggris  aku  berhadapan  muka  dengan  Mazzini,  Cavour  dan  Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria.

 

 

Aku  berhadapan  dengan  Karl  Marx,  Friedrich  Engels  dan  Lenin  dari  Rusia  dan  aku  mengobrol  dengan  Jean  Jacques  Rousseau’  Aristide  Briand’  dan  Jean  Jaures  ahli  pidato  terbesar  dalam  sedjarah  Perantjis.  Aku  meneguk~semua tjerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnja adalah Voltaire. Aku adalah Danton  pedjoang besar dari Revolusi Perantjis. Seribu kali aku menjelamatkan Perantjis seorang diri dalam kamarku  iang  gelap.  Aku  mendjadi  tersangkut  setjara  emosionil  dengan  negarawan-negarawan  ini.  Disekolah  kami  mendengarkan peIadjaran tetntang pengadilan rakiat dari bangsa Junani kuno. Ia melekat dalam pikiranku.  Aku   membajangkan   pemikir-pemikir   jang   sedang   marah   selagi   berpidato   dan   meneriakkan   sembojan-  sembojan seperti ,,Persetan dengan Penindasan” dan ,,Hidup’ Kemerdekasn”. Hatiku terbakar menjaIa-njala.  Macam  itu,  ketika  semua  orang  sudah  menguntji  pintu,  kamar  kandang-ajamku  mendiadi  ruang-pengadilan  aku sebagai seorang pemuda Junani jang terbakar oleh enthusiasme.

 

Sambil  berdiri  diatas  medjaku  jang  gojah  aku  ikut  terbawa-oleh  perasaan.  Aku  mulai  berteriak  Selagi  aku  berpidato  dengan  sangat  keras  kepada  tak  seorangpun,  kepala-kepala  berdjuluran  keluar  pintu,  mata  bertondjolan  dari  kepala  dan  terdengar  suara  anak-anak  muda  berteriak  dalam  gelap’  ,,Hei,  No,’  kau  gila  ?  Ada  apa….Hei,  apa  kau  sakit  ?”  dan  kemudian  tukang-tukang  sorak  itu  kembali  pada  djawabannja  sendiri,  ,,Ah,  tidak  ada  apa-apa.  Tjuma  si  No  mau  menjelamatkan  dunia  lagi”  dan  satu  demi  satu  pintu-pintu  menutup   lagi   dan   membiarkan   aku   sendiri   dalam   kegelapan.   Pada   waktu   aku   semakin    mendekati  kedewasaan,  duniaku  didalam  semakin  lebar  dan  mentjakup  pula  kawan-kawan  dari  Tjokroaminoto.  Setiap  hari  para  pemimpin  dari  partai  lain  atau  pemimpin  tjabang  Sarekat  Islam  datang  bertamu.  Dan  setiap  kali  mereka tinggal selama beberapa hari. Sementara kawan-kawanku serumah keluar  menjaksikan pertandingan  bola, aku duduk dekat kaki orang-orang ini dan mendengarkan.

 

Kadang-kadang kubagi tempat-tidurku dengan salahseorang pemimpin itu dan minum dari mata-air keahlian  mereka hingga waktu fadjar. Aku menjukai waktu makan, Kami makan setjara satu keluarga, djadi aku dapat  mengikuti dan meresapkan pertjakapan politik. Pada waktu mereka melepaskan lelah disekeliling medja, aku  bahkan kadangkadang berani mengadjukan pertanjaan. Mahaputera-mahaputera ini putera-putera jang besar  dari rakjat Indonesia—tidak mengatjuhkanku karena aku masih anak-anak. Sekali pada waktu makan malam  mereka  mempersoalkan  tentang  kapitalisme  dan  tentang  barang-barang  jang  diangkut  dari  kepulauan  kami

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 21 dari 109

 

untuk memperkaja Negeri Belanda. Disaat inilah aku bertanja pelahan, ,,Berapa banjak jang diambil Belanda  dari  Indonesia  ?”,,Anak  ini  sangat  ingin  tahu,”  senjum  Pak  Tjok,  kemudian  menambahkan,  ,,De  Vereenigde  Oost Indische Compagnie menjedot— atau mentjuri— kira-kira 1800 djuta gulden dari tanah kita setiap tahun  untuk  memberi  makan  Den  Haag.”,,Apa  jang  tinggal  dinegeri  kita  ?”  kali  ini  aku  bertanja  lebih  keras  sedikit.,,Rakjat  tani  kita  jang  mentjutjurkan  keringat  mati  kelaparan  dengan  makanan  segobang  sehari,”  kata   Alimin,   jaitu   orang   jang   memperkenalkanku   kepada   Marxisme.   ,,Kita   mendjadi   bangsa   kuli   dan  mendjadi  kuli  diantara  bangsabangsa,”  sela  kawannja  jang  bernama  Muso.,,Sarekat  Islam  bekerdja  untuk  memperbaiki keadaan dengan mengadjukan mosi-mosi kepada Pemerintah,” kata Pak Tjok menerangkan dan  kelihatan  senang  karena  mempunjai  murid  jang  begitu  bersemangat.  ,,Pengurangan  padjak  dan  serikat-  serikat sekerdja hanja dapat digerakkan dengan kooperasi dengan Belanda— sekalipun kita membentji kerdja-  sama   ini.”,,Tapi   apakah   baik   untuk   membentji   seseorang   sekalipun   ia   orang   Belanda   ?”   ,,Kita   tidak  membentji  rakjatnja,”  dia  memperbaiki,  ,,Kita  membentji  sistim  pemerintahan  Kolonial.”  ,,Mengapa  nasib  kita tidak berobah djika rakjat kita telah berdjoang melawan sistim ini sedjak berabad-abad?”

 

 

,,Karena pahlawan-pahlawan kita selalu berdjoang sendiri-sendiri. Masing-masing berperang dengan pengikut  jang ketjil didaerah jang terbatas,” Alimin mendjawab.,,0, mereka kalah karena tidak bersatu,” kataku. Ahli  pikir   India,   Swami   Vivekananda,   menulis,   ,,Djangan   bikin   kepalamu   mendjadi   perpustakaan.   Pakailah  pengetahuanmu untukdiamalkan.” Aku mulai menerapkan apa-apa jang telah kubatja kepada apa jang telah  kudengar.  Aku  memperbandingkan  antaraperadaban  jang  megah  dari  pikiranku  dengan  tanah-airku  sendiri  jang  sudah  bobrok.Setapak  demi  setapak  aku  mendjadi  seorang  pentjinta  tanah-air  jang  menjala-njala  dan  menjadari  bahwa  tidak  ada  alasan  bagi  pemuda  Indonesia  untuk  menikmati  kesenangan  dengan  melarikan  diri  kedalam  dunia  chajal.  Aku  menghadapi  kenjataan  bahwa  negeriku  miskin,  malang  dan  dihinakan.  Aku  berdjalan-djalan seorang diri dan merenungkan tentang apa jang sedang berputar dalam otakku. Satu djam  lamanja aku berdiri tak bergerak diatas diambatan ketjil jang melintasi sungai ketjil dan memandangi iring-  iringan  manusia  jang  tak  henti-hentinja.  Aku  melihat  rakjat  tani  dengan  kaki-ajam  berdjalan  lesu  menudju  pondoknja  jang  buruk.  Aku  melihat  Kolonialis  Belanda  duduk  mentjekam  diatas  kereta  terbuka  jang  ditarik  oleh  dua  ekor  kuda  jang  mengkilat.  Aku  melihat  keluarga  orang  kulitputih  kelihatan  bersih-bersih,  sedang  saudara-saudaranja jang belkulit sawomatang begitu kotor, badannja berbau, badjunja tjompang-tjamping,  anak-anak  mereka  djorok-djorok.  Aku  bertanja  dalam  hati,  apakah  orang  bisa  tetap  bersih  apabila  mereka  tidak – punja pakaian lain untuk penggantinja.

 

 

Kuisap   masuk   tubulrku   bau   daripada   sisa   makanan   jang   sudah   busuk   dan   bau   selokan-selokan   jang  melemaskan,   dan   kulekatkan   dengan   kuat   didalam   lobang   hidungku   bau   busuk   daripada    kemelaratan  rakjatku,   sehingga   sekalipun   aku   pergi   10.000   mil   dari   disungai   aku   masih   tetap   mentjiumnja.   Aku  memandang kedalam keputus asaan dari setiap laki-laki dan perempuan jang kulihat. Aku terhanjut bersama  rakjatku.  Rakjatku  jang  miskin  lagi  papa.  Dari  djembatan  aku  menoleh  kearah  massa   jang  seperti  semut  banjaknja  dan  aku  mengerti  sedjelas-djelasnja,  bahwa  inilah  kekuatan  kami.  Dan  aku-menjadari  sesadar-  sadarnja akan penderitaan mereka. Sekalipun anak ketjil tak-akan dapat menahan rawan hatinja pada waktu  pertamakali  melihat   kata-kata   peringatan   dikolam-renang  jang  berbunji,  ,,Terlarang  bagi  andjing  dan  bumiputera.”   Andjing   didahulukan.   Dapatkah   seorang   manusia   tidak   tersinggung   perasaannja,   apabila  seorang kondektur Bumiputera harus menundukkan kepala kepada setiap Belanda jang menaiki tremnja ? Aku  seorang  anak  berumur  14  tahun  ketika  mukaku  ditampar  oleh  seorang  anak  berhidung  pandjang,  tak  lain  hanja   disebabkan   karena   aku   seorang   inlander.   Apakah   menurut   pendapatmu   tindakan-tindakan   jang  demikian itu tidak meninggalkan gores luka dalam hati ? Ja, aku mempunjai kesadaran sebagai seorang anak.  Aku  memulai  persembahan  hidupku  ini  pada  umur  16  tahun.  Perkumpulan  politik  jang  pertama  kudirikan  adalah Tri Koro Darmo jang berarti ,,Tiga  Tudjuan Sutji” dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi  dan sosial jang kami tjari. Ini pada dasarnja adalah suatu organisasi sosial dari para peladjar seumurku. Jong  Java’,   sebagai   langkah   kedua,   mempunjai   dasar   jang   Iebih   luas.   Begitupun   pergaulan   sosial   kami  berlandaskan   kebangsaan.   Kami   membaktikan   diri   untuk   memperkembangkan   kebudajaan   asli   seperti  mengadjarkan tari Djawa atau mengadjar main gamelan.

 

 

Jong   Java   pun   banjak   melakukan   pekerdjaan-pekerdjaan   sosial.  Kami   pergi   kekampung-kampung   jang  berdekatan  untuk  mengumpulkan  dan  bagi  sekolah  atau  untuk  membantu  korban  bentjana  letusan  gunung.  Kami  mengadakan  pertunjukan  ditempat-terapat  jang  memerlukan  pertolongan  dan  mengeluarkan  biaja-  biaja  itu  dari  hasil  uang  masuk.  ,,  Harus  kuakui  sekarang,  bahwa  tampangku  dimasa  muda  sangat  tampan  sehingga kelihatan seperti anak gadis. Karena hanja sedikit wanita terpeladjar pada waktu itu, tidak banjak  anak  gadis  jang  mendjadi  anggota  kami.  Dan  potonganku  lebih  banjak  menjerupai  seorang  perawan  tjantik  sehingga kalau Jong Java mengadakan pertundjukan. Manaakalau diserahi memainkan peran wanita jang naif  itu.  Aku  betulbetul  membedaki  pipi  dan  memerahkan  bibirku.  Akan  kutjeritakan  sesuatu  kepadamu.  Aku  tidak  tahu,  bagaimana  pendapat  orang-asing  tentang  seorang  Presiden  jang  mau  mentjeritakan  hal  jang  demikian  itu  Tetapi  sungguhpun  demikian  aku  akan  mentjeritakannja  djuga.  Aku  membeli  dua  potong  -roti  manis. Roti bulat. Seperti roti-gulung. Dan kuisikan kedalam badjuku. Ditambah dengan bentuk-badanku jang  langsing  setiap  orang  menjatakan,  bahwa  aku  kelihatan  sangat  tjantik.  Untunglah  dalam  peranku  itu  tidak

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 22 dari 109

 

termasuk  adegan  mentjium  laki-laki.  Selesai  pertundiukan  kupikir,  tentu  aku  tak  dapat  menghamburkan  uangku begitu sadja Karena itu kukeluarkan roti itu dari dalam badju dan kumakan.

 

Sambil memandangku diatas panggungpara penontonpun memberikan komentaraja, bahwa aku memperlihat-  kan  bakat  jang  besar  untuk  tampil  dimoka  umum.  Akupun  sangat  setudju  dengan  pendapat  mereka,  tidak  lama kemudian aku mendapat kesempatan lain. Ketika itu diadakan pertemuan dari Studieclub, jaitu suatu  kelompok sebagai pengadjaran tambahan dan bertudjuan untuk membahas buah-buah pikiran dan tjita-tjita.  Disinilah  aku  mengadakan  pidato  jang  pertama.  Aku  berumur  16  tahun.  Ketua  Studieclub  mendapat  giliran  untuk berbitiara dan mendadak aku dikuasai oleh suatu dorongan jang kuat untuk berbitjara. Aku tidak dapat  mengendalikan  diriku  selandjutnja.  Selagi  duduk  dalam  pertemuan  itu  aku  melompat  dan  berdiri  diatas  medja.   Suatu   gerak   perbuatan   chas   seperti   kanak-kanak.   Kukira   ini   disebabkan   karena   aku   bersifat  emosionil.  Sekarangpun  aku  masih  demikian.  Ketua  menjatakan,  ,,Adalah  mendjadi  suatu  keharusan  bagi  generasi  kita  untuk  menguasai  betul  bahasa  Belanda.”Setiap  orang  setudju.  Setiap  orang,  ketjuali  aku  sendiri.  Aku  gugup  tentunja,  akan  tetapi  ketika  aku  memperoleh  perhatian  mereka,  aku  berbitjara  dengan  suara  jang  tenang  sekali,  ,,Tidak.  Saja-tidak  setudju,  ,,Tanah  kebanggaan  kita  ini  dulu  pernah  bernama  Nusantara. Nusa berarti pulau. Antara berarti diantara.

 

 

Nusantara  berarti  ribuan  pulau-pulau  ini,  dan  banjak  diantara  pulau-pulau  ini  lebih  besar  daripada  seluruh  negeri Belanda Djumlah penduduk Negeri Belanda hanja segelintir djika dibandingkan dengan penduduk kita.  Bahasa  Belanda  hanja  dipergunankan  oleh  enam  djuta  orang.,,Mengapa  suatu  negeri  ketjil  jang  terletak  disebelah  sana  dari  dunia  ini  menguasai  suatu  bangsa  jang  dulu  pernah  begitu  perkasa,  sehinngga  dapat  mengalahkan  Kublai  Khan  jang  kuat  itu?”  Dengan  suara  tenang  dan  tidak  terburu-buru  atau  tegang  aku  selandjutja mengemukakan alasan-alasan ditambah dengan kenjataan-kenjataan. Aku mengachiri pidato itu  dengan kata-kata, ,,Saja berpendapat, bahwa jang harus kita kuasai pertama-tama lebih dulu adalah bahasa  kita sendiri. Marilah kita bersatu sekarang untuk mengembangkan bahasa Melaju. Kemudian baru menguasai  bahasa  asing.  Dan  sebaiknja  kita  mengambil  bahasa  Inggris,  oleh  karena  bahasa  itu  sekarang  mendjadi  bahasa  diplomatik.  ,,Belanda  berkulit  putih.  Kita  sawomatang.  Rambut  mereka  pirang  dan  keriting.  Kita  punja  lurus  dan  hitam.  Mereka  tinggal  riboan  kilomerer  darisini.  Mengapa  kita  harus  berbitjara  bahasa  Belanda?!” Maka terdjadilah keributan karena sangat kagum. Mereka tak pernah mendengar hal sematjam ini  sebelumnja.   Kuingat   Direktur   H.B.S.,   Tuan   Bot,   berdiri   disana.   Dia   tidak   berbuat   apa-apa   melainkan  memandang  kepadaku  dengan  muka  tidak  senang  samasekali,  seakan  dia  berkata,  ,,Oooh—Oooh,  Sukarno  mau bikin susah !” Sekalipun aku tidak membikin susah, aku sudah tjukup dibikin susah. Aku adalah anak baru  disekolah Belanda ini dan tambahan lagi seorang anak Bumiputera.

 

 

H.B.S. mempunjai 300 orang murid. Hanja 2 diantaranja orang Indonesia. Aku dikeliiingi dari segala djurusan  oleh  anak  laki-laki  dan  anak-anak  gadis  Belanda.  Sudah  tentu  mereka  tidak  senang  padaku.  Terketjuali  barangkali beberapa anak gadis, maka aku dianggap sepi. Sekolah mulai djam tudjuh pagi sampai djam satu  siang,  enam  hari  dalam  seminggu.  Diantara  djam-djam  peladjaran  ada  waktu  istirahat,  pada  waktu  mana  setiap  anak  bermain  atau  djadjan.  Akan  tetapi  anak-anak  Belanda  tentu  memisah  dari  kami.  Mereka  berusaha  supaja  kami  tidak  ada  kawan.  Merekapun  berusaha  supaja  hidung  kami  selalu  berlumuran  darah.  Sewaktu kami masih sebagai siswa baru, seorang anak jang rapi pakai tjelana baru dan kaku berwarna putih  jang mendjadi ketentuan untuk tahun pertama berdiri mengangkang menghalangi djalanku dan mengedjek,  ,,Menjingkir dari djalanku, anak inlander.” Ketika aku berdiri disana dia  melepaskan tangannja PANGGGG !’  Tepat dihidungku ! Djadi, kupukul dia kembali. Setiap hari aku pulang babak-belur. Aku tak pernah mendjadi  tukang  berkelahi,  tapi  sekalipun  aku  dapat  menahan  penghinaan  aku  tak  dapat  menghindari  perkelahian  tangan.  Kadang-kadang  kukalahkan  mereka,  akan  tetapi  terkadangpun  mereka  mengalahkanku.  Kamipun  mengalami diskriminasi didalam sekolah.

 

 

Sekolah   begitu   keterlaluan   terhadap   kami,   sehingga   kalau   seorang   anak   Bumiputera   membuat   suatu  kesalahan maka Direktur menghukumnja dengan larangan masuk kelas selama dua hari. Kami mentjurahkan  tenaga dengan sungguh-sungguh kepada peladjaran. Akan tetapi sekalipun kami bertekun siang dan malam,  nilai jang didapat oleh anak-anak Belanda pasti lebih tinggi daripada jang diterima oleh anak Indonesia. Nilai  ketjakapan  diukur  dengan  angka.  Angka  10  jang  tertinggi  dan  angka  enam  adalah  batas  nilai  tjukup  dan  inilah  kebanjakan  jang  diterima  oleh  inlander.  Kami  mempunjai  suatu  pameo  mengenai  angka-angka  ini:  angka  sepuluh  adalah  untuk  Tuhan,  sembilan  untuk  professor,  angka  delapan  untuk  anak  jang  luarbiasa,  tudjuh untuk Belanda dan enam untuk kami. Angka sepuluh tidak pernah diterima oleh anak Bumiputera. Aku  adalah penggambar tjat-air jang luarbiasa.

 

Ditahun  kedua  kami  disuruh  menggambar  kandang-andjing.  Sementara  jang  lain  masih  mengukur-ukur  dan  menaksir-naksir  dengan  potlot  aku  sudah  selesai  menggambar  kandang  jang  lengkap,  didalamnja  seekor  andjing jang dirantai dan sepotong tulang. Guru perempuan kami memperlihatkan gambarku kepada seluruh  kelas. Ia mengatakan, ,,Gambar ini begitu hidup dan penuh perasaan, karena itu patut mendapat nilai jang  setinggi mungkin.” Tapi apakah aku memperoleh angka jang paling tinggi itu ? Tidak. Selalu orang kulitputih

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 23 dari 109

 

lebih  pandai.  Lebih  tjerdas.  Orang  kulitputih  lebih  banjak  tahu.  Alat  kolonial  tidak  akan  berhasil,  ketjuali  djika ia memupuk keunggulan kulitputih terhadap sawomatang. Guru-guru sangat sajang kepadaku. Aku anak  jang  patuh,  sungguhsungguh  dan  hormat.  Hanja  sesekali  aku  bertindak  diluar  garis.  Aku  tidak  pernah  betul  betul  kurang-adjar,  akan  tetapi  pada  suatu  kali  setelah  pidatoku  jang  pertama  aku  berdjalan  melalui  ruangan ketika professor Egberts  melihatku  dan meneriakkan, ,,Hai, Sukarno, bagaimana dengan kau punja  ‘Jong  Java’?”  dan  aku  mengedjek,  Ja,  Professor,  bagaimana  pula  dengan  tuan  punja  ‘Oud  Holland’  ?”Aku  mendjadi  favorit  dari  guru  bahasa  Djerman  jang  djuga  memimpin  Kelompok  Perdebatan  kami.  Dalam  memperdebatkan  persoalan  kehilir-kemudik  dan  mengadjukan  pendapat-pendapat  jang  berlawanan,  aku  memperbaiki   ketjakapan   berbitjara.   Professor   Hartagh   melihat,   bahwa   aku   dapat   memimpin   kawan-  kawanku.

 

Pada suatu pertemuan Hartagh menjampaikan kepada ke 20 orang murid setjara bersamasama dan kepadaku   setjara pribadi, bahwa aku akan mendjadi pemimpin jang besar kelak. Professor mungkin punja bola-kristal’  untul meramal. Iapun pernah mentjeritakan kepada orang lain, bahwa dia akan mendjadi guru dan memang  itu dia djadinja.Seorang guru perempuan betul-betul sangat sajang kepadaku, sehingga ia memberiku nama  Belanda.  Aku,  tjalon  pemimpin  dari  suatu  revolusi  dimasa  jang  akan  datang,  dengan  nama  Belanda  ?  Dia  menamaiku   Kerel.   Dia   bahkan   memanggilku   ,,Schat”,   perkataan   Belanda   untuk   kesajangan.   Kalau   dia  kelupaan  kuntji  atau  sesuatu  barang,  dia  lalu  menundjukku  dan  berkata  dengan  manis,  ,,Schat,  maukah  engkau pergi kekamarku dan mengambil kuntji ?” Ach, ini adalah hak istimewa iang sangat besar. Pada suatu  hari  dia  mengandjakku  kerumahnja  untuk  menerima  peladjaran  tambahan  bahasa  Perantjis.  Aku  gemetar  karena anugerah jang istimewa itu. Pada waktu umurku semakin mendekati kedewasaan aku masih gemetar  dengan  anugerah  istimewa  sematjam  ini.  Akan  tetapi  karena  alasan-lain.  Aku  sangat  tertarik  kepada  anak-  anak  gadis  Belanda.  Aku  ingin  sekali  mengadakan  hubungan  pertjintaan  dengan  mereka.  Hanja  inilah  satu-  satunja  djalan  jang  kuketahui  untuk  memperoleh  keunggulan  terhadap  beagsa  kulitputih  dan  membikin  mereka  tunduk  pada  kemauanku.  Bukankah  ini  selalu  mendjadi  idaman  ?  Apakah  seorang  djantan  berkulit  sawomatang   dapat   menaklukkan   seorang   lakilaki   kulitputih   ?   Ini   adalah   suatu   tudjuan   jang   hendak  diperdjoangkan.  Menguasai  seorang  gadig  kulitputih  dan  membikinnja  supaja  menginginiku  adalah  suatu  kebanggaan.

 

 

Seorang  pemuda  tampan  senantiasa  mempunjai  kawan  gadis-gadis  jang  tetap.  Aku  punja  banjak.  Mereka   bahkan  memudja  gigiku  jang  tidak  rata.  Dan  aku-mengakui  bahwa  aku  sengadja  mengedjar  gadis  gadis  kulitputih.  Tjintaku  jang  pertama  adalah  PauIine  Gobee,  anak-  salah-seorang  guruku.  Dia  memang  tjantik  dan  aku  tergila-gila  kepadanja.  Kemudian  menjusul  Laura.  Oo,  betapa  aku  memudjanja.  Dan  ada  lagi  keluarga  Raat.  Mereka  ini  keluarga  Indo  dan  mempunjai  beberapa  orang  puteri  aju.  H.B.S.  letaknja  diarah  jang  berlawanan  dengan  rumah  keluarga  Raat,  tapi  sekalipun  demikian  setiap  hari  selama  berbulan-bulan  aku   mengambil   djalan   keliling,   hanja   untuk   lewat   dimuka   rumahnja   dan   untuk   menangkap   selintas  pandangannja.  Dekat  itu  terdapat  Depot  Tiga,  warung  tempat  minum.  Aku  kadang-kadang  diadjak  oleh  salahseorang  kawan  kesana  dan  disanalah  kami  dapat  duduk  dengan  gembira  dan  memandangi  gadis-gadis  Belanda  lalu.  Kemudian  bagai  suatu  tjahaja  jang  bersinar  dalam  gelap,  muntjullah  Mien  Hessels  dalam  kehidupanku.  Hilanglah  Laura,  lenjaplah  keluarga  Raat  dari  ingatan  dan  lenjap  pulalah  kegembiraan  Depot  Tiga. Sekarang aku punja Mien Hessels. Dia samasekali milikku dan aku sangat tergila-gila kepada kembang  tulip berambut kuning dan pipinja jang merah mawar itu. Aku rela mati untuknja kalau dia menghendakinja.  Umurku  baru  18  tahun  dan  tidak  ada  jang  lebih  kuinginkan  dari  kehidupanku  ini  selain  daripada  memiliki  djiwa  dan  raga  Mien  Hessels.  Aku  mengharapnja  dengan  perasasn  berahi  dan  sampailah  aku  pada  suatu  kesungguhan   hati,   aku   harus   mengawininja.   Tak   satupun   jang   dapat   memadamkan   api   jang   sedang  menggolak dalam diriku. Ia adalah bagai kembang-gula diatas kue jang takkan dapat kubeli. Kulitnja lembut  bagai   kapas,   rambutnja   ikal   dan   pribadinja   memenuhi   segala-galanja   jang   kuidamkan.   Untuk   dapat  merangkulkan   tanganku   memeluk   Mien   Hessels   nilainja   lebih   dari   segala   harta   bagiku.   Achirnja   aku  memberanikan diri untuk berbitjara  kepada bapaknja. Aku mengenakan pakaian jang terbaik, dan memakai  sepatu.

 

 

Sambil duduk dikamarku jang gelap aku melatih kata-kata jang akan kuutjapkan dihadapannja. Akan tetapi  pada  waktu  aku  mendekati  rumah  jang  bagus  itu  aku  menggigil  oleh  perasaan  takut.  Aku  tak  pernah  sebelumnja  bertamu  kerumah  seperti  ini.  Pekarangannja  menghidjau  seperti  beludru.  Kembang-kembang  berseri tegak baris demi baris, lurus dan tinggi bagai pradjurit. Aku tidak punja topi untuk dipegang, karena  itu sebagai gantinja aku memegang hatiku.Dan disanaIah aku berdiri, gemetar, dihadapan bapak dari puteri  gadingku,  seorang  jang  tinggi  seperti  menara  jang  memandang  kebawah  langsung  kepadaku  seperti  aku  ini  dipandang sebagai kutu diatas tanah. ,,Tuan,” kataku. ,,Kalau tuan tidak berkeberatan, saja ingin minta anak  tuan.”   ,,Kamu?   Inlander   kotor,   seperti   kamu   ?   sembur   tuan   Hessels,   ,,Kenapa   kamu   berani-beranian  mendekati  anakku  ?  Keluar,  kamu  binatang  kotor.  Keluar  !”  Dapatkah  orang  membajangkan  betapa  aku  merasa  seperti  didera  dengan  tjambuk  ?  Dapatkah  kiranja  orang  pertjaja,  bahwa  noda  jang  ditjorengkan  dimukaku  ini  pada  satu  saat  akan  pupus  samasekali  ?  Sakitnja  adalah  sedemikian,  sehingga  disaat  itu  aku  berpikir,  ,,Ja  Tuhan,  aku  tak  akan  dapat  melupakan  ini.”  Dan  djauh  dalam  lubukhatiku  aku  merasa  pasti,  bahwa aku tidak akan dapat melupakan dewiku jang berparas bidadari itu, Mien Hessels.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 24 dari 109

 

23 tahun kemudian, jaitu tahun 1942. Djaman perang. Aku sedang melihat-lihat etalase pada salahsatu toko  pakaian  laki-laki  disuatu  djalanan  Djakarta,  ketika  aku  mendengar  suara  dibelakangku,  ,,Sukarno  ?”Aku  berpaling  memandangi  seorang  wanita  asing,  ,,Ja,  saja  Sukarno.”Dia  tertawa  terkikik-kikik,  ,,Dapat  kau  menerka  siapa  saja  ini  ?”Kuperhatikan  dia  dengan  saksama.  Dia  seorang  njonja  tua  dan  gemuk.  Djelek,  badannja tidak terpelihara. Dan aku mendjawab, ,,Tidak, njonja. Saja tidak dapat menerka. Siapakah Njonja  ?”,,Mien  Hessels,”  dia  terkikik  lagi.  Huhhhh  !  Mien  Hessels  !  Puteriku  jang  tiantik  seperti  bidadari  sudah  berobah mendjadi perempuan seperti tukang sihir. Tak pernah aku melihat perempuan jang buruk dan kotor  seperti  ini.  Mengapa  dia  membiarkan  dirinja  sampai  begitu.  Dengan  tjepat  aku  memberi  salam  kepadanja,  lalu  meneruskan  perdjalananku.  Aku  bersjukur  dan  memudji  kepada  Tuhan  Jang  Maha-Penjajang  karena  telah  melindungiku.   Tjatji-maki   jang  telah  dilontarkan  bapaknja  kepadaku  sesungguhnja  adalah  suatu  rahmat jang tersembunji. Kalau dipikir-pikir, tentu aku takkan bisa lepas dari perempuan ini. Aku bersjukur  kepada  Tuhan  atas  perlindungan  jang  telah-diberikanNja.  Huhhh,  orang  apa  itu  !  Djalan  hidupku  sebagai   seorang  pentjinta  dimasa  belia  berachir  ketika  Bu  Tjokroaminoto  meninggal.  Keluarga  Pak  Tjokro  dengan  anak-anak  jang  bajar-makan  pindah  kerumah  lain.  Dan  pemimpin  jang  kumuliakan  itu  keadaannja  begitu  tertekan,  sehingga  aku  merasa  kasihan  melihatnja.  Anaknja  masih  ketjil-ketjil,  dia  seorang  diri  dan  rumah  itu asing suasananja. Seluruh keluarga nampaknja tidak berbahagia samasekali. Aku tidak dapat memandangi  keadaan jang demikian itu.Kami belum lama menempati rumah jang baru itu ketika saudara Pak Tjok datang  menemuiku  dan  berkata,  ,,Sukarno,  kaulihat  bagai  mana  sedihnja  hati  Tjokroaminoto.  Apakah  tidak  dapat  kau  berbuat  sesuatu  supaja  hatinja  gembira  sedikit  ?”  Hatiku  sangat  berat  dan  mendjawab,  ,,Saja  dengan  segala  senang  hati  mau  mengerdjakan  sesuatu,  supaja  dia  dapat  tersenjum  lagi.  Tapi  apa  jang  dapat  saja  lakukan  ?  Saja  tidak  bisa  mendjadi  isteri  Pak  Tjokro.”,,Bukan  begitu,  tapi  engkau  dapat  menggembirakan  hatinja dengan tjara lain.”

 

 

,,Tjara lain ?

 

” Ja ?

 

,,Bagaimana ?”

 

,,Djadi menantunja. Puterinja Utari sekarang tidak punja ibu lagi. Tjokro sangat kuatir terhadap haridepan  anaknja  itu  dan  siapa  jang  akan  mendjaganja  dan  mengasihinja.  Inilah  jang  memberatkan  pikirannja.  Saja  kira,  kalau  engkau  minta  kawin  dengan  anak  saudaraku  itu,  mungkin  ini  akan  mengurangi  sedikit  tekanan  perasaan dari Pak Tjokro.”

 

,,Tapi umurnja baru 16,” kataku memprotes.

 

,,Ja  memang,  can  engkau  belum  21.  Perbedaan  umur  tidak  begitu  djauh.  Katakanlah  pada  saja,  Sukarno,  apakah ada perhatianmu sedikit terhadap anak kakakku ?”

 

,,Jah,”   aku   menerangkan   pelahan-lahan.   ,,Saja   sangat   berterima   kasih   kepada   Pak   Tjokro…….   Saja  mentjintai  Urari  Tapi  tidak  terlalu  sangat.  Sungguhpun  begitu,  sekiranja  saja  perlu  memintanja  untuk  meringankan  beban  dari  djundjunganku,  jah,  saja  bersedia.  “Aku  mendatangi  Pak  Tjokro  dan  mengadjukan  lamaranku.  Dia  sangat  gembira  dan  oleh  karena  akan  mendjadi  menantu  aku  segera  dipindahkan  kekamar  jang   lebih   besar   dengan   perabot   jang   lebih   banjak.   Sampai   dihari   ia   menutup   mata,   ia   tak   pernah  mengetahui, bahwa aku mengusulkan perkawinan ini hanja karena aku sangat menghormatinja dan menaruh  kasihan kepadanja. Kami kawin dengan tjara jang kita namakan ,,kawin gantung” Ini adalah perkawinan biasa  jang dibenarkan dalam hukum dan agama.

 

Orang   Indonesia   mendjalankan   tjara   ini   karena   beberapa   alasan.   Kadang-kadang   dilangsungkan   kawin  gantung  terlebih  dulu,  karena  kedua-duanja  belum  mentjapai  umur  untuk  dapat  menunaikan  kewadjiban  mereka setjara djasmaniah. Atau adakalanja sianak dara tinggal dirumah orangtuanja sampai pengantin laki-  laki sanggup membelandjai rumahtangga sendiri.Dalam hal kami, aku dapat tidur dengan isteriku kalau aku  menghendakinja.  Akan  tetapi  aku  tidak  melakukannja  karena  dia  masih  kanak-kanak.  Boleh  djadi  aku  seorang  jang  pentjinta,  akan  tetapi  aku  bukanlah  seorang  pembunuh  anak  gadis  remadja  Itulah  sebabnja,  mengapa  kami  melakukan  kawin  gantung.  Pesta  kawinnjapun  digantung.Disaat-saat  aku  mengawini  Utari  terdjadi dua buah peristiwa, lain tidak karena pendirian jang kolot. Penghulu setjara serampangan menolak  untuk menikahkan kami karena aku memakai dasi. Dia berkata, ,,Anak muda, dasi adalah pakaian orang-jang  beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam.”

 

,,Tuan   Kadi”   aku   membalas,   ,,Saja   menjadari,   bahwa   –   dulunja   mempelai   hanja   memakai   pakaian  Bumiputera,  jaitu  sarung.  Tapi  ini  adalah  tjara  lama.  Aturannja  sekarang  sudah  diperbarui.”,,Ja,”  katanja

 

 

membentak,   ,,Akan   tetapi

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH

 

pembaruan   itu

 

RAKJAT INDONESIA

 

hanja

 

untuk

 

memakai

 

pantalon

 

dan

 

djas

 

buka.”

 

Halaman 25

 

,,Adalah

 

dari 109

 

kegemaran saja untuk berpakaian rapi dan memakai dasi,” aku menerangkan dengan tadjam.,,Dalam hal ini,  kalau  masih  terus  berkeras  kepala  untuk  berpakaian  rapi  itu,  saja  menolak  untuk  melakukan  pernikahan.”  Apabila  aku  ditegur  dengan  keras  dimuka  umum,  atau  disuruh  harus  begini-begitu  atau  lain-lain,  aku  mendjadi   keras.   Dalam   hal   ini   biarpun   Nabi   sendiri   sekalipun,   takkan   sanggup   menjuruhku   untuk  menanggalkan dasi. Aku menjentak bangkit dari korsiku dan mendjawab dengar tandas, Barangkali lebih baik  tidak   kita   landjutkan   hal   ini   sekarang.”   Timbul   protes   keras   dari   imam   mesdjid,   akan   tetapi   aku  menggeledek, ,,Persetan, tuan-tuan semua. Saja pemberontak dan saja akan selalu memberontak, saja tidak  mau  didikte  orang  dihari  perkawinan  saja.”  Kalau  sekiranja  tidak  dihadapan  salah  seorang  tamu  kami  jang  djuga  seorang  alim  dan  sanggup  menikahkan  kami,  mungkinlah  Sukarno  tidak  akan  bersatu  dengan  Utari  Tjokroaminoto dalam pernikahan menurut agama.

 

Ketika lima menit lagi aku akan menghabisi masa djedjakaku, terdjadilah peristiwa aneh jang kedua. Tepat  sebelum aku mengindjak ambang-pintu aku mengambil rokok untuk melakukan hembusan jang terachir. Aku  mengeluarkan  korek-api  dari  kantong,  menggoreskan  sebuah  disisi  kotaknja  untuk  menjelakannja  dan  …….  Sisst …….seluruh kotak itu menjala oleh djilatan api. Anak-korek-api jang ada dalam kotak itu menjala  semua  sampai jang terachir. Karena djilatan api ini djariku terbakar. Kuanggap kedjadian ini sebagai pertandaburuk  dan  memberikan  kepadaku  suatu  perasaan  ramalan  jang  gelap.  Aku  tidak  mentjeritakan  hal  ini  kepada  siapapun,  akan  tetapi  aku  tidak  dapat  menghindarkan  diri  dari  perasaan  jang  menakutkan  ……..  Ehhh…..  Apa maksudnja ini ?

 

Sekalipun   kedudukanku   sebagai   orang   jang   baru   kawin,   waktuku   dimalam   hari   kupergunakan   untuk  mempeladjari Pak Tjokro. Aku mendjadi buntut dari Tjokroaminoto. Kemana dia pergi aku turut. Sukarnolah  jang  selalu  menemaninja  kepertemuan-pertemuan  untuk  berpidato,  tak  pernah  anaknja.  Dan  aku  hanja  duduk  dan  memperhatikannja.  Dia  mempunjai  pengaruh  jang  besar  terhadap  rakjat  Sekalipun  demikian,  setelah berkali-kali aku mengikutinja aku menjadari, bahwa dia tak pernah meninggikan atau merendahkan  suaranja dalam berpidato. Tak pernah membuat lelutjon. Pidato-pidatonja tidak bergaram. Aku tidak pernah  membatja  salah-satu  buku  jang  murah  tentang  bagaimana  tjara  mendjadi  pembitjara  dimuka  umum.  Pun  tidak pernah berlatih dimuka katja. Bukanlah karena aku sudah tjukup berhasil, akan tetapi karena aku tidak  mempunjai apa-apa.

 

Tjerminku   adalah   Tjokroaminoto.   Aku   memperhatikannja   mendjatuhkan   suaranja.   Aku   melihat   gerak  tangannja dan kupergunakan penglihatanku ini pada pidatoku sendiri. Mula-mula sekali aku beladjar menarik  perhatian  pendengarku.  Aku  tidak  hanja  menarik,  bahkan  kupegang  perhatian  mereka  Mereka  terpaksa  mendengarkan.  Suatu  getaran  mengalir  kesekudjur  tubuhku  ketika  mengetahui,  bahwa  aku  memiliki  suatu  kekuatan  jang  dapat  menggerakkan  massa.  Aku  menguraikan  pokok  pembitjaraanku  dengan  sederhana.  Pendengarku   menganggap   tjara   ini   mudah   untuk   dimengerti,   karena   aku   lebih   banjak   mendasarkan  pembitjaraanku kepada tjara bertjerita, djadi tidak semata-mata memberikan fakta dan angka. Aku berbuat  menurut getaran perasaanku. Pada suatu malam Pak Tjokro tidak dapat memenuhi undangan kesuatu rapat  dan  kepadaku  dimintanja  untuk  menggantikannja.  Kali  ini  adalah  suatu  pertemuan  ketjil,  akan  tetapi  aku  menggunakan ke sempatan ini dengan sebaik-baiknja. Aku mulai dengan suara lunak. ,,Negeri kita, saudara,  adalah  tanah  jang  subur,  sehingga  kalau  orang  menanamkan  sebuah  tongkat  kedalam  tanah,  maka  tongkat  itu  akan  tumbuh  dan  mendjadi  sebatang  pohon.  Sekalipun  demikian  rakjat  menderita  kekurangan  dan  kemelaratan adalah beban jang harus dipikul sehari-hari.

 

 

Puntjak  gunung  menghisap  awan  dilangit,  turun  kebumi  dan  negeri  kita  diberi  rahmat  dengan   hudjan  jang  melimpah-limpah.  Akan  tetapi  kita  kekurangan  makan  dan  perut  kita  mendjerit-djerit   kelaparan.”,,Ja,  betul,” mereka berteriak dari tempat duduknja. Suaraku mulai naik. ,,Saudara tahu apa sebabnja, saudara-  saudara  ?  Sebabnja  ialah,  oleh  karena  orang  jang  mendjadjah  kita  tidak  mau  menanamian  uang  kembali  untuk   memperkaja   bumi   jang   mereka   peras.   Pendjadjah   hanja   mau   memetik   hasilnja.   Ja,   mereka  menjuburkan bumi kita ini. Betul ! Akan tetapi tahukah saudara dengan apa mereka menjuburkan bumi kita  ini  ?  Tahukah  saudara  apa  jang  dikembalikan  kebumi  kita  ini  setelah  350  tahun  mendjadjah  ?  Saja  akan  tjeritakan kepada saudara-saudara. Bumi kita ini mereka  suburkan dengan majat-majat jang bergelimpangan  dari rakjat kita jang mati karena kelaparan, kerdja keras dan hanja tinggal tulang-belulang !,,Maka dari itu  saja  bertanja,  apakah  saudara  tidak  setudju  dengan  saja  ?  Seperti  saja  sendiri,  apakah  hati  saudara  tidak  digontjang-gontjang  oleh  keinginan  untuk  merdeka  ?  Saja  pergi  tidur  dengan  pikiran  untuk  merdeka.  Saja  bangun  dengan  pikiran  untuk  merdeka.  Dan  saja  akan  mati  dengan  tjita-tjita  untuk  merdeka  didalam  dadaku.

 

Apakah  saudara  tidak  setudju  dengan  saja  ?”  ,,Setudjuuuuuu  !”  mereka  berteriak,  ,,Ja……..kami  setudju  !”  Mereka melihat kepadaku kalau aku berbitjara. Mereka memandang kepadaku seperti memudja, mata-mata  terbuka  lebar,  muka-muka-terangkat  keatas,  meneguk  semua  kata-kataku  dengan  penuh  kepertjajaan  dan  harapan. Nampak djelas, bahwa aku mendjadi pembitjara jang ulung. Ia berada dalam uratnadiku.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 26 dari 109

 

Aku  menghirup  lebih  banjak  lagi  persoalan  politik  dirumah  Pak  Tjokro,  dapur  daripada  nasionalisme.  Dan  setelah  mengikuti  setiap  pidatoku  maka  kawan-kawan  seperdjoangan  mulai  mengerti  lebih  banjak  tentang  pendirianku.  Kemudian  mulai  setudju.  Lalu  mengikuti  pendirianku.  Dan  mentjintaiku.  Mereka  memilihku  sebagai sekretatis dari Jong Java dan beberapa waktu kemudian aku mendjadi ketua.

 

Akupun  menulis  untuk  madjalah  Pak  Tjok,  ,,Oetoesan  Hindia”,  akan  tetapi  dengan  nama-samaran,  karena  memang  susah  untuk  memasuki  sekolah  Belanda  sambil  menulis  dalam  madjalah  jang  menbela  tindakan  untuk   merobohkan   Pemerintah   Belanda.   Aku   kembali   kepada   Mahabharata   untuk   memperoleh   nama-  samaranku.  Aku  memilih  nama  ,,Bima”  jang  berarti  ,,Pradjurit  Besar”  dan  djuga  berarti  keberanian  dan  kepahlawanan.  Aku  menulis  lebih  dari  500  karangan.  Seluruh  Indonesia  membitjarakannja.  Ibu,  jang  tidak  tahu  tulis-batja,  dan  bapakku  tidak  pernah  tahu  bahwa  ini  adalah  anak  mereka  jang  menulisnja.  Memang  benar,  bahwa  keinginan  mereka  jang  paling  besar  adalah,  agar  aku  mendjadi  pemimpin  dari  rakjat,  akan  tetapi  tidak  dalam  usia  semuda  itu  I  Tidak  dalam  usia  jang  begitu  muda,  jang  akan  membahajakan  pendidikanku dimasa jang akan datang. Bapak tentu akan marah sekali dan akan berusaha dengan berbagai  djalan untak mentjegahku menulis. Aku tidak akan memberanikan diri menjampaikan kepada mereka, bahwa  Karno  ketjil  dan  Bima  jang  gagah  berani  adalah  satu.  Ramalan-emas  jang  pertamakali  diutjapLan  oleh  ibu  diwaktu  aku  lahir— jang  didengungkan  kembali  oleh  nenekku  pada  waktu  aku  masih  botjah  ketjil  dan  jang  didengungkan  lagi  dimasa  mudaku  oleh  Professor  Hartagh—kemudian  diutjapkan  pula  ketika  aku   berada  diambang-pintu usiaku jang keduapuluh. Dan oleh dua orang jang berlainan.

 

 

Dr.  Douwes  Dekker  Setiabudi  adalah  seorang  patriot  jang  telah  menderita  selama  bertahun-tahun  dalam  pembuangan. Ketika umurnja sudah lebih dari 50 tahun ia menjampaikan kepada partainja, jaitu Nationaal  Indische  Partij,  ,,Tuan-tuan,  saja  tidak  menghendaki  untuk  digelari  seorang  veteran.  Sampai  saja  masuk  keliang-kubur saja ingin mendjadi pedjoang untuk Republik Indonesia. Saja telah berdjumpa dengan pemuda  Sukarno.  Umur  saja  semakin  landjut  dan  bilamana  datang  saatnja  saja  akan  mati,  saja  sampaikan  kepada  tuan-tuan, bahwa adalah kehendak saja supaja Sukarno jang mendjadi pengganti saja.” ,,Anak muda ini,” ia  menambahkan,  ,,akan  mendjadi  ‘Djuru-selamat’  dari  rakjat  Indonesia  dimasa  jang  akan  datang.”Ramalan-   jang kedua keluar dari Pak Tjokro, seorang penganut Islam jang saleh. Dia banjak mempergunakan waktunja  untuk  sembahjang  dan  mendo’a.  Setelah  beberapa  lama  melakukan  samadi,  ia  kembali  kepada  seluruh  keluarganja  pada  suatu  malam  jang  berhudjan  dan  ia  berbitjara  dengan  kesungguhan  hati?  ,,Ikutilah  anak  ini.  Dia  diutus  oleh  Tuhan  untuk  mendjadi  Pemimpin  Besar  kita.  Aku  bangga  karena  telah  memberinja  tempat  berteduh  dirumahku.”  Sepuluh  Djuni  1921  aku  lulus.  Sebelas  Djuni  rentjana  jang  telah  kuperbuat  untuk   diriku   sendiri   ditolak   mentah-mentah.   Kawan-kawanku   dan   aku   bermaksud   akan   meneruskan  peladjaran kesekolah tinggi di Negeri Belanda. Ibu tidak mau tahu samasekali dengan itu.

 

 

Aku  bersoal  dengan  dia.  ,,Ibu,  semua  anak-anak.jang  lulus  dari  H.B.S.  dengan  sendirinja  pergi  ke  Negeri  Belanda.   Itulah   djalan   jang   biasa.   Kalau   orang   mau-memasuki   sekolah   tinggi   dia   pergi   ke   Negeri  Belanda.”,,Tidak.  Tidak  bisa.  Anakku  tidak  akan  pergi  ke  Negeri  Belanda,”  ia  memprotes.,,Apa  salahnja  keluar negeri ?”,,Tidak ada salahnja,” katanja. ,,Tapi banjak djeleknja untuk pergi kenegeri Belanda. Apakah  jang   menjebabkan   kau   tertarik?:Pikiran   untuk   mentjapai   gelar   universitas   ataukah   pengharapan   akan  mendapat seorang perempuan kulitputih ?”,,Saja ingin masuk universitas, Bu.” ,,Kalau itu jang kauingini, kau  memasuki  jang  disini.  Pertama  kita  harus  mengingat  kenjataan  pokok  jang  mengendalikan  sesuatu  dalam  hidup  kita,  Uang.  Pergi  keluar  negeri  memerlukan  biaja  jang  sangat  besar.  Disamping  itu,  engkau  adalah  anak jang dilahirkan dengan darah Hindia. Aku ingin supaja engkau tinggal disini diantara bangsa kita sendiri.   Djangan lupa sekali-kali, ‘nak, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah dikepulanan ini.” Dan begitulah  aku mendaftarkan diri keuniversitas di Bandung. Mungkin suara ibu jang kudengar. Akan tetapi sesungguhnja  tangan Tuhanlah jang telah menggerakkan hatiku.

 

 

Bab 5

 

Bandung: Gerbang Kedunia Putih

 

MINGGU  terachir  bulan  Djuni  tahun  1921  aku  memasuki  kota  Bandung,  kota  seperti  Princeton  atau  kota-  peladjar   lainnja   dan   kuakui   bahwa   aku   senang   djuga   dengan   diriku   sendiri.   Kesenangan   itu   sampai  sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok. Djadi dapat dibajangkan, betapa menjenangkan  masa  jang  kulalui  untak  beberapa  waktu.  Salah  satu  bagian  daripada  egoisme  ini  adalah  berkat  suksesku  dalam pemakaian petji, kopiah beludru hitam jang mendjadi tanda pengenalku, dan mendjadikannja sebagai  lambang kebangsaan kami. Pengungkapan tabir ini terdjadi dalam pertemuan Jong Java, sesaat sebelum aku  meninggalkan  Surabaja.  Sebelumnja  telah  terdjadi  pembitjaraan  jang  hangat  karena  apa  jang  menamakan  dirinja kaum intelligensia, jang mendjauhkan diri dari saudara-saudaranja rakjat biasa, merasa terhina djika  memakai blangkon, tutup kepala jang biasa dipakai orang jawa dengan sarung, atau petji jang biasa dipakai  oleh  tukang  betja  dan  rakjat-djelata  lainnja.  Mereka  lebih  menjukai  buka  tenda  daripada  memakai  tutup

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 27 dari 109

 

kepala jang merupakaa pakaian sesungguhaja dari orang Indonesia. Ini adalah tjara dari kaum terpeladjar ini  mengedjek dengan-halus terhadap kelas-kelas jang lebih rendah.

 

Orang-orang ini bodoh dan perlu beladjar, bahwa seseorang tidak akan dapat meminpin rakjat-banjak djika  tidak  menjatukan  diri  dengan  mereka.  Sekalipun  tidak  seorang  djuga  jang  melakukan  ini  diamtara  kaurn  terpeladjar,  aku  memutuskan  untuk  rnempertalikan  diriku  dengan  sengadja  kepada  rakjat-djelata.  Dalam  pertemuan  selandjutnja  kuatur  untuk  memakai  petji,  pikiranku  agak  tegang  sedikit.  Hatiku  berkata-kata.  Untuk   memulai   suatu   gerakan   jang  djantan   iseperti   ini   setjara   terang-terangan   memang   memerlukan  keberanran.  Sambil  berlindung  dibelakang  tukang-sate  didjalanan  jang  sudah  mulai  gelap  dan  menunggu  kawan-kawan seperdjoangan jang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua berlagak  seperti mereka itu orang Barat kulit putih, aku ragu-ragu untuk sedetik. Kemudian aku bersoal dengan diriku  sendiri,  ,,Djadi  pengikutkah  engkau,  atau  djadi   pemimpinkah  engkau   ?”—  ,,Aku   pemimpin,”  djawabku  menegaskan—,,Kalau  begitu,  buktikanlah,”  kataku  lagi  pada  diriku.  ,,Hajo  madju.  Pakailah  petjimu.  Tarik  napas jang dalam ! Dan masuk SEKARANG ! ! !”Begitulah kulakukan. Setiap orang memandang heran padaku  tanpa kata-kata. Disaat itu nampaknja lebih baik memetjah kesunjian dengan buka bitjara, ,,Djanganlah kita  melupakan   demi   tudjuan   kita,   bahwa   para   pemimpin   berasal   dari   rakjat   dan   bukan   berada   diatas  rakjat.”Mereka masih sadja memandang.

 

 

Aku  membersihkan  kerongkongan.  ,,Kita  memerlukan  suatu  lambang  daripada  kepribadian  Indonesia.  Petji  jang memberikan sifat chas perorangan ini, seperti jang dipakai oleh pekerdja-pekerdja dari bangsa Melaju,  adalah  asli  kepunjaan  rakjat  kita.  Namanja  malahan  berasal  dari  penakluk  kita.  Perkataan  Belanda  ‘pet’  berarti  kupiah.  ‘Je’  maksudnja  ketjil.  Perkataan  itu  sebenarnja  ‘petje’.  Hajolah  saudara-saudara,  mari  kita  angkat-  kita  punja  kepala  tinggi-tinggi  dan  memakai  petji  ini  sebagai  lambang  Indonesia  Merdeka.”Pada  waktu  aku  melangkah  gagah  keluar  dari  kereta-api  distasiun  Bandung  dengan  petjiku  jang  memberikan  pemandangan   jang   tjantik,   maka   petji   itu   sudah   mendjadi   lambang   kebangsaan   bagi   para   pedjoang  kemerdekaan.  Kalau  sekarang  petji  itu  bagiku  lebih  rnerupakan  sebagai  lambang  untuk  pertahanan  diri.  Sesungguhaja, kepalaku kian hari semakin botak. Karena orang Islam diharuskan mentjutji rarnbutnja setelah  dia   berhubungan   dengan   seorang   perempuan,   maka   kawan-kawan   menggangguku,   ,,Hei   Sukarno,   itu  barangkali jang membikin Bung botak.” Apapun alasannja, aku gembira karena telah mempunjai pandangan  kedepan   44   tahun   jang   lalu   untuk   membikin   petji   ini   begitu   hebat,   sehingga   masjarakat   sekarang  menganggap tidak pantas djika membuka petji dimuka umum. Pak Tjokro mempunjai seorang kawan lama di  Bandung.  Dan  orang  ini  telah  sering  mendengar  tentang  pemuda  jang  rnendapat  perlindungan  dari  Pak  Tjokro.

 

Ketika  aku  pindah  dari  Djawa  Timur  kedaerah  Djawa  Barat  ini,  Pak  Tjokio  telah  meggusahakan  tempatiku  menginap dirumah tuan Hadji Sanusi. Aku pergi lebih dulu tanpa Utari untuk mengatur tempat dan melihat-  lihat   kota,   rumah   mana   jang   akan   mendjadi   tempat   tinggal   kami   selama   empat   tahun   begitulah  menurut.perkiraanku  diwaktu  itu.  Aku  merasa  hawanja  dingin  dan  wanitanja  tjantik-tjantik.  Kota  Bandung  dan  aku  dapat  saling  menarik  dalam  waktu  iang  singkat.Seorang  laki-laki  jang  sudah  setengah  baja  jang  memperkenalkan dirinja sebagai Sanusi datang sendiri mendjemputku dan membawaku kerumahnja. Dengan  segera aku mengetahui, bahwa perdjalanan pendahuluan ini tidaklah sia-sia. Sekalipun aku belum memeriksa  kamar, tapi djelas bahwa ada keuntungan tertentu dalam rumah ini. Keuntungan jang utama sedang berdiri  dipintu  masuk  dalam  sinar  setengah  gelap,  bentuk  badannja  nampak  djelas  dikelilingi  oleh  tjahaja  –  lampu  dari belakang.

 

Perawakannja  ketjil,  sekuntum  bunga  merah  jang  tjantik  melekat  disanggulnja  dan  suatu  senjuman  jang  menjilaukan-mata.  Ia  isteri  Hadji  Sanusi,  Inggit  Garnasih.  Segala  pertjikan  api,  jang  dapat  memantjar  dari  seorang  anak  duapuluh  tahun  dan  masih  hidjau  tak  berpengalaman,  menjambar-njambar  kepada  seorang  perempuan dalam umur tigapulahan jang sudah matang dan berpengalaman. Disaat pertama aku melangkah  melalui pintu masuk aku berpikir, ,,Aduh,Luarbiasa perempuan ini.” Aku sadar, lebih baik aku tjepat-tjepat  berhenti  mengingatnja.  Karena  itu  ingatan  kepada  njonja-rumah  itu  kubilangkan  dari  pikiranku—untuk  sementara— kemudian menjuruh datang Utari dan memusatkan pikiran pada persoalan masuk Sekolah Teknik  Tinggi mengedjar gelar Insinjur—bukan untuk merusak perkawinan orang. Diwaktu sekarang kami mempunjai  Universitas Indonesia di Djakarta, Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta, Universitas Airlangga di Surabaja,  Universitas   Lambung   Mangkurat   di   Kalimantan   dan   berlusin-lusin   universitas   penuh-sesak   menurut  kemampuannja.  Akan  tetapi  pada  waktu  aku  memasuki  Sekolah  Teknik  Tinggi  kami  hanja  11  orang  anak  Indonesia.  Aku  termasuk  salah-seorang  dari  11  orang  jang  berrnuka  hitam,  terapung-apung  kian-kemari  dalam  Lautan  kulitputih  berarnbut  merah,  berdjerawat  dan  bermata  hidjau  seperti  kutjing.  Seperti  dugaan  kami,  anak-anak  Belanda  tidak  mau  tahu  dengan  kami  didalam  campus  itu.  Kalaupun  rnereka  memberi  perhatian  kepada  kami,  itu  hanja  untuk  membusukkan  kami  atau  menjorakkan,  ,,Hei  kamu,  anak  inlander  bodoh, mari sini.” Aku tidak tahu kekuatan apa jang ada padaku.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 28 dari 109

 

Aku  hanja  tahu,  bahwa  sekalipun  aku  tidak  mengutjapkan  sepatah  kata,  kehadiranku  sadja  sudah  tjukup  untuk   menutup   mulut   orang-orang   jang   menghina,   lalu    menghentikan   perintah-perintahnja.    Kami  membanting-tulang  di  Sekolah.  Pekerdjaan  rumah  banjak  sekali.  Kuliah-kuliah  jang  diberikan  enarn  hari  dalam  seminggu  ditambah  dengan  udjian  tertulis  setiap  triwulan  selama  sebulan  penuh,  sungguh-sunggah  rasanja  seperti  akan  mematahkan  tulang-punggung  karena  bertekun.  Waktuku  tidak  banjak  untuk  Utari.  Akupun  tidak  banjak  mempunjai  persamaan  dengan  dia.  Selagi  aku  beladjar  ilmu  pasti,  ilmu  alam  dan  mekanika,   jang   bernama   isteriku   itu   berada   dipekarangan   belakang   bermain   dengan   kawan-kawan   perempuannja.  Selagi  aku  mempidatoi  perkumpulan  pemuda  diwaktu  malam,  baji  jang  telah  kukawini   bergelut dengan seorang anak, kemenakan njonja Inggit. Kami menempuh djalan masing-masing. Dia masih  hidjau   sekali.   Sifat   pemalunja   terlalu   berkelebihan,   sehingga   djalang   berbitjara   denganku,   kalaupun  ada.Kami  tidur  berdampingan  disatu  tempat-tidur,  tapi  setjara  djasmaniah  kami  sebagai  kakak  beradik.  Di  Bandung  dia  djatoh  sakit.  Sementara  dia  terbaring  dengan  pajah  aku  merawatnja.  Berkali-kali  aku  melap  tubuhnja jang panas dengan alkohol, dari udjung kepala sampai keudjung djari-kakinja, namun tak sekalipun  aku mendjamahnja. Ketika ia sudah pulih kembali antara kamipun tidak terdapat perhubungan djasmani.

 

 

Kami  bahkan  dengan  setulus  hati  tidak  mengidamkan  satu  sama  lain  dalam  arti  tjinta  antara  laki-laki  dan  dara  jang  sebenarnja.  Maksudku,  dia  tidak  mernbentjiku  dan  aku  tidak  membentjinja,  akan  tetapi  ini  bukanlah  perkawinan  jang  lahir  dari  perasaan  berahi  jang  menjala-njala.  Tidak  banjak  kesempatan  untuk  menggunakan  waktu  bagi  kesenangan  diri,  oleh  karena  seluruh  djiwa  dan  ragaku  segera  penuh  dengan  berbagai  kesukaran.  Setelah  tinggal  di  Bandung  selama  dua  bulan,  suratkabar  memuat  berita-berita  besar  tentang  kegiatan  revolusioner  jang  terachir,  aksi-pemogokan  di  Garut.  Kedjadian  ini  dianggap  sebagai  persoalan  afdeling,  jaitu  persoalan  daerah.  Pemerintah  Kolonial  sudah  dibikin  susah  oleh  pertumbuhan  Nasionalisme  jang  pesat.  Njamuk  tjelaka  jang  baru  mendengung-dengung  ditahun  1908  dengan  sembojan-  sembojan  politik  tanpa  kekerasan,  sekarang  telah  mendjadi  besar  dan  mengandung  ratjun  ketidak-puasan  dengan  gigitannja  jang  mematikan.  Para  pekerdja  sudah  diorganisir;  rnereka  menuntut  hak;  menuntut  undang-undang  perburuhan  jang  mendjamin  djam-kerdja  jang  lebih  pendek  daripada  18  djam;  menuntut  upah  jang  pantas  dan  menuntut  suatu  masjarakat  jang  bekerdja  tanpa  ,,Exploitation  de  l’homme  par  l’homme”.  Di  Indonesia  telah  bertunas  organisasi  para  pekerdja  seperti  Persatuan  Buruh  Gula  dan  Serikat  Pekerdja Rumah Gadai.

 

Dalam djaman dimana orang Barat telah mengenal pemogokan sebagai hak dari serikat-serikat buruh untuk  mentjoba memperbaiki nasibnja jang menjedihkan, maka pemerintah Hindia Belanda dalam usahanja untuk  mematikan  ,,sifat-radikal”  dan  ,,Komunisme”,  sebagaimana  mereka  menamakannja,  mengeluarkan  undang-  undang baru, Artikel 161. Jaitu larangan terhadap pemogokan. Hukum pidana bahkan sekarang menetapkan,  bahwa barangsiapa jang menghasut seseorang untuk melakukan pemogokan diantjam dengan hukurnan enam  tahun pendjara.Ini sangat menusuk hatiku pribadi, karena para pembesar berkejakinan bahwa pemogokan di  Garut  dipupuk  oleh  Sarekat  Islam.  Dihari  itu  djuga  mereka  menahan  Tjokroaminoto.  Keluarga  Pak  Tjokro  sedang berada dalam kekurangan. Penderitaan mereka adalah penderitaanku djuga. Apa akal…… Apa akal

 

…..Apakah  aku  akan  madju  terus  dan  memikirkan  diri  sendiri  serta  apa  jang  kuharapkan  dapat  tertjapai  dihari  esok  ?  Ataukah  aku  akan  mundur  kebelakang  dan  memikirkan  Pak  Tjokro  dan  apa   jang  telah  dikerdjakannja untukku dihari kemarin ? Dihadapanku terentang djalan-raja berlapiskan emas jang menudju  kepada  idjazah  sekolah  tinggi.  Dibelakangku  terhampar  djalanan  kembali  menudju  kamar  jang  gelap  dan  kehidupan  jang  suram.  Soalnja  adalah  mana  jang  lebihpenting  mana  jang  lebih  mudah  dapat  dikorbankan  oleh  seoranganak  Bumiputera  ?  Gerbang  menudju  dunia  putihkah  ?  Atau  mengorbankan  kesetiaan  kepada  prinsipnjakah   ?   Bagiku   tidak   ada   kesangsiandjiwa.   ,,Saja   akan   meninggalkan   Bandung   besok   menudju  Surabaja,”dengan  tegas  kusampaikan  kepada  njonja  Inggit  didapur  esok  paginja.  ,,Untuk  berapa  lama  ?”  tanjanja.,,Saja  tidak  tahu.  Barangkali  untuk  selama-lamanja.  Ini  tergantung  kepada  lamanja  hukuman  Pak  Tjokro.  Apakah  enam  bulan  atau  dua  puluh  tahun,  selama  itu  pula  saja  harus  berbuat  apa  jang  harus  saja  perbuat.” Ia menjediakan kopi tubruk, kopi hitam pekat jang tak dapat kutinggalkan, dan tangannja gemetar  sedikit.   ,,Dengan   meninggalkan   sekolah   ada   kemungkinan   engkau   melepaskan   segala   harapan   untuk  mentjapai tjita-tjitamu,” hanja itu utjapannja ,,Saja menjadari hal itu.

 

 

Saja djuga menjadari, bahwa Pak Tjokro mertuaku. Saja anak tertua dari keluarganja. Tapi soalnja bukan itu  sadja,  lebih  lagi  dari  itu.  Saja  harus  berbakti  pada  orang  jang  kupudja  itu  dan  kepada  prinsipku.”  ,,Tapi  isterinja jang baru tidak menulis surat kepadamu untuk minta bantuan,” ia mengemukakan. ,,Anaknja djuga  tidak memberi kabar apa-apa tentang kesukaran mereka. Malahan tak seorangpun meminta engkau datang.  ,,Saja  harus  pergi.  Kurasakan  dalam  dadaku,  bahwa  itu  mendjadi  tugas  saja  ….Tidak  !  Saja  rasakan  ini  sebagai   hak-istimewaku   untuk   bisa   menjelamatkan   mertjusuar   ini   jang   telah   menundjukkan   djalan  kepadaku.”Aku  memperhatikan  bubuk  kopi  turun  hingga  ia  mengendap  kedasar  tjangkir.  ,,Saja  mendapat  kabar,  bahwa  penahanan  terhadap  Pak  Tjokro  dua  hari  jang  lalu  itu  tidak  diduga  samasekali.  Belanda  mendadak  menggedor  rumahnja  ditengah  malam  buta  dan  menggiringnja  dengan  udjung  bajonet  kedalam  tahanan. Dia tidak mendapat kesempatan untuk mengatur keluarga jang ditjintainja.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 29 dari 109

 

Dan  tak  seorangpun  jang  akan  mengawasi  mereka.,,Djadi  nampaknja  djelas  bagimu,  bahwa  dari  semua  pengikutnja  jang  djumlahnja-djutaan  orang  itu  hanja  engkau  jang  akan  memikul  kewadjiban  itu  diatas  pundakmu ?” ,,Ja, itu kewadjiban saja. Dia mergulurkan tangannja pada waktu saja memerlukan rumah dan  tempat   berteduh.   Sekarang   saja   harus   berbuat   begitu   pula   kepadanja   Mengediar   kehidupan   sendiri,  sementara  orang  jang  sudah  diakui  keluarga  berada  dalam  kesusahan  bukanlah  tjara  orang  Indonesia.”  ,,Maksudmu,”   katanja   lunak,   ,,Bahwa   itu   bukanlah   tjara   Soekarno.”Dipagi   itu   djuga   aku   rnelaporkan  keberhentianku  mengikuti  kuliah.  Presiden  dari  Sekolah  Teknik  Tinggi,   Professor  Klopper,  rupanja  kuatir  terhadap  tindakanku  ini.  ,,Sudah  mendjadi  kebiasaanmu,  bahwa  seluruh  keluarga  memberikan  korban  mereka  untuk  meneruskan  pendidikan  dari  salah-seorang  anggotanja  jang  berbakat,  bukan  ?”  ia  menanjaku  dengan  ramah.,,Ja,  tuan.  Saja  kira,  bahkan  kelaparanpun  tak  dapat  mentjegah  keluarga  saja  mengadakan  biaja  jang  perlu  bagi  pendidikan  anaknja.  Sebagai  mantri-guru  bapak  membanting  tulang  seperti  pekerdja  lainnja.

 

Ibu  duduk  berdjam-djam  lamanja  melukis  kain  batik  sampai  tengah  malam  hingga  pelita  dan  pemandangan  matanja  mendjadi  samar.  Supaja  dapat  mengumpulkan  dengan  susah-pajah  uang  300  rupiah  untuk  uang-  kuliah  setahun,  orangtua  saja  baru-baru  ini  menambah  orang  bajar-makan.  Kakak  saja  dan  suaminja  djuga  membantu   setiap   bulan.”,,Kalau   dibelakang   hari,”   Professor   Klopper    melandjutkan,   ,,;Engkau   hanja  ditempatkan  sebagai  pekerdja  dilapangan,  bagaimana  engkau  membajar  kembali  kepada  orang-orang  jang  menjokongmu  selama  beladjar  ?”,,Itu  bukanlah  kebiasaan  kami,”  aku  menerangkam  ,,Mereka  akan  marah  kalau saja mentjoba jang demikian. Tjara kami sebaliknja. Kami harus selalu bersedia membantu orang jang  pernah  menolong  kita  diwaktu  ia  memerlukannja.  Itulah  jang  dinamakan  gotong-rojong.  Saling  membantu.  Dan   karena   itulah   saja   harus   pulang.”   Dihari   berikutnja   aku   mengumpulkan   isteriku,   mengumpulkan  segalaharapan   dan   idamanku   dan   membawa   semua   ia   pulang   ke   Surabaja.   Supaja   dapat   membantu  rumahtangga   aku   bekerdja   sebagai   klerk   distasiun   kereta-api.   Kedudukanku   adalah   sebagai   ,,Raden  Sukarno,’- BKL. Der Eerste Klasse. Eerste Categorie.”

 

 

Sebagai seorang klerk kantor kelas satu golongan satu aku menelan uap dan asap selama tudjuh djam dalam  sehari, karena kantorku jang tidak dimasuki hawa bersih berhadapan dengan rel dari pelataran stasiun jang  menjedihkan.  Tugas  beratku  jang  utama  adalah  membuat  daftar  gadji  untuk  para  pekerdja.  Oleh  karena  bekerdja sehari penah, aku tidak punja kesempatan mengulangi peladjaran. Akan tetapi ada baiknja, karena  tempat jang luarbiasa ramainja ini mendjadi tempat keluar-masuk kereta-api jang datang dari kota-kota lain  seperti  Madiun,  Djogja,  Malang,  Bandung  dan  aku  dapat  berhubungan  dengan  massa  pekerdja.  Tak  pernah  aku menjia-njiakan kesempatan untuk menaburkan bibit Nasionalisme.Aku menerima 165 rupiah sebulan. 125   kuserahkan kepada ketuarga Pak Tjokro. Diwaktu mereka patah semangat dan bersusah hati, kubawa mereka  menonton film dengan apa jang masih tersisa dari uangku jang 40 rupiah itu. Atau kubelikan barang barang  ketjil  seperti  kartu-pos  bergambar.  Hanja  ini  jang  dapat  kuadakan,  akan  tetapi  besar  artinja  bagi  mereka.   Kuberikan pakaianku untuk dipakai. Aku mendjaga disiplin mereka dengan pukulan sandal pada belakangnja.

 

 

Aku  mendjalankan  segala  tugas  orangtua,  sampai  kepada  menjunatkan  Anwar.  Aku  sendiri  mentjari  obat,  mentjari   orang   alim   dan   menjelenggarakan   selamatannja.   Bertahun-tahun   kemudian,   setelah   Anwar  mendjadi    seorang    tokoh    politik,    aku    mengganggunja,    ,,Nah,    djangan    kaulupakan,    akulah    jang  menjunatkanmu.”Pada  waktu  Pak  Tjokro  didjatuhi  hukuman  karena  persoalan  politik,  Belanda  melarang  anak-anaknja  untuk  melandjutkan  sekolah.  Djadi,  Sukarnolah  jang  mengadjar  mereka.  Akupun  mengadjar  mereka  menggambar.  Untuk  membeli  kertas  atau  batutulis  tidak  ada  uang,  akan  tetapi  dinding  rumah  di  Djalan   Plambetan   dipulas   dengan   kapur   putih.   Bukankah   dinding   putih   baik   untuk   digambari   ?   Maka  kugambarkan  dari  luar  kepala  gambar  persamaan,dan  karikatur  dari  bintang  film  kesajanganku,  Frances  Ford. Terlepas dari persoalan apakah kami mendjadi tokoh- tokoh politik dimasa-masa jang akan datang atau  tidak, maka pada waktu itu sesungguhnjalah kami merupakan suatu rumahtangga jang terdiri dari anak-anak  jang ketakutan dan lapar dalam arti jang murni. Dan Aku ? Aku adalah jang paling besar, hanja itu.

 

 

Pak  Tjokro  dibebaskan  pada  bulan  April  1922.  setelah  tudjuh  bulan  meringkuk  dalam  tahanan.  Bulan  Djuli,  pada  waktu  mulai  tahun  peladjaran  baru  setjara  resmi,  aku  kembali  ke  Sekolah  Teknik  Tinggi  dan  kembali  kepada  njonja  Inggit.  Utari  dan  aku  tidak  dapat  lebih  lama  menempati  satu  tempat-tidur,  bahkan  satu  kamarpun tidak. Djurang antara kami berdua semakin lebar. Sebagai seorang jang baru kawin kasih sajangku  kepadanja  hanja  sebagai  kakak.  Sebagai  kepala  rumahtangga  dari  Pak  Tjokro  perananku  sebagai  seorang  bapak.   Jang   tidak   dapat   dibajangkan   sekarang   adalah   peraaanku   sebagai   seorang   suami.   Aku   telah  memperhatikan,  kalau  engkau  membelah  dada  seseorang  termasuk  aku  sendiri  maka  akan  terbatja  dalam  dadanja itu bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tertjapai apabila si isteri merupakan perpaduan  dari  pada  seorang  ibu,  kekasih  dan  seorang  kawan.  Aku  ingin  di  ibui  oleh  teman  hidupku.  Kalau  aku  pilek,  aku  ingin  dipidjitnja.  Kalau  aku  lapar,  aku  ingin  memakan  makanan  jang  dimasaknja  sendiri.  Manakala  badjuku kojak, aku ingin isteriku menarnbalnja. Dengan Utari keadaannja terbalik. Aku jang mendjadi orang  tuanja, dia sebagai anak.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 30 dari 109

 

Ia  bukan  idamanku,  oleh  karena  tidak  ada  tarikan  lahir  dan  dalam  kenjataan  kami  tak  pernah  saling  mentjintai.  Sebagai  teman  seperdjuangan,  orang  jang  demikian  tidak  sanggup  menemaniku  pada  waktu  tenagaku  terpusat  pada  penjelamatan  dunia  ini,  sedang  dia  sementara  itu  main  bola-tangkap.  Sudah  mendjadi suatu kebiasaanku untuk menoleh kepada seorang wanita supaja hatiku dapat terhibur. Kalauharus  diadakan  pilihan  antara  wanita  jang  memiliki  tangan  jang  tjantik  dengan  seorang  jang  memiliki  hati  jang  lembut, maka aku seringkali tertarik pada jang terachir ini. Aku tidak lebih mengutarnakan hubungan lelaki-  perempuan,  akan  tetapi  aku  memerlukan  hati  jang  lembut  dan  dorongan  jang  besar  dan  mulia  jang  hanja  dapat  diberikan  oleh  hati  seorang  wanita.  Inggit  dan  aku  berada  bersama-sama  setiap  malam.  Aku  adalah  orang jang selalu bangun dan membatja. Inggitpun lambat pergi tidur karena harus menjiapkan makan untuk  hari  berikutnja.  Dia  selalu  ada  disekelilingku.  Dia  adalah  njonja  rumah.  Aku  orang  bajar-makan.  Kami  berteduh  dibawah  atap  jang  sama.  Aku  melihatnja  dipagi  hari  sebelum  ia  menggulung  sanggulnja.  Dia  melihatku dalam pakaian pijama. Aku senantiasa makan bersama-sama dengan dia. Memakan makanan jang  dimasaknja  sendiri.  Sajuran  seperti  lodeh,  jaitu  sajuran  jang  dimasak  dengan  santan  pakai  tjabe  jang  kusenangi atau ontjom jang djuga kusukai ataupun makanan lain jang chusus dibuatnja untuk menjenangkan  hatiku.  Dia  itulah  bukan  isteriku  jang  membereskan  karnarku,  melajaniku,  memperhatikan  pakaianku  dan  mendengarkan buah-pikiranku. Dialah orang jang bertindak sebagai ibu kepadaku, bukan Utari.

 

 

Tuan  Sanusi  orang  jang  sudah  berumur  dan  samasekali  tidak  peduli  terhadap  isterinja.  Seorang  pendjudi  dengan kegemarannja jang luarbiasa main  biljar. Setiap malam  ia berada dirumah bola untuk  mentjobakan  ketjakapannja.  Pada  praktekola  mereka  bertjerai  disatu  rumah.  Rumahtangga  mereka  tidak  berbahagia.  Sebagai suami-isteri, mereka serumah, lain tidak. Lalu masuklah kedalam lingkungan ini seorang muda jang   bernafsu dan berapi-api. Ia sangat tertarik kepadanja. Ia melihat dalam  diri perempuan itu  seorang wanita  jang sadar, bukan kanak-kanak, seperti jang satunja jang masih main kutjing-kutjingan diluar. Keberanian ini  mulai   bangkit.   Aku   seorang   jang   sangat   kuat   dalam   arti   djasmaniah   dan   dihari-hari   itu   belum   ada   televisi……hanja  Inggit  dan  aku  dirumah  jang  kosong.  Dia  kesepian.  Aku  kesepian.  Perkawinannja  tidak  betul.  Dan  perkawinanku  tidak  betul.  Dan  adalah  wadjar,  bahwa  hal-hal  jang  demikian  itu  tumbuh.  Inggit  dan   aku   banjak   mengalami   sast-saat   jang   menjenangkan   bersama-sama.   Kami   keduanja   mempunjai  perhatian  jang  sama.  Dan  barangkali  djuga…..  jah,  kami  keduanja  bahkan  sama  mentiintai  Sukarno.  Disamping  hakekatnja  sebagai  seorang  perempuan,  diapun  memudja  Sukarno  setjara  menghambakan  diri  samasekali dan membabi-buta baik atau buruk, benar atau salah. Tidak lain dalam hidupnja ketjuali Sukarno  serta segala apa jang mendjadi pikiran, harapan dan idaman Sukarno. Aku berbitjara dia mendengarkan.

 

 

Aku  berbitjara  dengan  sangat  gembira;  dia  menghargai.  Utari  menjadari-apa  jang  terdjadi,  akan  tetapi  ia  mengetahui, bahwa persatuan kami tidak akan membawa kebahagiaan. Karena ia tidak pernah mengenalku  dalam   arti   suami-isteri   jang   sebenarnja,   maka   tidak   timbul   iri   hati   dari   pihaknja.   Hadji   Sanusipun  mengetahui  apa  jang  sedang  berkembang,  akan  tetapi  perkawinannja  sudah  sedjak  lama  rusak.  Aku  tidak  merasa  bahwa  aku  merebutnja  dari  sang  suami  ataupun  merusak  suatu  rumahtangga  jang  berbahagia,  sebagaimana  jang  dikatakan  oleh  madjalah  madjalah  luar  negeri.  Tidak  ada  sesuatu  jang  akan  dirusakkan.  Bahkan Sanusi sendiripun tidak ada usaha untuk merebut hati isterinja lagi. Tanpa mendramakannja dengan  teliti,  kukira  tentu  ada  bersembunji  perasaan-perasaan  bersalah.  Aku  tidak  ingat  betul,  apakah  aku  meng  alaminja   sedemikian   banjak   ketika   itu   ataukah   aku   rnengeluarkannja   sekarang   sebagai   usaha   untuk  menerangkan tindakan-tindakan itu. Akupun tidak tahu, bagaimana perasaan rakjatku mengenai Presidennja  jang   membitjarakan   ini   sarnpai   sedemikian   djauh   .   Aku   tidak   menghendaki   mereka   mendjadi   malu.  Anggaplah,    karena    peristiwa    pertjintaan    sedang    tumbuh    diwaktu    itu    aku    mentjoba    menganalisa  kedjahatannja.  Dan  aku  tidak  pernah  berhenti  menganalisanja.  Kumaksud  bukan  affair  Inggit  sadja.  Jang  kumaksud  adalah  seluruh  kehidupanku.  Seakan  aku  menganalisa  setjara  abadi  kekuatan-kekuatan  jang  ada  dalam  diriku.  Dan  kekuatan-kekuatan  jang  ada  disekelilingku.  Otakku  dan  djiwaku  selalu  bernjala-njala  dengan  perdjuangan  jang  tak  habis-habis  antara  jang  baik  dan  jang  djahat.  Setelah  enam  bulan  berada  di  Bandung aku sendiri rnembawa Utari pulang kerumah bapaknja. ,,Pak,” kataku. ,,Saja mengembalikan Utari  kepada bapak.” ,,Keputusan siapa ini ?” tanja Pak Tjokro. ,,Saja, Pak. Sajalah jang ingin bertjerai. “Kemudian  ia  hanja  bertanja,  ,,Apakah  dia  menerima  keputusanmu?”Aku  mendjawab,  ,,Ja.  Dia  sudah  tentu  susah  karena, walaupun bagaimana, anak-anak gadis kita menganggap pertjeraian itu suatu kernunduran.

 

Dia  barangkali  merasa  sedikit  bingung,  sebab  selama  dua  tahun  kami  kawin  aku  tak  pernah  menjentuhnja.  Sebenarnja dia tidak ingin bertjerai, akan tetapi diapun menjadari bahwa djalan inilah jang paling baik bagi  kami  berdua.”Pak  Tjokro  mengangguk  diam.  ,,Pak,  saja  menunggu  sampai  bapak  keluar  dari  tahanan  untuk  menjampaikan  hal  ini.  Perkawinan  kami  sudah  tidak  baik  dari  permulaannja  dan  tidak  akan  baik  untuk  seterusnja. Tanpa pertjeraian tidak dapat dibina perkawinan jang berbahagia.”Pak Tjok menghargai apa jang  kukatakan.   Ia   tidak   menanjakan   persoalan-persoalan   pribadi.   Dan   setelah   kedjadian   ini   Pak   Tjokro  sekeluarga  dan  aku  selalu  dalam  hubungan  jang  baik.  Hubungan  kami  tetap  seperti  sebelumnja.  Apa  jang  kuutjapkan  setjara  resmi  hanjalah,  ,,Saja  djatuhkan  talak  satu  kepadarnu,”  dan  perkawinan  kami  berachir.  Djadi,  tjara  kami  bertjerai  ringkas  sadja.  Tidak  melalui  banjak  prosedur.  Dalarn  agama  Islam  terdapat  tiga  tingkatan pertjeraian. Talak satu masih membuka djalan untuk rudjuk kembali-dalarn tempo 100 hari. Talak

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 31 dari 109

 

dua,  tingkat jang  lebih kuat dari jang  pertama, mengulangi maksud untuk  bebas dari isterirnu,  akan tetapi  masih mernbuka kesempatan sedikit sekiranja masih ingin bergaul dengan dia.

 

Tingkat terachir adalah untuk menjatakan, ,,Saja tjeraikan engkau.” Setelah talak tiga ini djatuh, hubungan  perkawinan  sudah  diputuskan  dengan  resmi  dan  sisuami  tidak  dapat  mengawini  kembali  isterinja  itu,  ketjuali.djika   susteri   kawin   dulu   sementara   dengan   laki-laki   lainja.   Hukurn   Islam   tidak   mengizinkan  perempuan  mentjeraikan  lakinja.  Pun  tidak  dapat  menolak  untuk  ditjeraikan.  Tentu  sadja  kalau  suaminja  sangat  kedjam  dan  ia  mengadu  kepada  Kadi,  ,,Suami  saja  memukul  saja,”  atau  kalau  dia  bersumpah,  ,,Dia  tidak  pernah  datang  kepada  saja  dan   menurut  kenjataan  dia  tidak  pernah  mempergauli  saja  selama  berbulan-bulan,”  dan  memohon  kepada  Kadi  supaja  mengizinkannja  bertjerai  atas  alasan  jang  tertentu  itu,  maka  Kadi  itu  dapat  mentjeraikannja.  Hakim  agama  ini  mempunjai  kekuasaan  untuk  memberi  izin  guna  meringankan keadaan.ni menurut Nabi Muhammad s.a.w. Hukum-Hukum Islam diadakan dipadang-pasir. Dan  dimana  dipadang-pasir  orang  bisa  mentjari  ahli  hukum  atau  Surat  Pertjeraian  ?  Itulah  sebabnja  mengapa  kami tidak mempunjai aturan seperti di Barat. Djadi, ditahun 1922, aku hanja menjerahkan pengantinku jang  masih kanak-kanak itu kepada bapaknja, dan itulah seluruhnja.

 

 

Aku kembali ke Bandung dan kepada tjintaku jang sesungguhnja. Suatu malam, setelah kami bersama-sama  selama satu tahun, aku mengusulkan. Ini adalah usul jang sangat sederhana. Kami hanja berdua seperti biasa  dan aku berkata pelahan, ,,Aku mentjintaimu.” Dia. ,,Akupun begitu,” keluar tjepat dari mulutnja. Aku ingin  mengawinimu”   kubisikkan.,,Akupun   ingin   mendjadi   isterimu,”   dia   membalas   berbisik.,,Apakah   menurut  pendapatmu  kita  akan  rnendapat  kesulitan  ?”,,Tidak,”  katanja  lunak.  ,,Aku  akan  bitjara  dengan  Sanusi  besok.”Sanusi  mau  bekerdja-sama.  Dalam  tempo  jang  singkat  Inggitpun  bebas.  Tidak  terdjadi  adegan  jang  serarn  seperti  dilajar-putih.  Kukira  dia  merasa,  bahwa  iniiah  djalan  jang  paling  baik  ditempuh.  Setelah  itu  Inggit, dia dan aku senantiasa dalam hubungan jang baik. Kenjataannja, tidak lama kemudian dia kawin lagi.  Dalam  waktu  jang  singkat  Utaripun  kawin  dengan  Bachrum  Salam,  kawan  sama-sama  bajar-makan  dirumah  Pak  Tjokro.  Mereka  memperoleh  delapan  orang  anak  dan  ketika  buku  ini  ditulis  mereka  masih  mendjadi   suami-isteri. Djadi nampak kedua belah pihak tidak begitu merasa luka. Inggit dan aku kawin ditahun 1923.

 

 

Keluargaku  tak pernah menjuarakan satu perkataan  mentjela ketika aku berpindah dari isteriku jang masih  gadis  kepada  isteri  lain  jang  selusin  tahun  lebih  tua  daripadaku.  Apakah  mereka  menekan  perasaannja  karena perbuatanku, ataupun merasa malu kepada Pak Tjokro, aku tak pernah – mengetahuinja. Inggit jang  bermata   besar   dan   memakai   geIang   ditangan   itu   tidak   mempunjai   masa   lampau   jang   gemilang.   Dia  samasekali  tidak  terpeladjar,  akan  tetapi  intellektualisme  bagiku  tidaklah  penting  dalam  diri  seorang  perempuan.   Jang   kuhargai   adalah   kemanusiaannja.   Perempuan   ini   sangat   mentjintaiku.   Dia   tidak  memberikan pendapat-pendapat. Dia hanja memandang dan menungguku, dia mendorong dan memudja. Dia  memberikan  kepadaku  segala  sesuatu  jang  tidak  bisa  diberikan  oleh  buku.  Dia  memberiku  ketjintaan,  kehangatan,  tidak  mementingkan  diri  sendiri.  Ia  memberikan  segala  apa  jang  kuperlukan  jang  tidak  dapat  kuperoleh semendjak aku meninggalkan rumah ibu. Psychiater akan mengatakan bahwa ini adalah pentjarian  kembali kasih-sajang ibu.

 

Mungkin djuga, siapa tahu. Djika aku mengawininja karena alasan ini, maka ia terdjadi setjara tidak sadar.  Dia. waktu itu dan sekarangpun masih seorang perempuan jang budiman. Pendeknja, kalau dipikirkan setjara  sadar,  maka  perasaan-perasaan  jang  dibangkitkannja  padaku  tidak  lain  seperti  pada  seorang  kanak-kanak.  Inggit   dalam   masa   selandjutnja   dari   hidupku   ini   sangat   baik   kepadaku.   Dia   adalah   ilhamku.   Dialah  pendorongku.  Dan  aku  segera  memerlukan  semua  ini.  Aku  sekarang  sudah  mendjadi  mahasiswa  ditingkat  kedua.  Aku  sudah  kawin  dengan  seorang  perempuan  jang  sangat  kuharapkan  dengan  perasaan  berahi.  Aku  sekarang   sudah   melalui   umur   21   tahun.   Masa   djedjakaku   sudah   berada   dibelakangku.   Tugas   hidupku  merentang  didepanku.  Pikiran  embryo  jang  dipupuk  oleh  Pak  Tjokro  dan  mulai  menemakan  bentuk  di  Surabaja  tiba-tiba  petjah  mendjadi  kepompong  di  Bandung  dan  dari  keadaan  chrysalis  berkembanglah  seorang  pedjuang  politik  jang  sudah  matang.  Dengan  Inggit  berada  disampingku  aku  melangkah  madju  memenuhi amanat menudju tjita-tjita.

 

Bab 6

 

Marhaenisme

 

AKU  baru  berumur  20  tahun  ketika  suatu  ilham  politik  jang  kuat  menerangi  pikrranku.  Mula-mula  ia  hanja  berupa  kuntjup  dari  suatu  pemikiran  jang  mengorek-ngorek  otakku,  akan  tetapi  tidak  lama  kemudian  ia  mendjadi  landasan  tempat  pergerakan  kami  berdiri.  Dikepulauan  kami  terdapat  pekerdja-pekerdja  jang  bahkan  lebih  miskin  daripada  tikus-geredja  dan  dalam  segi  keuangan  terlalu  menjendihkan  untuk  bisa  bangkit  dibidang  sosial,  politik  dan  ekonomi.  Sungguhpun  demikian  masing-masing  mendjadi  madjikan  sendiri.  Mereka  tidak  terikat  kepada  siapapun.  Dia  mendjadi  kusir  gerobak  kudanja,  dia  mendjadi  pemilik

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 32 dari 109

 

dari kuda  dan gerobak itu dan dia tidak mempekerdjakan buruh lain. Dan terdapatlah nelajan-nelajan jang  bekerdja   sendiri   dengan   alat-alat— seperti   tongkat-kail,   kailnja   dan   perahu—   kepunjaan   sendiri.   Dan  begitupun  para  petani  jang  mendjadi  pemilik  tunggal  dari  sawahnja  dan  pemakai  tunggal  dari  hasilnja.   Orang-orang  sematjam  ini  meliputi  bagian  terbanjak  dari  rakjat  kami.  Semua  mendjadi  pemilik  dari  alat  produksi mereka sendiri, djadi mereka bukanlah rakjat proletar. Mereka punja sifat chas tersendiri.

 

Mereka tidak termasuk dalam salahsatu bentuk penggolongan. Kalau begitu, apakah mereka ini sesungguhnja  ? Itulah jang mendjadi renunganku berhari-hari, bermalam-malam dan berbulan-bulan. Apakah sesungguhnja  saudaraku  bangsa  Indonesia  itu  ?  Apakah  namanja  para  pekerdja  jang  demikian,  jang  oleh  ahli  ekonomi  disebut  dengan istilah ,,Penderita Minimum” ?- Disuatu pagi  jang indah aku bangun dengan keinginan untuk  tidak mengikuti lculiah— ini bulcan tidak sering terdjadi. Otakku sudah terlalu penuh dengan soal-soal politik,  sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian pada studi.

 

Sementara  mendajung  sepeda  tanpa  tudjuan—sambil  berpikir—alcu  sampai  dibagian  selatan  kota  Bandung,  suatu  daerah  pertanian  jang  padat  dimana  orang  dapat  menjaksikan  para  petani   mengerdjakar.  sawahnja  jang ketjil, jang masing-masing luasnja kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena boberapa hal perhatianku  tertudju  pada  seorang  petani  jang  sedang  mentjangkul  tanah  mrliknja.  Dia  seorang  diri.  Pakaiannja  sudah  lusuh. Gambaran jang chas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakjatku. Aku berdiri disana sedjenak  memperhatikannja    dengan    diam.    Karena    orang    Indonesia    adalah    bangsa    jang    ramah,    maka    aku  mendekatinja. Aku bertanja dalam bahasa Sunda, ,,Siapa  jang punja semua jang engkau kerdja-kan sekarang  ini ?”

 

Dia berkata kepadaku, ,,Saja, djuragan.”

Aku bertanja lagi, ,,Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”

,,0, tidak, gan. Saja sendiri jang punja.”

,,Tanah ini kaubeli ?”

,,Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun.”

Ketika  ia  terus  menggali,  akupun  mulai menggali aku  menggali  setjara  mental.  Pikiranku mulai

bekerdja.  Aku  memikirkan  teoriku.  Dan  semakin  keras  aku  berpikir,  tanjaku  semakin  bertubi-tubi  pula.  ,,Bagairnana dengan sekopmu ? Sekop ini ketjil, tapi apa-ka’il kepunjaanmu djuga ?”

 

,,Ja, gan.”  ,,Dan  tjangkul ?”  ,,Ja, gan.”  ,,Badjak ?”  ,,Saja punja, gan.”

 

 

 

 

 

 

,,Untuk siapa hasil jang kaukerdjakan ?”  ,,Untuk saja, gan.”

 

 

,,Apakah tjukup untuk kebutuhanmu ?”

 

Ia  mengangkat  bahu  sebagai  membela  diri.  ,,Bagaimana  sawah  jang  begini  ketjil  bisa  tjukup  untuk  seorang  isteri dan empat orang anak ?”

 

,,Apakah ada jang didjual dari hasilmu ?” tanjaku.

 

,,Hasilnja sekedar tjukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnja untuk didjual.”

 

,,Kau mempekerdjakan orang lain ?”

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 33 dari 109

 

,,Tidak, djuragan. Saja tidak dapat membajarnja.”

 

,,Apakah engkau pernah memburuh ?”

 

,,Tidak, gan. Saja harus membanting-tulang, akan tetapi djerih-pajah saja semua untuk saja.”

 

Aku menundjuk kesebuah pondok ketjil, ,,Siapa jang punja rumah itu ?”

 

,,Itu gubuk saja, gan. Hanja gubuk ketjil sadja, tapi kepunjaan saja sendiri.”

 

“Djadi  kalau  begitu,”  kataku  sambil  menjaring  pikiranku  sendiri  ketika  kami  berbitjara,  “Semua  ini   engkau  punja ?”

 

“Ja, gan.”

 

Kemudian aku menanjakan nama petani muda itu. Ia menjebut namanja. ,,Marhaen.” Marhaen adalah nama  jang blasa seperti Smith dan Jones. Disaat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku akan memakai nama itu  untuk  rnenamai  semua  orang  Indonesia  bernasib  malang  seperti  itu  !  Semendjak  itu  kunamakan  rakjatku  rakjat Marhaen. Selandjutnja dihari itu aku mendajung sepeda berkeliling mengolah pengertianku jang baru.  Aku  memperlantjarnja.  Aku  mempersiapkan  kata-kataku  dengan  hati-hati.  Dan  malamnja  aku  memberikan  indoktrinasi  mengenai  hal  itu  kepada  kumpulan  pemudaku.,,Petani-petani  kita  mengusahakan  bidang  tanah  jang sangat ketjil sekali.

 

Mereka adalah korban dari sistim feodal, dimana pada mulanja petani pertama diperas oleh bangsawan jang  pertama   dan   seterusnja   sampai   keanak-tjutjunja   selama   berabad-abad.   Rakjat   jang   bukan   petanipun  mendjadi korban daripada imperialisme perdagangan Belanda, karena nenek-mojangnja telah dipaksa untuk  hanja  bergerak  dibidang  usaha  jang  ketjil  sekedar  bisa  memperpandjang  hidupnja.  Rakjat  jang  mendjadi  korban  ini,  jang  meliputi  hampir  seluruh  penduduk  Indonesia,  adalah  Marhaen.”  Aku  menundjuk  seorang  tukang  gerobak,  ,,Engkau…….  engkau  jang  disana.  Apakah  engkau  bekerdja  dipabrik  untuk  orang  lain  ?”,,Tidak,” katanja.,,Kalau begitu engkau adalah Marhaen.” Aku menggerakkan tangan kearah seorang tukang  sate. ,,Engkau…… engkau tidak punja pembantu, tidak punja madjikan engkau djuga seorang Marhaen.

 

Seorang  Marhaen  adalah  orang  jang  mempunjai  alat-alat  jang  sedikit,  orang  ketjil  dengan  milik  ketjil,  dengan  alat-alat  ketjil,  sekedar  tjukup  untuk  dirinja  sendiri.  Bangsa  kita  jang  puluhan  djuta  djiwa,  jang  sudah  dimelaratkan,  bekerdja  bukan  untuk  orang  lain  dan  tidak  ada  orang  bekerdja  untuk  dia.  Tidak  ada  penghisapan  tenaga  seseorang  oleh  orang  lain.  Marhacnisme  adalah  Sosialisme  Indonesia  dalam  praktek.”  Perkataan  ,,Marhaenisme”  adaiah  lambang  dari  penemuan  kembali  kepribadian  nasional  kami.  Begitupun  nama  tanah-air  kami  harus  mendjadi  lambang.  Perkataan  ,,Indonesia”  berasal  dari  seorang  ahli  purbakala  bangsa  Djerman  bernama  Jordan,  jang  beladjar  dinegeri  Belanda.  Studi  chususnja  mengenai  Rantaian  Kepulauan kami. Karena kepulauan ini setjara geografis berdekatan dengan India, ia namakanlah ,,Kepulauan  dari  India”.  Nesos  adalah  bahasa  Junani  untuk  perkataan  pulau-pulau,  sehingga  mendjadi  Indusnesos  jang  achirnja mendjadi Indonesia.

 

Ketika kami merasakan perlunja untuk menggabungkan pulau-pulau kami rnendjadi satu kesatuan jang besar,  kami  berpegang  teguh  pada  nama  ini  dan  mengisinja  dengan  pengertian-pengertian  politik  hingga  iapun  mendjadi pembirnbing dari kepribadian nasional. Ini terdjadi ditahun 1922-1923. Dalam tahun-tahun inilah,  ketika  kami  sebagai  bangsa  jang  dihinakan  diperlakukan  seperti  sampah  diatas  bumi  oleh  orang  jang  menaklukkan  kami.  Karni  tidak  dibolehkan  apa-apa.  Ditindas  dibawah  tumit  pada  setiap   kali,  bahkan  kami  dilarang  mengutjapkan  perkataan  ,,lndonesia”.  Telah  terdjadi  sekali  ditengah  berapi-apinja  pidatoku,  kata  ,,lndonesia” melompat dari mulutku.

 

,,Stop……..stop………”perintah    polisi.    Mereka    meniup    peluitnja.    Mereka    memukulkan    tongkatnja.  ,,Dilarang samasekali mengutjapkan perkataan itu ………..hentikan pertemuan ” Dan pertemuan itu dengan  segera  dihentikan.  Di  Surabaja  aku  tak  ubah  seperti  seekor  burung  jang  mentjari-tjari  tempat  untuk  bersarang.   Akan   tetapi   di   Bandung   aku   sudah   mendjadi   dewasa.   Bentuk   fisikku   berkembang   dengan  sewasjarnja. Bintang matinee Amerika jang mendjadi idaman didjaman itu adalah Norman Kerry dan, supaja  kelihatan  lebih  tua  dan  lebih  ganteng,  aku  memelihara  kumis  seperti  Kerry.  Tapi  sajang,  kumisku  tidak  melengkung  keatas  pada  udjung-udjungnja  seperti  knmis  bintang  itu.  Dan  isteriku  menjatakan,  bahwa  Charlie  Chaplinlah  jang  berhasil  kutiru.  Achiroja  usahaku  satu-satunja  untuk  meniru  seseorang  berachir  dengan kegagalan jang menjedihkan dan semua pikiran itu kemudian kulepaskan segera dari ingatan. Ditahun  1922 aku untuk pertamakali mendapat kesukaran. Ketilka itu diadakan rapat besar disuatu lapangan terbuka  dikota  Bandung.  Seluruh  lapangan  menghitam  oleh  manusia.  Ini  adalah  rapat  Radicale  Concentratie,  suatu

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 34 dari 109

 

rapat  raksasa  jang  diorganisir  oleh  seluruh  organisasi  kebangsaan  sehingga  walcil-wakil  dari  setiap  partai  jang  ada  dapat  berkumpul  bersama  untuk  satu  tudjuan,  jaitu  memprotes  berbagai  persoalan  sekaligus.  Setiap pemimpin berpidato. Dan aku, aku baru seorang pemuda. Hanja mendengarkan. Akan  tetapi tiba-tiba  terasa olehku suatu dorongan jang keras untuk mengutjapkan sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku  sendiri. Mereka semua membitjarakan omongkosong.

 

Seperti  biasa  mereka  meminta-minta.  Mereka  tidak  menuntut.Naiklah  tangan  jang  berapi-api  dari  Sukarno,  mertjusuar  dari Perkumpulan Pemuda,  untuk minta  izin ketua  agar diberi kesempatan berpidato dihadapan  rapat.,,Saja  ingin  berbitjara,”  aku  berteriak.,,Silakan,”  ketua  berteriak  kembali.Disana  ada  P.I.D.,  Polisi  Rahasia  Belanda,  jang  bersebar  disegala  pendjuru  Tepat  dimukaku  berdiri  seorang  polisi  bermuka  merah  mengantjam dan berbadan besar. Ini adalah alat jang berkuasa jaitu kulitputih. Hanja dia sendiri jang dapat  menjetopku. Dia seorang dirinja, dapat membubarkan rapat. Dia seorang dirinja, dengan kekuasaan jang ada   padanja dapat mentjerai-beraikan pertemuan kami dan mendjebloskanku kedalam tahanan. Akan tetapi aku  masih  muda,  tidak  mau  peduli  dan  penuh  semangat.  Djadi  naiklah  aku  kemimbar  dan  mulai  berteriak,  ,,Mengapa  sebuah  gunung  seperti  gunung  Kelud  meledak  ?  Ia  meledak  oleh  karena  lobang  kepundannja  tersumbat   Ia   meledak   oleh   karena   tidak   ada   djalan   bagi   kekuatan-kekuatan   jang   terpendam   untuk  membebaskan    dirinja.    Kekuatan-kekuatan    jang    terpendam    itu    bertumpuk    sedikit    demi    sedikit  dan………..DORRR. Keseluruhan itu meletus.,,Kedjadian ini tidak ada bedanja dengan Gerakan Kebangsaan  Icita Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mentjari djalan keluar bagi  perasaan-perasaan  kita  jang  sudah  penuh,  maka  saudara-saudara,  njonja-njonja  dan  tuan-tuan,  suatu  saat  akan  terdjadi  pula  ledakan  dengan  kita..Dan  rnanakala  perasaan  kita  meletus,  Den  Haag  akan  terbang  keudara. Dengan ini saja menantang Pemerintah Kolanial jang membendung perasaan kita.

 

 

Dari  sudut  mataku  aku  melihat  Komisaris  Polisi  itu  menudju  kedepan  untuk  mentjegahku  terus  berbitjara,  akan  tetapi  aku  begitu  bersemangat  dan  menggeledek  terus.,,Apa  gunanja  kita  putulan  ribu  banjaknja  berkumpul disini djikalau jang kita kerdjakan hanja menghasilkan petisi ? Mengapa kita selalu merendah diri  memohon kepada ‘Pemerintah’ untuk meminta kebaikan hatinja supaja mendirikan sebuah sekolah untuk kita  ?  Bukankah  itu  suatu  Politik  Berlutut  ?  Bukankah  itu  suatu  politik  memohon  dengan  mendatangi  Jang  Dipertuan  Gubernur  Djendral  Hindia  Belanda,  jang  dengan  rnemakai  dasi  hitam  menerima  delegasi  jang  membungkuk-bungkuk dan menundjukkan penghargaan kepadanja dan menjerahkan kepada pertimbangannja  suatu petisi ? Dan merendah diri memohon pengurangan padjak? Kita merendah diri….memohon, merendah  diri memohon………Inilah kata-kata jang selalu dipakai oleh pemimpin-pemimpin kita.

 

,,Sampai sekarang kita tidak pernah mendjadi penjerang. Gerakan kita bukan gerakan jang mendesak, akan  tetapi  gerakan  kita  adalah  gerakan  jang  meminta-minta.  Tak  satupun  jang  pernah  diberikannja  karena  kasihan.  Marilah  kita  sekarang  mendjalankan  politik  pertjaja  pada  diri  sendiri  dengan  tidak  mengemis-  ngemis.  Hajo  kita  berhenti  mergemis.  Sebalikn.ja,  hajo  kita  berteriak,  ,,Tuan  Imperialis,  inilah  jang  karni  TUNTUT   !”Kemudian,   polisi-polisi   jang   mahakuasa   dan   mahakuat   ini,   jang   punja   kekuasaan   untuk  menghentikan  rapat  ini,  bertindak.  Mereka  menjetop  rapat  dan  menjetopku.  Heyne,  Kepala  Polisi  Kota  Bandung,   sangat   marah.   Sambil   menjiku   kanan-kiri   melalui   rakjat   jang   berdiri   berdjedjal-djedjal,   ia  melompat  keatas  mimbar,  menarikku  kebawah  dan  mengumumkan,  ,,Tuan  Ketua,  sekarang  saja  menjetop  seluruh pertemuan. Habis. Tamat. Selesai. Tuan-tuan semua dibubarkan. Sernua pulang sekarang. KELUAR !”  Begitu pertamakali Sukarno membuka mulutnja, ia segera harus berhubungan dengan hukum. Dengan tjepat  aku  mendjadi  buah-tutur  orang  dan  setiap  orang  mengetahui  nama  Sukarno.  Aku  memperoleh  inti  pengikut   jang  kuat.  Akan  tetapi,  sajang,  akupun  mengembangkan  pengikut  jang  baniak  diantara  polisi  Belanda.  Kemanapun aku pergi mereka ikuti.

 

 

Maka  mendjalarlah  dari  mulut  kemulut:  ,,Di  Sekolah  Teknik  Tinggi  ada  seorang  pengatjau.  Awasi  dia.”  Dengan  satu  pidato  si  Karno—jang  pendiam,  jang  suka  menarik  diri  dan  ditjintai  membuat  musuh-musuh  djadi geger dan selama 20 tahun kemudian aku tak pernah ditjoret dari daftar hitam mereka. Prestasiku jang  pertama  ini  menimbulkan  kegemparan  hebat,  sehingga  aku  segera  dipanggil  kekantor  Presiden  universitas.  ,,Kalau  engkau  ingin  melandjutkan  peladjaran  disini,”  Professor  Klopper  memperingatkan,  ,Engkau  harus  bertekun  pada  studimu.  Saja  tidak  keberatan  djika  seorang  mahasiswa  mempunjai  tjita-tjita  politik,  akan  tetapi   haruslah   diingat   bahwa   ia   pertama   dan   paling   utama   memenuhi   kewadjiban   sebagai   seorang  mahasiswa. Engkau harus berdjandji, mulai hari ini tidak akan ikut-tjampur dalam gerakan politik.”Aku tidak  berdusta   kepadanja.   Aku   menerangkan   persoalanku   dengan   djudjur.   ,,Professor,   apa   jang   akan   saja  djandjikan   ialah,   bahwa   saja   tidak   akan   melalaikan   peladjaran-peladjaran   jang   tuan   berikan   dalam  kuliah.”,,Bukan itu jang saja minta kepadamu.”,,Hanja itu jang dapat saja djandjikan, Professor.

 

 

Akan  tetapi  djandji  ini  saja  berikan  dengan  sepenuh  hati.  Saja  berdjandji  dengan  kesungguhan  hati  untuk  menjediakan  letih  banjak  waktu  pada  studi  saja.”  Ia  sangat  baik  mengenai  hal  ini.  ,,Apakah  kata-katamu  dapat  saja  pegang,  bahwa  engkau  akan  berhenti  berpidato  dalam  rapat  umum  selama  masih  dalam  studi  ?”,,Ja,  Professor,”  aku  berdjandji,  ,,Tuan  memegang  utjapan  saja  jang  sungguh-sungguh.”Dan  djandji  ini

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 35 dari 109

 

kupegang  teguh.  Berbitjara  dihadapan  massa  bagiku  lebih  daripada  segala-galanja  untuk  mana  aku  hidup.  Oleh karena aku tidak dapat berbitjara membangkitkan semangat rakjatdjelata dalam keadaan sesungguhnja  maka  kulakukanlah  ini  dalam  chajalan.  Pada  suatu  malam  rumah  Inggit  jang  disediakan  djuga  untuk  bajar-  makan penuh dan kami terpaksa membagi tempat. Aku membagi tempat-tidurku dengan seorang peladjar.

 

Ditengah malam aku diserang oleh suatu desakan untuk berpidato dengan nafsu jang bernjala-njala, seakan-  akan aku berbitjara dihadapan 10.000 orang jang bersorak-sorai dengan gegap-gempita. Sambil berdiri tegak  aku  menganggap  tempat-tidurku  sebagai  mimbar  dan  aku  mulai  menggegapgeletar.,,Engkau  tahu  apakah  Indonesia  ?”  aku  berteriak  kepunggung  temanku  setempat-tidur.  ,,Indonesia  adalah  pohon  jang  kuat  dan  indah  ini.  Indonesia  adalah  langit  jang  biru  dan  terang  itu.  Indonesia  adalah  mega  putih  jang  lamban  itu.  Indonesia  adalah  udara  jang  hangat  ini.”,,Saudara-saudaraku  iang  tertjinta,  laut  jang  menderu  memukul-  mukul   kepantai   ditjahaja   sendja,   bagiku   adalah   djiwanja   Indonesia   jang   bergerak   dalam   gemuruhnja  gelombang  samudra.  Bila  kudengar  anak-anak  ketawa,  aku  mendengar  Indonesia.  Manakala  aku  menghirup  bunga-bunga,   aku   menghirup   Indonesia.   Inilah   arti   tanah-air   kita   bagiku.”Setelah   beberapa   djam  mendengarkan    perkataanku    jang    membakar    hati,    Djoko    Asmo    lebih    memerlukan    tidur    daripada  mendengarkan  golakan  perasaanku.  Djam  dua  tengah  malam  dia  tertidur  njenjak  ditengah-tengah  pidatoku  jang mentjatjau. Aku kehabisan tenaga samasekali sehingga ditengah pidato pembelaanku jang bersemangat  akupun  terhempas  lena.  Esok  paginja  kami  baru  tahu,  bahwa  kami  lupa  mematikan  lampu.  Kelambu  kami  hampir  hangus  samasekali.  Lampu  itu  menjala  sepandjang  malam  sampai  mendjilat  kebagian  bawah  dan  kami  kedua-duanja  hampir  kelemasan  oleh  udara  dan  asap  jang  hebat.  Tapi  untunglah.  Kami  tidak  turut  terbakar.  Terpikir  olehku,  kalau  seseorang  hendak  mendjadi  Djuru  selamat  daripada  bangsanja  dikemudian  hari  untuk  membebaskan  rakjatnja,  haruslah  ia  menjelamatkan  dirinja  sendiri  lebih  dulu.Aku  masih  terlalu  banjak menjurahkan waktu untuk pemikiran politik, djadi tak dapatlah diharapkan akan mendjadi mahasiswa  jang   betul-betul   gemilang.   Kenjataan   bahwa   aku   masih   dapat   melintasi   batas   nilai   sedang   sungguh  mengherankan.  Siapa  jang  beladjar  ?  Bukan  aku.  Tidak  pernah.  Aku  mempunjai  ingatan  seperti  bajangan  gambar  dan  dalam  pada  itu  aku  terlalu  sibuk  memompakan  soal-soal  politik  kekepalaku,  sehingga  tidak  tersisa  waktuku  untuk  membuka  buku  sekolah.  Dewi  dendamku  adalah  ilmu  pasti.  Aku  tidak  begitu  kuat  dalam ilmu pasti.

 

 

Menggambar arsitektur bagiku sangat menarik, akan tetapi kalkulasi bangunan dan komputasi djangan tanja.  Kleinste  Vierkanten  atau  jang  dinamakan  Geodesi,  sematjam  penjelidikan  tanah  setjara  ilrnu  pasti  dimana  orang  mengukur  tanah  dan  beladjar  membaginja  dalam  kaki-persegi,  dalam  semua  ini  aku  gagal.  Untuk  udjian  ilmu  pasti  kuakui,  bahwa  aku  bermain  tjurang.  Tapi  hanja  sedikit.  Kami  semua  bermain  tjurang  dengan  berbagai  djalan.  Ambillah  misalnja  peladjaran  menggambar  konstruksi   bangunan.  Aku  kuat  dalam  peladjaran  ini.  Dalam  waktu  udjian  dosen  berdjalan  pulang-balik  diantara  medja-medja  memperhatikan  setiap orang. Segera setelah ia berada dibagian lain dalam ruangan ketika menghadapkan punggungnja pada  kami,  salah-seorang  jang  berdekatan  mendesis,  ,,Ssss,  Karno,  buatkan  bagan  untukku,  kau  mau  ?”  Aku  bertukar   kertas   dengan   dia.   dengan   terburu-buru   membuat   gambar   jang   kedua   dan   dengan   tjepat  menjerahkan kembali kepadanja. Kawan-kawanku membalas usaha ini dalam peladjaran Kleinste Vierkanten  kalau  Professor  membuat  tiga  pertanjaan  dipapan-tulis  dan  hanja  memberi  kami  waktu  45  menit  untuk  mengerdjakannja.  Kawan-kawan  menempatkan  kertasnja  sedemikian  rupa  disudut  bangku,  sehingga  aku  dapat dengan mudah menjalin djawabannja. Sudah tentu aku mentjontoh dari mahasiswa jang lebih pandai  dalam ilmu pasti.

 

Tjara  ini  bukanlah  semata-mata  apa  jang  dinamakan  orang  berbuat  tjurang.  Di  Indonesia  ini  adalah  wadjar  djika  digolongkan  dalam  apa  jang  kami  sebut  kerdja-sama  jang  erat.  Gotong-rojong.Alasan  mengapa  aku  gagal dan hanja memperoleh nilai tiga adalah karena pada suatu kali sang Professor melakukan taktik litjik  terhadap kami. Ia mengedjutkan kami dengan udjian lisan, dimana kami menempuhnja satu persatu. Hanja  Professor  dan  seorang  mahasiswa  jang  ada  dalam  ruangan.  Aku  karenanja  djatuh.Semua  kuliah  diadjarkan  dalam  bahasa  Belanda.  Aku  berpikir  dalam  bahasa  Belanda.  Bahkan  sekarangpun  aku  memaki-maki  dalam  bahasa  Beianda.  Kalau  aku  mendoa  kehadirat  Tuhan  Jang  MahaKuasa,  maka  ini  kulakukan  dalam  bahasa  Belanda.Kurikulum  kami  disesuaikan  menurut  kebutuhan  masjarakat  pendjadjahan  Belanda.  Pengetahuan  jang  kupeladjari  adalah  pengetahuan  teknik  kapitalis.  Misalnja,  pengetahuan  tentang  sistim  irigasi.  Jang  dipeladjari bukanlah tentang bagaimana tjaranja mengairi sawah dengan djalan jang terbaik. Jang diberikan  hanja  tentang  sistem  pengairan  tebu  dan  tembakau.  Ini  adalah  irigasi  untuk  kepentingan  Imperialisme  dan  Kapitalisme. Irigasi dipeladjari tidak untuk memberi makan rakjat banjak jang kelaparan, akan tetapi untuk  membikin  gendut  pemilik  perkebunan.  Peladjaran  kami  dalam  pembuatan  djalan  tidak  mungkin  dapat  menguntungkan rakjat. Djalan-djalan jang dibuat bukan melalui hutan dan antar-pulau sehingga rakjat dapat  berdjalan   atau   bepergian   lebih   mudah.   Kami   hanja   diadjar   merentjanakan   djalan-djalan   tambahan  sepandjang  pantai  dari  pelabuhan  kepelabuhan,  djadi  pabrik-pabrik  dengan  demikian  dapat  mengangkut  hasilnja setjara maksimal dan komunikasi jang tjukup antara kapal-kapal jang berlajar. Ambillah ilmu pasti.  Universitas  manapun  tidak  memberi  peladjaran  rantai-ukuran.  Kami  diberi.  Ini  adalah  sebuah  pita  jang  pandjangnja 20 meter jang hanja dipakai oleh para pengawas diperkebunan-perkebunan.

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 36 dari 109

 

Diruangan   bagan,   kalau   kami   membuat   rentjana   kota   teladan,   kamipun   harus   menundjukkan   tempat  kedudukan    ,,Kabupaten”,    jaitu    tempat    tinggal    Bupati    jang    mengawasi    rakjat    desa    membanting-  tulang.Diminggu  terachir  ketika  diadakan  pelantikan  aku  mempersoalkan  ini  dengan  Rector  Magnificus  dari  Sekolah   Teknik   Tinggi   ini,   Professor   Ir.   G.   Klopper   M.E.,,Mengapa   kami   diisi   dengan   pengetahuan-  penyetahuan  jang  hanja  berguna  untuk  mengekalkan  dominasi  Kolonial  terhadap  kami  ?”  tanjaku.,,Sekolah  Teknik  Tinggi  ini,”  ia  menerangkan,  ,,didirikan  terutama  untuk  memadjukan  politik  Den  Haag  di  Hindia.  Supaja  dapat mengikuti ketjepatan ekspansi dan  eksploitasi,  pemerintah saja merasa  perlu  untuk mendidik  lebih banjak insinjur dan pengawas jang berpengalaman.”,,Dengan perkataan lain, kami mengikuti perguruan  tinggi   ini   untuk   memperkekal   polilik   Imperialisme   Belanda   disini   ?”,,Ja,   tuan   Sukarno,   itu   benar,”   ia  mendjawab.  Dan  begitulah,  sekalipun  aku  harus  mempersembahkan  seluruh  hidupku  untuk  menghantjurkan  kekuasaan Kolonial,  rupanja aku harus berterima-kasih pula kepada mereka atas pendidikan jang kuterima.  Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia jang berhasil bersama-sama denganku, maka pada tanggal 25 Mei  1926 aku memperoleh promosi dengan gelar ,,Ingenieur”. Idjazahku dalam djurusan teknik sipil menentukan,  bahwa  aku  adalah  seorang  spesialis  dalam  pekerdjaan  djalan-raja  dan  pengairan.  Aku  sekarang  diberi  hak  untuk menuliskan namaku: Ir. Raden Soekarno. Ketika ia memberi gelar sardjana teknik kepadaku, Presiden  universitas  berkata,  ,,Ir.  Sukarno,  idjazah  ini  dapat  robek  dan  hantjur  mendjadi  abu  disatu  saat.  Ia  tidak  kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang.  Ia akan tetap hidup dalam hati rakjat, sekalipun sesudah mati.” Aku tak pernah melupakan kata-kata ini.

 

 

 

Bab 7

 

Bahasa Indonesia

 

DJANDJIKU sudah terpenuhi. Pendidikanku sudah selesai. Mulai saat ini untuk seterusnja tidak ada jang akan  menghalang-halangiku  mendjalankan  pekerdjaan  untuk  mana  aku  dilahirkan.Semendjak  aku  berdiri  diatas  djambatan  di  Surabaja  itu  dan  mendengarkan  djeritan  rakjatku,  aku  menjadari  bahwa  akulah  jang  harus  berdjuang  untuk  mereka.  Hasrat  jang  menjala-njala  untuk  membebaskan  rakjatku  bukanlah  hanja  ambisi  perorangan. Djiwaku penuh dengan itu. Ia meliwati sekudjur badanku. Ia mengisi padat lubang hidungku. Ia  mengalir  melalui  urat-nadiku.  Untuk  itulah  orang  mempersembahkan  seluruh  hidupnja.  Ia  lebih  daripada  hanja  sebagai  kewadjiban.  Ia  lebih  daripada  panggilan  djiwa.  Bagiku  ia  adalah  satu  …………kejakinan.  Menurut  para  mahaguru  thesisku  tentang  konstruksi  pelabuhan  dan  djalanan-air  ditambah  dengan  teoriku  tentang  perentjanaan  kota  mempunjai  ,,nilai  penemuan  dan  keaslian  jang  begitu  tinggi”,  sehingga  untukku  disediakan  djabatan  sebagai  assisten  dosen.  Aku  menolaknja.  Djuga  ditawarkan  pekerdjaan  pemerintahan  kota. Inipun kutolak.

 

Salah-seorang mahaguru, Professor Ir. Wolf Schoemaker, adalah seorang besar. Ia tidak mengenal warnakulit.  Baginja   tidak   ada   Belanda   atau   Indonesia.   Baginja   tidak   ada   pengikatan   atau   kebebasan.   Dia   hanja  menundukkan kepala kepada kemampuan  seseorang.  ,,Saja menghargai ketjakapanmu,” katanja. ,,Dan saja  tidak ingin ketjakapan ini tersia-sia. Engkau mempunjai pikiran jang kreatif. Djadi saja minta supaja engkau  bekerdja  dengan  pemerintah.  “Sungguhpun  aku  keberatan,  ia  menjerahkanku  kepada  Direktur  Pekerdjaan  Umum  jang  meminta   kepadaku   untuk  merentjanakan  suatu  projek  untuk  perumahan  Bupati.  Insinjur-  kepalanja  sudah  tentu  seorang  Belanda  jang  tidak  mengenal  samasekali  kehidupan  orang  Indonesia  dan  kebutuhannja.  Akan  tetapi  oleh  karena  aku  tidak  menghendaki  pekerdjaan  ini,  kusampaikan  kepadanja  pendapatku  tentang  rentjana  arsitekturnja,  ,,Maafkan  saja,  tuan,  konsepsi  tuan  didasarkan  pada  semangat  pedagang rempah-rempah Belanda. Setiap orang Belanda merentjanakan setjara teknis salah. Persil-persil di  Bandung   hanja   15   meter   lebar   dan   20   meter   kedalam   dan   rumah-rumahnja   sempit.   Kota   Bandung  direntjanakan  seperti  kandang-ajam.  Bahkan  djalannja  sempit,  karena  ia  dibuat  menurut  tjara  berpikir  Belanda  jang  sempit.  Sama  sadja  dengan  projek  jang  tuan  rentjanakan.  Ia  tidak  mempunjai  ‘Schwung’.  “Karena aku telah menolak pekerdjaan jang diberikan itu, aku merasa wadjib memberi pendjelasan kepada  Professor Schoemaker, ,,Tuan telah menjatakan, bahwa saja dalam ruang-lingkup jang ketjil memiliki daja-  tjipta. Jah, saja ingin mentjipta,” kataku dengan hebat. ,,Akan tetapi untuk saja sendiri.

 

 

Saja  tidak  jakin  dikemudian  hari  akan  mendjadi  pembangun  rumah.  Tudjuan  saja  ialah  untuk  mendjadi  pembangun dari suatu bangsa.,,Politik usang dari Gerakan Kebangsaan kami, jaitu mengadakan kerdja-sama  dengan pemerintah dengan tjara mengemis-ngemis, hanja menghasilkan djandji-djandji jang.tidak ditepati.  Dengan usaha saja, kami baru-baru ini memulai politik non-kooperasi. Ini didasarkan pada kehendak pertjaja  pada  diri  sendiri  dan  dibidang  ekonomi  terlepas  dari  bantuan  negara  asing.”Kawanku  itu  mendengarkan  dengan tenang, kemudian berkata, ,,Anak muda, hendaknja bakatmu dipergunakan setjara maksimal. Kalau  engkau  berdiri  sendiri,  ini  akan  memakan  waktu  bertahun-tahun  untuk  bisa  madju.  Hanja  orang-orang  Belanda jang berpangkat tinggi atau pegawai pemerintahlah jang bisa berhasil mengadakan biro arsitek. Dan  mereka   tentu   keberatan   untuk   mempekerdjakan   seorang   muda   jang   tidak   berpengalaman   dan   djuga  kebetulan  berada  paling  atas  dalam  daftar-hitam  polisi,  karena  dianggap  sebagai  pengatjau.  Usul  saja  ini  adalah  permulaan  jang  baik  untukmu.”  Pandangannja  itu  memang  baik.  ,,Professor,  saja  menolak  untuk

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 37 dari 109

 

bekerdja-sama,  supaja  tetap  bebas  dalam  berpikir  dan  bertindak.  Kalau  saja  bekerdja  dengan  pemerintah,  setjara diam-diam saja membantu politik penindasan dari rezim mereka jang otokratis dan monopolistis itu.  Pemuda  sekarang  harus  merombak  kebiasaan  untuk  mendjadi  pegawai  kolonial  segera  setelah  memperoleh  gelarnja. Kalau tidak begitu, kami tidak akan merdeka selama-lamanja.”

 

,,Djangan  terima  pekerdjaan  djangka  lama,  kalau  sekiranja  perasaan  tidak-senangmu  begitu  kuat,”  ia  mempertahankan,  ,,Akan  tetapi  buatlah  satu  rumah  ini  sadja  untuk  Bupati.  Tjobalah  kerdjakan  …………

 

Kerdjakanlah  atas  permintaan  saja.”Aku  melakukan  sebagaimana  jang  dimintanja.  Pekerdjaan  ini  sangat  berhasil  dan  aku  dibandjrri  dengan  permintaan  untuk  mengerdjakan  karja  teknik  sematjam  itu  untuk  pedjabat-pedjabat  lain.  Sungguhpun  bantuan  uang  dari  keluargaku  sudah  tidak  ada  lagi  semendjak  aku  selesai dan sekalipun aku tidak mempunjai djalan jang njata untak membantu isteriku, aku menolaknja. Aku  membuat rentjana Kabupaten hanja karena sangat menghargai  dan menghormati Professor itu.  Akan tetapi  ini  adalah  jang  pertama  dan  terachir  aku  bekerdja  untuk  Pemerintah.  Kemudian,  ketika  Departemen  Pekerdjaan  Umum  menawarkan  kedudukan  tetap  kepadaku,  aku  menolaknja  dengan  alasan  bahwa  aku  memperdjuangkan non-kooperasi. Aku sangat memerlukan uang dan pekerdjaan.

 

Aku sudah tidak mempunjai harapan samasekali untuk memperoleh kedua-duanja ini ketika aku mendengar  lowongan disekolah Jajasan Ksatrian jang diselenggarakan oleh pemimpin kebangsaan Dr. Setiabudi. Mereka  mentjari  seorang  guru  jang  akan  mengadjar  dalam  dua  mata  peladjaran.  Jang  pertama  adalah  sedjarah,  untuk  mana  aku  sangat  berhasrat  besar.  Mata  peladjaran  jang  lain  ?  Ilmu  pasti  !  Dan  dalam  segala  segi-  seginja   lagi   !   Djadi   sebagaimana   telah   kutegaskan   dengan   segala   kedjudjuran   jang   pahit,   kalau   ada  matapeladjaran  jang  samasekali  tidak  bisa  kuatasi,  maka  itulah  dia  ilmu  pasti.  Akan  tetapi  aku  tidak  mempunjai pilihan lain.

 

Guru  jang  ditugaskan  untuk  melakukan  tanja-djawab  bertanja,  ,,Ir.  Sukarno,  tuan  adalah  insinjur  jang  beridjazah,  djadi  tentu  tuan  ahli  dalam  ilmu  pasti,  bukankah  begitu  ?”  ,”Oh,  ja  tuan,”  aku  menjeringai  meretjik  kepertjajaan.  —  ,,Ja,  tuan.  Ja,  betul.  Saja  menguasainja.”  ,,Baiklah,  tuan  dapat  mengadjar  ilmu  pasti ?” tanjanja.,

 

,,Mengapa  tidak,”  aku  membohong.  ,,Saja  menguasai  betul  ilmu  pasti.  Menguasainja  sungguh-  sungguh.  Ini  matapeladjaran  jang  saja  senangi.”  Inggit  dan  aku  sudah  kering  samasekali,  tidak  mempunjai  apa-apa  lagi.  Apa  jang  dapat  kami  suguhkan  kepada  tamu  hanja  setjangkir  teh  entjer  tanpa  gula.  Djadi,  apa  jang  harus  kukatakan  kepadanja  ?  Bahwa  aku  samasekali  tidak  dapat  mengadjar  ilmu  pasti  ?  Bahwa  sesungguhnja  aku  gagal dalam peladjaran itu ?

 

Kalau  demikian,  tentu  aku  tidak  akan  memperoleh  pekerdjaan  itu.Temanku,  Dr.  Setiabudi,  datang  sendiri  kepadaku dan sekali lagi bertanja, ,,Bagaimana pendapatmu sesungguhnja, bisakah engkau mengadjar?” Dan  kuulangi  dengan  suara  jang  tergontjang  dan  tersinggung,  ,,Apakah  saja  bisa  mengadjar?  Tentu  saja  bisa  mengadjar.   Tentu   sadja   saja   bisa.   Sudah   pasti.”,,Ilmu   pasti   djuga   ?”,,Ja,   ilmu   pasti   djuga.”Aneh,  kenjataannja  aku  menghadapi  kesukaran  djustru  dalam  peladjaran  sedjarah.  Kelasku  berdjumlah  30  orang  murid, termasuk Anwar Tjokroaminoto.

 

Tak  seorangpun  memberiku  petundjuk  dalam  tjara  mengadjar.  Djadi  aku  mentjobakan  tjaraku  sendiri.  Sajang, aku tidak berhasil mendekati metode jang resmi. Dalam peladjaran sedjarah aku mempunjai gajaku  sendiri. Aku tidak  menjesuaikan  samasekali teori bahwa anak-anak harus  diadjar setjara kenjataan. Angan-  anganku  ialah  hendak  menggerakkan  mereka  supaja  bersemangat.  Aku  lebih  berpegang  pada  pengertian  sedjarah  daripada  mengadjarkan  nama-nama,  tahun  dan  tempat.  Aku  tak  pernah  memusingkan  kepala  tentang  tahun  berapa  Columbus  menemukan  Amerika,  atau  tahun  berapa  Napoleon  gagal  di  Waterloo  atau  hal-hal lain jang sama remehnja seperti apa jang biasanja mereka adjarkan disekolah. Kalau seharusnja aku  memperlakukan    murid-muridku    sebagai    anakanak    jang    masih    ketjil,    jang    kemampuannja    dalam  matapeladjaran   ini   terpusat   pada   mengingat   fakta-fakta,   maka   aku   berfalsafah   dengan   mereka.   Aku  memberikan  alasan  mengapa  ini  dan  itu  terdjadi.  Aku  memperlihatkan  peristiwa-peristiwa  sedjarah  setjara  sandiwara.  Aku  tidak  memberikan  pengetahuan  setjara  dingin  dan  kronologis.  Ooo  tidak,  Sukarno  tidak  memberikan hal sematjam itu. Itu tidak bisa diharapkan dari seorang orator jang berbakat dari lahirnja. Aku   mengajunkan  tanganku  dan  mentjobakannja.  Kalau  aku  bertjerita  tentang  Sun  Yat  Sen,  aku  betul-betul  berteriak dan memukul medja.

 

 

Sudah  mendjadi  aturan  dari  Departemen  Pengadjaran  Hindia  Belanda,  sekolah-sekolah  dikundjungi  oleh  penilik-penilik-sekolah pada waktu-waktu tertentu. Pada waktunja jang tepat seorang penilik sekolah datang  mendengarkan  peladjaran  sedjarahku.  Dia  duduk  dengan  tenang  dibelakang  kelas  untuk  memperhatikan.  Selama  dua  djam  aku  mengadjar  dengan  tjara  jang  menurut  pikiranku  paling  baik,  sementara  mana  aku  menjadari bahwa dia mendengarkan dengan saksarna.Setjara kebetulan peladjaran kali ini berkenaan dengan  Imperialisme. Karena aku sangat menguasai pokok persoalan ini, aku mendjadi begitu bersemangat sehingga

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 38 dari 109

 

aku terlompat-lompat dan mengutuk seluruh sistimnja. Dapatkah engkau membajangkan ? Dihadapan penilik  sekolah  bangsa  Belanda  jang  memandang  padaku  dengan  wadjah  tidak  pertjaja,  aku  sungguh-sungguh  menamakan  Negeri  Belanda  sebagai  ,,Kolonialis  jang  terkutuk  ini”  !  Ketika  peladjaran  dan  kisahku   kedua-  duanja selesai, penilik sekolah itu menjatakan dengan seenaknja bahwa menurut pendapatnja sesungguhnja  aku bukan pengadjar jang terbaik jang pernah dilihatnja dan bahwa aku tidak mempunjai masa depan jang  baik dalam pekerdjaan ini.

 

Ia berkata kepadaku, ,,Raden Sukarno, tuan bukan guru, tuan seorang pembitjara !” Dan inilah achir daripada  karierku  jang  singkat  sebagai  guru.26  Djuli  1926  aku  membuka  biro  teknikku  jang  pertama,  bekerdjasama  dengan seorang teman sekelas, Ir. Anwari.Aku tak pernah lagi mendapat kesempatan untuk memasuki Ruang  Keilmuan.  Kehidupan  segera  memikulkan  beban  diatas  pundakku  dan  melemparkan  aku  keatas  tumpukan  sampah  dan  kedalam  pondok-pondok  jang  botjor  dan  gojah.  Kehidupan  melemparkan  daku  kepasar-pasar.  Kehidupan  membuangku  kehutan-hutan,  kekampung-kampung  dan  sawah-sawah.  Aku  tidak  mendjadi  guru.  Aku  mendjadi  djuru  chotbah.  Mimbarku  adalah  pinggiran  djalan.  Kumpulanku  ?  Massa  rakjat  menggerumut  jang  sangat  merindukan  pertolongan.  Ditahun  1926  aku  mulai  mengchotbahkan  nasionalisme  terpimpin.  Sebelum  itu  aku  hanja  memberikan  kepada  pendengarku  kesadaran  nasional  lebih  banjak  daripada  jang  mereka ketahui sebelumnja. Sekarang aku tidak sadja mengojak-ojak mereka untuk bangun, akan tetapi aku  memimpin mereka. Aku menerangkan, bahwa sudah datang waktunja untuk mendjelmakan suatu masjarakat  baru  jang  demokratis  sebagai  ganti  feodalisme  jang  telah  bertjokol  selama  berabad-abad.  Aku  berkata  kepada  para  pendengarku,  ,,Kita  tidak  lagi  akan  membiarkan  diri  kita  setjara  patuh  mengikuti  tjara  hidup  jang  akan  membawa  kita  kepada  kehantjuran  kita  sendiri.  Kehidupan  jang  terdiri  dari  kelas-kelas,  kasta-  kasta dan jang-punja dan tidak-punja menimbulkan perbudakan.

 

 

Didalam  kehidupan  modern  manusia  berdjoang  untuk  meninggikan  harkat  kehidupan  rakjat.  Mereka  jang  tidak  menghiraukan  hal  ini  akan  dibinasakan  oleh  rakjat-banjak  dan  oleh  bangsa-bangsa  jang  berdjoang  untuk  memperoleh  haknja.,,Kita  memerlukan  persamaan  hak.  Kita  telah  mengalami  ketidaksamaan  selama  hidup  kita.  Mari  kita tanggalkan  pemakaian  gelar-gelar.  Walaupun  saja  dilahirkan  dalam  kelas  ningrat,  saja  tidak  pernah  menjebut  diriku  raden  dan  saja  minta  kepada  saudara-saudara  mulai  dari  saat  ini  dan  untuk  seterusnja supaja saudara-saudara djangan memanggil saja raden.

 

Mulai  dari  sekarang  djangan  ada  seorangpun  menjebutku  sebagai  Tedaking  Kusuma  Rembesing  Madu  —  ‘Keturunan  Bangsawan’.  Tidak,  aku  hanja  tjutju  dari  seorang  petani.  Feodalisme  adalah  kepunjaan  masalah  jang   sudah   dikubur.   Feodalisne   hukan   kepunjaan   Indonesia   dimasa   jang   akan   datang.”Sementara   aku  mendidik para pendengarku untuk menghabisi sistim feodal, aku melangkah selangkah madju, ialah kebidang  bahasa  Dalam  bahasa  Djawa  sadja  terdapat  13  tingkatan  jang  pemakaiannja  tergantung  pada  siapa  jang  dihadapi berbitjara, sedang kepulauan kami rrrempunjai tidak kurang dari 86 dialek sematjam itu.,,Sampai  sekarang,” kataku, ,,bahasa Indonesia harlja dipakai oleh kaum ningrat. Tidak oleh rakjat biasa. Nah, mulai  dari hari ini menit ini mari kita berbitjara dalam bahasa Indonesia.

 

,,Hendaknja rakjat Marhaen dan orang bangsawan berbitjara dalam bahasa jang sama. Hendaknja seseorang  dari satu pulau dapat berhubungan dengan saudara-saudaranja dipulau lain dalam bahasa jang sama. Kalau  kita, jang beranak-pinak seperti kelintji, akan mendjadi satu masjarakat, satu bangsa, kita harus mempunjai  satu bahasa persatuan. Bahasa dari Indonesia Baru.”Sebelurn ini, seorang Djawa dari golongan  rendah tidak  boleh  sekalikali  menanjakan  kepada  orang  Djawa  jang  lebih  tinggi  deradjatnja,  ‘Apakah  engkau  memanggil  saja ?’  Dia  tidak akan  berani mengutjapkan  begitu sadja perkataan ,,engkau” kepada  orang  jang  lebih  atas.  Seharusnja ia memakai perkataan ,,kaki tuan” atau ,,kelom tuan”. Dia harus mengutjapkan, ,,Apakah kelom  tuan memanggil saja ? “Tingkatan perhambaan sematjam inipun dinjatakan dengan gerak.

 

Aku menundjuk dengan djari telundjukku, akan tetapi orang jang lebih rendah tingkatnja dihadapanku akan  menundjuk dengan ibudjari. Keramahan jang demikian itu memberikan kepada sipendjadjah suatu sendjata  rahasia  jang  membantu  melahirkan  suatu  bangsa  ,,tjatjing”  dan  ,,katak”  seperti  mereka  menamakannja.  Kamipun disebut sebagai ,,rakjat jang paling pemalu didunia.”Bertahun-tahun kemudian aku tergila-gila pada  seorang  Puteri  jang  muda  dan  tjantik  dari  salahsatu  kraton  di  Djawa,  akan  tetapi  penasehat-penasehatku  menjatakan,   bahwa   aku   sebagai   orang   jang   telah   bergabung   dengan   rakjat-djelata   tidak   mungkin  mengawininja. Sekalipun hatiku luka, mereka menundjukkan bagaimana aku telah memimpin pemberontakan  melawan feodalisme, djadi tidak bisa sekarang memasuki golongan itu. Dan berachirlah hubungan ini dengan  suatu  kisah  pertjintaan  setjara  platonis.  Dikalangan  kaum  bangsawan  di  Djawa  seorang  isteri  tidak  pernah  kehilangan  deradjatnja  jang  tinggi.  Kalau  ia  mengawini  seorang  lelaki  jang  lebih  rendah  deradjatnja,  suaminja harus mengadjukan permohonan untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk bertjintaan dengan isterinja  sendiri,  sisuami  jang  boleh  djadi  bergelar  raden,  terlebih  dulu  harus  meminta  idzin  dari  isterinja.  Mungkin  maksudnja baik. Akan tetapi, aku tidak dapat melihat Sukarno dalam kedudukan jang demikian.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 39 dari 109

 

Didjaman  Feodal  kami  tidak  mempunjai  bentuk  panggilan  jang  luas  seperti  Mister,  Mistres,  Miss  atau  jang  dapat  mentjakup  seluruh  lapisan  dan  tingkat  seseorang.  Ketika  aku  memaklumkan  Bahasa  Indonesia,  kami  memerlukan suatu rangkaian sebutan jang lengkap jang dapat dipakai setjara tidak berobah-robah antara tua  dan muda, kaja dan miskin, Presiden dan rakjat tani. Disaat itulah kami mengembangkan sebutan Pak atau  Bapak,  Bu  atau  Ibu  dan  Bung  jang  berarti  saudara.  Didjaman  Revolusi  Kebudajaan  inilah  aku  mulai  dikenal  sebagai Bung Karno.Tahun 1926 adalah tahun dimana aku memperoleh kematangan dalam tiga segi. Segi jang  kedua  adalah  dalam  kepertjajaan.  Aku  banjak  berpikir  dan  berbitjara  tentang  Tuhan.  Sekalipun  dinegeri  kami  sebagian  terbesar  rakjatnja  beragama  Islam,  namun  konsepku  tidak  disandarkan  semata-mata  kepada  Tuhannja  orang  Islam.  Pada  waktu  aku  melangkah  ragu  melalui  permulaan  djalan  jang  menudju  kepada  kepertjajaan,  aku  tidak  melihat  Jang  Maha-Kuasa  sebagai  Tuhan  kepunjaan  perseorangan.  Menurut  djalan  pikiranku   maka   kemerdekaan   bagi   seseorang   meliputi   djuga   kemerdekaan   beragama.   Ketika   konsep  keagamaanku  meluas,  ideologi  dari  Pak  Tjokro  dalam  pandanganku  semakin  sempit  dan  semakin  sempit  djuga.  Pandangannja  tentang  kemerdekaan  untuk  tanah-air  kami  semata-mata  ditindjau  melalui  lensa  mikroskop dari agama Islam. Aku tidak lagi menoleh kepadanja untuk beladjar. Djuga kawan-kawannja tidak  lagi mendiadi guruku. Sekalipun aku masih seorang pemuda, aku tidak lagi mendjadi penerima. Aku sekarang  sudah  mendjadi  pemimpin.  Aku  mempunjai  pengikut.  Aku  mempunjai  reputasi.  Aku  sudah  mendjadi  tokoh  politik jang sederadjat dengan Pak Tjokro.

 

 

Dalam  hal  ini  tidak  terdjadi  pemutusan  tiba-tiba.  Ini  terdjadi  lebih  mirip  dengan  pemisahan  diri  setjara   pelahan  sedikit  demi  sedikit.  Sekalipun  antara  Pak  Tjokro  dan  aku  terdapat  perbedaan  jang  besar  dibidang  politik,  akan  tetapi  antara  kami  tetap  terdjalin  hubungan  jang  erat.  Orang  Asia  tidak  menemui  kesukaran  untuk  membedakan  ideologi  dengan  peri-kemanusiaan.  Ketika  seorang  nasionalis  bernama  Hadji  Misbach  menjerang  Pak  Tjokro  setjara  serampangan  dalam  suatu  kongres,  kuminta  supaja  dia  minta  ma’af  kepada  kawan  lamaku  itu.  Hadji  Misbach  kemudian  menjatakan  penjesalannja.  Menentang  seseorang  dalam  bidang  polrtik  tidaklah  berarti  bahwa  kita  tidak  mentjintainja  setjara  pribadi.  Bagi  kami,  jang  satu  tidak  ada  hubungannja dengan jang lain. Hal ini tidak dapat diselami oleh pikiran orang Barat, tapi ini senada dengan  mentalita  orang  Timur.  Misainja  sadja,  kusebut  Pak  Alimin  dan  Pak  Muso.  Kedua-duanja  sering  bertindak  sebagai  guruku  dalam  politik  ketika  aku  tinggal  dirumah  Pak  Tjokro.  Kemudian  mereka  berpindah  kepada  Komunisme,  pergi  ke  Moskow  dan  belakangan  ditahun  1948,  setelah  aku  mendjadi  Presiden,  mengadakan  pemberontakan Komunis dan usaha perebutan kekuasaan.

 

 

Mereka merentjanakan kedjatuhanku. Akan tetapi orang Djawa mempunjai suatu peribahasa, ,,Gurumu harus  dihormati,  bahkan  lebih  daripada  orangtuamu  sendiri.”  Ketika  Pak  Alimin  sudah  terlalu  amat  tua  dan   sakit,  aku mengundjunginja. Lalu surat-suratkabar mengotjeh, ,,Hee, lihat Sukarno mengundjungi seorang Komunis  !  “Ja,  Pak  Alimin  telah  mentjoba  mendjatuhkanku.  Akan  tetapi  dia  adalah  salah-seorang  guruku  dihari  mudaku.  Aku  berterima-kasih   kepadanja   atas  segala  jang  baik  jang  telah  diberikannja  kepadaku  Aku  berhutang  budi  kepadanja.  Jang  sama  beratnja  untuk  dilupakan  ialah  kenjataan,  bahwa  dia  adalah  salah-  seorang  perintis  kemerdekaan.  Seseorang  jang  berdjuang  untuk  pembebasan  tanah-airnja— tak  pandang  bagaimana  perasaannja  terhadapku  kemudian  —  berhak  mendapat  penghargaan  dari  rakjatnja  dan  dari  Presidennja.Sama  djuga  halnja  dengan  Pak  Tjokro.  Sampai  dihari  aku  akan  menutup  mata  untuk  selama-  lamanja aku akan tetap menulis namanja dengan hati jang lembut. Dalam bidang politik Bung Karno  adalah  seorang   Nasionalis.   Dalam   kepertjajaan   Bung   Karno   seorang   jang   beragama.   Akan   tetapi   Bung   Karno  mempunjai  kepertjajaan  jang  bersegi  tiga.  Dalam  bidang  ideologi,  ia  sekarang  mendjadi  sosialis.  Kuulangi  bahwa  aku  mendjadi  sosialis.  Bukan  Komunis.  Aku  tidak  mendjadi  Komunis.  Masih  sadja  ada  orang  jang  berpikir bahwa Sosialisme sama dengan Komunisme. Mendengar perkataan sosialis mereka tidak dapat tidur.  Mereka melompat dan memekik, ,,Haaa, saja sudah tahu ! Bahwa Bung Karno seorang Komunis !” Tidak, aku  bukan   Komunis.  Aku   seorang   SosiaIis.   Aku   seorang  Kiri.   Orang  Kiri   adalah   mereka   jang   menghendaki  perubahan kekuasaan kapitalis, imperialis jang ada sekarang.

 

 

Kehendak  untuk  menjebarkan  keadilan  sosial  adalah  kiri.  Ia  tidak  perlu  Komunis.  Orang  kiri  bahkan  dapat  bertjektjok  dengan  orang  Komunis.  Kiriphobi,  penjakit  takut  akan  tjita-tjita  kiri,  adalah  penjakit  jang  kutentang   habis-habisan   seperti   Islamophobi.   Nasionalisme   tanpa   keadilan   sosial   mendjadi   nihilisme.  Bagaimana  suatu  negeri  jang  miskin  menjedihkan  seperti  negeri  kami  dapat  menganut  suatu  aliran  lain  ketjuali haluan sosialis ? Mendengar aku berbitjara tentang demokrasi, seorang pemuda menanjakan apakah  aku seorang demokrat. Aku berkata, ,,Ja, aku pasti sekali seorang demokrat.” Kemudian dia berkata, ,,Akan  tetapi menurut pandangan saja tuan seorang sosialis.” ,,Saja sosialis, djawabku. Ia menjimpulkan semua itu   dengan,   ,,Kalau   begitu   tentu   tuan   seorang   sosialis   demokrat.”Mungkin   ini   salah   satu   djalan   untuk  menamaiku.  Orang  Indonesia  berbeda  dengan  bangsa  lain  didunia.  Sosialisme  kami  adalah  sosialisrne  jang  dikurangi  dengan  pengertian  rnaterialistisnja  jang  ekstrim,  karena  bangsa  Indonesia  adalah  bangsa  jang  terutama takut dan tjinta kepada Tuhan. Sosialisme kami adalah suatu tjampuran. Kami menarik persamaan  politik dari Declaration of Independence dari Amerika.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 40 dari 109

 

Kami menarik persamaan spirituil dari Islam dan Kristen. Kami menarik persamaan ilmiah dari Marx. Kedalam  tjampuran jang tiga ini kami tambahkan kepribadian nasional : Marhaenisme. Kemudian kami memertjikkan  kedalamnja Gotong-rojong jang mendjadi djiwa, inti daripada bekerdja bersama, hidup bersama dan saling  bantu-membantu.  Kalau  ini  ditjampurkan  semua,  maka  hasilnja  adalah  Sosialisme  Indonesia.  Konsepsi-  konsepsi ini, jang dimulai semendjak tahun duapuluhan dan tak pernah aku menjimpang daripadanja, tidak  termasuk begitu sadja dalam penggolongan sesuai dengan djalan pikiran orang Barat, tetapi memang orang  harus  mengingat,  bahwa  aku  tidak  mempunjai  djalan  pikiran  Barat.  Merubah  rakjat  sehingga  mereka  tergolong dengan baik dan teratur kedalam kotak Barat tidak mungkin dilakukan. Para pemimpin jang telah  mentjoba,  gagal  dalam  usahanja.  Aku  selalu  berpikir  dengan  tjara  mentalita  Indonesia.  Semeadjak  dari  sekolah  menengah  aku  telah  mendjadi  pelopor.  Dalam  hal  politik  aku  tidak  berpegang  kepada  salah-satu  tjontoh.   Mungkin   inilah   jang   menjebabkan,   mengapa   aku   djadi   sasaran   dari   demikian   banjak   salah-  pengertian.  Aliran  politikku  tidak  sama  dengan  aliran  orang  lain.  Tapi  disamping  itu  latar  belakangkupun  tidak  bersamaan  dengan  siapapun  djuga.  Nenekku  memberiku  kebudajaan  Djawa  dan  Mistik.  Dari  bapak  datang Theosofisme dan Islamisme. Dari ibu Hinduisme dan Buddhisme. Sarinah memberiku Humanisme. Dari  Pak Tjokro datang Sosialisme. Dari kawan-kawannja datang Nasionalisme.Aku menambah renungan-renungan  dari Karl Marxisme dan Thomas Jeffersonisme. Aku beladjar ekonomi dari Sun Yat Sen. Aku beladjar kebaikan  dari  Gandhi.  Aku  sanggup  mensynthese  pendidikan  setjara  ilmu  modern  dengan   kebudajaan  animistik  purbakala  dan  mengambil  ibarat  dari  hasilnja  mendjadi  pesan-pesan  pengharapan  jang  hidup  dan  dapat  dihirup sesuai dengan pengertian dari rakjat kampung.

 

 

Hasil  jang  keluar  dari  semua  ini  dinamakan  orang—dalam  istilah  biasa—  Sukarnoisme.  Aku  tumbuh  dari  Sarekat  Islam,  akan  tetapi  belum  menukarnja  dengan  partai  lain  jang  formil.  Apa  jang  disebut  organisasi  politikku  ditahun  1926  adalah  pertumbuhan  dari  Bandung  Studenten  Club  jang  disponsori  oleh  universitas,  agar para mahasiswa dapat bermain bridge atau biljar. Ia didirikan untuk pesta-pesta dan kegembiraan. Anak  Bumiputera  dibolehkan  masuk  club  itu  akan  tetapi,  setelah  mengikutinja,  aku  menjadari  bahwa  kami  tidak  dapat mendjadi anggota pengurus. ,,Saja tidak dapat menerima keadaan sematjam itu,” kataku, ,,Saja akan  keluar  dari  perkumpulan  ini.”  Seperti  di  Modjokerto,  setiap  orang  main  ikut-ikutan  dengan  pemimpin.  Pada  waktu Sukarno keluar dari Bandung Studenten Club ini, anak Indonesia lainnjapun mengikutinja. Dengan lima  orang  anak  Indonesia  aku  mendirikan  Perkumpulan  Studi.  Aku  memilih  bahan  batjaan  jang  bernilai  seperti  ,,Handelingen  der  Tweede  Kamer  van  de  Staten  Generaal”  (Kegiatan  Tweede  Kamer  dari  Staten  Generaal  Negeri  Belanda)  dari  perpustakaan.  Dan  kami  setjara  berganti-ganti  membatjanja  seminggu  seorang.  Pada  setiap  penutupan  lima  mingguan  sekali  kami  mengadakan  pertemuan— biasanja  dirumahku  —  dan  duduk  sepandjang  malam  memperdebatkan  pokok-pokok  dari  strategi  jang  ada  didalamnja.  Orang  selalu  dapat  mengetahui,   kapan   Bung   Karno   mempeladjari   buku   itu.   Kalimat-kalimat   jang   perlu,   diberi   bergaris  dibawahnja.  Paragraf-paragraf  diberi  lingkaran.  Siapa  sadja  jang  membatjanja  setelah  itu  dapat  melihat  dengan  mudah  aliran  pikiranku.  Kutuliskan  kritik-kritikku  dipinggir  pinggir  halaman.  Aku  memberi  tanda  halaman-halaman jang kusetudjui dan memberi tjatatan dibawah halaman-halaman jang tidak kusetudjui.

 

 

 

Tadinja  segar  dan  bersih  dari  rak  perpustakaan,  djilid-djilid  jang  berharga  itu  kemudian  tidak  lagi  bersih  sesudah  itu.Kedalam  Algemeene  Studiclub  ini  hinggaplah  intellektuil-intellektuil  muda  bangsa  Indonesia,  banjak  jang  baru  sadja  kembali  dari  Negeri  Belanda  dengan  idjazah  kesardjanaannja  jang  gilang-gemilang  ditangan mereka. Pertukaran buah-pikiran dalam bidang politik jang aktif adalah kegiatan kami jang pokok.  Tjabang-tjabang  dari  Studieclub  ini  tumboh  di  Solo,  Surabaja  dan  kota  lainnja  di  Djawa.  Kami  kemudian  menerbitkan  madjalah  perkumpulan  —  Suluh  Indonesia  Muda  – —  dan,  sebagaimana  dapat  diduga,  Ketua  Sukarno adalah penjumbang tulisan jang pertama. Karena aku begitu terikat dalam soal-soal politik sehingga  kurang memikirkan soal-soal lain, maka biro teknikku merosot sehingga ia mati samasekali. Pikiranku terlalu   sangat tertudju kepada segi jang dalam dari kehidupan ini daripada memikirkan jang tidak berarti, sehingga  dimalam  terang  bulan  jang  penuh  gairah  aku  bahkan  lebih  memikirkan  isme  daripada  memikirkan  Inggit.  Pada waktu muda-mudi jang lain menemukan kasihnja satu sama lain, aku mendekam dengan ,,Das Kapital”.  Aku  menjelam  lebih  dalam  dan  lebih  dalam  lagi.  Djadi  aku  mendekati  achir  daripada  windu  jang  ketiga.  Sewindu  adalah  suatu  djangka  waktu  jang  lamanja  delapan  tahun.  Tahun  1901  sampai  1909  adalah  windu  dengan  pemikiran  kanak-kanak.  1910  sampai  1918  adalah  windu  pengembangan.  1919  sampai  1927  windu  untuk mematangkan diri. Aku sudah siap sekarang.

 

 

Bab 8

 

Mendirikan P.N.l.

 

WAKTUNJA sudah tepat bagiku untuk mendirikan partaiku sendiri. Ada dua faktor. Ditahun 1917 dinasti dari   Hohenzollern  terpetjah-petjah  di  Djerman,  Franz  Josef  djatuh,  Czar  Alexander  gojah.  Sepihan-sepihan  dari  mahkota-mahkota  dunia  jang  telah  dibinasakan  itu  melajang-lajang  melalui  telinga  Ratu  Wilhelmina  dan  geledek    dari    revolusi    jang    berdekatan    menggulung-gulung    melalui    pekarangannja.1917    membawa  pemberontakan  Bolsjewik  dari  Lenin  dan  lahirnja  Uni  Soviet.  Bela  Kun  memimpin  suatu  pemberontakan  di

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 41 dari 109

 

Hongaria. Buruh Djerman mendirikan Republik Weimar. Disebelah kanan Negeri Belanda dan disebelah kirinja  menganga  djurang  chaos.  Sedang  ia  sendiri  setelah  tiga  tabun  peperangan  hantjur  dalam  segi  materiil  dan  spirituil.  Karena  hubungan  antara  Negeri  Belanda  dan  Hindianja  terputus  akibat  gangguan  peperangan  dan  perhubungan laut jang hampir samasekali tidak ada, maka bagian terbesar dari kekajaannja—kekajaan jang  berasal   dari   anak-tirinja   Indonesia— punah.   Pun   dibidang   politik   ia   lumpuh.   Kebutuhannja   jang   besar  menjebabkan   kekosongan   jang   serius,   jang   segera   diisi   oleh   ketidak-puasan   dan   kekatjauan.   Untuk  melengkapi  nasib  sialnja,  maka  seorang  Sosialis  bernama  Dr.  Pieter  Jelles  Troelstra  mengadakan  gerakan  revolusioner proletariat.

 

Pertama  perang,  kemudian  timbulnja  revolusi,  menjebabkan  negeri  Belanda  mendjadi  lemah.  Digerakkan  oleh   peristiwa-peristiwa   ini   nasionalisme   di   Hindia   Belanda   tumbuh   bagai   bisul-bisul.   Orang   Belanda  menjadari,  bahwa  mereka  harus  melunakkan  hati  penduduknja  jang  berkulit  sawomatang  disepandjang  katulistiwa,  oleh  karena  Belanda  sudah  tjukup  banjak  menghadapi  kesukaran  dipekarangan  muka  rnereka  sendiri,  hal  mana  tidak  memberi  kemungkinan  untuk  bisa  memadamkan  pemberontakan  bila  berkobar  di  Indonesia.  Hindia  adalah  gabusnja  tempat  Belanda  mengapung  Dengan  segala  daja-upaja  mereka  perlu  membelenggu  terus  ,,saudara-saudara”  mereka  jang  berkulit  sawomatang  setjara  patuh.  Karena  negeri-  dibalik-pematang itu terlalu lemah untuk menggunakan kekuatan, maka udara dari peristiwa-peristiwa dunia  membawa mereka kepada Djandji Nopember sebagai djalan untuk menenangkan keadaan. Dibulan Nopember  tahun 1918 Gubernur Djendral, Graaf van Limburg Stirum, mendjandjikan kepada kami hak-hak politik jang  lebih luas, kebebasan jang lebih besar, kemerdekaan untuk mengadakan rapat-rapat umum, hak bersuara di  Dewan Rakjat.

 

Segera  kami  menjadari,  bahwa  Negeri  Belanda  tidak  mempunjai  maksud  untuk  menepatil  djandji-djandji  jang terkenal busuk dan pendek umurnja itu. Dalam setahun Belanda mengchianati kami dengan mengangkat  Gubernur Djendral Dirk Fock, Jang paling reaksioner dari segala djaman. Setjara perbandingan maka rezim-  rezim sebelumnja  adalah moderat. Akan  tetapi Fock sikapnja  lebih menindas dan mengurangi  hak-hak  jang  telah  pernah  diberikan.  Ia  menekan,  mengedjar-ngedjar  dan  mengadakan  undang-undang  jang  mengurangi  kebebasan  apapun  djuga  jang  kami  peroleh  sebelumnja.  Kalau  seseorang  mengeluarkan  tjelaan,  sekalipun  ,,tersembunji”,  dapat  menjebabkannja  masuk  pendjara.  Dengan  perkataan  lain,  kalau  engkau  seorang  diri  dalam  sebuah  gua  dan  utjapanmu  jang  mengigau  dalam  pengasingan  itu  dilaporkan  kepada  polisi,  engkau  dapat  didjatuhi  hukuman  enam  tahun.  Engkau  bahkan-bahkan  masuk  pendjara  karena  berbitiara  dalam  mimpi   !   Pemerintahan   ini   memberikan   peluang   bagi   pemakaian   ,,Undang-undang   Luarbiasa”,   jang  menjebabkan   demikan   banjak   saudara   kami   laki-laki   dan   perempuan   dikirim   ketempat-tempat   jang  membikin berdiri bulu-roma. Undang-undang itu memberi kekuasaan untuk menginternir atau mengeksternir  seorang  Bumiputera  masuk  pendjara  atau  pengasingan  tanpa  diadili  terlebih  dulu.  Pada  waktu  Negeri  Belanda memperoleh kekuatan, maka keadaan semakin memburuk. Fock jang keterlaluan itu digantikan oleh  De Graeff jang lebih djahat lagi. Waktunja sudah datang untuk mendesakkan nasionalisme. Tapi bagaimana ?

 

 

 

Kami  tidak  mempunjai  satu  partaipun  jang  kuat.  Sarekat  Islam  petjah  dua.  Pak  Tjokro  tetap  memegang  kendali dari bagian  jang sudah  lemah, sedang bagian  jang  lain  merobah namanja mendjadi Sarekat Rakjat.   Dengan  dalih  perselisihan  maka  Komunisme  menjusup  kedalam  Sarekat  Rakjat.  Dalam  tahun  1926  mereka  merentjanakan    dan    mendjalankan    ,,Revolusi    Fisik    Besar    untuk    Kemerdekaan    dan    Komunisme”.  Pemberontakan  ini  menemui  kegagalan  jang  menjedihkan.  Belanda  menindasnja  dengan  serta-merta  dan  lebih   dari   2.000   pemimpin   diangkut   dengan   kapal   kepelbagai   tempat   pengasingan.   10.000   orang   lagi  dipendjarakan. Akibat selandjutnja adalah chaos. Serekat Rakjat dinjatakan terlarang. Mereka jang memilih  Sarekat Rakiat sekarang tidak punja apa-apa. Mereka jang semakin tidak puas dengan Tjokropun tidak punja  apa-apa  Tidak  ada  lagi  inti  gerakan  nasional  jang  kuat.  Dalam  pada  itu  aku  sudah  menemukan  pegangan  dalam  bidang  politik.  Pada  setiap  tjangkir  kopi  tubruk,  disetiap  sudut  dimana  orang  berkumpul  nama  Bung  Karno   mendjadi   buah-mulut   orang.   Kebentjian   umum   terhadap   Belanda   dan   kepopuleran   Bung   Karno  memperoleh tempat jang berdampingan dalam setiap buah-tutur.

 

 

Pada  tanggal  empat  Djuli  1927,  dengan  dukungan  dari  enam  orang  kawan  dari  Algemeene  Studieclub,  aku  mendirikan P.N.I., Partai Nasional Indonesia. Rakjat sudah siap. Bung Karno sudah siap. Sekarang tidak ada  jang  dapat  menahan  kami—ketjuali  Belanda.  Tudjuan  daripada  P.N.I.  adalah  kemerdekaan  sepenuhnja  —  SEKARANG. Bahkan pengikut-pengikutku jang paling setia gemetar oleh tudjuan jang terlalu radikal ini, oleh  karena  organisasi-organisasi  sebelumnja  selalu  menjembunjikan  sebagian  dari  tudjuannja,  supaja  Belanda  tidak mengganggu mereka. Denganku, tidak ada jang perlu disembunjikan, tanpa tedeng aling-aling. Dalam  perdebatan  diruangan  jang  tertutup,  beberapa  orang  mentjoba  menggelintjirkanku  dari  rel  itu.  ,,Rakjat  belum  lagi  siap,”  kata  mereka.,,Rakjat  SUDAH  siap,”  djawabku  dengan  tadjam.  ,,Dan  mendjadi  sembojan  kitalah:   ‘Indonesia   merdeka   SEKARANG.’   Kukatakan   ‘Indonesia   merdeka   SEKARANG.”,,Ini   tidak   mungkin  dilakukan,  Bung,”  mereka  memotong  ,,Tuntutan  Bung  Karno  terlalu  keras.  Kita  akan  dihantjurkan  sebelum  mulai.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 42 dari 109

 

Memang massa rakjat mendengarkan Bung Karno, mengikuti Bung Karno setjara membabi-buta, akan tetapi  Indonesia  merdeka  SEKARANG  adalah  terlalu  radikal.  Pertama  kita  harus  mentjapai  persatuan  nasional  terlebih  dahulu.”,,Kita  tidak  bersatu.  Betul.  Kita  terlalu  banjak  mempunjai  ideologi.  Setudju.  Kita  harus  memperoleh  persatuan  nasional.  Ja.  Akan  tetapi  kita  tidak  lagi  berdjalan  pelahan-lahan.  350  tahun  sudah  tjukup  pelahan  !  “Mereka  mentjoba  menerangkan  pandangannja  jang  hebat.  ,,Pertama  kita  harus  mendidik  rakjat  kita  jang  djutaan.  Mereka  belum  dipersiapkan  supaja  dapat  mengendalikan  diri  sendiri.  Kedua,  kita  harus  memperbaiki  kesehatan  mereka  supaja  dapat  berdiri  tegak.  Lebih  baik  kalau  segala  sesuatu  sudah  lengkap dan selesai terlebih dahulu.”,,Satu-satunja saat kalau segala sesuatu sudah lengkap dan selesai ialah  bilamana  kita  sudah  mati,”  aku  berteriak.  ,,Untuk  mendidik  mereka  setjara  pelahan  akan  memakan  waktu  beberapa  generasi.  Kita  tidak  perlu  menulis  thesis  atau  membasmi  malaria  sebelum  kita  memperoleh  kemerdekaan. Indonesia merdeka SEKARANG !

 

 

Setelah  itu  baru  kita  mendidik,  memperbaiki  kesehatan  rakjat  dan   negeri  kita.  Hajolah   kita  bangkit   sekarang.”,,Tentu Belanda akan menangkap kita.”,,Belandapun akan mempunjai respek sedikit terhadap kita.  Sudah mendjadi sifat manusia untuk meludahi jang lemah, akan tetapi sekalipun kita menghadapi lawan jang  gagah  berani,  setidak-tidaknja  kita  merasa  bahwa  dia  pantas  mendjadi  lawan.”Aku  memandang  diriku  sebagai seorang pemberontak. Kupandang P.N.I. sebagai tentara pemberontak.

 

Ditahun  1928  aku  mengusulkan.  agar  semua  anggota  memakai  pakaian  seragam.  Usulku  ini  menimbulkan  polemik  jang  hebat.  Seorang  wakil  jang  setia  dari  Tegal  berdiri  dan  menjatakan,  ,,Ini  tidak  sesuai  dengan  kepribadian  nasional.  Seharusnja  kita  memakai  sarung  tanpa  sepatu  atau  sandal.  Hendaklah  kita  kelihatan  seperti orang-orang revolusioner sebagaimana kita  seharusnja.”Aku tidak  setudju.  ,,Banjak orang jang kaki-  ajam,  akan  tetapi  mereka  bukan  orang  jang  revolusioner.  Banjak  orang  jang  berpangkat  tinggi  memakai  sarung,  tapi  mereka   bekerdja   dengan  sepenuh   hati  untuk  kolonialis.   Jang  menandakan   seseorang  itu  revolusioner  adalah  bakti  jang  telah  ditunaikannja  dalam  perdjoangan.  Kita  adalah  suat”  tentara,  saudara-  saudara.  ,,Selandjutnja  saja  mengandjurkan  untuk  tidak  memakai  sarung,  sekalipun  berpakaian  preman.  Pakaian  jang  kuno  ini  menimbulkan  pandangan  jang  rendah.  Disaat  orang  Indonesia  memakai  pantalon,  disaat  itu  pula  ia  berdjalan  tegap  sepert;  setiap  orang  kulitputih.  Akan  tetapi  begitu  ia  memasangkan  lambang  feodal  disekeliling  pinggangnja  ia  lalu  berdjalan  dengan  bungkukan  badan  jang  abadi.  Bahunja  melentur  kemuka.  Langkahnja  tidak  djantan.  Ia  beringsut  dengan  merendahkan  diri.  Pada  saat  itupun  ia  bersikap ragu dan sangat hormat dan tunduk.”,,Sungguhpun begitu,” Ali Sastroamidjojo S.H. membalas, jang  ketika itu mendjadi ketua Tjabang P.N.I. dan kemudian ditahun limapuluhan mendjadi Dutabesar Indonesia  jang  pertama  di  Amerika  Serikat,  ,,Sarung  itu  sesuai  dengan  tradisi  Indonesia.”,,Tradisi  Indonesia  dimasa  jang lalu— betul,” aku meledak, ,,Akan tetapi tidak sesuai dengan Indonesia Baru dari masa datang.

 

 

Kita  harus  melepaskan  diri  kita  dari  pengaruh-pengaruh  masa  lampau  jang  merangkak-rangkak  seperti  pelajan, djongos dan orang dusun jang tidak bernama dan tidak berupa. Mari kita tundjukan bahwa kita  sama  progressif dengan orang Belanda. Kita harus tegak sama tinggi dengan mereka. Kita harus memakai pakaian  modern.”Ali berdiri lagi. ,,Untuk memperoleh pakaian seragam perlu biaja jang besar, sedangkan  kita tidak  punja  uang.”,,Kita  akan  usahakan  pakaian  jang  paling  murah,”  aku  menjarankan.  ,,Tjukup  dengan  badju  lengan pendek dan pantalon. Supaja kita kelihatan gagah dan tampan tidak perlu biaja jang besar. Kita harus  berpakaian  jang  pantas  dan  kelihatan  sebagai  pemimpin.”  Ada  jang  memihak  kepadaku.  Sebagian  lagi  menjokong Ali. Aku kalah.

 

Sungguhpun  demikian  keinginan  untuk  berpakaian  seragam  ini  tidak  pernah  hilang  dari  pikiranku.  Dan  begitulah, setelah mengambil sumpah sebagai Presiden ditahun 1945 aku mulai memakai uniform. Pers asing  kemudian mengeritikku. Mereka mengedjek. Uhhh, Presiden Sukarno memakai kantjing dari emas. Uhhh ! Dia  pakai  uniform  hanja  untuk  melagak.”Tjobalah  pertimbangkan,  aku  seorang  ahli  ilmu  djiwa  massa.  Memang  ada pakaianku jang lain. Akan tetapi aku lebih suka memakai uniform setiap muntjul dihadapan umum, oleh  karena  aku  menjadari  bahwa  rakjat  jang  sudah  dindjak-indjak  kolonialis  lebih  senang  melihat  Presidennja  berpakaian  gagah.  Taruhlah  Kepala  Negaranja  muntjul  dengan  badju  kusut  dan  berkerut  seperti  seorang  wisatawan   dengan   sisi   topinja   jang   lembab   dan   penuh   keringat,   aku   jakin   akan   terdengar   keluhan  keketjewaan. Rakjat Marhaen sudah biasa melihat pakaian sematjam itu dimana-mana. Pemimpin Indonesia  haruslah  seorang  tokoh  jang  memerintah.  Dia  harus  kelihatan  berwibawa.  Bagi  suatu  bangsa  jang  pernah  ditaklukkan memang perlu hal-hal jang demikian itu. Rakjat kami sudah begitu terbiasa melihat orang-orang  asing  kulitputih  mengenakan  uniform  jang  hebat,  jang  dipandangnja  sebagai  lambang  dari  kekuasaan.  Dan  merekapun bagitu terbiasa melihat dirinja sendiri pakai sarung, seperti ia djadi tanda dari rasa rendah-diri.

 

 

Ketika  aku  diangkat  mendjadi  Panglima  Tertinggi,  aku  menjadari  bahwa  rakjat  menginginkan  satu  tokoh  pahlawan. Kupenuhi keinginan mereka. Pada mulanja aku bahkan memakai pedang emas dipinggangku. Dan  rakjat kagum. Sebelum orang lain menjebunja, akan kukatakan padamu lebih dulu. Ja, aku tahu bahwa aku  kelihatan lebih pantas dalam pakaian seragam. Akan tetapi terlepas daripada kesukaan akan pakaian netjis  dan  rapi,  kalau  aku  berpakaian  militer  maka  setjara  mental  aku  berpakaian  dalam  selubung  kepertjajaan.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 43 dari 109

 

Kepertjajaan  ini  pindah  kepada  rakjat.  Dan  mereka  memerlukan  ini.1928  adalah  tahun  propaganda  dan  pidato.  Bandung  kubagi  dalam  daerah-daerah  politik:  Bandung  Utara,  Bandung  Selatan,  Bandung  Timur,  Barat,  Tengah,  daerah  sekitar  dan  sebagainja.  Ditiap  daerah  itu  aku  berpidato  sekali  dalam  seminggu,  sehingga aku diberi djulukan sebagai ,,Singa Podium”.Kami tidak mempunjai pengeras-suara, karena itu aku  harus  berteriak  sampai  parau.  Diwaktu  sore  aku  memekik-rnekik  kepada  rakjat  jang  menjemut  ditanah-  lapang.  Dimalam  hari  aku  membakar  hati  orang-orang  jang  berdesak-desak  sampai  berdiri  dalam  gedung  pertemuan.  Dan  dipagi  hari  aku  menarik  urat  leher  dalam  gedung  bioskop  jang  penuh  sesak  dengan  para  pentjinta tanah-air. Kami pilih gedung bioskop untuk pertemuan pagi, oleh karena pada djam itu kami dapat  menjewanja  dengan  ongkos  murah.  Lalu  berdatangan  pulalah  para  pedjoang  kemerdekaan  dari  segala  pendjuru  pulau  Djawa  ke  Bandung  untuk  mendengarkan  aku  berpidato.  Seorang  laki-laki  mengadakan  perdjalanan  dari  Sumatra  Selatan  untuk  mendengarkan  pidato  dari  Singa  Podium  jang,  katanja,  ,,sungguh-  sungguh  menjentuh  tali-hati  setiap  orang  seperti  pemain  ketjapi”.  Kenjataan  ini  adalah  kesan  jang  sangat  luarbiasa  baginja,  oleh  karena  ia  tidak  mempunjai  uang.  Aku  terpaksa  memindjam  uang  segobang  untuk  membelikannja nasi. Keadaan kami terlalu melarat, sehingga uang sepeserpun ada harganja. Aku tidak punja  uang supaja dapat membantunja sekalipun hanja sekian. Akan tetapi kesetiaan dari patriot utama ini patut  dihargai.  Setelah  dua  tahun  ia  kukirim  kembali  untuk  mendjalankan  tugas  didaerahnja  sendiri.  Kamaruddin  ini  mendjadi  salah-seorang  kawan  seperdjoanganku  jang  akrab  sekarang.  Masa  ini  djamannja  kerdja  keras.  Djaman jang memberikan kegembiraan sebesar-besarnja jang pernah kualami. Membikin kerandjingan massa  rakjat sampai mereka mabuk dengan anggurnja ilham adalah suatu kekajaan jang tak ternilai bagiku, untuk  mana aku mempersembahkan hidup ini. Bagiku ia adalah zat hidup.

 

 

Apabila   aku   berbitjara   tentang   negeriku,   semangatku   berkobar-kobar.   Aku   mendjadi   perasa.   Djiwaku  bergetar.  Aku  dikuasai  oleh  getaran-djiwa  ini  dalam  arti  jang  sebenar-benarnja  dan  getaran  ini  mendjalar  kepada  orang-orang  jang  mendengarkan.  Sajang,  diantara  pendengarku  semakin  banjak  anggota  polisi.  Mereka  selalu  berada  dimana  sadja,  kalau  aku  berpidato  dan  menguraikan  siasatku  dengan  teliti.  Memang  ada tjara-tjara untuk mengelabui orang-orang-asing sehingga mereka tidak bisa menangkap setiap insinuasi.  Engkau  dapat  menggunakan  peribahasa  daerah  atau  menjatakan  suatu  pengertian  dengan  gerak.  Rakjat  mengerti. Dan mereka bersorak.

 

Didjaman kami, kami tidak membalas dendam kepada polisi. Taruhlah kami dapat berbuat sedemikian, akan  tetapi hasilnja djauh lebih menjenangkan dengan mempermainkannja. Kalau aku berhadapan dengan wadjah  baru  jang  Mengikutiku  dari  belakang  setelah  selesai  berpidato,  sikapku  selalu  ramah.  Aku  tidak  pernah  membesarkan suara dan mengeledek, ,,Hee, apa-apaan kamu mengikuti aku, ha ?” Tidak pernah sekasar itu.  Dengan  senjum  jang  menjenangkan  aku  seenaknja  membiarkannja  melakukan.  pengedjaran  dibelakangku  dalam  teriknja  sinar  matahari  menudju  salah  satu  daerah  pesawahan  dipinggir  kota.  Dari  pesawat-terbang  maka  daerah  pesawahan  dengan  petak-petak  ketjil  kelihatan  menghampar  bagai  selimut  jang  ditambal-  tambal. Dan pematang-pematang jang mengelilingi tiap petak merupakan dinding penahan air supaja tetap  tinggal  dalam  petak  itu  dan  menggenangi  benih.  Kubiarkan  orang  itu  mengikuti  djedjakku  kepinggir  daerah  pesawahan,  kuletakkan  sepeda  diatas  rumput  dan  berlari  sepandjang  pematang  kerumah  seorang  kawan.  Karena  tiba-tiba  timbul  dalam  pikiranku  hendak  mengundjunginja.  Sudah  tentu  aku  memilih  kawan  jang  tinggal tjukup djauh dari djalan dan kira-kira setengah mil melalui pematang sawah.

 

 

Aku  tahu  betul,  bahwa  orang  Belanda  jang  gemuk  dan  goblok  itu  tidak  boleh  meninggalkan  sepeda  mereka  dipinggir   djalan   kalau   tidak   ada   jang   mendjaga.   Dan   adalah   tugas   kewadjiban   mereka   untuk   tidak  membiarkan lawan seperti Bung Karno lepas dari pandangannja. Djadi, apa akal orang Belanda terkutuk itu ?  Tiada  akal  mereka  lain  selain  memikul  sepeda  jang  berat  itu,  lalu  berdjalan  dengan  terhunjung-hunjung  merentjahi  air  sawah  atau  meniti  pematang  jang  ketjil  itu  sebisa-bisanja.  Memandangi  orang-orang  ini  berkeringat,  memusatkan  tenaga  dan  terhunjung-hunjung  itu  memberikan  kegembiraan  kepadaku  jang  tak  ada taranja. Tjobalah bajangkan ketegangan dari masa ini. Kami adalah peloporpelopor revolusi. Bersumpah  untuk menggulingkan Pemerintah. Dan Sukarno—mendjadi duri jang paling besar. Setiap hari tadjuk-rentiana  menentangku dan tak pernah terluang waktu barang sedjam dimana aku tidak dikedjar-kedjar oleh dua orang  detektif  atau  beberapa  orang  mata-mata  sematjam  itu.Aku  mendjadi  sasaran  utama  bagi  Belanda.  Mereka  mengintipku seperti berburu binatang liar. Mereka melaporkan setiap gerak-gerikku. Sangat  tipis harapanku  agar  bisa  luput  dari  intipan  ini.  Kalau  para  pemimpin  dari  kota  lain  datang,  aku  harus  mentjari  tempat  rahasia  untuk  berbitjara.  Seringkali  aku  mengadakan  pertemuan  penting  dibagian  belakang  sebuah  mobil  dengan  merundukkan  kepala.  Dengan  begini  polisi  tidak  dapat  mendengar  atau   melihat  apa  jang  terdjadi.  Kami   harus   mendjalankan   tjara   penipuan   jang   demikian   itu.Aku   memikirkan   siasat   gila-gilaan   untuk  membikin bingung polisi.

 

 

Tempat  lain  jang  kami  pergunakan  untuk  pertemuan  ialah  rumah  pelatjuran.  Aduh,  ini  luarbiasa  bagusoja.  Hanja semata-mata untuk memenuhi kepentingan tugasku. Kemana lagi seseorang jang dikedjar-kedjar harus  pergi,  supaja  aman  dan  bebas  dari  ketjurigaan  dan  dimana  kelihatannja  seolah-olah  kepergiannja  itu  tidak

 

untuk   menggulingkan   pemerintah?   Tjoba dimana lagi

?

Djadi berapatlah kami disana,   ditempat
BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

Halaman 44 dari 109

 

pelatjuran, sekitar djam delapan dan sembilan malam, jaitu waktu jang tepat untuk itu. Kami pergi sendiri-  sendiri atau dalam kelompok ketjil. Setelah memperoleh kebulatan kata kami bubar; seorang melalui pintu  depan, dua orang agi melalui pintu samping, aku mengambil djalan belakang dan seterusnja.Selalu pada hari  berikutnja aku harus berurusan dengan Komisaris Besar Polisi, Albrechts. Setelah memeriksa tentang gerak-  gerikku ia menjerang ,,Sekarang dengarlah, tuan Sukarno, kami tahu dengan pasti, bahwa tuan ada disebuah  rumah  pelatjuran  semalam.  Apakah  tuan  mengingkarinja  ?”  ,,Tidak,  tuan”  djawabku  dengan  suara  rendah  sambil  memandang  seperti  orang  jang  berdosa,  hal  mana  sepantasnja  bagi  orang  jang  sudah  kawin.  ,,Saja  tidak dapat berdusta kepada tuan. Tuan mengetahui saja, saja kira.”Kemudian ia menarik mulutnja kebawah  kedekat  mulutku  dan  bersuara  seperti  menjalak,  ,,Untuk  apa?  Kenapa  tuan  pergi  kesana  ?”Lalu  kudjawab,  ,,Apa  maksud  tuan  ?  Bukankah  saja  seorang  lelaki  ?  Bukankah  umur  saja  lebih  dari  16  tahun  ?”,,Nah,”  ia  meringis,  mermandang  kepadaku  dekat-dekat.  ,,Kami  tahu.  Apa  tuan  pikir  kami  bodoh?  Lebih  baik  terus-  terang.  Tuan  dapat  mentjeritakan  kepada  kami  mengapa  tuan  kesana.  Apa  alasannja  ?”,,Jaaahhh,  dugaan  tuan untuk apa saja kesana ?” Kataku agak kemalu-maluan. ,,Untuk bertjintaan dengan seorang perempuan,  itulah alasann ja.”,,Saja akan buat laporan lengkap mengenai ini.”,,Untuk siapa ? Isteri saja ?”,,Tidak, untuk  Pemerintah,” dia membentak.,,O,” kataku terengah mengeluarkan keluhan jang bersuara, .,Baiklah.”Pelatjur  adalah mata-mata jang paling baik didunia.

 

Aku  dengan  segala  senang  hati  mengandjurkan  ini  kepada  setiap  Pemerintah  Dalam  gerakan  P.N.I.-ku  di  Bandung  terdapat  670  orang  dan  mereka  adalah  anggota  jang  paling  setia  dan  patuh  daripada  anggota  lain  jang  pernah  kuketahui.  Kalau  menghendaki  mata-mata  jang  djempolan,  berilah  aku  seorang  pelatjur  jang  baik. Hasilnja mengagumkan sekali dalam pekerdjaan ini.Tak dapat dibajangkan betapa bergunanja mereka  ini.  Jang  pertama,  aku  dapat  menjuruh  mereka  menggoda  polisi  Belanda.  Djalan  apa  lagi  jang  lebih  baik  supaja melalaikan orang dari kewadjibannja selain mengadakan pertjintaan jang bernafsu dengan dia. ‘kan ?  Dalam keadaan jang mendesak aku menundjuk seorang polisi tertentu dan membisikkan kepada bidadariku,  ,,Buka  kupingmu.  Aku  perlu  rahasia  apa  sadja  jang  bisa  kaubudjuk  dari  babi  itu.”  Dan  betul-betul  ia  memperolehnja.  Polisi-polisi  jang  tolol  ini  tidak  pernah  mengetahui,  dari  mana  datangnja  keterangan  jang  kami peroleh. Tak satupun anggota partai jang gagah dan terhormat dari djenis laki-laki dapat mengerdjakan  tugas ini untukku ! Masih ada prestasi lain jang mengagumkan dari mereka ini.

 

 

Perempuan-perempuan   latjur   adalah   satu-satunja   diantara   kami   jang   selalu   mempunjai   uang.   Mereka  mendjadi penjumbang jang baik apabila memang diperlukan. Anggota-anggotaku ini bukan sadja penjumbang  jang  bersemangat,  bahkan  mendjadi  penjumbang  jang  besar.  Sokongannja  besar  ditambah  lagi  dengan  sokongan   tambahan.   Aku   dapat   menggunakannja   lebih   dari   itu.Sudah   tentu   tindakanku   ini   mendapat  ketjaman  hebat  karena  memasukkan  para  pelatjur  dalam  partai.  Sekali  lagi  Ali  jang  berbitjara.  ,,Sangat  memalukan,”  keluhnja.  ,,Kita  merendahkan  nama  dan  tudjuan  kita  dengan  memakai  perempuan  sundal—  kalau  Bung  Karno  dapat  mema’afkan  saja  memakai  nama  itu.  Ini  sangat  memalukan.”,,Kenapa  ?”  aku  menentang.  ,,Mereka  djadi  orang  revolusioner  jang  terbaik.  Saja  tidak  mengerti  pendirian  Bung  Ali  jang  sempit.”,,Ini  melanggar  susila”,  katanja  menjerang.  ,,Apakah  Bung  Ali  pernah  menanjakan  alasan  mengapa  saja   mengumpulkan   670   orang   perempuan   latjur   ?”   tanjaku   kepadanja.   ,,Sebabnja   ialah   karena   saja  menjadari,  bahwa  saja  tidak  akan  dapat  madju  tanpa  suatu  kekuatan.  Saja  memerlukan  tenaga  manusia,  sekalipun tenaga perempuan. Bagi saja persoalannja bukan soal bermoral atau tidak bermoral. Tenaga jang  ampuh,  itulah  satu-satunja  jang  kuperlukan.”,,Kita  tjukup  mempunjai  kekuatan  tanpa  mendidik  wanita

 

……… wanita ini,” Ali memprotes. ,,P.N.I. mempunjai tjabang-tjabang diseluruh tanah-air dan semuanja ini  berdjalan tanpa anggota seperti itu. Hanja di Bandung kita melakukan sematjam ini.” ,,Dalam pekerdjaan ini  maka  gadis-gadis  pesanan— pelatjur  atau  apapun  nama  jang  akan  diberikan  kepadanja—adalah  orang-orang  penting,”  djawabku.  ,,Anggota  lain  dapat  kulepaskan.  Akan  tetapi  melepaskan  perempuan  latjur  —  tunggu  dulu.   Ambillah   misalnja   Mme.   Pompadour—dia   seorang   pelatjur.   Lihat   betapa   masjhurnja   dia   dalam  sedjarah.  Ambil  pula  Theroigne  de  Merricourt,  pemimpin  besar  wanita  dari  Perantjis.  Lihat  barisan-roti  di  Versailles.  Siapakah  jang  memulainja  ?  Perempuan-perempuan  latjur.  “Kupu-kupu  malam  ini  jang  djasanja  diperlukan  untuk  mengambil  bagian  hanja  dibidang  politik,  ternjata  memperlihatkan  hasil  jang  gilang-  gemilang pun dibidang lain.

 

Mereka memiliki daja-penarik seperti besi berani. Setiap hari Rabu tjabang partai mengadakan kursus politik  dan anggota-anggota dari kaum bapak akan datang berdujun-dujun apabila dapat melepaskan pandang pada  tentaraku  jang  tjantik-tjantik  itu.  Djadi,  aku  tentu  harus  mengusahakan  supaja  mereka  datang  setiap  minggu.Tidak   sadja   musuh-musuhku   jang   datang   bertamu   kepada   gadis-gadis   itu   guna   memenuhi  kebutuhannja,  akan  tetapi  dari  anggota  kami  sendiripun  ada  djuga.  Dan  mendjadi  tanggung-djawab  jang  paling  besarlah  untuk  membasmi  anasir-anasir  dalam  partai—baik  laki-laki  maupun  perempuan—jang  tidak  bisa  menjimpan  rahasia.  Kamipun  harus  membasmi  tjutjunguk-tjutjunguk— jaitu  orang  jang  dibajar  untuk  memata-matai   partainja   sendiri.   Setiap   tempat   mempunjai   tjutjunguk-tjutjunguk.   Untuk   mejakinkan,  apakah  agen-agen  kami  djudjur  dan  dapat  menutup  mulutnja,  kami  mengudji  mereka.  Selama  enam  bulan  sampai  setahun  gadss-gadis  pelatjur  itu  mendjadi  ,,Tjalon  Anggota”.  Ini  berarti  bahwa,  sementara  kami  memberi  bahan dan mengawasinja, mereka tetap sebagai tjalon. Kalau sudah diangkat mendjadi mata-mata

 

 

jang   diakui   ketjakapannja,   maka   itu   tandanja

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

 

kami

 

sudah

 

jakin

 

ia

 

dapat

 

dipertjaja   penuh.Sebagai

 

Halaman 45 dari 109

 

perempuan  djalanan  seringkali  mereka  harus  berurusan  dengan  hukum  dan  dikenakan  pendjara  selama  tudjuh  hari  atau  denda  lima  rupiah.  Akan  tetapi  aku  mendorongnja  supaja  mendjalani  hukum  kurungan  sadja.

 

Suatu  kali  diadakan  razzia  dan  seluruh  kawanan  dari  pasukan  Sukarno  diangkat  sekaligus.  Karena  setia  dan  patuh  kepada  pemimpinnja,  maka  ketika  hakim  meminta  denda  mereka  menolak,  ,,Tidak,  kami  tidak  bersedia  membajar.”Keempatpuluh  orangnja  dibariskan  masuk  pendjara.  Aku  gembira  mendengarnja,  oleh  karena  pendjara  adalah  sumber  keterangan  jang  baik.  Tambahan  lagi,  ada  baiknja  untuk  masa  jang  akan  datang sebab mereka sudah mengenal para petugas pendjara.Kemudian kusampaikanlah instruksi jang kedua  untuk  didjalankan  nanti  setelah  bebas.  Misalkan  setelah  itu  armadaku  mentjari  sasarannja  disuatu  malam.  Umpamakan  pula  disaat  jang  bersamaan  kepala  rumah  pendjara  sedang  berdjalan-djalan  makan  angin  menggandeng isterinja. Pada waktu ia melalui salah  seorang  bidadari  pilihanku ini,  sigadis  harus tersenjum  genit   kepadanja   dan   menegur   dengan   merdu,   ,,Selamat   malam”   sambil   menjebut   nama   Belanda    itu.  Beberapa  langkah  setelah  itu  tak  ragu  lagi  tentu  ia  akan  berpapasan  dengan  gadisku  jang  lain  dan  diapun  akan menjobut namanja dan meraju.,,Hallo…….Selamat malam untukmu.” Isterinja akan gila oleh teguran  ini. Muslihat ini termasuk dalam perang urat-sjaraf kami.

 

 

Didjaman P.N.I. ini orang telah mengakuiku sebagai pemimpin, akan tetapi keadaanku masih tetap melarat.  Inggit  mentjari  penghasilan  dengan  mendjual  bedak  dan  bahan  ketjantikan  jang  dibuatnja  sendiri  didapur  kami.  Selain  itu  kami  menerima  orang  bajar-makan,  sekalipun  rumah  kami  di  Djalan  Dewi  Sartika  22  ketjil  sadja. Orang jang tinggal dengan kami bernama Suhardi, seorang lagi Dr. Samsi jang memakai beranda muka  sebagai kantor akuntan dan seorang lagi kawanku Ir. Anwari. Kamar tengah mendjadi biro arsitek kami. Sewa  rumah  seluruhnja  75  sebulan.  Uang  makan  Suhardi  kira-kira  35  rupiah.  Kukatakan  ,,kira-kira”  oleh  karena  selain  djumlah  itu  aku  sering  memindjam  beberapa  rupiah  ekstra.  Bahkan  Inggit  sendiripun  memindjam  sedikit-sedikit dari dia. Adalah suatu rahmat dari Tuhan Jang Maha Pengasih, bahwa kami diberi-Nja nafkah  dengan  djalan  jang  ketjil-ketjil.  Kalau  ada  kawan  mempunjai  uang  kelebihan  beberapa  sen,  tak  ajal  lagi  kami  tentu  mendapat  suguhan  kopi  dan  peujeum.  Sekali  aku  mendjandjikan  kepada  Sutoto  kawan  sekelas,  bahwa  aku  akan  mentraktirnja,  oleh  karena  ia  sering  mengadjakku  minum.  Disore  berikutnja  ia  datang  bersepeda  untuk  berunding  dengan  pemimpinnja.  Rupanja  ia  kepanasan  dan  pajah  setelah  mendajung  sepedanja   dengan   tjepat   selama   setengah   djam.   Dan   pemimpin   dari   pergerakan   nasional   terpaksa  menjambutnja  dengan,  ,,Ma’af,  Sutoto,  aku  tidak  dapat  bertindak  sebagai  tuan-rumah  untukmu.  Aku  tidak  punja  uang.”Kemudian  Sutoto  mengeluh,  ,,Ah,  Bung  selalu  tidak  punja  uang.”Selagi  kami  duduk-duduk  dengan    muka    suram    ditangga    depan,    seorang    wartawan    lewat    bersepeda.,,Heee,    kemana?”    aku  memanggil.,,Tjari tulisan untuk koranku,” ia berteriak mendjawab.,,Aku akan buatkan untukmu.”,,Berapa ?”  tanjanja  mengendorkan  djalan  sepedanja.,,10  rupiah  !”  Wartawan  itu  seperti  hendak  mempertjepat  djalan  sepedanja. ,,Oke, lima rupiah.”Tidak ada djawaban. Aku menurunkan tawaranku. ,,Dua rupiah bagaimana ?  Akan kuberikan padamu. Pendeknja tjukuplah untuk bisa mentraktir kopi dan peujeum. Setudju ?”,,Setudju  !”Kawanku itu menjandarkan sepedanja kedinding rumah dan sementara dia dan Sutoto duduk disamping aku  menulis  seluruh  tadjuk.  Tambahan  lagi  dengan  pena.  Tak  satupun  jang  kuhapus,  kutjoret  atau  kutulis  kembali.  Begitu  banjak  persoalan  politik  jang  tersimpan  diotakku.  sehingga  selalu  ada  sadja  jang  akan  ditjeritakan. 15 menit kemudian kuserahkan kepadanja 1.000 perkataan. Dan dengan seluruh uang bajaranku  itu aku membawa Sutoto dan Inggit minum kopi dan menikmati penjeum. Bagi kami kemiskinan itu bukanlah  sesuatu jang patut dimalukan.

 

 

Akan  kutjeriterakan  padamu,  bagaimana  kami  hidup  ditahun-tahun  duapuluhan.  Pada  achir  liburan  Natal  saudara  J.A.H.  Ondang,  seorang  kawan,  datang  kerumah  dilarut  malam.  ,,Bung,”  katanja.  ,,Aku  dalam  kesulitan. Apa Bung mau menolongku ?”,,Tentu, akan kutolong, Bung”, aku tersenjum. ,,Ketjuali kalau perlu  uang djangan tanja padaku, karena kami sendiripun butuh uang.”,,Dengarlah,” ia menerangkan, ,,Aku pulang  dalam libur ini dan kembali kesini dua hari lebih tjepat daripada dugaan semula. Rupanja njonja tempatku  bajar-rnakanpun  pergi  berpakansi  dan  dia  belun  pulang.  Aku  tidak  bisa  masuk  kerumah.”,,Kehotel  sadja,”  saranku.,,Tidak  bisa.  Aku  tidak  sanggup  membajarnja.  Isi  kantongku  tjuma  dua  rupiah.  Itulah  seluruh  milikku.  Aku  sesungguhnja  tidak  mau  mengganggu  Bung,  akan  tetapi  hanja  Bung  satu-satunja  jang  kukenal  baik  di  Bandung  ini.  Apa  bisa  aku  bermalam  disini  ?”,,Boleh  sadja,  tjuma  rumah  kami  jang  ketjil  ini  sudah  penuh. Kalau tidak keberatan sekamar dengan kami laki-isteri dan kalau mau tidur ditikar, ja, dengan senang  hati  kami  terima  Bung  menginap  disini.”  Bukan  main  !  Dia  berterima-kasih  .  Selama  tiga  malam  ia  tinggal  dengan kami. Kami saling bantu-membantu dihari-hari ini. Seringkali kami mendapat tamu. Para simpatisan  jang   berada   dalam   pengawasan   polisi   ketika   masih   beladjar   di   Negeri   Belanda,   dengan   diam-diam  diselundupkan ketanah-air dan dibawa kerumahku untuk minta pertimbangan.

 

 

Kadang-kadang  bermalam  ditempat  kami  orang  jang  membawa  ,,Indonesia  Merdeka”  jang  terlarang,  jaitu   berkala jang ditjetak oleh kawan-kawan di Negeri Belanda, dan tidak boleh beredar di-tanah-air. Karena itu  kawan-kawan di Amsterdam menggunting artikel-artikel jang penting dan menjisipkannja kedalam madjalah  jang  tidak  terlarang.  Dengan  djalan  demikian  banjak  bahan  keterangan  jang  dapat  dikirimkan  pulang-pergi

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 46 dari 109

 

melalui  samudra  luas.Pada  tanggal  28  Oktober  tahun  ’28  Sukarno  dengan  resmi  mengikrarkan  sumpah  chidmat:  ,,Satu  Nusa,  Satu  Bangsa,  Satu  Bahasa.  Ditahun  1928  untuk  pertama  kali  kami  menjanjikan  lagu  Kebangsaan  ,,Indonesia  Raya”.  Dan  ditahun  1928  itu  pulalah  aku  didakwa  didepan  Dewan  Rakjat.  Gubernur  Djendral  jang  menjatakan  kegiatanku  sebagai  persoalan  jang  serius  memperingatkan,  bahwa  ia  ,,sangat  menjesalkan  sikap  non-kooperasi  dari  P.N.I.,”  jang  katanja  ,,mengandung  unsur-unsur  jang  bertentangan  dengan  kekuasaan  Belanda.”Bulan  Desember  1928  aku  berhasil  mengadakan  suatu  federasi  dari  partaiku  sendiri—Partai    Nasronal    Indonesia— dengan    semua    partaipartai    utama    jang    berhaluan    kebangsaan.  Permufakatan   PerhimpunanPerhimpunan   Politik   Kebangsaan   Indonesia   ini,   jang   disingkat   P.P.P.   K.I.,  memungkinkan  kami  bergerak  dengan  satuan  kekuatan  jang  lebih  besar  daripada  jang  pernah  terdjadi  sebelumnja.  Dan  badan  inipun  memberikan  kemungkinan  bahaja  jang  lebih  besar  pula  kepadaku  sebagai  ketua  daripada  jang  pernah  kuhadapi  sebelumnja.Maka  mulailah  Pemerintah  Hindia  Belanda  mengadakan  pengawasan  jang  tak  kenal  ampun  terhadap  P.N.I.  dan  P.P.P.K.I.  Pengaruh  dari  utjapan-utjapanku  jang  sanggup   menggerakkan   rakjat-banjak   merupakan   antjaman   jang   njata   bagi   Belanda.   Apabila   Sukarno  berpidato, rakjat tentu berkumpul seperti semut.

 

 

Dengan  tuntutanku  kami  selegggarakanlah  kegiatan  bersama  diseluruh  pulau.  Rapat-rapat  jang  diadakan  pada  umumnja  dikendalikan  oleh  pembitjara-pembitjara  dari  P.N.I.  dalam  mana  Sukarno  mendjadi  tokoh-  penarik   jang   paling   banjak   diminta.   Pemerintah   Hindia   Belanda   mendjamin   apa   jang   dinamakannja  kemerdekaan  berbitjara,  asal  pertemuan  itu  diselenggarakan  ,,didalam  ruangan  dan  tidak  dapat  didengar  dari  luar”  dan  asal  rapat  diadakan  ,,dibawah  satu  atap  dan  dibatasi  oleh  empat  dinding”  dan  asal  jang  mendengarkan ,,diatas umur 18 tahun”.Merekapun menghendaki, supaja setiap pengundjung memperlihatkan  surat  undangan.  Djadi,  kami  tjetaklah  sendiri  undangan  itu  dan  dengan  diam-diam  membagikannja  pada  waktu  orang  masuk.  Uang  untuk  biaja  diterima  dari  orang-orang  jang  tidak  dikenal.  Seperti  misalnja  dari  amtenar bangsa Indonesia jang bersimpati dan setjara diam-diam menjerahkan sumbangannja kepada kami.   Untuk  mengadakan   rapat  umum  dilapangan  terbuka  kami  harus  minta  izin  dari  Pemerintah  seminggu  sebelumnja. Aturan jang menggelikan ini patut dihargai oleh karena kami dapat minta izin untuk mengutuk  pemerintah.Aku  teringat  akan  peristiwa  disuatu  hari  Minggu  di  Madiun.  Seperti  biasanja  kalau  Bung  Karno  berbitjara,  lapangan  rapat  begitu  sesak  sehingga  ada  diantaranja  jang  djatuh  pingsan.  Dibagian  depan,  diatas  kursi  jang  keras  dengan  sandarannja  jang  tegak  kaku,  duduklah  empat  orang  inspektur  polisi.  Sudah  mendjadi  kebiasaanku  untuk  memanaskan  hadirin  terlebih  dulu  dengan  pidato  orang  lain  sebelum  tiba  giliranku.  Kalau  aku  akan  berbitjara  selama  satu  djam,  maka  pembitjara  sebelumku  hanja  berpidato  lima  menit. Apabila aku berbitjara pendek sadja, orang jang berpidato sebelumku mengambil waktu 45 menit.Ali  djuga  hadir.  Kutanjakan  kepadanja,  apakah  dia  akan  menjampaikan  pidato  pokok.  ,,Tidak  Bung,  tidak  !”,  djawabnja menolak.

 

 

,,Bung tahu saja baru keluar dari pendjara. Saja harus mendjaga gerak-gerik saja. Kalau tidak begitu, polisi  akan  bertindak  lagi.  Biarlah  saja  duduk  sadja  dan  mendengarkan  Bung  Karno.  Terlalu  berbahaja  kalau  saja  bangkit  dan  berbitjara,  sekalipun  hanja  mengutjapkan  beberapa  perkataan.”Lautan  manusia  menunggu  giliranku.  Mereka  menunggu  dengan  hati  herdebar-debar.  Aku  duduk  dengan  tenang  diatas  panggung,  mendo’a’   seperti   masih   kulakukan   sekarang   sebelum   mulai   berpidato.   Ketua   memperkenalkanku,   aku  meminum  air  seteguk  dan  melangkah  menudju  mimbar.,,Saudara-saudara,”  kataku.  ,,Disebelah  saja  duduk  salah-seorang  dari  saudara  kita  jang  baru  sadja  keluar  dari  pendjara,  tidak  lain  karena  ia  berdjoang  untuk  tjita-tjita.  Tadi  dia  menjampaikan  kepada  saja  keinginannja  untuk  menjampaikan  beberapa  pesan  kepada  saudara-saudara.”Rakjat gemuruh menjambutnja. Ali sendiri hampir mau mati. Mata hari menjinarkan panas  jang  menghanguskan  akan  tetapi  Ali  berkeringat  lebih  daripada  itu.  Aku  tidak  mau  mendjerumuskannja  kedalam kesukaran. Akan tetapi setjara psychologis hal ini penting buat jang hadir, supaja mereka melihat  wadjah  salah-seorang  dari  pemimpinnja  jang  telah  meringkuk  dalam  pendjara  karena  memperdjuangkan  kejakinannja  dan  masih  sadja  mau  mentjoba  lagi.Dengan  hati  jang  berat  Ali  bangkit.  Ia  mengutjapkan  beberapa patah kata. Ialu duduk kembali dengan segera. Keempat inspektur polisi itu tidak mau melepaskan  pandangannja   dari   wadjah   Ali.   Kemudian   aku   berdiri   dan   mengambil-alih   ketegangan   dari   Ali   dan  menggelorakan  semangat  untuk  berontak.,,Sendjata  imperialisme  jang  paling  djahat  adalah  politik  ,,Divide  et  Impera”.  Belanda  telah  berusaha  memetjah-belah  kita  mendjadi  kelompok  jang   terpisah-pisah  jang  masing-masing membentji satu sama lain.

 

 

Kita  harus  mengatasi  prasangka  kesukuan  dan  prasangka  kedaerahan  dengan  menempa  suatu  kejakinan,  bahwa  suatu  bangsa  itu  tidak  ditentukan  oleh  persamaan  warna  kulit  ataupun  agama.  Ambillah  misalnja  Negara Swrss. Rakjat Swiss terdiri dari orang Djerman, orang Perantjis dan orang Italia, akan tetapi mereka  ini semna bangsa Swis. Lihat bangsa Amerika jang terdiri dari orang-orang jang berkulit hitam, putih, merah,  kuning. Demikian djuga Indonesia, jang terdiri dari berbagai matjam suku.,,Sedjak dunia terkembang, para  pesuruh  dari  Jang  Maha-Pentjipta  telah  mengetahui  bahwa  hanja  dalam  persatuanlah  adanja  kekuatan.  Mungkin saja ini seorang politikus jang berdjiwa romantik, jang terlalu sering memainkan ketjapi dari pada  idealisme. Ketika  orang Israel memberontak terhadap Firaun, siapakah jang menggerakkan kesaktian ? Jang  menggerakkan kesaktian itu adalah Musa. Nabi Musa ‘alaihissalam. Beliaupun bertjita-tjita tinggi. Dan apakah

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 47 dari 109

 

jang dilakukan oleh Nabi Musa ? Nabi Musa telah mempersatukan seluruh suku mendjadi satu kekuatan jang  bulat.

 

,,Nabi  Besar  Muhammad  sallallahu  ‘alaihi  wasallam  pun  berbuat  demikian.  Nabi  Besar  Muhammad  adalah  seorang  organisator  jang  besar.  Beliau  mempersatukan  orang-orang  jang  pertjaja,  mendjadikannja  satu  masjarakat jang kuat dan setjara gagah-perwira melawan peperangan peperangan, pengedjaran-pengedjaran  dan melawan penjakit dari djaman itu.,,Saudara-saudara, apabila kita melihat suatu gerakan didunia, mula  mula    kita   lihat   timbulnja   perasaan   tidak   senang.   Kemudian   orang   bersatu   didalam   organisasi.   Lalu  mengobarkan  revolusi  !  Dan  bagaimana  pula  dengan  pergerakan  krta  ?  Pergerakan  kitapun  demikian  djuga.  Maka oleh karena itu, saudara-saudara, marilah kita ikuti djedjak badan kita jang baru, jaitu P.P.P.K.I., iang  meliputi seluruh tanah-arr. Hajolah kita bergabung mendiadi keluarga jang  besar dengan satu tudjuan jang  besar:  menggulingkan  Pemerintah  Kolonial.  Melawannja  bangkit  bersama-sama  dan………  ”Inspektur  Polisi  jang memakai tongkat memukulkan tongkatnja sambil berteriak, ,,Stop…. Stop…..”

 

Kemudian    keempat-empatnja    me-lompat    dari    tempat-duduk    mereka.    Rakjat    jang    sudah    tegang  pikirannjaberada   dalam   suasana   berbahaja   karena   polisi   mengantjamku   dan   me-reka   seperti   hendal  menierang keempat inspektur itu ketika seorangmemandjat keatas panggung dan bertari kebelakang sambil  bersiulminta  bantuan.  Lima  menit  kemudian  muntjullah  sebuah  bis  membawa  40  orang  polisi  bersendjata  lengkap.   Aku   ditarik   kebelakang   panggung,turun   tangga   menudju   kedjalanan   dan   diiringkan   kekantor  polisi.Setelah  mendapat  peringatan  jang  sungguh-sungguh  aku  dibebaskan  lagi.  ,,Djangan  mentjan  perkara,  tuan  Sukarno.  Kalau  terdjadi  sekali  lagi,  kami  akan  giring  tuan  kedalam  tahanan.  Tuan  akan  meringkuli  dibelakang djeradjak-besr untuk waktu iang lama. Mulai sekarang ini djagalah langkah tuan. Tuan tidak akan  begitu  bebas  lagi  lain  kali  “Malam  itu  Inggit  mendapat  suatu  bajangan  mimpi.  Ia  melihat  polisi  berpakaian  seragam menggeledah rumah kami. Penglihatan ini datang lagi kepadanja dengan kekuatan jang sama persis  sampai  jang  seketjilketjilnja  selama  lima malam  berturut-turut.  Dihari  jang  kelima  aku  harus  pergi  ke  Solo  untuk menghadiri rapat umum. Dengan sedih ia mengikutiku sampai kepintu depan. Wadjahnja berkerut dan  tegang. Sewaktu aku pergi, suatu firasat telah menjekap batinja. Ia memanggil nama-kecilku dengan lembut.  ,,Kus,” katanja lunak, ,,Djangan pergi………djangan kau pergi.”

 

 

Bab 9

 

Masuk Tahanan

 

SEPANDJANG  hari  dan  malam  senantiasa  melekat  dikepala  kami  antjaman  masuk  pendjara.  Didalam  Kitab  Undang-Undang   Hukum   Pidana   telah   dinjatakan,   bahwa:   ,,Seseorang   jang   kedapatan   mengeluarkan  perasaan-peraeaan   kebentjian   atau   permusuhan   setjara   tertulis   maupun   lisan— atau   seseorang   jang  berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan-kegiatan jang menghasut untuk mengadakan  pengatjauan   atau   pemberontakan   terhadap   pemerintah   Belanda,   dapat   dikenakan   hukuman   setinggi-  tingginja tudjuh tahun pendjara.” Dengan semakin pesatnja pertumbuhan dari P.P.P.K.I., maka pengawasan  terhadap  Sukarno  semakin  diperkeras  pula.  Aku  sudah  mendapat  peringatan  dan  aku  menjadari  sungguh-  sungguh  akibat  dan  peringatan  ini.  Semua  orang  revolusioner  bertindak  demikian.  Ini  adalah  bagian  dari  peperangan  hebat  jang  kami  djalankan.  Dalam  perdjalanan  ke  Solo  dengan  salah  seorang  wakil  dari  P.N.I.,  Gatot   Mangkupradja,   aku   menjinggung   soal   ini.   ,,Bung,   setiap   agitator   dalam   setiap   revolusi   tentu  mengalami nasib masuk pendjara,” aku menegaskan.

 

 

,,Disuatu  tempat,  entah  dengan  tjara  bagaimana,  suatu  waktu  tangan  besi  dari  hukum  tentu  akan  djatuh  pula  diatas  pundakku.  Aku  mempersiapkanmu  sebelumnja.”,,Apakah  Bung  Karno  takut  ?”  tanja  Gatot.  ,,Tidak,  aku  tidak  takut,”  djawabku  dengan  djudjur.  ,,Aku  sudah  tahu  akibatnja  pada  waktu  memulai  pekerdjaan  ini.  Akupun  tahu,  bahwa  pada  satu  saat  aku  akan  ditangkap.  Hanja  soal  waktu  sadja  lagi.  Kita  harus  siap  setjara  mental.”  ,,Kalau  Bung,  sebagai  pemimpin  kami,  sudah  siap,  kamipun  siap.”  katanja.  ,,Seseorang  hendaknja  djangan  melibatkan  dirinja  kedalam  perdjuangan  mati-matian,  djika  ia  sebelumnja  tidak  insjaf  akan  akibatnja.  Musuh  akan  mengerahkan  segala  alat-alatnja  berulang-ulang  kali  supaja  dapat  terus-menerus   memegang   tjengkeramannja   jang   mematikan.   Tapi,   sekalipun   berabad-abad   mereka  mendjerumuskan  puluhan  ribu  rakjat  masuk  bui  dan  masih  sadja  melemparkan  kita  kedalam  pembuangan  ditempat-tempat  jang  tidak  berpenduduk,  djauh  dari  masjarakat  manusia,  saatnja  akan  tiba  pada  waktu  mana  mereka  akan  musnah  dan  kita  memperoleh  kemenangan.  Kemenangan  kita  adalah  suatu  keharusan  sedjarah—tidak  bisa  dielakkan.”,,Kata-kata  itu  memberikan  keberanian  padaku,  Bung  Karno.”  kata  Gatot.  ,,Dalam   perdjalanan   diatas   gerobak-sampah   menudju   ketiang-gantungan,   Pemimpin   Revolusi   Perantjis  berkata  kepada  dirinja  sendiri:  ‘Aurlace,  Danton  Toujours  de  l’audace’.  Ia  terus-menerus  mengulangi  kata-  kata  itu:  ‘Beranikan  dirimu,  Danton.  Djangan  kau  takut  !’  Karena  ia  jakin,  bahwa  perbuatan-perbuatannja  akan dilukis dalam sedjarah dan tantangan terhadapnjapun merupakan saat jang bersedjarah.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 48 dari 109

 

Dia  tidak  pernah  meragukan  akan  datangnja  kemenangan  jang  terachir  dan  gilang-gemilang.  Djadi,  akupun  begitu.”,,Ada diantara pedjuang  kita  jang  selalu keluar masuk bui setjara  tetap,” kata Gatot menerangkan.  ,,Seorang  pemimpin  jang  di  Garut.  Dia  sudah  masuk  14  kali.  Pembesar  disana  menamakannja  sebagai  pengatjau.  Dalam  djangka  waktu  enam  tahun  dia  meringkuk  selama  enam  bulan  didalam  pendjara,  setelah  itu  bebas  selama  dua  bulan,  lalu  masuk  selama  enam  bulan  dan  keluar  lagi  tiga  bulan,  kemudian  delapan  bulan dibelakang djeradjak besi. Setelah itu dia bebas lagi selama satu setengah tahun dan hukumannja jang  terachir adalah dua tahun.”Kami berangkat dengan taksi. Supir kami, Suhada, tergolong sebagai simpatisan.  Dia   sudah   terlalu   tua   untuk   dapat   mengikuti   kegiatan   kami.   Dia   turut   dengan   kami   tjuma   untuk  mendengarkan dan menjaksikan sadja. Sedjak permulaan perdjalanan Suhada tidak membuka mulutnja, tapi  kini  dia  bertanja  dengan  ramah,  ,,Berapa  banjak  saudara-saudara  kita  jang  meringkuk  dalam  pembuangan  ?”Aku tidak perlu berpikir mendjawabnja. Aku tahu djumlahnja diluar kepala. ,,Lebih dari duaribu dibuang di  Tanah Merah, ditengah-tengah hutan Boven Digul di Nieuw Guinea jang keadaannja masih seperti di Djaman  Batu. Dan pada waktu pembawa-pembawa obor kemerdekaan ini diusir masuk kedalam hutan lebat, mereka  pergi  dengan  tersenjum.  Ketika  mereka  tidak  mau  mundur  setapakpun  dari  kejakinannja,  maka  300  orang  diantaranja  dibawa  ketempat  jang  lebih  menjedihkan,  jaitu  kamp  konsentrasi  di  Tanah  Tinggi.  Disitu  bertaburanlah kuburan mereka.

 

 

Dari  jang  300  orang  itu  hanja  04  orang  jang  masih  hidup.”,,Pengorbanan  seperti  itu  telah  pula  terdjadi  dipulau Muting dan pulau Banda,” kataku melandjutkan. ,,Tapi ingatlah, tidak ada pengorbanan jang sia-sia.  Ingatkah   engkau   tentang   keempat   pemimpin   jang   digantung   di   Tjiamis   ?”Mereka   menganggukkan  kepala.,,Salah  seorang  dari  mereka  berhasil  menjusupkan  surat  kepadaku  dimalam  sebelum  mendjalani  hukumannja.   Surat   itu   berbunji:   ‘Bung   Karno,   besok   saja   akan   mendjalani   hukuman   gantung.   Saja  meninggalkan  dunia  jang  fana  ini  dengan  hati  gembira,  menudju  tiang-gantungan  dengan  kejakinan  dan  kekuatan  batin,  oleh  karena  saja  tahu  bahwa  Bung  Karno  akan  melandjutkan  peperangan  ini  jang  djuga  merupakan  peperangan  kami.  Teruslah  berdjuang,  Bung  Karno,  putarkan  djalannja  sedjarah  untuk  semua  kami  jang  sudah  mendahului  sebelum  perdjuangan  itu  selesai.'”Keadaan  dalam  mobil  mendjadi  sunji.  Tak  seorangpun  jang  hendak  mengutjapkan  sesuatu.  Suhada  terus  mengemudikan  kendaraan  dengan  air  mata  berlinang.  Satu-satunja  suara  ialah  denjutan  djantung  kami  jang  menderap-derap  serentak  dalam  satu  pukulan  irama.  Di  Solo  dan  dekat  Djogjakarta  kami  mengadakan  beberapa  rapat  umum.  Malam  itu  aku  berbitjara  untuk  pertamakali  tentang  ,,Perang  Pasifik”  jang  akan  berkobar.  Tahun  ini  adalah  1929.  Setiap  orang mengira aku ini gila. Dengan darahku jang mengalir tjepat karena golakan perasaan jang gembira dan  hampir   tak   tertahankan,   keluarlah   dari   mulutku   utjapan   jang   sekarang   sudah   terkenal:   ,,Imperialis,  perhatikanlah !

 

 

Apabila  dalam  waktu  jang  tidak  lama  lagi  Perang  Pasifik  menggeledek  dan  menjambar-njambar  membelah  angkasa,  apabila  dalam  waktu  jang  tidak  lama  lagi  Samudra  Pasifik  mendjadi  merah  oleh  darah  dan  bumi  disekelilingnja  menggelegar  oleh  ledakan-ledakan  bom  dan  dinamit,  maka  disaat  itulah  rakjat  Indonesia  melepaskan  dirinja  dari  belenggu  pendjadjahan  dan  mendjadi  bangsa  jang  merdeka.”  Utjapan  ini  bukanlah  ramalan tukang-tenung, iapun bukan pantulan daripada harapan berdasarkan keinginan belaka. Aku melihat  Djepang   terlalu   agressif.   Bagiku,   apa   jang   dinamakan   ramalan   ini   adalah   hasil   daripada   perhitungan  berdasarkan  situasi  revolusioner  jang  akan  datang.  Rapat  ini  bubar  pada  waktu  tengah  malam.  Kami  bermalam  dirumah  Sujudi,  seorang  pengatjara  dan  anggota  kami  di  Djogja  jang  tinggal  pada  djarak  kurang  dari  dua  kilometer  dari  situ.  Kami  memasuki  tempat-tidur  pada  djam  satu.Djam  lima  pagi,  ketika  dunia  masih  gelap  dan  sunji,  kami  terbangun  oleh  suara  jang  keras.  Ada  orang  menggedor  pintu.  Aku  terbangun  begitu tiba-tiba, sehingga pada detik itu aku mengira ada tetangga jang berkelahi. Gedoran itu masih terus  terdengar. Ia semakin lama semakin keras, semakin lama semakin mendesak Gedoran ini diiringi oleh suara  jang  kasar  disekitar  rumah  Sujudi.  ,,Inikah  rumah  tempat  pemimpin  revolusioner  menginap  ?”  satu  suara  bertanja.   ,,Jah,   inilah   tempatnja,”   suara   garang   jang   lain   mendjawab.   Kemudian   lebih   banjak   suara  terdengar  meneriakkan  perintah-perintah.  ,,Kepung  rumah  ini—halangi  pintu—.”  Sementara  itu  bunji  jang  meremukkan  dari  pukulan  gada  dipintu  ……………  semakin  lama  semakin  keras,  kian  lama  kian  tjepat.  Dengan  gemetar  aku  menjadari,  bahwa  inilah  saatnja.  Nasibku  sudah  pasti.  Gatot  Mangkupradja  jang  pertama pergi kepintu. Ia membukanja dan masuklah seorang inspektur Belanda dengan setengah lusin polisi  bangsa  Indonesia.  Kami  menamakannja  ,,reserse”.  Semua  berpakaian  seragam.  Semua  memegang  pistol  ditangan.  Mereka ini adalah pemburu. Kami binatang buruan. Rentak sepatu jang menundjukkan kekuasaan  terdengar  menggema  keseluruh  daerah  sebelah-menjebelah,  rentak  sepatu  pada  waktu  mereka  menderap  sepandjang rumah.

 

 

Orang  kulitputih  jang  bertugas  itu  berteriak,  ,,Dimana  kamar  tempat  Sukarno  tidur  ?”Kamarku  sebelah-  menjebelah  dengan  kamar  Sujudi.  Ketudjuh  orang  itu  berbaris  melalui  kamar  Sujudi  dan  terus  kekamarku.  Aku  keluar  dari  tempat-tidur  dan  berdiri  disana  dengan  pakaian  pijama.  Aku  tenang.  Sangat  tenang.  Aku  tahu,  inilah  saatnja.  Inspektur  itu  berhadap-hadapan  denganku  dan  berkata,  ,,Atas  nama  Sri  Ratu  saja  menahan  tuan.”  Aku  telah  mempersiapkan  diri  selalu  untuk  menghadapi  kesulitan.  Betapapun,  pada  waktu  tiba  saatnja  timbul  djuga  perasaan  jang  tidak  enak.,,Kenakan  pakaian  tuan,”  ia  memerintahkan.  ,,Dan  ikut  dengan saja.” Ia berdiri dalam kamar itu dan menungguku berpakaian. Aku tidak diizinkan membawa barang-

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 49 dari 109

 

barangku. Bahkan tas dengan pakaian penggantipun tidak boleh. Hanja jang lekat dibadanku.Diluar, dengan  senapan  dalam  sikap  sedia,  berdiri  50  orang  polisi  mengepung  rumah  dengan  sekitarnja  dan  djalan  jang  menudju kesana. Tiga buah mobil telah siap. Jang tengah adalah kendaraan chusus dimana kami, pendjahat-  pendjahat  jang  berbahaja,  dimasukkan  dan  diiringkan  kekantor  polisi.  Kedalam  mobil  itu  dimasukkan  pula  Gatot  dan  supir  taksi  itu,  jang  samasekali  tidak  bersalah  dalam  menghasut  rakjat.  Kesalahannja  hanjalah  karena ia terlalu mentjintai.

 

Ia  mentjintai  negerinja,  dan  ia  mentjintai  pemimpinnja.  Suhada  dibebaskan  segera,  akan  tetapi  sementara  itu  mereka  mentjatat  namanja,  karena  orang  inipun  kelihatan  seperti  pendjahat  besar  dimata  mereka.  Beberapa   tahun   kemudian   ia   meninggal.   Permintaannja   jang   terachir   ialah,   ,,Tolonglah,   saja   ingin  mempunjai  potret  Bung  Karno  didada  saja.”  Permintaannja  itu  dipenuhi.  Ia  lalu  melipatkan  tangannja   jang  kerisut  memeluk  potretku  dan  kemudian  berlalu  dengan  tenang.  Dengan  pendjagaan  jang  kuat,  diiringkan  dikiri-kanan   oleh   sepeda   motor   dan   dengan   sirene   meraung-raung   dan   lontjeng   berdentang-dentang,  Sukarno, Gatot dan sopir tua itu dibawa ke Margangsan, pendjara untuk orang gila.Kami  diperiksa satu demi  satu  dan  dimasukkan  kedalam  sel.  Ketika  pintu  besi  terkuntji  rapat  dimuka  kami,  seluruh  dunia  kami  tertutup.  Kami  berada  dalam  kesunjian.  Segala  sesuatu  terdjadi  begitu  tjepat,  sehingga  kami  tidak  punja  kesempatan untuk menjelundupkan sepatah kata kepada pengikut kami. Tidak seorangpun jang mengetahui  dimana kami berada. Mereka bahkan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk mengadakan kontak dengan  Inggit.  Tidak  ada  pertjakapan.  Kami  tidak  diperbolehkan  apa-apa.  Sekalipun  demikian,  apa  hendak  dikata.  Kami tahu apa artinja ini dan masing-masing tenggelam dengan pikirannja sendiri. Apa jang terlintas dalam  pikiranku ialah, bahwa aku tidak memperoleh firasat. Tidak ada tanda-tanda bahaja.

 

 

Aku  dengan  mudah  tertidur  malam  itu  tanpa  mengalami  sesuatu  sensasi,  bahwa  pada  tanggal  9  Desember  1929  bagi  kami  akan  mendjadi  hari  nahas.  Semua  ini  mengedjutkanku.  Seluruh  gerakan  telah  mereka  rentjanakan  dengan  baik.  Djam  dua  siang  kami  diberi  nasi.  Sebelum  dan  sesudah  itu  tidak  ada  hubungan  dengan seorangpun. Setelah satu hari satu malam penuh esok paginja seperti dipagi sebelumnja tepat djam  lima  polisi  datang.  Mereka  tidak  berkata  apa-apa.  Pun  tidak  menjampaikan  kemana  kami  akan  dibawa.  Begitupun  tentang apa jang akan diperbuat terhadap  kami. Dua buah kendaraan membawa kami kestasiun.  Empat  orang  polisi  dengan  uniform  dan  pistol  duduk  ditiap  kendaraan  itu.  Pengangkutan  ini  direntjanakan  sampai   kepada   menit   dan   detiknja.   Begitu   kami   sampai,   sebuah   kereta-api   hendak   berangkat.   Kami  diperintahkan  naik.  Sebuah  gerbong  istimewa  telah  tersedia  buat  kami.  Pintu-pintu  pada  kedua  udjungnja  dikuntji,  setiap  djendela  ditutup  rapat.  Kami  dilarang  berdjalan-djalan  atau  berdiri  untuk  maksud  apapun  djuga. Kalau kami akan pergi kebelakang seorang sersan mengiringkan kami.

 

 

Dengan diapit oleh polisi duduklah kami ditempat jang berhadap-hadapan. Selama 12 djam tidak boleh buka  mulut.  Satu-satunja  jang  dapat  kukerdjakan  sehari  penah  ialah  memandangi  Belanda  jang  pandir  itu.  Djam  tudjuh  malam  kami  diperintahkan  turun  di  Tjitjalengka  jang  letaknja  30  kilometer  dari  Bandung.  Mereka  dengan sengadja menurunkan kami disitu untuk menghindarkan ketegangan jang mungkin timbul. Disana satu  pasukan  barisan  pengawal  telah  menantikan  kami.  Lima  Komisaris,  dua  pengendara  sepedamotor,  setengah  lusin    inspektur    beserta    arak-arakan    kami    jang    terdiri    dari    sedan-sedan    hitam    meluntjur    ke  Bandung.Perdjalanan  itu  tidak  lama.  Kami  hanja  sempat  menggetar  gugup  sesaat  ketika  sampai  dirumah  kami jang baru. Di-depannja tertulis: Rumah Pendjara Bantjeuj.

 

Bab 10

 

Pendjara Bantjeuj

 

BANTJEUJ adalah pendjara tingkat rendah. Didirikan diabad kesembilanbelas, keadaannja kotor, bobrok dan  tua. Disana ada dua matjam sel. Jang satu untuk tahanan politik, satu lagi untuk tahanan pepetek. Pepetek  — sebangsa ikan jang murah dan mendjadi makanan orang jang paling miskin — adalah nama djulukan untuk  rakjat djelata.

 

Pepetek  tidur  diatas  lantai.  Kami  tahanan  tingkat  atas  tidur  diatas  pelbed  besi  jang  dialas  dengan  tikar-  rumput setebal karton. Makanannja makanan pepetek nasi merah dengan sambal. Segera setelah aku masuk,  rambutku  dipotong  pendek  sampai  hampir  botak  dan  aku  disuruh  memakai  pakaian  tahanan  berwarna  biru  pakai nomor dibelakangnja.

 

Rumahku  adalah  Blok  F.  Suatu  petak  jang  terdiri  dari  36  sel  menghadap  kepekarangan  jang  kotor.   32  buah  masih tetap kosong. Mulai cari udjung maka empat buah nomor jang berturut-turut telah terisi. Aku tinggal  dinomor   lima.  Gatot   tudjuh.   Esok   paginja   Maksum   dan   Supriadinata,   dua   orang   wakil   P.N.I.  lainnja,  dimasukkan berturut-turut kenomor sembilan dan sebelas.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 50 dari 109

 

Penahanan kami bukanlah keputusan jang mendadak. Ia telah dipersiapkan dengan baik—sampai kepada sel-  selnja.  Berbulan-bulan  sebelum  kami  ditangkap,  kawan-kawan  di  Negeri  Belanda  telah  menulis,  ,,Hati-  hatilah.  Pemerintah  Belanda  lebih  mengetahui  tentang  kegiatanmu  daripada  jang  kauketahui  sendiri.  Tidak  lama lagi engkau akan ditangkap.”

 

Sebagaimana kuketahui dari Maskun dan Supriadinata, jang ditangkap di Bandung pada saat jang bersamaan  denganku,  diminggu  pagi  itu  telah  diadakan  penggeledahan  diseluruh  Djawa.  Ribuan  orang  telah  ditahan,  termasuk  40  orang  tokoh  P.N.I.,  dengan   dalih  bahwa  Pemerintah  telah  mengetahui  tentang  rentjana  pemberontakan bersendjata jang katanja akan diadakan pada permulaan tabun 1930. Ini bohong. Ini adalah  tipu-muslihat,  agar  dapat  mengeluarkan  perintah  segera  untuk  menangkap  Sukarno.  Malam  itu  kereta-api  didjaga,   stasiun-stasiun   bis   dikepung,   milik   perseorangan   disita   dan   diadakan   penjergapan   setjara  menjeluruh dan serentak dirumah-rumah dan kantor-kantor kami diseluruh Djawa dan Sumatra.

 

Usaha  untuk  memperingatkanku  gagal.  Polisi  menjelidiki  dimana  aku  berada.  ,,Dimana  Sukarno  ?”  tanja  mereka ketika datang memeriksa rumah Ali Sastroamidjojo di Solo dimana aku bermalam dihari sebelumnja.  Ali meneruskan berita ini, akan tetapi pada waktu ia mengadakan hubungan dengan Djogja, kepadanja telah  disampaikan,  ,,Terimakasih  atas  peringatan  itu.  Mereka  telah  membawa  Bung  Karno  sepuluh  menit  jang  lalu.”

 

Gatot,  Maskun,  Supriadinata  dan  aku  dipisahkan  samasekali  dan  masjarakat  luar.  Tidak  boleh  menerima  tamu.  Tidak  ada  hubungan.  Tak  seorangpun  jang  dapat  kami  lihat,  termasuk  tahanan  jang  lain.  Tak  seorangpun  jang  dapat  mendekati  kami.  Setelah  beberapa  hari  datang  seorang  penjelidik  chusus  dan  berlangsunglah  pemeriksaan.  Ia  menanjaku  minggu  demi  minggu  selama  tiga  bulan.  Aku  tidak  mengerti,  mengapa dia begitu susah-susah. Persoalannja sudah tjukup djelas. Ini bukan perkara perampokan, dalam hal  mana  mereka  harus  menjiasati  dimana  barang-barang  rampokan  itu  disembunjikan.  Ini  bukan  perkara  kedjahatan,  dimana  mereka  harus  mengetahui  sebab-sebabnja.  Mereka  tahu  apa  jang  kami  lakukan  dan  mengapa kami melakukannja.

 

Selku  lebarnja  satu  setengah  meter—  separonja  sudah  terpakai  untuk  tidur—  dan  pandjangnja  betul- betul  sepandjang   peti-majat.   Ia   tidak   berdjendela   tempat   mendjenguk   dan   tidak   berdjeradjak   supaja   bisa  mengintip  keluar.  Tiga  buah  dinding  dari  kuburanku  adalah  semen  mulai  dari  lantai   sampai  keloteng.  Pendjara  Belanda  didjaman  kami  tidak  dapat  disamakan  dengan  pendjara  jang  bisa  disaksikan  dilajarputih  dimana pendjahat didjebloskan kedalam sel jang luas berdjeradjak besi, pakai lampu dan masuk udara dari  segala  pendjuru.  Pintu  kami  terbuat  dari  besi  hitam  padat  dengan  sebuah  lobang  ketjil.  Lobang  ini  ditutup  dari  luar.  Pendjaga  dapat  melihat  kedalam,  akan  tetapi  ia  tertutup  buat  kami.  Tepat  setinggi  mata  ada  sebuah  tjelah  tempat  mengintip  lurus  keluar.  Dari  tjelah  itu  aku  tidak  mungkin  melihat  arah  kebawah,  keatas  ataupun  kesamping.  Pun  tidak  mungkin  melihat  daerah  sekitar  itu  seluruhnja  ataupun  melihat  mata  lain  jang  mengerdip  kepadamu  dari  balik  pintu  besi  diseberangnja.  Sesungguhnja  tiada  jang  terlihat  selain  tembok dan kotoran.

 

Tempat itu gelap, lembab dan melemaskan. Memang, aku telah lebih seribu kali menghadapi hal ini semua  dengan  diam-diam  djauh  dalam  kalbuku  sebelum  ini  akan  tetapi  ketika  pintu  jang  berat  itu  tertutup  rapat  dihadapanku  untuk  pertama  kali,  aku  rasanja  hendak  mati.  Pengalaman  jang  meremukkan.  Aku  adalah  seorang  jang  biasa  rapi  dan  pemilih.  Aku  adalah  seorang  jang  suka  memuaskan  perasaan.  Aku  menjukai  pakaian  bagus,  makanan  enak,  mentjintai  sesuatu  dan  tak  dapat  menahankan  pengasingan,  kekotoran,  kekakuan,   penghinaan-penghinaan   kedji   jang   tak   terhitung   banjaknja   dari   kehidupan   tawanan.   Aku  berdjingkat  diudjung  djari  kaki  mengintip  melalui  tjelah  itu  dan  berbisik,  ,,Engkau  terkurung,  Sukarno.  Engkau terkurung.”

 

Hanja tjitjaklah jang mendjadi kawanku selama berada di Bantjeuj. Binatang ketjil jang abu-abu kehidjauan  itu dapat berobah warna menurut keadaan sekitarnja. Ia sering terlihat merangkak disepandjang loteng dan  dinding kalau hari sudah mulai gelap. Didaerah beriklim panas binatang – binatang ini merupakan penangkis  njamuk tjiptaan alam. Mungkin  orang lain  tidak menjukai binatang ini dan  tidak menganggapnja  lutju,  tapi  bagiku ia adalah tjiptaan Tuhan jang paling mengagumkan selama aku berada dalam tahanan.

 

Makanan  kami  diantarkan  kesel.  Djadi  apabila  tjitjak-tjitjakku  berkumpul,  akupun  memberinja  makan.   Kuulurkan  sebutir  nasi  dan  menantikan  seekor  tjitjak  ketjil  merangkak  dari  atas  loteng.  Tentu  ia  akan  merangkak turun didinding, mengintip kepadaku dengan mata seperti butiran mutiara, kemudian melompat  dan memungut nasi itu, lalu lari lagi. Aku tetap duduk disana menantikannja dengan tenang tanpa bergerak  dan, lima menit kemudian ia datang lagi dan aku memberikan butiran nasi jang lain. Ja, aku menjambutnja  dengan  senang  hati  dan  mendjadi  sangat  terpikat  kepada  binatang  ini.  Dan  aku  sangat  bersjukur,  karena  masih ada machluk hidup jang turut merasakan pengasinganku ini bersama-sama.

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 51 dari 109

 

Jang  paling  menekan  perasaan  dalam  seluruh  penderitaan  itu  adalah  pengurungan.  Seringkali  djauh  tengah  malam aku merasa seperti dilak rapat dalam kotak ketjil berdinding batu jang begitu sempit, sehingga kalau  aku   merentangkan   tangan,   aku   dapat   menjentuh   kedua   belah   dindingnja.   Dan   aku   tidak   dapat  menahankannja. Rasanja aku tidak dapat bernapas. Kupikir lebih baik aku mati.

 

Ketika keadaan ini semakin terasa menekan, suatu perasaan gandjil menjusupi diriku. Ada saat-saat dimana  badanku  terasa  membesar  melebihi  daripada  biasa.  Suatu  perasaan  mentjekam  diriku,  djauh  samasekali   daripada  keadaan  normal.  Aku  berbaring  diatas  tempat  tidurku  jang  keras  dan  memedjamkan  mata.  Tapi  keras,  tertutup  keras.  Dengan  pelahan,  karena  bajangan  pikiran  jang  kuat,  aku  merasa  tangan  kananku  membesar.  Ia  semakin  besar  ……..besar  ………besar…….  besar  ……..besar  ……..lebih  besar  dari  pada  selku  sendiri.  Ia  mengembang  dan  mengembang,  dan  membinasakan  dinding  sel.  Tangan  kanan  adalah  lambang   kekuatan,   namun   apakah   ini   sebagai   pertanda   daripada   hari-depanku   atau   tidak,   aku   tidak  mengerti.  Aku  hanja  tahu,  bahwa  hal  ini  datang  menguasai  diriku  disaat  aku  berada  dalam  keadaan  sangat  tertekan.  Dan  kemudian  ia  menjusut  lagi  setjara  pelahan  ………pelahan  ……..pelahan  sekali  sampai  ia  mentjapai  ukuran  jang  biasa  lagi.  Kadang-kadang  dimalam  itu  djuga  ia  muntjul  kembali.  Aku  tak  pernah  melihat, akan tetapi aku merasakannja.

 

 

Aku  mengalami  suatu  bajangan  jang  lain.  Pendjara  Bantjeuj  terletak  dipusat  kota,  tidak  diluar  ditengah-  tengah tempat jang lapang. Disana tidak ada burung. Sekalipun demikian, djauh ditengah malam, bila semua  sudah senjap ketjuali pikiranku, dan disaat Gatot, Maskun dan Supriadinata sudah tidur njenjak semua, aku  mendengar burung perkutut diatas atap kamarku. Kudengar burung-burung itu bersiul dan rnenjanji, begitu  djelas seakan ia hinggap dipangkuanku. Tak seorangpun pernah mendengarnja, ketjuali aku. Dan aku sering  mendengarnja.

 

Setelah  empatpuluh  hari,  aku  diizinkan  untuk  pertamakali  bertemu  dengan  Inggit.  Sampai  saat  itu  tiada  hubungan  apapun  djuga.  Bahkan  suratpun  tidak.  Kami  bertemu  diruang  tamu.  Djaring  kawat  memisahkan  kami.  Pendjaga-pendjaga  berdiri  disekeliling  menuliskan  segala  jang  kami  utjapkan.  Kami  boleh  berbahasa  Indonesia  atau  Belanda,  dan  tidak  boleh  dalam  bahasa  daerah.  Kami  tidak  boleh  saling  berpelukan.  Itu  terlarang.  Dan  jang  kedua,  bukanlah  mendjadi  kebiasaan  orang  Timur.  Isteriku  hanja  memandang  kedalam  mataku dan dengan seluruh kasih jang dapat ditjurahkannja ia berkata, ,,Apa kabar ?”

 

Aku tersenjum dan berkata, ,,Baik, terimakasih.”

 

Apa  lagi  jang  dapat  kuutjapkan  ?  Demikian  banjak  jang  harus  ditjurahkan,  sehngga  apa  lagi  jang  dapat  kuutjapkan?  Dalam   lima   menit   jang   diberikan   kepada   kami,   kami   membitjarakan   bajangan   gaib   jang  diperolehnja. lnggit senantiasa mendjadi djimat bagiku. Kemana sadja aku pergi, dia  turut. Akan tetapi kali  ini adalah jang pertama kali ia tidak ikut denganku.

 

Baru sekarang setelah dalam tawanan ia menerangkan, ,,Aku tinggal diminggu itu karena aku kuatir, kalau-  kalau  polisi-polisi  jang  kulihat  dalam  bajangan  itu  betul-betul  datang  dan  menggerebek  rumah.  Memang  itulah jang terdjadi. Persis seperti jang kulihat dalam bajanganku itu.”

 

Pendjaga memberi isjarat supaja berbitjara lebih keras. ,,Apakah hidupmu terdjamin ?” tanjaku.

 

,,P.N.I.  memberiku  uang  dan  kawan-kawanmu  djuga  mengirimi  uang  dan  oleh-oleh  kalau  mereka  datang  mendjengukku. Djangan susahkan tentang diriku.

 

Bagaimana  keadaanmu  ?”  Bagaimana  keadaanku  ?  Darimana  aku  akan  mulai  bertjeritera  kepadanja.  Kami  terlalu  saling  mentjintai  satu  sama  lain  untuk  bisa  rnemikul  bersama-sama  beban  jang  berat  dalam  hati  kami.  Aku  tidak  ingin  dia  turut  merasakan  detik-detik  jang  berat  dalam  siksaan  dan  iapun  tidak  ingin  aku  turut   merasakan   kesusahannja.   Kami   berbitjara   bagai   dua   orang   asing   ditengah   djalan.   Aku   ingin  menahannja.  Aku  ingin  meneriakkan  bahwa  aku  mentjintainja  dan  perlakuan  terhadap  kami  tidak  adil  samasekali.  Akan  tetapi  dengan  nada  jang  hambar  tiada  bergaja-hidup  aku  bersungut,  ,,Semua  baik.  Aku  tidak mengeluh.”

 

Pengawas  pendjara  di  Bantjeuj  orang  Belanda  semua.  Ditingkat  jang  lebih  rendah,  jaitu  mereka   jang  sebenarnja memegang kuntji, adalah orang-orang Indonesia. Blok dari sel kami jang terpisah didjaga chusus  oleh  seorang  sipir  jang  tugasnja  semata-mata  mengawasi  kami.  Bung  Sariko  baik  sekali  terhadapku.  Ia  mengakui tawanan jang istimewa ini sebagai pemimpin politiknja. Ia adalah pendjagaku,  akan tetapi dalam  hatinja ia mengakui bahwa aku pelindungnja.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 52 dari 109

 

Setjara  diam-diam  semua  petugas  pendjara  berpihak  kepadaku.  Selalu  mereka  berbuat  sesuatu  untukku.  Sarikolah  jang  pertama-tama  membuka  djalan  dengan  memberiku  rokok,  buku-buku  dan  membawa  berita  bahwa  Iskaq,  bendahara  kami,  telah  ditahan.  Setelah  memperlihatkan  kesungguhannja,  disuatu  pagi  ia  berbisik,  ,,Bung,  kalau  hendak  menjampaikan  pesan  kedalam  atau  keluar,  katakanlah.  Saja  akan  bertindak  sebagai perantara. Inilah tjara saja untuk menjumbangkan tenaga.”

 

Suratkabar  tidak  dibolehkan  samasekali.  Disaat  itu  keinginanku  untuk  memperolehnja  melebihi  daripada  segala sesuatu didunia ini, ,,Suratkabar, Bung,” aku berbisik kembali. ,,Tjarikanlah saja suratkabar.”

 

Dihari  berikutnja  aku  berada  dikamar-mandi  mentjutji  dibak.  Pada  waktu  mengambil  handuk  aku  dapat  merasakan ada suratkabar dilipatkan kedalamnja. Dihari selandjutnja ketika makananku diantarkan kedalam,  sebuah suratkabar diselipkan dibawah piring.

 

Aku  memikirkan  suatu  akal,  sehingga  kami  semua  dapat  membatjanja.  Aku  berhasil  memperoleh  benang-  djahit  dan  pada  djam  enam,  sebelum  dikurung  untuk  malam  hari,  aku  merentangkan  benang  halus  itu  ditanah  sepandjang  empat  sel,  sehingga  ia  merentang  dari  pintuku  kepintu  Supriadinata.  Kalau  aku  sudah  selesai membatja suratkabar itu, kuikatkan ia keudjung benang, mengintai keluar, ragu-ragu sebentar untuk   melihat  apakah  ada  orang  jang  datang,  kemudian  berteriak,  ,,Vrij.”  Ini  sebagai  tanda  bahwa  blok  kami  tertutup dan tidak ada pendjaga berdiri diposnja saat itu. Kemudian aku memanggil ,,Gatot !” sebagai tanda  untuk   Gatot   supaja   menarik   benangnja.   Dengan   menariknja   setjara   hati-hati   suratkabar   itu   sampai  kepintunja   dan   kemudian   menariknja   melalui   bawah   pintu.   Begitupun   tjaranja   untuk   Maskun   dan   Supriadinata. Kalau sekiranja pendjaga kami melihat benang itu ditjahaja sendja, ia melengah.

 

Sarikopun  memberitahu  kepadaku  kapan  akan  diadakan  pemeriksaan.  Kalau  sel  kami  kotor  pada  waktu  pengawas  kami  lewat  untuk  memeriksa,  kami  mendjadi  sasaran  hukuman.  Djam  lima  tigapuluh  setiap  pagi  tugas  kami  jang  pertama  ialah  membersihkan  sel  dan  mengosongkan  kaleng  tempat  buang-air.  Aku  selalu  kuatir terhadap Maskun, karena  dia jang paling muda  dan agak serampangan. Kuperingatkan dia. ,,Maskun,  kau harus melatih diri untuk kebersihan, karena engkau bisa djadi korban pertjuma karena ini.”

 

Ia  menjeringai,  ,,Bung  terlalu  hati-hati  dengan  segala  sesuatu  dan  ini  disebabkan  karena  Bung  orang  tua.  Bung sudah 28 tahun. Alasanku bersifat lebih serampangan karena aku baru 21. Masih muda !”,,Baiklah, anak-  muda-pengatjau,” djawabku kepadanja. ,,Baik kita lihat siapa jang dapat hukuman siapa jang tidak.”

 

Pada pemeriksaan selandjutnja tidak lama setelah itu Maskun dihukum tiga hari ditempat. Ini berarti, bahwa  dia tidak dapat membatja buku dan rekreasi. Ia terpaksa tinggal terasing dalam kamarnja. Untuk mentjegah  hal ini djangan terdjadi lagi aku memikirkan satu tanda. Perhubungan hanja dapat dilakukan dengan bunji,  karena  kami  tidak  dapat  saling  melihat.  Kami  menggunakan  tanda-tanda  ketokan.  Misalkan  aku  mendapat  berita, bahwa esok paginja akan diadakan pemeriksaan mendadak. Aku mengetok pada daun pintu besi jang  menggetar tok ……tok. Dua ketokan berat berarti,,,Besok pengawas datang, djadi bersihkan selmu.”

 

Ada  diantara  petugas  bangsa  Belanda  jang  merasa,  bahwa  kami  tidak  patut  dipersalahkan  melakukan  kedjahatan, karena mentjintai kemerdekaan. Merekapun bersikap rarnah kepada kami. Disamping itu, ia mau  melakukan  sesuatu  asal  diberi  uang.  Apa  sadja.  Bahkan  tidak  perlu  diberi  banjak-banjak.  Mula-mula  aku  menjangka, bahwa mereka sangat takut pada djabatannja untuk mau menerima suap, tapi ternjata mereka  ini termasuk dalam djenis jang rendah, jang mau mengchianati prinsip-prinsip mereka dengan sangat murah.  Seharga sebotol bir.

 

Ketika  aku  berhadapan  dengan  seorang  jang  baik  hati,  aku  menerangkan,  ,,Saudara,  saja  bekerdja  untuk  rakjatku.   Itulah   satu-satunja   kedjahatanku.   Mengapa   saudara   mendjaga   saja   begitu   teliti   ?   Tjobalah  melengah  sedikit.”  Terkadang  ini  berhasil,  terkadang  tidak.  Tapi  kebanjakan  ada  hasilnja.  Itulah  sebabnja  mengapa aku berkawan dengan pengawas bui bernama Bos. Tuan Bos adalah seorang Belanda jang baik tapi  goblok.  Aku  tak  pernah  mentjoba  mempengaruhi  pikirannja  dalam  pandangan  politik.  Aku  sudah  tjukup  bersjukur  dapat  mempergunakannja  kadang-kadang  untuk  suatu  kesenangan.  Pada  suatu  hari  Bos  datang  dengan menjeret-njeretkan kakinja ketempatku jang gelap dan aku dapat melihat sebelah matanja bengkak  seperti balon. ,,Hee, Bos,” aku berteriak, ,,Kenapa matamu ? Bengkak dan biru !”

 

Ia berdiri disana terhujung-hujung dan memegang mata jang sakit itu. ,,Oooooohhh,” ia mengeluh kesakitan,  ,,Pernah kau lihat jang keterlaluan begini. Oooohhhh, aku sakit sekali. Rasanja sakit sekali.”

 

Orang jang malang itu betul-betul sangat menderita. ,,Katakanlah, Bos.” kataku. ,,Kenapa kau?” Ia mengintip  kepadaku dengan matanja jang satu lagi dan mengeluh, ,,Oooohhhh, ooooohhh, Sukarno, kenapa aku ! Tiga

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 53 dari 109

 

hari jang lalu aku bertjintaan dengan seorang pelatjur. Dan pada waktu aku selesai aku menghapus badanku  dengan saputangan.”

 

,,Apa hubungannja dengan matamu ?”

 

,,Ja,  tentu  sadja  ada  hubungannja,  kumasukkan  saputanganku  kembali  kedalam  kantong  sewaktu  sudah  selesai  sewaktu  sudah  selesai.  Beberapa  djam  kemudian,  tanpa  berpikir,  aku  mengeluarkan  saputanganku  lagi dan menggosok mataku dengan itu. Nah, inilah hasilnja. Gadis itu tentu tidak bersih dan mataku infeksi,  jang berasal dari gadis itu. Dan sekarang……sekarang……kaulihat aku ini ! !”

 

,,Aah,  kasihan.  Bos,  kasihan,  kasihan,”  kataku  seperti  ajam  berkotek.  ,,Aku  merasa  kasihan  padamu.”  Dan  memang  sesungguhnja  aku  kasihan  kepadanja.  Aku  tawanannja.  Dia  berkelujuran  diluar,  telah  melepaskan  hawa-nafsunja  pada  seorang  perempuan  latjur,  sedang  aku  dikurung  dalam  sel  jang  dingin  dan  tak  pernah  diberi kesennpatan sekalipun memegang tangan isteriku …..dan aku….kasihan kepadanja.

 

Ketika Bos menjusup pergi sambil mengeluh dan merintih, aku gembira, karena Bos tidak mengatakan padaku  bahwa gadis itu adalah salah-seorang anggota partaiku. Hal jang demikian dapat meruntuhkan persahabatan  kami. Ketika aku tak dapat lebih lama lagi menelan kesepian, kegelapan dan keadaan kotor, maka aku mulai  bermain  dengan  Gatot.  Aku  berhasil  mendapat  buku  wajang.  Wajang  ini  adalah  bentuk  seni  jang  paling  populer di Indonesia. Dengan menggunakan bentuk-bentuk dari kulit jang memberikan bajangan pada lajar-  putih  maka  dalang  menggambarkan  kisah-kisah  Mahabharata  dan  Ramayana,  kisah-kisah  Hindu  klasik  dari  masa lampau. Ini adalah drama keramat dari Indonesia.

 

Gatot kusuruh membatja buku ini. Aku sudah hafal semua kisah-kisah itu. Semendjak ketjil aku mengagumi  tjerita  wajang.  Sewaktu  masih  di  Modjokerto  aku  menggambar-gambar  wajang  dibatu-tulisku.  Di  Surabaja  aku tidak tidur semalam suntuk sampai djam enam esok paginja mendengarkan dalang mentjeritakan kisah-  kisah  jang  mengandung  peladjaran  dan  sedikit  bersamaan  dengan  dongeng  kuno  di  Eropa.  Setelah  Gatot  dengan tekun mempeladjari buku itu, aku menjuruhnja, ,,Sekarang letakkan buku itu dan tjeritakan kembali  dengan suara keras apa jang sudah kau batja tanpa melihat kebuku.”

 

,,Djadi Bung meminta aku memerankan bagian-bagiannja ?”

 

,,Ja,” aku berteriak kembali. ,,Djadi dalang.” Pertjakapan kami dilakukan dengan suara keras sekali, karena  sel kami terpisah empat meter djauhnja dan setiap satu meter dibatasi oleh dinding-batu jang padat.

 

Gatot  mulai.  Aku  mendengarkan  sambil  menahan  napas,  sehingga  ia  sampai  pada  bagian  jang  mengisahkan  pahlawan  kegemaranku,  Gatotkatja.  ,,Gatotkatja  lalu  berhadapan  dengan  Buta,”  teriak  Gatot.  ,,Dia  kalah  dalam pertarungan dan dia djatuh. Gatotkatja dikalahkan sementara.”

 

,,Ja,”  aku  berteriak  jakin.  “Tapi  itu  hanja  untuk  sekali.  Dia  akan  bangkit  lagi.  Dia  akan  menang  sekali  lagi.  Engkau tidak bisa membiarkan pahlawan djatuh. Tunggulah saatnja.”

 

Gatot Mangkupradja melandjutkan, menguraikan pertempuran. Achirnja ia sampai pada: ,,Gatutkatja sudah  bangkit lagi. Gatutkatja sudah berdiri. Dia membunuh Buta itu.”

 

Oooooo ! Aku gembira ! Aku berteriak tak terkendalikan. ,,Haaa ! Aku tahu itu. Bukankah sudah kukatakan ?  Seorang pahlawan jang hanja mau mengerdjakan jang baik tidak pernah kalah untuk selama-lamanja.”

 

Kelakuan  kami  dengan  melakonkan  wajang  ini  tidak  hanja  menjenangkan  dan  menghiburku,  akan  tetapi  ia  djuga  meringankan  perasaan  dan  memberi  kekuatan  pada  diriku.  Bajangan-bajangan  hitam  dikepalaku  melebur  bagai  kabut  dan  aku  bisa  tidur  pulas  dengan  rasa  puas  akan  kejakinanku,  bahwa  jang  baik  akan  mengungguli jang djahat.

 

Bab 11

 

Pengadilan

 

16  DJUNI  1930,  berita  suratkabar  tentang  pidato  Gubernur  Djendral  pada  pembukaan  sidang  Dewan  Rakjat  memuat  pengurnuman  bahwa  ,,Sukarno  akan  dihadapkan  dimuka  pengadilan  dengan  segera.”  Tanggalnja  sudah ditetapkan untuk pengadilan ini. Hanja tiga minggu sebelum aku bertemu dengan pembela-pembelaku  jang   kupilih   sendiri:   Sujudi   S.H.,   ketua   P.N.I.   tjabang   Djawa   Tengah,   jaitu   tuan   rumah   dimana   aku

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 54 dari 109

 

ditangkap;  Sartono  S.H.,  seorang  rekan  dari  Algemeene  Studieclub  jang  lama  dan  tinggal  di  Djakarta  dan  mendjadi  Wakil  Ketua  jang  mengurus  soal  keuangan  partai;  Sastromuljono  S.H.,  seorang  kawan  dan  patriot  jang  tinggal  di  Bandung.  Tidak  dengan  bajaran.  Dan  memang  tidak  ada  uang  untuk  membajar.  Para  pembelaku bahkan menanggung pengeluaran mereka masing-masing.

 

Dalam  pertemuanku  jang  pertama  dengan  Sartono  aku  mengatakan,  ,,Terlintas  dalam  pikiran  saja  bahwa  mendjadi kewadjibankulah untuk mempersiapkan pembelaanku sendiri.”

 

,,Bung maksud dari segi politik?”

 

,,Ja, sedang tanggung-djawab Bung mempersiapkan segi juridisnja.”

 

Ia kelihatan memikirkan soal itu. ,,Saja tahu,” ia mengerutkan dahi, ,,bahwa dalam kedudukan Bung sebagai  Ketua Partai, bagian Propaganda Politik, tak seorangpun jang sanggup mempersiapkan pokokpokok persoalan  seperti Bung. Akan tetapi menurut pendapat Bung, apakah prosedur ini lazim dalam pengadilan ?”

 

Aku  memandang  dalam  kemata  kawanku  jang  kelihatan  suram  memikirkan  soal  ini.  Ia  kelihatan  seperti  memerlukan  lebih  banjak  bantuan  daripada  jang  kuperiukan.  Aku  menempatkan  sebelah   tanganku  keatas  bahunja  untuk  menjenangkan  hatinja.  ,,Sartono,”  kataku,  ,,bukan  maksud  saja  untuk  membanggakan  diri  saja.   Akan   tetapi   ketika   saja   masuk   bui,   begitulah   jang   kuputuskan.   Kalau   sudah   nasib   saja   untuk  menahankan  siksaan,  biarkanlah  saja.  Bukankah  lebih  baik  Sukarno  menderita  untuk  sementara  daripada  Indonesia menderita untuk selama-lamanja ?”

 

,,Saja  masih  berpikir  apakah  ini  djalan  jang  paling  baik  agar  Bung  bebas  dari  tuntutan  hukum,”  katanja  dengan sedih.

 

Ia  tahu  dan  aku  tahu,  bahwa  aku  takkan  bisa  bebas.  Kami  di  zinkan  untuk  bertemu  antara  empat  mata  disuatu  ruangan  tersendiri  selama  satu  djam  dalam  seminggu.  Tiada  seorangpun  jang  mendengarkan  kami,  djadi  akulah  jang  pertama  harus  mengadjak  untuk  membitjarakan  apa  jang  terselip  dalam  pikiran  kami  berdua.  ,,Bung  tahu  betul,”  aku  mulai  dengan  lunak,  ,,bahwa  semuanja  hanja  akan  berpura-pura  sadja.  Berita  bahwa  kepada  saja  sudah  didjatuhkan  hukuman,  telah  menetes  dari  kawan-kawan  kita  di  Negeri  Belanda. Sekalipun informasi jang demikian tidak dikirimkan kepada saja, tapi saja tahu bahwa pengadjuan  kedepan  pengadilan  ini  hanja  sandiwara  sadja.  Bung  pun  tahu.  Mereka  harus  menghukum  kita.  Terutama  saja. Saja adalah biangkeladinja.”

 

,,Ja,”  keluhnja,  ,,Saja  sudah  membatja  berita  pers  disuratkabar.”,,Seperti  misalnja  kepala  berita  harian  ‘Sukarno PASTI dihukum’ dan ‘Tidak mungkin membebaskan Sukarno dari tuntutan kata para pembesar.’ Saja  tahu. Sajapun membatjanja.” Sartono membuka katjamatanja, membersihkannja lalu memakainja kembali.

 

,,Semendjak tanggal 29 Desember suasana hangat dari masjarakat disini dan di Negeri Belanda tidak henti-   hentinja menghasut,” aku menjatakan, ,,Kedua negeri ini menoleh padaku untuk buka suara. Aku tidak dapat  menjerahkan hal ini kepada orang lain. Ja, memang ada Bung dan pehasehat-penasehat lainnja, akan tetapi  saudara-saudara  mempunjai  segi-segi  hukumnja  sendiri  untuk  diadjukan.  Tinggal  dua  minggu  lagi  kedepan  pengadilan.”

 

,,Saja  tjepat-tjepat  datang  kemari,  segera  setelah  mendengar  kabar,”  ia  minta  maaf,  ,,Akan  tetapi  polisi  mempersulit persoalannja. Nampaknja untuk beberapa waktu seakan-akan saja sendiri berada dalam bahaja  penahanan.”

 

Aku  melihat  kepadanja  dengan  mata  berlinang  karena  terimakasih.  ,,Sartono,  saja  menghargai  segala  usahamu.  Namun,  tjara  ahli  hukum  bekerdja  tidak  menjimpang  dari  ketentuan  hukum.  Dia  sangat  terikat  untuk   mendjalankan   hukum.   Suatu   revolusi   melemparkan   hukum   jang   ada   dan   madju   terus   tanpa  menghiraukan   hukum   itu.   Djadi   sukar   untuk   merentjanakan   suatu   revolusi   dengan   ahli   hukum.   Kita  memerlukan getaran perasaan kemanusiaan. Inilah jang akan saja kemukakan.”

 

Aku   menjediakan   kertas   dari   rumah.   Tinta   dari   rumah.   Sebuah   kamus   dari   perpustakaan   pendjara.  Pekerdjaan ini sungguh meremukkan tulang-punggung. Aku tidak punja medja untuk dapat bekerdja dengan  enak.  Selain  daripada  tempat-tidur,  satu-satunja  perabot  jang  ada  dalam  selku  adalah  sebuah  kaleng  tempat- buang-air.  Kaleng  jang  menguapkan  bau  tidak  enak  itu  adalah  perpaduan  dari  tempat  buang-air-  ketjil dan tempat melepaskan hadjat-besar. Ia terbagi dua untuk masing-masing keperluan itu. Perkakas jang  buruk ini tingginja sekira dua kaki dan lebar dua kaki. Setiap pagi aku harus menjeretnja dari bawah tempat-  tidur, kemudian mendjindjingnja kekakus dan membersihkan kaleng itu.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 55 dari 109

 

Malam  demi  malam  dan  tak  henti-hentinja  selama  sebulan  setengah  aku  mengangkat  kaleng  itu  keatas  tempat-tidur. Aku duduk bersila dan rnenempatkannja dihadapanku.

 

Ia  kualas  dengan  beberapa  lapis  kertas  sehingga  tebal  dan  aku  mulai  menulis.  Dengan  tjara  begini  aku  bertekun   menjusun   pembelaanku   jang   kemudian   mendjadi   sedjarah   politik   Indonesia   dengan   nama  ,,lndonesia   Menggugat’.   Dalam   buku   ini   aku   mengungkapkan   setjara   terperintji   penderitaan   jang  menjedihkan  dari  rakjatku  sebagai  akibat  penghisapan  selama  tiga  setengah  abad  dibawah  pendjadjahan  Belanda. Thesis tentang kolonialisme ini, jang kemudian diterbitkan dalam selusin bahasa dibeberapa negara  dan  jang  diguratkan  dengan  kata  jang  bernjala-njala,  adalah  hasil   penulisan  diatas  kaleng  tempat-buangair  jang bertugas ganda itu.

 

18   Agustus   1930,   setelah   delapan   bulan   meringkuk   dalam   tahanan.   perkara   ini   dihadapkan   dimuka  pengadilan.  Setjara  formil  aku  dituduh  melanggar  Pasal  169  dari  Kitab  Undang-undang  Hukum  Pidana  dan  menjalahi pasal 161,-171 dan 153. Ini adalah ‘de Haatzaai Artikelen’ jaitu pasal-pasal pentjegah penjebaran  rasa bentji. Setjara formil aku dituduh ,,mengambil bagian dalam suatu organisasi jang mempunjai tudjuan  mendjalankan kedjahatan disamping…….. usaha menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda…………”

 

Gedung  pengadilan  jang  terletak  di  Djalan  Landraad  penuh  sesak  oleh  manusia.  Udara  didalam  terasa  menjesakkan.  Langit-langit  papan  jang  berwarna  suram  bahkan  menambah  pekatnja  kesuraman  dari  udara  jang melemaskan dalam ruang pengadilan itu. Ketika aku memulai pidatoku tiada satupun terdengar suara.  Tiada  satupun  jang  bergerak.  Tiadaa  gemerisik.  Hanja  putaran  lembut  dari  kipas-angin  diatas  kepala  terdengar merintih. Sambil berdiri diatas bangku-pesakitan jang ditinggikan aku menghadap kemedja-hidiau  hakim  dan  aku  mulai  berbitjara.  Aku  berbitjara  berdjam-djam.  Pokok-pokok  dakwaan  terhadap  Belanda  kukemukakan   menurut   jang   sesungguhnja.   Setelah   hampir   mendekati   achir,   ketenanganku   jang   biasa  melebur  mendjadi  pernjataan  keketjewaan.  Aku  teringat  kembali  ketika  terpaksa  berhenti  sebentar  dan  berusaha menguasai pikiranku. Kemudian aku mempersihkan kerongkonganku lalu mentjetuskan perasaan.

 

,,Pengadilan  menuduh  kami  telah  mendjalankan  kedjahatan.  Kenapa  ?  Dengan  apa  kami  mendjalankan  kedjahatan, tuan-tuan Hakim jang terhormat ? Dengan pedang ? Dengan bedil ? Dengan bom ? Sendjata kami  adalah   rentjana,   rentjana   untuk   mempersamakan   pemungutan   padjak,   sehingga   rakjat   Marhaen   jang  mempunjai  penghasilan  maksimum  60  rupiah  setahun  tidak  dibebani  padjak  jang  sama  dengan  orang  kulitputih jang mempunjai penghasilan minimum 9.000 setahun.

 

,,Tudjuan  kami  adalah  exorbitante  rechten,  hak-hak  luarbiasa  dari  Gubernur  Djendral,  jang  singkatnja  setjara  peri-kemanusian  tidak  lain  daripada  pengatjauan  jang  dihalalkan.  Satu-satunja  dinamit  jang  pernah  kami tanamkan adalah suara djeritan penderitaan kami. Medan perdjoangan kami tak lain daripada gedung-  gedung pertemuan dan surat-suratkabar umum.

 

,,Tidak   pernah   kami   melanggar   batas-batas   jang   ditentukan   oleh   undang-undang.   Tidak   pernah   kami  mentjoba  membentuk  pasukan  serdadu-serdadu  rahasia,  jang  berusaha  atas  dasar  nihilisme.  Kami  punja  modus operandi ialah untuk menjusun dan menggerakkan kekuatan kami dalam tjara-tjara jang legal.

 

,,Ja,  kami  memang  kaum  revolusioner.  Kata  ‘revolusioner’  dalam  pengertian  kami  berarti  ‘radikal’,  mau  mengadakan  perobahan  dengan  lekas.  Istilah  itu  harus  diartikan  sebagai  kebalikan  kata  ‘sabar’,  kebalikan  kata  ‘sedang’.  Tuan-tuan  Hakim  jang  terhormat,  sedangkan  seekor  tjatjing  kalau  ia  disakiti,  dia  akan  menggeliat  dan  berbalikbalik.  Begitupun  kami.  Tidak  berbeda  daripada  itu..,Kami  mengetahui,  bahwa  kemerdekaan memerlukan waktu untuk mentjapainja.

 

Kami  mengetahui  bahwa  kemerdekaan  itu  tidak  akan  tertjapai  dalam  satu  helaan  nafas  sadja.  Akan  tetapi  kami  masih  sadja  dituduh,  dikatakan  ‘menjusun  suatu  komplotan  untuk  mengadakan  revolusi  berdarah  dan  terluka,   agar   kami   dapat   merebut   kemerdekaan   penuh   ditahun   30’.   Djikalau   ini   memang   benar,  penggeledahan massal jang tuan-tuan lakukan terhadap rumah-rumah kami akan membuktikan satu tempat  persembunjian sendjata-sendjata gelap. Tapi, tidak sebilah pisaupun jang dapat diketemukan.

 

,,Golok. Bom. Dinamit. Keterlaluan ! Seperti tidak ada sendjata jang lebih tadjam lagi daripada golok, bom  dan  dinamit  itu.  Semangat  perdjoangan  rakjat  jang  berkobar-kobar  akan  dapat  menghantjurkan  manusia  lebih  tjepat  daripada  ribuan  armada  perang  jang  dipersendjatai  lengkap.  Suatu  negara  dapat  berdiri  tanpa  tank  dan  meriam.  Akan  tetapi  suatu  bangsa  tidak  mungkin  bertahan  tanpa  kepertjajaan.  Ja,  kepertjajaan,  dan itulah jang kami punjai. Itulah sendjata rahasia kami.

 

,,Baiklah, tentu orang akan bertanja, ‘Akan tetapi sekalipun demikian, bukankah kemerdekaan jang engkau  perdjoangkan itu pada suatu saat akan direbut dengan pemberontakan bersendjata ?’

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 56 dari 109

 

,,Saja  akan  mendjawab:  Tuan-tuan  Hakim  jang  terhormat,  dengan  segala  kedjudjuran  hati  kami  tidak  tahu  bagaimana atau dengan apakah langkah terachir itu akan dilakukan. Mungkin djuga Negeri Belanda achirnja  mengerti,  bahwa  lebih  baik  mengachiri  kolonialisme  setjara  damai.  Mungkin  djuga  kapitalisme  Barat  akan  runtuh.

 

,,Mungkin djuga, seperti sudah sering saja utjapkan, Djepang akan membantu kami. Imperialisme bertjokol  ditangan  bangsa  kulitkuning  maupun  ditangan  bangsa  kulitputih.  Sudah  djelas  bagi  kita  akan  kerakusan  keradjaan Djepang dengan menaklukkan semenandjung Korea dan mendjalankan pengawasan  atas Manchuria  dan  pulau-pulau  di  Lautan  Pasifik.  Pada  suatu  saat  jang  tidak  lama  lagi  Asia  akan  berada  dalam  bahaja  penjembelihan   besar-besaran   dari   Djepang.  Saja   hanja   mengatakan,  bahwa   ini   adalah   kejakinan   saja  djikalau ekor daripada naga raksasa itu sudah memukul-mukul kekiri dan kekanan, maka Pemerintah Kolonial  tidak akan sanggup menahannja.

 

,,Oleh  karena  itu,  siapakah  jang  dapat  menentukan  terlebih  dulu  rentjana  kemerdekaan  dari  negeri  kami,  djikalau  kita  tidak  tahu  apa  jang  akan  terdjadi  dalam  masa  jang  akan  datang.  Jang  saja  ketahui,  bahwa  pemimpin-pemimpin    P.N.I.    adalah    pentjinta    perdamaian    dan    ketertiban.    Kami    berdjoang    dengan  kedjudjuran   seorang   satria.   Kami   tidak   menginginkan   pertumpahan   darah.   Kami   hanja   menghendaki  kesempatan untuk membangun harga diri daripada rakjat kami.

 

,,Saja menolak tuduhan mengadakan rentjana rahasia untuk mengadakan suatu pemberontakan bersendjata.  Sungguhpun  begitu,  djikalau  sudah  mendjadi  Kehendak  Jang  Maha-Kuasa  bahwa  gerakan  jang  saja  pimpin  akan  memperoleh  kemadjuan  jang  lebih  pesat  dengan  penderitaan  saja  daripada  dengan  kebebasan  saja,  maka saja menjerahkan diri dengan pengabdian jang setinggi-tingginja kehadapan Ibu lndonesia dan mudah-  mudahan  ia  menerima  nasib  saja  sebagai  pengorbanan  jang  harum-semerbak  diatas  pangkuan  persadanja.  Tuan-tuan  Hakim  jang  terhormat,  dengan  hati  jang  berdebar-debar  saja,  bersama-sama  dengan  rakjat  dari  bangsa ini siap sedia mendengarkan putusan tuan-tuan Hakim !”

 

Ketika  aku  dibawa  kembali  kerumah  pendjara,  wakil  penuh  dari  Pemerintah  menundjukkan  keramahannja  dengan mengulurkan tangan kepadaku. Esok paginja sebuah suratkabar menulis tentang kedjadian ini dengan  djudul  ,,Meester  ir.  Kievet  de  Jonge  kelihatan  berdjabatan  tangan  dengan  pengatjau  kotor”.  Sesudah  tiap  sidang   jang   banjaknja   19   kali   itu,   maka   ada   seorang   Belanda   jang   berani   memuat   tulisantulisan  disuratkabarnja Het Indische Volk mengenai perlakuan jang sungguh-sungguh tidak adil terhadapku. Dengan  semakin hangatnja tadjuk rentjana jang dibuatnja, maka kerut dahi rekan-rekannja semakin dalam. Mr. J.E.  Stokvis banjak kehilangan kawan karena persoalanku.

 

Dimalam akan didjatuhkan putusan pengadilan, enam orang kawan tanpa pemberitahuan terlebih dulu pergi  kerumah Dr. Sosrokartono, seorang ahli kebatinan jang sangat dihormati di Bandung. Kemudian ditjeritakan  kepadaku, bahwa keenam orang itu ngin menenangkan pikirannja dan sungguhpun hari sudah lewat malam,  mereka  datang  djuga  kerumah  ahli  kebatinan  itu,  tanpa  ada  perdjandjian  terlebih  dulu.  Sesampai  disana  seorang  pembantu   membukakan   pintu   dan   menjampaikan,   ,,Pak   Sosro  sudah   menunggu-   nunggu”   dan  mengiringkan mereka masuk, dimana telah tersedia dengan rapi enam buah korsi dalam setengah lingkaran.  Kawan-kawanku itu tentu heran. Dengan tidak bertanja terlebih dulu akan maksud kedatangan mereka, ahli  kebatinan  itu  hanja  mengutjapkan  tiga  buah  kalimat:  ,,Sukarno  adalah  seorang  Satria.  Pedjoang  seperti  Satria boleh sadja djatuh, akan tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunja tidak lama lagi.”

 

Dihari  berikutnja  Gatot  Mangkupradja,  Maskun,  Supriadinata  dan  Sukarno  didjatuhi  hukuman.  Hukuman  Sukarno jang paling berat. Aku dikenakan empat tahun kurungan dalam sel dengan ukuran satu setengah kali  dua seperempat meter. Empat tahun lamanja aku tidak melihat matahari.

 

Pembela-pembelaku  naik  banding  ke  Rand  van  Justitie,  akan  tetapi  pengadilan  tinggi  ini  tetap  berpegang  kepada  keputusan  hukuman.  Tidak  lama  setelah  itu  kami  dipindahkan  kedalam  lingkungan  dinding  tembok  jang tinggi dari pendjara Sukamiskin.

 

Bab 12

 

Pendjara Sukamiskin

 

DELAPAN bulan lamanja aku berada dalam penahanan keras. Jang dapat kulihat hanja pendjaga selku. Kalau  tawanan-tawanan lain tidak ada lagi dipekarangan, aku baru dibawa keluar sarangku selama setengah diam  pagi  dan  sekali  lagi  setengah  djam  diwaktu  sore.  Aku  bahkan  tidak  diberi  kesempatan  untuk  berbitjara  dengan Gatot. Belanda dengan sengadja memisahkan kami.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 57 dari 109

 

Aku tidak pernah mendapat perlakuan jang kedjam. Sesungguhnja aku selalu diperlakukan terlalu baik. Kalau  tadinja pedjabat pemerintah selalu mentjatat segala gerak-gerikku, maka sekarang petugas pendjara selalu  mendjaga  supaja  aku  tidak  mengadakan  protes  terhadap  segala  sesuatu.  Perlakuan  jang  berlebih-lebiban  demikian  itu  sama  sadja  hebatnia  dengan  kekedjaman,  oleh  karena  jang  terachir  ini  masih  memberi  kesempatan untuk berhubungan dengan manusia.Karena mereka kuatir aku akan berhubungan dengan kawan-  kawan  senasib  dan  merusakkan  tjara  mereka  berpikir,  aku  dipekerdjakan  dekat  Direktur  pendjara.  Dengan  demikian   pendjagaan   terhadap   diriku   lebih   diperkuat.   Aku   dipekerdjakan   dipertjetakan   dimana   aku  membanting-tulang   memeras   keringat   dalam   puluhan   rim   kertas   untuk   didjadikan   buku-tjatatan.   Aku  menjeret  kertas  itu  mengempanja,  memuat  dan  membongkar  mesin-penggaris-dan-potong  jang  besar  dan  penuh  gemuk  itu.  Mulai  dari  matahari  terbit  aku  membuat  garis  diatas  kertas.  Sehari  penuh,  hari  berganti  hari,  kerdjaku  tidak  lain  dari  membuat  garis-garis  itu.  Pekerdjaan  jang  membosankan  untuk  orang  seperti  Sukarno. Sehari-hari hanja membuat garis.

 

 

Diwaktu  djam  makanpun  dianggap  terlalu  berbahaja  untuk  mentjampurkan  ,,Sukarno  orang  berbahaja”  dengan  orang  Indnnesia  lainnja.  Aku  ditjampurkan  dengan  orang  Belanda  hukuman  tingkat  tinggi,  seperti  mereka jang dihukum karena penggelapan uang djabatan atau korupsi. Satu-satunja jang dapat kubitjarakan  dengan  Belanda  kelas  tinggi  ini  adalah  mengenai  makanan  atau  keadaan  tjuatja.  Para  petugas  tetap  mendjaga agar aku tidak membitjarakan soal-soal politik.

 

Di  Sukamiskin  aku  membiasakan  diri  makan  tjepat.  Bahkan  sekarangpun,  kalau  aku  mengadakan  djamuan-  makan  kenegaraan,  aku  sudah  selesai  makan  sebelum  setengah  dari  para  tetamuku  dilajani.  Tjoba  pikir,  kami semuanja ada kira-kira 900 orang. Kamar-makan jang berukuran ketjil itu hanja mempunjai 25 medja  kaju,  masing-masing  memuat  sepuluh  orang.  Kami  makan  setjara  bergiliran.  Gong  berbunji,  setiap  orang  masuk  dengan  membawa  piring  aluminium,  tempat  sajur  alumimum,  tjangkir  dan  sendok.  Enam  menit  kemudian  kelompok  ini  berbaris  menudju  kran-air  diluar  untuk  mentjutji  alat  makannja  dan  sementara  itu  rombongan 250 orang jang lain berbaris masuk. Enam menit kemudian rombongan jang lain lagi. Tak ubahnja  seperti membuat barang dalam pabrik sadja setjara berurutan.

 

Kami  mandi  menurut  waktu.  Aku  diberi  waktu  enam  menit  untuk  rnembersihkan  seluruh  badan,  penuh  dengan  minjak  dari  kepaia  sampai  kekaki  jang  melekat  ditangan,  kaki  dan  pipi.  Setiap  enam  menit  giliran  jang lain. Dan kami ada setengah lusin orang jang berebut air dibawah satu pantjoran.

 

Banjak kebiasaan-kebiasaan siang dan malam dalam bui masib terbawa-bawa olehku dalam 35 tahun ini. Aku  sudah terbiasa berbaring diatas tempat jang keras dan tipis, begitupun sekarang Sebagai Kepala Negara aku  tidak  tidur  diatas  alas  sutera  dan  kasur  empuk.  Sesungguhnja  aku  sering  turun  dari  tempat-tidur  jang  enak  dan menggeletak diatas lantai. Aku lebih enak tidur dengan tjara begitu.

 

Setelah  beberapa  bulan dalam  pengasingan ini,  aku  dibolehkan  menerima  kue  dan  telor dari luar. Makanan  ini mula-mula diperiksa dengan teliti oleh pendjaga. Sungguhpun demikian, berita masih dapat lolos dengan  pengiriman  makanan  ini,  oleh  karena  sebelum  masuk  tahanan  aku  sudah  mengatur  tanda-tanda,  sehingga  djikalau  terdjadi  sesuatu  jang  tak  dapat  dihindarkan,  maka  orang  jang  paling  dekat  kepadaku  masih  dapat  mengadakan  hubungan.  Dalam  hal  kabar  buruk  Inggit  mengirimkan  telor-asin.  Ini  terdjadi  beberapa  kali.  Akan  tetapi  jang  kuketahui  hanjalah  bahwa  ada  kabar  buruk.  Hanja  itu.  Dan  ini  pulalah  jang  membikinku  seperti  orang  gila,  karena  tidak  mengetahui  bala  apa  jang  telah  menimpa.  Rupanja  sudah   mendjadi  sifat  manusia untuk bertahan terhadap kesulitan. Inilah saat-saat jang menjiksa diriku.

 

Isteriku  diberi  kelonggaran  untuk  berkundjung  hanja  dua  kali  dalam  seminggu  dan  surat-suratku  selalu   diteliti.  Djadi,  saluran  informasi  jang  paling  banjak  bagiku  adalah  buku-buku  agama  jang  diperkenankan  dibawa dari luar. Aku mengakali suatu tjara dengan menggunakan lobang-lobang djarum. Umpamakan Inggit  mengirimiku Quran pada tanggal 24 April. Aku harus membuka Surah 4 halaman 24 dan dengan udjung-djari  aku  meraba  dengan  teliti.  Dibawah  huruf-huruf  tertentu  terdapatlah  bintik  bekas  lobang  djarum.  Tjaranja  seperti huruf braille. Dibawah huruf A terasa bintik ketjil. Dibawah huruf N sebuah bintik lagi dan seterusnja.  Dengan djalan demikian aku dapat mengetahui isi berita dihari-hari selandjutnja.

 

Kalau  isteriku  membawakan  telor  biasa,  aku  meneliti  kulitnja  teriebih  duiu  sebelum  memakannja.  Satu  tusukan   peniti   berarti   ,,kabar   baik”.   Dua   tusukan   ,,seorang   kawan   ditangkap”.   Tiga   tusukan   berarti  ,,Penjergapan besar-besaran. Semua pemimpin ditangkap”.

 

Ibu  dan  bapakku  tidak  pernah  datang.  Mereka  tidak  akan  sanggup  memandangi  sianak-sajang  terkurung  dalam  kandang  jang  sempit,  jang  pandjangnja  hanja  limabelas  ubin  dan  lebar  duabelas  ubin  itu.  Mereka  tidak akan  sanggup  melihat aku dikeluarkan seperti binatang jang digiring untuk diangin-anginkan. Kakakku  Sukarmini datang dua kali, ia bekerdja dengan semangat jang bernjala-njala untuk P.N.I. Kami menggunakan  gerakan tangan atau lain-lain sebagai tanda pemberitaan. Kalau ia menarik telinganja, menjilangkan djarinja

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 58 dari 109

 

aku  mengerdipkan  mata,  ataupun  menggerakkan  salahsatu  tangan  jang  kelihatannja  kosong  sadja  atau  menggerakkan mukanja, semua ini membawa artinja sendiri-sendiri. Ia bisa banjak berbitjara dengan djalan  ini.

 

Ketika  pertamakali  melihatku  ia  surut  memandangi  wadjahku.  Selain  dari  berat  badanku  jang  semakin  berkurang,  iapun  kaget  melihat  kulitku.  Dua  kali  ia  datang,  dua  kali  pula  ia  memberikan  komentar  jang  sama. ,,Karno, kau sudah djadi hitam!”

 

,,Memang,” aku tersenjum lesu. ,,Aku sudah djauh lebih hitam dari biasa.”

 

,,Kenapa begitu ?” ia berteriak. ,,Kau diapakan oleh mereka ?”

 

,,Tidak diapa-apakan, tapi aku jang mernbikin kulitku begini.” djawabku. ,,Dua kali dalam sehari kami diberi  kesempatan  keluar  sel  selama  beberapa  menit.  Ada  jang  menggunakan  kesempatan  ini  untuk  berdjalan-  djalan  atau  gerak-badan  atau  bermain  seperti  main  bola.  Ada  lagi  jang  duduk-duduk  berteduh  dibawah  pohon.”

 

,,Kau bagaimana !” tanjanja.

 

,,Aku   berbaring-baring   ditanah   untuk   meresapkan   kedalam   tubuhku   chasiat   dari   sinar   matahari   jang  membakar.”

 

,,Aku  tak  pernah  melihatmu  berdjemur  begitu.”,,Memang  selama  ini  tidak.  Sebetulnja  aku  pusing  karena  terlalu  banjak  tjahaja  matahari.  Tapi  aku  harus  mengeringkan  tubuhku.  Sel  itu  sangat  dingin,  gelap  dan  lembab, djadi inilah satu-satunja djalan untuk memanaskan tulang-tulangku jang didalam sekali.”

 

Kekedjaman jang paling hebat jang dapat rnengganggu pikiran manusia adalah pengasingan. Sungguh hebat  akibatnja  !  la  dapat  menggontjangkan  dan  membelokkan  kehidupan  orang.  Aku  menjaksikan  kedjadian-  kedjadian jang memilukan hati Aku menjaksikan kawan setahanan mendjadi gila karena sjahwatnja. Dengan  mata  kepalaku  sendiri  aku  melihat  mereka  melakukan  ,,onani”.  Pemuasan  nafsu  terhadap  diri  sendiri.  Aku  mengetahui  dan  telah  menjaksikan  akibat  jang  menakutkan  daripada  pengasingan  terhadap  laki-laki  jang  normal.

 

Dihadapanku   laki-laki   melakukan   pertjintaan   dengan   laki-laki   lain.   Seorang   Belanda   jang   tjerdas   dan  potongan  orang  gede-gede  membanting-tulang  seperti  budak  dibagian  benatu  pendjara.  Aku  sedang  berada  dekatnja ketika pendjaga pendjara menjampaikan kepadanja bahwa ia akan dipindahkan bekerdja ketempat  jang  lebih  tjotjok  dengan  pembawaan  mentalnja  daripada  pekerdjaan  membudak  jang  telah  dilakukannja  begitu lama. ,,Kami akan dipindahkan tuan besok,” kata pendjaga itu. ,,Mulai dari sekarang tuan tidak perlu  lagi  membungkuk  dibak-uap  dan  tangan  tuan  tidak  akan  mengelupas  lagi  dalam  air  jang  mendidih.  Karena  kelakuan tuan jang baik, tuan diberi pekerdjaan ringan dirumah-obat.”

 

Belanda   itu   mendjadi takut.   Mulutnja   bergerak gugup.   ,,0   tidak.   teriaknja   sambil menggapai tangan
pendjaga itu. ,,Tidak tidak ach, tidak. Djangan aku dipindahkan kesana.”

 

Pendjaga  jang  keheranan  itu  menjangka  orang  tahanan  itu  salah  dengar.  ,,Tuan  tidak  mengerti,”  kata  pendjaga mengulangi. ,,Ini suatu keringanan. Keringanan untuk mengerdjakan jang lebih mudah.”

 

,,Djangan……..  djangan,”  orang  tahanan  itu  membela  pendiriannja.  ,,Pertjajalah  padaku,  aku  tidak  mau  keuntungan ini. Kuminta dengan sangat, biarkanlah aku bekerdja dibagian benatu. Biar bekerdja keras.”

 

,,Kenapa ?” tanja pendjaga tidak pertjaja.

 

,,Karena,” bisiknja, ,,Tempatnja tertutup disini dan aku selalu dilingkungi orang sepandjang waktu. disini aku  bisa   berhubungan   rapat   dengan   orang-orang   disekelilingku.   Sedang   dirumah-obat   aku   tak    mendapat  kesempatan  ini  dan  tidak  akan  bisa  menggeser  pada  laki-laki  lain.  Djangan…….djangan  pindahkan  aku  kesana. Inilah akibat pengurungan terhadap manusia.

 

Sungguh banjak persoalan homoseksuil diantara orang kulitputih. Seorang Belanda berambut keriting, dengan  pundaknja jang lebar dan sama seperti laki-laki lain jang bisa dilihat dimana-mana, telah didjatuhi hukuman  empat  tahun  kerdja  berat.  Kedjahatannja,  karena  bermain-main  dengan  anak-anak  muda.  Tapi  walaupun

 

 

dihukum   berkali-kali   untuk   menginsjafkannja,

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

 

namun

 

nampaknja

 

ratusan

 

anak

 

laki-laki   jang

 

Halaman 59

 

berada

 

dari 109

 

disekelilingnja adalah satu-satunja obat bagi penjakitnja, wallahu’alam. Hukumannja telah habis dan dipagi  ia meninggalkan pendjara, kukira dia bisa baik lagi.

 

Sebulan  kemudian  dia  menonton  bioskop.  Dia  duduk  dibangku  depan  dikelilingi  oleh  delapan  atau  sembilan  anak-anak   muda.   Orang   kulitputih   berambut   pirang   dan   berbadan   besar   duduk   dikelas   kamhing   jang  disediakan  untuk  orang  Bumiputera  tentu  mudah  diketahui   orang.  Terutama  kalau  perhatiannja  tidak  terpusat kepada film. Djadi, kembalilah ia mengajunkan langkah menudju bui. Pendjara bukanlah obatnja. Ia  kembali keselnja jang lama sebelum keadaannja berobah.

 

Djenis manusia jang begini berkumpul disuatu tempat dikota. Suatu hari terdjadi ribut-ribut disebuah hotel  dan polisi datang. Seorang pemuda kedapatan terbaring dilantai disalahsatu kamar menangis dan mendjerit.  Ia  dalam  keadaan  telandjang  dan  mendjadi  apa  jang  disebut  pelatjur.  Langganannja  adalah  tiga  orang  Belanda  berbadan  tegap  dan  kekar.  Apakah  jang  mendjadi  sebab  dari  kegemparan  ini  ?  Anak  pelatjur  itu  kemudian  menerangkan  sambil  tersedusedu,  ,,Mula-mula  jang  satu  itu  dari  Korps  Diplomatik  ingin  dengan  saja,  lalu  kawannja.  Sekarang  jang  ketiga  mau  dengan  saja  lagi.  Saja  tjapek.  Saja  katakan,  saja  tidak  sanggup lagi dan apa tindakannja ? Dia memukul saja !”

 

Orang  kulitputih  itu  dimasukkan  kesel  dibawahku.  Disini  ia  berusaha  lagi  menawarkan  kegemarannja  itu.  Pada  waklu  tidak  ada  orang  disekelilingku,  kutanjakan  hal  in  kepadanja.  ,,Kenapa?”  tanjaku.  ,,Kenapa  engkau mau bertjinta denganku ?” Dan ia mendjawab, ,,Karena disini tidak ,ada perempuan.”

 

Aku mengangguk, ,,Memang benar. Aku sendiri djuga menginginkan kawan perempuan, tapi bagaimana bisa

 

……….

 

“Kemudian ia menambahkan, ,,Jah, apalah perempuan itu kalau dibandingkan dengan lelaki?”

 

,,Ooooh,” kataku terengah. ,,Kau sakit !”

 

Sudah  tidak  ragu  lagi  bahwa,  kehidupan  dalam  kurungan  menghantjurkan,  merobek-robek  kehendak  jang  normal  daripada  daging.  Ja,  bahkan  Kitab  Indjil  menjatakan,  bahwa  seorang  Laki-laki  akan  melekat.  pada  isterinja. Aku senang berada dalam usia jang masih muda dan berkembang dalam kehidupan ini; seorang jang  kuat  dan  perasa  ketika  pintu-besi  menutup  dibelakangku.  Badanku  ditawan.  tapi  semangatku  mendjerit-  djerit   didalam.   Uratsjarafku   berteriakteriak   oleh   siksaan   dikesunjian   malam.   Keinginan   biasa   untuk  memuaskan diri jang dimiliki oleh laki-laki atas karunia Tuhan jang Maha-Pemurah, tidak padam-padamnja,  hanja disebabkan oleh karena seorang hakim memukulkan palu dan berkata, ,,Perkara ditutup !”

 

Setiap  hari  Natal  orang-orang  dari  Bala  Keselamatan  menjumbangkan  makanan  jang  dibungkus  untuk  orang  tahanan jang diserahkan oleh lelaki dan perempuan berpakaian sopan jang tidak akan membangkitkan berahi  kami  orang  kurungan.  Diminggu  terachir  tahun  1930  seorang  perempuan  tua  djelek-kotor  lagi  gemuk  jang  berumur   lebih   dari   60   tabun   terhujung-hujung   masuk   selku   menjampaikan   kemurahan   hatinja.   Ia  memberikan roti Natal. Aku sadar bahwa aku berada dalam keadaan parah, ketika wanita gemuk seperti babi  itu  kelihatan  indah  diruang-mataku.  Selama  satu  saat  dalam  perdjoangan  batin,  maka  dalam  pikiranku  ia  adalah wanita paling tjantik jang pernah kudjumpai.

 

Aku  dikurung  dengan  sungguh-sungguh  di  Sukamiskin  dengan  perlakuan  jang  sama  dengan  pelanggar  hukum  berkebangsaan  Belanda,  supaja  aku  tidak  ,,meratjuni”  udara  masjarakat  tahanan  Indonesia.  Sukamiskin  adalah tempat bagi pendjahat-pendjahat besar dan terbagi dalam tiga kelas. Mereka jang terkena satu tabun  pendjara,  termasuk  Gatot,  Maskun  dan  Supriadinata.  Kemudian  terdapat  kelas  untuk  hukuman  dari  satu  sampai  sepuluh  tahun  dan  kelompok  jang  terbesar  mendjalani  hukuman  lebih  dari  sepuluh  tahun.  Ada  seorang  pembunuh  jang  satu  medja  denganku,  akan  tetapi  dia  hanja  dikenakan  duapuluh  tahun.  Dan  tidak  dikenakan  seumur  hidup,  karena  jang  dibunuhnja  hanja  seorang  Indonesia.  Jang  seorang  lagi  dihukum  15  tahun bersama-sama dengan saudaranja karena perampokan bersendjata dan melakukan kekedjaman diluar  peri-kemanusiaan.

 

Nomor   selku   233.   Menaiki   tangga-besi   ditingkat   kedua   disudut.   Seluruh   blok   itu   dikosongkan   buatku.  Tetanggaku    jang    terdekat    adalah    seorang    pembunuh    jang    merampas    seorang    wanita,    kemudian  membunuhnja dengan tga orang anaknja.

 

Kawanku  jang  paling  rapat  ialah  seorang  Indo,  bapaknja  Belanda  totok  dan  ibunja  seorang  Indonesia  dari  Priangan.  Setiap  kali  mendekatiku  ia  selalu  mentjoba  memperlihatkan  keramahannja.  ,,Kawan”  ini  jang  sangat sajang kepadaku dihukum karena membunuh ajahnja jang selalu menjiksa ibunja.

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 60 dari 109

 

Di  Sukamiskin  njawa  manusia  tidak  ada  harganja,  karena  ia  bisa.  melajang  untuk  memperoleh  sebungkus  rokok.   Setiap   orang   berada   dalam   kekurangan   dan   memerlukan   begitu   banjak,   sehingga   orang   dapat  menjuruh  penggal  musuhnja  hanja  dengan  menjodorkan  dua  batang  rokok  dan  membisikkan,  ,,Kelihatan  orang disana itu jang pakai tanda dikuduknja ? Bunuh dia dan ini bagianmu.” Pertjakapan selandjutnja tidak  perlu.  Dengan  djawaban  ,,Baik”  jang  gembira  orang  itu  lalu  berdjalan-djalan  mendekati  sasarannja  dan  menanamkan  pisau  kedalam  perut  orang  jang  dimaksud.  Sukamiskin  penuh  dengan  orang  jang  kehilangan  semangat hidup sebagai tahanan. Ada seorang jang dikenakan 53 tahun pendjara. Orang seperti dia ini tidak  akan  rugi  apa-apa  kalau  membunuh  seorang  kawan  dalam  kurungan.  Terutama  kalau  dia  bisa  memperoleh  barang mewah dengan tjara itu. Begitulah lingkungan dimana putera sang fadjar berada.

 

 

Para  pembelaku  mentjoba  meminta,  agar  aku  mendjalani  hukuman  diluar  dinding  tembok  itu  seperti  djuga  orang  hukuman  jang  lain,  akan  tetapi  permohonan  ini  ditolak.  Hindia  Belanda  tidak  keberatan  memberi  kesempatan kepada Jack si Tukang Bunuh untuk mendjalani hukuman diluar, akan tetapi untuk Singa Podium  hal ini terlalu berbahaja.

 

Ternjata  bahwa  masuk  bui  disuatu  saat  sama  sadja  dengan  jang  lain.  Otakku  menderita  kekurangan  darah.  Kepalaku lekas sekali penuh dan selalu lelah. Sekalipun mereka mentjoba untuk menghantjurkan otak kami  sampai tak seorangpun jang mempunjai kemauan sendiri, namun aku tidak mau mentalku dirobek-robek oleh   pendjara. Bagaimanapun djuga aku membikin hari-hariku sendiri. Orang dapat melakukan hal ini kalau kuat  mentalnja. Djikalau orang menggantungkan tjita-tjitanja setinggi bintang-bintang dilangit. Aku memaksakan  diriku  untuk  menjadari  bahwa  tjita-tjita  jang  besar  datangnja  pada  saat-saat  jang  sepi,  lalu  aku  mentjoba  membuktikan kebenaran dari kata-kata mutiara, ,,Tjita-tjita jang besar dapat membelah dinding pendiara.”  Ketika  membangkitkan  diri  setjara  mental,  aku  tidak  sadja  mendjadi  biasa  dengan  keadaanku,  akan  tetapi  djuga kupergunakan keadaan itu untuk menjusun rentjana-rentjana dimasa jang akan datang.

 

Aku bahkan dapat berkata, bahwa aku berkembang dalam pendjara. Ketetapan hatiku semakin kuat. Ruang  pendjara adalah ruang sekolahku.

 

Karena dilarang membatja buku-buku jang berbau politik, maka aku mulai mendalami Islam. Pada dasarnja  bangsa kami adalah bangsa beragama. Kami adalah rakjat jang tahu akan kewadjiban kami terhadap Tuhan.  Ini  dapat  disaksikan  di  Bali,  dimana  seni  dan  tradisi  samasekali  dipersembahkan  kepada  Jang  Maha  Kuasa.  Kalau orang berdjalan-djalan dikampung-kampung  di  Djawa Barat, akan terdengar rakjat menjanjikan ajat-  ajat Al-Quranulkarim disore hari. Di Djawa Tengah berdiri sebuah monumen dari kehidupan kerohanian jang  tinggi dari nenek-mojang kami.  Ia itu tjandi Prambanan sebagai lambang  dari puntjak peradaban Hindu. 50  kilometer   darisitu   mendjulang   tjandi   Borobudur,   tjandi   Buddha   jang   terbesar   diseluruh   dunia.   Orang  mendjumpai mesdjid dan geredja disetiap kampung. Bangsa Indonesia semendjak lahirnja mengabdi kepada  Tuhan.   Tidak   mendjadi   soal   djalan   kepertjajaan   mana   jang   ditempuh,   kami   mengakui   bahwa   hanja  kekuasaan  Divina  Providensia-lah  jang  dapat  melahirkan  kami  melalui  abad-abad  penderitaan.  Kami  adalah  bangsa  jang  hidup  dari  pertanian  dan  siapakah  jang  menumbuhkan  segala  sesuatu  ?  Al  Chalik,  Jang  Maha  Pentjipta. Kami terima ini sebagai kenjataan hidup.

 

 

Djadi aku adalah orang jang takut kepada Tuhan dan tjinta kepada Tuhan sedjak dari lahir dan kejakinan ini  telah  bersenjawa  dengan  diriku.  Aku  tak  pernah  mendapat  didikan  agama  jang  teratur  karena  bapak  tidak  mendalam  dibidang  itu.  Aku  menemukan  sendiri  agama  Islam  dalam  usia  15  tahun,  ketika  aku  menemani  keluarga  Tjokro  mengikuti  organisasi  agama  dan  sosial  bernama  Muhammadijah.  Gedung  pertemuannja  terletak  diseberang  rumah  kami  di  Gang  Peneleh.  Sekali  sebulan  dari  djam  delapan  sampai  djauh  tengah  malam  100  orang  berdesak-desak  untuk  mendengarkan  peladjaran  agama  dan  ini  disusul  dengan  tanja-   djawab. Sungguhpun aku asjik mendengarkan, tapi belumlah aku menemukan Islam dengan betul-betul dan  sungguh-sungguh sampai aku masuk pendjara. Didalam pendjaralah aku mendjadi penganut jang sebenarnja.

 

Tak  pernah  orang  meragukan  adanja  Jang  Maha  Esa  kalau  orang  bertahun-tahun  lamanja  terkurung  dalam  dunia  jang  gelap.  Seseorang  merasa  begitu  dekat  kepada  Tuhan  pada  waktu  ia  mengintip  melalui  lobang  ketjil  dalam  selnja  dan  melihat  bintang-bintang,  kemudian  merunduk  disana  selama  berdjam-djam  dalam  kesunjian jang sepi memikirkan akan suatu jang tidak ada batasnja dan segala sesuatu jang ada. Pengasingan  jang sepi mengurung seseorang samasekali dari dunia luar. Karena pengasingan jang sepi inilah aku semakin  lama semakin pertjaja. Tengah malam kudapati diriku dengan sendirinja bersembahjang dengan tenang.

 

Kepadamu  kukatakan,  saudara-saudaraku  jang  membatja  buku  ini—harapanku,  sebagai  usaha  untuk  dapat  memahami Sukarno sedikit lebih baik— lima kali sehari aku sudjud setjara lahir dan batin dalam mengadakan  hubungan  dengan  Maha  Pentjipta.  Mungkinkah  orang  seperti  itu  djadi  Komunis  ?  Dimanapun  aku  berada  didunia ini aku sudjud menghadap ke Ka’bah disaat datangnja waktu Subuh, Lohor, Asar, Magrib dan Isa— dan  menjembahNja.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 61 dari 109

 

Segala sesuatu kudjawab dengan ,,Insja Allah” — kalau Tuhan menghendaki. Tanjalah, ,,Hei Sukarno, apakah  engkau  pergi  ke  Bogor  minggu  ini  ?”  Aku  akan  mendjawab,  ,,Insja  Allah.  Kalau  Tuhan  mengizinkan,  saja  pergi.” Mungkinkah orang jang demikian dapat mendjadi seorang Komunis ?

 

Aku sungguh-sungguh mulai menelan Al Quran ditahun 28. Jaitu, bila aku terbangun aku membatjanja. Lalu  aku  memahami  Tuhan  bukanlah  suatu  pribadi.  Aku  menjadari.  Tuhan  tiada  hingganja,  meliputi  seluruh  djagad.  Maha  Kuasa.  Maha  Ada.  Tidak  hanja  disini  atau  disana,  akan  tetapi  dmana-mana.  Ia  hanja  satu—  Tuhan  ada  diatas  puntjak  gunung,  diangkasa,  dibalik  awan,  diatas  bintang-bintang  jang  kulihat  setiap  malam. Tuhan ada di Venus, dalam radius dari Saturnus. Ia tidak terbagi-bagi dimatahari dan dibulan. Tidak.  Ia   berada   dimana-mana,   dihadapanku,   dibelakangku,   memimpinku,   mendjagaku.   Ketika   kenjataan   ini  hinggap  dalam  diriku,  aku  nsjaf  bahwa  aku  tidak  perlu  takut-takut  lagi,  karena  Tuhan  tidak  lebih  djauh  daripada  kesadaranku.  Aku  hanja  perlu  memandjat  kedalam  hatiku  untuk  menemuiNja.  Aku  menjadari  bahwa aku senantiasa dilindung-Nja untuk mengerdjakan sesuatu jang baik. Dan bahwa Ia memimpin setiap  langkahku menudju kemerdekaan.

 

Suatu  malam,  djauh  dilarut  malam,  sambil  bersudjud  aku  membisik  kepada-Nja,  ,,Tuhan,”  aku  mendo’a,  ,,setiap  manusia  dapat  mendjadi  seorang  pemimpin  asal  sadja  dari  keluarganja  sendiri.  Akan  tetapi  saja  mengetahui bahwa Engkaulah Gembala jang sesungguhnja. Saja insjaf bahwa satu-satunja suara kemanusiaan  adalah Kata dari Tuhan. Mulai dari hari ini dan seterusnja saja telah bersiap memikul tanggung-djawab dari  segala apa jang saja kerdjakan— tidak sadja terhadap bangsa Indonesia, tapi sekarang djuga terhadap-Mu.”

 

Orang  Belanda  memandang  kami,  orang  Islam,  sama  dengan  penjembah  berhala.  Dalam  bahasa  Indjil  kami  adalah  ,,keturunan  jang  sesat  dan  hilang”,  kata  mereka.  Jah,  penjembah  berhala  atau  tidak,  aku  seorang  Islam jang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali jang tertinggi dari Vatikan. Bahkan Presiden  dari Irlandiapun mengeluh padaku bahwa ia hanja memperoleh satu.

 

Dalam  pendjaraku  aku  mempeladjari  semua  agama  untuk  melihat  apakah  aku  ini  termasuk  salah  seorang  jang  ,,sesat  dan  hilang”.  Kalau  ia  lebih  baik  untukku,  aku  akan  mengambilnja.  Kupeladjari   agama  Kristen  pada  Pendeta  Van  Lith.  Aku  terutama  menaruh  perhatian  pada  ,,Chotbah  diatas  Bukit”.  Inspirasi  Jesus  menjemangati orang-orang sjahid jang mula-mula, karena itu mereka berdjalan menudju kematiannja sambil  menjanjikan  Zabur  pudjian  untukNja,  karena  mereka  tahu  ,,Kami  meninggalkan  Keradjaan  ini,  akan  tetapi  kami  akan  memasuki  Keradjaan  Tuhan”.  Aku  berpegang  teguh  pada  itu.  Aku  membatja  dan  membatja  kembali  Indjil.  Perdjandjian  Lama  dan  Perdjandjian  Baru  tidak  asing  lagi  bagiku.  Aku  seringkali  mengulang  mempeladjarinja.

 

Kemudian  aku  membatja  Al  Quran.  Dan  hanja  setelah  meneguk  pikiran-pikiran  Nabi  Muhammad  s.a.w.  aku  tidak  lagi  mentjari-tjari  buku  sosiologi  untuk  memperoleh  djawaban  atas  bagaimana  dan  mengapa  segala-  galanja  ini  terdjadi.  Aku  memperoleh  seluruh  djawabannja  dalam  utjapan-utjapan  Nabi.  Dan  aku  sangat  puas.

 

Untunglah  aku  telah  menemukan  Tuhan  dan  djadilah  Ia  kawan  jang  paling  kusajangi  dan  kupertjajai  bilamana  aku  menderita  pukulan  jang  hebat.  Suatu  pendjara  tak  obahnja  bagai  sebuah  djala  ikan.  Ia  mempunjai lobang-lobang. Melalui salahsatu lobang datanglah berita? bahwa P.N.I.—anak jang dilahirkan dan  aku  sebagai  bapaknja,  kuasuh  dan  besarkan  sehingga  dewasa—telah  terpetjah  mendjadi  dua  dan  persatuan  terpetjah-belah.  Aku  tak  sanggup  mendengarnja.  Untuk  inilah  kiranja  aku  dipendjarakan,  untuk  inilah  kiranja  aku  harus  mengalami  penahanan  jang  keras.  Aku  sudah  sanggup  melalui  siksaan  batin,  penghinaan  dan  pengasingan,  karena  aku  senantiasa  dapat  melhat  diruang  mataku  tudjuan  jang  sutji.  Tapi  sekarang—  keadaan  ini  melebihi  kekuatanku.  Aku  melakukan  sesuatu  jang  tidak  biasa  kulakukan  dalam  hidupku.  Aku  menangis.

 

Aku tidak menangis pada waktu drtangkap. Aku tidak mentjutjurkan airmata ketika aku dipendjarakan. Aku  tidak patah hati ketika anak kuntji berputar dan rnengurungku dari dunia bebas. Pun tidak barangkali kalau  aku  merasa  tertekan  dan  menjesal  terhadap  diriku  sendiri  dalam  liang  kuburku.  Akupun  tidak  meratap  bila  menerima kabar bahwa orangtuaku sakit. Akan tetapi ketika aku mendengar partaiku petjah dan kesempatan  ketjil  bagi  tanah-airku  semakin  menipis,  kukatakan  padamu  saudara,  aku  tak  dapat  menerimanja.  Aku  meratap seperti anak ketjil.

 

Namun tak sekalipun aku mempunjai pikiran untuk menjerah. Tidak pernah. Kekalahan tak pernah memasuki  pikiranku. Aku hanja mendoa, ,,Insja Allah, saja akan mempersatukannja kembali.”

 

Sementara itu, ,,Indonesia Menggugat” telah tersebar keseluruh pengadilan di Eropa dan banjak protes resmi  datang  dari  ahli-ahli  hukum.  Pengadilan  Austria  mengemukakan  bahwa,  karena  tuduhan  terhadapku  tidak

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 62 dari 109

 

pernah  dibuktikan,  maka  putusan  hukuman  terhadap  Sukarno  sangat  tidak  berperikemanusiaan.  Para  ahli-  hukum  Belandapun  mengeluarkan  pendapatnja.  Seorang  professor  hukum  di  Djakarta,  karena  kaget  oleh  kekerasan  itu,  mengeluarkan  pendapatnja  dalam  sebuah  madjalah.  Ia  dipanggil  setelah  itu  oleh  Direktur  Kehakiman jang marah kepadanja dan menegurnja karena telah berani menentang keputusan Agustus dari Sri  Ratu dimuka umum. Demikian banjak tekanan telah dilakukan, baik didalam maupun diluar negeri, sehingga  Gubernur Djendral merobah hukumanku mendjadi dua tahun.

 

Sesaat  sebelum  aku  dibebaskan,  ada  sebuah  tulisan  dengan  djudul  ,,Saja  Memulai  Kehidupan  Baru”  jang  menguraikan tentang diriku dan disebarkan setjara luas. Dipagi hari tanggal 31 Desember 1931, pada waktu  aku dalam pakaian preman untuk pertamakali selama dua tahun, Direktur Pendjara mengir:ngkanku kepintu  keluar dan bertanja, .

 

lr. Sukarno, dapatkah tuan menerima kebenaran dari kata-kata ini ? Apakah tuan betul-betul akan memulai  kehidupan  baru  ?”  Sambil  memegang  dengan  tangan  kananku  tiang  pintu  menudju  kemerdekaan,  aku  mendjawab,    ,,Seorang    pemimpin    tidak    berobah    karena    hukuman.    Saja    masuk    pendjara    untuk  memperdjoangkan kernerdekaan, dan saja meninggalkan pendjara dengan pikiran jang sama.”

 

 

 

Bab 13

 

Keluar Dari Pendjara

 

BELANDA  telah  mendjalankan  daja-upaja  untuk  mentjegah  agar  kebebasanku  djangan  menimbulkan  pawai  dari  rakjat.  Dimana-mana  diawasi  oleh  pasukan  patroli.  Agar  tertjapai  maksud  tersebut,  maka  djalanan  disekeliling rumahpun dikosongkan. Aku telah menjampaikan supaja bertindak lebih bidjaksana menghadapi  ini  dan  tidak  mengadakan  penjambutan  setjara  besar-besaran.  Sungguhpun  demikian  Inggit  dan  beberapa  ratus pengikut jang setia berbaris dengan rapi dipinggir djalan pada djam tudjuh pagi jang tjerah, ketika aku  mengachiri tugasku dengan masjarakat Belanda.

 

Sudah  mendjadi  kebiasaan  orang  Indonesia  untuk  mengadakan  selamatan,  apabila  seseorang  keluar  dari  pendjara.   Bukan   maksudku   sebagai   kebiasaan   orang   Indonesia   bila   keluar   dari   pendjara   sadja.   Jang  kumaksud,  segala  kedjadian—seperti  dalam  hal  perkawinan,  kenaikan  kedudukan,  anak  lahir,  ja,  malah  keluar   dari   pendjarapun— ditandai   oleh   suatu   pesta-kedamaian.   Karena   itu   penjesuaian   diriku   kepada  masjarakat  ramai  hampir  tidak  dapat  dilakukan  setjara  berangsur-angsur.  Dari  kakus  jang  gelap  dan  sepi  langsung melompat kerumah Inggit, tempat bajar-makan jang ribut.

 

Peristiwa itu menggembirakan sekali dan aku dikuasai oleh perasaan haru. Akan tetapi harus kuakui, disaat  itu   jang   pertama-tama   kuinginkan   bukanlah   pesta   jang   gembira   atau   alas   tempat-tidur   sutera   jang  mentereng maupun mandi jang enak, tak satupun dari kesenangan itu. Jang pertama-tama kuinginkan adalah  seorang perempuan. Akan tetapi walaupun bagaimana, rupanja kehendak ini terpaksa mengalah dulu. Karena  soal-soal sekunder lebih mendesak kemuka. Ratusan orang datang menjerbu siang dan malam hendak melihat  wadjahku.  Dimalam  itu,  kawanku  Bung  Thamrin  menjatakan  kepadaku,  ,,Mata  Bung  Karno  menjinarkan  tjahaja baru.”

 

,,Tidak,”  djawabku.  ,,Mata  saja  menondjol  karena  saja  semakin  kurus.  Kalau  muka  kurus,  mata  kelihatan  tjekung.”

 

,,Tidak,”  ia  mehegaskan.,  Mata  Bung  djadi  sangat  besar.  Biar  gemuk  sekalipun  dia  tetap  bersinar  menjala-  njala. Saja melihat ada tjahaja baru didalamnja.”

 

,,Entahlah,” djawabku, ,,Saja hanja merasa bahwa saja betul-betul dikuasai oleh suatu semangat.”

 

Pidatoku  jang  paling  terkenal  jang  pernah  kuutjapkan  selama  hidupku  adalah  pidato  jang  kusampaikan  dimalam berikutnja. Aku berangkat ke Surabaja dengan kereta ekspres untuk menjampaikan kepada Kongres  Indonesia  Raya  supaja  mereka  tetap  membulatkan  tekad,  oleh  karena  Bung  Karno  sekarang  sudah  kembali  lagi dan sudah siap untuk berdjoang disisi mereka dan untuk mereka. Dengan mata jang berlinang-linang, aku  mengachiri pidato itu dengan menjatakan ,,Ketjintaanku terhadap tanah-air kita jang tertjinta ini belumlah  padam.  Pun  tidak  ada  maksudku  untuk  sekedar  membikin  roman  dan  bersain,.  Tidak.  Tekad  saja  hendak  berdjoang. Insja Allah, disatu saat kita akan bersatu kembali.”

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 63 dari 109

 

Menghukum Sukarno berarti menghukum seluruh pergerakan. Belanda mengetahui hal ini. Ketika aku masuk  pendjara  Sukamiskin,  P.N.I.  dengan  resmi  dinjatakan  sebagai  partai  terlarang.  Kemudian,  wakil-wakilku  mendirikan  Partai  Indonesia,  jang  disingkat  Partindo,  akan  tetapi  pergerakan  itu  tetap  tidak  berdaja.  Kegiatannja  terbatas,  djarang  mengadakan  pertemuan-pertemuan  dan  kalaupun  diadakan,  sedikit  sekali  dikundjungi orang, karena tidak adanja tokoh jang mendjadi lambang kekuatan.

 

Karena tidak adanja kepemimpinan jang kuat dan bersifat menentukan, maka dua orang tokoh berpendidikan  Negeri  Belanda  jaitu  Sutan  Sjahrir  dan  Hatta,  tidak  menjetudjui  tjara-tjara  bergerak  dari  kawan-kawan  seperdjoangannja. Maka timbullah pertentangan antara pengikut Hatta dengan pengikut Sukarno. Akibatnja  adalah  perpetjahan  jang  tak  dapat  dihindarkan.  Aku  memerintahkan  Maskun  dan  Gatot,  jang  dibebaskan  beberapa  bulan  sebelumku,  untuk  membenteng  djurang  jang  timbul  itu.  Mereka  tak  sanggup.  Maskun  lalu  mengirimkan pesan kedalam pendjara, ,,Saja terlalu muda. Saja tidak dapat melakukannja.” Gatot kemudian  memberi  kabar  lagi,  ,,Kami  berdua  terlalu  ketjil  untuk  dapat  melakukan  pekerdjaan  ini.  Lebih  baik  kami  tunggu empat bulan lagi sampai Bung Karno keluar.”

 

Segera setelah aku keluar dari pendjara, ketika anggota-anggotaku jang lama meminta supaja aku memasuki  Partindo,  aku  menolak.  ,,Tidak,”  kataku  dengan  tegas.  ,,Pertama  saja  harus  berbitjara  dengan  Hatta  dulu.  Saja ingin mendengar isi-hatinja.”Mereka menjatakan kepadaku, ,,Rakjat akan mengikuti kemana Bung Karno  pergi. Apakah mungkin Bung mengikuti Pendidikan Nasional Indonesia, partai dari Bung Hatta ?”

 

,,Tidak  ada  pikiranku  untuk  mengikuti  salah  satu  pihak,  saja  lebih  tjondong  untuk  menempa  kedua-duanja  kembali  mendjadi  satu.  Dua  partai  adalah  bertentangan  dengan  kejakinanku  untuk  persatuan.  Perpetjahan  ini hanja menguntungkan pihak lawan.”

 

Aku  bertemu  dengan  pihak  jang  bertentangan  dirumah  Gatot  tidak  lama  setelah  aku  bebas.  ,,Baiklah  saudara-saudara,  sekarang  apa  sesungguhnja  jang  mendjadi  perbedaan  pokok  kita,”  kataku  ketika  kami  bertemu pertamakali.

 

Dengan  tjara  Bung  Karno,  partai  tidak  akan  bisa  stabil,”  Hatta  mengemukakan,  seorang  jang  berlainan  samasekali  denganku  dalam  sifat  dan  pembawaan.  Bung  Hatta  adalah  seorang  ahli  ekonomi  dalam  segi  dagang  dan  pembawaannja.  Saksama,  tidak  dipengaruhi  oleh  perasaan,  pedantik.  Seorang  lulusan  Fakultas  Ekonomi  di  Rotterdam,  tjara  berpikirnja  masih  sadja  menurut  buku-buku,  mentjoba  menerapkan  rumus-  rumus  ilmiah  jang  tidak  dapat  dirobah  kedalam  suatu  revolusi.  Seperti  biasa  ia  langsung  memasuki  pokok  persoalan tanpa omong-iseng setjara berolok-olok sebelumnja. ,,Pada waktu Bung Karno dengan ketiga orang  kawan   kita   lainnja   masuk   pendjara,   seluruh   pergerakan   bertjerai-berai.   Saja   mempunjai   ide   untuk  mengadakan suatu inti dari organisasi jang akan melatih kader jang digembleng dengan tjita-tjita kita.”

 

,,Apa  gunanja  kader  ini  ?  Bukankah  lebih  baik  kita  mendatangi  langsung  rakjat-djelata  dan  membakar  hati  mereka, seperti selama ini telah saja kerdjakan ?”

 

,,Tidak,” katanja. ,,Konsepsi saja kita mendjalankan perdjoangan melalui pendidikan praktis untuk rakjat, ini  lebih  baik  daripada  kita  bekerdja  atas  dasar  daja  penarik  pribadi  dari  satu  orang  pemimpin  Dengan  djalan  demikian,  kalau  para  pemimpin  atasan  tidak  ada,  partai  akan  tetap  berdjalan  dengan  pimpinan  bawahan  jang sudah sadar betul-betul untuk apa kita berdjoang. Dan menurut gilirannja, mereka akan menjampaikan  tjita-tjita  ini  kepada  generasi  jang  akan  datang,  sehingga  untuk  seterusnja  banjak  tenaga  jang  akan  melandjutkan tjita-tjita kita. Kenjataannja sekarang, kalau tidak ada pribadi Sukarno maka tidak ada partai.  Ia terpetjah samasekali oleh karena tidak adanja kepertjajaan rakjat kepada partai itu sendiri Iang ada hanja  kepertjajaan terhadap Sukarno.”

 

,,Mendidik  rakjat  supaja  tjerdas  akan  memerlukan  waktu  bertahun-tahun,  Bung  Hatta.  Djalan  jang  Bung  tempuh baru akan tertjapai kalau hari sudah kiamat,” kataku.

 

,,Kemerdekaan  tidak  akan  tertjapai  selagi  saja  masih  hidup”  katanja  mempertahankan.  ,,Tapi  setidak-  tidaknja tjara ini pasti. Pergerakan kita akan terus berdjalan selama bertahun-tahun.”

 

,,Siapakah  jang  akan  djadi  pimpinan  Bung  ?  Bukukah  ?  Kepada  siapakah  djutaan  rakjat  akan  berpegang  ?  Kepada  kata-katakah  ?  Tidak  seorangpun  dapat  digerakkan  oleh  kata-kata.  Kita  tidak  mungkin  memperoleh  kekuatan  dengan  kata-kata  dalam  buku  peladjaran.  Belanda  tidak  takut  pada  kata-kata  itu.  Mereka  hanja  takut  kepada  kekuatan  njata,  jang  terdiri  dari  rakjat  jang  menggerumutinja  seperti  semut.  Mereka  tahu,  bahwa  dengan  djalan  mentjerdaskan  rakjat  kekuasaan  mereka  tidak  akan  terantjam.  Memang  dengan  mentjerdaskan rakjat kita terhindar dari pendjara, akan tetapi kita djuga akan terhindar dari kemerdekaan.”

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 64 dari 109

 

,,Rakjat  akan  mentertawakan  Bung  Karno  kalau  masuk  pendjara  sekali  lagi,”  djawab  Hatta.  ,,Rakjat  akan  mengatakan: Itu salahnja sendiri. Kenapa Sukarno selalu mempropagandakan Indonesia Merdeka, sedang dia  tahu  bahwa  Belanda  akan  menjetopnja.  Dia  itu  gila.  Djadi  perdjoangan  untuk  kemerdekaan  masih  akan  memakan wakru bertahun-tahun lagi. Rakjat harus dididik dulu kearah itu.”

 

Hatta tidak berkisar setapakpun dan dengan hati jang tawar aku meninggalkan pertemuan jang berlangsung  selama  beberapa  djam  itu  Perbedaan  kami  seperti  siang  dan  malam,  dan  Hatta  samasekali  tidak  berobah  pendiriannja.   Masih   aku   mentjoba   untuk   menghilangkan   keretakan   ini.   Selama   beberapa   bulan   aku  mentjoba. Pada pertemuan kami selandjutnja Hatta mengatakan, ,,Saja hendak memberikan djandji kepada  para  pengikut  kita.  Kalau  Belanda  menghalang-halangi  generasi  kita  ini  untuk  bergerak—dan  tiap  gerakan  selandjutnja  daripada  para  pemimpin  nasionalis  tentu  akan  mendapat  balasan  jang  demikian—maka  tak  usahlah  generasi  kita  ini  bergerak  lagi.  Sebagai  gantinja  kita  mengadjar  para  intellektuil  jang  muda-muda  jang   pada   satu   saat   akan   menggantikan   kita   untuk   meneruskan   adjaran-adjaran   kita   dan   jang   nanti  dibelakang  hari  akan  membawa  kita  kepada  kemerdekaan.  lni  adalah  djandji  kepada  tanah-air  kita.  Ia  merupakan soal prinsip. Soal kehormatan.”

 

Aku  tak  pernah  mengerti  samasekali  perkara  tetek-bengek  setjara  intellektuil  jang  chajal  ini.  Hatta  dan  Sjahrir  tak  pernah  membangun  kekuatan.  Apa  jang  mereka  kerdjakan  hanja  bitjara.  Tidak  ada  tindakan,  hanja   bersoal-djawab.   Aku   mentjoba   usaha   jang   terachir.   ,,lni   adalah   peperangan,”   kataku.   ,,Suatu  perdjoangan untuk hidup. Ini bukanlah soal keteguhan pendirian dengan generasi jang akan datang ataupun  suatu  kehormatan  bagi  sisa  dari  pergerakan,  sehingga  tingkatan  jang  lebih  bawah  dapat  memegang  tegah  prinsip-prinsip  jang  telah  dikurangi  setelah  para  pemimpin  mereka  masuk  bui.  Kehormatan  tidaklah  pada  tempatnja  dalam  perdjoangan  mati-matian  ini.  Ini  adalah  semata-mata  persoaian  kekuatan.  Disaat  Bung  Hatta  dan  Sjahrir  madju  terus  dengan  usaha  pendidikan  pada  waktu  itu  pula  kepala  saudara-saudara  akan  dipukul oleh musuh.

 

,,Politik  adalah  machtsvorming  dan  machtsaanwending— pembentukan  kekuatan  dan  pemakaian  kekuatan.  Dengan  tenaga  jang  terhimpun  kita  dapat  mendesak  musuh  kepodjok  dan  kalau  perlu  menjerangnja.  Mempersiapkan teori dan membuat keputusan kebidjaksanaan penting jang berasal dari buku-buku tidaklah  praktis. Saja kuatir, Hatta, saudara berpidjak diatas landasan revolusioner jang chajal.”

 

Pada  tahun-tahun  duapuluhan,  antara  kami  telah  terdapat  keretakan  ketika  aku  mendjadi  eksponen-utama  dari   non-kooperasi,   sedang   dia   sebagai   eksponen-utama   dengan   pendirian   bahwa   kerdja-sama   dengan  Pemerintah  tidak  mendjadi  halangan  untuk  mentjapai  tudjuan.  Hatta  dan  aku  tak  pernah  berada  dalam  getaran-gelombang  jang  sama.  Tjara  jang  paling  baik  untuk  melukiskan  tentang  pribadi  Hatta  ialah  dengan  mentjeritakan  tentang  kedjadian  disuatu  sore,  ketika  dalam  perdjalanan  kesuatu  tempat  dan  satu-satunja  penumpang  lain  dalam  kendaraan  itu  adalah  seorang  gadis  jang  tjantik.  Disuatu  tempat  jang  sepi  dan  terasing  ban  petjah.  Djedjaka  Hatta  adalan  seorang  jang  pemerah  muka  apabila  bertemu  dengan  seorang  gadis. Ia tak pernah menari, tertawa atau menikmati kehidupan ini.

 

Ketika dua djam kemudian supirnja kembali dengan bantuan ia mendapati gadis itu  berbaring  enak disudut  jang  djauh  dalam  kendaraan  itu  dan  Hatta  mendengkur  disudut  jang  lain.  Ah,  susah  orangnja.  Kami  tak  pernah sependapat mengenai suatu persoalan.

 

Pada   tanggal   28   Djuli   1932,   aku   memasuki   Partindo   dan   dengan   suara   bulat   terpilih   sebagai   ketua.  Pergerakan ini hidup kembali.

 

Sebagai pemimpin partai aku mendapat 70 rupiah sebulan. Dan sebagai Pemimpin Besar Revolusi dimasa jang  akan datang, aku memperoleh kemadjuan dalam segala hal. Pun dalam menonton film. Sekarang aku duduk  dimuka  lajarputih.  Maskun  dan  aku  djuga  mendapat  penghasilan  sedikit  dalam  memimpin  bersama-sama  koran partai, ,,Fikiran Rakjat”, jang diselenggarakan dirumahku. Kemudian ada lagi orang jang bajar- makan.  Sudah  tentu  orang-orang  seperti  Maskun  tidak  bajar.  Bagaimana  aku  bisa  minta  uang-makan  daripadanja  ?  Dia kawanku. Aku bahkan memperkenalkannja kepada isterinja.

 

Kuingat  betul  dihari  perkawinannja  akupun  mengadakan  pidato  politik.  Penganten  baru  ini  tidak  berbulan  madu  ketjuali  mungkin  dibawah  pohon  kaju  disuatu  tempat,  karena  segera  setelah  perkawinan  mereka  tinggal dengan Inggit dan aku. Bukanlah mendjadi kebiasaan anak gadis Indonesia untuk berteriak bila orang  mengadakan  pertjintaan  dengan  gadis  itu.  Dan  karena  kami  tidak  mempunjai  kasur  dihari-hari  itu,  djadi  tidak ada jang akan berderak-derik. Karena itu, sungguhpun kamar kami hanja dipisahkan oleh dinding bilik,  kami tidak terganggu satu sama lain.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 65 dari 109

 

Dengan Ir. Rooseno aku mendirikan biro arsitek lagi. Kami mengalami masa jang sulit dengan biro arsitek ini,  karena orang lebih menjukai arsitek Tionghoa atau Belanda dan tidak akan menemui kesulitan dengan kedua  bangsa ini. Sewa kantor kami 20 rupiah. Telpon 7l/2 rupiah. Djadi setidak-tidaknja kami harus mendapatkan  271/2  rupiah  setiap  bulan.  Akan  tetapi  seringkali  kami  tidak  menerimanja.  Penghasilan  Rooseno  jang  terutama didapatnja dari mengadjar. Oleh karena kantongnja selalu lebih penuh daripada kami, kebanjakan  pengeluaran kami terpaksa bergantung kepadanja.

 

Sekali  sebulan  aku  muntjul  untuk  menanjakan  bagian  keuntunganku.  Karena  aku  mentjukupi  kebutuhanku  dari kantongnja, aku akan bertanja, ,,Berapa kau berutang padaku ?”

 

Dan dia akan mendjawab, ,,Bagian Bung 15 rupiah.”

 

Kataku, ,,Baik.” Aku tidak pernah memeriksanja. Apa jang dikatakannja aku pertjaja sadja.

 

Kami   mengadakan   pembagian   kerdja   jang   adil   dan   tjukup   beralasan.   Rooseno   mendjadi   insinjur-  kalkulatornja.   Dia   mengerdjakan   soal-soal   detail.   Dia   jang   membuat   perhitungan   dan   kalkulasi   dan  mengerdjakan  perhitungan  ilmu  pasti  jang  sukar  itu.  Sebagai  arsitek  seniman  aku  mengatur  bentuk-bentuk  jang  baik  dari  gedung-gedung.  Sudah  tentu  tidak  banjak  perlu  diatur,  akan  tetapi  sekalipun  demikian  ada  beberapa buah rumah jang kurentjanakan sendiri dan sekarang masih berdiri di Bandung. Rentjanaku bagus-  bagus. Tidak begitu ekonomis akan tetapi indah.

 

Aku  tidak  begitu  memikirkan  benda-benda  duniawi  seperti  uang.  Hanja  orang-orang  jang  tidak  pernah  menghirup apinja nasionalisme jang dapat melibatkan dirinja dalam soal-soal biasa seperti itu. Kemerdekaan  adalah  makanan  hidupku.  Ideologi.  Idealisme.  Makanan  daripada  djiwaku.  Inilah  semua  jang  kumakan.  Aku  sendiri  hidup  dalam  kekurangan,  akan  tetapi  apa  salahnja  ?  Mendajungkan  partaiku  dan  rakjatku  setjara  bersama-sama kepulau harapan, untuk itulah aku hidup.

 

Sesuai  dengan  tjita-tjita  dari  P.N.I.,  partaiku  jang  lama,  tentang  bagaimana  seharusnja  seorang  pemimpin  berpakaian,  maka  anggota-anggota  mengumpulkan  uang  untuk  mengadakan  pakaian  untukku.  Ganti  kain  katun  atau  linnen,  Sukarno  tiba-tiba  diberi  kain  shantung  Ganti  kemedja-sport  dengan  leher  terbuka,  Sukarno  mulai  memakai  dasi  jang  bagus.  Pergerakan  kami  begitu  pertjaja  padaku,  sehingga  pakaian  ini  diusahakan  mereka  setjara  sukarela.  Aku  teringat  badju  suteraku  jang  pertama.  Pembelinja  bernama  Saddak. O. dia sungguhsungguh memudjaku.

 

Ini seperti jang dikatakan oleh Indjil, ,,Jang kaja djiwanja membantu jang miskin dalam satu persaudaraan  jang besar.” Aku memberi mereka keberanian. Mereka memberiku pakaian—atau uang Dipagi hari aku keluar  dari    pendjara    sebagai    seorang    bebas,    seorang    laki-laki    jang    belum    pernah    kulihat    sebelumnja,  menggenggamkan  kepadaku  dengan  begitu  sadja  uang  empatratus  rupiah,  lain  tidak  karena  aku  tidak  mempunjai  uang.  Pada  waktu  sekarang  orang  ini,  jang  bernama  Dasaad  ,  adalah  seorang  kapitalis-sosialis  jang paling kaja di Indonesia dan kawanku jang rapat. Akan tetapi, pada waktu ia menjodorkan redjeki jang  ketjil itu kepadaku, ia tak mengharapkan  akan memperolehnja  kembali. Seingatku ia tak pernah menerima  uang itu kembali. Aku masih sadja memindjam-mindjam kepadanja.

 

Dalam  masa  ini  aku  menjadari  untuk  lebih  berhati-hati  dengan  utjapan-utjapanku.  Pengaruhku  terhadap  rakjat  sudah  tumbuh  sedemikian,  sehingga  kalau  aku  berkata,  ,,Makan  batu”,  mereka  akan  memakannja.  Kukira ini timbul disebabkan karena apa jang kuutjapkan dengan keras sesungguhnja adalah apa jang mereka  sendiri  pikirkan  dan  rasakan  dalam  hati-sanubarinja.  Aku  merumuskan  perasaan-perasaan  jang  tersembunji  dari  rakjatku  mendjadi  istilah-istilah  politik  dan  sosial,  jang  tentu  akan  mereka  utjapkan  sendiri  kalau   mereka dapat. Aku menggugat jang tua-tua untuk mengingat kembali akan penderitaan-penderitaannja dan  melenjapkan  penderitaan-penderitaan  itu.  Aku  menggugat  para  pemuda  untuk  memikirkan  nasib  mereka  sendiri dan bekerdja keras untuk masa depan. Aku mendjadi mulut mereka.

 

Sebagai  pemuda  aku  mula-mula  mengisap  kata-kata  jang  tertulis  dari  negarawan-negarawan  besar  didunia,  kemudian kuminum utjapan-utjapan dari para pemimpin besar dari bangsa kami, lalu menggodok semua ini  dengan falsafah dasar jang digali dari hati rakjat Marhaen. Sukarno, Telinga Besar dari rakjat Indonesia, lalu  mendjadi Bung Karno, penjambung lidah rakjat Indonesia.

 

Aku  berbitjara  kapan  sadja  dan  dimana  sadja.  Didalam  dan  diluar.  Dibawah  teriknja  sinar  matahari  dan  dimusim hudjan. Pada suatu kali air hudjan sudah sampai kemata-kakiku dan oleh karena banjak tempat jang  tidak  bisa  ditempuh,  maka  aku  baru  sampai  djam  tiga  pada  rapat  jang  seharusnja  diadakan  mulai  djam  sembilan pagi. Rakjat jang sudah bertjerai-berai berkerumun lagi, berdiri dengan berpajung daun pisang dan  lain-lain jang dapat dipakai sebagai pelindung kepala. Pada suatu saat tjuatja demikian buruknja, sehingga

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 66 dari 109

 

sekalipun  pakai  djashudjan  aku  basah-kujup  oleh  air  jang  mentjutjur  dari  langit.  Diwaktu  itulah  aku  mengadjak, ,,Nah, sekarang, untuk memanaskan badan kita bagaimana kalau kita menjanji bersama-sama ?”  Disela-sela petir jang menggemuruh terdengarlah satu suara mengikutiku. Kemudian jang lain. Lalu ratusan  suara  berpadu.  Dan  tidak  lama  antaranja  menggemalah  20.000  suara  mendjadi  satu  paduan  jang  gembira.  Dilapangan  terbuka  jang  sederhana  ini  di  Djawa  Tengah  maka  njanjian-njanjian  rakjat  mengikat  kami  mendjadi  satu,  ikatannja  lebih  erat  daripada  rantai  besi.  Ketika  hudjan  semakin  reda,  aku  mengachiri  wedjanganku. Tak seorangpun jang meninggalkan tempat itu.

 

Salah  seorang  pengikut  kemudian  setelah  itu  memberikan  komentarnja,  ,,Ini  adalah  suatu  kedjadian  jang  tidak dapat dilakukan oleh orang semata-mata. Bakat jang demikian itu terletak Antara Bung dan alam.”

 

Kusampaikan kepadanja, ,,Sebabnja ialah karena ini bukanlah kemauan saja pribadi untuk memperdjoangkan  kemerdekaan. Ia adalah kemauan Tuhan. Saja mendjalankan kata-kata Tuhan. Untuk pekerdjaan inilah saja  dilahirkan.”

 

Pada  waktu  sekarang,  orang-orang  anti-Sukarno  tertawa  mengedjek  bahwa  segala  sesuatu  diatur  terlebih  dulu  untuk  Sukarno  sebelum  ia  memperlihatkan  diri.  Aku  hanja  mengatakan,  memang  benar  bahwa  rakjat  berdjedjal-djedjal dikiri-kanan djalan kalau Bapak akan berpidato. Djuga adalah benar, bahwa orang dapat  memaksa  seseorang  untuk  berdiri  akan  tetapi  ia  tidak  akan  dapat  dipaksa  untuk  tersenjum  dengan  penuh  kepertjajaan  atau  memandang  dengan  perasaan  kagum  atau  melambai  kepadaku  dengan  gembira.  Aku  meminta kepada manusia umumnja untuk menjelidiki muka-muka jang menengadah dari rakjatku kalau aku  berpidato. Mereka melihat tersenjum kepadaku. Mendo’akan, Menjintaiku. Ini semua tidak dapat dipaksakan  oleh pemerintah.

 

Pemerintah  tidak  dapat  memaksa  mereka untuk  berbuat  demikian  seperti  pemerintah  Hindia  Belanda  tidak  dapat  menjuruh  mereka  BERHENTI  tersenjum  kepadaku  dimasa  tahun-tahun  tiga-puluhan.  Dengan  tiba-tiba  semangat nasional mendjalari seluruh tanah-air. Dengan tiba-tiba keinginan merdeka menular kembali.

 

Aku    berpidato    di    Solo    dimana    puteri-puteri    dari    kraton    jang    tjantikjantik    pada    keluar    untuk  mendengarkanku.  Wanita-wanita  jang  dipingit,  dimuliakan  dan  jang  halus  ini  begitu  tertarik  sehingga  salah  seorang  jang  hamil  memukul-mukul  perutnja  berkali-kali  dan  mendengungkan,  ,,Saja  ingin  seorang  anak  seperti  Sukarno.”  Mendadak  aku  mendapat  ilham.  Aku  menjerahkan  kepada  mereka  beberapa  petji  dan  meminta  mereka  berkeliling  dalam  lautan  manusia  itu  mengumpulkan  uang  untuk  pergerakan  kami.  Ah,  Bung, sungguh menggemparkan.

 

Aku  malahan  mentjaplok  terhadap  Belanda.  Seorang  pemuda  bernama  Paris  mendjadi  muridku  dan  pindah  samasekali kepihak kita. Pada kesempatan lain aku mengadakan rapat di Gresik Djawa Timur. Patih  ditempat  itu djuga hadir. Sebagai seorang pedjabat kolonial, adalah mendjadi kewadjibannja jang tak dapat disangkal  lagi untuk memeriksaku dengan saksama dan melaporkan kegiatanku. Orang jang sangat baik hati ini berdiri  mendengarkan pidatoku dengan  sungguh-sungguh dan  dengan seluruh hatinja. Tanpa berpikir dia  lupa pada  dirinja sendiri dan dengan bersemangat turut bersorak dan bertepuk mendengarkan pidaboku. Diantara orang  banjak  itu  terdapat  djuga  Van  der  Plas,  Direktur  Urusan  Bumiputera.  Dan  itulah  kami.  Kamilah  orang  Bumiputera. Pekerdjaan Van der Plas adalah untuk mengawasi orang-orang jang mengawasi kami— termasuk  patih itu.

 

Patih itu seketika djuga diperhentikan. Timbullah pertengkaran jang hebat didalam Dewan Rakjat. Thamrin  mentjoba   untuk   mempertahankannja.   Dia   mengemukakan   alasan,   ,,Apa   salahnja   dia   turut    bersorak?  Bukankah dia orang Indonesia? Mengapa dia harus dilarang untuk bertepuk dan bersorak ? Mengapa dia harus  kehilangan djabatan tanpa diberi kesempatan untuk mempertahankan diri ?”

 

Thamrin  mentjoba  dengan  gagah-berani,  sekalipun  demikian  patih  itu  tetap  kehilangan  djabatannja.  Ini  adalah djabatan jang penting dan dia orang jang penting. Orang jang baikhati ini mempunjai anak dan isteri  jang harus ditanggungnja. Akupun susah memikirkannja.

 

Polisi   mulai   memperkeras   djaring-djaring   mereka.   Surat-suratkabar   ketika   itu   penuh   dengan    berita  pemberontakan  diatas  kapal  Zeven  Provincien,  jaitu  sebuah  kapal-perang  jang  para  opsirnja  terdiri  dari  Belanda   dan   orang-bawahannja   orang-orang   Indonesia.   Belanda,   karena   mengetahui   tentang   tjaraku  mempergunakan  suatu  keadaan.  Pada  waktunja,  mengeluarkan  larangan  untuk   mengadakan  pembitjaraan  setjara  terbuka  mengenai  peristiwa  ini,  takut  kalau  hal  ini  akan  merangsang  rakjat  untuk  bangkit  dan  memberontak.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 67 dari 109

 

Persoalanku adalah, bagaimana tjaranja untuk menerangkan situasi itu dengan baik dalam pidato berikutnja.  Tangan polisi sudah gatalgatal untuk melemparkanku keluar panggung. Mereka tegang dan gelisah. kamipun  tegang dan gelisah. Kami mengatur atjara sehingga aku mendjadi pembitjara pertama. Ini maksudnja untuk  membikin  bingung  polisi,  jang  tentu  tidak  akan  menjangka  bahwa  aku  akan  memberanikan  diri  untuk  menggelorakan   lima   menit   pertama   dari   rapat   tersebut.   Dengan   djalan   ini,   sekalipun   mereka   akan  menghentikan  rapat  kami,  aku  telah  menjampaikan  pesan-pesanku  dan  rakjat  tentu  sudah  akan  puas  melihatku. Djadi, berdirilah aku dan langsung berbitjara tentang peristiwa kapal Zeven Provincien itu. Polisi  langsung bertindak terhadapku. Dan pertemuan itu segera ditutup.

 

Aku kembali lagi ketempat dimana aku berada. Nomor satu dalam daftar-hitam mereka, seperti aku takkan  lepas-lepas dari daftar itu.

 

Para pembesar mengeluarkan perintah tentang barang siapa jang membatja ,,Fikiran Rakjat” atau memakai  petji akan dikenakan tahanan.

 

Kemudian aku menulis brosur jang bernama ,,Mentjapai Indonesia Merdeka”. Brosur tersebut dianggap sangat  menghasut,  sehingga  ia  dirampas  dan  dinjatakan  terlarang  segera  setelah  ia  mulai  beredar.  Banjak  jang  disita.  Rumah-rumah  digeledahi.  Kumpulan  jang  terdiri  dari  lebih  dari  tiga  orang  dikepung.  Perangkap  diperkeras.

 

Tanggal  satu  Agustus  kami  mengadakan  pertemuan  pimpinan  dirumah  Thamrin  di  Djakarta.  Pertemuan  ini  selesai  sudah  lewat  tengah  malam.  Ketika  aku  turun  rumah  menudju  djalan  raja,  disana  sudah  berdiri  seorang  Komisaris  Polisi,  menungguku  dengan  tenang  didepan  rumah.  Kedjadian  ini  adalah  pengulangan  kembali  dari  penangkapan  jang  terdahulu.  Dia  rnengutjapkan  kata-kata  jang  sama,  ,,Tuan  Sukarno,  atas  nama Sri Ratu saja menangkap tuan.”

 

Bab 14

 

Masuk Kurungan

 

Tepat delapan bulan  sampai kepada hari-harinja aku sudah  berada lagi dalam tahanan. Penahanan kembali  ini  tidak  disebabkan  oleh  satu  kedjadian  jang  chusus.  Kesalahanku  tjuma  oleh  karena  aku  tidak  menutup  mulutku jang besar sebagaimana mereka harapkan setelah aku keluar dari pendjara.

 

Komisaris  itu  membelebab  kepadaku.  ,,Tuan  Sukarno,  tuan  tidak  bisa  berobah.  Tidak  ada  harapan  tingkah-  laku tuan bisa baik lagi. Menurut tjatatan kami, tuan hanja beberapa djam sadja sebagai orang bebas ketika  tuan  naik  kereta-api  menudju  Surabaja,  lalu  tuan  kembali  bikin  katjau  lagi  dan  sedjak  waktu  itu  tidak  berhenti-henti bikin ribut. Djadi  djelas sekarang bagi  Pemerintah Sri Ratu bahwa tuan senantiasa mendjadi  pengatjau.”

 

,,Kemana tuan bawa saja ?” tanjaku. ,,Masuk tahanan.” ,,Di Bandung lagi?”

 

,,Sekarang tidak. Sekarang ini tuan kami tahan di Hopbiro Polisi drsini.”

 

Dikantor  Polisi  mereka  tidak  mengurungku.  Kepadaku  hanja  ditundjukkan  sebuah  bangku  pandjang  dan  membiarkanku disana. Aku bertanja hepada perwira pengawas,

 

,Tuan, apakah bisa saja memanggil isteri saja ?” Dia tidak mendjawab.

 

,,Dapatkah saja menjampaikan `pesan kepada pembela saja?” Ia masih tidak mendjawab.

 

,,Bolehkah  saja  bertemu  dengan  salah  seorang  anggota  Volksraad  atau  salah  seorang  pemimpin  dari  partai  saja ?” Tidak ada djawaban.Dia hanja menarik korsi kemedjanja dan menulis, terus menulis suatu dokumen  jang  berisi  tidak  kurang  dari  seribu  halaman  dakwaan  kepadaku.  Karena  aku  seorang  djahat  jang  begitu  berbahaja, mereka tidak membiarkanku seorang diri. Polisi jang bersendjata lengkap mengawalku dibangku  itu.

 

Aku nongkrong  disana  berdjam-djam lamanja. Dan aku mulai memikir. Selama saat-saat jang tegang  dalam  kehidupan orang, seringkali pikiran manusia memusatkan diri kepada soal-soal jang paling tidak berarti atau  matjam  soal-soal  jang  kelihatannja  tidak  ada  sangkutpautnja.  Ia  seakan-akan  mendjadi  pintu  pengaman  daripada  tabi’at  manusia  untuk  mengeluarkan  tekanan  ketakutan  jang  bertjokol  dalam  airinja.  Disini  aku

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 68 dari 109

 

mendjadi  seorang  jang  kalah  dua  kali.  Apakah  jarg  akan  terdjadi  terhadap  diriku  ?  Apakah  aku  hanja  akan  didjebloskan    kedalam    pendjara    ?    Apakah    mereka    melemparkanku    ketempat    pengasingan    ?    Atau  menggantungku  ?  Apakah  sesungguhnja  ?  Apa  ?  Dalam  usia  32  tahun  maka  seluruh  kehidupanku  ini  sudah  menjelesaikan lingkarannja.

 

Satu-satunja  jang  dapat  kulihat  dalam  pikiranku  hanjalah  permainan  bulutangkis  dan  bolanja  jang  terbang  kian  kemari  menurut  kemauan  dari  para  pemainnja.  Nehru  jang  telah  sebelas  kali  keluar-masuk  pendjara  pada suatu waktu menjamakan dirinja dengan bola bulutangkis. Sambil duduk disana aku berkata pada diriku  sendiri.  ,,Tidak  karno,  engkau  lebih  menjerupai  sebuah  ranting  dalam  unggun  kajubakar  jang  sedang  menjala.”  ,,Kenapa  begitu  ?”  Aku  bertanja  pada  diriku  sendiri.  ,,Karena,”   datang  djawabnja,  ,,ranting  itu  turut  mengambil  bagian  dalam  menjalakan  api  jang  berkobar-kobar,  akan  tetapi  dibalik  itu  iapun  dimakan  oleh  apa  jang  hebat  itu.  Keadaan  ini  sama  dengan  keadaanmu.  Engkau  turut  mengambil  bagian  dalam  mengobarkan apinja revolusi, akan tetapi……….

 

“Pertjakapan   dengan   diriku   sendiri   terputus   dengan   tiba-tiba.   Djelas   bahwa   aku   sesungguhnja   dapat  disamakan dengan sepotong kajubakar, karena tiba-tiba—achirnja— nampaknja akupun dimakan oleh djilatan  api jang menggelora itu dalam mana aku turut mengambil bagian sebagai kaju pembakarnja.

 

Aku menghilangkan pikiran ini dari ingatanku dan mentjoba memikirkan soal jang lain. Tidak lama kemudian  aku  dikuasai  oleh  kelelahan,  lalu  tertidur  diatas  bangku  kaju  jang  keras  itu.  Ketika  tjahaja  diluar  masih  keabu-abuan,  mereka  memasukkanku  kedalam  kereta-api.  Tempat  selandjutnja  adalah  Sukamiskin.  Tetapi  mereka tidak perasa. Aku tidak dimasukkan kedalam selku jang lama.

 

Mereka   mengurungku   dalam   sebuah   sel   chusus,   dibuat   ditengah-tengah   ruangan   besar   jang   telah  dikosongkan.  Disitulah  aku  terkurung  disebuah  sel  sempit  dalam  ruangan  jang  besar.  Dan  seorang  diri.  Delapan bulan lamanja aku hidup seperti seorang pertapa jang bisu.

 

Kemudian  mulai  lagi  pemeriksaan.  Tjara  bekerdjanja  adalah  demikian,  mula-mula  orang  ditahan,  dihudjani  dengan  ribuan  pertanjaan.  lalu  dikirim  djauh-djauh— untuk  tidak  kembali  lagi.  Sesuai  dengan  ketentuan-  ketentuan dalam undang-undang luarbiasa, maka tidak perlu lagi d adakan pemeriksaan menurut hukum atau  pengesahan   hukuman.   Dengan   hanja   membuat   keputusan   sendiri   untuk   pembuangan,   maka   Gubernur  Djendral  memerintahkan  ribuan  manusia  untuk  dibuang  djauh-djauh  untuk  hilang  begitu  sadja  tak  tentu  rimbanja.  Nampaknja  Sukarno  akan  mengalami  nasib  jang  demikian  itu.  Dengan  tidak  diadili  terlebih  dulu  hukuman  sudah  didjatuhkan  kepadaku.  Aku  akan  dibuang  kesalahsatu  pulau  jang  paling  djauh.  Berapa  lamakah ? Hingga semangatku dan djasadku mendjadi busuk.

 

Aku akan menghadapi pembuangan ini. Setelah pendjara, maka langkah selandjutnja akan menjusul setjara  otomatis. Sikapnja seakan-akan mereka sudah tjukup baik hati terhadapku dengan membebaskanku  boberapa  bulan jang lalu. Dan aku membalas kebaikan mereka dengan berbuat hal-hal jang tidak baik seperti dahulu.  Nampaknja mirip seperti aku tak tahu berterimakasih.

 

Djam lima-tigapuluh disuatu pagi aku dimasukkan tjepat-tjepat kedalam kereta akspres dan dikurung dalam  kamar   jang   ketjil   dari   salahsatu   gerbong   jang   sengadja   dikosongkan.   Dua   orang   berpakaian   seragam  mengawalku.   Seorang   didalam.   Seorang   lagi   diluar   pintu.   Sungguhpun   aku   tidak   melihat   tanda-tanda  kehadiran orang lain, kepadaku disampaikan bahwa keluargakupun ada dalam kereta-api itu. Keluargaku jang  baru bertambah terdiri djuga dari Ibu Amsi, mertuaku, dan Ratna Djuami, jaitu kemenakan Inggit jang masih  ketjiil dan mendjadi anak angkat kami. Menurut kebiasaan kami pengambilan anak angkat tidak memerlukan  pengesahan. Ia berarti bahwa seseorang tinggal denganmu dan engkau mentjintainja.

 

Sesampai  di  Surabaja  keluargaku  dipisahkan  kehotel  sedangkan  aku  disimpan  lagi  diantara  empat  dinding  tembok  selama  dua  hari  dua  malam  berada  disana.  Disinilah  bapak  dan  ibu  bertemu  dengan  si  anak  tersajang, untuk mana mereka telah membina harapan-harapan jang begitu besar. Inilah pertamakali mereka  melihatku  dibelakang  djeradjak-besi  dan  aku  kelihatan  tidak  banjak  menjerupai  Karno,  pradjurit-pahlawan  besar dari Mahabharata itu. Pengalaman ini sangat menjajat hati mereka, hingga mereka hampir tak sanggup  memandangi  keadaanku.  Kedjadian  ini  sudah  lebih  dari  tigapuluh  tahun  jang  lalu,  akan  tetapi  rasa  pedih  jang meremukkan dari pertemuan kami itu masih tetap melekat dalam djiwaku sampai sekarang.

 

,,O,  Karno……..anakku  Karno,”  bapakku  tersedu-sedu,  mentjurahkan  seluruh  kepiluan  hatinja,  ,,Apa   jang  dapat  kulakukanmengenai  dirimu?  Apa  jang  dapat  kami  kerdjakan  untukmu  ?  Pertama,  engkau  meringkuk  beberapa tahun dalam tahanan, jang menjebabkan kesedihan hati kami jang amat sangat. Dan sekarang lagi  engkau dibuang djauh-djauh keluar Djawa.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 69 dari 109

 

“Pipikupun basah dengan airmata, akan tetapi aku berusaha untuk tersenjum sedikit. ,,Akan kuberikan segala  sesuatu,  Pak,  sekiranja  saja  mendapat  kedudukan  jang  baik,  jang  akan  memberikan  kegembiraan   kepada  orangtuaku  sebagaimana  sepantasnja  dengan  pendidikan  jang  diberikan  kepada  saja.  Akan  tetapi,  rupanja  Tuhan tidak menghendakinja.”

 

Sementara  airmata  mengalir  diwadjahnja  jang  manis  ibuku  jang  lembut  hati  itu  membisikkan,  ,,Sudah  suratan takdir bahwa Sukarno menjusun pergerakan jang menjebabkan dia dipendjarakan, lalu dibuang dan  kemudian  dia  akan  membebaskan  kita  semua.  Sukarno  tidak  lagi  kepunjaan  orangtuanja.  Karno  sudah  mendjadi kepunjaan rakjat Indonesia. Kami mau tidak mau menjesuaikan diri dengan kenjataan ini.”

 

Kami hanja diizinkan bertemu selama tiga menit. Aku tjukup lama dibawa keluar sel untuk mendjabat  tangan  bapak  dan  mentjium  ibu.  Kami  merasa  takut  kalau  pertemuan  ini  akan  memisahkan  kami  untuk  selama-  lamanja,  kami  takut  kalau  perpisahan  jang  tergesa-gesa  ini  adalah  detik  jang  terachir  kami  dapat  saling  memandangi wadjah satu sama lain.

 

Hari berikutnja, dengan roda-roda jang mentjiut melalui tikungan, aku dilarikan kepelabuhan dimana orang  telah  berdjedjal-djedjal  dipinggiran  djalan  untuk  melambaikan  utjapan  selamat  djalan  dengan  bendera-  bendera  Merah-Putih  dari  kertas  jang  mereka  buat  sendiri.  Dengan  didampingi  dikiri-kanan  oleh  dua  orang  reserse, aku dibawa naik keatas kapal barang dan ditahan dikamar kelas dua disebelah kandang ternak.

 

Delapan hari kemudian kami sampai ketempat tudjuan: Pulau Bunga, pulau jang terpentjil.

 

Bab 15

 

Pembuangan

 

ENDEH,  sebuah  kampung  nelajan  telah  dipilih  sebagai  pendjara  terbuka  untukku  jang  ditentukan  oleh  Gubernur  Djendral  sebagai  tempat  dimana  aku  akan  menghabiskan  sisa  umurku.  Kampung  ini  mempunjai  penduduk  sebanjak  5.000  kepala.  Keadaannja  masih  terbelakang.  Mereka  djadi  nelajan.  Petani  kelapa.  Petani biasa.

 

Hingga  sekarangpun  kota  itu  masih  ketinggalan,  ia  baru  dapat  ditjapai  dengan  djip  selama  delapan  djam  perdjalanan dari kota jang terdekat. Djalan rajanja adalah sebuah djalanan jang tidak diaspal jang ditebas  melalui   hutan.   Dimusim   hudjan   lumpurnja   mendjadi   bungkah-bungkah.   Dan   apabila   matahari   jang  menghanguskan memantjar dengan terik, maka bungkah-bungkah itu mendjadi keras dan terdjadilah lobang  dan   aluran   baru.   Endeh   dapat   didjalani   dari   udjung   keudjung   dalam   beberapa   djam   sadja.   Ia   tidak  mempunjai  telpon,  tidak  punja  telegrap.  Satu-satunja  hubungan  jang  ada  dengan  dunia  luar  dilakukan  dengan dua buah kapal pos jang keluar-masuk sekali sebulan. Djadi, dua kali dalam sebulan kami menerima  surat-surat dan surat kabar dari luar.

 

Didalam  kota  Endeh  terdapat  sebuah  kampung  jang  lebih  ketjil  lagi,  terdiri  dari  pondok-pondok  beratap  ilalang,  bernama  Ambugaga.  Djalanan  Ambugaga  itu  sangat  sederhana,  sehingga  daerah  rambahan  dimana  terletak rumahku tidak bernama. Tidak ada listrik, tidak ada air-leding. Kalau hendak mandi aku membawa  sabun ke Wola Wona, sebuah sungai dengan airnja jang dingin dan ditengah-tengahnja berbingkah – bingkah  batu.  Disekeliling  dan  sebelah-menjebelah  rumah  ini  hanja  terdapat  kebun  pisang,  kelapa  dan  djagung.  Diseluruh pulau itu tidak ada bioskop, tidak ada perpustakaan ataupun matjam hiburan lain.

 

Dalam segala hal maka Endeh, di Pulau Bunga jang terpentjil itu, bagiku mendjadi udjung dunia.

 

,,Kenapa, ja ? Kenapa disini ?” Inggit bertanja.

 

,,Pulau  Muting,  Banda  atau  tempat  jang  djelek  seperti  itu,  ketempat-tempat  mana  rakjat  kita  diasingkan,  tidak  akan  lebih  baik  daripada  ini,”  keluhku  dengan  berat  ketika  kami  memeriksa  rumah  jang  gelap  dan  kosong dimalam hari kami sampai disana. ,,Diwaktu Belanda mendapat akal untuk mengadakan pembuangan,  mula-mula  orang  kita  dibuang  keluar  Indonesia.  Tapi,  kemudian  mereka  menjadari,  biar  kemanapun  kita  dieksternir,  kita  dapat  menjusun  kekuatan  untuk  melawan  mereka.  Belanda  achirnja  memutuskan  untuk  mengasingkan para pemberontak didalam negeri sadja, dimana mereka langsung dapat mengawasi kita.

 

,,Kenapa   dipilih   Flores   ?”   Inggit   mengulangi   ketika   membuka   kerandjang   buku,   satu-satunja   kekajaan  pribadiku jang kami bawa. ,,Kebanjakan para pemimpin diasingkan ke Digul.”

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 70 dari 109

 

,,Itu makanja,” kuterangkan sambil mengeluarkan buku-buku sekolah jang kubawa, sehingga setiap pagi dan  malam aku dapat mengadjar Ratna Djuami dirumah. ,,Di Digul ada 2.600 orang jang dibuang. Tentu aku akan  memperoleh kehidupan jang enak disana. Dapatkah kaubajangkan, apa jang akan diperbuat Sukarno dengan  2.600  pradjurit  jang  sudah  disiapkan  itu  ?  Aku  akan  merobah  muka  Negeri  Belanda  dari  New  Guinea  jang  terpentjil itu.”

 

Inggit  tidak  pernah  mengeluh.  Sudah  mendjadi  nasibnja  dalam  kehidupan  ini  untuk  memberiku  ketenangan  pikiran  dan  memberikan  bantuan  dengan  kasih  mesra,  bukan  menambah  persoalan.  Akan  tetapi  aku  djuga  dapat  merasakan,  bahwa  dia  susah.  Bukan  mengenai  dirinja  sendiri.  Dia  susah  mengenai  diriku.  Memang  terasa lebih berat untuk memandang seseorang jang ditjintai kena siksa daripada mengalami sendiri siksaan  itu. Sungguh pedih bagi seorang isteri untuk menjaksikan suaminja direnggutkan dari kekuatan hidupnja, dari  tjita-tjitanja,  dari  kegembiraan  hidupnja,  bahkan  direnggutkan  sedikit  dari  kelaki-lakiannja.  Aku  mendjadi  seekor  burung  elang  jang  telah  dipotong  sajapnja.  Setiap  kali  Inggit  memandangiku,  setiap  kali  itu  pula  setetes darah menitik dari uratnja.

 

Aku tidak pernah mengeluh tentang kesedihanku kepada Inggit. Kalau ada, kami djarang membitjarakan soal  jang  rumit  dari  hati  kehati.  Sekalipun  hatiku  sendiri  gelap  dengan  keputus-asaan,  namun  aku  mentjoba  menggembirakan   hatinja.   Aku   selalu   memperlihatkan   wadjah   jang   baik,   sehingga   wadjah   itu   tidak  menundjukkan apa jang sesungguhnja tergurat dalam hatiku.

 

Ach,  saat  jang  sangat  tidak  menjenangkan  bagiku.  Kedua  reserse  jang  mengantarku  menjerahkanku  dari  kapal  seperti  menjerahkan  muatan  ternak  jang  lain.  Pada  waktu  kapal  mereka  mengangkat  sauh,  kedua  orang  dengan  siapa  aku  hanja  boleh  berbitjara,  diluar  keluargaku,  sudah  pergi.  Setiap  orang  menjingkir  daripadaku.  Endeh  kembali  mendjadi  pendjaraku,  hanja  lebih  besar  dari  jang  sudah-sudah.  Disini  bukan   sadja  aku  tidak  bisa  mendapat  kawan,  akan  tetapi  aku  malahan  kehilangan  satu  orang  jang  turut  dengan  kami.   Mertuaku,   Ibu   Amsi   jang   baik   dan   tersajang   itu   meninggal   diatas   pangkuanku.   Akulah   jang  membawanja kekuburan. Ia menderita sakit arterio-sclerosis. Pada suatu malam ia pergi tidur. Esok paginja  ia  tidak  bangun-bangun.  Keesokan  harinja  tidak  bangun.  Dihari  berikutnjapun  tidak.  Aku  menggontjang-  gontjang  badannja  dengan  keras,  akan  tetapi  dipagi  tanggal  12  Oktober  1935,  setelah  lima  hari  dalam  keadaan tidur, ia pergi dengan tenang dalam keadaan belum sadar.

 

Aku sangat lekat kepada orang tua ini. Dibulan-bulan pertama jang sangat menjiksa, ditempat pembuangan  itu  dikala  batin  kami  dirobek-robek  tak  kenal  ampun  setiap  djam  setiap  detik,  diwaktu  itu  tidak  satupun  perkataan  jang  tidak  enak  keluar  antara  mertuaku  dan  aku  sendiri.  Bagaimana  kami  dapat  tinggal  bersama  dengan  rukun  adalah  karena  kami  orang  baik-baik.  Aku  djuga  sedikit,  barangkali.  Ibu  Amsi  lebih  sederhana  lagi daripada anaknja. Ia tidak bisa tulis-batja. Tapi ia seorang wanita besar. Aku mentjintainja setulus hati.

 

Dengan  tanganku  sendiri  kubuat  kuburannja.  Aku  sendiri  membangun  dinding  kuburan  itu  dengan  batu  tembok.  Aku  seorang  diri  mentjari  batu-kali,  memotong  dan  mengasahnja  untuk  batu-nisan.  Dipekuburan  kampung  jang  sederhana  melalui  djalanan  sempit  djauh  ditengah  hutan  berkumpullah  beberapa  gelintir  manusia  untuk  memberikan  penghormatannja  jang  terachir.  Ini  adalah  kemalanganku  jang  pertama.  Dan,  terasa berat.

 

Satu-satunja  manusia  jang  tinggal,  dengan  siapa  aku  dapat  berbitjara,  adalah  Inggit.  Disuatu  malam  ketika  kami  duduk  berdua  diberanda  ketjil,  hanja  berdua  —  seperti  biasanja  —  Inggit  mengalihkan  pandangannja  sebentar  dari  djahitannja  untuk  mengungkapkan,  ,,Tidak  mungkin  orang-orang  disini  tidak  mengenalmu.  Mereka  tentu  sudah  membatja  tentang  dirimu  atau  melihat  gambarmu  disuratkabar.  Sudah  pasti  banjak  orang sini jang sudah mengenalmu. Sudah pasti banjak.”

 

,,Mereka  tahu  siapa  aku,  baiklah.  Kalau  sekiranja  mereka  tidak  pernah  mendengar  tentang  diriku,  tentu  Belanda  tidak  mendjalankan  tindakan  pengamanan  untuk  merahasiakan  kedatangan  kita.  Rakjat  tidak  tahu  samasekali kedatangan Sukarno. Bahkan pegawai pemerintahanpun tidak tahu kapan kita sampai disini.”

 

Aku  mengerti  kemana  tudjuan  Inggit.  Ia  ingin  memperoleh  djawaban,  mengapa  setiap  orang  menjingkir,  seperti  aku  ini  hama  penjakit.  ,,Orang-orang  jang  terkemuka  disini,  tidak  mengatjuhkanku,  bukan  karena  tidak kenal. Akan tetapi djustru karena mereka mengenalku,” kataku. ,,Orang-orang terpandang disini terdiri  dari  orang  Belanda,  amtenar-amtenar  bangsa  kita  dan  orang-orang  jang  memerintah  seperti  Radja.  Mereka  samasekali tidak mau tahu denganku. Bahkan mereka tidak mau terlihat bersama-sama denganku. Aku tentu  akan menjebabkan mereka kehilangan kedudukannja.”

 

,,Lagi pula, negeri ini terlalu ketjil,” bisiknja.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 71 dari 109

 

,,Jah,” aku mengangguk dengan lesu, ,,negeri ini terlalu ketjil.?”

 

Kami  keduanja  membisu,  akan  tetapi  bau  dari  pokok  persoalan  itu  masih  sadja  mengapung  dengan  berat  dalam ruangan itu, seperti bau wangi-wangian jang murah. Akulah pertama memetjah kesunjian jang pekat  itu.

 

,,Orang tinggi-tinggi ini adalah alat. Boneka Belanda. Mereka tidak mau mendekat, ketjuali untuk memata-  mataiku.   Bahkan   kaum   keluarganja   dilarang   untuk   berkenalan   denganku.   Dan   mereka   tidak   mau  melanggarnja, karena takut masuk daftar hitam Belanda. Setiap orang merasa takut.”

 

Inggit   menambahkan,   ,,Kudengar   adik   Radja   tertarik   pada   pergerakan   kebangsaan,   sampai   Belanda  mengusirnja   dari   sekolah   di   Surabaja.   Kemudian   dia   dipulangkan   kemari,   sehingga   tidak   dapa;t   lagi  mempeladjari politik.”

 

,,Itulah  jang  kumaksud,”  kataku.  ,,Mana  mungkin  ia  djadi  kawanku.  Dia  berada  disini  karena  alasan  jang  sama denganku — sebagai hukuman.”

 

,,Tapi rakjat biasapun menjingkir dari kita,” Inggit menegaskan dengan suara ketjil.

 

,,Aku tahu.”

 

,,Djadi bukan karena kita tidak mau kenal.”

 

,,Tidak. Bukan karena kita tidak mau kenal.”

 

Inggit  sedang  mendjahit  badju  kebaja  untuk  dia  sendiri.  Sambil  meletakkan  djahitannja  ia  memandang  kepadaku.

 

,,Tjoba,” aku merenung dengan keras, ,,di Sukamiskin badanku dikurung. Di Flores semangatku berada dalam  kurungan.  Disini  aku  diasingkan  dari  masjarakat,  diasingkan  dari  orang-orang  jang  dapat  mempersoalkan  tugas  hidupku.  Orang  disini  jang  mengerti,  takut  untuk  berbitjara.  Mereka  jang  mau  berbitjara,  tidak  mengerti.  Inilah  maksud  jang  terutama  dari  pembuangan  ini.  Baiklah  !  Kalau  begitu  keadaannja,  aku  akan  bekerdja  tanpa  bantuan  orang-orang  terpeladjar  jang  tolol  ini.  Aku  akan  mendekati  rakjat  djelata  jang  paling  rendah.  Rakjat-rakjat  jang  terlalu  sederhana  untuk  bisa  memikirkan  soal  politik.  Rakjat-rakjat  jang  tak  dapat  menulis  dan  jang  merasa  dirinja  tidak  kehilangan  apa-apa.  Dengan  begini,  setidak-tidaknja  ada  orang dengan siapa aku berbitjara.”

 

Aku  membentuk  masjarakatku  sendiri  dengan  pemetik  kelapa,  supir,  budjang  jang  tidak  bekerdja  —  inilah  kawan-kawanku. Pertama aku berkenalan dengan saudara Kota, seorang nelajan. Kukatakan padanja  bahwa  tidak ada larangan berkundjung kerumahku. Dia datang kerumahku. Kemudian dia membawa Darham tukang-  djahit. Setelah itu aku datang ketempat mereka. Dan begitulah mulanja.

 

Aku mendekat kepada rakjat djelata, karena aku melihat diriku sendiri didalam orang-orang jang melarat  ini.  Seperti  dipagi  jang  berhudjan  dalam  bulan  Mei  aku  nongkrong  seorang  diri  disudut  beranda  jang  ketjil  itu.  Ah, aku rnerasa kasihan terhadap diriku ! Aku merindukan pulau Djawa, aku merindukan kawan-kawan untuk  mentjintaiku.  Merindukan  hidup  dan  segala  sesuatu  jang  dirampas  dariku.  Selagi  duduk  disana  aku  melihat  seorang  lelaki  lewat.  Seorang  diri.  Dan  basah-kujup.  Tiba-tiba  ia  menggigil.  Kukira  belas-kasihku  meliputi  seluruh bangsa manusia, karena melihat orang itu menggigil akupun menggigil. Sungguhpun badanku kering,  aku serta-merta merasa basah-kujup. Tentu, perasaan ini dapat diterangkan dengan pertimbangan akal, akan  tetapi ia lebih daripada itu. Aku sangat perasa terhadap orang jang miskin — baik dia miskin harta maupun  miskin dalam djiwanja.

 

Disamping  kekosongan  kerdja,  kesepian  dan  ketiadaan  kawan  aku  djuga  menderita  suasana  tertekan  jang  hebat  sekali.  Flores  adalah  puntjak  penganiajaan  pada  hari-hari  pertama  itu.  Aku  memerlukan  suatu  pendorong sebelum aku membunuh semangatku sendiri. Itulah sebabnja aku mulai menulis tjerita sandiwara.  Dari 1934 sampai 1938 dapat kuselesaikan 12 buah.

 

Karjaku jang pertama didjiwai oleh Frankenstein, bernama ,,Dr. Setan”. Peran utama adalah seorang tokoh  Boris  Karloff  Indonesia  jang  menghidupkan  majat  dengan  memindahkan  hati  dari  orang  jang  hidup.  Seperti  semua  karjaku  jang  lain,  tjerita  ini  membawakan  suatu  moral.  Pesan  jang  tersembunji  didalamnja  adalah,  bahwa tubuh Indonesia jang sudah tidak bernjawa dapat bangkit dan hidup lagi.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 72 dari 109

 

Aku  menjusun  suatu  perkumpulan  Sandiwara  Kelimutu,  dinamai  menurut  danau  jang  mempunjai  air  tiga  warna  di  Pulau  Bunga.  Aku  mendjadi  direkturnja.  Setiap  tjerita  dilatih  malam  hari  selama  dua  minggu  dibawah  pohon  kaju,  diterangi  oleh  sinar  bulan.  Kami  hanja  mempunjai  satu  naskah,  karena  itu  aku  membatjakan   setiap   peran   dan   para   pemainku   jang   bermain   setjara   sukarela   mengingatnja   dengan  mengulang-ulang.   Kalau   orang   dalam   keadaan   ketjewa,   betapapun   besarnja   rintangan   akan   dapat  disingkirkannja. Inilah satu-satunja napas kehidupanku. Aku harus mendjaganja supaja ia hidup terus. Kalau  salah  seorang  tidak  dapat  memainkan  perannja  dengan  baik,  aku   melatihnja  sampai  djauh  malam.  Aku  malahan  berbaring  berkalikali  dilantai  untuk  memberi  tjontoh  kepada  Ali  Pambe,  seorang  montir  mobil,  bagaimana memerankan dengan baik seseorang jang mati.

 

Untuk   melatih   anggota-anggota   sehingga   mentjapai   hasil   baik   sungguh   banjak   kesukaran   jang   harus  ditempuh.  Pada  suatu  kali,  Ali  Pambe  memerankan  djurubahasa  dari  bahasa  Endeh  kebahasa  Indonesia.  Tetapi  Ali  butahuruf.  lidah  Indonesianja  masih  kaku.  Karena  itu  aku  harus  mengadjarnja   dulu  berbahasa  Indonesia sebelum aku dapat mengadjarkan perannja.

 

Perkumpulan semua terdiri dari laki-laki oleh karena kaum wanita takut dituduh terlalu berani. Tjukup aneh,  di  Pulau  Bunga  jang  terbelakang  dan  masih  kuno  itu  ada  suatu  daerah—  bernama  Keo  —  dimana  sampai  sekarang anak-anak gadis diizinkan mengadakan hubungan djasmaniah dengan laki-laki. Dan jang paling baik  diantara   mereka   —   paling   pandai   dalam   memuaskan   laki-laki   —   itulah   jang   paling   diidamkan   untuk  perkawinan.  Dalam  umur  dua-puluhan  gadis-gadis  ini  adalah  jang  kuberi  istilah  ,,djenis  Afrika-jang-belum-  beradab, liar dan tidak dapat didjinakkan”. Bagiku perempuan dapat disamakan dengan benua. Dalam umur  tigapuluh  dia  seperti  Asia  —  berdarah  panas  dan  menangkap.  Dalam  usia  empatpuluh  ia  adalah  Amerika  —  unggul dan djagoan. Sampai pada umur limapuluh tabun ia menjamai Eropa— laju dan berdjatuhan.

 

Lepas dari persamaan setjara ilmu bumi jang demikian, tak seorangpun wanita Pulau Bunga mau memegang  peranan  diatas  panggung.  bahkan  djuga  tidak  nenek-nenek  jang  sudah  berumur  enampuluh  tahun  jang  mengingatkanku  pada  benua  Australia  —  djustru  terlalu  djauh  dari  djalan  jang  ditempuh  !  Alasan  jang  pertama, kebiasaan wanita Islam selalu berada dalam bajangan. Jang kedua, wanita ini takut kepadaku. Dari  itu,  aku  memetjahkan  persoalan  ini  dengan  hampir  tidak  menulis  peran  wanita.  Dan  kalaupun  ada,  ia  dimainkan oleh laki-laki.

 

Aku  sendiri  menjewa  sebuah  gudang  dari  geredja  dan  menjulapnja  mendjadi  gedung  kesenian.  Aku  sendiri  jang mendjual kartjisnja. Setiap pertundjukan berlangsung selama tiga hari dan kami bermain dihadapan 500  penonton.  Ini  adalah  suatu  kedjadian  besar  dalam  masjarakat  disana.  Orang-orang  Belanda  djuga  membeli  kartjis. Hasilnja dipergunakan untuk menutupi pengeluaran kami.

 

Aku membuat pakaian untuk keperluan ini. Aku menggambar dinding belakang panggung darurat, sehingga ia  terlihat seperti hutan atau istana atau apa sadja jang hendak kami lukiskan. Aku membuat pita-pita reklame  dari  kertas  dan  menggantungkannja  ditempat-tempat  umum  seperti  pasarmalam.  Aku  membuat  alat  dan  perabot  kami.  Aku  melatih  dua  orang  laki-laki  dan  dua  wanita  untuk  menjanjikan  kerontjong—  lagu-lagu  gembira  —  jang  diperdengarkan  didalam  waktu  istirahat.  Dan  aku  bersjukur  atas  usaha  ini  semua.  Ia  memberikan keasjikan padaku. Ia mengisi detik-detik jang suram ini.

 

Setelah tiap kali pertundjukan, kubawa para pemainku makan kerumah. Ja, aku bekerdja keras sekali untuk  menjelenggarakan sandiwara ini, dan untuk menjenangkan hati pemain-pemainnja. Ini besar artinja bagiku.

 

Tidak  ada  jang  dapat  menghalang-halangiku  bertindak.  Aku  mendjadi  seorang  penjelundup  terkenal  dan  berpengalaman dan aku djuga berhasil memperoleh kelambu untuk kami. Dalam perusahaan pelajaran antar-  pulau awak kapalnja adalah orang-orang Indonesia dan semua mereka mendjadi simpatisan. Ketika terdengar  bahwa Bung Karno memerlukan kelambu, seorang kelasi setjara pribadi menjelundupkan satu untukku dalam  pelajaran selandjutnja. Tidak ada kesukaran dalam hal ini.

 

Disuatu  pagi  jang  saju  turunlah  dari  sebuah  kapal  jang  akan  menudju  Surabaja  seorang  stokar  berbadan  tegap  lagi  kekar.  Ia  datang  kepadaku  didermaga  jang  penuh-sesak,  seperti  biasanja  kalau  kapal  datang.  Dengan diam-diam dia membisikkan kepadaku, ,,Bung, katakanlah kepada kami, kami akan menjelundupkan  Bung Karno. Tidak ada orang jang akan tahu.”

 

,,Terimakasih,  saudara.  Lebih  baik  djangan,”  aku  memandang  kepadanja  dengan  perasaan  terirnakasih.  ,,Memang seringkali terbuka djalan seperti jang saudara sarankan itu. Dan sering datang pikiran menggoda,  untak lari setjara diam-diam dan kembaili bekerdja bagi rakjat kita.”

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 73 dari 109

 

,,Kalau begitu mengapa tidak ditjoba sadja ?” ia mendesak. ,,Kami akan sembunjikan Bung Karno dan memb  awa Bung ke tempat kawan-kawan. Kami djamin selamat.”

 

,,Kalau saja lari, ini hanja saja lakukan untuk memperdjoangkan kemerdekaan. Begitu saja mulai bekerdja,  saja akan ditangkap lagi dan dibuang kembali. Djadi tidak ada gunanja.”

 

,,Apakah Bung Karno tidak bisa bekerdja setjara rahasia ?”

 

,,Itu  bukan  tjaranja  Bung  Karno.  Nilaiku  adalah  sebagai  lambang  diatas.  Dengan  tetap  tinggal  disini  rakjat  Marhaen   melihat,   bagaimana   pemimpinnja   djuga   menderita   untuk   tjita-tjita.   Saja   telah   memikirkan  budjukan hatiku untuk lari dan mempertimbangkan buruk-baiknja. Nampaknja lebih baik bagi  Sukarno untuk  tetap mendjadi lambang daripada pengorbanan menudju tjita-tjita.”

 

,,Sekiranja disuatu saat berobah pendirian Bung Karno, tak usah ragu. Sampaikanlah kepada kami.”

 

Aku   merangkul   kawanku   itu   kedadaku   dan   tanpa   ragu-ragu   mentjiumnja   pada   kedua   belah   pipinja.  ,,Terimakasih, disatu masa kita semua akan merdeka, begitupun saja.”

 

,,Bung betul-betul jakin ?” stokar itu bertanja.

 

Djawabanku  chas  menurut  tjara  Djawa.  Aku  mendjawab  dengan  kiasan.  ,,Kalau  ada  asap  dibelakang  kapal  ini,  tentu  ada  apinja.  Kejakinan  ini  didasarkan  pada  pertimbangan  akal.’llmu’ljakin.  Kalau  saja  berdjalan  dibelakang  kapal  ini  dan  melihat  api  itu  dengan  mata  kepala  sendiri,  maka  kejakinanku  berdasarkan  penglihatan.’Ainu’Ijakin.  Akan  tetapi  mungkin  penglihatan  saja  salah.  Kalau  saja  memasukkan  tangan  saja  kedalam  api  itu  dan  tangan  saja  hangus,  maka  ini  adalah  kejakinan  jang  sungguh-sungguh  berdasarkan  kebenaran  jang  tak  dapat  dibantah  lagi.  Maka  dengan  Hakku’ljakin  inilah  saja  memahami,  bahwa  kita  akan  merdeka.

 

,,Belanda  berbaris  berdampingan  dengan  kedju  dan  mentega,  sedang  kita  berbaris  bersama-sama  dengan  mataharinja sedjarah. Disatu hari, betapapun djuga, kita akan menang. Dalam fadjar itu, saudara, saja tidak  akan lari dengan diam-diam, akan tetapi saja akan berpawai keluar dari sini dengan kepala jang tegak.”

 

Dikurangi  dengan  padjak,  maka  hasilku  dalam  pembuangan  ini  dari  pemerintah  kurang  dari  sepuluh  dollar  seminggu.   Kemari   kami   karenanja   sering   kosong.   Karena   itu   aku   mentjari   uang   tambahan   dengan  mendjualkan bahan pakaian dari sebuah toko tekstil di Bandung. Mereka memberikan komisi 10% pada setiap  barang  jang  kudjualkan.  Dengan  mendjadjakannja  dari  rumah  kerumah  membawa  tjontoh,  aku  berkata,  ,,Njonja, harga saja lebih murah dari toko-toko disini. Apa njonja mau memesan sama saja ?”

 

Kemudian  kukirim  poswisel  ketoko  ini  dan  setelah  selang  boberapa  kapal  kain  itu  datang.  Lamanja  sampai  berbulan-bulan,  akan  tetapi  satu  hal  jang  ada  padaku,  jaitu  waktu.  Apa  perlunja  aku   tjepat-tiepat  ?  Aku  malahan  mendapat  bagian  jang  ketjil  dengan  seorang  pedagang  sekutuku.  Kami  membuat  harga  rahasia  antara  kami  berdua.  Berapa  lebih  jang  dia  peroleh  itu  mendjadi  bagiannja.  Dengan  djalan  begini  dia  mendapat keuntungan sedikit dan akupun memperoleh bagianku sedikit.

 

Hendaknja  djangan  ada  diantara  kawan-kawanku  di  Djawa  jang  membanggakan  diri,  bahwa  dia  terus-  menerus membantu kami dengan kiriman makanan dan pakaian selama masa ini. Ja, mungkin ada satudua,  akan  tetapi  djarang  sekali.  Kalaupun  ada  kiriman  jang  datang,  aku  segera  meneruskan  sebagian  besar  dari  isinja  kepada  kawan-kawan  jang  tidak  beruntung  di  Digul.  Ini  kulakukan  djuga  kalau  aku  memperoleh  sisa  uang boberapa rupiah.

 

Sekalipun  kami  hanja  punja  uang  sedikit,  kami  berhasil  mentjukupi  diri  sendiri.  Aku  orang  jang  sederhana.  Kebutuhanku sederhana. Misalnja, aku tidak minum susu atau minuman lain jang datang dari luarnegeri, pun  tidak makan daging dari binatang berkaki empat. Makananku terdiri dari nasi, sajur, buah-buahan, terkadang  ajam  atau  telor  dan  ikan  asin  kering  sedikit.  Sajuran  diambil  dari  jang  kutanam  dipekarangan  samping  rumah. Ikan kudapat dari kawan-kawanku para nelajan.

 

Di Endeh aku dibatasi bergerak, djuga untuk menikmati kesenangan jang ketjil-ketjil. Aku dibolehkan pergi  ketepi  pantai  untuk  menjaksikan  kawan-kawanku  para  nelajan,  akan  tetapi  tidak  boleh  naik  perahu  untuk  berbitjara  dengan  mereka.  Naik  perahu  dapat  berarti  melarikan  diri.  Aku  djuga  boleh  berkeliaran  dalam  batas lima kilometer dari rumah. Akan tetapi lewat satu langkap sadja, aku djadi sasaran hakuman.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 74 dari 109

 

Dikota  ini  ada  delapan  orang  polisi,  djadi  sungguhpun  berpakaian  preman  aku  mengenal  mereka  itu.  Disamping itu, hanja mereka jang memakai sepeda hitam dengan merek ,,Hima”. Jang terlalu djelas adalah  bahwa mereka berada pada djarak jang tetap waktu mengiringkanku. Kalau seorang Belanda jang misterius  selalu berada pada djarak 60 meter dibelakangku, maka tahulah aku.

 

Aku  teringat  disuatu  sore  ketika  seorang  ,,preman”  membuntutiku  didjalan-raja  jang  djuga  didjalani  oleh  angsa,  kambing,  kerbau  dan  sapi.  Aku  bersepeda  melalui  rumah-rumah  panggung  dan  menudju  kesungai.  Djalan  menudju  kesitu  pendek,  djadi  dia  lalu  mendajung  mengembus-ngembus  hampir  bahu-membahu  denganku.  Pada  waktu  dia  berhenti  disana  untuk  mendjalankan  mata-mata,  dua  ekor  andjing  melompat  padanja  sambil  menjalak  dan  menggeram-geram.  Pemaksa  hukum  jang  tinggi  kedjam  ini  karena  kagetnja  memandjat keatas sepedanja dan berdiri diatas tempat duduk dengan kedua belah tangannja berpegang erat  kepohon.  Sungguhpun  aku  kepanasan  dan  dalam  keadaan  kotor  diwaktu  itu,  namun  pemandangan  ini  lebih  menjegarkan badanku daripada air sungai jang sedjuk.

 

Setelah  itu  aku  memprotes  kepada  kepalanja,  ,,Saja  tidak  peduli  apakah  anak-buah  tuan  ‘setjara   rahasia’  membajangi saja, akan tetapi saja tidak ingin dia terlalu dekat.”

 

Orang  itu  menjampaikan  penjesalannja.  ,,Ma’af,  tuan  Sukarno.  Kami  menginstruksikan  kepadanja  untuk  tetap berada dalam djarak 60 meter.”

 

Aku  berada  dalam  pengawasan  tetap.  Disuatu  sore  aku  mengadjar  sekelompok  pemuda  menjanjikan  lagu  kebangsaan  ,,Indonesia  Raya”.  Karena  ia  terlarang,  untuk  keamanan  aku  memilih  suatu  tempat  diluar  rumahku. Bukan karena aku akan kehilangan sesuatu, tidak, aku ingin melindungi anak-anak ini. Masih sadja  ada orang jang melaporkan kedjahatan jang sungguh-sungguh ini.

 

Saudara  dari  Radja  lalu  diperintahkan  untuk  memperoleh  kepastian,  kedjahatan  apa  jang  telah  dilakukan  oleh  Sukarno  dengan  tindakan  pengkhianatannja  merusak  anak-anak  dibawah  umur.  Dengan  patuh  dia  menjuarakan  akibat  psychologis  terhadap  penduduk  preman.  Djawabnja  adalah,  ,,Tidak  ada  samasekali.  Mereka tidak dibakar dengan semangat. Mereka bahkan tidak tahu apa arti ‘Indonesia Raya’.”

 

Sekalipun demikian, aku dipanggil kekantor polisi, diperiksa dengan keras dan didenda F5,-— jaitu dua dollar.

 

Pulau Bunga akan tetap kekal melekat dalam kenanganku, karena berbagai alasan. Disinilah aku mendengar,  bahwa  Pak  Tjokro  telah  pergi  mendahului  kami.  Sebelum  ia  pergi,  ketika  masih  dalam  sakit  keras,  aku  menulis  surat  kepadanja,  ,,Bapak,  sebagai  patriot  besar  jang  menghimpun  rakjat  kita  dalam  perdjoangan  untuk  kemerdekaan,  tidak  akan  kami  lupakan  untuk  selama-lamanja.  Saja  mendo’akan  agar  bapak  segera   sembuh    kembali.”    Berminggu-minggu    kemudian,    ketika    kapal    datang    membawa    suratkabar    kami,  disampaikanlah suatu  kisah tentang bagaimana Pak Tjokro sebelum menghembuskan  napas memperlihatkan   surat Sukarno kepada setiap orang. Aku menangis mengenang kawanku jang tertjinta itu.

 

Djuga terdjadi di Pulau Bunga, aku membersihkan diri dari segala tahjul. Selamanja aku pertjaja pada hari  baik dan hari nahas, aku pertjaja pada djimat jang membawa rahmat dan djimat jang mempunjai pengaruh  djahat. Di  Bandung ada orang  jang memberiku sebentuk tjintjin pakai batu. Dalam  batu itu terlihat lobang  berisi  tjairan  hitarn  jang  tidak  pernah  tenggelam.  Seperti  bidji  ketjil  jang  mengapung  dan  selalu  berada  diatas.  Seorang  pengagum  memberikan  benda  jang  aneh  ini  kepadaku  dengan  utjapan,  ,,Sukarno,  semoga  engkau tetap berada diatas seperti bidji jang mengapung ini.” Ia dinodai oleh kekuatan guna-guna, tapi aku  mempertjajainja.  Diwaktu  itu  aku  mempertjajai  apa  sadja,  karena  aku  memerlukan  segala  kekuatan  jang  bisa kuperoleh.

 

,,Djangan lupa, Sukarno,” katanja, ,,Batu ini bukan sembarang batu. Dia membawa untung.”

 

Baiklah,  aku  pertjaja.  Tidak  lama  setelah  itu  aku  dibuang  ke  Pulau  Bunga.  Aku  tidak  begitu  pertjaja  lagi  kepadanja.  Demikianlah,  ketika  kujakinkan  pada  diriku  sendiri,  kepertjajaan  jang   kegila-gilaan  ini  harus  dihentikan.  Dan  kukatakan  pada  diriku,  ,,Engkau  sudah  melihat,  penjakit  tahjul  jang  djahat,  akan  tetapi  mengapa  engkau  tidak  pernah  makan  dipiring  retak,  oleh  karena  engkau  pertjaja  bahwa  bentjana  akan  menimpamu kalau engkau melakukannja ?”

 

Harus  kuakui  bahwa  ini  benar.  Suatu  hari  aku  sengadja  minta  piring  retak.  Aku  gemetar  sedikit  karena  pikiran sudah tjukup ruwet tanpa menambah keruwetan itu dengan pelanggaran kepertjajaan jang kuat ini.

 

Akan  tetapi  kuletakkan  djuga  piring  itu  diatas  medja  dan  memandangnja.  Kemudian  aku  berpidato  kepada

 

 

piring  jang

 

BUNG KARNO

 

gandjil  ini  jang  begitu  berkuasa  terhadap  djiwaku.  Kataku,  ,,Hei  engkau

 

PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

 

……………

 

Halaman 75

 

engkau

 

dari 109

 

barang  jang  mati,   tidak   bernjawa  dan   dungu.  Engkau  tidak   punja  kuasa  untuk   menentukan  nasibku.  Kutantang kau. Aku bebas darimu. Sekarang aku makan dari dalammu.”

 

Beginilah tjaranja aku mengatasi tiap-tiap rasa takut jang mengganggu pikiranku. Aku hadapi rasa takut ini  dengan tenang dan sedjak itu tidak takut lagi.

 

Aaaah,  masih  sadja  batu  itu  ada  padaku.  Aku  sangat  ingin  mempunjai  keberanian  untuk  melepaskan  pembawa  untung  besar  ini.  Selagi  berpikir  keras  tentang  batu  ini,  kebetulan  uang  sedang  tidak  ada.  Sudah  mendjadi sedjarah dari Sukarno bahwa ia tak pernah punja uang, sedangkan ini adalah harta jang senantiasa  diperlukannja. Sampai kini keadaannja sama sadja. Keadaanku sangat melarat ketika aku berkenalan dengan  seorang  saudagar  kopra  jang  makmur  dikota  itu.  Aku  memutuskan  untuk  mendjual  pembawa  untung  jang  besar ini kepadanja.

 

Dan sebagai pendjual jang pandai kutawarkan batu itu dengan perkataan jang muluk-muluk.

 

,,Tjoba lihat,” kataku mengadu untung, ,,Saja punja barang jang susah didapat. Orang akan selalu beruntung  besar  dengan  batu  seperti  ini,  karena  batu  begini  hanja  ada  satu-satunja.  Tidak  ada  duanja  didunia.”  Kebetulan   utjapanku   ini   memang   benar   dan   aku   tidak   rnembohong   dan   kebetulan   pula   aku   sangat  memerlukan uang dan ingin memperoleh sebanjak mungkin dari dia.

 

Kemudian   aku  menekan  gas  jang  terachir,  ,,Dengarlah,  begini.  Saudara  saja  lihat  adalah  orang  jang  mempunjai  sifat-sifat  baik,  maka  dari  itu  saja  menawarkan  suatu  kesempatan  jang  sangat  istimewa.  Kalau  saudara menjerahkan seratus limapuluh rupiah, jang tidak berarti bagi saudara, saja akan berikan batu ini.”

 

,,Setudju,”  teriaknja  dan  segera  mengadakan  pertukaran.  Tjaraku  melakukan  djual-beli  begitu  berhasil,  sehingga ia betul-betul takut aku akan merobah pendirian lagi.

 

Dan  dengan  begitu  berpindah  tanganlah  hartaku  jang  terachir  itu,  benda  pembawa  untung  dan  terdjamin  kekuatannja. Tidakkah aku harus berienma-kasih kepada Puilau Bunga, karena aku dibebaskan dari belenggu  tahjul ?

 

Di  Endeh  jang  terpentjil  dan  membosankan  itu  banjak  waktuku  teriuang  untuk  berpikir.  Didepan  rumahku  tumbuh sebatang pohon keluih. Djam demi djam aku lalu duduk bersandar disitu, berharap dan berkehendak.  Dibawah  dahan-dahannja  aku  mendo’a  dan  memikirkan  akan  suatu  hari  ……………  suatu  hari  ……………

 

Ia  adalah  perasaan  jang  sama  seperti  jang  menguasai  Mac  Arthur  dikemudian  hari.  Dengan  menggetarnja  setiap djaringan otot dalam seluruh tubuhku, aku menggetarkan kejakinanku, bahwa bagaimanapun djuga —  disuatu tempat— disuatu hari — aku akan kembali. Hanja patriotisme jang berkobar-kobarlah dan jang masih  tetap membakar panas dadaku didalam, jang menjebabkan aku terus hidup.

 

Inggit  selamanja  menjakinkan  padaku,  bahwa  dia  merasakan  didalam  tuiang-tuiangnja  aku  disatu  hari  akan  mendjadi orang jang memegang peranan. Akan tetapi aku tidak pernah mempersoalkannja. Aku tidak pernah  berbitjara tentang masa depan, aku hanja memikirkannja. Pada setiap djam aku dalam keadaan bangun aku  memikirkannja.

 

Kukira,  selama  tiga  setengah  abad  dibawah  pendjadjahan  Belanda  dunia-iuar  hanja  satu  kali  mendengar  tentang negeri kami.  Ditahun 1883 Rakata,  gunung kami jang  terkenal itu,  meletus. Ia memuntahkan batu,  kerikil  dan  abu  menempuh  orbit  jang  mengelilingi  bumi  selama  bertahun-tahun.  Lama  setelah  itu,  ketika  langit  di  Eropah  mendjadi  merah,  orang  menundjuk  kepada  gunung  Rakata.  Ini  sama  halnja  denganku.  Aku  telah membikin ribut-ribut dan sekarang aku disuruh diam.

 

Ketika  sekawanan  kutjing  berkandang  dekat  pohon  keluih  itu  dan  karena  tempat  itu  tidak  lagi  tenang,  aku  lalu  berdjalan-djalan  kedalam  hutan.  Aku  mentjari  tempat  jang  tenang  dimana  angin  mendesirkan  daun-  daunan  bagai  bisikan,  karena  bisikan  Tuhan  ini  terdengar  seperti  njanjian  nina-bobok  ditelingaku.  Ialah  njanjian dari pulau Djawaku jang tertjinta.

 

Tempat  pelarian  menjendiri  jang  kugemari  adalah  dibawah  pohon  sukun  jang  menghadap  kelaut.  Sukun,  sedjenis buah-buahan seperti avocado, adalah sematjam buah jang kalau dikupas, diiris pandjang-pandjang  seperti  ketimun,  rasanja  menjerupai  ubi.  Aku  lalu  duduk  dan  memandang  pohon  itu.  Dan  aku  melihat  pekerdjaan  daripada  Trimurti  dalam  agama  Hindu.  Aku  melihat  Brahma  Jang  Maha  Pentjipta  dalam  tunas  jang  berketjambah  dikulit  kaju  jang  keabu-abuan  itu.Aku  melihat  Wishnu  Jang  Maha  Pelindung  dalam  buah  jang  londjong  berwarna  hidjau.  Aku  melihat  Shiwa  Jang  Maha  Perusak  dalam  dahan-dahan  mati  jang  gugur

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 76 dari 109

 

dari batangnja jang besar. Dan aku merasakan djaringan-djaringan jang sudah tua dalam badanku mendjadi  rontok dan mati didalam.

 

Kemudian aku dihinggapi oleh penjakit kepala dan merasa tidak sehat samasekali. Tapi setiap pagi aku masih  merangkak keluar tempattidur untuk duduk-duduk dibawah pohon sukun djauh dari rumah. Pohon sukun itu  berdiri  diatas  sebuah  bukit  ketjil  menghadapi  teluk.  Disana,  dengan  pemandangan  kelaut  lepas  tiada  jang  menghalangi,  dengan  langit  biru  jang  tak  ada  batasnja  dan  mega  putih  jang  menggelembung  dan  dimana  sesekali  seekor  kambing  jang  sedang  bertualang  lewat  sendirian,  disana  itulah  aku  duduk  melamun  djam  demi djam.

 

Terkadang terasa udara jang dingin ditepi pantai laut itu dan aku kedinginan. Seringkali aku merasa dingin,  sedang  keadaan  udara  tidak  dingin  samasekali.  Tapi  masih  sadja  aku  duduk  disana.  Suatu  kekuatan  gaib  menjeretku ketempat itu hari demi hari.

 

Aku  memandangi  samudra  bergolak  dengan  hempasan  gelombangnja  jang  besar  memukul  pantai  dengan  pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinja. Pasang naik dan pasang  surut,  namun  ia  terus  menggelora  setjara  abadi.  Keadaan  ini  sama  dengan  revolusi  kami,  kupikir.  Revolusi  kami tidak mempunjai titik batasnja. Revolusi kami, seperti djuga samudra luas, adalah hasil tjiptaan Tuhan,

 

satu-satunja  Maha-Penjebab  dan  Maha  Pentjipta.  Dan  aku  tahu  diwaktu  itu

aku  harus  tahu

sekarang

bahwa  semua  tjiptaan  dari  Jang  Maha  Esa,  termasuk  diriku  sendiri  dan  tanah-airku,

berada dibawah aturan hukum dari Jang Maha Ada.

 

Disuatu hari aku tidak mempunjai kekuatan untuk duduk dibawah pohon itu seperti biasanja. Aku tak dapat  bangun dari tempat-tidur.

 

Jaitu dihari dokter menjampaikan, bahwa aku mendekati kematianku karena menderita malaria.

 

Bab 16

 

Bengkulu

 

KETIKA  terdengar  kabar  di  Djakarta,  bahwa  Sukarno  dalam  keadaan  sakit  keras,  Thamrin  lalu  mengadjukan  protes   dalam   Dewan   Rakjat.   Katanja,   ,,Pemerintah   harus   bertanggung-djawab   atas   keselamatan   diri  Sukarno.  Dia  harus  dipindahkan  kenegeri  jang  lebih  besar  dan  lebih  sehat,  dan  keadaannja  hendaklah  mendapat perhatian jang lebih besar.”

 

,,Kita harus mentjari lebih dulu tempat lain dimana rakjatnja tidak berpolitik,” djawab ketua berlindung.

 

,,Ja,  ja,  dan  jang  djuga  primitif  dan  terbelakang,  sehingga  ia  tidak  membangkitkan  tantangan.  Ja,  saja  mengetahui  semua  itu.  Akan  tetapi  saja  memperingatkan  kepada  tuan  sekarang,  andaikata  Sukarno  mati,  maka Indonesia dan seluruh dunia akan menuding kepada tuan sebagai orang jang bertanggung-djawab atas  pembunuhan itu. Pulau Bunga adalah sarang malaria. Sukarno  sakit pajah.  Hidup-matinja sekarang terletak  ditangan pemerintah Belanda. Dia harus dipindahkan. Dan dengan setjepat mungkin.”

 

Den Haag serta-merta mengambil tindakan. Hal ini kuketahui disuatu malam seminggu kemudian. Aku sedang  berbaring dengan tenang dirumah ketika Darham, tukang djahit, tiba-tiba masuk dengan tjepat. la terengah-  engah karena berlari.

 

,,Saja baru dari toko De Leeuw”, katanja dengan napas turun-naik.

 

,,Toko rempah-rempah itu dari sini ada satu kilometer djauhnja. Kau berlari sedjauh itu ?” tanjaku.

 

,,Ja,”  katanja  masih  terengah.  ,,Bung  Karno  tentu  tahu,  toko  itu  kepunjaan  Lie  Siang  Tek  saudagar  kopra  jang sangat kaja.”

 

,,Ja,  ja,”  djawabku  hendak  mengetahui  persoalannja,  ,,tapi  apa  hubungannja  sampai  engkau  berlari-lari  kesini ?”

 

,,Orangnja  tjukup  kaja  untuk  dapat  memiliki  radio,”  Darham  melandjutkan  tanpa  menghiraukan  ketidak-  sabaranku.   ,,Tadi   djam   setengah   delapan,   sewaktu   berbelandja,   saja   mendengar   berita   radio   jang  menjatakan bahwa Ir. Sukarno akan dipindahkan ketempat lain.”

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 77 dari 109

 

Kudengarkan  berita  itu  dengan  tenang.  Sesungguhnja  aku  terdiam  sebentar  oleh  karena  bersjukur  kepada  Tuhan. Kemudian kutanjakan dengan segala ketenangan hati, ,,Kemana katanja ?”

 

,,Bengkulu.”

 

,,Di Sumatera Selatan ?”

 

,,Ja.”

 

,,Apakah disebutkan kapan ?”

 

,,Tidak, hanja itu jang diumumkan.”

 

Ini terdjadi dibulan Februari 1938. Sudah hampir lima tahun aku tinggal di Pulau Bunga.

 

Disaat   kami   meninggalkan   Endeh   banjak   orang   datang   untuk   melepasku.   Ada   jang   datang   untuk  mengutjapkan  selamat  djalan.  Ada  lagi  jang  mendo’akanku  jang  tidak  baik.  Jang  lain  lagi  hanja  sekedar  untuk  melihat-lihat  sadja.  Beberapa  diantaranja  malahan  meminta  untuk  bisa  ikut.  Salah  seorang  dari  mereka  adalah  pelajan  kami.  Selama  dalam  perdjalanan  aku  diasingkan.  Riwu  dengan  tenang  tidur  dilantai  dekat  tempat-tidurku  dan  selalu  berada  disitu  seperti  seekor  andjing  jang  memperlihatkan  kesetiaannja.  Jang seorang lagi adalah Darham jang tidak mau ketinggalan. Dia membuatkan kemedja dan sepasang pijama  berwarna  kuning-gading  sebagai  hadiah  perpisahan,  tapi  kemudian  diapun  berlajar  bersama-sama  dengan  kami.

 

Belanda   berusaha   sebaik-baiknja   mengelabui   saat   kedatangan   kami,   karena   takut   rakjat   akan   datang  beramai-ramai.  Dalam  siaran  radio  diberitakan,  bahwa  kedatangan  kami  diharapkan  djam  empat  sore,  sedangkan dipagi hari itu sesungguhnja kami sudah sampai. Surabaja, pelabuhan jang biasa ramai, masih sepi  seperti  dikesunjian  malam  ketika  kapal  kami  menurunkan  sauh.  Polisi  menutup  daerah  tjerotjok,  sehingga  rakjat tidak dibolehkan berada didaerah sekitar itu. Ketika aku memidjakkan kaki keanak-tangga jang paling  bawah dan mengisi penuh dadaku dengan helaan napas pandjang jang pertama dari negeri kelahiranku jang  tertjinta,  pintu  dari  kendaraan  jang  telah  menunggu  terbuka  dan  aku  dimasukkan  kedalam.  Aku  dilarikan  dengan keretaapi malam menudju Merak, negeri jang paling udjung di Djawa Barat. Disana, dengan setjara  tjepat dan diam-diam, aku ditolakkan keatas kapal dagang menudju Bengkulu.

 

Bengkulu adalah negeri jang bergunung-gunung dilingkungi oleh Bukit Barisan dan merupakan kota pedagang  ketjil  dan  pemilik  perkebunan  ketjil.  Disamping  kembang  raksasanja,  Raflesia  Arnoldi  jang  lebarnja  sampai  tiga kaki, negeri ini tidak mempunjai arti penting. Pun tidak dalam hal persahabatan.

 

Daerah  jang  merupakan  benteng  Islam  itu  masih  sangat  kolot.  Wanitanja  menutupi  badannja  dengan  rapi.  Mereka  djarang  menemani  suaminja.  Pada  waktu  aku  pertama  menghadiri  pertemuan  kekeluargaan,  aku  bertanja, ,,Mengapa dipasang tabir untuk memisahkan perempuan dari laki-laki ?” Tidak seorang djuga jang  mendjawab, karena itu aku menjingkirkan penghalang itu. Tidak lama kemudian sebuah tabir memisahkanku  dari penduduk kota itu.

 

Mesdjid  kami  keadaannja  kotor,  kolot  dan  tua.  Aku  kemudian  membuat  rentjana  sebuah  mesdjid  dengan  tiang-tiang  jang  tiantik,  dengan  ukiran  timbul  sederhana  dan  pagar  tembok  putih  jang  tidak  ruwet  dan  kubudjuk mereka untuk mendirikannja. Orang tua-tua dikota itu tidak suka kepada orang jang menginginkan  perobahan.  Keluarlah  utjapan-utjapan  jang  tidak  enak  diantara  kami  dan  pada  permulaan  aku  membuat   musuh. Hal ini terasa olehku sangat pedih. Terutama karena aku begitu haus akan kawan.

 

Polisi   keamanan   tetap   mengawasi   rumahku   siang-malam.   Setiap   tamu   ditjatat   namanja,   esok   harinja  dipanggil menghadap untuk ditanjai, kemudian dibajangi oleh reserse. Sungguh diperlukan suatu heberanian  untuk  dapat  memperlihatkan  keramahan  pada  Sukarno.  Kawanku  jang  satu-satunja  adalah  seorang  kepala  sekolah  rakjat  jang  seringkali  datang  meskipun  tahu  bahwa  ia  ditandai  oleh  Pemerintah,—  dan  membawa  seorang anak gadis tjilik jang selalu kupeluk diatas pangkuanku.

 

Aku   tak   pernah   melupakan   keramahannja   ini.   Pada   waktu   aku   sudah   mendjadi   Presiden,   kepadanja  kutanjakan, ,,Apa jang dapat saja lakukan untuk saudara ? Katakanlah keinginan saudara.” Temanku sedang  mendekati adjalnja, tapi djawabnja hanja, ,,Tolonglah keluarga saja kalau saja pergi. Lindungilah anak gadis  saja.” Pesannja ini kupenuhi sebaik-baiknja. Aku bahkan mentjarikan suami buat anaknja.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 78 dari 109

 

Banjak  baji  jang  dulu  pernah  kutimang  diatas  pangkuanku  sekarang  sudah  mendjadi  wanita-wanita  tjantik  dan  kemudian  orangtuanja  datang  kepadaku  memohon,  ,,Tolonglah,  Pak,  tolong  pilihkan  djodoh  buat  anak  saja.”  Aku  telah  mentjarikan  isteri  Hatta  untuknja.  Aku  mentjarikan  isteri  kawanku  Rooseno  untuknja.  Sekarang aku rnempunjai daftar terdiri dari anak gadis seperti itu. Dan aku adalah satusatunja Kepala Negara  jang djuga mendjadi tjalo dalam mengatur perkawinan, kukira.

 

Kebetulan  dalam  masa-masa  itu  perkawinanku  sendiripun  perlu  diatur  kembali.  Kemungkinan  disebabkan  oleh  tjara  hidup  orang  Indonesia  jang  merasa  tidak  sernpurna  kalau  tidak  memperoleh  keturunan  dari  perkawinannja.  Malahan  kebanjakan  dari  orang  Indonesia  jang  beristeri  satu,  anaknja  segerobak.  Setiap  tahun  djumlah  djiwa  kami  bertambah  dengan  dua  djuta  lebih.  Barangkali  tidak  ada  hal  lain  jang  dapat  diperbuat oleh rakjat kami jang miskin. Barangkali djuga karena kami adalah bangsa jang bernafsu besar dan  berdarah  panas,  dan  mengisi  malam-rnalam  kami  jang  panas  itu  dengan  berkasih-kasihan.  Pada  suatu  kali  Djendral Romulo menjatakan, ,,Saja kira dari seluruh bangsa Asia kami orang Filipinalah bangsa jang paling  bagus.” Djawabku, ,,Mungkin djuga, akan tetapi diantaranja orang Indonesialah jang paling bernafsu !”

 

Diantara  kami  terdapat  keluarga  jang  mempunjai  11,  13,  18  orang  anak.  Saudara  perempuan  bapakku  melahirkan 23. Setiap orang mempunjai anak. Setiap orang, ketjuali Sukarno. Inggit tidak dapat melahirkan,  karena  itu  sebagian  dari  diriku  dan  sebagian  dari  hidupku  tetap  dalam  keadaan  kosong.  Kehendakku  belum  terpenuhi.   Sudah  hampir  20  tahun  kami  kawin.  Namun  masih  belum  memperoleh  seorang  putera.  Terasa  olehku,  bahwa  selama  ini  sudah  begitu  banjak  kebahagiaan  jang  telah  dirampas  dari  diriku  ……………

 

Mengapa keinginan inipun harus didjauhkan pula ?

 

Ketika  perasaan  jang  menekan  ini  mulai  memukul-mukul  dadaku  selama  24  djam  dalam  sehari,  kutjoba  menghilangkannja  dengan merapati anak-anak pada  setiap kesempatan jang kuperoleh. Di Pulau Bunga aku  mengambil  dua  orang  anak  angkat  lagi— Sukarti,  anak  seorang  pegawai  berasal  dari  Djawa  dan  Jumir,  anak  keluarga  djauh  Inggit,  jang  pada  waktu  sekarang  sudah  mempunjai  enam  orang  anak.  Di  Bengkulu  aku  memperlakukan anak orang lain seperti anakku sendiri. Tetangga kami, keluarga Soerjomihardjo, mempunjai  seorang  anak  laki-laki  berumur  10  tahun.  Berdjam-djam  lamanja  aku  menghabiskan  waktu  bersama-sama  dengan  Ahmad  ini.  Kalau  ada   anak  Belanda  meludahinja,  akulah  jang  mengeringkan  air-matanja   dan  menguatkan hatinja dengan kata-kata, ,,Ahmad, negeri ini kita punja. Disatu waktu kita djadi tuan dinegeri  kita  sendiri.  Disatu  waktu  kita  bisa  berbuat  menurut  kemauan  kita,  bukan  menurut  jang  diperintahkan  kepada kita. Djangan kuatir.”

 

Kemudian  aku  mendjadi  seorang  pendidik.  Ketua  Muhammadijah  setempat,  Pak  Hassan  Din,  datang  disuatu  pagi  dengan  tidak  memberi  tahu  lebih  dulu,  seperti  jang  telah  mendjadi  kebiasaan  kami.  ,,Disini,”  ia  memulai,  ,,Muhammadijah  menjelenggarakan  sekolah  rendah  agama  dan  kami  sedang  kekurangan  guru.  Selama  di  Endeh  kami  tahu  Bung  Karno  telah  mengadakan  hubungan  rapat  dengan  ‘Persatuan  Islam’  di  Bandung  dan  kami  dengar  Bung  Karno  sepaham  dengan  Ahmad  Hassan,  guru  jang  tjerdas  itu.  Apakah  Bung  bersedia pula membantu kami sebagai guru ?”

 

,,Saja menganggap permintaan ini sebagai rahmat,” djawabku.

 

,,Tapi …………… ingatlah …………… djangan membitjarakan soal politik.”

 

,,Ah, tidak,” aku tersenjum menjeringai, ,,hanja saja akan menjinggung tentang Nabi Besar Muhammad jang  selalu mengadjarkan ketjintaan terhadap tanah-air.”

 

Dalam kelasku terdapat Fatmawati, puteri dari Pak Hassan Din. Fatma berarti ,,Teratai”.Wati”: ,,kepunjaan”.

 

Rambutnja jang seperti sutera dibelah ditengah dan mendjurai kebelakang berdjalin dua. Fatmawati berasal  dari keluarga biasa di Tjurup, sebuah kampung beberapa kilometer dari Bengkulu. Ia setahun lebih muda dari  Ratna  Djuami.  Dan  ketika  ia  mengikuti  Ratna  Djuami  memasuki  sekolah  rumah  tangga  di  Bengkulu—  jang  merupakan  sekolah  tertinggi  jang  ada  didaerah  itu  —  ia  mentjari  tempat  tinggal.  Dengan  senang  hati  aku  menjambutnja sebagai anggota keluarga kami.

 

Aku  senang  terhadap  Fatmawati.  Kuadjar  dia  main  bulutangkis.  Ia  berdjalan-djalan  denganku  sepandjang  tepi  pantai  jang  berpasir  dan,  sementara  alunan  ombak  jang  berbuih  putih  memukul-mukul  kaki,  kami   mempersoalkan   kehidupan   atau   mempersoalkan   Ketuhanan   dan   agama   Islam.  Dalam   kesempatan   jang  demikian itulah ia menanjakan, ,,Mengapa orang Islam dibolehkan mempunjai isteri lebih dari satu ?”

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 79 dari 109

 

,,Ditahun 650 Nabi Muhammad s.a.w. mengembangkan Islam, kemudian mempertahankannja terhadap orang  Arab dari suku Mekah, pun terhadap kaum keluarganja sendiri,” djawabku. ,,Sembojan jang dipakai didjaman  itu ‘Pedang disatu tangan dan Al Quran ditangan jang lain’. Diantara laki-laki banjak terdapat korban.”

 

,,Ini berarti banjak djanda,” kata Fatmawati pelahan-lahan.

 

,,Pasti,”  kataku,  ,,Akan  tetapi  untuk  menghindarkan  hawa  nafsu  kehewanan  atau  perkelahian  perempuan  diantara mereka sendiri, maka Nabi menerima wahju dari Tuhan jang mengizinkan laki-laki mempunjai isteri  sampai empat orang agar tertjapai suasana jang tenang. Tapi di Bali orang mendjalankan poligami jang tidak  terbatas.  Seorang  pangeran  jang  sudah  berumur  76  tahun  belum  lama  ini  miengawin;  isterinja  jang  ke-36.  Umurnja 16.”

 

,,Usia   jang   tjotjok    untuk   perkawinan,”   kata   Fatmawati   jang   berumur   limabelas   setengah   tahun  mengemukakan pendapatnja.

 

Di  Bante  Pandjang  arusnja  didalam  deras  sekali  dan  banjak  terdapat  ikan  ju.  Orang  tidak  dibolehkan  berenang disana, akan tetapi ada sebuah batu-karang jang bersegi-tiga jang merupakan kolam. Pada waktu  kami mengarunginja ia bertanja, ,,Tidak adilkah hukum Islam terhadap perempuan ?”

 

,,Sebaliknja,  adjaran  Nabi  menaikkan  deradjat  perempuan.  Sebelum  itu  kedudukan  perempuan  seperti  dalam  neraka.  Orang  tua  menguburkan  anak-anak  gadis  hidup-hidup  oleh  karena  dianggap  tidak  penting.  Laki-laki hanja menjerahkan mas-kawin kepada sibapak dan membeli anak gadisnja untuk  didjadikan isteri.  Pada  waktu  sekarang  perempuan  tidak  dibeli  seperti  membeli  kambing.  Perempuan  sekarang  mendjadi  teman-hidup jang sama kedudukannja dalam perkawinan.

 

,,Hukum perkawinan di Asia disesuaikan menurut keadaan setempat. Disini lebih banjak djumlah perempuan  daripada  laki-laki.  Perempuan  jang  kelebihan  ini  berhak  atas  kehidupan  perkawinan,  karena  itu  Islam  memberi   kesempatan   kepada   mereka   untuk   mendjadi   isteri-isteri   jang   sjah   dan   terhormat   dalam  masjarakat.    Akan    tetapi    di    Tibet,    dimana    laki-laki    lebih    banjak    daripada    perempuan,    mereka  mempraktekkan polyandri. Inilah bukti penjesuaian hukum agama dengan hukum masjarakat di Timur.”

 

,,Bagaimana  orang  Barat  mengatasinja  ?”,,Seringkali  orang  Barat  mempunjai  njai.  Kerugiannja,  anak-anak  jang mereka peroleh disingkirkan dimasjarakat atau ditutup-tutup atau mendapat nama jang djelek seumur  hidupnja. Dalam masjarakat kita anak dari isteri kedua dan selandjutnja mendapat kedudukan jang baik dan  dihormati dalam masjarakat.”

 

Fatmawati  bungkem  sambil  berdjalan  sepandjang  pantai,  kemudian  bertanja,  ,,Perlukah  seorang   Islam  mendapat persetudjuan dari isteri pertama sebelum mengawini isteri jang kedua ?”

 

,,Tidak   wadjib.   Hal   ini   tidak   disebut-sebut   dalam   Quran.   Ini   ditambahkan   kemudian   dalam   Fiqh,

 

……………”

 

,,……………  hukum-hukum  jang  ditambah  oleh  manusia  ditahun-tahun  700  dan  800-an  jang,  menurut  pertimbangan akal, didasarkan pada A1 Quran dan Hadith, jaitu qijas.”

 

,,Benar” kataku tersenjum kepada muridku jang ketjil itu lagi tjerdas.

 

Dalam kehidupanku di Bengkulu pada masa itu aku memperoleh kedudukan sebagai orang tjerdik-pandai dari  kampung.  Orang  datang,  kepadaku  untuk  minta  nasehat.  Seperti  misalnja  persoalan  kerbau  kepunjaan  seorang  Marhaen  jang  dituntut  oleh  seorang  pegawai.  Marhaen.  itu  mendjadi  hampir  putus  asa,  karena  kerbau   ini   sangat   besar   artinja   baginja.   Ia   datang   padaku   sebagai   ,,Dukun”-nja.   Aku   menasehatkan  kepadanja, ,,Adjukan persoalan ini kepengadilan dan saja akan mendo’akan.” Tiga hari kemudian kerbau itu  kembali.

 

Ada lagi perempuan jang datang menangis-nangis kepadaku, ,,Saja sudah tudjuh bulan tidak haid.”

 

,,Apa jang dapat saja lakukan ? Saja bukan dokter,” kataku.

 

 

,,Bapak

 

merasa

 

menolong  semua  orang.  Bapak

 

sangat sakit. Tolonglah ……………

 

adalah  djuruselamat

 

tolonglah ……………

 

kami.  Saja  pertjaja  kepada  bapak  dan  saja  tolonglah saja.”

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 80 dari 109

 

Kepertjajaannja   kepadaku   luarbiasa,   dan   aku   tidak   dapat   berbuat   sesuatu   jang   akan   menimbulkan  keketjewaannja.  Karena  itu  kubatjakan  untuknja  Surah  pertama  dari  Quran  ditambah  dengan  do’a  jang  maksudnja sama dengan ‘Bapak kami jang ada disorga’. Kemudian perempuan itu sembuh dari penjakitnja.

 

Tetanggaku,  seorang  pemerah  susu,  sangat  membutuhkan  uang.  Dia  jakin,  bahwa  dengan  mengemukakan  persoalannja itu kepadaku, bagaimanapun djuga akan dapat dipetjahkan. Memang ia benar. Aku keluar dan  menggadaikan badjuku untuk memenuhi tiga rupiah enampuluh sen jang diperlukannja.

 

Djadi  dimata  orang  kampung  jang  bersahadja  itu  lambat-laun  aku  dipandang  seperti  Dewa.  Apa  jang  ditundjukkan   Fatmawati   kepadaku   adalah   pemudjaan   kepahlawanan.   Umurku   lebih   dari   20   tahun  daripadanja   dan   ia   memanggilku   Bapak,   pun   untuk   seterusnja.   Bagiku   ia   hanja   seorang   anak   jang  menjenangkan,   salah-seorang   dari   begitu   banjak   anak-anak   jang   mengelilingiku   untuk   menghilangkan  kesepian jang djadi melarut dalam hatiku. Jang kuberikan kepadanja adalah kasih-sajang seorang bapak.

 

Inggit  tidak  melihat  hal  itu  dengan  tjara  jang  demikian.  Kami  mempunjai  radio  dikamar  belakang.  Disuatu  malam   kawan-kawan   mendengarkannja   bersama-sama   kami.   Fatmawatipun   datang  mendengarkan.   Ada  tempat kosong disebelahku diatas divan, djadi ia duduk dekatku. Malam itu djuga Inggit menjatakan, ,,Aku  merasakan  ada  pertjintaan  sedang  menjala  dirumah  ini.  Djangan  tjoba-tjoba  menjembunjikan.  Seseorang  tidak bisa  membohong dengan sorotan matanja jang rnenjinar, kalau ada orang lain mendekat.”

 

,,Djangan begitu,” djawabku dengan bernafsu. ,,Dia itu tidak ubahnja seperti anakku sendiri.”

 

,,Menurut  adat  kita,  perempuan  tidak  begitu  rapat  kepada  laki-laki.  Anak-anak  gadis  menurut  kebiasaan  lebih rapat kepada siibu, bukan kepada si bapak. Hati-hatilah, Sukarno, supaja mendudukkan hal ini menurut  tjara jang sepantasnja.”

 

Maka terdjadilah, kalau ada pertengkaran antara Fatmawati dengan Sukarti atau Ratna Djuami, Inggit selalu  memihak kepada anak jang berhadapan dengan Fatmawati. Karena itu aku mau tidak mau berdiri difihaknja.  Lalu  mendjulanglah  suatu  dinding  pemisah  jang  tidak  terlihat,  antara  kami,  dan  aku  didesak  memihak  kepada Fatmawati.

 

Setelah dua tahun ia pindah kerumah neneknja tidak djauh dari situ. Sungguhpun demikian kami masih sadja  dalam  satu  lingkungan,  karena  bibinja  kawin  dengan  kemenakanku  dan  adanja  pesta-pesta,  kemudian  berkumpul bersama-sama dihari libur dan sebagainja.

 

Tahun  herganti  tahun  dan  Fatmawati  tidak  lagi  anak-anak.  Ia  sudah  mendjadi  seorang  perempuan  tjantik.  Umurnja sudah 17 tahun dan terdengar kabar bahwa dia akan dikawinkan. Isteriku sudah mendekati usia 53  tahun. Aku masih muda, kuat dan sedang berada pada usia jang utama dalam kehidupan. Aku menginginkan  anak. lsteriku tidak dapat memberikannja kepadaku. Aku menginginkan kegembiraan hidup. Inggit tidak lagi  memikirkan  soal-soal  jang  demikian.  Disuatu  pagi  aku  terbangun  dengan  keringat  dingin.  Aku  menjadari  bahwa aku tentu akan kehilangan Fatmawati, sedangkan aku memerlukannja. Kemudian aku menjadari pula,  bahwa aku berbalik kembali kemasa duapuluh tahun jang silam. Kembali ketengah kantjah perdjoangan itu-  itu  djuga,  perdjoangan  antara  baik  dan  djahat.  Aku  memikirkan  tentang  Ardjuna,  pahlawan  Mahabharata,  jang bertanja kepada Dewa, Batara Krishna, ,,Hai, dimana engkau ?” Maka Krishna mendiawab ,,Aku berada  didalam sang baju. Aku ada didalam air. Aku berada dibulan. Aku ada didalam sinarnja sang tjandra. Akupun  ada dalam senjumnja gadis jang menjebabkan engkau tergila-gila.”

 

 

Kemudian aku bersoal dalam diriku sendiri, kalau didalam senjuman indah dari gadis tjantik itu terdapat  pula  Tuhan  apakah  dengan  mengagumi  senjuman  itu  aku  berdosa  karena  berbuat  kedjahatan  ?  Tidak.  Kalau  begitu,  apabila  aku  mentjintai  senjuman  indah  gadis  tjantik  itu,  apabila  senjum  itu  suatu  pantjaran  dari  Tuhan dan Dia mentjiptakan gadis tjantik itu sedangkan aku hanja mengagumi tjiptaanNja itu, mengapalah  dianggap dosa kalau aku memetiknja !

 

Sekali lagi, ini adalah peperangan kekal antara baik dan djahat, mentjoba memakan habis kesenangan ketjil  jang kuperoleh ditengah-tengah kekosongan dalam hidupku. Ketika berdjalan-djalan disuatu sore, Fatmawati  bertanja kepadaku, ,,Djenis perempuan mana jang Bapak sukai ?”

 

Aku  memandang  kepada  gadis  desa  ini   jang  berpakaian  badjukurung  merah,  dan  berkerudung  kuning  diselubungkan dengan sopan. ,,Saja menjukai perempuan dengan kasliannja. Bukan wanita modern pakai rok  pendek, badju ketat dan gintju bibir jang menjilaukan. Saja lebih menjukai wanita kolot jang setia  mendjaga  suaminja dan senantiasa mengambilkan alas kakinja. Saja tidak menjukai wanita Amerika dari generasi baru,  jang saja dengar menjuruh suaminja mentjutji piring.”

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 81 dari 109

 

,,Saja setudju,” dia membisikkan, mengintip kemalu-maluan padaku melalui bulu-mata jang merebah.

 

,,Dan saja menjukai perempuan jang merasa berbahagia dengan anak banjak. Saja sangat mentjintat anak-  anak.”

 

,,Saja djuga,” katanja.

 

Minggu berganti bulan dan bulanpun silih berganti, perasaan tjoba-tjoba dalam hati bersemi mendjadi kasih.  Walaupun   bagaimana   kutjoba   sekuatku   memadamkan   hati   muda   jang   sedang   bergolak,   karena   rasa  penghargaan jang besar terhadap Inggit. Tiada maksudku hendak melukai hatinja.

 

,,Ini  semua  kesalahanku,”  dia  mengulangi  berkali-kali  ketika  mengemukakan  persoalan  ini  disuatu  malam  jang  tidak  menjenangkan.  ,,Inilah  djadinja,  kalau  menaruh  anak  orang  lain  dirumah.  Tapi  aku  tak  pernah  membajangkan akan kedjadian seperti ini. Dia seperti anakku sendiri.”

 

,,Aku  sangat  bersjukur  mengenai  kehidupan  kita  berdua,”  aku  menerangkan.  ,,Selama  ini  kau  djadi  tulang-  punggungku dan mendjadi tangan kananku selama separo dari umurku. Tapi bagaimanapun djuga, aku ingin  merasakan  kegembiraan  mempunjai  anak.  Terutama  aku  berdo’a,  disatu  hari  untuk  memperoleh  anak  laki-  laki.”

 

,,Dan aku tidak bisa beranak, itukah jang dimaksud ?”

 

,,Ja,” aku mengakui.

 

,,Aku tidak bisa menerima isteri kedua. Aku minta tjerai.”

 

Kami tahu, bukanlah dia jang menentukan pilihan, akan tetapi aku merasa tidak enak memutuskan sendiri.  ,,Aku tidak berrnaksud mentjeraikanmu,” kataku.

 

,,Aku tidak memerlukan kasihanmu,” bentaknja.

 

,,Tidak    ada    maksudku    untuk    menjingkirkanmu,”    aku    melandjutkan,    ,,Adalah    keinginanku    untuk  menempatkanmu dalam kedudukan jang paling atas dan keinginankulah supaja engkau tetap mendjadi isteri  jang  pertama,  djadi  memegang  segala  kehormatan  jang  bersangkut  dengan  ini  dalam  kebiasaan  kita,  sementara  aku  mendjalankan   hukum  agama  dan  hukum  sipil  dan  mengambil  isteri   jang  kedua  untuk  melandjutkan keturunanku.”

 

,,Tidak.”

 

,,Untuk  kawin  lagi  adalah  suatu  keharusan  bagiku,  akan  tetapi  aku  mengadjukan  satu  usul.  Sekalipun  aku  tjinta   terhadap   Fatmawati,   akan   kulupakan   dia   kalau   kaudapatkan   perempuan   lain   jang   menurut  perkiraanmu  lebih  tjotjok  untukku.  Tundjuklah  seorang  jang  tidak  seperti  anak  lagi  dan  dengan  demikian  dapat membebaskanmu dari kebentjian jang kaurasakan sekarang.”

 

Airmata  menggenangi  mataku  pada  waktu  aku  bersoal  dengan  dia.  ,,Kalau  sekiranja  aku  mendjalani  hidup  jang  normal  dengan  kegembiraan  jang  normal  pula,  mungkin  aku  dapat  menerima  kekosongan  ini  tanpa  keturunan.  Akan  tetapi  aku  tidak  mengalami  selain  daripada  kemiskinan  dan  kesukaran-kesukaran  hidup.  Umurku sekarang sudah, 40. Dalam usia 28 aku sudah disingkirkan. Duabelas tahun dari masa muda seorang  laki-laki  kuhabiskan  dalam  kehidupan  pengasingan.  Di  suatu  tempat  ……………  dengan  djalan  apapun

 

……………  tentu  akan  ada  imbalannja.  Kurasakan,  bahwa  aku  tidak  dapat  menahankan  djika  jang  inipun  dirampas dariku.”

 

Ratna  Djuami  kembali  ke  Djawa  untuk  melandjutkan  sekolahnja.  Inggit  dan  aku  boleh  dikatakan  kesepian.  Hubungan kami tegang, akan tetapi ia kami landjutkan djuga. Aku tidak tahu apa jang harus diperbuat oleh  karena   itu   kutjari   keasjikan   dengan   bekerdja.   Aku   mengerdjakan   rentjana   rumah   untuk   rakjat.   Aku  mengadjar  guru-guru  Muhammadijah.  Aku  mengorganisir  Seminar  Alim-Ulama  AntarPulau  Sumatera-Djawa  dan berhasil mengemukakan kepada mereka rentjana memodernkan Islam.

 

Akupun  menerima  tjalon  menantu  dari  Residen  sebagai  murid  dalam  peladjaran  bahasa  Djawa,  karena  dia  bekerdja  sebagai  asisten  kebun  disuatu  perkebunan  teh  dan  para  pekerdjanja  berasal  dari  Djawa.  Dan  di  Bengkulu  hanja  Sukarno  jang  menguasai  bahasadaerah  itu.  Pemuda  ini  dan  aku  mendjadi  sahabat  karib.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 82 dari 109

 

Ketika  Jimmy  achirnja  melangsungkan  perkawinannja  aku  ditundjuknja  untuk  bertindak  sebagai  walinja,  akan  tetapi  Residen  itu  rnenolak  dengan  minta  maaf,  dan  mengatakan,  ,,Tidak  mungkin  seorang  tawanan-  utama  dari  negeri  ini  mendjadi  wali  dalam  perkawinan  anak  saja.”  Sekalipu,  demikian  dia  mengundangku  menghadiri upatjara perkawinan itu.

 

Setelah  satu  tahun,  dalam  waktu  mana  aku  tidak  mau  menerima  pembajaran,  Jimmy  menghadiahkan  kepadaku   dua  ekor   Dachshaund.  Aku   sajang  sekali  kepada   andjing-andjing  itu.  Ia  kubawa  tidur.  Aku  memanggilnja   dengan   mengetuk-ngetukkan   lidahku.   ,,Tuktuktuktuk”   dan   karena   aku   tidak   pernah  memberinja nama, lalu binatang-binatang ini dikenal sebagai ,,Ketuk Satu” dan ,,Ketuk Dua”.

 

Aku  mentjoba  mengalihkan  pikiranku  dari  persoalan  pribadi  dengan  memelihara  hewan-hewan  lain.  Aku  memperoleh  50  ekor  burung  gelatik  dengan  harga  sangat  murah.  Kemudian  kubeli  sangkar  jang  besar  dan  menambahkan   burung   barau-barau   sepasang,   djadi   dia   tidak   kesepian.   Tapi   kesenangan   inipun   tidak  menjenangkan  hatiku.  Kulepaskan  binatang-binatang  ini.  Aku  tidak  sampai  hati  melihat  machluk  jang  dikurung dalam sangkar.

 

Karena  sekumpulan  binatang  ini  tidak  memuaskan  hatiku,  aku  berpindah  pada  pekerdjaan  memperindah  halaman belakang. Djalanan menudju kedjalan besar ditutupi dengan batu-karang. Aku mempekerdjakan dua  orang kuli  untuk mengangkatnja. Ketua organisasi  pemuda setempat mengetahui  apa jang kukerdjakan  dan  disuatu   hari   Minggu   dia   datang   dengan   selusin   kawan-kawan   dan   dalam   tempo   dua   djam   mereka  menjelesaikan segala-galanja.

 

Ketika pekerdjaan ini selesai, dan kepedihan dalam hati masih tetap bersarang, aku mengadakan kelompok  perdebatan setiap malam Minggu. Kami mempersoalkan ,,Teori Evolusi D?rwin” atau ,,Mana jang lebih baik,  beras  atau  djagung  —  dan  mengapa  ?”  atau  pokok  pembitjaraan  seperti  ,,Apa  pengaruh  bulan   terhadap  tingkah-laku  perempuan”.  Aku  menjusun  pendapatku  sambil  berdebat.  Terkadang  aku  pertjaja  apa  jang  kuutjapkan,  terkadang  tidak.  Terkadang  aku  hanja  mentjoba  untuk  menjalakan  api  dibawah  semangatku  sendiri.

 

Aku  djuga  meminjaki  otakku  dengan  menulis  artikel.  Karena  ini  terlarang,  kupergunakan  nama  samaran  Guntur  atau  Abdurrachman.  Satu  kesukaranku  ialah  karena  aku  tidak  mengetik  dan  tulisanku  jang  sangat  djelas dan mudah dibatja sudah diketahui orang. Tulisan tangan membukakan watak seseorang. Usaha untuk  merobahnja sedikit masih memperlihatkan tulisan jang sarna, karena itu aku merobahnja samasekali dengan  huruf tjetak atau menulisnja dengan tangan kiri.

 

Dibulan  Mei  1940  Hitler  menjerbu  Negeri  Belanda.  Pemerintah  segera  memanggilku  kemarkas  di  Fort  Marlborough,  sebuah  benteng  dari  batu  dan  besi  menghadap  kesebuah  tebing  jang  tjuram.  Muka-muka  mereka  kelihatan  suram.  ,,Insinjur  Sukarno,”  mereka  berkata.  ,,Kami  hendak  memperingati  kedjadian  jang  menjedihkan   ini.   Sebagai   satu-satunja   seniman   di   Bengkulu   tuan   ditundjuk   untuk   membuat   tugu  peringatan.”,,Maksud tuan, setelah menguber-uber saja karena saja menghendaki kemerdekaan untuk rakjat  saja,  tiba-tiba  sekarang  meminta  saja,  sebagai  tawanan  tuan,  untuk  membuat  tugu  karena  bangsa  lain  merebut kemerdekaan negeri tuan ?”

 

,,Ja.”

 

Betapapun   aku   berhasrat   hendak   memuaskan   selera   seniku,   namun   apa   jang   kuperbuat   hanjalah  menumpukkan  tiga  buah  batu,  jang  satu  diatas  jang  lain.  Dan  itulah  seluruhnja  jang  kukerdjakan.  Untuk  menjatakan   pendapat   Belanda   itu   dengan   kata-kata   manis:   mereka   djidjik   melihatnja.   Akan   tetapi  sebenarnja tidak timbul perasaanku untuk mentjiptakan suatu jang indah bagi mereka.

 

Menjinggung  tentang  peperangan,  sewaktu  masih  di  Bandung  aku  telah  melihat  lebih  dulu  pengaruh  dari   ketegangan-ketegangan di Eropa dan berkembangnja Hitlerisme. Pada pertengahan tahun-tahun tigapuluhan  aku meramalkan bahwa Djepang akan mengikuti Hitler untuk melawan Inggris dan Amerika di Lautan Teduh  dan  bahwa  dengan  lindungan  peristiwa  ini  Indonesia  akan  memperoleh  kemerdekaannja.  Sedjak  dari  waktu  itu aku memperhitungkan, kapan perang Asia akan berkobar dan berapa lama perang itu berlangsung dan aku  menjirnpulkan,  bahwa  matarantai  jang  lemah  dari  rantai  imperialisme  Djepang  adalah  Indonesia.  Negeri  kami  jang  terbentang  luas  adalah  jang  paling  mudah  untuk  diputuskan.  Lalu  di  Flores,  ditahun  1938  aku  meramalkan  bahwa  Indonesia  akan  mendesak  kedepan  dan  memutuskan  belenggunja  ditahun  1945.  Aku  bahkan  menulis  suatu  tjerita  sandiwara  mengenai  kejakinanku  berdjudul  ,,Indonesra  ’45”.  Sementara  aku  menunggu, menahankannja dengan sabar, aku gelisah dan takut.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 83 dari 109

 

Aku mendjadi pembantu tetap dari suratkabar Anwar Tjokroaminoto. Tapi kini aku menulis dengan memakai  namaku sendiri, karena walaupun hanja untuk sementara waktu, perasaanku membawaku kesatu pihak jang  sama dengan Negeri Belanda. Dibulan Djuli 1941 aku menulis dalam ,,Harian Pemandangan” sebagai berikut:

 

,,Patriotisme  tidak  boleh  disandarkan  pada  nasionalismedengan  pengertian  kebangsaan  jang  sempit  jang  —  seperti Italia dan Djerman — meletakkan kepentingan bangsa dan negeri diatas kepentingan kesedjahteraan  manusia-manusia  didalamnja.  Saja  berdo’a  kepada  Allah  Ta’ala  agar  melindungi  kita  dari  kefasikan  untuk  mempertjajai fasisme dalam menudju kemerdekaan.

 

,,Pemboman  rumah-rumah,  pembunahan  perempuan  dan  anak-anak,  penjerangan  terhadap  negeri-negeri  jang  lemah,  penangkapan  orang-orang  jang  tidak  bersalah,  penjembelihan  terhadap  djutaan  orang  Jahudi,  itulah ISME jang hendak berkuasa sendiri. Fasisme tidak mengizinkan adanja parlemen. Fasisme adalah usaha  terachir untuk menjelamatkan kapitalisme.

 

,,Seluruh manusia harus membentji Hitler-Hitler dan Mussolini-Mussolini jang ada dipermukaan bumi ini. Dan  pandjinja  tjita-tjita  Indonesia  haruslah  Anti-Nazisme  dan  Anti-Fasisme.  Hari  ini  saja  mengangkat  pena  saja  guna memuntahkan saja punja kebentjian terhadap penjakit ini jang mau tidak mau menjeret kita kedalam  peperangan dan bentjana besar.

 

,,Kebedjatan  moral  ini  tidak  sadja  menghinggapi  orang  kulitputih.  Akan  tetapi  Djepangpun  dihinggapi  oleh  nafsu  untuk  memperoleh  kekuasaan  ini,  jang  memerlukan  konsesi  minjak.  batubara  dan  minjak-pelumas  untuk  armadanja  dan  jang  menjebabkan  rakjatnja  lupa  alcan  kesatriaan  mereka  dalam  usahanja  hendak  mentjekamkan kukunja kepada saudara-saudaranja.

 

,,Djepang, itu naga pembawa-bentjana dengan keserakahan untuk mentjaplok dalam waktu jang tidak lama  lagi akan terdjun kedalam peperangan buas jang membahajakan perdamaian dan keselamatan bangsa-bangsa  Asia  dalam  perlombaannja  melawan  Barat.  Laksana  tiga  ekor  radja-singa  berhadapan  satu-sama-lain  jang  sudah  siap  untuk  menerkam,  Inggris  siap  di  Singapura,  Djepang  mempersiapkan  sendjata  dalam  lingkungan  perbatasannja  dan  dikepulauan  Mariana,  Amerika  dengan  benteng-bentengnja  di  Hawaii,  Guam,  Manila,  Pearl Harbour.

 

,,Saudara-saudara,  waktunja  sudah  dekat,  disaat  mana  air  biru  dari  Samudra  Pasifik  akan  mendjadi  korban  berdarah jang tidak ada tandingannja didalam sedjarah dunia !”

 

Akan tetapi peperangan ini jang kuperhitungkan akan memenuhi seluruh harapan dan impianku masih djauh  didepan. Djadi ketika itu aku menjimpannja dalam pikiranku sadja untuk mempersendjatai raga-ku melawan  peperangan jang mengamuk-amuk didadaku.

 

Diachir tahun 1941 aku mengawatkan Ratna Djuami dan tunangannja Asmara Hadi, seorang pengikut lamaku,  untuk datang ke Bengkulu sehingga kami dapat mempersoalkan kehidupan pribadiku. Kami bertiga berdjalan-  djalan  sepandjang  Bante  Pandjang.  ,,Kuharapkan  kalian  mengerti,”  aku  mengemukakan.  ,,Aku  ini  hanja  seorang manusia, Aku ingin kawin lagi. Tjobalah, bagaimana pendapatmu keduanja ?”

 

Asmara Hadi menjatakan, ,,Setjara pribadi saja setudju dengan bapak. Saja mempersamakan bapak dengan  Napoleon  dan  para  pemimpin  besar  lainnja  dalam  sedjarah,  jang—  saja  batja  —  setjara  fisik  sangat  kuat.  Akan tetapi, dilihat dari segi politik hal ini tidak baik. Sungguhpun bapak diasingkan djauh semendjak tahun  1934, bapak tetap mendjadi lambang kami. Rakjat mendo’akan agar bapak segera bangkit lagi dan memimpin  mereka  kembali.  Dan  rakjat  tahu  dari  tulisan-tulisan  bapak,  bahwa  waktunja  sudah   dekat.  Apa  kata  rakjat  nanti kalau bapak sekarang mentjeraikan ibu Inggit diwaktu dia sudah tua dan jang setia mendampingi bapak  selama masa pendjara dan pembuangan ? Bagaimana djadinja nanti ?”

 

,,Tjoba,   Umi,”   kataku   sungguh-sungguh   kepada   Ratna   Djuami,   menjebutnja   dengan   nama   ketjilnja.  ,,Dapatkah kau memahami kepedihanku ?”

 

,,Saja sepaham dengan Asmara Hadi. Meskipun hati saja dapat merasakan kepedihan bapak, tapi saja rasa ini  akan meruntuhkan bapak dalam bidang politik.”

 

,,Tapi engkau masih muda. Engkau hendaknja lebih mengerti daripada ibumu,” aku mempertahankan. ,,Dan  engkau   tidak   usah   kuatir   tentang   dirimu.   Kalaupun   aku   mengawini   Fatmawati,   aku   masih   tetap  mentjintaimu. Gelombang-gelombang jang berbuih putih ini akan mendjadi saksi.”

 

Sebelum ,diperoleh suatu keputusan, Djepang menjerbu Sumatra. Harinja adalah 12 Februari 1942.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 84 dari 109

 

Bab 17

 

Pelarian

 

JANG  mendjadi  sasaran  pertama  dari  pendaratan,  tentara  Djepang  adalah  kota  Palembang,  Sumatera  Selatan. Tentara Belanda mengundurkan diri. Dia tidak bertempur. Dia lari tunggang-langgang, Hanja untuk  satu hal Belanda tidak lari, jaitu untuk mengawasi Sukarno.

 

Belanda   kuatir   meninggalkanku,   oleh   karena   Djepang   sudah   pasti   akan   menggunakan   bakatku   untuk  melontarkan kembali segala dendam kesumat terhadap Negeri Belanda, dan dengan demikian djuga  terhadap  Pasukan  Sekutu.Merekapun  kuatir  terhadap  masa  datang,  kalau  perang  sudah  selesai.  Lepasnja  Sukarno  ketali-hati rakjat jang sudah sangat bergetar, berarti bukan, mempermudah djalan untuk menguasai kembali  kepulauan Hindia.

 

Mereka bahkan lebih menjadari daripadaku, bahwa di Djawa dan dimana-mana rakjat masih belum melupkan  Sukano.  Rakjat  masih  menempatkan  Sukano  dipuntjak  impian  mereka.  Boleh  djadi  ini  disebabkan,  karena  tidak  ada  tokoh  lain  jang  dapat  menduduki  tempat  Sukarno  didalam  hati  rakjat.  Semendjak  aku  dibuang,  maka   pergerakan   kebangsaan   telah   bertjerai-berai.   Semua   pemimpin   dimasukkan   kedalam   bui   atau  diasingkan.  Ditahun  ’36  sebuah  partai  jang  telah  dilemahkan,  jaitu  Gerindo,  bergerak  kembali,  akan  tetapi  tidak  mempunjai  tokoh  jang  mudah  terbakar.  Tidak  ada  pemberontakan  rakjat.  Apa  jang  dapat  dilakukan  oleh  massa  hanjalah  mengingat-ingat  kembali  waktu  jang  telah  silam.  Dan  ini  memang  mereka  lakukan.  Selama  masa  aku  dipisahkan  dari  rakjat,  mereka  hanja  mengenang  detik-detik  jang  memberi  pengharapan  dan  kemenangan  dibawah  Singa  Podium.  Telah  ternjata  didalam  sedjarah  agama  dan  politik,  bahwa  djika  pihak  lawan  memerangi  usaha  seorang  pemimpin  dengan  djalan  pengasingan  atau  lain-lain,  namanja  akan  semakin berurat-berakar dalam hati rakjat. Demikian pula halnja dengan Sukarno. Kepopuleranku dikalangan  rakjat sampai sedemikian, sehingga nampaknja seolah-olah aku tidak pernah dipisahkan dari mereka itu.

 

 

Tersiarlah  berita  bahwa  Djepang  sudah  bergerak  menudju  Bengkulu.  Sehari  sebelum  ia  menduduki  kota  ini  dua  orang  polisi  dengan  tergopoh-gopoh  datang  ketempatku.  ,,Kemasi  barang-barang,”  perintahnja.  ,,Tuan  akan dibawa keluar.”

 

,,Kapan ?”

 

,,Malam  ini  djuga.  Dan  djangan  banjak  tanja.  Ikuti  sadja  perintah.  Tuan  sekeluarga  akan  diangkut  tengah  malam nanti. Setjara diam-diam dan rahasia. Hanja boleh membawa dua kopor ketjil berisi pakaian. Barang  lain  tinggalkan. Tuan akan didjaga keras mulai dari sekarang, djadi djangan tjoba-tjoba melarikan diri.”

 

Sukarti   jang   berumur   delapan   tahun   itu   dapat   merasakan   ketegangan   jang   timbul.   Karena   takut   dia  bergantung  kepadaku  dengan  kedua  belah  tangannja.  ,,Pegang  saja,  Oom,”  bisiknja.  Oom  adalah  paman  dalam  bahasa  Belanda.Ketika  polisi  itu  meneriakkan  perintahnja,  aku  membelai  kepala  anak  itu  untuk.  menenangkan hatinja. ,,Boleh saja bertanja kemana kami akan dibawa ?” tanjaku.

 

,,Ke  Padang.  Tuan  akan  selamat,  karena  tentara  kita  dipusatkan  disana  untuk  membantu  pengungsian.  Ribuan  pelarian  preman  dan  militer  diungsikan  dari  Padang,  jaitu  pelabuhan  tempat  pemberangkatan  menudju Australia. ‘Dan djuga telah diatur untuk mengangkut tuan dengan kapal pengungsi jang terachir.”

 

,,Berapa lama kita di Padang ?”

 

,,Hanja satu malam. Iring-iringan kapal sebanjak tudjuh buah sudah siap menanti dan akan berangkat dihari  berikut setelah tuan sampai. Sekarang buru-buru. Kita berlomba dengan waktu.”

 

Kami  mendapat  kesempatan  hanja  beberapa  djam  untuk  berkemas.  Tidak  ada  waktu  untuk  takut  atau  bingung. Timbul pertanjaan dalam hati, apakah memang menguntungkan bagiku kalau aku disingkirkan dari  pendudukan  tentara  Djepang.  Ataukah  suatu  kerugian,  djika  tetap  berada  dalam  tjengkeraman  Belanda.  Perasaanku   katjau-balau.   Meninggalkan   kota   Bengkulu   berarti   meninggalkan   tempat   pembuanganku.  Mengingat akan hal ini aku gembira. Akan tetapi pergi ke Australia berarti menudju tempat pembuangan jang  baru. Kalau ini kuingat, hatiku djadi susah. Sekarang ini, melebihi dari waktu-waktu jang lain, aku tidak ingin  meninggalkan   tanah-airku   jang   tertjinta.   Bagaimana   aku   bisa   membanting-tulang   demi   kemerdekaan  negeriku dari tempat jang ribuan mil djauhnja.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 85 dari 109

 

Kedjadian-kedjadian  susul-menjusul  begitu  tjepat,  sehingga  tidak  tersisa  waktu  untuk  berpikir.  Aku  hanja  berhasil mentjuri waktu lima menit untuk diriku sendiri. Bengkulu kotanja ketjil dan dalam waktu lima menit  aku  menjelundup  kerumah  paman  Fatmawati,  dimana  seluruh  keluarga  gadis  itu  berkumpul  bersama-sama  untuk  menguatkan  hati  mereka  dalam  menghadapi  penjerbuan.  Aku  mengetuk  pintunja  dengan  lunak  dan  berbitjara pelahan, ,,Saja Sukarno. Bukalah pintu. Saja datang untuk mengutjapkan perpisahan.”

 

Aku   memperoleh   kesempatan   selama   satu   detik   jang   singkat   berhadapan   dengan   Fatmawati.   Kami  berpegangan  tangan  dengan  erat  dan  kataku  kepadanja,  ,,Hanja  Tuhanlah  Jang  Maha  Tahu  apa  jang  akan  terdjadi  terhadap  kita.  Mungkin  kita  tidak  akan  dapat  keluar  dari  peperangan  ini  dalam  keadaan  masih  hidup.  Mungkin  djuga  kita  terdampar  dibagian  dunia  jang  berdjauhan.  Akan  tetapi  kemanapun  djalan  jang  akan  kita  tempuh,  atau  apapun  jang  akan  terdjadi  terhadapmu  dan  aku,  dimanapun  kita  terkandas,  aku  menjadari  bahwa  Tuhan  akan  memberkati  kita  dan  memberkati  ketjintaan  kita  satu  sama  lain.  Insja  Allah,  entah kapan ……………entah dimana……………kita akan berdjumpa lagi.”

 

Djam sebelas malam kami mendengar, bahwa musuh sudah berada di Lubuklinggau, kota penghubung djalan  keretaapi  Palembang  — Bengkulu. Ditengah malam itu kepala  polisi datang dengan  diam-diam.  Tidak djauh  dari  rumah  kami  dibelakang  semak-belukar  dia  menjembunjikan  sebuah  mobil  pick-up.  Didalamnja  empat  orang  polisi.  Dalam  tempo  limabelas  menit  Inggit,  Sukarti,  aku  sendiri,  Riwu  —  pembantu  kami  berumur  duapuluh  tiga  tahun  jang  dibawa  dari  Flores  dan  tidak  mau  ketinggalan  —  dan  barang-barang  kami  semua  dipadatkan dalam kendaraan jang sesak itu.

 

Dekat  rumahku  ada  dua  buah  pompa-bensin.  Jang  satu  terletak  di  Fort  Marlborough  tidak  djauh  dari  situ;  jang  satu  lagi  dipekaranganku  sendiri,  milik  Pemerintah,  dibawah  serumpun  pohon  kelapa.  Belanda  mulai  mendjalankan  politik  bumi-hangusnja.  Begitu  kami  meninggalkan  pintu  depan,  maka  persediaan  bensin  dan  minjak  pelumas  di  Fort  Marlborough  terbang  keudara  dengan  ledakan  jang  hebat.  Ini  sebagai  tanda  bagi  pendjaga  kami  untuk  membakar  pula  drum-drum  dirumahku.  Tindakan  ini  mempunjai  tudjuan  berganda.  Disamping  mentjegah,  agar  ia  tidak  djatuh  ketangan  musuh,  iapun  memberikan  kesenangan.  Ledakannja  dapat  terdengar  kesekitar  sampai  bermil-mil  dan  sedjauh-djauhnja  mata  memandang  diseluruh  kota  hanja  kelihatan lautan api. Dalam lindungan keadaan inilah mereka melarikanku keluar kota Bengkulu.

 

Untuk  menghilangkan  djedjak,  polisi  itu  mengambil  djalan  kearah  selatan.  Setelah  djelas  bahwa  tidak  ada  orang  jang  mengikuti  djedjak  kami,  mereka  memutar  haluan  keutara  menudju  Muko-Muko,  sekira  240  kilometer  dari  Bengkulu  dimana  kami  akan  bermalam.  Selama  dalam  perdjalanan  kami  harus  mengarungi  tigabelas  buah  sungai  jang  lebar  berlumpur  dan  banjak  buaja.  Tidak  ada   djambatan  samasekali.  Kami  menjeberanginja dengan rakit dan perahu jang dibuat oleh rakjat setempat. Dihari berikutnja djam lima sore  rombongan jang kelelahan ini sampai di Muko-Muko.

 

Kami bermalam disebuah rumah jang didjaga keras oleh polisi. Djam tiga pagi kami dibangunkan lagi. ,,Mari  kita landjutkan perdjalanan,” gerutu salah-seorang jang bertugas. ,,Sekarang berangkat.”

 

,,Kenapa begini pagi ?” tanjaku.

 

,,Rantau  kita  masih  djauh  dan  hari  ini  harus  sampai  sedjauh  mungkin  sebelum  matahari  membakar  kepala.  Kalau siang sedikit, kita tidak akan tahan panasnja matahari.”

 

Sesampai  didjalanan  baru  kami  ketahui,  bahwa  pengiring  kami  dari  Bengkulu  sudah  digantikan  oleh  enam  orang  pengawal  bermuka  kaku  dari  Muko-Muko.  Selain  dari  membawa  tempat-minum  mereka   menjandang  senapan  dan  pistol.  Ada  lagi  perobahan  jang  lain.  Kendaraan  kami  sudah  diganti  dengan  gerobak-sapi.  Ia  dimuat  dengan  persediaan  makanan.  Beras  dan  kaleng-kaleng.  Melebihi  persediaan  untuk  sehari.  Tjukup  untuk seminggu, kukira.

 

,,Perdjalanan selandjutnja kita tempuh dengan djalan-kaki,” kata seorang jang menjandang tempat-minum.

 

Isteriku mengangkat kepala karena kaget. ,,Djalan-kaki sampai ke Padang ?”

 

,,Betul.”

 

,,Sedjauh tigaratus kilometer ?” tanjanja kehabisan napas.

 

,,Ja, betul,” orang itu memotong. ,,Hajo kita. djalan.”

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 86 dari 109

 

,,Kenapa tidak dengan mobil sadja ?” tanjaku, ketika kami menaikkan Sukarti dan barang keatas gerobak.

 

,,Kita  melalui  hutan  lebat,  rapat  dan  susah  didjalani.  Satu-satunja  tjara  supaja  sampai  di  Padang  dengan  menempuh djalan-setapak jang berkelok-kelok berliku-liku dan dibeberapa tempat susah dilalui.”

 

Aku  bisa  tahan  berdjalan  kalau  dibandingkan  dengan  jang  lain,  oleh  karena  aku  selalu  latihan.  Akan  tetapi  Inggitlah  jang  menimbulkan  kekuatiranku.  ,,Djangan  kuatir,”  aku  membudjuknja.  ,,Polisi-polisi  jang  bebal  inipun bukan pedjalan marathon, sama sadja dengan kau.”

 

Betapapun  kekuatiran  jang  timbul,  bagi  kami  tidak  ada  pilihan  lain.  Dibelakang  kami,  tentara  Djepang.  Didepan, tentara Belanda. Dikiri-kanan kami enam orang polisi pakai senapan, mendampingi kami  setiap saat  siang dan malam. Djadi kami berdjalanlah. Terus berdjalan. Tak henti-hentinja berdjalan. Menempuh hutan  jang  lebat  disepandjang  pantai  Barat  Sumatera  Selatan.  Aku  memakai  sepatu.  Isteriku  hanja  pakai  sandal  terbuka  seperti  jang  biasa  dipakai  oleh  wanita  Indonesia,  dan  tidak  bisa  diharapkan  dapat  meringankan  perdjalanan berhari-hari melalui hutan rotan dan rumput liar jang kering  dan menggores-gores kaki setinggi  lutut  bermil-mil  djauhnja.  Kaki  Inggit  letjet  dan  bengkak.  Kadang-kadang  ia  naik  gerobak-sapi  itu.  Akan  tetapi  djalannja  tjuram  dan  achirnja  bukan  sapi  itu  jang  menolong  kami,  akan  tetapi  akulah  jang  harus  menolong  sapi  itu.  Aku  menariknja.  Dan  menolaknja.  Seringkali  binatang  itu  hanja  berdiri  sadja  dan  menantikan Sukarno menarik gerobak itu seorang diri.

 

Ditengah hutan jang demikian sesekali kami mendjumpai sebuah pondok jang terpentjil kepunjaan pemburu  atau pentjari kajubakar. Djam enam sore kami berhenti dipondok seperti itu. Kami berada ditengah-tengah  pesawangan,  dan  kalaupun  disuruh  berdjalan  terus  tak  seorangpun  diantara  kami  jang  masih  sanggup  berdjalan. Kami terlalu lelah. Dan kaki bengkak-bengkak oleh gigitan serangga. Sukarti tidak memakai topi,  badannja terbakar oleh terik matahari.

 

Pondok  itu  berbentuk  rumah-panggung,  supaja  terhindar  dari  antjaman  binatang.  Sekalipun  demikian  kami  dapat   mentjium   adanja   tamu-tamu   jang  tidak   diundang.   Seekor   ular   mendjalar   melalui   kaki.  Tjitjak  berkeliaran  diatas  atap.  Diatas  lantai  terhampar  sehelai  tikar  kasar.  Aku  terkapar  diatas  tikar  itu.  Pahaku  mendjadi  bantal  Inggit.  Dan  Sukarti  menggolekkan  kepalanja  diatas  badan  ibunja.  Bunji  binatang  buas  dimalam   hari   disekeliling   tempat   pelarian   kami   membikin   badan   djadi   dingin.   Tetangga   kami   adalah  harimau,  beruang,  kutjing-hutan,  rusa,  babi-hutan  dan  monjet  tak  terhitung  banjaknja.  Teriakan  monjet  jang  membisingkan  diatas  pohon-pohon  kaju  tidak  henti-hentinja.  ,,Radja-hutan  tidak  akan  menjerang,  ketjuali  kalau  dia  lapar,”  tjerita  polisi  jang  menjandang  tempat-minum.  Kami  mendo’a,  semoga  binatang-  binatang itu tidak mengingini kami. Sebagian besar dari keberanianku adalah berkat kawal-kehormatan kami  jang berkeliling tidak lebih dari beberapa kaki djauhnja.

 

Ditengah   malam  Sukarti  mengintip  dipinggir  teratak  itu  jang  tidak   berpintu.  ,,Saja  takut,  Oom,”   dia  menggigil. ,,Oom tidak takut ?”

 

,,Ja,   Karti,”   bisikku   menenangkan   hatinja.   ,,Oom   takut.   Tapi   polisi   ini   membikin   Oom   berani.”   Aku  merangkak  dengan  Karti  kebagian  pinggir  dan  mengintip  kebawah.  ,,Kaulihat  keenam  orang  itu  ?  Ditengah  malam  sunjipun  polisi  mendjaga  berganti-ganti  pakai  bedil.  Polisi  berdjaga-djaga.  Mereka  lebih  takut  lagi  daripada kita kalau tidak menjelamatkan kita dari binatang buas. Sangat besar tanggung-djawab polisi untuk  menjerahkan  Sukarno  hidup-hidup  ketangan  pembesar  di  Padang.  Karena  itu  mari,  marilah  kita  tidur  dan  biarlah polisi mendjaga keselamatan kita. Ja ?”

 

Disubuh  itu  kami  sarapan  dengan  buah-buahan  dari  hutan,  nasi  dari  persediaan  jang  dibawa  oleh  pengawal  kami  dan  singkong  sedikit.  Hari  masih  gelap  ketika  kami  kembali  mengajunkan  langkah.  Mendjelang  siang  kami djumpai sebuah sungai mengalir. Mandilah kami dengan pakaian jang lekat dibadan diair yang djernih  dan   sedjuk   itu   dan   melepaskan   dahaga   sepuas-puas   hati.   Masuk   sedikit   lagi   kedalam   semak-belukar,  dikelilingi  oleh  sawah  jang  terhampar,  ada  sebuah  dangau.  Kami  memasuki  dangau  itu  untuk  tidur-tiduran  sekedar pelepas kelelahan.

 

Kami  dapat  mendengar  gemerisik  binatang-liar  pada  dedaunan  jang  tidak  bergerak  dan  kami  melangkahi  djedjak  harimau  jang  tak  terhitung  banjaknja,  namun  satu-satunja  binatang  jang  menghalangi  djalan  kami  ialah  siamang.  Kami  melihat  siamang  hampir  sebesar  orang-hutan  berdiri  tegak  seperti  manusia.  Berdiri  diatas kakinja jang belakang binatang-binatang itu mendekati kami, pada waktu kami lewat dengan langkah  jang berat. Akan tetapi kami tidak diapa-apakan, selain daripada djantung kami jang memukul-mukul dada  dengan keras.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 87 dari 109

 

Dengan  menggunakan  korek-api  jang  dibawa  oleh  polisi,  kami  memasak  nasi  dalam  kaleng,  memasukkan  sajuran kedalamnja dan menambahkan ikan jang ditangkap dari sungai. Ini dibagi diantara kami jang sepuluh  orang.  Makanan  ini  tidaklah  mewah,  tapi  kami  djuga  tidak  mati  kelaparan  karenanja.  Inggit  terlalu  amat  lelah, sehingga pada suatu kali ia makan sambil berdiri. ,,Aku terlalu tjapek,” ia mengeluh pandjang sambil  bersandar  lesu  ketebing  suatu  lurah  jang  sedang  kami  lalui.  ,,Kalau  aku  duduk,  takut  nanti  tidak  bisa  lagi  berdiri.”

 

Dihari  ketiga  salah-seorang  polisi  Belanda  menjerah  karena  putus  asa  dan  kehabisan  tenaga.  Kami   hanja  memikirkan  diri  kami  sendiri,  tetapi,  disamping  matahari  jang  membakar,  haus,  kehabisan  tenaga  dan  gangguan  binatang,  para  pengiring  kami  harus  pula  mengawal  kami.  Mereka  tidak  ada  melakukan  tindakan  jang  kedjam  terhadap  kami.  Sekalipun  kami  adalah  orang  tawanan  dan  orang  jang  menawan,  kami  semua  sama merasakan pahit-getirnja perdjalanan. Tetapi djarang terdjadi pertjakapan. Tiada manusia jang lewat  dan   kami   tidak   merasakan   kegembiraan.   Aku   sendiri   berusaha   untuk   berolok-olok.   Sudah   mendjadi  pembawaanku untuk selalu bergembira, betapapun suasananja. ,,Sekalipun ada penjerbuan, akan tetapi saja  berterimakasih kepada saudara-saudara, karena sudah memperlihatkan  daerah pedalaman ini kepada saja,”  aku berolok-olok.

 

Seorang  jang  pendek  dan  botak  tersenjum,  ,,Selama  empat  tahun  di  Bengkulu  apakah  tuan  tidak  pernah  melangkah keluar batas jang didjaga kuat untuk tuan ?”

 

,,Ada, sekali. Saja membuat suatu tjerita sandiwara jang dipertundjukkan pada malam amal disuatu tempat  diluar  batas.  Ini  terdjadi  tepat  setelah  Residen  baru  menggantikan  pedjabat  lama  jang  saja  kenal  baik.  Orangnja  sedjenis  manusia  jang  menghamba  kepada.peraturan.  Saja  bertanja  kepadanja,  ‘Tuan  Residen,  dapatkah tuan meng izinkan saja untuk pergi ketempat ini jang terletak sedikit diluar batas ?”

 

,,Untuk  memutuskan  sendiri  mengenai  persoalan  jang  sangat  penting  ini  rupanja  tidak  mungkin  baginja.  Karena  itu  dia  bersusahpajah  mengirim  telegram  kepada  Gubernur  Djendral  di  Djawa.  Lalu  apa  djawab  Gubernur  Djendral.  Dia  menelegram  kembali,  menjatakan  kegembiraannja  mendengar  semua  itu.  Katanja,  ‘Saja  gembira  mendengar  bahwa  Ir.  Sukarno  tidak  lagi  berpolitik  dan  memusatkan  perhatiannja  pada  pertundjukan sandiwara ? Apakah ini tidak menggelikan ? !”

 

Polisi  itu  terpaksa  tertawa  menundjukkan  penghargaan.  Ketika  Riwu  meluntjur  dari  pohon  kelapa  dan  membelah kelapa sehingga kami dapat menikmati airnja jang segar, aku mentjeritakan kisah Manap Sofiano,  seorang pemain jang mendjalankan peran prima donna dalam pertundjukanku.

 

,,Suatu  hari  dia  membeli  piano  dalam  lelang  dan  menjampaikan  kepada  tukang-lelang,  ‘Sukarno  akan  mendjamin  pembajarannja.’  ‘O,  baik,’  djawab  orang  itu  setudju,  ‘kalau  tuan  kawan  dari  Sukarno,  baiklah.’  Tiga  bulan  kemudian  Sofiano  mengepak  barang-barangnja  hendak  pindah.  Sebelum  dia  pergi  saja  katakan,  ‘Hee,  tinggalkan  dulu  surat  perdjandjian  jang  diketahui  oleh  kepala  kampung  dan  jang  menjatakan  bahwa  engkau berdjandji hendak membajarnja. Dengan begitu, kalau sekiranja kaulupa, saja mempunjai dasar jang  sja.’

 

,,Setelah  berbulan-bulan  tidak  ada  kabar-berita  dari  Sofiano,  saja  menulis  surat  kepadanja,  ‘Sudah  sampai  waktunja. Bajar sekarang, kalau tidak, akan saja adjukan kedepan pengadilan.’ Sofiano kemudian membalas,  ‘Saja  tidak  menjusahkan  diri  saja  sendiri,  akan  tetapi  saja  mempunjai  lima  orang  anak.  Kalau  saja  masuk  pendjara, mereka akan terlantar.’

 

,,Tentu saja tidak mau menjakiti anak-anak jang tidak bersalah, djadi apa lagi jang dapat saja lakukan ? Saja  kemudian  membajar  utang  sedjumlah  60  rupiah  itu.  Disamping  itu,”  aku  tersenjum  meringis,  ,,dia  seorang  pemain jang baik, sehingga saja dapat mema’afkan segala-galanja.”

 

Dengan pertjakapan ringan demikian ini aku mentjoba menaikkan semangat pasukan kami jang melarat itu.  Dihari jang keempat kami terlepas dari daerah hutan dan menumpang bis menudju kota. Bertepatan dengan  kedatanganku,  kapal  jang  direntjanakan  untuk  mengangkut  kami  telah  meledak  mendjadi  sepihan   dekat  pulau  Enggano,  tidak  djauh  dari  pantai.  Tentara  Djepang  berada  dalam  djarak  beberapa  hari  perdjalanan  dibelakang kami. Angkatan laut Djepang sudah berada beberapa mil dari kami.

 

Kota  Padang  diselubungi  oleh  suasana  chaos,  suasana  bingung  dan  ragu.  Hanja  dalam  satu  hal  orang  tidak  ragu  lagi,  jaitu  bahwa  Belanda  penakluk  jang  perkasa  itu  sedang  dalam  keadaan  panik.  Para  pedagang  meninggalkan   tokonja.   Terdjadilah   perampokan,   penggarongan,   suasana   gugup.   ,,Lihat,”   kata   seorang  Belanda, jang tingginja satu meter delapan puluh lima, mengedjek ketika dia hendak lari membiarkan kami

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 88 dari 109

 

tidak  dilindungi,  ,Belum  lagi  kami  pergi,  kamu  orang  Burniputera  sudah  tidak  sanggup  mengendalikan  diri  sendiri.”

 

Tentara  Belanda  mentjoba  untuk  mengangkutku  dengan  pesawat  terbang,  akan  tetapi  semuanja   terpakai  atau rusak. Persoalan Negeri Belanda sekarang bukan bagaimana menjelamatkan Sukarno. Persoalan Negeri  Belanda  sekarang  adalah  bagaimana  menjelamatkan  dirinja  sendiri.  Mereka  seperti  pengetjut,  mereka  lari  pontang-panting.  Belanda  membiarkan  kepulauan  ini  dan  rakjat  Indonesia  djadi  umpan  tanpa  pertahanan.  Tidak  ada  jang  mempertahankannja,  ketjuali  Sukarno.  Negeri  Belanda  membiarkanku  tinggal.  Ini  adalah  kesalahan jang besar dari mereka.

 

Sesampai dihotel aku mengatakan pada Inggit, ,,Kau, Riwu, dan Sukarti tinggal dulu. disini.”

 

Dimana-mana orang berlari dan berteriak dan membuat persiapan terburu-buru pada detik-detik terachir.

 

,,Kau mau kemana ?” tanja Inggit gemetar ketakutan.

 

,,Kawanku Waworuntu tinggal disini. Aku harus mentjarinja dan berusaha mentjari tempat tinggal.”

 

Waworuntu menjambutku dengan tangan terbuka. Dia mernelukku. ,,Sukarno, saudaraku,” dia berteriak dan  airmata  mengalir  kepipinja.  ,,Saja  mendapat  rumah  bagus  disini  dan  banjak  kamarnja,  tapi  saja  sendirian  sadja. Isteri saja dan anak-anak diungsikan dan tidak ada orang tinggal dengan saja. Bawalah  keluarga Bung  Karno  kesini  ……..  bawalah  kesini  dan  anggaplah  ini  rumah  Bung  sendiri.”  Orang  jang  baik  hati  ini  dengan  kemauannja    sendiri    pindah    dari    kamar-tidurnja    jang    besar    didepan    disebelah    ruang-tarnu,    dan  mengosongkannja untuk Inggit dan aku.

 

Ini  terdjadi  beberapa  hari  sebelum  Balatentara  Keradjaan  Dai  Nippon  menduduki  Padang.  Ketika  aku  berdjalan-djalan disepandjang djalan aku menjadari, bahwa saudara-saudaraku jang terlantar, lemah, patuh  dan  tidak  mendapat  perlindungan  perlu  dikurnpulkan.  Tidak  ada  seorangpun  jang  mengawasinja.  Tidak  seorangpun,  ketjuali  Sukarno.  Tindakan-tindakan  jang  benar  adalah  usaha  untuk  memenuhi  bakti  kepada  Tuhan.  Aku  menjadari,  bahwa  waktunja  sudah  datang  lagi  bagiku  untuk  terus  madju  dan  mendjawab  Panggilan itu. Segera aku mengambil oper tampuk pimpinan.

 

Disana  ada  suatu  organisasi  dagang  setempat.  Aku  menemui  ketuanja  dan  dia  berusaha  mengumpulkan   orang-orangnja.  Kemudian  aku  menjuruh  Waworuntu  kesatu  djurusan  dan  Riwu  kedjur-usan  lain  untuk  mengumpulkan  jang  lain.  Diadakanlah  rapat  umum  dilapangan  pasar.  Disana  aku  membentuk  Komando  Rakjat jang bertugas  sebagai pemerintahan sementara dan untuk mendjaga ketertiban. ,,Saudara-saudara,”  aku  menggeledek  dalam  pidatoku  jang  pertama  semendjak  sembilan  tahun,  ,,Saja  minta  kepada  saudara-  saudara  untuk  mematuhi  tentara  jang  akan  datang.  Djepang  mempunjai  tentara  jang  kuat.  Sebaliknja  kita  sangat   lemah.   Tugas   saudara-saudara   bukan   untuk   melawan   mereka.   Ingatlah,   kita   tidak   mempunjai  sendjata.  Kita  tidak  terlatih  untuk  berperang.  Kita  akan  dihantjur-leburkan,  djikalau  kita  mentjoba-tjoba  untuk melakukan perlawanan setjara terang-terangan.

 

,,Orang  jang  tidak  bersendjata  tidak  mungkin  melawan  pradjurit-pradjurit  jang  puluhan  ribu,  akan  tetapi  sebaliknja   ingatlah   saudara-saudara,   sekalipun   semua   tentara   dari   semua   negeri   diseluruh   djagad    ini  digabung  mendjadi  satu  tidak  akan  mampu  untuk  membelenggu  satu  djiwa  jang  tunggal,  karena  ia  telah  bertekad  untuk  tetap  merdeka.  Saudara-saudara,  saja  bertanja  kepada  saudara-saudara  semua  :  Siapakah  jang dapat membelenggu suatu rakjat djikalau semangat rakjat itu sendiri tidak mau dibelenggu ?

 

,,Kita  harus  mentjari  kemenangan  jang  sebesar-besarnja  dari  musuh  ini.  Maka  dari  itu,  saudara-saudara,  hati-hatilah. Rakjat kita harus diperingatkan supaja djangan mengadakan perlawanan. Walaupun bagaimana,  hindarkanlah   pertumpahan   darah   disaat-saat   permulaan.   Djangan   panik.   Saja   ulangi   :   djangan   panik.  Ketentuan  pertama  jang  diberikan  oleh  pemimpinmu  adalah  untuk  mentaati  orang  Djepang.  Dan  pertjaja.  Pertjaja kepada Allah Subhanahuwata’ala, bahwa Ia akan membebaskan kita.”

 

Rapat  itu  diachiri  dengan  do’a  bersama  jang  kupimpim  sendiri  sebagai  Imam.  Orang  Islam  tidak  dapat  mengchotbahkan atau mengadib-kan isi daripada do’a. Ia harus pasti. Kata demi kata. Sampai pada satu titik,  disebabkan karena dadaku terlalu bergolak, aku lupa kata-kata dari Ajat selandjutnja dan dihadapan ribuan  orang jang menunggu-nunggu landjutannja aku mendesis kepada seorang Hadji jang duduk bersila dekat itu,  ,,Ehh — apa lagi terusnja ?”

 

Do’a  itu  berachir,  rakjat  bubar,  aku  kembali  kerumah  Waworuntu  dan  menunggu.  Aku  tidak  perlu  lama  menunggu. Seminggu kemudian mereka datang. Waktu itu djam empat pagi. Mungkin djuga djam lima. Aku

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 89 dari 109

 

berbaring  ditempat-tidur, akan  tetapi aku  tidak tidur. Pikiranku tegang. Mataku njalang samasekali. Malam  itu  adalah  malam  jang  sunji  sepi.  Tiada  terdengar  suara  jang  gandjil.  Sesungguhnja,  pun  tidak  terdengar  suara  jang  biasa.  Keluargaku  tidur  dengan  tenang.  Tiba-tiba  mereka  terbangun  oleh  bunji  jang  semakin  santer. Mula-mula menderu seperti guntur. Suara jang menggulung-gulung itu semakin keras, semakin keras,  semakin  keras  lagi.  Bunji  jang  menakutkan  dan  membikin  badan  djadi  dingin-membeku  adalah  gunturnja  kereta-kereta berlapis-badja dan tank-tank dan balatentara berdjalan-kaki berbaris memasuki kota Padang.

 

Djepang sudah datang.

 

Bab 18

 

Djepang Mendarat

 

UDARANJA panas malam itu, akan tetapi aku berbaring disana dengan badan gemetar. Aku melihat sambaran  petir ini sebagai gemuruhnja pukulan genderang kebangkitan. Ia adalah tanda berachirnja suatu djaman.

 

Esok  paginja  aku  bangun  diwaktu  subuh  dan  berdjalan  dengan  tenang  sepandjang  djalanan  kota.  Djepang  membuka toko-toko dengan paksa tanpa ada jang mendjaga. Perbuatan ini menggerakkan hati rakjat untuk  menjerbu  isi  toko-toko  itu.  Kesempatan  pertama  bagi  rakjat  jang  miskin  untuk  menikmati  kemewahan.  Dalam pada itu Djepang dengan tjerdik memerintahkan polisi Belanda untuk menertibkan keadaan didjalan-  djalan, dengan demikian menambah kebentjian terhadap kekuasaan kulitputih.

 

Disetiap djalanan Djepang disambut dengan sorak-sorai kemenangan.
,,Apa sebabnja ini !” tanja Waworuntu.

 

,,Rakjat bentji kepada Belanda. Lebih-lebih lagi karena Belanda lari terbirit-birit dan membiarkan kita tidak  berdaja.  Tidak  ada  satu  orang  Belanda  jang  berusaha  untuk  melindungi  kita  atau  melindungi  negeri  ini.  Mereka bersumpah akan bertempur sampai tetesan darah jang penghabisan, tapi njatanja lari ketakutan.”

 

,,Tjoba  pikir,”  kataku  ketika  kami  melangkah  pelahan.  ,,Faktor  pertama  jang  menjebabkan  penjambutan  jang  spontan  ini  adalah  adanja  perasaan  dendam  terhadap  tuan-tuan  Belanda,  jang  telah  dikalahkan  oleh  penakluk  baru.  Kalau  engkau  membentji  seseorang  tentu  engkau  akan  mentjintai  orang  jang  mendupaknja  keluar. Disamping itu, tuan-tuan kulitputih kita jang sombong dan mahakuat itu bertekuk-lutut setjara tidak  bermalu  kepada  suatu  bangsa  Asia.  Tidak  heran,  kalau  rakjat  menjambut  Djepang  sebagai  pembebas  mereka.”

 

Waworuntu, kawan baik dan kawanku jang sesungguhnja, jang sekarang sudah tidak ada lagi, melihat tenang  kepadaku.

 

,,Dan apakah Bung djuga menjambutnja sebagai pembebas ?

 

,,Tidak ! Saja tahu siapa mereka. Saja sudah melihat perbuatan mereka dimasa jang lalu. Saja tahu bahwa  mereka  orang  Fasis.  Akan  tetapi  sajapun  tahu,  bahwa  inilah  saat  berachirnja  Imperialisme  Belanda.  Pun  seperti  jang  saja  ramalkan,  kita  akan  mengalami  satu  periode  pendudukan  Djepang,  disusul  kemudian  dengan  menjingsingnja  fadjar  kemerdekaan,  dimana  kita  bebas  dari  segala  dominasi  asing  untuk  selama-  lamanja.”

 

Diseberang djalan kami lihat serdadu Djepang memukul kepala seorang Indonesia dengan popor senapan.

 

,,Lalu maksud Bung akan memperalat Djepang” tanja Waworuntu dengan tjepat.

 

Kami  terus  berdjalan.  Kami  tidak  dapat  berbuat  apa-apa.  ,,Sudah  tentu,”  djawabku  dengan  suara  redup.  ,,Saja  mengetahui  semua  tentang  kekurang-adjaran  mereka.  Saja  mengetahui  tentang  kelakuan  orang  Nippon  didaerah  pendudukannja  —  tapi  baiklah.  Saja  sudah  siap  sepenuhnja  untuk  mendjalani  masa  ini  selarna   beberapa   tahun.   Saja   harus   mempertimbangkan   dengan   akal   kebidjaksanaan,   apa   jang   dapat  dilakukan oleh Djepang untuk rakjat kita.”

 

Kita  harus  berterimakasih  kepada  Djepang.  Kita  dapat  memperalat  mereka.  Kalau  manusia  berada  dalam  lobang  Kolonialisme  dan  tidak  mempunjai  kekuatan  jang  radikal  supaja  bebas  dari  lobang  itu  atau  untuk  mengusir pendjadjahan, sukar untuk mengobarkan suatu revolusi.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 90 dari 109

 

Waworuntu memandangku, matanja terbuka lebar. Kebenaran kata-kata itu nampak meresap dalam hatinja.

 

,,Tjoba pikir, Bung,” kataku, ,,Keadaan chaos, suasana kebingungan dan perasaan jang menjala-njala ini, —  ataupun perobahan ini sendiri — perlu sekali guna mentjapai tudjuan, untuk mana saja membaktikan seluruh  hidupku.”

 

Kami terus berdjalan, bungkem. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Kemudian kawanku memberikan  pendapat,  ,,Mungkin  rakjat  kita  akan  selalu  memandangnja  sebagai  pembebas  dan  tetap  tinggal  pro-  Djepang, dan oleh sebab itu akan mempersulit usaha untuk melepaskan negeri kita dari tjengkeramannja.”

 

,,Tidak mungkin,” djawabku menerangkan. ,,Pandirlah suatu bangsa pendjadjah kalau mereka mengimpikan  akan ditjintai terus atau mengchajalkan bahwa masjarakat jang terdjadjah akan tetap puas dibawah telapak  dominasinja.  Tidak  pandang  betapa  lemah,  mundur  atau  lalimnja  pendjadjah  jang  lama  dan  tidak  pandang  betapa baiknja pendjadjah jang baru dalam tingkah-laku atau ketjerdasannja, maka rakjat jang sekali sudah  terdjadjah selalu menganggap hilangnja dominasi asing sebagai pembebasan. Inipun akan terdjadi disini.”

 

,,Kapan ini akan terdjadi ?”

 

,,Kalau kita sudah siap,” kataku ringkas.

 

Aku  tidak  mengadakan  gerakan.  Aku  hanja  menunggu.  Sehari  kemudian,  Kapten  Sakaguchi,  Komandan  dari  daerah Padang datang kerumah Waworuntu dan memperkenalkan dirinja. Berbitjara dalam bahasa Perantjis,  ia berkata, ,,Est-ce vous pouves parler Francais “

 

,,Oui,” djawabku. ,,Je sais Francais.”

 

,,Je suis Sakaguchi,” katanja.

 

“Bon,” kataku.

 

Bungkem sesaat, lalu, ,,Vous etes Ingenieur Sukarno, n’est-ce pas ?”

 

,,Oui. Vous avez raison.”

 

Menundjukkan   tanda-pengenal   resminja   ia   menerangkan,   ,,Saja   anggota   dari   Sendenbu,   Departemen  Propaganda.”

 

,,Apakah jang tuan kehendaki dari saja ?” aku bertanja dengan hati-hati.

 

,,Tidak  apa-apa.  Saja  mengetahui  bahwa  saja  perlu  berkenalan  dengan  tuan  dan  begitulah  saja  datang.  Hanja itu. Saja datang bukan menjampaikan perintah kepada tuan.”

 

Sakaguchi  tersenjum  lebar.  Agaknja  tidak  perlu  bagi  seorang  penakluk  untuk  bersikap  begitu  menarik  hati  karena itu aku bertanja, ,,Mengapa tuan djustru datang kepada saja ?”

 

,,Menemui  tuan  Sukarno  jang  sudah  terkenal  adalah  tugas  saja  jang  pertama.  Kami  mengetahui  semua  mengenai tuan. Kami tahu tuan adalah pemimpin bangsa Indonesia dan orang jang berpengaruh.”

 

,,Itukah sebabnja tuan menemui saja disini, dan bukan meminta saja datang kekantor tuan ?”

 

,,Betul,” ia membungkuk. ,,Suatu kehormatan bagi kami untuk menghargai tuan sebagaimana mestinja. Tuan  Sukarno terkenal diseluruh kepulauan ini.”

 

,,Boleh saja bertanja dari mana tuan mendapat keterangan ini ?”

 

,,Tuan  lupa,  tuan  Sukarno,  sebelum  perang  banjak  orang  Djepang  tinggal  disini  dan  banjak  jang  kembali  kesini dalam tentara Diepang.”

 

,,Oo.”

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 91 dari 109

 

,,Kami  mempunjai  djaring  mata-mata  jang  paling  rapi.  Kami  mengetahui  segala-galanja  mengenai  semua  orang,  begitu  pula  tempat-tempatnja.  Segera  setelah  mendudaki  Bengkulu  kami  menjelidiki  dimana  tuan  berada. Tindakan kami, jang pertama-tama ialah untuk datang kepada tuan.”

 

,,Dan tindakan jang kedua ?”

 

,,Mendjaga tuan.”

 

Ketika   tentara   Djepang  datang,  Padang   mengibarkan   bendera   Merah-Putih.  Rakjat   menjangka    mereka  ,,dibebaskan”.  Setelah  berabad-abad  larangan,  sungguh  menggetarkan  hati  menjaksikan  bendera  kami  Sang  Merah-Putih  jang  sutji  itu  melambai-lambai  dengan  megahnja.  Akan  tetapi  tidak  lama,  segera  keluar  pengumuman  jang  ditempelkan  dipohon-pohon  dan  didepan  toko-toko,  bahwa  hanjalah  bendera  Matahari-  Terbit  jang  boleh  dikibarkan.  Serentak  dengan  kedjadian  ini,  jang  terasa  sebagai  suatu  tamparan,  Djepang  menguasai surat-suratkabar. “Pembebasan” kota Padang tidak lama umurnja.

 

Aku  pergi  kekantor  Sakaguchi  dan  minta  agar  perintah  penurunan  bendera  itu  diundurkan.  ,,Perintah  ini  sangat  berat  untuk  kami  terima  dan  akan  mempersulit  keadaan,”  kataku.  ,,Kalau  tidak  dilakukan  setjara  sebidjaksana mungkin hal ini dapat memberi akibat jang serius untuk kedua belah pihak.”

 

Sakaguchi menundjukkan bahwa ia mengerti persoalan itu, akan tetapi memperingatkan. ,,Barangkali, tuan  Sukarno, hendaknja djangan terlalu menunda-nunda hal ini.”

 

Ini adalah hari jang gelap bagi rakjat dan bagi Sukarno. Mula-mula aku pergi kemesdjid dan aku sembahjang.  Kemudian  dalam  suatu  rapat  aku  menginstruksikan  kepada  saudara-saudaraku  tuntuk  menurunkan  bendera  sampai ,,datang waktunja  dimana kita dapat mengibarkan bendera kita sendiri,  bebas dari segala dominasi  asing.”

 

Setiap  bendera  turun  kebawah.  Aku  bentji  kepada  Hitler,  akan  tetapi  kedjadian  ini  dengan  tidak  sadar  mengingatkan  daku  pada  salah  satu  utjapannja:  Gross  sein  heisst  es  Massen  bewegen  können  Besarlah  seseorang jang mampu menggerakkan massa untuk bertindak. Kalau bukan Sukarno jang berbitjara, mungkin  mereka  akan  berontak,  karena  terlalu  tiba-tiba  seperti  tersentak  dari  tidur  mereka  menjadari,  bahwa  putera-putera  dari  negara  Matahari-Terbit  bukanlah  pahlawan-pahlawan  sebagaimana  mereka  bajangkan.  Dan  aku  kuatir  akan  terdjadinja  pemberontakan.  Kami  adalah  rakjat  jang  tidak  berpengalaman  untuk  pada  saat itu biasa menendang kekuatan jang terlatih baik seperti tentara Djepang.

 

Tiga hari kemudian Sakaguchi datang lagi. Sekali lagi kami berbitjara dalam bahasa Perantjis. Berbulan-bulan  kemudian aku baru mengetahui, bahwa Sakaguchi pandai berbahasa Indonesia. ,,Monsicur Sukarno,” katanja  ,,saja membawa pesan. Le Commandant de Bukittinggi memohon kehadiran tuan.”

 

“Memohon?” aku mengulangi.

 

,,Oui, Monsieur. Memohon.”

 

Dari  sikap  kapten  Sakaguchi  jang  merendah  djelaslah,  bahwa  ketakutan  Belanda  akan  mendjadi  kenjataan.  Djepang akan mengusulkan agar supaja aku bekerdja dengan mereka. Komandan dari divisi jang kuat itu jang  memasuki  kota  Padang  dimalam  pendaratan  adalah  Kolonel  Fujiyama,  Komandan  Militer  kota  Bukittinggi.  Dialah jang minta disampaikan supaja ,,memohon” tuan Sukamo untuk datang.

 

Tuan Sukarnopun datang.

 

Kami  berangkat  dengan  kereta-api  dan  dengan  tjepat  tersiar  kabar,  bahwa  Sukarno  ada  dalam  kereta-api.  Mereka jang berada  dalam gerbong kami menjampaikan kepada  gerbong-gerbong jang  lain. Ketika berhenti  di  Padangpandjang  setiap  orang  dipelataran  stasiun  mulai  bersorak  memanggil  Sukarno.  Gerbong  kami  diserbu orang, sehingga aku terpaksa mengeluarkan kepalaku didjendela dan berpidato dengan singkat untuk  menenangkan rakjat. Tak satupun dari ini jang tidak berkesan pada Sakaguchi.

 

Djauhnja  satu  setengah  djam  perdjalanan  kekota  pegunungan  jang  sedjuk  itu.  Pusat  dari  Minangkabau  ini  terkenal  dengan  bendinja  jang  riang-menjenangkan  dan  digunakan  sebagai  alat  angkutan  didjalanan  jang  mendaki. Dan ia terkenal dengan rumah-adat bergondjong bewarna-warni, simbolik daripada seni-bangunan  Minangkabau.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 92 dari 109

 

Bukittinggi adalah kota jang sangat penting. Letaknja strategis, dan hanja dapat ditjapai dari tiga djurusan,  dan  letaknja  didaerah  pegunungan  itu  sedemikian,  sehingga  penduduknja  menguasai  semua  lalu-lintas  keluar-masuk.  Markas  Kolonel  Fujiyama,  gedung  besar  bekas  kepunjaan  seorang  Belanda  jang  kaja,  pun  terletak  setjara  strategis.  Letaknja  ketinggian  diatas  puntjak  Lembah  Ngarai,  sebuah  lembah  jang  dalam  dengan bukitnja jang tinggi pada kedua belah sisinja berbentuk dinding-batu terdjal dan gundul mendjulang  keatas. Dibawah, didalam lembah itu merentang seperti pita sebuah sungai jang dengan seenaknja mentjari  djalannja sendiri. Disekeliling ngarai itu tumbuh pepohonan dan tumbuhan menghidjau dengan lebat. Kalau  orang  memandang  keluar,  dari  djendela  rumah  Fujiyama,  beribu-ribu  kaki  djauhaja  kebawah  terlihatlah  suatu pemandangan indah jang sangat mengagumkan.

 

Disanalah aku mengadakan pertemuan jang sampai sekarang tidak banjak orang mengetahuinja, akan tetapi  sesungguhnja  merupakan  pertemuan  jang  maha-penting.  Pertemuan  jang  sangat  besar  artinja.  Pertemuan  jang menentukan strategiku selandjutnja selama peperangan. Pertemuan jang sampai sekarang memberikan  tjap kepadaku sebagai ,,kollaborator Djepang”

 

Komandan   Fujiyama   berbitjara   dalam   bahasanja.   Didalam   ruangan   itupun   hadir   seorang   djurubahasa  berkebangsaan   Amerika   jang   dibawa   mereka   ke   Singapura.   ,,Tuan   Sukarno,”   kata   Fujiyama   sambil  menjilakanku  duduk.  ,,Peperangan  ini  bertudjuan  untuk  membebaskan  Asia  dari  penaklukan  kolonialisme  Barat.”

 

Aku  menjadari,  bahwa  mereka  sedang  menduga  isi  hatiku  dan  aku  memilih  kata-kataku  dengan  hati-hati  sekali. Setiap patah kata jang keluar dari mulutku akan mereka saring, mereka timbang-timbang dan mereka  udji. Aku mengetahuinja. ,,Orang Diepang mempunjai satu sembojan jang berbunji, ‘Asia. Bebas’.

 

Benarkah ini ?” tanjaku setelah beberapa saat.

 

,,Ja, tuan Sukarno,” sahutnja sambil menjodorkan rokok kepadaku. ,,Itu benar.”

 

Dengan  lamban  kuisap  rokok  itu  dan  kemudian  berkata  seperti  tidak  atjuh,  ,,Dan  apakah  tuan  bermaksud  hendak berpegang pada sembojan itu ?”

 

,,Ja, tuan Sukarno, kami akan berpegang pada sembojan itu,” katanja memandang kepadaku dengan teliti.

 

,,Jah, kalau begitu, apakah tuan berpendapat bahwa Indonesia adalah satu bagian dari Asia ?”

 

,,Tentu, tuan Sukarno.”

 

Aku  menarik  napas  pandjang.  ,,Kalau  demikian,  saja  dapat  menarik  kesimpulan  bahwa  tudjuan  tuan  djuga  hendak membebaskan Indonesia, betulkah itu?”

 

Belum sampai satu debaran djantung antaranja, ,,Ja, tuan Sukarno. Tepat sekali.”

 

Sementara  berlangsung  pembitjaraan  tingkat  tinggi  ini  seorang  pradjurit  Djepang  berperawakan  ketjil  beringsut   menjuguhkan   air   teh.   Sjarafku   sangat   tegang   dan   aku   mentjarik-tjarik   kuku   djariku,   suatu  kebiasaanku  kalau  sedang  gelisah.  Kami  menunggu  sampai  bunji  mangkok  teh  jang  gemerinting  tidak  terdengar  lagi.  Bahkan  setelah  pradjurit  itu  pergi,  bunji  gemerintjing  seolah-olah  masih  sadja  mengapung  diudara  jang  hening.  Setidak-tidaknja,  dalam  diriku.  Gigiku  dan  tulang-belulangku  semua  gemerintjing.  Hidup atau matinja tanah-airku tergantung kepada sukses atau tidaknja pembitjaraan ini.

 

Setelah   dia   pergi,   Fujiyama   kemudian   melandjutkan.   ,,Didalam   rangka   pengertian   inilah   kami   ingin  mengetahui, apakah tuan mempunjai keinginan untuk memberikan bantuan kepada tentara Dai Nippon.”

 

,,Dengan tjara bagaimana ?”

 

,,Dalam memelihara ketenteraman.”

 

,,Bolehkah  saja  bertanja,  bagaimana  tjaranja  saja  seorang  diri  dapat  memelihara  ketenteraman  untuk  tentara Djepang ?”

 

Panglima  Tentara  ke  25  dari  Angkatan  Darat  Keradjaan  Djepang  ini  tersenjum.  Pada  tingkatannja  mereka  banjak  melakukan  seperti  ini.  ,,Kami  mengetahui,  bahwa  Sukarno  sendirilah  jang  menguasai  massa  rakjat.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 93 dari 109

 

Karena itu, tjara jang paling mudah untuk mendekati rakjat adalah mendekati Sukarno. Tugas kami bukanlah  untuk  mendekati  rakjat  Indonesia  jang  berdjuta-djuta.  Tugas  kami  adalah  untuk  memenangkan  satu  orang  Indonesia. Jaitu, tuan sendiri. Harapan kami agar tuan mendekati rakjat jang djutaan itu untuk kami.”

 

Sikapnja  memperlihatkan  dengan  djelas,  bahwa  dia  harus  memenangkan  Sukarno.  Diluar,  didjalanan  rakjat  kami  tidak  lagi  bersorak-sorai  begitu  keras  menjambut  rakjatnja.  Kegembiraan  jang  pertama  sudah  mulai  luntur.  Dia  tahu,  kalau  dia  berbalik  menentangku  dan  melukaiku  dengan  salahsatu  djalan,  kalau  dia  mentjoba-tjoba memaksaku, seluruh rakjat akan bangkit melawannja. Djepang memerlukan tenagaku dan ini  kuketahui. Akan tetapi akupun memerlukan mereka guna mempersiapkan negeriku untuk suatu revolusi.

 

Ini  tidak  obahnja  seperti  permainan  volley.  Hanja  jang  dipertarungkan  itu  adalah  kemerdekaan.  Kolonel  Fujiyama   pertama   memukul   bola.  Sekarang  giliranku.  Tuhan,  aku  mendo’a   dalam  hati,   tundjukkanlah  kepadaku, djalan jang benar.

 

,,Nah,”  kataku.  ,,Sekarang  saja  mengetahui  apa  jang  tuan  inginkan,  saja  kira  tuan  mengetahui  keinginan  saja.”

 

,,Tidak, tuan Sukarno, saja tidak tahu. Apakah sesungguhnja jang dikehendaki oleh rakjat Indonesia.?”

 

,,Merdeka.”

 

,,Sebagai  seorang  patriot  jang  mentjintai  rakjatnja  dan  menginginkan  kemerdekaan  mereka,  tuan  harus  menjadari  bahwa  Indonesia  Merdeka.hanja  dapat  dibangun  dengan  bekerdja-sama  dengan  Djepang,”  ia  membalas.

 

 

,,Ja,”  aku

 

Djepang

 

mengangguk.  ,,Sekarang  sudah  djelas  dan  terang

 

…………… Maukah pemerintah tuan membantu saja

 

bagi  saja  bahwa  tali-hidup  kami  berada  untuk kemerdekaan Indonesia?”

 

di

 

 

,,Kalau  tuan  mendjandjikan  kerdja-sama  jang  mutlak  selama  masa  pendudukan  kami,  kami  akan  berikan  djandji jang tidak bersjarat untuk membina kemerdekaan tanah-air tuan.”

 

,,Dapatkah   tuan  mendjamin   bahwa,  selama  saja  bekerdja   untuk  kepentingan  tuan,  saja   djuga  diberi  kebebasan  bekerdja  untuk  rakjat  saja  dengan  pengertian,  bahwa  tudjuan  saja  jang  terachir  adalah  disatu  waktu……………  dengan  salah-satu  djalan  …………..  membebaskan  rakjat  dari  kekuasaan  Belanda  —  maupun Djepang ?”

 

,,Kami mendjamin. Pemerintah Djepang tidak akan menghalang-halangi tuan.”

 

Aku memandang kepadanja. Kami saling berpandangan. Saling menakar isi-hati satu sama lain.

 

,,Djadi, tuan Sukarno,” ia melandjutkan menjatakan pengakuannja dengan hati-hati. ,,Saja seorang penguasa  pemerintahan.  Negeri  tuan  adalah  suatu  bangsa  dengan  latar  kebudajaan,  keturunan,  agama  dan  berbagai  adat kebiasaan Djawa, Bali, Hindu, Islam, Buddha, Belanda, Melaju, Polynesia, Tiongkok, Filipina, Arab dan  lain-lain. Negeri tuan terbentang luas. Perhubungan dari satu ketempat lain sukar. Tugas saja adalah untuk  mengendalikan  daerah  ini  dalam  keadaan  tertib  dan  lantjar  dengan  segera.  Tjara  jang  paling  tepat  ialah  dengan   memelihara   ketenteraman   rakjat   dan   mendjalankan   segala   sesuatu   dengan   harmonis.   Untuk  mentjapai tudjuan ini, kepada saja disampaikan bahwa saja harus bekerdja dengan Sukarno. Sebaliknja saja  mendjandjikan kerdja-sama jang resmi dan aktif didalam bidang politik.”

 

Mau  tidak  mau  aku  harus  mempertjajai  orang  jang  berperawakan  ketjil  ini,  oleh  karena  aku  melihat  kuntji  persoalan  ada  ditangannja.  ,,Baiklah,”  kataku.  ,,Kalau  ini  jang  tuan  djandjikan,  saja  setudju.  Saja  akan  berikan  bantuan  saja  sepenuhnja.  Saja  akan  mendjalankan  propaganda  untuk  tuan.  Tapi  hanja  kalau  ia  berlangsung  menurut  garis  menudju  pembebasan  Indonesia  dan  hanja  dengan  pengertian,  bahwa  sambil  bekerdja-sama dengan tuan sajapun berusaha untuk memperoleh kemerdekaan bagi rakjat saja.”

 

,,Setudju,” katanja.

 

,,Djuga dengan pengertian bahwa djandji, dalam mana saja tetap tidak dikekang dalam usaha saja jang  tidak  henti-hentinja  untuk  nasionalisme,  tidak  hanja  diketahui  oleh  tuan  sendiri  melainkan  djuga  oleh  seluruh  Komando Atasan.”

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 94 dari 109

 

,,Pemerintah  saja  tentu  akan  diberitahu  mengenai  hal  itu.  Diatas  dasar  inilah  kita  bekerdja-sama,   saling  bantu-membantu satu sama lain.”

 

Sebagai  kelandjutan  dari  pertemuan  jang  bersedjarah  ini  jang  berlangsung  selama  dua  djam,  mereka  menjadjikan sukiyaki. Inilah pertama kali aku mentjobanja. Dan rasanja enak sekali, kukira.

 

Keinginan  mereka  untuk  bersikap  ramah-tamah  tidak  berachir  sampai  disini  sadja.  Aku  tidak  disuruh  pergi,  melainkan  ditanjai  kapan  bermaksud  hendak  pulang.  ,,Setelah  menundjukkan  bahwa  aku  sudah   siap,  aku  diiringkan   sampai   diluar.   Disana   Sakaguchi   memandangku   dengan   muka   berseri,   ,,Izinkan   kami   untuk  menjediakan kendaraan untuk tuan,” dan menundjuk kearah sebuah mobil Buick hitam berkilat.

 

Kendaraan  seperti  ini  tidak  banjak  terdapat  di  Bukittinggi,  djadi  ini  sudah  pasti  diambil  dari  seorang  saudagar  kaja  dan  dimanapun  ia  berada  disaat  ini,  tentu  ia  tidak  dapat  melakukan  perdjalanan  pakai  kendaraan.

 

,,Buick  ini  adalah  untuk  tuan,”  Sakaguchi  membungkuk  dengan  hormat,  ,,Diserahkan  kepada  tuan  selama  tuan menghendakinja.”

 

Kusampaikan  padamu,  kawan,  aku  sungguh-sungguh  bangga.  Inilah  aku,  baru  sadja  lepas  dari   pembuangan,  sebuah  Buick jang  tjantik menantikanku.  Sudah  tentu  ia tidak ada bensin.  Isinja hampir tidak  tjukup untuk  dilarikan  ke  Padang.  Mereka  telah  memberikan  kehormatan  kepadaku,  mereka  memberiku  makan  dan  mereka telah memberiku kendaraan — akan tetapi tidak ada bensin.

 

Kawan-kawan  —  dan  mereka  jang  bukan  kawanku,  akan  tetapi  jang  kuharapkan  dapat  memahami  Sukarno  lebih   baik   setelah   membatja   buku   ini   —   ini   adalah   pertamakali   aku   mentjeritakan   kisahku   tentang  bagaimana,   bilamana   dan   dimana,   dan   mengapa   aku   mengambil   keputusan   untuk   menjeret   diriku  berdampingan dengan Djepang. Boneka…………… pengchianat …………… aku tahu semua kata-kata itu.  Akan  tetapi  djika  tidak  dengan  sjarat,  bahwa  mereka  turut  membantu  dalam  usaha  mentjapai  kebebasan  negeriku,   aku   pasti   takkan   melakukannja.   Sampai   kepada   detik   ini   hal   ini   tak   pernah   diterangkan  sebagaimana  mestinja.  Dunia  luar  tidak  mengerti.  Mereka  hanja  tahu  Sukarno  seorang  collaborator.  Bagiku  untuk  menuntut  lebih  banjak  lagi  kebebasan-kebebasan  politik,  aku  terpaksa  mengerdjakan  berbagai  hal  jang  merobek-robek  djantungku.  Dengan  hati  jang  berat  aku  melakukannja.  Kalau  aku  tidak  menepati  djandjiku, mereka tidak akan menepati djandji mereka pula.

 

Disuatu   pagi   Sakaguchi   datang   kepadaku.   Dia   menjenangkan,   akan   tetapi   keras.   ,,Kami   menghadapi  persoalan  beras  jang  rumit,”  katanja  dengan  berkerut.  ,,Nampaknja  beras  di  Padang  susah.  Sebenarnja  hampir  tidak  ada.  Saja  memberi  peringatan  kepada  tuan,  kalau  orang  Djepang  tidak  dapat  beras,  orang  Indonesia tidak akan dapat apa-apa. Bukanlah keinginan kami untuk mengambil dengan kekerasan dari orang-  orang  jang  mengendalikannja,  oleh  karena  tindakan  ini  akan  menimbulkan  kekatjauan  dan  bertentangan  dengan  tjara  kerdja-sama  jang  kita  usahakan.  Setidak-tidaknja  tjara  jang  baik,  jang  sampai  sekarang  telah  kita  tjoba  untuk  melakukannja.  Tentu  ada  djalan  lain,  tuan  Sukarno,  karena  saja  jakin  tuan  mengetahui.  Saja menjarankan, supaja tuan mendesak rakjat kepala-batu agar berpikir sedikit.”

 

Aku  segera  minta  bantuan  saudagar-saudagar  beras.  Kuterangkan,  bahwa  aku  memerlukan  sekian  ton  dan  segera  !  Jah,  selama  masih  Sukarno  jang  memintanja,  aku  memperolehnja.  Sebanjak  jang  kuminta  dan  setjepat  jang  kuingini.  Memenuhi  permintaanku  berarti  memetjahkan  persoalan  setiap  orang.  Djepang  terhindar dari kelaparan. Bangsa Indonesia terhindar dari siksaan.

 

Suatu  krisis  jang  lain  ialah  mengenai  kehidupan  seks  dari  para  pradjurit  Djepang.  Rupanja  mereka  tidak  memperoleh apa-apa selama beberpa waktu. Ini adalah semata-mata persoalan mereka, akan tetapi mereka  berada   ditanah-aiiku.   Perempuan   jang   mereka   inginkan   untuk   dirusak   adalah   perempuan-perempuan  bangsaku. Suku Minangkabau orang jang ta’at beragama. Perempuannja dididik dan dibesarkan dengan hati-  hati sekali. Kuperingatkan kepada Fujiyama, ,,Kalau anak buah tuan mentjoba-tjoba berbuat sesuatu dengan  anak-anak gadis kami, rakjat akan berontak. Tuan akan menghadapi pemberontakan besar di Sumatra.”

 

Aku  menginsjafi,  bahwa  aku  tidak  dapat  membiarkan  tentara  Djepang  bermain-main  dengan  gadis  Minang.  Dan  akupun  menginsjafi,  bagaimana  sikap  Djepang  kalau  persoalan  ini  tidak  dipetjahkan,  dan  aku  akan  dihadapkan pada persoalan jang lebih besar lagi.

 

Kuminta pendapat seorang kiai. ,,Menurut agama Islam,” kataku memulai, ,,Laki-laki tidak boleh bertjintaan  dengan gadis, kalau dia tidak bermaksud mengawininja. Ini adalah perbuatan dosa.”

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 95 dari 109

 

,,Itu benar,” katanja.

 

Aku tidak seratus persen pasti bagaimana harus mengutjapkan maksudku, karena itu aku berpikir sebentar,  lalu berkata, ,,Mungkinkah aturan ini dikesampingkan dalam keadaan keadaan tertentu?”

 

,,Tidak. Tidak mungkin. Untuk Bung Karno sendiripun tidak mungkin,” protes orang alim itu dengan kaget.

 

Kemudian  kubentangkan  rentjana  itu.  ,,Semata-mata  sebagai  tindakan  darurat,  demi  nama  baik  anak-anak  gadis kita dan demi nama baik negeri kita, saja bermaksud hendak menggunakan lajanan dari para pelatjur  didaerah ini. Dengan demikian orang-orang asing itu dapat memuaskan hatinja dan tidak akan menoleh untuk  merusak anak gadis kita.”

 

,,Dalam  keadaan-keadaan  jang  demikian,”  kata  orang  alim  itu  dengan  ramah,  ,,sekalipun  seseorang  harus  membunuh, perbuatannja tidak dianggap sebagai dosa.”

 

Dengan  berpegang  kepada  djaminan  ini,  bahwa  rentjanaku  tidak  akan  ditafsirkan  sebagai  dosa  jang  besar,  maka  aku  mendatangi  para  pelatjur.  ,,Saja  tidak  akan  menjarankan  saudara-saudara  untuk  melakukan  sesuatu  jang  bertentangan  dengan  kebiasaanmu,”  aku  menegaskan,  ,,akan  tetapi  rentjana  ini  sedjalan  dengan pekerdjaan saudara-saudara sendiri.” ,,Saja dengar, Djepang kaja-kaja dan rojal  dengan uang,” salah  seorang  tertawa  gembira,  nampaknja  senang  dengan  usulku  ini.  ,,Benar,”  aku  menjetudjui.  ,,Mereka  djuga  punja djam tangan dan perhiasan lainnja.”

 

,,Saja  menganggap  rentjana  ini  saling  menguntungkan  dalam  segala  segi,”  ulas  perempuan  jang  djadi  djurubitjara.  ,,Tidak  hanja  kami  akan  mendjadi  patriot  besar,  tapi  ini  djuga  suatu  perdjandjian  jang  menguntungkan.”

 

Kukumpulkanlah 120 orang disatu daerah jang terpentjil dan menempatkan mereka dalam kamp jang dipagar  tinggi  sekelilingnja.  Setiap  pradjurit  diberi  kartu  dengan  ketentuan  hanja  boleh  mengundjungi  tempat  itu  sekali dalam seminggu. Dalam setiap kundjungan kartunja dilobangi. Barangkali tjerita ini tidak begitu baik  untuk dikisahkan. Maksudku, mungkin nampaknja tidak baik bagi seorang pemimpin dari suatu bangsa untuk  menjerahkan  perempuan.  Memang,  aku  mengetahui  satu  perkataan  untuk  memberi  nama  djenis  manusia  seperti itu. Akan tetapi persoalannja sungguh-sungguh gawat ketika itu, jang dapat membangkitkan bentjana  jang  hebat.  Karena  itu  aku  mengobatinja  dengan  tjara  jang  kutahu  paling  baik.  Hasilnjapun  sangat  baik,  kutambahkan keterangan ini dengan senang hati. Setiap orang senang sekali dengan rentjana itu.

 

Oleh  karena  Djepang  memerlukan  tenagaku  untuk  memetjahkan  setiap  persoalan  pemerintahan,  mereka  senantiasa berusaha supaja aku tidak kekurangan apa-apa. Fujiyama menawarkan apa sadja. Semua tawaran  kutolak. Aku menerima hanja jang perlu-perlu sadja.

 

Tugasku dalam menghubungi rakjat menghendaki untuk berkeliling mendatangi masjarakat jang djauh-djauh.  Dalam mengadakan perdjalanan keliling ini sudah tentu aku memertjikkan harapan-harapan kepada kepala-  kepala  setempat.  Dan  kepada  rakjat.  Dan  menghidupkan  kesadaran  nasional  mereka  untuk  hari  depan.  Perdjalanan ini memerlukan bensin.

 

Fujiyama dalam waktu-waktu tertentu membekaliku dengan satu drum isi duaratus liter. Diapun memberikan  kartu  pandjang  jang  ditjoret-tjoret  dalam  bahasa  Djepang  dengan  memberikan  keterangan,  kalau  pergi  ketempat ini-ini dan didjalan ini-ini, aku akan diberi persediaan bensin. Sungguhpun demikian aku mendjaga,  agar  meminta  tidak  lebih  daripada  jang  diperlukan.  Seringkali  orang-orangku  masuk   duapuluh  kilometer  kedaerah  pedalaman  untuk  mentjari  gudang  bensin  jang  disembunjikan  oleh  Belanda.  Aku  mentjoba  setiap  sesuatu dan segala sesuatu supaja tidak bergantung lebih banjak kepada Djepang. Tidak lupa Fujiyama setiap  kali bertanja, ,,Apakah tuan Sukarno memerlukan uang ?”

 

Dan  kudjawab  dengan,  ,,Tidak,  terimakasih.  Rakjat  memberikan  segala-galanja  kepada  saja.  Ketika  saja  sakit baru-baru ini, tersebarlah berita kepada rakjat. Didjalan-djalan terdengarlah rakjat meneruskan berita  dari  jang  satu  kepada  jang  lain,  ‘Hee,  tablet  calcium  Bung  Karno  sudah  habis.  Dia  memerlukan  lagi.  Tjoba  tjarikan.’ Dan dalam waktu satu djam diantarkanlah satu botol lagi kerumahku.

 

,,Darimana diperolehnja ?” dia bertanja tak-atjuh.

 

,,Saja  tidak  tahu,”  djawabku  tak-atjuh  pula.  Jang  tidak  kusampaikan  kepadanja  ialah,  bahwa  di  Padang  banjak  orang  Tionghoa  punja  toko  jang  bisa  mentjarikan  apa  sadja  kalau  mereka  mau.  Dan  kalau  untuk  Sukarno mereka mau.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 96 dari 109

 

,,Baiklah, apakah tuan Sukarno perlu rumah tempat tinggal jang lain ?”

 

Dan  aku  mendjawab,  ,,Tidak,  terimakasih.  Saja  tinggal  dirumah  Waworuntu  tidak  membajar.  Rumah  itu  tjukup buat kami. Saja tidak memerlukan perlakuan jang istimewa.”

 

,,Bolehkah saja membantu tuan dengan adjudan sebagai pembantu tuan ?”

 

,,Tidak  usah,  terimakasih.  Bangsa  lain  tidak  dapat  memahami  tjara  bantuan  kami  jang  diberikan  dengan  sukarela, namun itulah tjara kami. Saja mempunjai lebih dari tjukup tenaga pembantu.” Seorang wartawan  setempat  mendjadi  supirku.  Namanja  Suska.  Suska,  ketika  buku  ini  ditulis,  adalah  Dutabesar  Indonesia  di  India.  Seorang  lagi  jang  pernah  mendjadi  ketua  Partindo  dari  daerah  berdekatan  bersedia  setjara  sukarela  untuk  memberikan  tenaga  tanpa  bajaran.  Gunadi,  orang  dari  Bengkulu,  bekerdja  sebagai  sekretaris  penuh  tanpa gadji.

 

Karena ia tidak dapat membudjukku ketjuali dengan bensin, maka Kolonel Fujiyama kemudian, menanjakan  kepada jang lain-lain apa jang kuperlukan. Mereka selalu kuberitahu supaja mendjawab, ,,Terimakasih, Bung  Karno tidak memerlukan apa-apa. Rakjat memberikan apa sadja jang diperlukannja.”

 

Aku  tidak  banjak  minta,  djadi  kalau  menuntut  sesuatu  biasanja  aku  memperolehnja.  Dan  tidak  lama  kemudian  aku  mau  tidak  mau  memulai  dengan  tuntutan.  Tanggal  1  Maret  Djepang  menjerbu  pulau  Djawa  dengan  tjara  jang  sama  seperti  Sumatra  :  Belanda  lari  puntang-panting.  Djepang  sekarang  berkuasa  atas  seluruh kepulauan Indonesia. Segera terasa kesombongan mereka.

 

Sebagai  balasannja  mulailah  timbul  kegiatan  gerakan-bawah-tanah  dari  para  nasionalis  jang  sangat  anti  Djepang.  Beberapa  orang  jang  terlibat  dalam  sabotase  dan  permusuhan  setjara  terang-terangan  ditangkap  oleh Polisi Rahasia jang sangat ditakuti. Salahsatu dari jang malang ini kukenal baik. Namanja Anwar. Orang  ini  disiksa.  Kenpeitai  ingin  mendjadikannja  sebagai  tjontoh  perbuatan  djahat,  oleh  karena  dialah  orang  subversif jang pertama-tama ditangkap, Djepang mentjabut kuku djarinja.

 

Aku  tjepat-tjepat  pergi  ke  Bukittinggi  dan  menjimpan  tasku  dirumah  Munadji  seorang  kawan,  dan  pergi  menemui  para  pembesar.  Sementara  itu  pentjuri  memasuki  rumah  Munadji  dan  melarikan  barangku  jang  sedikit  itu,  karena  aku  tidak  pernah  punja  barang  banjak.  Melajanglah  tasku  itu,   didalamnja  kalung  emas  kepunjaan Inggit dengan liontin pakai berlian.

 

Di Bukittinggi, kalau Sukarno mengagumi sesuatu maka pemilik toko memaksanja untuk menerima barang itu  tanpa bajaran. Di Bukittinggi, mereka hanja mau memberikan dan tidak mau menerima sesuatu dariku. Djadi  polisi  menduga,  pentjuri  itu  tentu  orang  pendatang.  Mendjalarlah  dari  mulut  kemulut  bahwa  Bung  Karno  mendjadi  korban  pentjurian  dan  dua  hari  kemudian  harta  itu  kembali  setjara  adjaib.  Untuk  menghindari  hukuman, sipentjuri seorang Tionghoa bernama Lian, mengatur dengan seorang alim untuk menjembunjikan  barang  itu  disudut  sebidang  sawah,  setelah  mana  orang  alim  itu  harus  pergi  kesana  untuk  mendo’a  dan

 

…………..lihat ! dia menemukan milik Bung Karno. Begitulah kedjadiannja .

 

Dua  hari  telah  berdjalan  aku  kembali  memperdjoangkan  persoalan  Anwar  kepada  Djepang.  Kataku,  ,,Saja  kenal baik kepadanja. Selama tuan menepati djandji untuk kerdja-sama dengan aspirasi nasional Indonesia,  dia  dan  orang-orang  nasionalis  jang  lain  tidak  akan  berkomplot  menentang  tuan.  Dia  hanja  salah  terima  mengenai   penurunan bendera Merah-Putih dan peristiwa-peristiwa lain jang terdjadi sebagai pertanda dari  pemutusan djandji tuan. Dia tidak bermaksud apa-apa terhadap tuan pribadi. Kalau tuan mengeluarkannja,  saja  jakin  saja  dapat  menggunakan  tenaganja  dengan  baik.  Saja  sendiri  memberikan  djaminan  akan  djiwa  patriotismenja.”

 

Dua djam setelah kundjungan jang kedua ini mereka melepaskannja.

 

Bab 19

 

Pendudukan Djepang

 

SEMENTARA itu Djendral Imamura, Panglima Tertinggi tentara pendudukan jang bermarkas-besar di Djakarta,  memerintahkan  agar  para  pemimpin  bangsa  Indonesia  membentuk  suatu  badan  pernerintahan  sipil,  akan  tetapi mereka keberatan dengan alasan, ,,Kami tidak akan duduk dalam badan apapun tanpa Bung Karno.”

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 97 dari 109

 

Imamura  lalu  mengirim  surat  kepada  Kolonel  Fujiyama  dan  menjatakan  “Sebagian  besar  daripada  tentara  pendudukan  beserta  pimpinan.  Jang  mengendalikan  tentara  ini  berada  di  Djawa.  Tugas  pemerintahan  jang  sesungguhnja  ada  disini  dan  ternjata  urusan  sipil  tidak  berdjalan  dengan  baik.  Kami  sangat  memerlukan  bantuan dari orang jang paling berpengaruh.” Surat itu achirnja menjimpulkan, ,,Ini adalah perintah militer  supaja memberangkatkan Sukarno.”

 

Ketika Fujiyama memerintahkanku segera, berangkat ke Palembang dimana sebuah kapal akan membawaku  ke  Djakarta,  hatiku  menari-nari  gembira.  Semendjak  pendaratan  Djepang  di  Padang  empat  bulan  jang  lalu  aku  mendo’a  agar  dapat  kembali  kepulau  Djawa  jang  tertjinta,  akan  tetapi  aku  tidak  tahu  bagaimana  tjaranja  memenuhi  keinginan  hati  ini.  Sekaranglah  Tuhan  mendengarkan  do’aku  dan  memerintahkanku  kembali.

 

Dekat  Palembang  kami  terlibat  dalam  suatu  ketjelakaan.  Dua  buah  kendaraan.  Djepang  dengan  ketjepatan  jang  penuh  bertabrakan  dihadapan  kami.  Satu  dari  kendaraan  itu  adalah  sebuah  djip.  Itulah  pertamakali  dalam  hidupku  aku  melihat  djip.  Kendaraan  jang  satu  lagi  sebuah  truk  besar.  Kedua  perwira.  didalam  truk  itu tergontjang, akan tetapi tidak apa-apa selain dari babak-belur sedikit. Dengan memberanikan diri mereka  tjepat-tjepat  lari  meneruskan  perdjalanan.  Djip  itu  hantjur  samasekali.  Penumpangnja,  seorang  kapten,  mendapat  luka  parah.  Adjudannja  terpelanting  kepinggir  djalan  dan  hanja  pusing  dan  terbaring  dibawah  sebatang   kaju.   Sewaktu   dia   sadar   lagi   dia   menjatakan   kepada   kami,   ,,Kami   perlu   segera   sampai   di  Palembang. Saja bawa Buick ini.”

 

,,Tapi,”   protesku,   ,,Ini   milik   saja.   Komandan   daerah   ini   memberikan   izin   istimewa   kepada   saja.”  Kutundjukkan sekilas surat tanda milikku. Ini buktinja.”

 

Sebagian  dari  ,,pertjakapan”  ini  kami  lakukan  dengan  gerak.  Sekalipun  melihat  surat  itu,  adjudan  itu  menghormat dengan kaku, mengutjapkan sesuatu seakan dia berkata, ,Ini urusan penting. Ma’af sadja.” Lalu  dia pergi membawa kendaraan kami dengan meninggalkan kami terdampar didjalanan itu. Polisi Militer jang  segera  datang  ketempat  ketjelakaan  ini  mengerti  tanda-tanda  pengenalku.  Kendaraan  selandjutnja  jang  kebetulan  lewat  adalah  sebuah  truk.  Sertamerta  kendaraan  itu  disita  dan  kami  meneruskan  perdjalanan  dengan meninggalkan pemiliknja dipinggir djalan itu.

 

Kami  menambah  dua  orang  penumpang  lagi.  Seorang  Indonesia  jang  terbanting  dari  atas  truk  besar  tadi  menggeletak  disemak-semak,  mukanja  tertelungkup  ketanah  bermandi  darah  jang  menggenang.  Ia  sudah  tidak  bernjawa  lagi.  Aku  tidak  dapat  meninggalkan  orang  jang  malang  itu  ditengah  hutan,  dikelilingi  oleh  muka-muka masam. Dengan mengangkat majat jang berlumuran darah keatas truk, aku membawanja untuk  dikuburkan  sebagaimana mestinja. Jang seorang lagi  adalah  pradjurit Djepang,  ditugaskan untuk membawa  kami. Inggit disuruh duduk disebelahnja. Penumpang lain dibelakang, Satu-satunja kesukaran jang kuhadapi  ialah  mengenai  Inggit  jang  tidak  mau  duduk  disebelah  Djepang.  Achirnja  aku  menjelesaikannja  dengan  meletakkan si Ketuk Satu dan Ketuk Dua diantara Inggit dan pradjurit itu.

 

Sesampai   di   Palembang   aku   menghadapi   kesukaran   jang   lebib   banjak.   Para   pembesar   disana   tidak  mengizinkan  kami  meneruskan  perdjalanan  ke  Djakarta  sebagaimana  instruksi  jang  telah  kuterima.  Orang  jang bertugas menolakku dengan utjapan singkat, ,Dilarang bepergian antara Sumatra dan Djawa.

 

,,Tentu  ada  kekeliruan  pengertian  dalam  hal  ini,”  aku  memberi  alasan.  ,,Perintah  ini  saja  terima  dari  komandan atasan saudara sendiri.”

 

,,Sekarang, ini tidak ada perdjalanan orang preman antara Sumatra dan Djawa,” dia mengulangi lagi, sambil  berdiri menjuruhku pergi.

 

Ketika  aku  bertahan  terus  dia  menekan  knop  dan  aku  dihadapkan  kemarkas  Kenpetai  jang  menjeramkan.  Kenpeitai  memutuskan  untuk  mengadakan  pemeriksaan  terhadap  diriku.  ,,Kami  memerlukan  lebih  banjak  keterangan  tentang  diri  tuan,  tuan  Sukarno,”  kata  seorang  perwira  berperut  buntjit  melengking,  sambil  mempermainkan  pedang  Samurai  ditangannja.  ,,Kami  mendapat  keterangan  dari  saluran-saluran  kami,  bahwa tuan orang jang tidak baik, hatinja tidak bersih terhadap kepentingan kami.”

 

,,Tidak  benar,”  aku  mendengus  tidak  sabar.  ,,Saja  dapat  membuktikan  ,  ketidak-benaran  keterangan   itu.”  Aku  mengeluarkan  kartu  tanda  berkelakuan  baik  jang  diberikan  oleh  Kolonel  Fujiyama  kepadaku  dan  dapat  digunakan dalam keadaan-keadaan seperti ini. Dia membatja pelahan-lahan. Kemudian diulangnja membatja  sekali  lagi.  Dan  setjarik  karton  berwama  putih  inilah  jang  menjelamatkan  djiwaku.  Namun  persoalan  pengangkutan  tidaklah  dipertjepat.  Sekarang  dia  minta  bantuanku  lagi  untuk  menjelesaikan  persoalan  setempat sebelum menandatangani surat izin keluar.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 98 dari 109

 

Sibuntjit telah menjarungkan kembali pedang Samurainja. Sambil tersenjum dia berkata, ,,Kalau betul tuan  orang  baik  dan  dengan  maksud-maksud  baik,  saja  minta  tuan  mengundurkan  keberangkatan  dan  membantu  kami mengatasi kesukaran-kesukaran disini jang disebabkan oleh rakjat tuan jang pandir.

 

Dia  duduk  dipinggir  medja.  Aku  dikorsi.  Kami  berhadap-hadapan  dan  pada  djarak  jang  dekat  mukanja  itu  menarik  sekali  untuk  dipeladjari.  Mulutnja  tersenjum,  akan  tetapi  matanja  tidak.  ,,Lebih  baik  kami  tidak  menahan  tuan  dengan  paksa,  tuan  Sukarno,”  dia  mendesis.  ,,Akan  saja  bantu  dengan  apa  jang  dapat  saja  berikan,” djawabku setelah mempertimbangkan, bahwa tidak ada lain jang dapat diutjapkan dalam suasana  demikian itu.

 

Orang Djepang di Palembang dan aku tidak dapat memperoleh saling pengertian dengan baik. Aku melakukan  satu  hal  jang  tidak  mereka  senangi  samasekali.  Akan  tetapi  sebaliknja  mereka  lalu  melakukan  banjak  hal  jang  tidak  kusukai  djuga.  Aku  telah  menjaksikan  perbuatan-perbuatan  kurang-adjar  dan   memuakkan  dan  menjampaikan  hal  ini  kepada  mereka.  Kukatakan  kepada  Sibuntjit,  “Seringkali  saja  Iihat  anak-buah  tuan  terlalu  mudah  melajangkan  tangan.  Dengan  mata  kepala  saja  sendiri  saja  menjaksikan  mereka  berkalikali  menampar orang Indonesia.”

 

Aku  menahan  napas  dan  berhenti,  akan  tetapi  Sibuntjit  hanja  memandang  kepadaku,  dengan  sombong  mengajun-ajunkan  kakinja  –  setiap  kali  hampir-hampir  mengenai  kakiku  –  dan  menantikan  utjapanku  untuk  memberikan  kesimpulan.  ,,Pukulan-pukulan  terhadap  rakjat  kami  ini  harus  dihentikan.  Ini  bukanlah  djalan  untuk  mentjiptakan  persahabatan  dan  membangkitkan  kepertjajaan  rakjat,”  aku  menegaskan.  ,,Kalau  tuan  menghendaki kerdjasama dari saja jang baik, tuan hendaknja memperlihatkan kerdjasama pada saja.”

 

,,Itu  keliru,”  katanja  memberungut.  ,,Kelakuan  buruk  ini  dilakukan  oleh  pradjurit-pradjurit  Korea.  Orang  Korea  terkenal  dengan  sifatnja  jang  gatal  tangan.  Pradjurit-pradjurit  Djepang  sikapnja  djauh  lebih  baik.  Mereka tidak pernah bertindak seperti itu.”

 

,,Komandan,” kataku. ,Orang Indonesia jang kena pukul tidak membedakan siapa jang bertindak itu. Soalnja  ialah, apakah tindakan ini tidak bisa dihentikan ? Dan tidak dilakukan oleh siapapun ?”

 

,,Baik,  tuan  Sukarno,  tuan  dapat  memegang  perkataan  saja.  Para  Komandan  Bataljon  akan  diperintahkan  supaja segera menghentikan perbuatan lantjang tangan ini.” Sedjak itu sikap mereka berobah.

 

Sebulan  kemudian  mereka  membebaskanku  untuk  berangkat,  akan  tetapi  tentara  Djepang  di  Palembang  hanja  mempunjai  sebuah  kapal,  jaitu  sebuah  perahu-motor  dengan  mesin  caterpillar.  Perahu  jang  akan  mengarungi  lautan  ini  pandjangnja  delapan  meter,  sedangkan  penumpangnja  terdiri  dari  seorang  kapten,   dua pradjurit, Inggit dan aku sendiri, Sukarti, Riwu dan barang-barang kami, dan sudah tentu Ketuk Satu dan  Ketuk  Dua.  Aku  mentjoba  untuk  mengusahakan  kapal  jang  lebih  besar,  akan  tetapi  kepadaku  disampaikan  supaja  kami  menunggu.  Jah,  menunggu.  Aku  sudah  lima  setengah  bulan  lamanja  menunggu  di  Sumatra.  Tjukuplah  itu.  Sekalipun  kapal  itu  sama-sekali  tidak  memenuhi  sjarat  sebagai  kapal  laut,  akan  tetapi  ini  adalah kesempatan pertama jang diberikan kepadaku dan kesempatan ini harus kupergunakan.

 

Empat  hari  empat  malam  lamanja  kami  terkatung-katung  ditengah  lautan.  Kami  tidur  sambil  duduk,  setiap  detik  dan  setiap  menit  angin  laut  dan  kabut-air  menjapu  muka  bumi  selama  duapuluh  empat  djam  dalam  sehari.  Pelajaran  ini  djauh  daripada  menjenangkan.  Ketika  kami  melalui  Selat  Bangka  membadailah  topan  jang  keras  dan  kami  harus  menahankannja  diatas  perahu  jang  terbuka,  tanpa  setjarikpun  alat  pelindung.  Kemudian  perahu-motor  kami  hampir  terbalik  karena  menubruk  pulau-karang  jang  rendah.  Lagi  pula  aku  gelisah menghadapi tantangan-tantangan ini, oleh karena aku tak pernah beladjar berenang. Dimasa mudaku  sportku dalam air hanja memakai ban dalam jang dipompa, lalu duduk didalamnja dan mentjebur-tjebur.

 

Kami  membawa  sajuran  jang  telah  dimasak,  ikan  kering  dan  persediaan  lainnja  dalam  stoples  dan  nasi  seperiuk, akan tetapi aku tidak dapat makan. Jang masuk kedalam perutku hanjalah air djeruk sedikit. Aku  terlalu  mabuk,  sehingga  kukira  aku  akan  mati.  Kapal  ketjil  kami  melambung  keatas  dan  dihempaskan  lagi  oleh gelombang kebawah, tergontjang, mengoleng-oleng dan berpusing-pusing. Dan aku putjat seperti majat  selama empat hari itu.

 

Aku sakit, perutku terasa mual, aku pusing, kepala mengentak-ngentak, matahari membakarku angus, kabut  air-laut  membikin  bibirku  petjah-petjah,  perutku  lapar  dan  badan  lemah  –  ach,  peduli  amat  !  Bukankah  sekarang  aku  pulang  ?  Aku  sekarang  kembali  ke  Djawa.  Karena  sangat  bersjukur  dapat  kembali  dalam   keadaan   hidup   dan   selamat,   kusumbangkan   seluruh   milikku   kepada   kapten   itu   semuanja!   Ini   adalah  permulaan baru bagiku. Kehidupan baru bagi negeriku. Dan aku ingin memulainja dengan kesegaran baru.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 99 dari 109

 

Lintasan pertama dari tanahku jang tertjinta ini terlihat ketika hendak masuk meninggalkan Laut Djawa. Hari  sudah  sore  dan  panas  ketika  kami  menderum-derum  melalui  iring-iringan  perahu-lajar  penangkap-ikan  dan  sampan-sampan  nelajan  jang  berbau  hanjir.  Melewati  perairan  diluar  aquarium  jang  dibuat  didok  dan  memasuki  pelabuhan  Pasar  Ikan  jang  sempit,  dimana  hampir  tidak  mungkin  dua  buah  perahu  berpapasan.  Pasar  ikan  penuh  sesak  dengan  tempat  pendjualan  hasil  dari  laut.  Airnja  kotor.  Daun-daunan,  kepala  ikan  dan  sampah  kelihatan  mengapung  dalam  air.  Bau  hanjir  dari  ikan  mati  memenuhi  udara,  sekitar  itu.  Akan  tetapi,   ketika   aku   dibantu   melangkahkan   kaki   ketangga   batu   jang   membawaku   keatas   daratan,   aku  berbitjara dalam hatiku, ,,Alangkah indah pemandangan ini. Seperti tak pernah aku melihat jang lebih indah  seumur                                                                                                                                                                hidupku.”

 

 

Didarat tak seorangpun jang datang mendjemput kami dari kapal. Kuminta pertolongan salah seorang nelajan  untuk  menghubungi  bekas  iparku,  Anwar  Tjokroaminoto,  dan  pengatjara  jang  membelaku  dulu  di  Bandung,  jaitu Sartono, dan Hatta jang djuga berada di Djakarta. Diudjung darmaga tampak sebuah kantor-emperan.  Pradjurit   pendjaganja   mempersilakanku   masuk   dan   menjuruhku   duduk.   Dan   kududuklah   disitu.   Aku  menunggu.

 

Anwar  jang  pertama  datang.  Tuhan  melindunginja.  Dia  datang  berlari  dengan  mata  berlinang-linang.  Kami  berpelukan  dan  mentjium  satu  sama  lain  tanpa  mempedulikan  sekitar  kami.  Pertemuan  ini   tidak  diiringi  dengan  pukulan  punggung  jang  keras.  Suasananja  menggambarkan  perasaan  sjukur  jang  diutjapkan  dengan  tidak  bersuara.  Hanja  airmata  mengalir  kepipi  kami.  Seperti  kukatakan,  kami  tidak  banjak  mengutjapkan  kata-kata.  Kami  tidak  sanggup  mengeluarkannja.  la  tidak  bisa  lewat  dari  kerongkongan.  Sebaliknja  ia  mentjutjur dari mata kami.

 

,,Bagaimana kabamja Harsono ?” tanjaku, suaraku berobah karena terharu.

 

,,Baik.”

 

,,Utari ?”

 

,,Semua baik. Jang lebih penting lagi saja menanjakan bagaimana keadaan Bung Karno.”

 

,,Akupun baik.”

 

Kami  berdiri  merenggang  dan  saling  memperhatikan  satu  sama  lain  pada  djarak  satu  lengan.  Didepannja  ia  lihat  sekarang  seorang  laki-laki  jang  letih  dan  kurus,  pakai  djas  putih  jang  lapang  dan  tjelana  tidak  berbentuk. Pakaianku sangat ketinggalan djaman. la adalah buatan Darham, pendjahit  dari Pulau Bunga jang  tinggal denganku, atau hasil sebelum pengasingan.

 

Anwar   memakai   djas   kuning-gading   dengan   potongan   ,,doublebreast”.   Setelah   aku   menjeka   pipi   dan  mentjium tanah dibawahku, lalu menggosok mataku untuk mejakinkan apakah jang berdiri didepanku betul-  betul  Anwar,  bukan-pajangan,  aku  kemudian  kembali  pada  kenjataan.  Kuraba-raba  djasnja.  ,Djasmu  bagus  sekali potongannja,” aku memudji.

 

,,Bikinan De Koning,” ia melagak.

 

Pendjahit paling terkenal di Djakarta diwaktu Belanda. !Bagaimana kau membajarnja ?”

 

Dia mengangkat kedua belah tangan seperti tjorong kemulutnja dan berbitjara langsung ketelingaku. ,,Saja  masuk  dari  pintu  belakang.  Ongkosnja  terlalu  tinggi,  akan  tetapi  ada  seorang  kawan  jang  bekerdja  sebagai  pendjahit-pembantu ditoko De Koning.” ,,Apa dia mau kira-kira membikinkan untukku ?” ,,Tentu mau. Kalau  Bung Karno sudah senggang sedikit, saja bawa kesana.”

 

Seringkali  generasi  muda  menukil  kembali  utjapan-utjapan  jang  abadi  dan  jang  akan  hidup  terus.  Utjapan  jang  keluar  dalam  detik-detik  jang  besar  didalam  sedjarah.  Utjapan  jang  akan  menggeletarkan  tulang  sumsum, utjapan jang membangkitkan semangat, utjapan jang dituliskan dengan kata-kata indah seperti ini  disaat  pertemuan  kami.  Akan  tetapi  sajang,  ketika  kami  bertemu  dan  setelah  aku  menanjakan  tentang  keadaan  Anwar  beserta  keluarganja,  pokok  persoalan  selandjutnja  jang  kutanjakan  kepadanja  hanjalah  mengenai  tukang  djahitnja.  Diminggu  itu  djuga  aku  pergi  mendjahitkan  pakaian  jang  pertama  selama  bertahun-tahun.

 

Setengah djam kemudian Sartono, dan Hatta datang berlarian. Hatta dan aku tidak berkiriman surat selama  bertahun-tahun.  Dan  sekalipun  banjak  jang  hendak  dikatakan  dan  banjak  jang  hendak  ditanjakan,  namun

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 100 dari 109

 

masing-masing  kami  hanja  punja  satu  pertanjaan  untuk  jang  lain.  Hatta  membisik,  ,,Bagaimana  pendapat  Bung Karno mengenai pendudukan ini ?” Aku membisikkan kembali, ,,Djepang tidak akan lama disini. Mereka  akan  kalah  dan  kita  akan  hantjurkan  mereka.  Inipun  asal  kita  tidak  menentang  mereka  setjara  terang-  terangan.

 

Kemudian  aku  bertanja,  ,,Bagaimana,  Bung  Hatta,  bagaimana  semangat  nasionalisme  dari  rakjat  kita  ?”  ,,Semangat  rakjat  tidak  dibinasakan  oleh  peperangan.  Rakjat  sudah  mulai  tjuriga  kepada  Djepang  jang  mendjadi ,,pembebas” itu dan rakjat sangat menantikan kedatangan Bung Karno.

 

Djepang telah menjediakan sebuah rumah bertingkat-dua dan manis potongannja, terletak disebuah djalan-  raja Djakarta. Rumah itu mempunjai lapangan rumput, beranda, garasi dan perabot lengkap, ketjuali piring-  piring   barang   petjah-belah   lainnja   jang   sudah   dibanting-bantingkan   oleh   Belanda   sebelum   berangkat.  Tentunja  tidak  ada  penjambutan  kedatanganku  kembali  pulang,  karena  tak  seorangpun  jang  tahu  kapan  Sukarno,  akan  sampai.  Dan  lagi  adanja  larangan  jang  keras  untuk  mengadakan  pertemuan.  Sekalipun  demikian  didalam  rumah  kudapati  telah  ada  beberapa  anggota  dari  ,,Panitia  Penjambutan  Bung  Karno”.  Wadjah  mereka  bersinar  dengan  kegembiraan  jang  tenang  dan  mereka  berlutut,  lalu  mentjium  tanganku.  Kupegang  tangan  mereka  dengan  kuat  dalam  genggamanku.  Aku  sangat  terharu.  Orang-orang  jang  kutjintai  ini telah ditundjuk untuk mentjarikanku rumah tinggal jang tjotjok.

 

,,Orang Belanda sudah diringkus masuk kamp-tawanan,” kata Ahmad Subardjo. ,,Kalau Bung Karno berdjalan-  djalan, akan melihat banjak rumah-rumah bagus jang kosong. Isteri saja meneliti sebelah satu djalan. Isteri  Sartono diseberangnja. Dalam beberapa hari sadja mereka menemukan rumah ini.” ,,Rumah ini besar sekali,”  kataku  sambil  memeriksa  bagian  dalam.  ,,Kami  berpendapat,  bahwa  pemimpin  kita  tentu  memerlukan  ruangan banjak untuk tetamu. Semendjak tersebar berita bahwa Bung Kamo akan datang dalam waktu tidak  lama lagi, rakjat dari desa-desa, dari gunung, dari tepi pantai dan dari daerah jang djauh semakin meluap-  luap. Sekalipun dalam keadaan kekurangan, mereka toch sanggup untuk datang dan melihat sendiri wadjah  Bung  Karno,  Mereka  tidak  pertjaja  bahwa  Bung  Karno  betul-betul  ada  disini  dan  bebas  dan  sudah  siap  lagi  untuk  menduduki  tempat  sebagai  pahlawan  mereka.”  Malam  itu  Inggit  dan  aku  berdialan-djalan  disekitar  rumah   kami   jang   baru   itu.   Didjalanan   jang   lebar   dengan   dikiri-kanannja   barisan   pohon-pohon,   jang  merupakan  daerah  elite  di  Djakarta.  Telah  pandjang  waktu  berlalu  dibelakangku.  Hampir  tigabelas  tahun.  Masa  tahanan  dan  pembuangan  telah  berlalu.  Dan  perang  telah  terdjadi.  Tapi  sjukur,  Aku  sudah  pulang  ketempatku semula. Aku kembali mendjadi pemimpin dari rakjatku. Aku sudah kembali ……

 

 

Bab 20

 

Kollabolator Atau Pahlawan ?

 

MALAM itu aku pergi kerumah Hatta. Kami mengadakan pertemuan jang pertama guna membitjarakan taktik  kami  bekerdja  untuk  masa  jang  akan  datang.  ,,Bung  Hatta  dan  saja  dimasa  jang  lalu  telah  mengalarni  pertentangan jang mendalam,” kataku. ,,Memang disatu waktu kita tidak berbaik satu sama lain. Akan tetapi  sekarang  kita  menghadapi  suatu  tugas  jang  djauh  lebih  besar  daripada  jang  dapat  dilakukan  oleh  salah-  seorang  dari  kita.  Perbedaan  dalam  hal  partai  atau  strategi  tidak  ada  lagi.  Pada  waktu  sekarang  kita  satu.  Dan kita bersatu didalam perdjoangan bersama.”

 

,,Saja setudju,” Hatta menjatakan.

 

Kami   berdjabat   tangan   dengan   kesungguhan   hati   “inilah”,   kataku   berdjandji,   ,,djandji   kita   sebagai  Dwitunggal. Inilah sumpah kita jang djantan untuk bekerdja berdampingan dan tidak akan berpetjah hingga  negeri ini mentjapai kemerdekaan sepenuhnja.”

 

Bersama-sama  dengan  Sjahrir,  satu-satunja  orang  jang  turut  hadir,  rentjana-rentjana  gerakan  untuk  masa  jang akan datang kami susun dengan tjepat. Telah disetudjui, bahwa kami akan bekerdja dengan dua tjara.  Diatas-tanah  setjara  terang-terangan  dan  dibawah-tanah  setjara  rahasia.  Jang  satu  memenuhi  tugas  jang  tidak dapat dilakukan oleh tjara jang lain.

 

“Untuk memperoleh konsesi-konsesi politik jang berkenaan dengan pendidikan militer dan djabatan-djabatan  pemerintahan bagi orang-orang kita, kita harus memperlihatkan diri dengan tjara kollaborasi.” kataku.

 

,,Djelaslah,  bahwa  kekuatan  Bung  Karno  adalah  untuk  menggerakkan  massa,”  Hatta  menegaskan.  ,,Djadi  Bung Karno harus bekerdja setjara terang-terangan.” ,,Betul, Bung Hatta membantu saja. Karena Bung Hatta  terlalu terkenal untuk bisa bekerdja dibawah-tanah.”

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 101 dari 109

 

,,Biarlah   saja,”   Sjahrir   menjarankan,   ,,untuk   mengadakan   gerakan   bawah-tanah   dan   menjusun   bagian  penjadap-berita dan gerakan rahasia lainnja.”

 

Pembitjaraan  singkat  itu,  jang  berlangsung  selama  satu  djam,  mengembangkan  suatu  landasan  jang  begitu  ringkas. Dan kelihatannja seolah-olah dikerdjakan dengan sangat saksama, setelah diteliti kembali duapuluh  tahun kemudian. Sebenarnja strategi kami adalah satu-satunja pilihan jang mungkin didjalankan ketika itu.  Djadi   kami   tidak   mernpunjai   pilihan   lain.   ,,Inilah   kesempatan   jang   kita   tunggu-    tunggu,”   kataku  bersemangat. ,,Saja jakin akan hal ini. Pendudukan Djepang adalah kesempatan jang besar dan bagus sekali  untuk  mendidik  dan  mempersiapkan  rakjat  kita.  Semua  pegawai  Belanda  masuk  kamp-tawanan.  Sebaliknja  djumlah  orang  Djepang  tidak  akan  mentjukupi  untuk  melantjarkan  roda  pemerintahan  diseluruh  kepulauan  kita.  Tentu  mereka  sangat  mernerlukan  tenaga  kita.  Indonesia  segera  akan  melihat,  bahwa  madjikannja  tidak akan berhasil dengan baik tanpa bantuan kita.”

 

Aku berdjalan hilir-mudik ketika berpikir dengan keras, ,,Akan tetapi rakjat kita harus menderita, lebih dulu,  karena  hanja  dengan  penderitaanlah  ia  dapat  bangkit.  Rakjat  kita  adalah  bangsa  jang  suka  damai,  mau  senang  dan  mengalah  dan  perna’af.  Sungguhpun  rakjat  Indonesia  hampir  mentjapai  djumlah  tudjuhpuluh  djuta dan diperintah oleh hanja  500.000 orang, akan  tetapi darah rakjat tidak pernah bergolak  sedernikian  panas   sehingga   sanggup   bertempur   melawan   Belanda.   Belanda   menenteramkan   penguasaannja   dengan  memberikan kebaikan-kebaikan palsu. Djepang tidak.

 

,,Kita tahu, bahwa Djepang tidak segan-segan memenggal kepala orang dengan sekali ajunan pedangnja.  Kita  mengetahui muslihat mereka, memaksa sikorban merninum berliter-liter air dan kemudian melompat keatas  perutnja. Kita sudah mengenal djeritan ditengah malam jang menakutkan jang keluar dari markas Kenpetai.  Kita   mendengar   pradjurit-pradjurit   Kenpetai   dengan   sengadja   dalam   keadaan   mabuk-mabukan   untuk  menumpulkan  perasaannja.  ,,Orang  Djepang  memang  keras.  Kedjam.  Tjepat  melakukan  tindakan  kurang-  adjar. Dan ini akan membuka mata rakjat untuk mengadakan perlawanan.

 

,,Mereka djuga akan memberikan pada kita kepertjajaan terhadap diri sendiri.” Hatta menguraikan. ,,Bangsa  Asia   tidak   lagi   lebih   rendah   dari   orang   Barat.”   ,,Kondisi-kondisi   inilah   jang   akan   mentjiptakan   suatu  kebulatan tekad. Kalau rakjat kita betul-betul digentjet, maka akan datanglah revolusi mental. Setelah itu,  revolusi fisik.”

 

Aku duduk. Melalui lobang sandal aku mengelupas kuku djari kakiku, suatu tanda jang pasti bahwa pikiranku  gelisah.  Tanpa  kusadari  aku  mengelupas  kuku  ibu-djari  kakiku  terlalu  dalarn  hingga  berdarah.  ,,Kita  harus  melantjarkan gerakan kebangsaan,” kataku berbitjara dalam mulut.

 

,,Tidak mungkin,” Hatta membalas. ,Mengadakan rapat umum dan berpolitik dalam bentuk apapun dilarang.”

 

,,Kita  tidak  bisa  membangkitkan  semangat  rakjat  kalau  tidak  ada  pergerakan  rakjat,”  kunjatakan  dengan  tegas.  ,,Saja  tidak  bisa  duduk-duduk  sadja  dibelakang  medja  setjara  passif.  Kalau  hanja  sebagai  pemberi  nasehat, itu tidak tjukup bagi saja. Harus ada kegiatan. Kita tidak bisa menjuruh rakjat berdjoang, sekalipun   dengan  diam-diam,  tanpa  bimbingan.  Kalau  saja  tidak  bisa  Membentuk  suatu  gerakan  sendiri,  saja  akan  mengadakan infiltrasi kedalarn gerakan jang didukung oleh Djepang. Bagaimana dengan Gerakan Tiga-A ?”

 

Gerakan Tiga-A adalah suatu organisasi jang setjara psychologis keliru. la bekerdja dengan sembojannja jang  menusuk hati: &”Dai Nippon Pemimpin Asia. Dai Nippon Pelindung Asia. Dai Nippon Tjahaja Asia”

 

,,Gerakan itu tidak betul,” Sjahrir menggerutu. ,,Tudjuannja tadinja hendak mengumpulkan bahan makanan  dari kita, mengaut kekajaan alam kita dan bahkan djuga mengumpulkan tenaga manusia.”

 

,,Akan  tetapi  gerakan  itu  tidak  memberikan  apa-apa  sebagai  balasannja,”  Hatta  menambahkan.  ,,Ditambah  lagi  dengan  propagandanja  jang  sangat  dibesar-besarkan,  tidak  adanja  pemimpin  bangsa  Indonesia  jang  duduk   dalam   putjuk   pimpinannja   dan   ketidak-senangan   rakjat   jang   sernakin   meningkat   menjebabkan  gerakan itu segera menarik diri. Lebih baik Bung Karno mendjauhkan diri dari Gerakan Tiga-A.”

 

,,Tidak. Saja pikir, malah saja akan memasukinja.” ,,Kenapa ?” ,,Ja. Untuk merombaknja.”

 

Dimalam pertama aku di Djakarta aku pergi tidur dengan kepala jang pusing, oleh karena pikiranku gelisah.  Hitam-putihnja baru diketahui dihari esok. Aku harus menghadap Letnan Djendral Imamura. la menerimaku  dikamar-duduknja  dalam  istana  jang  putih  dan  besar  itu,  bekas  istana  Gubemur  Djendral  Hindia  Belanda.  Kamar  duduk  itu  sekarang  mendjadi  kamar-studiku.  Djendral  Imamura  adalah  seorang  Samurai  sedjati.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 102 dari 109

 

Kurus,  melebihi  tinggi  orang  biasa,  bersifat  sopan,  hormat  dan  berbudi  luhur.  Setelah  mempersilakanku  duduk, iapun duduk. Sikapnja lurus seperti tongkat.

 

Aku berbitjara dalam bahasa Indonesia. Dia dalam bahasa Djepang. Kami mempunjai djurubahasa. Aku pergi  sendirian  tanpa  pengikut.  Djendral  itu  dengan  adjudannja  tentu.  Djendral-djendral  selalu  punja.  Dialah  mula-mula  membuka  pembitjaraan  ,,Saja  memanggil  tuan  ke  Djawa  dengan  maksud  jang  baik.  Tuan  tidak  akan  dipaksakan  bekerdja  bertentangan  dengan  kemauan  tuan.  Hasil  dari  pembitjaraan  kita  –  apakah  tuan  bersedia  untuk  bekerdja-sama  dengan  kami  atau  tetap  sebagai  penonton  sadja  –  samasekali  tergantung  kepada tuan sendiri.”

 

,,Boleh  saja  bertanja,  apakah  rentjana  Dai  Nippon  Teikoku  untuk  Indonesia  ?”  Mendjawab  Imamura,  ,,Saja  hanja  Panglima  Tertinggi  dari  tentara  ekspedisi.  Tenno  Heika  sendirilah  jang  berhak  menentukan,  apakah  negeri  tuan  akan  diberi  otonomi  dalam  arti  jang  luas  dibawah  lindungan  pemerintah-Nja.  Ataukah  akan  memperoleh   kemerdekaan   sebagai   negara-bagian   dalam   suatu   federasi   dengan   Dai   Nippon.   Ataupun  mendjadi  negara  merdeka  dan  berdaulat  penuh.  Saja  tidak  dapat  memberikan  djandji  jang  tepat  tentang  bentuk  kemerdekaan  jang  akan  diberikan  kepada  negeri  tuan.  Keputusan  jang  demikian  itu  tidak  dapat  diambil sebelum peperangan ini selesai. Sungguhpun demikian, kami dapat memahami tjita-tjita dan sjarat-  sjarat tuan, dan ini sedjalan dengan tjita-tjita kami.” Kalimatku selandjutnja adalah, ,Terimakasih, Djendral.  Terima  kasih  karena  tuanlah  orang  jang  mendupak  Belanda  jang  terkutuk  itu  keluar.  Saja  mentjobanja  selama  bertahun-tahun.  Negeri  saja  mentjoba  selama  berabad-abad.  Akan  tetapi  Imamura-lah  orang  jang  berhasil.”  ,Boleh  saja  bertjeritera,  Ir.  Sukarno,  bagaimana  saja  menaklukkan  orang  Kulitputih  jang  kuat-  perkasa itu dari pantai daratan tuan. Dengan gertak. Itulah ! Semata-mata gertak.”

 

 

Wadjahku diwaktu itu tentu mentjerminkan kebingungan, karena Djendral itu berkenan untuk tersenjum dan  kemudian  dengan  riang  mentjeriterakan  kemenangan  itu.  ,,Pada  waktu  tentara  saja  mendarat  di  Djawa,  pasukan saja hanja tinggal beberapa bataljon dan saja harus memetjah-metjahnja lagi. Sebagian  mendarat  di  Djawa  Barat,  sebagian  di  Djawa  Tengah,  sebagian  di  Djakarta,  beberapa  lagi  di  Banten.  Jang  langsung  dibawah  pimpinan  saja  mendarat  di  Kalidjati.  Dan  pasukan  ini  tjompang-tjamping.  Orang-orang  saja  punja  senapan, tapi tidak punja uniform. Sebelum pendaratan kami, Gubemur Djendral sudah terbang ke Bandung.”

 

,,Kota  itu  dilindungi  oleh  gunung-gunung,  tentu  dia  menganggap  kota  itu  dapat  dipertahankan.”  ,,Betul,”  Imamura   mengangguk.   ,,Lalu   saja   mengadakan   hubungan   dengan   Bandung   dan   memerintahkannja   ke  Kalidjati untuk suatu perundingan perdamaian. Dia datang. Dan segera lagi, Saja bemarkas disebuah kamar  jang   ketjil.  Dengan  suara-suara  jang  gaduh,  tapi  tanpa  pasukan  untuk  menjokong  keberanian  saja,  saja  menuntut, ‘Nah, apakah tuan sekarang akan menjerah ? Kalau tidak, saja akan membom tuan sampai lenjap  dari permukaan bumi. Dengan demikian dia dengan stafnja segera terburu-buru dan menjerah.”

 

,,Dengan sisa tentara jang terpetjah-petjah dan melarat,” kataku kepada penakluk jang menghadapiku, tuan  mengusir  orang-orang  jang  akan  selalu  dianggap  sebagai  penindas-penindas  sedjati  dari  Indonesia.  Saja  berterima-kasih kepada tuan untuk selama-lamanja.”

 

Drama  jang  kupertundjukkan  ini  mengingatkan  daku  kepada  pahlawan  Filipina,  Djendral  Aguinaldo.  Dia  melawan   Spanjol   selama   bertahun-tahun,   dan   ketika   Amerika   menaklukkan   bekas   penakluk   itu,   jang  pertama-tama  diutjapkan  oleh  Aguinaldo  kepada  orang  Amerika  adalah,  ,,Terima-kasih.”  Kemudian  ketika  Amerika  Serikat  bermaksud  hendak  tetap  berkuasa  di  Filipina,  Aguinaldo  menjepakkannja  keluar  dengan  keras.

 

“Berapa  lama  menurut  pikiran  tuan  tentara  akan  memegang  ke  kuasaan  pemerintahan  disini?”  tanjaku.  ,,Terus-terang  saja  tidak  tahu.  Saja  tidak  mempujnjai  rentjana  sampai  kesitu.”  Nah,  dia  belum.  Tapi  aku  sudah  punja.  Dan  aku  mulai  dengan  siasat  jang  pertama.  ,,Untuk  memimpin  rakjat  kami  sesuai  dengan  pemerintahan  militer,  saja  memerlukan  orang  sebagai  pembantu  pimpinan.  Urusan  pemerintahan  hanja  dapat  dilantjarkan,  kalau orang-orang Indonesia ditempatkan  pada djabatan-djabatan pemerintahan. Hanja  orang Indonesialah jang mengetahui daerah, bahasa-bahasa daerah dan adat-istiadat saudara-saudaranja.”

 

,,Kalau  ini  pemetjahan  jang  terbaik  untuk  memadjukan  kemakmuran  dan  kesedjahteraan,  maka  orang  Indonesia  akan  diberi  kesempatan  untuk  ikut  dalam  menjelesaikan  urusan  dalam  negeri  setjara  meningkat.  Djabatan-djabatan dalam pemerintahan akan diberikan kepada bangsa Indonesia dengan segera.”

 

Kalau   dilihat   dari   konsesi-konsesi   jang   diberikan   kepadaku   dibidang   politik,   maka   kekuasaan   berada  ditanganku.  Sang  Djendral  adalab  seorang  pemimpin  militer.  la  mengetahui  tentang  sendjata.  Aku  seorang  pemimpin politik. Aku mengetahui tentang pembinaan bangsa. Didalam tanganku ia seorang baji.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 103 dari 109

 

Kugariskan  rentjanaku  kepada  Hatta  malam  itu  djuga.  ,Dengan  biaja  pemerintah  Djepang  akan  kita  didik  rakjat  kita  sebagai  penjelenggara  pemerintahan.  Mereka  akan  dididik  untuk  memberi  perintah  tidak  hanja  menerima  perintah.  Rakjat  dipersiapkan  mendjadi  kepala.  kepala  dan  administrator-administrator.  Mereka  dididik  untuk  memegang  roda  pemerintahan  guna  suatu-hari-jang-akan-datang,  pada  waktu  mana  kita  mengambil  alih  kekuasaan  dan  menjatakan  kemerdekaan.  Kalau  tidak  begitu  bagaimana  mungkin  kita  melengkapkan  susunan  pemerintahan  tanpa  personil”  Tanpa  menunggu  djawaban  atas  keterangan  itu  aku  melandjutkan, ,,Dulu setiap kepala adalah orang Belanda dimana-mana Belanda…. Belanda. …… pendeknja  setiap  satu  djabatan  diduduki  oleh  si  Belanda  buruk  !”  ,,Dan  rakjat  kita  tjukup  djadi  pengantar-surat  sadja  atau pesuruh,” Hatta menambahkan, ,,Selalu dalam kedudukan menghambakan diri Selalu patuh.” ,,Sekarang  rakjat    jang    kurus-kering,    diindjak-indjak    lagi    bebal    ini    akan    mendjadi    pedjabat-pedjabat    dalam  pemerintahan.   Mereka   akan   beladjar   membuat   keputusan,   mereka   akan    mempeladjari   bagaimana  melantjarkan  tugas,  mereka  akan  mempeladjari  bagaimana  memberikan  perintah.  Saja  sudah  menanamkan  bibitnja dan Djepang akan memupuknja.

 

 

Aku  meludah  ketanah.  ,,Itulah  sebabnja  mengapa  setiap  orang  jang  tjerdas  membentji  Belanda.  Orang  Belanda  mengharapkan  kerdjasama  kita,  akan  tetapi  tidak  sedikitpun  memberi  kesempatan  pada  kita  jang  menguntungkan  dari  kerdjasama  itu.  Kalau  saja  mengingat-ingat  perangai  Belarida  jang  munafik,  saja  mau  muntah.  Apakah  jang  dikerdjakan  Belanda  untuk  kita  ?  Nol  besar  !  Saja  menjadari,  tentu  ada  orang  jang  menentang saja, karena saja bekerdjasama dengan Djepang. Tapi, apa salahnja ? Memperalat apa jang sudah  diletakkan   didepan   saja   adalah   taktik   jang   paling   baik.   Dan   itulah   sebabnja   mengapa   saja   bersedia  menerimanja.”

 

Bulan Nopember Gerakan Tiga-A dibekukan. Bulan Maret aku pertamakali memegang djabatan resmiku dalam  suatu  badan  baru  jang  bernama  PUTERA.  Tokyo  menganggap  ,,Pusat  Tenaga  Rakjat”  ini  sebagai  alat  dari  Sukarno  untuk  mengerahkan  bantuan  rakjat  digaris  belakang  bagi  kepentingan  peperangan  mereka.  Tapi  Sukarno mengartikannja sebagai alat jang nomor dua paling baik untuk melengkapkan suatu badan penggerak  politik jang sempurna.

 

Sebagai  Ketua  dari  PUTERA  tugasku  ialah  meringankan  kesulitan-kesulitan  jang  timbul  didalam  negeri.   Ambillah  misalnja  persoalan  tekstil  jang  rumit.  Oleh  ketiadaan  kain  rakjat  Marhaen  memakai  badju  dari  karung   atau   bagor.   Anak-anak   jang   baru- -lahir   dibungkus   dengan   taplak-medja.   Aku   pergi   berkeliling  menjampaikan seruan kepada rakjat desa. Kataku, ,,Dinegeri kita tumbuh sematjam tanaman jang bemama  rosella. Seratnja bisa -ditenun mendjadi kain. Hajo kita tanani rosella. Mari kita tenun kain dari rosella.”

 

Rakjat mendengarkan seruanku itu. Kalau rakjat terpaksa mentjari akal untuk menutupi kekurangan, mereka  melakukannja.  Akan  tetapi  sementara  aku  mendjalankan  gerakan  itu,  aku  memilih  patriot-patriot  jang  dipertjaja dan memperkerdjakannja pada pembesar-pembesar setempat. Kataku, ,,Pekerdjaan ini akan lebih  berhasil,  kalau  orang  Indonesia  ditugaskan  untuk  melaksanakannja.  Ini  orangnja,  djadikanlah  dia  sebagai  kepala dari gerakan ini. Saja sendiri mendjamin kesetiaannja.”

 

Kami  tidak  mempunjai  sabun.  Kusampaikanlah  kepada  tetangga  kami,  supaja  membuat  sabun  dari  minjak-  kelapa  dan  abu  daun-kelapa  jang  dibakar.  Abu  itu  mengandung  bahan  kimia  jang  berbuih  djika  ditjampur  dengan minjak. Kemudian kupilih salah-seorang pengikutku jang paling dipertjaja, Ialu kusampaikan kepada  pedjabat jang berhubungan dengan itu, ,,Saja mempunjai seorang kawan disini jang mengetahui bagaimana  melakukannja. Tariklah dia untuk mengatasi persoalan tuan.”

 

Kami tidak punja listrik. Untuk mengatasi ini keluar pulalah seruanku, ,,Hajo kita tanam djarak. Tanaman ini  mudah tumbuh seperti tanaman pagar. Dari bidjinja  kita dapat  membuat  minjak kastroli jang  bisa  menjala  dengan  terang.”  Apa  sebabnja  aku  mengetahui  hal  ini  ?  Oleh  karena  aku  orang  Djawa.  Oleh  karena  keluargaku   melarat   dan   terpaksa   memakainja.   Oleh   karena   selama   sebagian   dari   hidupku   aku   harus  membakar bidji djarak karena tidak mampu membeli bola lampu.

 

Itulah   sebabnja   mengapa   para   penakluk   memerlukan   pimpinan   dari   daerah   jang   diduduki   itu.   Hanja  penduduk  aslilah  jang  tahu,  bagainiana  memetjahkan  persoalan  penduduk.  Musuh  tidak  dapat  menduduki  suatu negeri tanpa bantuan dari pemimpin negeri itu – ini selalu – dimana sadja – bilamana sadja.

 

Kami tidak mempunjai obat-obatan. “Pakailah obat asli peninggalan nenek-mojang kita,” aku mengandjurkan.  ,,Untuk penjakit malaria pakailah daun ketepeng. Untuk demam panas buatlah teh dari alang-alang.” Rakjat  Indonesia sampai sekarang masih menggunakan penemuan-penemuan ini.

 

Kekurangan makanan merupakan kesulitan jang paling rumit untuk diatasi. Tentara Djepang merampas setiap  butir  beras.  Kalau  bukan  orang  penting  djangan  diharap  akan  memperolehnja  sekalipun  satu  kilo.  Di  Bali

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 104 dari 109

 

orang mati karena kelaparan. Aku berhasil mengumpulkan sedjumlah besar bidji pepaja dan membagikannja  kepada   setiap  orang   masing-masing  dua   butir.   Buah-buahan   jang   enak   ini   kemudian   tumbuh   disetiap  pendjuru pulau.

 

Untuk   memerangi   kelaparan,   maka   tentara   Djepang   membuat   djaringan   radio   jang   tetap   dengan  menempatkan pengeras-suara disetiap desa, sehingga setiap orang jang sebelum itu hanja  mendengar nama  Sukarno sekarang dapat mendengar suara Sukarno. ,,Saudara-saudara kaum wanita,” terdengar suara Sukarno  mendengung  melalui  tiap  pengeras-suara,  ,,Dalam  waktu  saudara  jang  terluang,  kerdjakanlah  seperti  jang  dikerdjakan  oleh  Ibu  Inggit  dan  saja  sendiri.  Tanamlah  djagung.  Dihalaman  muka  saudara  sendiri  saudara  dapat   menanamnja   tjukup   untuk   menambah   kebutuhan   keluarga   saudara.”   Nah,   karena   Sukarno   jang  mengatakan  ini  kepada  mereka,  mereka  menanamnja.  Dan  disetiap  halaman  bertunaslah  buah  djagung.  Usaha ini ada ketolongannja.

 

Mau  tidak  mau  aku  harus  membelokkan  kebentjian  rakjat  terhadap  orang  Djepang,  karena  kekurangan  makanan   ini.   Karena   itu   aku   mengadakan   pidato-pidato   seperti   ini.   ,,Agen-agen   musuh   membisikkan  ditelinga  saudara,  bahwa  Dai  Nippon  jang  mendjadi  sebab  kesulitan  kita.  Itu  tidak  benar.  Berbulan-bulan  jang  lalu  dunia  mengetahui,  bahwa  India  diamuk  oleh  kelaparan.  Negara-negara  Sekutupun  menderita  kemelaratan   dan   setiap   hari   rakjat   mereka   berbaris   untuk   memperoleh   sepotong   roti.   Djika   mereka  mengatakan  ‘Tidak’  itu  adalah  bohong  besar.  Dan  kalau  saudara-saudara  pertjaja  kepada  berita  bohong  ini,  maka saudara sama sadja seperti katak dibawah tempurung.

 

Bertahun-tahun  jang  lalu  Winston  Churchil  sudah  mengeluh  tentang  kekurangan  bahan  makanan  di  Inggris.  Djadi, saudara-saudara, peperangan mengakibatkan kekurangan dimana-mana.

 

,,Dulu Belanda mengimpor beras dari Birma dan Muang Thai. Akan tetapi  kapal-kapal pengangkut itu sudah  ditenggelamkan  kedasar  laut.  Kekurangan  makanan  adalah  kedjadian  jang  biasa  dalam  peperangan.  Akan  tetapi siapakah jang bersalah, sehingga kita harus mengimpor beras selama ini ? Belanda. Bukan Dai Nippon  Teikoku. Negeri Belanda dengan paksa merobah sawah-sawah kita mendjadi kebun tebu, tembakau atau hasil  lain jang bisa diekspor untuk menggendutkan dirinja sendiri. Maka dari itu, sampai dihari kita berdiri sendiri  bebas dari penghisapan imperialisme kita tergantung kepada impor beras.”

 

Aku ditugaskan untuk ,,menjerang Sekutu, memudji negara-negara As – jaitu sekutu Djerman dan Djepang –  menimbulkan  kebentjian  terhadap  musuh-musuh  kita  Inggris,  Amerika  dan  Belanda,  dan  bantulah  Dai  Nippon.”  Akan  tetapi,  sekalipun  pidato-pidatoku  diteliti  terlebih  dulu  dengan  katja-pembesar  oleh  Bagian  Propaganda,  kalau  dipeladjari  sungguh-sungguh  ternjatalah  bahwa  75%  dari  isi  pidato  itu  semata-mata  menanamkan kesadaran nasional.

 

Misalnja sadja, sambil menundjuk kepada seorang pradjurit Djepang jang sedang mengawal dengan senapan  dan sangkur, aku berkata, ,,Lihat, dia mendjalankan tugasnja oleh karena dia tjinta kepada tanah-airnja. Dia  berperang  untuk  bangsanja.  Dia  bersedia  mati  demi  kehormatan  tanah-airnja.  Begitupun…….kita  ……

 

harus  !  Kemudian  aku  menanamkan  kepada  rakjat  tentang  kebesaran  negeri  kami  sebelum  mengalami  pendjadjahan.  ,,Keradjaan  Madjapahit  memperoleh  kemenangan  jang  gilang-gemilang  setelah  digembleng  dengan  penderitaan  dalam  peperangan-peperangan  melawan  Kublai  Khan.  Sultan  Agung  Hanjokrokusumo  membikin  negara  Mataram  mendjadi  negara  jang  kuat  setelah  mengalami  tjobaan-tjobaan  didalam  perang  Senapati.  Dan  orang  Islam  didjaman.  keemasannja  barulah  mendjadi  kuat  setelah  mengalami  Perang  Salib.  Tuhan  Jang  MahaKuasa  berfirman  dalam  Quran:  ‘Ada  masa-masa  dimana  kesukaranmu  sangat  berguna  dan  perlu’.”

 

Aku   pandai   memilih   kata-kata   sehingga   orang-asing,   sekalipun   bisa   berbahasa   Indonesia,   tidak   dapat  menangkap arti kiasan jang chas menurut daerah. Aku memetik tjerita-tjerita dari Mahabharata, oleh karena  80% dari bangsa Indonesia sudah biasa dengan tjerita itu. Mereka tahu, bahwa Ardjuna adalah pahlawan dari  Pandawa-Lima,   dimana   keradjaan   mereka   telah   direbut   setjara   litjik   dalam   suatu   peperangan   besar.  Pandawa-Lima ini melambangkan kebaikan. Jang menaklukkan mereka adalah lambang kedjahatan.

 

Setiap  nama  mentjerminkan  watak  manusia  didalam  pikiran  kami.  Ardjuna  perlambang  dari  pengendalian  diri-sendiri.  Saudaranja,  Werkudara,  melambangkan  seseorang  Jang  kuat  berpegang  kepada  kebenaran.  Sebutlah Gatutkatja, serta-merta orang teringat kepada Sukarno. Mendengar Buta Tjakil, orang tahu bahwa  itu  raksasa  jang  djahat.  Dalam  pewajangan  maka  tokoh-takoh  jang  baik  selalu  duduk  dikanan,  jang  djahat  disebelah kiri. Muka-muka jang berwarna keemasan putih atau hitam menundjukkan orang jang baik-baik dan  jang merah bandit2nja. Dengan mudah sekali aku membawakan djalan pikiranku dalam perumpamaan ini.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 105 dari 109

 

Tjara  jang  lain  ialah  dengan  perlambang  hewan.  Dari  tulisan-tulisanku  jang  dibuat  sebelum  perang  rakiat  mengetahui,  bahwa  aku  menganggap  negeri  Djepang  sebagai  imperialis  modern  di  Asia.  Djadi,  dalam   masa  inilah aku mentjetak satu perumpamaan jang terkenal: ,,Dibawah Matahari-Terbit, manakala Liong Barongsai  dari  Tiongkok  bekerdja-sama  dengan  Gadjah-Putih  dari  Muang  Thai,  dengan  Karibu  dari  Filipina,  dengan  Burung  Merak  dari  Birma,  dengan  Lembu  Mandi  dari  India,  dengan  Ular  Hydra  dari  Vietnam,  dan  sekarang,  dengan Banteng dari Indonesia, maka Imperialisme akan hantjur-lebur dari permukaan benua kita !”

 

Menurut tjara berpikir orang Indonesia ini tjukup djelas. Maksudnja ialah bahwa daerah-daerah jang diduduki  bersatu dalam tekad untuk melenjapkan agressi. Aku tidak mengatakan kita bekerdjasama dengan Matahari-  Terbit. Aku mengatakan, kita bekerdja-sama DIBAWAH Matahari-Terbit.

 

Imamura  senang  sekali  dengan  kepandaianku  berpidato,  jang  dianggapnja  semata-mata  sebagai  alat  untuk  dapat  mempertahankan  daerah  takluknja.  Ketika  aku  minta  izin  untuk  ,,menulis  dan  berkeliling  guna  meringankan  kesulitan-kesulitan  didaerah  jang  tidak  bisa  ditjapai”,  dia  menjediakan  surat-suratkabar  dan  pesawat-terbang   untuk   itu.   Dia   mengizinkanku   untuk   mengadakan   rapat-rapat   raksasa   Aku   berpidato  dihadapan  50.000  orang  dalam  suatu  rapat,  aku  berpidato  dihadapan  100.000  orang  dalam  rapat-jang  lain.  Tidak  hanja  nama  Sukarno,  melainkan  djuga  wadjah  Sukarno  telah  mendjalar  keseluruh  pelosok  kepulauan  Indonesia.  Untuk  ini  aku  harus  berterima  kasih  kepada  Djepang.  Sekali  lagi  aku  menggelorakan  hati  rakjat.  Aku   membangkitkan   semangat   rakjat.   Aku   mengojak-ojak   kesadaran   rakjat.   Dan   Dai   Nippon   semakin  memerlukan bantuanku.

 

Sungguhpun demikian, djanganlah orang mengira bahwa karena kedudukan itu keadaanku empuk dan mewah  selama  peperangan.  Tidak.  Kalau  rakjat  lapar,  Sukarnopun  lapar.  Kalau  tidak  ada  makanan,  Sukarno  djuga  tidak mempunjai makanan. Aku sendiri terpaksa mentjari beras untuk memberi makan keluargaku. Pemimpin  dari  suatu  bangsa  pergi  kekampung-kampung  untuk  mengumpulkan  lima  kilo  beras,  tak  ubahnja  dengan  rakjat desa jang paling miskin.

 

Dan  pada  suatu  kali  aku  tidak  lekas  memadamkan  lampu  pada  waktu  penggelapan.  Setjelah  ketjil  tjahaja  selama  satu  detik  tampak  bersinar  dari  luar  jang  gelap.  Segera  setelah  aku  mematikannja,  terdengarlah  suara  orang  menggedor-gedor  pintu  dengan  keras.  Dengan  tjepat  Inggit  mendjawabnja  dan  ia  berhadapan  dengan sekelompok Polisi Militer.

 

,,Ada  apa  ?”  tanja  Inggit  gemetar.  Kaptennja  menggeram,  ,,Siapa  jang  punja  rumah  ini  ?”  ,,Saja,”  djawab  Inggit. ,,Tidak,” teriaknja, ,,Kami maksud tuan rumah. Siapa suami njonja ?”

 

Aku  sedang  berada  djauh  didalam,  akan  tetapi  aku  keluar  djuga  Kapten  itu  membentak-bentak  kepadaku  karena tjahaja lampu jang sedetik itu, kemudian tangannja melajang plang …… plang ………..plang…….

 

plang,  kemplangannja  dengan  tjepat  melekat  dimukaku.  Melihat  pemandangan  itu  Inggit  berlutut  dan

 

mendjerit,   ,,Aduh Aduh djangan tampar

dia.   Saja

jang harus bertanggung-djawab.   Itu bukan
salahnja. Oooo, ma’afkanlah dia. Saja jang lalai

!”

 

Orang-orang  itu  tidak  peduli.  Mereka  lebih  mau  menghukumku.  Mukaku  petjah-petjah.  Dari  bibir  dan  hidungku  banjak  mengalir  darah.  Akan  tetapi  tidaklah  aku  mengutjapkan  sepatah  kata.  Aku  tidak  bertahan  untuk   diriku  sendiri.  Aku  hanja  menahankannja   dengan   tenang  sambil  berkata   kepada   diriku  sendiri,  ,,Sukarno,   kesakitan   jang   kaurasakan   sekarang   hanjalah   merupakan   kerikil   didjalan   raja   menudju  kemerdekaan.   Langkahilah   dia.   Kalau   engkau   djatuh   karenanja,   berdirilah   engkau   kembali   dan   terus  berdjalan.”

 

Aku melaporkan kedjadian ini kepada Kolonel Nakayama, Kepala Bagian Pemerintahan, dan tentu sadja dia  minta  maaf  dan  menjatakan,  ,,Kapten  itu  tidak  mengetahui  siapa  tuan”  dan  selandjutnja  katanja,  ,,segera  akan diambil tindakan terhadap orang itu”;, akan tetapi orang-orang itu tetap mengawasiku setiap saat.

 

Pada    suatu    kesempatan    Imamura    berpidato    dihadapan    rakjat.    Sambutan    rakjat    lembek.    Aku  menterdjemahkannja  dengan  semangat  jang  berkobar-kobar  dan  dengan  memberikan  beberapa  putar-balik  kata-kata  gaja  Sukarno.  Rakjatku  djadi  gila  karenanja.  Pada  setiap  utjapan  mereka  bersorak  dan  berteriak  dan  bertepuk.  Hal  ini  membangkitkan  ketjurigaan  Kenpeitai.  Aku  diiringkan  kemarkasnja,  dimana  aku  dibentak-disenggak   dan   diantjam.   Aku   merasa   jakin   dalam   diriku,   bahwa   aku   akan   digantung.   Tapi  untunglah. Seorang djurubahasa jang mereka pakai dibawa masuk untuk menghadapiku. Akan tetapi orang ini  setia   kepadaku   dan   dia   mendjamin   utjapan-utjapanku.   Kemudian   setelah   mengalami   detik-detik   jang  menakutkan selama berdjam-djam aku dibebaskan kembali.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 106 dari 109

 

Kemanapun   aku   pergi,   aku   diiringi   oleh   perwira-perwira   Djepang   atau   menelitiku   setjara   diam-diam.  Seringkali  Kenpeitai  datang  diwaktu  jang  tidak  tertentu.  Aku  harus  mendjaga  diriku  setiap  saat.  Orang  Djepang tidaklah bodoh. Mereka tidak pernah mempertjajaiku sepenuhnja. Kaki-tangan kami dalam gerakan-  bawah-tanah   mengabarkan,   bahwa   ada   rentjana   Djepang   untuk   membunuh    semua   pemimpin   bangsa  Indonesia. Pun orang mengatakan, bahwa Djepang masih memerlukan tenagaku guna mengambil hati rakjat  untuk   kepentingan   mereka.  Akan   tetapi   disaat   tugas   ini   selesai,  gilirankupun   akan   datang   pula.   Aku  senantiasa dalam bahaja.

 

Berbahaja   atau   tidak,   namun   aku   tetap   mengadakan   hubungan   rahasia   dengan   gerakan-bawah-tanah.  Kadang-kadang  djauh  tengah  malam,  pada  waktu  semua  lampu  sudah  padam  dan  semua  orang  sudah  menutup  pintunja,  aku  mengadakan  pembitjaraan  diklinik  Dr.  Suharto.  Adakalanja  aku  mengadakan  kontak  dengan seorang penghubung diluar tempat terbuka setjara beramah-tamah, kelihatan tersenjum seolah-olah  kami  berbitjara  dengan  senang.  Kemudian  dihari  berikutnja  setjara  berbisik-bisik  tersebarlah  instruksi  kepada  anggota-anggota  bawah-tanah,  ,,Ini  boleh  kita  kerdjakan  …………  ini  tidak.”  Perintah-perintah  ini   datangnja  dariku.  Aku  sendirilah  jang  memiliki  fakta-fakta  tertentu.  Aku  merupakan  saluran  informasi  kekedua djurusan. Akan tetapi Djepang mempunjai tjara-tjara untuk melemahkan semangat seseorang.

 

Orang   jang   tertangkap   karena   memakai   bahasa   Belanda   dipukuli.   Perempuan-perempuan   ditarik   dari  rumahnja dan diangkut dengan kapal, katanja ke-“tempat-pendidikan”, tapi kemudian mereka didjerumuskan  kedalam rumah perzinaan. Laki-laki dan perempuan jang tidak membungkukkan badan pada waktu melewati  seorang  pendjaga  didjalanan  mendapat  tamparan.  Dari  tjara  hukuman  jang  demikian  karena  kesalahan  ketjil-ketjil dapatlah  orang membajangkan,  bagaimana hukuman  jang harus dihadapi oleh orang-orang jang  kedapatan bergerak dibawah-tanah. Dan kenjataan ini memaksa orang untuk bertindak hati-hati sekali.

 

Tjutjunguk  ada  dimana-mana.  Dengan  menjamar  sebagai  tukang  sate  mereka  berdjalan  sepandjang  waktu,  sambil  mendengar-dengar  kan  suara  titit…..titit  dari  radio,  jang  berarti  bahwa  ada  seseorang  jang  sedang  menerima ‘atau mengirim berita. Kemenakan Suharto ditangkap karena ketahuan mendengarkan radio gelap.  la   didjatuhi   hukuman   mati.   Dr.   Suharto,   seorang   kawan   seperdjoanganku   jang   akrab   dan   kawan  sesungguhnja,  tidak  minta  pertolonganku  supaja  berusaha  melepaskannja,  oleh  karena  dia  menganggap  tuduhan  itu  terlalu  berat  dan  djika  aku  turut  membelanja  dapat  mendjerumuskan  ku  kedalam  bahaja  jang  besar.

 

Akan tetapi aku mempunjai mata dan telinga dalam Kenpeitai. Mereka selalu mengetahui sebelumnja, kalau  ada  kekeruhan  tugas  merekalah  untuk  menjalurkan  berita  itu  kepadaku.  Berita  disampaikan  setjara   lisan.  Tidak  ada  jang  berani  menjatakannja  dengan  tertulis.  Berita  itu  diteruskannja  kepada  seorang  agen  jang  bekerdja di Sendenbu, jang kemudian menghubungi pula seorang kawan di PUTERA.

 

Achirnja sampailah kabar iepadaku, bahwa telah terdjadi penggerebekan dan Dr. Darmasetyawan ini ditahan  dan  disiksa.  Aku  mendengar,  bahwa  tanggal  ia  akan  mendjalani  hukuman  mati  telah  ditetapkan.  Dan  pada  suatu   hari   Suharto   mendapati   kemenakannja   sudah   kembali   lagi   dan   sedang   duduk   diberanda   depan  rumahnja. Semuanja terdjadi dengan sangat tjepat, tidak dengan ribut-ribut.

 

Orang Indonesia mempunjai keluarga jang besar dan ratusan sanaksaudara, sehingga berita dapat berdjalan  dari desa kedesa keseluruh pelosok pulau dalam waktu beberapa hari. Tjara ini lebih baik daripada telpon.  Dengan   tjara   berita   dari   mulut   kemulut   ini   datanglah   pesan   jang   lain:   ,,Pengatjara   Sujudi   ditahan.  Sampaikan  kepada Sukarno.” Sujudi telah  mengorbankan reputasinja untukku. Dirumahnjalah aku ditangkap  dalam  bulan  Desember  tahun  1929.  Aku  mengadakan  hubungan  dengan  para  pembesar  jang  mengurus   perkaranja,  memberikan  diriku  sendiri  sebagai  djaminan  untuk  menjelamatkan  Sujudi.  ,,Tidak  mungkin  dia  mengadakan  komplot  menentang  Dai  Nippon,”  aku  mempertahankan.  ,,Tuduhan  ini  tentu  keliru.  Sujudi  adalah nasionalis jang setia dan takkan mau melawan Dai Nippon jang kami hormati, karena Nipponlah jang  membantu kami untuk kemerdekaan.” Setelah itu ia bebas.

 

Sampai  pula  laporan  kepadaku  bahwa  Amir  Sjarifuddin,  salahseorang  pemimpin  kami  dari  gerakan-hawah-  tanah,   selama   berminggu-minggu   telah   digantung   oleh   Kenpetai   dengan   kakinja   keatas.   Dia   disuruh  meminum air-kentjingnja sendiri. Dia takkan dapat tahan lebih lama lagi. Aku merundingkan  pembebasannja  dengan  menegaskan  kepada  para  pedjabat  jang  bersangkutan,  ,,Bebaskan  dia  atau  kalau  tidak,  djangan  diharap   lagi   kerdja-sama   dari   saja.”   Untuk   dapat   membuat   pernjataan   seperti   itu,   sungguh-sungguh  diperlukan  hati  jang  kuat.  Akan  tetapi  untuk  dapat  memandangi  keadaan  Amir  Sjarifuddin  ketika  Djepang  mengeluarkannja, memerlukan kekuatan hati jang lebih besar lagi. Badannja kurus seperti lidi. Orang tidak  dapat  pertjaja,  bahwa  seseorang  masih  sanggup  menahankan  penderitaan  seperti  itu  dan  masih  mungkin  keluar dIm keadaan bernjawa.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 107 dari 109

 

Aku  telah  banjak  menjelesaikan  persoalan-persoalan  demikian  ini.  Sampai  sekarang  ia  terkubur  djauh  didalam  hatiku.  Tidaklah  kusorak-sorakkan  djasa  jang  telah  kuberikan  kepada  orang  lain  dari  atas  atap  rumah,  betapapun  djuga  banjaknja.  Selama  hidupku  aku  telah  mendjalankan  amal  djariah  kepada  semua  manusia, apabila aku sanggup nielakukannja. Aku tahu. Dan Tuhan pun tahu. Itulah jang penting bagiku.

 

Bab 21

 

Puteraku Jang Pertama

 

SEBENARNJA   keadaanku   tidak   dapat   dikatakan   sehat   ditahun   1943,   baik   djasmani   maupun   rohani.  Ketegangan-ketegangan   jang   timbul   telah   mengorek-ngorek   djiwa   dan   ragaku   dengan   hebat.   Sebagai  penderita  malaria  jang  melarut  aku  dimasukkan  kerumah-sakit  selama  berminggu-minggu  terus-  menerus.  Pada  suatu  kali,  oleh  karena  tidak  ada  tempat-tidur  jang  kosong,  aku  dimasukkan  ke  Kamar  Bersalin.  Perempuan  tjantik-tjantik  dibawa  masuk  disebelahku,  akan  tetapi  keadaanku  terlalu  pajah  untuk  dapat  memperhatikan mereka.

 

Tambahan  lagi  aku  menderita  penjakit  gindjal.  Kadang-kadang  aku  meringkuk  dengan  kaki  rapat  kebadan,  oleh  karena  serangan-serangan  jang  tidak  tertahankan  sakitnja.  Adakalanja  keluar  keringat  dingin,  bahkan  kadang-kadang aku tidak dapat berdiri tenang diatas podium. Bukan sekali dua kali terdjadi, bahwa setelah  selesai berpidato aku harus merangkak dengan kaki dan tangan masuk kendaraan.

 

Kehidupan pribadipun tidaklah seperti jang diharapkan. Aku menghadapi persoalan-persoalan jang sungguh-  sungguh berat. Kehidupanku diselubungi oleh gontjangan-gontjangan urat sjaraf. Hubungan Inggit denganku  tidak  baik.  Disuatu  malam,  karena  ingin  mendapat  kata-kata  jang  menghibur  hati  dan  ketenangan  pikiran,  aku menemani seorang kawan kesebuah  Rumah Geisha. Sekembali dirumah, Inggit mengamuk seperti orang  gila.  Dia  berteriak-teriak  kepadaku.  Barang-barang  beterbangan  dan  sebuah  tjangkir  mengenai  pinggir  kepalaku.

 

Rupanja  persoalan  Fatmawati  masih  mengapung-apung  diantara  kami,  sekalipun  tidak  ada  kontak  antara  Fatmawati denganku. Hubungan pos terputus dan memang ada aku mengirim surat sekali untuk mengabarkan  bahwa  kami  sudah  selamat  sampai  di  Djakarta.  Hanja  itu.  Surat  ini  kupertjajakan  kepada  seorang  suruhan  jang dipertjaja jang menitipkannja pula kepada tukang-mas dalam perdjalanan menudju Sumatra.

 

Pada  waktu  itu  kami  sudah  pindah,  karena  aku  tidak  senang  tinggal  dirumah  bertingkat.  Dirumah  baru  ini  anak  kami  dengan  suaminja  Asmara  Hadi  tinggal  bersama-sama  dengan  kami.  Pada  achirnja  merekapun  mengaku, bahwa perhubungan antara Inggit denganku tidak mungkin diteruskan lebih lama lagi. ,,Bu,” Ratna  Djuami  menangis  dihadapan  Inggit  pada  suatu  malam.  ,,Bapak  kelihatan  sekarang  sangat  pentjemas  dan  penggugup. Pikirannja nampaknja katjau. Dan kesehatannja selalu terganggu.”

 

,,Kami  kira  ini  disebabkan  kehidupan  pribadinja,”  sambung  Asmara  Hadi  terus-terang.  ,,Kalau  sekiranja  dia  tidak dibinasakan dalam bidang  kehidupan  lain, tentu  akan lain  halnja.  Akan tetapi perasaan tidak bahagia  ini jang ditumpukkan keatas bebannja jang sudah tjukup berat itu sangat melemahkan kekuatannja.”

 

Aku meminta pengertian Inggit. ,Aku sendiri, akan mentjarikanmu rumah. Dan aku akan selalu  mengusahakan  segala  sesuatu  jang  kauperlukan.  Kaupun  tahu,  diantara  kita  semakin  sering  terdjadi  pertengkaran  dan  ini  tentu tidak baik untukmu.”

 

,,Ini  djalan  satu-satunja,  Bu,”  Asmara  Hadi  mengeluh.  ,,Negeri  kita  memerlukan  bapak.  Tidak  hanja  ibu,  ataupun  saja  maupun  Ratna  Djuami  jang  memerlukannja.  Dia  kepunjaan  kita  semua.  Rakjat  memerlukan  bapak  sebagai  pemimpinnja,  tidak  jang  lain.  Dan  apa  jang  akan  terdjadi  terhadap  Indonesia,  kalau  dia  hantjur ?”

 

Setelah  pertjeraian  telah  disepakati  bahwa  Inggit  kembali  kekota  kelahirannja.  Dipagi  itu  ia  harus  pergi  kedokter-gigi  dulu.  Hatiku  senantiasa  dekat  pada  isteriku  dan  aku  tidak  akan  membiarkannja  pergi  seorang  diri. Karena itu Inggit  kutemani.  Hari sudah tinggi ketika kami kembali dalam keadaan letih, merasa badan  kami  tidak  enak,  dan  sesampai  dirumah  kami  mendapati  serombongan  wanita  jang  akan  bertamu  kepada  Inggit.  Sedjam  lamanja  mereka  berkundjung,  sekalipun  tidak  banjak  jang  dipertjakapkan.  Kuingat  diwaktu  itu aku merasakan kegelisahan jang amat sangat. Saat jang melelahkan sekali.

 

Kemudian aku mengiringkan Inggit ke Bandung, membongkar barang-barangnja, mejakinkan diri kalau-kalau

 

ada sesuatu jang kurang, lalu aku mengutjapkan selamat tinggal kepadanja …………….

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 108 dari 109

 

Bulan Djuni 1943 Fatma dan aku kawin setjara nikah wakil. Untuk dapat mengangkutnja beserta orangtuanja  ke  Djawa  urusannja  terlalu  berbelit-belit  dan  pandjang,  pun  aku  tidak  bisa  segera  mendjemputnja  ke  Sumatra,  sedang  aku  tak  mungkin  rasanja  menunggu  leliih  lama  lagi.  Mendadak  timbul  keinginanku  jang  keras  untuk  kawin.  Menurut  hukum  Islam  perkawinan  dapat  dilangsungkan,  asal  ada  pengantin  perempuan  dan  sesuatu  jang  mewakili  mempelai  laki-laki.  Aku  mempunjai  lebih  daripada  sesuatu  itu.  Aku  mempunjai  seseorang.  Kukirimlah  telegram  kepada  seorang  kawan  jang  akrab  dan  memintanja  untuk  mewakiliku.  la  memperlihatkan  telegram  itu  kepada  orangtua  Fatma  dan  usul  ini  mendapat  persetudjuan.  Pengantin  dan  wakilku  pergi  menghadap’kadi  dan  sekalipun  dia  masih  di  Bengkulu  dan  aku  di  Djakarta,  dengan  demikian  kami sudah mengikat tali perkawinan.

 

Ditahun  berikutnja  Fatmawati  melahirkan  seorang  putera.  Aku  tidak  sanggup  menggambarkan  kegembiraan  jang  diberikannja  kepadaku.  Umurku  sudah  43  tahun  dan  achirnja  Tuhan  Jang  Maha  Pengasih  mengaruniai  kami seorang anak.

 

Disaat  mendengar  bahwa  Fatma  dalam  keadaan  hamil,  maka  ibu,  bapak  dan  kakakku  perempuan  datang  dengan segera dari Blitar. Mereka sangat gembira. Orangtua kami dari keduabelah pihak tinggal dengan kami  dipaviljun  dekat  rumah  hingga  sang  baji  lahir.  Bapaklah  jang  mengawasi  segala  pekerdjaan.  Dialah  jang  duduk setiap djam memberi petundjuk kepada Fatma, bagaimana ia harus mempersiapkan dirinja. Selalu aku  melihat  mereka  duduk  bersama-sama  dan  selalu  aku  dapat  mendengar  bapak  mengatakan  sesuatu  seperti,  ,,Nah,  djangan  lupa  mentjatat  bedak  baji,  pisau  ketjil  untuk  pemotong  talipusatnja  dan  emban  untuk  menahan perutmu sendiri.”

 

Dimalam Fatma akan melahirkan kanii mendjamu tamu-tamu penting – orang Djepang dan orang Indonesia.  Fatmawati  sibuk  melajani  sebagai  njonja-rumah,  akan  tetapi  kemudian  dia  mulai  merasa  sakit.  Aku  sendiri  membimbingnja  kekamar  dan  memanggil  dokter.  Mulai  dari  saat  itu  aku  tetap  berada  disisinja,  pun  tidak  tidur  barang  satu  kedjap  sampai  ia  memberikan  kepadaku  seorang  putera  jang  tidak  ternilai  itu.  Kududuk  diatas  tempat-tidur  mendampinginja,  memegang  tangannja  sementara  ia  melahirkan.  Aku  bukanlah  orang  jang  bisa  tahan  melihat  darah,  akan  tetapi  disaat  didjadikannja  seorang  manusia  idamanku  ini  adalah  saat  jang  paling  nikmat  dari  seluruh  hidupku.  Djam  lima  waktu  subuh,  ketika  terdengar  azan  dari  mesdjid  memanggil ummat untuk menjembah Tuhannja, anakku jang pertama, Guntur Sukarnoputra, lahirlah.

 

 

Tuhan Jang Maha-Penjajang dan Maha-Bidjaksana telah memandjangkan umur bapakku untuk dapat melihat  darah-dagingku mengindjak dunia ini. Setelah itu ia djatuh sakit. Fatma merawatnya berbulan-bulan dengan  tekun dan setia hingga ia menghembuskan napas jang penghabisan.

 

Aku teringat akan ,,Si Tukang Kebun”, sebuah buku tjerita jang kubatja pada waktu masib berumur 13 tahun.  Waktu  itu  aku  tidak  mengerti  maknanja  jang  lebih  dalam.  la  mentjeritakan  tentang  bagaimana  daun-daun  kaju jang sudah tjoklat dan kering harus djatuh dan memberikan tempatnja kepada putjuk jang hidjau dan  baru.

 

Duapuluh tahun kemudian barulah aku mengerti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BUNG KARNO

 

PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

 

BIOGRAPHY AS TOLD TO CINDY ADAMS

 

Bab 1

 

Alasan Menulis Bab ini

 

TJARA  jang  paling  mudah  untuk  melukiskan  tentang  diri  Sukarno  ialah  dengan  menamakannja  seorang  jang  maha-pentjinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakjatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan  melebihi daripada segala-galanya ia tjinta kepada dirinya sendiri.

 

Sukarno   adalah   seorang   manusia   perasaan.   Seorang   pengagum.   Ia   menarik   napas   pandjang   apabila  menjaksikan  pemandangan  jang  indah.  Djiwanja  bergetar  memandangi  matahari  terbenam  di  Indonesia.  Ia  menangis dikala menjanjikan lagu spirituil orang negro.

 

Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banjak memiliki darah seorang seniman.”Akan  tetapi  aku  bersjukur  kepada  Jang  Maha  Pentjipta,  karena  aku  dilahirkan  dengan  perasaan  halus  dan  darah  seni. Kalau tidak demikian, bagaimana aku bisa mendjadi Pemimpin Besar Revolusi, sebagairnana 105 djuta  rakjat menjebutku ? Kalau tidak demikian, bagairnana aku bisa memimpin bangsaku untuk merebut kembali  kemerdekaan  dan  hak-azasinja,  setelah  tiga  setengah  abad  dibawan  pendjadjahan  Belanda?  Kalau  tidak  demikian  bagaimana  aku  bisa  mengobarkan  suatu  revolusi  ditahun  1945  dan   mentjiptakan  suatu  Negara  Indonesia  jang  bersatu,  jang  terdiri  dari  pulau  Djawa,  Bali,  Sumatra,  Kalimantan,  Sulawesi,  Kepulauan  Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda ?

 

Irama suatu-revolusi adalah mendjebol dan membangun. Pernbangunan menghendaki djiwa seorang arsitek.  Dan  didalam  djiwa  arsitek  terdapatlah  unsur-unsur  perasaan  dan  djiwa  seni.  Kepandaian  memimpin  suatu  revolusi  hanja  dapat  ditjapai  dengan  rnentjari  ilham  dalam  segala  sesuatu  jang  dilihat.  Dapatkah  orang  memperoleh  ilham  dalam  sesuatu,  bilamana  ia  bukan  seorang  manusia-perasaan  dan  bukan  manusia-seni  barang sedikit ?

 

Namun  tidak  setiap  arang  setudju  dengan  gambaran  Sukarno  tentang  diri  Sukarno.  Tidak  semua  orang  menjadari,  bahwa  djalan  untuk  mendekatiku  adalah  semata-mata  melalui  hati  jang  ichlas.  Tidak  semua  orang  menjadari,  bahwa  aku  ini  tak  ubahnja  seperti  anak  ketjil.  Berilah  aku  sebuah  pisang  dengan  sedikit  simpati jang keluar dari lubuk-hatimu, tentu aku akan mentjintaimu untuk selama-lamanja.

 

Akan  tetapi  berilah  aku  seribu  djuta  dollar  dan  disaat  itu  pula  engkau  tampar  mukaku  dihadapan  umum,  maka sekalipun ini njawa tantangannja aku akan berkata kepadamu, “Persetan !”

 

Manusia  Indonesia  hidup  dengan  getaran  perasaan.  Kamilah  satu-satunja  bangsa  didunia  jang  mempunjai  sedjenis  bantal jang  dipergunakan sekedar  untuk  dirangkul. Disetiap tempat-tidur orang Indonesia terdapat  sebuah  bantal  sebagai  kalang  hulu  dan  sebuah  lagi  bantal  ketjil  berbentuk  bulat-pandjang  jang  dinamai  guling. Guling ini bagi kami gunanja hanja untuk dirangkul sepandjang malam.

 

Aku  mendjadi  orang  jang  paling  menjenangkan  didunia  ini,  apabila  aku  merasakan  arus  persahabatan,  sirnpati terhadap persoalan-persoalanku, pengertian dan penghargaan datang menjambutku. Sekalipun ia tak  diutjapkan,  ia  dapat  kurasakan.  Dan  sekalipun  rasa-tidak-senang  itu  tidak  diutjapkan,  aku  djuga  dapat  merasakannja. Dalam  kedua hal  itu aku  bereaksi menurut instink. Dengan  satu perkataan jang lembut, aku  akan melebur. Aku bisa keras seperti badja, tapi akupun bisa sangat lunak.

 

Seorang  diplomat  tinggi  Inggris  masih  belum  menjadari,  bahwa  kuntji  menudju  Sukarno  akan  berputar  dengan  mudah,  kalau  ia  diminjaki  dengan  perasaan  kasih-sajang.  Dalam  sebuah  suratnja  belum  lama  berselang  jang  ditudjukan  ke  Downing  Street  10  ia  menulis,  “Presiden  Sukarno  tidak  dapat  dikendalikan,  tidak dapat diramalkan dan tidak dapat dikuasai. Dia seperti tikus jang terdesak.

 

“Suatu utjapan jang sangat bagus bagi seseorang jang telah mempersembahkan seluruh hidupnja kepangkuan  tanah-airnja, orang jang 13 tahun lamanja meringkuk dalam pendjara dan pembuangan, karena ia mengabdi  kepada  suatu  tjita-tjita.  Mungkin  aku  tidak  sependapat  dan  sependirian  dengan  dia  tetapi  seperti  seekor

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 1 dari 109

 

tikus  ?  Djantungku  berhenti  mendenjut  ketika  surat  itu  sampai  ditanganku.  Ia  mengachiri  suratnja  dengan  mengatakan, bahwa ia telah mengusahakan agar Sukarno mendapat perlakuan jang paling buruk dalam surat-  surat kabar.

 

“Aku  tidak  tidur  selama  enam  tahun.  Aku  tak  dapat  lagi  tidur  barang  sekedjap.  Kadang-kadang,  dilarut  tengah  malam,  aku  menelpon  seseorang  jang  dekat  denganku  seperti  misalnja  Subandrio,  Wakil  Perdana  Menteri  Satu  dan  kataku,  “Bandrio,  datanglah  ketempat  saja,  temani  saja,  tjeritakan  padaku  sesuatu  jang  gandjil,  tjeritakanlah  suatu  lelutjon,  bertjeritalah  tentang  apa  sadja  asal  djangan  mengenai  politik.  Dan  kalau saja tertidur, ma’afkanlah.” Aku membatja setiap malam, berpikir setiap malam dan aku sudah bangun  lagi djam lima pagi. Untuk pertamakali dalam hidupku aku mulai makan obat-tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.

 

Aku  bukan  manusia  jang  tidak  mempunjai  kesalahan.  Setiap  machluk  membuat  kesalahan.  Dihari-hari  keramat  aku  minta  ma’af  kepada  rakjatku  dimuka  umum  atas  kesalahan  jang  kutahu  telah  kuperbuat,  dan  atas   kekeliruan-kekeliruan   jang   tidak   kusadari.  Barangkali   suatu   kesalahanku   ialah,   bahwa   aku   selalu  mengedjar   suatu   tjita-tjita   dan   bukan   persoalan-persoalan   jang   dingin.   Aku   tetap   mentjoba   untuk  menundukkan  keadaan  atau  mentjiptakan  lagi  keadaan-keadaan,  sehingga  ia  dapat  dipakai  sebagai  djalan  untuk mentjapai apa jang sedang dikedjar. Hasilnja, sekalipun aku berusaha begitu keras bagi rakjatku, aku  mendjadi korban dari serangan-serangan jang djahat.

 

Orang bertanja,  “Sukarno, apakah engkau tidak merasa tersinggung bila  orang mengeritikmu ?”  Sudah tentu  aku  merasa  tersinggung.  Aku  bentji  dimaki  orang.  Bukankah  aku  bersifat  manusia  seperti  djuga  setiap  manusia  lainnja  ?  Bahkan  kalau  engkau  melukai  seorang  Kepala  Negara,  ia  akan  lemah.  Tentu  aku  ingin  disenangi  orang.  Aku  mempunjai  ego.  Itu  kuakui.  Tapi  tak  seorangpun  tanpa  ego  dapat  menjatukan  10.000  pulau-pulau  mendjadi  satu  Kebangsaan.  Dan  aku  angkuh.  Siapa  pula  jang  tidak  angkuh  ?  Bukankah  setiap  orang jang membatja buku ini ingin mendapat pudjian ?

 

Aku  teringat  akan  suatu  hari,  ketika  aku  menghadapi  dua  buah  laporan  jang  bertentangan  tentang  diriku.  Kadang-kadang  seorang  Kepala  Pemerintahan  tidak  tahu,  mana  jang  harus  dipertjajainja.  Jang  pertama  berasal dari madjalah “Look”. “Look” menjatakan, bahwa rakjat Indonesia semua menentangku. Madjalah ini  memuat  sebuah  tulisan  mengenai  seorang  tukang  betja  jang  mengatakan  seakan-akan  segala  sesuatu  di  Indonesia  sangat  menjedihkan  keadaannja  dan  orang-orang  kampungpun  sekarang   sudah  muak  terhadap  Sukarno.

 

Kusudahi membatja artikel itu pada djam lima sore dan tepat pada waktu aku telah siap hendak berdjalan-  djalan   selama   setengah   djam,   seperti   biasanja   kulakukan   dalam   lingkungan   istana-inilah   satu-satunja  matjam  gerak  badan  bagiku  seorang  pedjabat  polisi  jang  sangat  gugup  dibawa  masuk.  Sambil  berdjalan  kutanjakan  kepadanja,  apa  jang  sedang  dipikirkannja.”Ja,  Pak,”  ia  memulai,  “Sebenarnja  kabar  baik.”  “Apa  maksudmu dengan sebenarnja kabar baik ?” tanjaku. “Ja,” katanja, “Rakjat sangat menghargai Bapak. Mereka  mentjintai Bapak. Dan terutama rakjat-djelata. Saja mengetahui, karena saja baru menjaksikan sendiri suatu  keadaan  jang  menundjukkan  penghargaan  terhadap  Bapak.  Kemudian  ia  berhenti.  “Teruslah,”  desakku,  “Katakan padaku.

 

Darimana engkau dan siapa jang kautemui dan apa jang mereka lakukan ?” “Begini, Pak,” ia mulai lagi. “Kita  mempunjai suatu daerah, dimana perempuan-perempuan latjur semua ditempatkan setjara berurutan. Kami  memeriksa  daerah  itu  dalam  waktu-waktu  tertentu,  karena  sudah  mendjadi  tugas  kami  untuk  mengadakan  pengawasan  tetap.  Kemarin  suatu  kelompok  memeriksa  keadaan  mereka  dan  Bapak  tahu  apa  jang  mereka  temui  –  Mereka  menjaksikan  potret  Bapak,  Pak.  Digantungkan  didinding.”  “Dimana  aku  digantungkan  ?”  tanjaku  kepadanja.  “Ditiap  kamar,  Pak.  Ditiap  kamar  terdapat,  sudah  barang  tentu,  sebuah  tempat-tidur.  Dekat  tiap  randjang  ada  medja  dan  tepat  diatas  medja  itu  disitulah  gambar  Bapak  digantungkan.  “Dengan  gugup  ia  mengintai  kepadaku  sambil  menunggu  perintah.  “Pak,  kami  merasa  bahagia  karena  rakjat  kita  memuliakan   Bapak,   tapi   dalam   hal   ini   kami   masih   ragu   apakah   wadjar   kalau   gambar   Presiden   kita  digantungkan  didinding  rumah  pelatjuran.  Apa  jang  harus  kami  kerdjakan  ?  Apakah  akan  kami  pindahkan  gambar Bapak dari dinding-dinding itu ?” “Tidak,” djawabku. “Biarkanlah aku disana. Biarkan mataku jang tua  dan  letih  itu  memandangnja!  “Tidak  seorangpun  dalam  peradaban  modern  ini  jang  menimbulkan  demikian  banjak  perasasn  pro  dan  kontra  seperti  Sukarno.  Aku  dikutuk  seperti  bandit  dan  dipudja  bagai  Dewa.Tidak  djarang  kakek-kakek  datang  berkundjung  kepadaku  sebelum  mereka  imengachiri  hajatnja.  Seorang  nelajan  jang sudah tua, jang tidak mengharapkan pudjian atau keuntungan, berdjalan kaki 23 hari lamanja sekedar  hanja  untuk  sudjud  dihadapanku  dan  mentjium  kakiku.  Ia  menjatakan,  bahwa  ia  telah  berdjandji  pada  dirinja  sendiri,  sebelum  mati  ia  akan  melihat  wadjah  Presidennja  dan  menundjukkan  ketjintaan  serta  kesetiaan  kepadanja.  Banjak  jang  pertjaja  bahwa  aku  seorang  Dewa,  mempunjai  kekuatan-kekuatan  sakti  jang menjembuhkan.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 2 dari 109

 

Seorang petani-kelapa jang anaknja sakit keras bermimpi, bahwa ia harus pergi kepada Bapak dan minta air  untuk  anaknja.  Hanja  air-leding  biasa  dan  jang  diambil  dari  dapur.  Ia  jakin,  bahwa  air  ini,  jang  kuambil  sendiri,  tentu  mengandung  zat-zat  jang  menjembuhkan.  Aku  tidak  bisa  bersoal-djawab  dengan  dia.  karena  orang  Djawa  adalah  orang  jang  pertjaja  kepada  ilmu  kebatinan,  dan  ia  jakin  bahwa  ia  akan  kehilangan  anaknja kalau tidak membawa obat ini dariku. Kuberikan air itu kepadanja. Dan seminggu kemudian anak itu  sembuh kembali. Aku senantiasa mengadakan perdjalanan kepelbagai pelosok tanah air dari Sabang, negeri  jang  paling  utara  dari  pulau  Sumatra,  sampai  ke  Merauke  di  Irian  Barat  dan  jang  paling  timur.  Beberapa  tahun  jang  lalu  aku  mengundjungi  sebuah  desa  ketjil  di  Djawa  Tengah.  Seorang  perempuan  dari  desa  itu  mendatangi  pelajanku  dan  membisikkan,  “Jangan  biarkan  orang  mengambil  piring  Presiden.  Berikanlah  kepada saja sisanja. Saja sedang mengandung dan saja ingin anak laki-laki. Saja mengidamkan seorang anak  seperti Bapak. Djadi tolonglah, biarlah saja memakan apa-apa jang telah didjamah sendiri oleh Presidenku.”

 

 

Dipulau  Bali  orang  pertjaja,  bahwa  Sukarno  adalah  pendjelmaan  kembali  dari  Dewa  Wishnu,  Dewa  Hudjan  dalam   agama   Hindu.   Karena,   bilamana   sadjapun   Bapak   datang   ketempat   istirahat   jang   ketjil,   jang  kurentjanakan   dan   kubangun   sendiri   diluar   Denpasar,   bahkan   sekalipun   ditengah   musim   kemarau,  kedatanganku bagi mereka berarti hudjan. Orang Bali jakin, bahwa aku membawa pangestu kepada mereka.  Dikala  terachir  aku  terbang  ke  Bali  disana  sedang  berlangsung  musim  kering.  Tepat  setelah  aku  sampai  disana,  langit  tertjurah.  Berbitjara  setjara  terus-terang,  aku  memandjatkan-  do’a  sjukur  kehadirat  Jang  Maha-Pengasih  manakala  turun  hudjan  selama  aku  berada  di  Tampaksiring.  Karena,  kalaulah  ini  tidak-  terdjadi,  sedikit  banjak  akan  mengurangi  pengaruhku.Namun,  dunia  hanja  membatja  tentang  satu-orang  tukang  betja.  Dunia  hanja  tahu,  bahwa  Sukarno  bukan  ahli  ekonomi.  Itu  memang  benar.  Aku  bukan  ahli  ekonomi.  Tapi  apakah  Kennedy  ahli  ekonorni  ?  Apakah  Johnson  ahli  ekonomi?  Apakah  itu  suatu  alasan  bagi  madjalah-madjalah Barat untuk menulis bahwa negeriku sedang menudju kepada keruntuhan ekonomi ? Atau  bahwa  kami  adalah  “bangsa  jang  bobrok”.  Atau  untuk  mendjuduli  sebuah  tjerita:  “Mari  kita  bergerak  menentang Sukarno”? Kalau para wartawan membentji Djepang atau Filipina, mereka dapat menjebut suatu  daerah  disana,  dimana  seluruh  keluarga  —  ibu,  bapak  dan  anak-anaknja— bunuh  diri,  karena  menderita  kelaparan.  Ini  semua  sudah  diketahui  orang.  Tapi  tidak!  Hanja  mengenai  “Orang  Djahat  dari  Asia”  mereka  membuat foto-foto dari penderitaan rakjat, karena kekurangan makanan oleh musim kering dan hama tikus,  sementara   dilatarbelakangnja   digambarkan   hotelku   jang   indah.   Lalu   kepala   karangannja:   “Indonesia  kepunjaan  Sukarno”.  Tapi  itu  BUKAN  Indonesia  kepunjaan  Sukarno.  Indonesia  kepunjaan  Sukarno  sekarang  adalah suatu bangsa jang 10051 bebas butahuruf dibawah umur 45 tahun. Pada waktu Negara kami dilahirkan  duapuluh tahun jang lalu hanja 6% dari kami jang pandai tulis-batja. Indonesia kepunjaan Sukarno sekarang  adalah suatu bangsa jang dua intji lebih tinggi daripada generasi terdahulu. Apakah masuk diakal, anak-anak  bisa tumbuh lebih subur dalam keadaan kelaparan ?

 

 

Akan  tetapi  wartawan-wartawan  terus  sadja  menulis,  bahwa  aku  ini  seorang  “Budak  Moskow”.  Marilah  kita  perbaiki ini sekali dan untuk selama-lamanja. Aku bukan, tidak pernah dan tidak mungkin mendjadi seorang  Komunis.  Aku  menjembah  ke  Moskow  ?  Setiap  orang  jang  pernah  mendekati  Sukarno  mengetahui,  bahwa  egonja  terlalu  besar  untuk  bisa  mendjadi  budak  seseorang— ketjuali  mendjadi  budak  dari  rakjatnja.  Namun  para  wartawan  tidak  menulis  tentang  apa-apa  jang  baik  dari  Sukarno.  Pokok-pokok  jang  dibitjarakan  hanja  tentang  jang  djelek  dari  Sukarno.Mereka  suka  memperlihatkan  Hotel  Indonesiaku  jang  penuh  gairah  dan  dibelakangnja  gambar-gambar  daerah  pinggiran  jang  miskin.  Alasan  dari  “orang  jang  menghamburkan  uang”  mendirikan gedung itu ialah, untuk memperoleh devisa jang tidak dapat kami tjari dengan djalan lain. Kami  menghasilkan dua djuta dollar Amerika setelah hotel itu berdjalan selama setahun. Aku sadar, bahwa kami  masih mempunjai daerah pinggiran jang miskin dekat itu. Akan tetapi negeri-negeri jang kajapun punja hotel  jang  gemerlapan,  empuk  dari  jang  harganja  djutaan  dollar,  sedang  disudutnja  terdapat  bangunanbangunan  jang  tertjela  penuh  dengan  kotoran,  busuk  dan  djelek.  Aku  melihat   orang-orang  kaja  dengan  segala  kemegahannja berdjalan dengan sedan-sedan jang mengkilap, akan tetapi aku djuga melihat mereka-mereka  jang malang mentjakar-tjakar dalam tong-sampah mentjari kulit kentang. Memang ada daerah  pinggiran jang  miskin  diseluruh  kota  didunia.  Bukan  hanja  di  Djakarta  kepunjaan  Sukamo.  Barat  selalu  menuduhku  terlalu  memperlihatkan  muka  manis  kepada  Negara-Negara  Sosialis.  “Ooohh,”  kata  mereka,  “Lihatlah  Sukarno  lagi-  lagi bermain-main sahabat dengan Blok Tnmur.”

 

 

Jah,  mengapa  tidak  ?  Negara-Negara  Sosialis  tak  pernah  mengizinkan  seorangpun  mengedjekku  dalam  pers  mereka. Negara-Negara Sosialis selalu memudjiku. Mereka tidak membikin aku malu keseluruh dunia ataupun  tidak memperlakukanku dimaka umum seperti seorang anak jang tertjela dengan menolak memberikan lebih  banjak  djadjan  sampai  aku  mendjadi  anak  jang  manis.  Negara-Negara  Sosialis  selalu  mentjoba  untuk  merebut hati Sukarno. Krushchov mengirimi aku jam dan pudding dua minggu sekali dan memetikkan appel,  gamdum  dan  hasil  tanaman  lain  dari  panennja  jang  terbaik.  Djadi,  salakkah  aku  kalau  berterima-kasih  kepadanja ? Siapakah jang takkan ramah terhadap seseorang jang bersikap ramah kepadanja? Aku mengedjar  politik  netral,  ja  !  Akan  tetapi  dalam  hati-ketjilnja  siapa  jang  menjalahkanku,  djika  aku  berkata,  “Terima-  kasih rakjat-rakjat Negara Blok Timur, karena engkau selalu memperlihatkan kepadaku tanda persahabatan.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 3 dari 109

 

Terima-kasih rakjat-rakjat Negara Blok Timur, karena engkau berusaha tidak menjakiti hatiku. Terima-kasih,  karena  engkau  telah  menjampaikan  kepada  rakjatmu  bakwa  Sukamo  setidak-tidaknja  mentjoba  sekuat  tenaganja berbuat untak negerinja. Terima-kasih atas pemberianmu.” Apa jang kuutjapkan itu adalah tanda  terima-kasih—   bukan   Komunisme   !   Aku   ditjela   dalam   berbagai   soal.   Mengapa   dia   –   terlalu   banjak  mengadakan perdjalanan, musuh-musuhku selalu bertanja. Dibulan Djuni 1960, pada waktu aku mengadakan  perlawatan  selama  dua  bulan  empat  hari  ke  India,  Hongaria,  Austria,  RPA,  Guinea,  Tunisia,  Marokko,  Portugal,  Cuba,  Puerto  Rico,  San  Francisco,  Hawaii  dan  Djepang,  kepadaku  ditudjukan  kata-kata  baru  jang  dikarang  buat  diriku.  Aku  malahan  tidak  tahu  apa  maksud  “Have  707  Will  Travel”  hingga  seorang  sahabat  bangsa Amerika menerangkannja.

 

Memang benar, bahwa aku adalah satu-satunja Presiden jang mengadakan demikian banjak perlawatan. Aku  sudah   kemana-mana   ketjuali   ke   London,   sekalipun   Ratu   Inggris   sudah   dua   kali   mengundangku   untuk   berkundjung.   Aku   mengharapkan,   disatu   saat   dapat   menerima   keramahannja   itu.   Ada   sebabnja   aku  mengadakan  perlawatan  itu.  Aku  ingin  agar  Indonesia  dikenal  orang.  Aku  ingin  memperlihatkan  kepada  dunia, bagaimana rupa orang Indonesia. Aku ingin menjampaikan kepada dunia, bahwa kami bukan “Bangsa  jang  pandir”  seperti  orang  Belanda  berulang-ulang  kali  mengatakan  kepada  kami.  Bahwa  kami  bukan  lagi  “Inlander  goblok  hanja  baik  untuk  diludahi”  seperti  Belanda  mengatakan  kepada  kami  berkali-kali.  Bahwa  kami  bukanlah  lagi  penduduk  kelas  kambing  jang  berdjulan  menjuruk-njuruk  dengan  memakai  sarung  dan  ikat-kepala,  merangkak-rangkak  seperti  jang  dikehendaki  oleh  madjikan-madjikan  kolonial  dimasa  jang  silam.  Setelah  Republik  Rakjat  Tiongkok,  India,  Uni  Soviet,  dan  Amerika  Serikat,  maka  kami  adalah  bangsa  jang  kelima  didunia  dalam  hal  djumlah  penduduk.  3000  dari  pulau-pulau  kami  dapat  didiami.  Tapi  tahukah  Saudara  berapa  banjak  rakjat  jang  tidak  mengetahui  tentang  Indonesia  ?  Atau  dimana  letaknja  ?  Atau  tentang warna kulitnja, apakah kami sawomatang, hitam, kuning atau putih ?

 

 

Jang mereka ketahui hanja nama Sukarno. Dan mereka mengenal wadjah Sukarno.Mereka tidak tahu, bahwa  negeri kami adalah  rangkaian  pulau jang  terbesar didunia.  Bahwa negeri kami terhampar sepandjang 5.000  kilometer atau menutupi seluruh negeri-negeri Eropa sedjak dari pantai Barat benuanja sampai keperbatasan  paling  udjung  disebelah  Timur.Mereka  tidak  tahu,  bahwa  kami  sesudah  Australia  adalah  negara  keenam  terbesar,  dengan  luas  tanah  sebesar  dua  djuta  mil  persegi.  Mereka  umumnja  tidak  menjadari,  bahwa  kami  terletak  antara  dua  benua,  benua  Asia  dan  Australia,  dan  dua  buah  Samudra  raksasa,  Lautan  Teduh  dan  Samudra  Indonesia.  Atau,  bahwa  kami  menghasilkan  kopi  jang  paling  baik  didunia;  dari  itu  timbulnja  utjapan: “A cup of Java”. Bahwa setelah Amerika Serikat dan Uni Sovjet maka Indonesialah penghasil minjak  jang  terbesar  di  Asia  Tenggara  dan  penghasil  timah  jang  kedua  terbesar  didunia,  negara  terkaja  dialam  semesta  dalam  hal  sumber  alam.  Atau,  bahwa  satu  dari  empat  buah  ban  mobil  ~Amerika  dibuat  dari  karet  Indonesia. Namun apa jang mereka mau tahu hanja nama Sukarno.

 

 

Departemen  Luar  Negeri  kami  menjatakan  kepadaku,  bahwa  satu  kali  kundjungan  Sukarno  sama  artinja  dengan  sepuluh  tahun  pekerdjaan  Duta.  Dan  itulah  alasan,  mengapa  aku  mengadakan  perlawatan  dan  mengapa   aku   selalu   memberikan   kenjataan-kenjataan   tentang   tanah-airku   dalam   setiap   pidato   jang  kuutjapkan  disetiap  pendjuru  dunia.  Aku  hendak  mengadjar  orang-orang-asing  dan  memberikan  pandangan  pertama selintas lalu tentang negeriku, jang terhampar menghidjau dan tertjinta ini laksana untaian zamrud  jang   melingkar   disepandjang   katulistiwa.Pada   suatu   hari   sekretarisku   menjerahkan   sebuah   surat   jang  beralamat  singkat  “Presiden  Sukarno,  Indonesia,  Asia  Tenggara”.  Penulis  surat  ini  berkata,  ia  mendengar  bahwa  aku  ini  mengekang  kemerdekaan  pers  dan  apakah  itu  benar  dan  kalau  memang  demikian  alangkah  kedjamnja  aku  ini  !  Orang  jang  menulis  surat  pitjisan  ini  menamakan  aku  seorang  jang  angkara.  Dia  mengedjek kepadaku, tapi ini tidak kupedulikan. Tahukah engkau apa jang membuat aku gusar ? Kenjataan  bahwa dia menganggap kantorpos tidak tahu dimana letak Indonesia. Dan oleh sebab itu dia menambahkan  kata-kata ,,Asia Tenggara” pada alamatnja ! Pendapat manusia berdjalan bagai gelombang. Dalam tahun ’56  ketika   aku   pertamakali   berkundjung   ke   Amerika   Serikat,   setiap   orang   menjukaiku.   Sekarang   arusnja   mendjadi terbalik, menentang Sukarno. Betapapun, aku telah didjadikan bulan-bu}anan.

 

 

Baru-baru  ini  diserahkan  kepadaku  sebuah  madjalah  remadja  Amerika.  Madjalah  itu  memperlihatkan  gadis  striptease   setengah   telandjang,   jang   hanja   memakai   tjelana-dalam   dan   berdiri   disamping   Sukarno  berpakaian seragam militer lengkap. Ini adalah kombinasi jang ditempelkan mendjadi satu supaja kelihatan   seolah-olah satu foto dari seorang gadis penari-telandjang membuka pakaiannja dihadapan Presiden Republik  Indonesia.  Kedua  foto  ini  ditempelkan  -satu  dengan  jang  lain.  Ini  adalah  perbuatan  kotor  jang  dilakukan  terhadap  seorang  Kepala  Negara.  Apakah  aku  harus  mentjintai  Amerika,  kalau  ia  melakukan  perbuatan  seperti  itu  terhadap  diriku?  Aku  memperbintjangkan  muslihat  sematjam  ini  dengan  Presiden  Kennedy  jang  sangat  kuhormati.  John  F.  Kennedy  dan  aku  saling  menjukai  pergaulan  kami  satu  sama  lain.  Dia  berkata,  ,,Presiden   Sukarno,  saja  sangat  mengagumi  Tuan.  Seperti  saja  sendiri,  Tuan  mempunjai  pikiran  jang  senantiasa menjelidiki dan bertanja-tanja. Tuan membatja segala-galanja. Tuan sangat banjak mengetahui.”  Lalu dia membitjarakan tjita-tjita politik jang kupelopori dan mengutip bagian-bagian dari pidato-pidatoku.  Kennedy   mempunjai   tjara   untuk   mendekati   seseorang  melalui   hati   manusia.   Kami   banjak   mempunjai

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 4 dari 109

 

persamaan.  Kennedy  adalah  orang  jang  sangat  ramah  dan  menundjukkan  persahabatan  terhadapku.  Dia   membawaku   ketingkat   atas,   kekamartidurnja   sendiri   dan   disanalah   kami   bertjakap-tjakap.Kukatakan  kepadanja, ,,Tuan Kennedy, apakah Tuan tidak menjadari, bahwa sementara Tuan sendiri memadu hubungan  persahabatan,  seringkali  Tuan  dapat  merusakkan  hubungan  dengan  negara-negara  lain  dengan  membiarkan  edjekan, serangan makian dan mengizinkan kritik-kritik setjara tetap terhadap pemimpin mereka dalam pers  Tuan ? Kadang-kadang kami lebih tjondong untuk bertindak atau memberikan reaksi lebih keras, oleh karena  kami  dilukai  atau  dibikin  marah.  Sesungguhnja  apakah  pergaulan  internasional  itu  bukan  pergaulan  antar  manusia  dalam  hubungan  jang  lebih  besar  ?  Penggerogotan  terus-menerus  sematjam  ini  merobek-robek  keseimbangan  dan  mempertegang  lebih  hebat  lagi  hubungan  jang  sulit  antara  negara  lain  dengan  negeri  Tuan.”  ,,Saja  setudju  dengan  Tuan,  Presiden  Sukarno.  Sajapun  telah  mendapat  kesukaran  dengan  para  wartawan  kami,”  dia  mengeluh.  ,,Apakah  kami  beruntung  atau  tidak,  namun  kemerdekaan  pers  merupakan  satu  bagian  dari  pusaka  peninggalan  Amerika.”  ,,Ketika  Alben  Barkley  mendjadi  Wakil  Presiden  Amerika  Serikat,  ia  mengundjungi  tanah-air  saja,”  kataku.  ,,Dan  saja  sendiri  berdiri  dekat  beliau  diwaktu  beliau  ditjium oleh serombongan anak-anak gadis tjantik remadja.”,,Saja jakin, tentu Wakil Presiden Barkley sangat  bersenang  hati,”  kata  Kennedy  dengan  ketawa  jang  disembunjikan.  ,,Sekalipun  demikian  tak  satupun  surat  kabar Indonesia mau menjiarkannja.

 

 

Dan  disamping  itu  mereka  tak  berani  mengambil  risiko  untuk  menimbulkan  kesusahan  terhadap  seorang  negarawan keseluruh dunia. Barkley adalah seorang jang gembira dan barangkali tidak peduli bila gambarnja  itu  dimuat.  Akan  tetapi  bukanlah  itu  soalnja.  Jang  pokok  adalah  bahwa  kami  berkejakinan  perlunja  para  pemimpin  dunia  dilindungi  dinegeri  kami.  “Kennedy  sangat  seperasaan  denganku  mengenai  soal  ini  dan  berkata  kepadaku  dengan  penuh  kepertjajaan,  ,,Tuan  memang  benar  sekali,  tapi  apa  jang  dapat  saja  lakukan  ?  Sedangkan  saja  dikutuk  dinegeri  saja  sendiri.”Karena  itu  kataku,  ,,Ja,  itulah  sistim  Tuan.  Kalau  Tuan  dikutuk  dirurnah  sendiri,  saja  tidak  dapat  berbuat  apa-apa.  Akan  tetapi  saja  kira  saja  tidak  perlu  menderita   penghinaan   seperti   itu   dinegeri   Tuan,   dimana   Kepala   Negaranja   sendiri   harus   menderita  sedemikian.  Madjalah  Tuan  ,,Time”  dan  ,,Life”  terutama  sangat  kurang-adjar  terhadap  saja.  Tjoba   pikir,  ,,Time” menulis, ,,Sukarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu”. Selalu mereka menulis jang  djelek-  djelek. Tidak pernah hal-hal jang baik jang telah saja kerdjakan.”Sekalipun Presiden Kennedy dan aku telah  mengadakan  pertemuan  pendapat,  persetudjuan  dalam  lingkungan  ketjil  ini  tidak  pernah  tersebar  dalam  pers  Amerika  Serikat.  Masih  sadja,  hari  demi  hari,  mereka  menggambarkanku  sebagai  pengedjar- tjinta.  Ja,  ja, ja, aku mentjintai wanita. Ja, itu kuakui. Akan tetapi aku bukanlah seorang anak-pelesiran sebagaimana  mereka tudukkan padaku.

 

 

Di  Tokyo  aku  telah  pergi  dengan  kawan-kawan  kesuatu  Rumah  Geisha.  Tiada  sesuatu  jang  melanggar  susiia  mengenai  Rumah  Geisha  itu.  Orang  sekedar  duduk,  makan-makan,  bertjakap-tjakap  dan  mendengarkan  musik.  Hanja  itu.  Akan  tetapi  dalam  madjalah-madjalah  Ba  rat  digembar-gemborkn  seolah-olah  aku  ini  Le  Grand  Seducteur.Tanpa  hiburan-hiburan  ketjil  ini  aku  akan  mati.  Aku  mentjintai  hidup.  Orang-orang-asing  jang  mengundjungi  istanaku  menjatakan,  bahwa  aku  menjelenggarakan  ,,suatu  istana  jang  menjenangkan.”  Adjudan-adjudanku  mempunjai  wadjah-wadjah  jang  senjum.  Aku  berkelakar  dengan   mereka,  menjanji  dengan  mereka.  Bila  aku  tidak  memperoleh  kegembiraan,  njanjian  dan  sedikit  hiburan  kadang-kadang,  aku  akan  dibinasakan  oleh  kehidupan  ini.  Umurku  sudah  64  tahun.  Mendjadi  Presiden  adalah  pekerdjaan  jang  membikin  orang  lekas  tua.  Dan  kalau  orang  mendjadi  tua,  tentu  tidak  baik  bagi  seseorang.  Karena  itu,  sesekali  aku  harus  lari  dari  keadaan  ini,  supaja  aku  dapat  hidup  seterusnja.Banjak  kesenangan-kesenangan  jang sederhana telah dirampas dariku. Misalnja, dimasa ketjilku aku telah mengelilingi pulau Djawa dengan  sepeda. Sekarang perdjalanan sematjam itu tidak dapat kulakukan lagi, karena tentu tidak sedikit orang jang  akan mengikutiku.

 

 

Di  Hollywood  aku  diberi  kesempatan  untuk  rnelihat-lihat  disekitar  studio-studio  film.  Waktu  meninggalkan  halaman   studio   aku   melihat   seorang   anak   pengantar-surat   lewat   dengan   sepeda,   lalu   menghentikan  sepedanja untuk sesaat. Tiba-tiba aku merasa senang dan pikiranku terbuka, karena itu aku naik dan pergi.  Aku bukan hendak memberi kesan kepada siapapun. Hanja karena merasa senang. Jah, gema dan gambarku  ini  tersebar keseluruh dunia ini. Dinegeriku sendiripun aku tak dapat lagi menikmati kesenangan jang paling  memuaskan  hati,  jaitu  menggeledahi  toko-toko  kesenian,  melihat-lihat  benda  jang  akan  dikumpulkan,  lalu  menawarnja. Kemanapun aku pergi, rakjat berkumpul berbondong-bondong. Dokterku telah memperhatikan,  bahwa  kegembiraan  memang  mutlak  perlu  buat  mendjaga  kesehatanku.  Dengan  demikian  aku  bisa  terlepas  sedikit dari diriku sendiri dan dari pendjaraku. Karena begitulah keadaanku. Seorang tawanan. Tawanan dari  tata-tjara  serba  resmi.  Tawanan  dari  tata-tjara  kesopanan.  Tawanan  dari  peri-laku  jang  baikSetiap  orang  harus  mentjari  suatu  kesenangan  supaja  terlepas  dari  segala  tata-laku  ini.  Presiden  Ayub  Khan  main  golf,  Kennedy berperahu lajar, Pangeran Norodom Sihanouk mengarang musik, Radja Muang Thai main saxophone,  Lyndon  Johnson  mempunjai  tempat  peternakan.  Akupun  memerlukan  kesenangan.  Karena  itu,  bila  aku  mengadakan  perdjalanan,  aku  mengizinkan  diriku  sendiri  dengan  kesenangan  mendjalankan  tugas  dalam  mengedjar   kebahagiaan.   Sesuai   dengan   Undang-Undang   Dasar   Amerika   Serikat   setiap   orang   berhak  mengedjarnja.Mendjadi  Presiden  karena  diperlukan  menjebabkan  orang  mendjadi  terasing.  Ketjakapan  dan  sifat-sifat jang memungkinkan orang menduduki djabatan Presiden itu adalah ketjakapan dan sifat itu djuga

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 5 dari 109

 

jang  menjebabkan  ia  diasingkan.  Akan  tetapi,  dimata  orang  luar  aku  selalu  gembira.  Pembawaanku  adalah  demikian,   sehingga   perasaan   susah   jang   teramat   sangat   tidak   pernah   memperlihatkan   diri.   Sekalipun  perasaanku   hantjur-luluh   didalam,   orang   tak   dapat   menduganja.   Bukankah   Sukarno   terkenal   dengan  ,,senjumnja” ? Apapun djuga persoalanku— Malaysia, kemiskinan, lagi-lagi pertjobaan pembunuhan— Sukarno  dari luar senantiasa gembira. Seringkali aku duduk-duduk seorang diri diberanda Istana Merdeka. Beranda itu  tidak   begitu   indah.   Setengah   tertutup   dengan   lajar   untuk   menghambat   panas   dan   tjahaia   matahari.  Perabotnja  terdiri  dari  korsi  rotan  jang  tidak  dilapis  dan  tidak  ditjat  dan  medja  beralas  kain  batik  halus  buatan  negeriku.  Suatu  keistimewaan  jang  kuperoleh  karena  djabatan  tinggi  adalah  sebuah   korsi  jang  menjendiri  pakai  bantal.  Itulah  jang  dinamakan  ,,Korsi  Presiden”.’Dan  aku  duduk  disana.  Merenung.  Dan  memandang  keluar  ketaman  indah  jang  menghilangkan  kelelahan  pikiran,  taman  jang   kutanami  dengan  tanganku sendiri. Dan batinku merasa sangat sepi.Aku ingin bertjampur dengan rakjat. Itulah jang mendjadi  kebiasaanku. Akan tetapi aku tidak dapat lagi berbuat demikian.

 

 

Seringkali aku merasakan badanku seperti akan lemas, napasku akan berhenti, apabila aku tidak bisa keluar  dan bersatu dengan rakjat-djelata jang melahirkanku. Kadang-kadang aku mendjadi seorang Harun al Rasjid.  Aku berputar-putar keliling kota. Seorang diri. Hanja dengan seorang adjudan berpakaian preman dibelakang  kendaraan. Terasa olehku kadangkadang, bahwa aku harus terlepas dari berbagai persoalan untuk sesaat dan  merasakan   irama   denjut   djantung   tanah-airku.   Namun   persoalan-persoalan   selalu   mengikutiku   bagai  bajangan  besar  dan  hitam  dan  jang  datang  dengan  samar  menakutkan  dibelakangku.  Aku  takkan  bisa  lepas  daripadanja. Aku takkan keluar dari genggamannja. Aku takkan dapat madju dengannja. Ia bagai hantu jang  senantiasa mengedjar-ngedjar. Pakaian seragam dan petji hitam merupakan tanda pengenalku. Akan tetapi  adakalanja kalau hari sudah malam aku menukar pakaian pakai sandal, pantalon dan kalau hari terlalu panas  aku  hanja  memakai  kemedja.  Dan  dengan-  katjamata  berbingkai  tanduk  rupaku  lain  samasekali.  Aku  dapat  berkeliaran  tanpa  dikenal  orang  dan  memang  kulakukan.  Ini  kulakukan  karena  ingin  melihat  kehidupan  ini.  Aku  adalah  kepunjaan  rakjat.  Aku  harus  melihat  rakjat,  aku  harus  mendengarkan  rakjat  dan  bersentuhan  dengan mereka. Perasaanku akan tenteram kalau berada diantara mereka. Ia adalah roti-kehidupan bagiku.  Dan   aku   merasa   terpisah   dari   rakjat-djelata.Kudengarkan   pertjakapan   mereka,   kudengarkan   mereka  berdebat,   kudengarkan   mereka   berkelakar   dan   bertjumbu-kasih.   Dan   aku   merasakan   kekuatan   hidup  mengalir  keseluruh  batang  tubuhku.  Kami  pergi  dengan  mobil  ketjil  tanpa  tanda  pengenal.  Adakalanja  aku  berhenti  dan  membeli  sate  dipinggiran  djalan.  Kududuk  seorang  diri  dipinggir  trottoir  dan  menikmati  djadjanku  dari  bungkus  daun  pisang.  Sungguh  saat-saat  jang  menjenangkan.  Rakjat  segera  mengenalku  apabila  mendengar  suaraku.  Pada  suatu  malam  aku  pergi  ke  Senen,  disekitar  gudang  kereta-api,  dengan  seorang  Komisaris  Polisi.  Aku  berputar-putar  ditengah-tengah  rakjat  dan  tak  seorangpun  memperhatikan  kami.  Achirnja,  untuk  sekedar  berbitjara  aku  bertanja  kepada  seorang  laki-laki,  ,,Dari   mana  diambil  batubata ini dan bahan konstruksi jang sudah dipantjangkan ini ?” Sebelum ia dapat memberikan djawaban,  terdengar teriakan, ,,Hee,” teriak suara perempuan, ,,Itu suara Bapak Ja suara Elapak Hee, orang-orang, ini  Bapak Bapak “Dalam beberapa detik ratusan kemudian ribuan rakjat datang berlari-lari dari segala pendjuru  Dengan tjepat Komisaris itu membawaku keluar dari situ, masuk mobil ketjil kami dan menghilang. Ditindjau  setjara keseluruhan maka djabatan Presiden tak ubahnja seperti suatu pengasingan jang terpentjil. Memang  ada   beberapa   orang   kawanku.   Tidak   banjak.   Seringkali   pikiran   oranglah   jang   berobah-obah,   bukan  pikiranmu.  Mereka  memperlakukanmu  lain.  Mereka  turut  mentjiptakan  pulau  kesepian  ini  disekelilingmu.  Karena itulah, apabila aku terlepas dari pendjaraku ini, aku menjenangkan diriku sendiri.

 

 

 

Di  Tokyo  aku  bisa  pergi  ke  Kokusai  Gekijo,  dimana  mereka  mempertundjukkan  diatas  panggung  sekaligus  empatratus  gadis-gadis  djelita.  Ditahun  1963  aku  baru  tahu,  bahwa  Duta  Besar  Indonesia  untuk  Djepang  diwaktu itu tidak pernah mengundjungi panggung ini. Aku mengumpatnja, ,,Hei, Bambang Sugeng, engkau ini  Duta  Besar  jang  malang.  Seorang  diplomat  harus  mengetjap  setiap  djenis  kehidupan  negeri  dimana  dia  ditempatkan.  Hajo  Mari  kita  pergi  melihat  gadis-gadis  itu.  “Akupun  mengadjak  seorang  Indonesia  jang  bersusila  kawakan,  jang  kaget  apabila  Presidennja  mempertjakapkan  wanita.  Orang  ini  mengerling  pada  gadis-gadis  jang  tjantik  ini,  kemudian  bangkit  dan  berkata,  ,,Saja  tidak  dapat  menjaksikannja.  Saja  akan  pergi sadja. Terlalu menegangkan pikiran saja.” Dia seorang munafik. Aku bentji orang-orang munafik. Sudah  barang  tentu  lagi-lagi  reputasiku  menjebabkan  aku  mendjadi  korban  keadaan.  Di  Fiiipina  ditahun  1964,  Presiden  Diosdado  Macapagal  menjambutku  dilapangan  terbang.  Beliau  mengiringkanku  ke  Laurels  Mansion  dimana  aku  menginap.  Disana  tinggal  Tuan  Laurels  bekas  Presiden  Filipina,  isterinja  dan  anak-tjutjunja.  Untuk   lebih   memeriahkan   kedatanganku   mereka   mendatangkan   Bayanihan   Cultural   Ensemble,   suatu  perkumpulan  paduan-suara,  jang  menjambutku  dengan  Tari  Lenso  sebagai  tanda  penghormatan.  Dua  orang  wanita  muda  tampil  dari  dalam  kelompok  ensemble  itu  dan  meminta  kepadaku  untuk  turut  menari.  Sukar  untuk  menolaknja,  karena  itu  aku  mulai  menari  dan  GEGER  !  Kilat  lampu  !  Djepretan  karnera  !  Dan  induk  karangannja:   “Lihat   Sukarno   pengedjar-tjinta   mulai   lagi”.   Aku   menjukai   gadis-gadis   jang   menarik  disekelilingku, karena gadis-gadis ini bagiku tak ubahnja seperti kembang jang sedang mekar dan aku senang  memandangi  kembang.  Ditahun  1946,  dihari-hari  jang  berat  itu  semasa  revolusi  fisik,  isteri  dari  sekretaris-  duaku datang setiap pagi hanja sekedar untuk membelah telor untuk sarapanku. Ah, sebenarnja aku sendiri  bisa memetjahkannja, akan tetapi isteriku tak pernah bangun begitu pagi dan aku merasa lebih tenang dan  kuat  disaat-saat  jang  tegang  seperti  itu  apabila  melihat  barang  sesuatu  tersenjum  disekitarku.  Aku   merasa

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 6 dari 109

 

terhibur  oleh  wanita-wanita  muda  disekeliling  kantorku.  Apabila  para  tetamu  menjiasati  tentang  adjudan-  adjudan wanitaku jang masih muda-belia, aku berkelakar kepada mereka, ,,Perempuan tak ubahnja seperti  pohon  karet.  Dia  tidak  baik  lagi  setelah  tigapuluh  tahun.”  Katakanlah,  aku  bereaksi  lebih  baik  terhadap  wanita.   Wanita   lebih   mengerti.   Wanita   lebih   bisa   turut   merasakan.   Kuanggaip   mereka   memberikan  kesegaran.  Djustru  wanitalah  jang  dapat  memberikan  ini  kepadaku.  Sekali  lagi,  aku  tidak  berbitjara   dalam  arti djasmaniah. Aku hanja sekedar tertarik pada suatu pandangan jang lembut atau sesuatu jang kelihatan  indah.   Sebagai   seorang   seniman,   aku   tertarik   menurut   pembawaan   watak   kepada   segala   apa   jang  menjenangkan  pikiran.  Bila  hari  sudah  larut  aku  merasa  lelah.  Seringkali  aku  kehabisan  tenaga,  sehingga  sukar  untuk  menggerakkan  persendian.  Dan  apabila  seorang  sekretaris  laki-laki  berbadan  besar,  tidak  menarik,  buruk  dan  botak  datang  membawa  setumpukan  tinggi  surat-surat  untuk  ditandatangani,  aku  akan  berteriak kepadanja supaja dia segera pergi dan membiarkanku seorang diri. Sepihan-sepihan kulitnja akan  rontok  dari  badannja  karena  kaget.  Aku  akan  menggeledek  kepadanja.  Aku  akan  bangkitkan  petir  diatas  kepalanja.  Akan  tetapi  bilamana  jang  datang  seorang  gadis  sekretaris  berbadan  ramping,  dengan  dandan  jang  rapi  dan  meluapkan  bau  harum  menjegarkan  tersenjum  manis  dan  berkata  kepadaku  dengan  lunak,  ,,Pak,  silahkan  “,  tahukah  engkau  apa  jang  terdjadi  ?  Bagaimanapun  keadaan  hatiku,  aku  akan  mendjadi  tenang.  Dan  aku  akan  selalu  berkata,  “Baik”.  Ditahun  ’61  aku  sakit  keras.  Di  Wina  para  ahli  mengefuarkan  batu dari gindjalku. Waktu itu adalah saat memuntjaknja perdjoangan kami merebut kembali Irian Barat dan  dalam kalangan lawan-lawan kami timbul kegembiraan.

 

 

Tidak  guna  lagi  mengutuk  Sukarno  dan  memintaminta  supaja  dia  mati,  karena  Sukarno  sekarang  sedang  menudju kematiannja. Karena itu para dokter melakukan perawatan jang lebih teliti terhadap diriku. Mereka  membudjuk  hatiku,  ,,Djangan  kuatir,  Presiden  Sukarno,  kami  akan  memberikan  perawat-perawat  jang  berpengalaman untuk mendjaga Tuan.” Hehhhh ! ! Ketika hal ini disampaikan kepadaku, keadaanku mendjadi  lebih  pajah  daripada  sewaktu  aku  mula-mula  masuk.  Aku  tahu  apa  jang  akan  kuhadapi.  Aku  tidak  berkata  apa-apa, karena aku tidak mau menentang dokter. Pendeknja dihari berikut ia melakukan pembedahan dan  aku  ingin  agar  hatinja  senang  terhadapku  selama  ia  mendjalankan  pembedahan  itu.  Akan  tetapi   sementara  itu aku berpikir dalam hatiku sendiri, “Aku akan lebih tjepat sembuh idengan gadis-gadis perawat jang tidak  berpengalaman,  karena  jang  sudah  punja  pengalaman  40  tahun  tentu  setidak-tidaknja  sekarang  sudah  berumur  55  !”Orang  mengatakan,  bahwa  Sukarno  suka  melihat  perempuan  tJantik  dengan  sudut  matanja.  Kenapa  mereka  berkata  begitu  ?  Itu  tidak  benar.  Sukarno  suka  memandangi  perempuan  tjantik  dengan  seluruk  bola  matanja.  Akan  tetapi  ini  bukanlah  suatu  kedjahatan.  Sedangkan  Nabi  Muhammad  sallallahu  ‘alaihi  wasallam  mengagumi  keindahan.  Dan  sebagai  seorang  Islam  jang  beriman  aku  adalah  pengikut  Nabi  Muhammad jang mengatakan, “Tuhan jang dapat mentjiptakan machluk-machiuk jang tjantik seperti wanita  adalah   Tuhan   Jang   Maha-Besar   dan   Maha-Pengasih.”   Aku   setudju   dengan   utJapan    beliau.Seperti   jang  dikisahkan,  Muhammad  mempunjai  seorang  budak  bernama  Said.  Said,  orang  jang  pertama-tama  masuk  Islam,  mempunjai  isteri  jang  sangat  tjantik  bernama  Zainab.  Ketika  Muhammad  melihat  Zainab,  beliau  mengutjapkan   “Allahu   Akbar”,    Tuhan    MahaBesar.Tatkala   murid-muridnja   bertanja,   mengapa   beliau  mengutjapkan  Allahu  Akbar  ketika  melihat  Zainab,  maka  beliau  mendjawab,  “Aku  memudji  Tuhan  karena  telah mentjiptakan machluk-machluk jang tjantik seperti perempuan ini.” Aku mendjundjung Nabi Besar. Aku  mempeladjari utjapan-utjapan beliau dengan teliti. Djadi, moralnja bagiku adalah: bukanlah suatu dosa atau  tidak sopan kalau seseorang mengagumi seorang perempuan jang tjantik. Dan aku tidak malu berbuat begitu,  karena dengan melakukan itu pada hakekatnja aku memudji Tuhan dan memudji apa jang telah ditjiptakan-  Nja.Aku hanja seorang pentjinta ketjantikan jang luarbiasa. Aku mengumpulkan benda-benda perunggu karja  seni dari Budapest, seni pualam dari Italia, lukisan-lukisan dari segala pendjuru.

 

 

Untuk Istana Negara di Djakarta aku sendiri berbelandja membeli kandil kristal jang berat dan korsi beludru  tjukilan  emas  di  Eropa.  Aku  memungut  permadani  di  Iraq.  Aku  membnat  sendiri  rentjana  medja  kantorku  dari  satu  potong  kajudjati  Indonesia  jang  utoh.  Aku  merentjanakan  medja  ruang-makan  Negara  dari  satu  potong   kajudjati   Indonesia.   Aku   menggantungkan   setiap   kain-hiasan-dinding,   memilih   setiap   barang,  merentjanakan dimana harus diletakkan setiap pot-bunga atau karja seni-pahat.Kalau aku melihat sepotong  kertas  dilantai,  aku  akan  berhenti  dan  memungutnja.  Anggota  Kabinet  tertawa  melihat  bagaimana  aku,  ditengah-tengah  persoalan  jang  pelik,  datang  kepada  mereka  dan  meluruskan  dasinja.  Aku  senang  bila  makanan diatur setjara menarik diatas medja. Aku mengagumi keindahan dalam segala bentuk.

 

Dalam  perkundjungannja  ke  Istana  Negara  di  Bogor,  seorang  Texas  terpikat  hatinja  pada  salah-satu  benda  seniku. “Tuan Presiden,” katanja tiba-tiba. “Saja akan menjampaikan apa jang hendak saja kerdjakan untuk  Tuan.  Saja  akan  menjerahkan  sebuah  Cadillac  sebagai  ganti  ini.”  Kukatakan  kepadanja  jah,  tak  soal  kata-  kata  apa  jang  telah  kuutjapkan  kepadanja.  Tapi  pokoknja  adalah  “Tidak”.  Tidak  satupun  dari  benda-benda  indah  jang  telah  kukumpulkan  dapat  ditukar  dengan  Cadillac.  Kalau  aku  senang  kepadamu,  engkau  akan  kuberi sebuah lukisan atau barang tenunan sebagai hadiah. Akan tetapi untuk mendjualnja, tidak, sekali-kali  tidak.   Semua   itu   akan   kuwariskan   kepada   rakjat   Indonesia,   bilamana   aku   pergi.   Biarlah   rakjatku  memasukkannja kedalam Museum Nasional. Kemudian, apabila mereka lelah atau pikirannja katjau, biarlah  mereka  duduk  dihadapan  sebuah  lukisan  dan  meneguk  keindahan  dan  ketenangannja,  sehingga  mengisi  seluruh kalbu mereka dengan kedamaian seperti ia djuga terdiadi terhadap diriku. Ja, aku akan mewariskan

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 7 dari 109

 

hasil-hasil   seni   ini   kepada   rakjatku.   Untuk   didjual?   Djangan   kira!   Seorang   orang-asing   jang   mengerti  kepadaku adalah Dutabesar Amerika di Indonesia, Howard Jones.

 

Ia  sudah  lama  ditempatkan  di  Djakarta  dan  mendjabat  sebagai  Ketua  dari  Korps  Diplomatik.  Kami  sering  terlibat  dalam  perdebatan-perdebatan  sengit  dan  pahit,  akan  tetapi  aku  semakin  memandangnja  sebagai  seorang kawan jang tertjinta. Uraian Howard tentang diri pribadiku adalah: “Suatu perpaduan antara Franklin   Delano  Roosevelt  dan  Clark  Gable.”  Apakah  orang  heran,  apabila  aku  menjebutnja  sebagai  seorang  kawan  jang tertjinta ? Disuatu hari Minggu beberapa tahun jang silam, ia dengan isterinja Marylou makan bersama-  sama   denganku   dan   isteriku   Hartini   dipaviljun   ketjil   karni   di   Bogor.   Bogor   adalah   tempat   didaerah  pegunungan  jang  sedjuk  diluar  kota  Djakarta.  Berlainan  dengan  dugaan  orang  bahwa  aku  mempunjai  kran-  kran  dari  emas  murni  seperti  sepantasnja  bagi  Jang  Dipertuan  didaerah  Timur,  maka  aku  tidak  tinggal  di  Istana  Negara  jang  besar  itu.  Dipekarangannja  kami  mempunjai  sebuah  bungalow  ketjil  jang  besaruja  kira-  kira sama dengan jang dipunjai oleh seorang pedjabat biasa. Bungalow ini terdiri dari beberapa kamar-tidur,  suatu ruang-makan ketjil dan ruang-duduk jang sangat ketjil. Ia tidak mewah. Sederhana sekali. Akan tetapi  menjenangkan dan itulah rumahku.Selagi makan Howard berkata, “Tuan Presiden, saja kira sudah waktunja  bagi Tuan untuk melihat kembali djalan-djalan dalam sedjarah. Menurut pendapat saja sudah tepat waktunja  bagi Tuan untuk menuliskan sedjarah hidup Tuan.”Seperti biasa, apabila seseorang menjebut-njebut tentang  otobiografi, aku mendjawab, “Tidak”.

 

 

Insja Allah, djika Tuhan mengizinkan, saatnja masih 10 atau 20 tahun lagi. Bagaimana saja bisa mengetahui  apa jang akan terdjadi terhadap diriku ? Siapa jang dapat mentjeriterakan, bagaimana djalannja kehidupan  saja ? Itulah sebabnja mengapa saja selalu menolak hal ini, karena saja jakin bahwa buruk-baiknja kehidupan  seseorang   hanja   dapat   dipertimbangkan   setelah   ia   mati.”   “Terketjuali   Presiden   Republik   Indonesia,”  djawabnja.  “Disamping  telah  mendjadi  Kepala  Negara  selama  20  tahun,  ia  telah  dipilih  sebagai  Presiden  seumur   hidup.   Ia   adalah   orang   jang   paling   banjak   diperdebatkan   dan   dikritik   didjaman   kita   ini.   Ia  “mempunjai  banjak  rahasia,”  kataku  dengan  senjum  jangdisembunjikan.  “Akan  tetapi  dialah  satu-satunja  orang jang dapat memberanikan diri untuk mengguratkannja dan disamping itu mendjawab seranganserangan  dari para pengeritiknja—dan kawan-kawannja.”Pertemuan ini merupakan pertemuan kekeluargaan jang tidak  formil.  Aku  pakai  badju  sport  dan  tidak  bersepatu.  Hartini  membuat  nasigoreng,  karena  dia  tahu  bahwa  keluarga  Jones  sangat  dojan  pada  nasi-goreng-ajam  dan  Presiden  makan  puluk—artinja  makan  dengan  tangan— dan  kami  duduk  disekitar  medja  bersama-sama  menikmati  saat-saat  istirahat  jang  menjenangkan,  jang  hanja  dapat  dilakukan  diantara  kawan-kawan  lama.  “Untuk  membuat  otobiografi  jang  sesungguhnja  sipenulis hendaknja dalam keadaan jang- susah seperti Rousseau ketika dia menulis pengakuan-pengakuannja  dan  pengakuan  jang  demikian  ternjata  sukar  bagi  saja.  Banjak  tokoh  jang  masih  hidup  akan  menderita,  apabila   saja   mentjeriterakan   semuanja.   Dan   banjak   pemerintahan-pemerintahan,   dengan   mana   saja  sekarang mempuniai hubungan jang baik, akan mendapat serangan sedjadi-djadinja apabila saja menjatakan  beberapa hal jang ingin saja tjeriterakan.” “Walaupun bagaimana, Tuan Presiden, orang-orang-asing merobah  pendirian  mereka  setelah  bertemu  dengan  Tuan  dan  djatuh  kedalam  kekuatan  pribadi  Bung  Karno  jang  terkenal  dan  menarik  seperti  besiberani.  Kalau  Tuan  terus  madju  dengan  daja-penarik  pribadi  Tuan  itu,  maka  saja  jakin  kritikus  jang  paling  tadjampun  kemudian  akan  berkata,  “Hee,  dia  sesungguhnja  tidak  bernapaskan asap dan api seperti naga. Dia sangat menjenangkan.” “Itulah sebabnja saja pada dasarnja ingin  berkawan,” kuterangkan kepadanja. “Saja menjukai orang Timur, saja menjukai orang Barat bahkan Tengku  Abdul  Rahman  sendiri  dan  orang  Inggris.  Pun  djuga  orang-orang  jang  membentji  saja.  Setiap  saat  apa-bila  mereka  ingin  bersahabat,  saja  lebih  ingin  lagi  dari  itu.  Suatu  kalisaja  mengetahui  bahwa  De  Gaulle  tidak  senang     kepada     saja.     Sekalipundemikian     saja     bertemu     dengan     dia     di     Wina.     Setelah     itu  sikapnjaberobah.”,,Itulah  maksud  saja,”  Jones  melandjutkan.  “Tuan  tidak  bisa  mendatangi  sendiri  seluruh  rakjat didunia, akan tetapi Tuan dapat datang kepada mereka dengan melalui halaman-halaman buLu. Tuan  menawan hati sedjuta pendengar dilapangan terbuka. Mengapa Tuau tidak menghendaki djumlah pendengar  jang  lebih  besar  lagi.  “Pertjakapan  ini  berlangsung  terus  sampai  makan  perabung,  berupa  pisang-rebus  kesukaanku.   “Begini,”   kataku.   “Suatu   otobiografi   tidak   ada   harganja,   ketjuali   djika   sipenulis   merasa  kehidupannja  tidak  berguna  apa-apa.  Kalau  dia  menganggap  dirinja  seorang  besar,  karjanja  akan  mendjadi  subjektif.  Tidak  objektif.  Otobiografiku  hanja  mungkin  djika  ada  perimbangan  dari  kedua-duanja.  Sekian  banjak jang baikbaik supaja dapat menenangkan egoku dan sekian banjak jang djelek-djelek sehingga orang  mau membeli buku itu. Kalau dimasukkan hanja jang baik-baik sadja orang akan menjebutmu egois, karena  memudji  diri  sendiri.  Memasukkan  hanja  jang  djelek-djelek  sadja  akan  menimbulkan  suasana  mental  jang  buruk bagi rakjatku sendiri. Hanja setelah mati dunia ini dapat ditimbang dengan djudjur, ‘Apakah; Sukarno  manusia jang baik ataukah manusia jang buruk ?’ Hanja di-saat itulah dia baru dapat diadili.”Bertahun-tahun  lamanja  orang  mendesakku  untuk  menuliskan  kenang-kenanganku.  Press  Officerku,  Njonja  Rochmuljati  Hamzah, selalu mendjadi perantara.Satu kali aku betul-betul membentak-bentak Roch jang manis ituDitabun  1960, ketika Krushchov sedang berkundjung kemari, ada seratus orang wartawan-asing berkerumun dibawah  tangga.   Disatu.   saat   dia   berkata,   “Ma’af,   Pak,   Bapak   djangan   marah,   karena   kami   sendiripun   tidak  mengetahui  sedjarah  hidup  Bapak.  Dan  Bapak  sedikit  sekali  memberikan  wawantjara.  Oleh  karena  itu  dapatkah  Bapak  menenteramkan  hati  saja  barang  sedikit  dan  menerima  seorang  wartawan  CBS  jang  ramah  sekali  dan  ingin  menulis  riwajat  hidup  Bapak  ?”  Aku  berpaling  kepadanja  dan  menjembur.  “Berapa  kali  aku

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 8 dari 109

 

harus mengatakan kepadamu, T-I-D-A-K ! ! Pertama, aku tidak mengenalnja, akan tetapi kalau aku pada satu  saat menulis riwajat hidupku, aku akan kerdjakan dengan seorang perempuan. Sekarang djauh-djauhlah dari  penglihatanku.     Engkau     seperti     pesurah     wartawanasing.”      Roch      berlari     keluar     dan     pulang  kerumahnja.Kemudian  aku  merasa  menjesal.  Adjudanku  menelpon  Roch  dan.  memberitahukan,  bahwa  aku  hendak beItemu dengan dia. Lalu kukirimi kendaraan untuk mendjemputnja. Dia datang dan mengira bahwa  akan menerima semprotan lagi, akan tetapi sebaliknja, Presidennja hendak minta ma’af kepadanja.

 

“Ma’afkanlah aku, Roch,” kataku. “Kadang-kadang aku berteriak dan menjebut nama-nama buruk, akan tetapi  sebenarnja akulah itu. Djangan masukkan kata-Lata itu dalam hatimu. Kalau aku meradang, itu berarti aku  mentjintaimu. Aku menjemprot kepada orang-orang jang terdekat dan paling kusajangi. Hanja mereka jang  mendjadi   papan-suaraku.”   Kemudian   kutjium   dia   dipipinja,   tjara   jang   biasa   kulakukan   sebagai   salam  pertemuan dan perpisahan dengan anakanak perempuan sekretarisku—dan dia pergi dengan hati jang senang  sekali.Itu   sebabnja,   mengapa   persoalan-persoalan   Asia   harus   diselesaikan   dengan   tjara   Asia.   Tjaraku  bukanlah  sesungguhnja  gaja  Barat,  kukira.  Aku  tak  dapat  membajangkan  seorang  Perdana  Menteri  Inggris  memeluk  sekretaris-wanitanja  sebagai  utjapan  selamat  pagi  atau  utjapan-ma’af,  setelah  mana  perempuan  itu lari keluar dan membiarkan dia sendiri.Aku tidak menduga, tidak lama setelah kedjadian ini aku bertemu  dengan  Cindy  Adams.  Cindy,  seorang  wartawan-wanita,  berada  di  Djakarta  ditahun  1961  dengan  suaminja  pelawak  Joey  Adams,  jang  memimpin  Missi  Kesenian  Presiden  Kennedy  ke  Asia  Tenggara.  Wanita  Amenka  jang riang dan rapi ini, dengan pembawaannja jang suka berkelakar, menjebabkan aku seperti kena pukau.  Wawantjara  dengan  Cindy  menjenangkan  sekali  dan  tidak  menjakitkan  hati.  Tulisannja  djudjur  dan  dapat  dipertjaja  sepen~nja.  Bahkan  dia  nampaknja  dapat  merasakan  sedikit  tentang  Indonesia  dan  persoalan  persoalannja  dan,  jah,  dia  adalah  seorang  penulis  jang  palingmenarik  jang  pernah  kudjumpai  !Kami  orang  Djawa  bekerdja  dengan  instink.  Setahun  lamanja  aku  mentjari-tjari  seorang  wanita  jang  akan  mendjabat  sebagai  press  officer,  akan  tetapi  ketika  aku  melihat  Roch  aku  segera  mengetabui~  bahwa  dialah  jang  kutjari.  Kupekerdjakan  dia  segera.  Begitupun  halnja  dengan  Cindy.Pada  kesempatan  lain,  ketika  Howard  Jones  memulai  lagi  pokok  pembitjaraan  tentang  sedjarah  hidupku,  aku  memberikan  ‘surprise~  kepadanja.  Aku meringis. ,,Dengan satu sjarat. Bahwa aku mengerdjakannja dengan Cindy Adams.”Dan apakah achiroja  jang  menjebabkan  aku  mengambil  keputusan  uatuk  mengerdjakan  sedjarah  hidupku  ?  Jah,  mungkin  djuga  benar, sudah mendekat waktu aku harus rnenjadari, bahwa aku sud’ah tua

 

 

Sekarang, mataku jang sudah tua dan malang itu berair. Aku harus memandang gambaran ini dengan alasan.  Disatu pagi jang lain seorang kemenakan datang menemuiku. Aku biasa memangkunja kelika dia masih ketjil.  Sekarang beratnja 70 kilo. Aku menjadari dengan tibatiba, bahwa aku tidak dapat memangkunja lagi diatas  lututku.  Mungkin  dia  akan  memataLkan  kakiku  jang  tua  dan  lelah  itu.  Memang  wanita  tjantik  dapat  membikin  hatiku  mendjadi  muda  lagi,  akan  tetapi  bila  aku  menginsjafi  bahwa  anak  itu  sekarang  mendjadi  ibu  dari  beberapa  orang  anak,  tahulah  aku  bahwa  aku  sudah  berangsur  tua  djuga.Dan  begitulah,  waktunja  sudah  datang.  Kalau  aku  hendak  menuliskan  kisahku,  aku  harus  mengguratkannja  sekarang.  Mungkin  aku  tidak  mempunjai  kesempatan  nanti.  Aku  tahu,  bahwa  orang  ingin  mengetabui,  apakah  Sukarno  seorang  kolaborator  Djepang  semasa  Perang  Dunia  Kedua.  Kukira  hanja  Sukarno  jang  dapat  menerangkan  periode  kehidupannja itu dan karena itu ia bersedia menerangkannja. Bertahun-tahun lamanja orang bertanja-tanja,  apakah   Sukarno   seorang   Diktator,   apakah   dia   seorang   Komunis;   mengapa   dia   tidak   membenarkan  kemerdekaan  pers;  berapa  banjak  isterinja;  mengapa  dia  membangun  departemen-store-departemen-store  jang baru, sedangkan rakjatnja dalam keadaan tjompang-tjamping ………Hanja Sukarno sendiri jang dapat  mendjawabnja.Ini adalah pekerdjaan jang sukar bagiku. Suatu otobiografi adalah ibarat pembedahan-mental  bagiku. Sungguh berat. Menjobek plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka  itu,   memang   sakit-sekalipun   banjak   diantaranja   jang   sudah   mulai   sembuh.   Tambahan   lagi,   aku   akan  melakukannja  dalam  bahasa  Inggris,  bahasa  asing  bagiku.  Terkadang  aku  membuat  kesalahan  dalam  tata-  bahasa  dan  seringkali  aku  terhenti  karena  merasa  agak  kaku.Akan  tetapi,  mungkin  djuga  aku  wadjib  mentjeritakan  kisah  ini  kepada  tanah-airku,  kepada  bangsaku,  kepada  anak-anakku  dan  kepada  diriku  sendiri. Karenanja kuminta kepadamu, pembatja, untuk mengingat bahwa, lebih daripada bahasa kata-kata  jang  tertulis  adalah  bahasa  jang  keluar  dari  lubuk-hati.  Buku  ini  tidak  ditulis  untuk  mendapatkan  simpati  atau  meminta  supaja  setiap  orang  suka  kepadaku.  Harapanku  hanjalah,  agar  dapat  menambah  pengertian  jang  lebih  baik  tentang  Sukarno  dan  dengan  itu  menambah  pengertian  jang  lebih  baik  terhadap  Indonesia  jang tertjinta.

 

 

Bab 2

 

Putera Sang Fadjar

 

IBU  telah  memberikan  pangestu  kepadaku  ketika  aku  baru  berumur  beberapa  tahun.  Dipagi  itu  ia  sudah  bangun sebelum matahari terbit dan duduk didalam gelap diberanda rumah kami jang ketjil, tiada bergerak.  Ia  tidak  berbnat  apa-apa,  ia  tidak  berkata  apa-apa,  hanja  memandang  arah  ke  Timur  dan  dengan  sabar  menantikan  hari  akan  siang.Akupun  bangun  dan  mendekatinja.  Diulurkannja  kedua  belah  tangannja  dan

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 9 dari 109

 

meraih  badanku  jang  ketjil  kedalam  pelukannja.  Sambil  mendekapkan  tubuhku  kedadanja,  ia  memelukku  dengan  tenang.  Kemudian  ia  berbitjara  dengan  suara  lunak,  ,,Engkau  sedang  memandangi  fadjar,  nak.  Ibu  katakan  kepadamu,  kelak  engkau  akan  mendjadi  orang  jang  mulia,  engkau  akan  mendjadi  pemimpin  dari  rakjat kita, karena ibu melahirkanmu djam setengah enam pagi disaat fadjar mulai menjingsing.

 

Kita  orang  Djawa  mempunjai  suatu  kepertjajaan,  bahwa  orang  jang  dilahirkan  disaat  matahari  terbit,  nasibnja  telah  ditakdirkan  terlebih  dulu.  Djangan  lupakan  itu,  djangan  sekali-kali  kaulupakan,  nak,  bahwa  engkau ini putera dari sang fadjar. “Bersamaan dengan kelahiranku menjingsinglah fadjar dari suatu hari jang  baru  dan  menjingsing  pulalah  fadjar  dari  satu  abad  jang  baru.  Karena  aku  dilahirkan  ditahun  1901.Bagi  Bangsa Indonesia abad kesembilanbelas merupakan djaman jang gelap. Sedangkan djaman sekarang baginja  adalah djaman jang terang-benderang dalam menaiknja pasang revolusi kemanusiaan. Abad ini adalah suatu  djaman   dimana   bangsa-bangsa   baru   dan   merdeka   dibenua   Asia   dan   Afrika   mulai   berkembang   dan  berkembangnja  negara-negara  Sosialis  jang  meliputi  seribu  djuta  manusia.  Abad  inipun  dinamakan  Abad  Atom.  Dan  Abad  Ruang  Angkasa.  Dan  mereka  jang  dilahirkan  dalam  Abad  Revolusi  Kemanusiaan  ini  terikat  oleh suatu kewadjiban untuk mendjalankan tugas-tugas kepahlawanan.

 

Hari  lahirku  ditandai  oleh  angka  serba  enam.  Tanggal  enam  bulan  enam.  Adalah  mendjadi  nasibku  jang  paling   baik   untuk   dilahirkan   dengan   bintang   Gemini,   lambang   kekembaran.   Dan   memang   itulah   aku  sesungguhnja. Dua sifat jang berlawanan. Aku bisa lunak dan aku bisa tjerewet. Aku bisa keras laksana badja  dan  aku  bisa  lembut  berirama.  Pembawaanku  adalah  paduan  daripada  pikiran  sehat  dan  getaran  perasaan.  Aku  seorang  jang  suka  mema’afkan,  akan  tetapi  akupun  seorang  jang  keras-kepala.  Aku  mendjebloskan  musuh-musuh Negara kebelakang djeradjak-besi, namun demikian aku tidak sampai hati membiarkan burung   terkurung didalam sangkar.Pada suatu kali di Sumatra aku diberi seekor monjet. Binatang itu diikat dengan  rantai.   Aku   tidak   dapat   membiarkannja   !   Dia   kulepaskan   kedalam   hutan.Ketika   Irian   Barat   kembali  kepangkuan  kami,  aku  diberi  hadiah  seekor  kanguru.  Binatang  itu  dikurung.  Kuminta  supaja  dia  dibawa   kembali ketempatnja dan dikembalikan kemerdekaannja. Aku mendjatuhkan hukuman mati, namun aku tak  pernah mengangkat tangan untuk memukul mati seekor njamuk. Sebaliknja aku berbisik kepada binatang itu,  ,,Hajo,  njamuk,  pergilah,  djangan  kaugigit  aku.”  Sebagai  Panglirna  Tertinggi  aku  mengeluarkan  perintah  untuk  membunuh.  Karena  aku  terdiri  dari  dua  belahan,  aku  dapat  memperlihatkan  segala  rupa,  aku  dapat  mengerti  segala  pihak,  aku  memimpin  semua  orang.  Boleh  djadi  mi  setjara  kebetulan  bersamaan.  Boleh  djadi  djuga  pertanda  lain.  Akan  tetapi  kedua  belahan  dari  watakku  itu  mendjadikan  aku  seseorang  jang  merangkul semuanja.

 

 

Masih  ada  pertanda  lain  ketika  aku  dilahirkan.  Gunung  Kelud,  jang  tidak  djauh  letaknja  dari  tempat  kami,  meletus. Orang jang pertjaja kepada tahjul meramalkan, ,,Ini adalah penjambutan terhadap baji Sukarno.”  Sebaliknja  orang  Bali  mempunjai  kepertjajaan  lain;  kalau  gunung  Agung  meletus  ini  berarti  bahwa  rakjat  tielah   melakukan   maksiat.   Djadi,   orangpun   dapat   mengatakan   bahwa   gunung   Kelud   sebenarnja   tidak  menjambut  baji  Sukarno.  Gunung  Kelud  malah  menjatakan  kemarahannja,  karena  anak  jang  begitu  djahat  lahir kemuka bumi ini.Berlainan dengan pertanda-pertanda jang mengiringi kelahiranku itu, maka kelahiran  itu  sendiri  sangatlah  menjedihkan.  Bapak  tidak  mampu  memanggil  dukun  untuk  menolong  anak  jang  akan  lahir.  Keadaan  kami  terlalu  ketiadaan.  Satu-satunja  orang  jang  menghadapi  ibu  ialah  seorang  kawan  dari  keluarga kami, seorang kakek jang sudah terlalu amat tua. Dialah, dan tak ada orang lain selain dari orang  tua itu, jang menjambutku mengindjak dunia ini. Di Bogor ada sebuah plaket-timbul jang terbuat dari batu  pualam  putih  lagi  bersih,  jang  melukiskan  kelahiran  Hercules.  Ia  tergantung  diruang  gang  jang  menudju  keruangan  resepsi  Negara.  Plaket  ini  memperlihatkan  baji  Hercules  dalam  pangkuan  ibunja  dikelilingi  oleh  empatbelas  orang  wanita-wanita  tjantik  —  semua  dalam  keadaan  telandjang.  Tjobalah  bajangkan,  betapa  bahagianja  untuk  dilahirkan  ditengah-tengah  empatbelas  orang  wanita  tjantik  seperti  ini  !  Akan  tetapi  Sukarno  tidak  sama  beruntungnja  dengan  Hercules.  Pada  waktu  aku  dilahirkan,  tak  seorangpun  jang  akan  mengambilku kedalam pangkuannja, ketjuali seorang kakek jang sudah terlalu amat tua.

 

 

Lalu  50  tahun  kemudian.  Ini  bukanlah  lelutjon  sebagai  bahan  tertawaan.  Ditahun  1949  Republik  kami  jang  masih muda mengindjak tahun keempat dari revolusi kami melawan Belanda. Suatu perdjuangan jang hebat  dengan menggunakan berbagai muslihat. Pihak sana di Negeri Belanda bentji kepadaku habis-habisan seperti  mereka  habis-habisan  membentji  neraka.  Mereka  menentangku  melalui  radio.  Dan  mereka  menentangku  melalui  pers.  Sebuah  madjalah  membuat  suatu  pengakuan  dengan  menjatakan  bahwa,  ,,Sukarno  adalah  seorang  jang  bersemangat,  dinamis  dan  berlainan  samasekali  dengan  orang  Djawa  jang  lamban  dan  lambat  berpikir.  Sukarno  dapat  berbitjara  dalam  tudjuh   bahasa  dengan  lantjar.  Kita  hendaknja   bisa  melihat  kenjataan   dan   kenjataan   adalah,   bahwa   Sukarno   sesungguhnja   seorang   pemimpin.”   Dalam   tulisan   ini  diuraikan   segala   sifat   dan   tanda   jang   baik   mengenai   diriku.   Dengan   segera   aku   menjadari   maksud-  tudjuannja.  Tulisan  itu  akhiruja  menjimpulkan,  ,,Pembatja  jang  budiman,  tahukah  pembatja  mengapa  Sukaroo  memiliki  sifat-sifat  jang  luar-biasa  itu?  Karena  Sukarno  bukanlah  orang  Indon!esia  asli.  Itulah  sebabnja.  Dia  adalah  anak  jang  tidak  sah  dari   seorang  tuan-kebun  dari  perkebunan  kopi  jang  mengadakan  hubungan  gelap  dengan  seorang  buruh  perempuan  Bumiputera,  kemudian  menjerahkan  anak  itu  kepada

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 10 dari 109

 

orang   lain   sebagai   anak-angkat.”Sajang   !   Satu-satunja   saksi   untuk   bersumpah   kepada   bapakku   jang  sesungguhnja  dan  untuk  mendjadi  saksi  bahwa  aku  dilahirkan  oleh  ibuku-jang  sebenarnja  bukan  oleh  pekerdja diperkebunan kopi sudah sedjak lama meninggal.

 

Melalui  generasi  demi  generasi  darah  Indonesia  sudah  bertjampur  dengan  orang  India,  Arab,  Polynesia  asli  dan sudah barang tentu dengan orang Tionghoa. Pada dasarnja kami adalah suku bangsa rumpun MeIaju. Dari  kata  asal  Ma  timbul  kata-kata  Manila,  Madagaskar,  Malaja,  Madura,  Maori,  Himalaja.  Nenek-mojang  kami  berpindah-pindah  disepandjang  daerah  Asia,  menetap  ditigaribu  pulau  jang  kemudian  mendjadi  orang  Bali,  Djawa,  Atjeh,  Ambon,  Sumatra  dan  seterusnja.  Aku  adalah  anak  dari  seorang  ibu  kelahiran  Bali  dari  kasta  Brahmana.  Ibuku,  Idaju,  asalnja  dari  keturunan  bangsawan.  Radja  Singaradja  jang  terachir  adalah  paman  ibu.  Bapakku  berasal  dari  Djawa.  Nama  lengkapnja  Raden  Sukemi  Sosrodihardjo.  Dan  bapak  berasal~dari  kieturunan  Sultan  Kediri.  Lagi-lagi,  merupakan  suatu  kebetulan  ataupun  suatu  takdir  padaku   bahwa  aku  dilahirkan  dalam  lingkungan  kelas  jang  berkuasa.  Namun  betapapun  asal  kelahiranku  ataupun   nasibku,  pengabdianku  untuk  kemerdekaan  rakjatku  bukanlah  suatu  keputusan  jang  tiba-tiba.  Aku  mewarisinja.  Semendjak  ta-hun  1596,  jaitu  pada  waktu  Belanda  per  tamakali  menjerbu  kepulauan  kami,  maka  tindakan  Belanda  menguasai  daerah  kami  dan  perlawanan  kami  jang  sia-sia  dalam  merebut  kembali  tanah-pusaka  kami  telah  membikin  hitam  Iembaran-lembaran  dalam  sedjarah  kami.  Kakek  dan  mojangku  dari  pihak  ibu  adalah  pedjuang-pedjuang  kemerdekaan  jang  gagah.  Mojangku  gugur  dalam  Perang  Puputan,  suatu  daerah  dipantai  utara  Bali  ditempat  mana  terletak  Keradjaan  Singaradja  dan  dimana  telah  berkobar  pertempuran  sengit dan bersedjarah melawan pendjadjah. Ketika mojangku menjadari, bahwa semuanja telah hilang dan  tentaranja  tidak  dapat  menaklukkan  lawan,  maka  ia  dengan  sisa  orang  Bali  jang  bertjita-tjita  mengenakan  pakaian  serba  putih,  dari  kepala  sampai  kekaki.  Mereka  menaiki  kudanja,  masing  masing  menghunus  keris,  lalu menjerbu musuh.

 

 

Mereka   dihantjurkan.   Radja   Singaradja   jang   terakhir   setjara   litjik   dikeluarkan   oleh   Belanda   dan  keradjaannja.  Kekajaannja,  tempat  tinggal,  tanah  dan  semua  miliknja  dirampas.  Mereka  mengundangnja  kesebuah kapaI perang untuk berunding. Begitu sampai diatas kapal, Belanda menahannja setjara paksa, lalu  berlajar dan mendjebloskannja ketiempat pembuangan. Setelah Belanda menduduki istananja dan merampas  miliknja, keluarga ibu djatuh melarat. Karena itu kebentjian ibu terhadap Belanda tak habis-habisnja dan ini  disampaikannja  kepadaku.Ditahun  1946,  ketika  itu  umur  ibu  sudah  lebih  dari  70  tahun,  Republik  kami  jang  masih   muda   terlibat   dalam   pertempuran-pertempuran   djarak   dekat   dengan   musuh.   Dalam   suatu  pertempuran,  pasukan  kami  berkumpul  dipekarangan  belakang  rumah  ibu  di  Blitar.  Kisah  ini  kemudian  ditjeritakan  oleh  pedjuang  gerilja  kepadaku,  ,,Ditempat  ini  keadaan  gerakan  kami  tenang  sekali.  Kami  semua  tiarap  menunggu.  Rupanja  ibu  tidak  mendengar  apa-apa  dari  pihak  kita.  Tidak  ada  tembakan,  tidak  ada teriakan. Dengan mata jang bernjala-njala beliau keluar mendatangi kami, ‘kenapa tidak ada tembakan ?  Kenapa tidak bertempur ? Apa kamu semua penakut ?

 

 

Kenapa kamu tidak keluar menembak Belanda Hajo, terus, semua kamu, keluar dan bunuh Belanda-Belanda  itu !'” Pihak bapakpun adalah patriot-patriot ulung. Nenek dari nenek bapak kedudukannja dibawah seorang  Puteri,  namun  dia  seorang  pedjoang-puteri  disamping  pahlawan  besar  kami,  Diponegoro.  Dengan  menaiki  kuda  dia  mendampingi  Diponegoro  sampai  menemui  adjalnja  dalam  Perang  Djawa  jang  besar  itu,  jang  berkobar  dari  tahun  1825  sampai  tahun  1830.Sebagai  kanak-kanak  aku  tidak  mendapat  tjeritera-tjeritera  seperti  ditelevisi  atau  tjeritera  Wild  West  jang  dibumbui.  Ibu  selalu  mentjeritakan  kisah-kisah  kebangsaan  dan kepahlawanan. Kalau ibu sudah mulai bertjerita, aku lalu duduk dekat kakinja dan dengan haus meneguk  kisah-kisah    jang    menarik    tentang    pedjoang-pedjoang    kemerdekaan     dalam    keluarga    kami.Ibupun  mentjeritakan tentang bagaimana bapak merebutnja. Semasa mudanja ibu mendjadi seorang gadis-pura jang  pekerdjaannja membersihkan rumah-ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak bekerdja sebagai guru sekolah  rendah gubernemen di Singaradja dan setelah selesai sekolah sering datang kelubuk dimuka pura tempat ibu  bekerdja untuk menikmati ketenangannja.

 

Pada suatu hari ia melihat ibu. Pada kesempatan lain ketika duduk lagi dekat lubuk itu ia melihat ibu sekali  lagi.  Setelah  sore  demi  sore  berlalu,  ia  menegur  ibu  sedikit.  Ibu  mendjawab.  Segera  ia  merasa  tertarik  kepada  ibu  dan  ibu  kepadanja.  Seperti  biasanja  menurut  adat,  bapak  mendatangi  orangtua  ibu  untuk  meminta  ibu  setjara  beradat.  ,,Bolehkah  saja  meminta  anak  ibu-bapak  ?”  Orangtua  ibu  lalu  mendjawab,  ,,Tidak  bisa.  Engkau  berasal  dari  Djawa  dan  engkau  beragama  Islam.  Tidak,  sekali-kali  tidak  !  Kami  akan  kehilangan  anak  kami.  ‘Seperti  halnja  dengan  keadaan  sebelum  Perang  Dunia  Kedua,  perempuan  Bali  tidak  ada jang mengawini orang luar. Jang kumaksud bukan orang luar dari negara lain, akan tetapi orang luar dari  pulau  lain.  Waktu  itu  tidak  ada  perkawinan  tjampuran  antara  satu  suku  dengan  suku  lain  samasekali.  Kalaupun  terdjadi  bentjana  sematjam  ini,  maka  pengantin  baru  itu  diasingkan  dari  rumah  orangtuanja.  sendiri.  Suatu  keistimewaan  dari  Sukarno,  ia  dapat  menjatukan  rakjatnja.  Warna  kulit  kami  mungkin  berbeda,  bentuk  hidung  dan  dahi  kami  mungkin  berlainan  lihat  orang  Irian  hitam,  lihat  orang  Sumatra  sawomatang, lihat orang Diawa pendek-pendek, orang Maluku lebih tinggi, lihat orang Lampung mempunjai  bentuk  sendiri,  rakjat  Pasundan  mempunjai  tjiri  sendiri,  akan  tetapi  kami  tidak  lagi  djadi  inlander  atau

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 11 dari 109

 

menganggap diri kami orang-asing satu sama lain. Sekarang kami sudah mendjadi orang Indonesia dan kami  satu.  Sembojan  negeri  kami  Bhineka  Tunggal  Ika  ,,Berbeda-beda  tapi  satu  djua’,.Kembali  kepada  kisah  bapakku, betapa sukanja situasi ketika ia hendak mengawini ibu. Terutama karena ia resminja seorang Islam,  sekalipun  ia  mendjalankan  Theosofi.  Untuk  kawin  setjara  Islam,  maka  ibu  harus  menganut  agama  Islam  terlebih dulu. Satu-satunja  djalan bagi mereka ialah kawin lari. Kawin lari menurut kebiasaan di Bali harus  mengikuti tata-tjara tertentu.

 

Kedua   merpati   itu   bermalam   dimalam   perkawinannja   dirumah   salah   seorang   kawan.   Sementara   itu  dikirimkan utusan kerumah orangtua sigadis untuk memberitahukan bahwa anak mereka sudah mendjalankan  perkawinannja.  Ibu  dan  bapakku  mentjari  perlindungan  dirumah  Kepala  Polisi  jang  mendjadi  kawan  bapak.  Keluarga  ibu  datang  mendjemputnja,  akan  tetapi  Kepala  Polisi  itu  tidak  mau  melepaskan.  ,,Tidak,  dia  berada dalam perlindungan saja,” katanja. Bukanlah kebiasaan kami untuk menghadapkan pengantin kemuka  pengadilan, sekalipun orangtua tidak setudju. Akan tetapi kedjadian ini adalah keadaan jang luarbiasa ketika  itu.  Bapak  seorang  IslamTheosof  dan  ibu  seorang  Bali  Hindu-Buddha.  Pada  waktu  perkara  itu  diadili,  ibu  ditanja, ,,Apakah laki-laki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri ?” Dan ibu mendjawab,  ,,Tidak,  tidak.  Saja  mentjintainja  dan  melarikan  diri  atas  kemauan  saja  sendiri.”Tiada  pilihan  lain  bagi  mereka, ketjuali mengizinkan perkawinan itu. Sekalipun demikian pengadilan mendenda ibu 25 ringgit, jang  nilainja  sama  dengan  25  dollar.  Ibu  mewarisi  beberapa  perhiasan  emas  dan  untuk  membajar  denda  itu  ibu  mendjuaI   perhiasannja.Karena   bapak   merasa   tidak   disukai   orang   di   Bali,   ia   kemudian   mengadjukan  permohonan  kepada  Departemen  Pengadjaran  untuk  dipindahkan  ke  Djawa.  Bapak  dikirim  ke  Surabaja  dan  disanalah putera sang fadjar dilahirkan.

 

 

Bab 3

 

Modjokerto: Kesedihan Dimasa Muda

 

MASA kanak-kanakku tidak berbeda dengan David Copperfield Aku dilahirkan ditengah-tengah kemiskinan dan  dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunjai sepatu. Aku mandi tidak dalam air jang keluar dari kran.  Aku  tidak  mengenal  sendok  dan  garpu.  Ketiadaan  jang  keterlaluan  demikian  ini  dapat  menjebabkan  hati  ketjil didalam mendjadi sedih. Dengan kakakku perempuan Sukarmini, jang dua tahun lebih tua daripadaku,  kami  merupakan  suatu  keluarga  jang  terdiri  dari  empat  orang.  Gadji  bapak  f  25  sebuIan.  Dikurangi  sewa  rumah kami di Djalan Pahlawan 88, neratja mendjadi f 15 dan dengan perbandingan kurs pemerintah f 3,60  untuk  satu  dollar  dapatlah  dikira-kira  betapa  rendahnja  tingkat  penghidupan  keluarga  kami.  Ketika  aku  berumur enam tahun kami pindah ke Modjokerto. Kami tinggal didaerah jang melarat dan keadaan tetangga-  tetangga kami tidak berbeda dengan keadaan sekitar itu sendiri, akan tetapi mereka selalu mempunjai sisa  uang sedikit untuk membeli pepaja atau djadjan lainnja.

 

Tapi aku tidak. Tidak  pernah. Lebaran adalah hari besar bagi ummat Islam, hari penutup dari bulan puasa,  pada bulan mana para penganutnja menahan diri dari makan dan minum ataupun tidak melewatkan sesuatu  melalui  mulut  mulai  dari  terbitnja  matahari  sampai  ia  terbenam  lagi.  Kegembiraan  dihari  Lebaran  sama  dengan  hari  Natal.  Hari  untuk  berpesta  dan  berfitrah.  Akan  tetapi  kami  tak  pernah  berpesta  maupun  mengeluarkan  fitrah.  Karena  kami  tidak  punja  uang  untuk  itu.  Dimalam  sebelum  Lebaran  sudah  mendjadi  kebiasaan bagi kanak-kanak untuk main petasan. Semua anak-anak melakukannja dan diwaktu itupun mereka  melakukannja. Semua, ketjuali aku.

 

Dihari Lebaran lebih setengah abad jang lalu aku berbaring seorang diri dalam kamar-tidurku jang ketjil jang  hanja tjukup untuk satu tempat-tidur. Dengan hati jang gundah aku mengintip keluar arah kelangit melalui  tiga  buah  lobang-udara  jang  ketjil-ketjil  pada  dinding  bambu.  Lobang-udara  itu  besarnja  kira-kira  sebesar  batubata. Aku merasa diriku sangat malang. Hatiku serasa akan petjah. Disekeliling terdengar bunji petasan  berletusan  disela  oleh  sorak-sorai  kawankawanku  karena  kegirangan.  Betapa  hantjur-luluh  rasa  hatiku  jang  ketjil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan djalan bagaimanapun dapat membeli petasan  jang harganja satu sen itu— dan aku tidak !

 

Alangkah  dahsjatnja  perasaan  itu.  Mau  mati  aku  rasanja.  Satu-satunja  djalan  bagi  seorang  anak  untuk  mempertahankan  diri  ialah  dengan  melepaskan  sedu-sedan  jang  tak  terkendalikan  dan  meratap  diatas  tempat-tidurnja.  Aku  teringat  ketika  aku  menangis  kepada  ibu  dan  mengumpat,  ,,Dari  tahun  ketahun  aku  selalu  berharap-harap,  tapi  tak  sekalipun  aku  bisa  melepaskan  mertjon.”  Aku  sungguh  menjesali  diriku  sendiri.  Kemudian  dimalam  harinja  datang  seorang  tamu  menemui  bapak.  Dia  memegang  bungLusan  ketjil  ditangannja. ,,Ini,” katanja sambil mengulurkan bingkisan itu kepadaku. Aku sangat gemetar karena terharu  mendapat  hadiah  itu,  sehingga  hampir  tidak  sanggup  membukanja.  Isinja  petasan.  Tak  ada  harta,  lukisan  ataupun  istana  didunia  ini  jang  dapat  memberikan  kegembiraan  kepadaku  seperti  pemberian  itu.  Dan  kedjadian  ini  tak  dapat  kulupakan  untuk  selama-lamanja.  Kami  sangat  melarat  sehingga  hampir  tidak  bisa

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 12 dari 109

 

makan satu kali dalam sehari. Jang terbanjak kami makan ialah ubi kaju, djagung tumbuk dengan makanan  lain.  Bahkan  ibu  tidak  mampu  membeli  beras  murah  jang  biasa  dibeli  oleh  para  petani.  Ia  hanja  bisa  membeli padi. Setiap pagi ibu mengambil lesung dan menumbuk, menumbuk, tak henti-hentinja menumbuk  butiran-butiran berkulit itu sampai mendjadi beras seperti jang didjual orang dipasar.,,Dengan melakukan ini  aku  menghemat  uang  satu  sen,”  katanja  kepadaku  pada  suatu  hari  ketika  sedang  bekerdja  dalam  teriknja  panas  matahari  sampai  telapak  tangannja  merah  dan  melepuh.  ,,Dan  dengan  uang  satu  sen  kita  dapat  membeli  sajuran,  ‘nak.”  Semendjak  hari  itu  dan  seterusnja  selama  beberapa  tahun  kemudian,  setiap  pagi  sebelum  berangkat  kesekolah  aku  menumbuk  padi  untuk   ibuku.  Kemelaratan  seperti  jang  kami  derita  menjebabkan orang mendjadi akrab.

 

Apabila tidak ada barang mainan atau untuk dimakan, apabila nampaknja aku tidak punja apa-apa didunia  ini  selain daripada ibu, aku melekat kepadanja karena ia adalah satu-satunja sumber pelepas kepuasan hatiku.  Ia adalah ganti gula-gula jang tak dapat kumiliki dan ia adalah semua milikku jang ada didunia ini. Jah, ibu  mempunjai  hati  jang  begitu  besar  dan  mulia.  Dalam  pada  itu  bapakku  seorang  guru  jang  keras.  Sekalipun  sudah  berdjam-djam,  ia  masih  tega  menjuruhku  beladjar  membatja  dan  menulis.  ,,Hajo,  Karno,  hafal  ini  luar kepala. Ha—Na—Tja—Ra— Ka Hajo, Karno, hafal ini; A-B-C-D-E” dan terus-menerus sampai kepalaku jang  malang ini merasa sakit. Lagi-lagi kemudian,

 

,,Hajo Karno, ulangi abdjad Hajo, Karno, batja ini Karno, tulis itu ” Tapi ajahku mempunjai kejakinan,  bahwa  anaknja  jang  lahir  disaat  fadjar  menjingsing  itu  kelak  akan  mendjadi  orang.  Kalau  aku  berbuat  nakal—ini  djarang   terdjadi—dia   menghukumku   dengan   kasar.   Seperti   dipagi   itu   aku   memandjat   pohon   djambu  dipekarangan  rumah  kami  dan  aku  mendjatuhkan  sarang  burung.  Ajah  mendjadi  putjat  karena  marah.  ,,Kalau   tidak   salah   aku   sudah   mengatakan   padamu   supaja   menjajangi   binatang,”   ia   menghardik.Aku  bergontjang ketakutan. ,,Ja, Pak.”,,Engkau dapat menerangkan arti kata-kata: ‘Tat Twan Asi, Tat Twam Asi’  ?”,,Artinja  ‘Dia  adalah  Aku  dan  Aku  adalah  dia;  engkau  adalah  Aku  dan  Aku  adalah  engkau.’  “,,Dan  apakah  tidak  kuadjarkan  kepadamu  bahwa  ini  mempunjai  arti  jang  penting  ?”,,Ja,  Pak.  Maksudnja,  Tuhan  berada  dalam  kita  semua,”  kataku  dengan  patuh.  Dia  memandang  marah  kepada  pesakitannja  jang  masih  berumur  tudjuh tahun.

 

,,Bukankah   engkau   sudah   ditundjuki   untok   melindungi   machluk   Tuhan   ?”,,Ja,   Pak.”,,Engkau   dapat  mengatakan  apa  burung  dan  telor  itu  ?”,,Tjiptaan  Tuhan,”  djawabku  dengan  gemetar,  ,,tapi  dia  djatuh  karena   tidak   disengadja.   Tidak   saja   sengadja.   “Sekalipun   dengan   permintaan   ma’af   demikian,   bapak  memukul  pantatku  dengan  rotan.  Aku  seorang  jang  baik  laku,  akan  tetapi  bapak  menghendaki  disiplin  jang  keras  dan  tjepat  marah  kalau  aturannja  tidak  dituruti.  Aku  segera  mentjari  permainan  jang  tidak  usah  mengeIuarkan uang untuk memperolehnja. Dekat rumah kami tumbuh sebatang pohon dengan daunnja jang  lebar.  Daun  itu  udjungnja  ketjil,  lalu  mengernbang  lebar  dipangkalnja  dan  tangkainja  pandjang  seperti  dajung. Adalah suatu hari jang gembira bagi anak-anak, kalau setangkai daun gugur, karena ini berarti bahwa  kami mempunjai permainan. Seorang lalu duduk dibagian daun jang lebar, sedang jang lain menariknja pada  tangkai  jang  pandjang  itu  dan  permainan  ini  tak  ubahnja  seperti  eretan.  Kadang-kadang  aku  mendjadi  kadanja, tapi biasanja mendjadi kusir. Watakku mulai berbentuk sekalipun sebagai kanak-kanak.

 

 

Aku  mendjadikan  sungai  sebagai  kawanku,  karena  ia  mendjadi  tempat  dimana  anak-anak  jang  tidak  punja  dapat  bermain  dengan  tjuma-tjuma.  Dan  iapun  mendjadi  sumber  makanan.  Aku  senantiasa  berusaha  keras  untuk   menggembirakan   hati   ibu   dengan   beberapa   ekor   ikan   ketjil   untuk   dimasak.   Alasan   jang   tidak  mementingkan  diri  sendiri  demikian  itu  pada  suatu  kali  menjebabkan  aku  kena  gandjaran  tjambuk.  Hari  sudah mulai sendja. Ketika bapakku melihat bahwa hari mulai gelap dan botjah Sukarno tidak ada dirumah,  dia  menuntut  ibu  dengan  keras:  ,,Kenapa  dia  bersenang-senang  tak  keruan  begitu  lama  ?  Apa  dia.  tidak  punja  pikiran  terhadap  ibunja  ?  Apa  dia  tidak  tahu  bahwa  ibunja  akan  susah  kalau  terdjadi  ketjelakaan  ?”,,Negeri   begini   ketjil,   Pak,   tidak   mungkin   kita   tidak   mengetahui   kalau   terdjadi   ketjelakaan,”   ibu  menerangkan.  Sekalipun  demikian,  bapak  jang  agak  keras  kepala  marah  dan  ketika  aku  sedjam  kemudian  melondjak-londjak gembira pulang dengan membawa ikan kakap untuk ibu, bapak menangkapku, merampas  ikan dan semua jang ada padaku, lalu aku dirotan sedjadi-djadinja.Tetapi ibu selalu mengimbangi tindakan  disiplin itu  dengan kebaikan hatinja. Oh, aku sangat  mentjintai  ibu. Aku  berlari berlindung kepangkuan ibu  dan  dia  membudjukku.  Sekalipun  rumput-rumput  kemelaratan  mentjekik  kami,  namun  bunga-bunga  tjinta  tetap   mengelilingiku   selalu.   Aku   segera   menjadari   bahwa   kasih-sajang   menghapus   segala   jang   buruk.  Keinginan akan tjinta-kasih telah mendiadi suatu kekuatan pendorong dalam hidupku.

 

 

Disamping  ibu  ada  Sarinah,  gadis-pembantu  kami  jang  membesarkanku.  Bagi  kami  pembantu  rumah-tangga  bukanlah pelajan menurut pengertian orang barat. Dikepulauan kami, kami hidup berdasarkan azas gotong-  rojong.  Kerdjasama.  Tolong-menolong,  Gotong-rojong  sudah  mendarah-daging  dalam  djiwa  kami  bangsa  lndonesia.  Dalam  masjarakat  jang  asli  kami  tidak  mengenal  kerdja  dengan  upah.  Manakala  harus  dilakukan  pekerdjaan jang berat, setiap orang turut membantu engkau perlu mendirikan rumah ? Baik, akan kubawakan  batu  tembok;  kawanku  membawa  semen.  Kami  berdua  membantumu  mendirikannja.  ltulah  gotong-rojong.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 13 dari 109

 

Setiap orang turun tangan. Ada tamu dirumahmu achir-achir ini ? Baik, djangan kuatir, akan kuantarkan kue  kerumahmu setjara diam-diam melalui djalan belakang. Atau beras. Atau nasi-goreng. ltulah gotong-rojong.  Bantu-membantu.  Sannah  adalah  bagian  dari  rumah-tangga  kami.  Tidak  kawin.  Bagi  kami  dia  seorang  anggota keluarga kami.

 

Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa jang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat  gadji sepeserpun. Dialah jang mengadjarku untuk mengenal tjinta-kasih. Aku tidak menjinggung pengertian  djasmaniahnja  bila  aku  menjebut  itu.  Sarinah  mengadjarku  untuk  mentjintai  rakjat.  Massa  rakjat,  rakjat  djelata. Selagi ia memasak digubuk ketjil dekat rumah, aku duduk disampingnja dan kemudian ia berpidato,  ,,Karno, jang terutama engkau harus mentjintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mentjintai pula  rakjat  djelata.  Engkau  harus  mentjintai  manusia  umumnja.”  Sarinah  adalah  nama  jang  biasa.  Akan  tetapi  Sarinah  jang  ini  bukanlah  wanita  jang  biasa.  Ia  adalah  satu  kekuasaan  jang  paling  besar  dalam  hidupku.  Dimasa  mudaku  aku  tidur  dengan  dia.  Maksudku  bukan  sebagai  suami-isteri.  Kami  berdua  tidur  ditempat-  tidur  jang  ketjil.  Ketika  aku  sudah  mulai  besar,  Sarinah  sudah  tidak  ada  lagi.  Aku  mengisi  kekosongan  ini  dengan  tidur  bersama-sama  kakakku  Sukarmini  ditempat  tidur  itu  djuga.  Kemudian  aku  tidur  dengan  Kiar,  suatu tjampuran dari fox terrier dengan andjing djenis Indenesia. Aku tidak tahu pasti, akan tetapi dia bukan  djenis  jang  murni.  Orang  lslam  agaknja  tidak  menjukai  andiing,  akan  tetapi  aku  mengaguminja.  Dengan  tjaranja  sendiri  bapakku  mentjurahkan  kasih  sajangnja  kepadaku.  Ketika  aku  berumur  sebelas  tahun  aku  diserang  penjakit  thypus.  Dua  setengah  bulan  lamanja  aku  berada  diambang-pintu  kematian.  Aku  hanja  bersandar  pada  kekuatan  bapak  jang  mendorongku  untuk  hidup.  Selama  dua  setengah  bulan  penuh  bapak  tidur  dibawah  tempat-tidur  bambuku.  Ia  berbaring  diatas  lantai  semen  jang  lembab,  dialas  dengan  tikar  pandan  jang  tipis  dan  lusuh,  tepat  dibawah  bilah-bilah  tempat-tidurku.Sepandjang  hari  dan  sepandjang  malam  selama  dua  setengah  bulan  bapak  berbaring  dibawahku.  Bukan  karena  ia  tidak  dapat  memperoleh  tempat barang setumpak untuk menjelip dalam kamarku jang sempit itu.

 

Tidak. Ini dilakukannja karena kepertjajaan mistik bapak. Ia hendak mendota terus, memohon siang-malam  agar  aku  diselamatkan  dan  memohon  agar  aku  mendapat  keLuatan-kekuatan  dari  Jang  MahaKuasa.  Akan  tetapi  supaja  kekuatan  mistiknja  dapat  memberikan  manfa’at  setjara  penuh,  jang  ditjurahkannja  langsung  dari  badannja  keseluruh  tubuhku,  maka  ia  harus  berbaring  dibawahku.  Tempat  ajah  berbaring  itu  hanja  beberapa  kaki,  gelap,  lembab  dengan  udaranja  jang  tidak  enak  dan  menjesakkan,  siang  dan  malam  sama  sadja dan disanalah ia selama itu menelentang hingga aku sehat sama sekali.Sewa rumah kami sangat murah,  karena  letaknja  kerendahan,  dekat  sebuah  kali.  Kalau  musim  hudjan  kali  itu  meluap,  membandjiri  rumah  dan   menggenangi   pekarangan   kami.   Dan   dari   bulan   Desember   sampai   April   kami   selalu   basah.   Air  menggenang jang mengandung sampah dan lumpur inilah jang mendjangkitkan penjakit thypusku.Setelah aku  sehat  kembali  kami  pindah  ke  Djalan  Residen  Pamudji.  Rumah  ini  tidak  lebih  baik  keadaannja,  akan  tetapi  setidak-tidaknja  ia  kering.  Kamar-kamarnja  melalui  ruangan  gelap  jang  pandjang.  Jang  paling  ketjil  adalah  kamarku,  jang  mempunjai  djendela  atap  sebagai  ganti  lobang-udara.  Untuk  memperoleh  uang  tambahan  beberapa  sen  kami  menerima  orang  bajar-makan;  tiga  orang  gurubantu  dari  sekolah  bapak  dan  dua  orang  kemenakan seumurku.

 

 

Nama  kelahiranku  adalah  Kusno.  Aku  memulai  hidup  ini  sebagai  anak  jang  penjakitan.  Aku  mendapat  malaria,  disenteri,  semua  penjakit  dan  setiap  penjakit.  Bapak  menerangkan,  ,,Namanja  tidak  tjotjok.  Kita  harus memberinja  nama lain supaja  tidak  sakit-sakit  lagi.”Bapak  adalah  seorang  jang  sangat  gandrung  pada  Mahabharata,  tjerita  klasik  orang  Hindu  djaman  dahulu  kala.  Aku  belum  mentjapai  masa  pemuda  ketika  bapak  menjampaikan  kepadaku  ,,Kus,  engkau  akan  kami  beri  nama  Karna.  Karna  adalah  salah-seorang  pahlawan  terbesar  dalam  tjerita  Mahabharata.”  ,,Kalau  begitu  tentu  Karna  seorang  jang  sangat  kuat  dan   sangat  besar,”  aku  berteriak  kegirangan.,,Oh,  ja,  nak,”  djawab  bapak  setudju.  ,,Djuga  setia  pada  kawan-  kawannja   dan   kejakinannja,   dengan   tidak   mempedulikan   akibatnja.   Tersohor   karena   keberanian   dan  kesaktiannja.  Karna  adalah  pedjoang  bagi  negaranja  dan  seorang  patriot  jang  saleh.”,,Bukankah  Karna  berarti djuga ‘telinga ?” aku bertanja agak kebingungan,,Ja, pahlawan-perang ini diberi nama itu disebabkan  kelahirannja. Dahulu kala, sebagaimana dikisahkan oleh Mahabharata, ada seorang puteri jang tjantik. Pada  suatu hari,  selagi bermain-main  dalam taman, puteri Kunti terlihat oleh  Surja Dewa Matahari.  Batara Surja  hendak   bertjinta-tjintaan  dengan  puteri   itu,  oleh   sebab  itu   dia  memeluk  dan   membudjuknja  dengan  keberanian dan tjahaja panasnja.

 

 

Dengan   kekuatan   sinar   tjintanja,   puteri   itupun   mengandung   sekalipun   masih   perawan.   Sudah   tentu  perbuatan  Dewa  Matahari  terhadap  perawan  jang  masih  sutji  itu  diluar  perikemanusiaan  dan  menimbulkan  persoalan  besar  baginja.  Bagaimana  tjaranja  mengeluarkan  baji  tanpa  merusak  tanda  keperawanan  puteri  itu.   Dia  tidak  berani  memetik  gadis  itu  dengan  memberikan  kelahiran  setjara  biasa.  Apa  akal  ………  Apa  akal  Ah,  persoalan  jang  sangat  besar  bagi  Batara  Surja.  Achirnja  dapat  dipetjahkannja,  dengan  melahirkan  baji  itu  melalui  telinga  sang  puteri.  Djadi,  karena  itulah  pahlawan  Mahabharata  itu  dinamai  Karna  atau  ‘telinga’.”  Sambil  memegang  bahuku  dengan  kuat  bapak  memandang  djauh  kedalam  mataku.  ,,Aku  selalu  berdo’a,”  dia  menjatakan,  ,,agar  engkaupun  mendjadi  seorang  patriot  dan  pahlawan  besar  dari  rakjatnja.

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 14 dari 109

 

Semoga engkau mendjadi Karna jang kedua.” Nama Karna dan Karno sama sadja. Dalam bahasa Djawa huruf  ,,A” mendjadi ,,O”. Awalan ,,Su” pada kebanjakan nama kami berarti baik, paling baik.

 

Djadi  Sukarno  berarti  pahlawan  jang  paling  baik.  Karena  itulah  maka  Sukarno  mendjadi  namaku  jang  sebenarnja dan satu-satunja. Sekali ada seorang wartawan goblok jang menulis, bahwa nama awalku adalah  Ahmad. Sungguh menggelikan. Namaku hanja Sukarno sadja. Memang dalam masjarakat kami tidak luar biasa  untuk  memakai  satu  nama  sadja.  Waktu  disekolah  tanda-tanganku   diedja  Soekarno—  menurut  edjaan  Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan supaja segala edjaan ,,OE” kembali ke ,,U”. Edjaan  dari  perkataan Soekarno sekarang mendjadi Sukarno. Akan tetapi, tidak mudah untuk merobah tanda-tangan  setelah berumur 50 tahun djadi kalau aku sendiri menulis tanda-tanganku, aku masih menulis S-O-E. Memang  aku  penjakitan  diwaktu  ketjil.  Dan  sekalipun  umpamanja  tidak  ada  penjakit  jang  diderita  oleh  baji  Kusno-  Karno,  beban  untuk  memberi  makan  dua  orang  anak  masih  terlalu  berat  bagi  bapak.  Seringkali  kami  harus  bergantung kepada kebaikan dan keramahan dari tetangga kami. Keluarga Munandar menempati rumah jang  serangkai  dengan  kami.  Menurut  tjara  Djawa  jang  sebenarnja,  kalau  kami  tidak  punja  beras,  kami  makan  punja mereka. Kalau kami tidak ada pakaian, kami pakai mereka punja. Sewaktu aku berumur sekitar empat-  lima tahun nenekku dari pihak bapak hendak membawaku ketempatnja.

 

 

,,Berikanlah  anak  itu  kepadaku  untuk  sementara,”  katanja.  ,,Aku  akan  mendjaganja.”  Dan  begitulah  aku  tinggal  di  Tulungagung jang letaknja tidak djauh  dari Modjokerto. Nenekku tidak kaja. Siapa  diantara kami  jang kaja diwaktu itu ? Tapi memang ada djuga jang sedikit berada. Nenek berdagang batik, djadi setidak-  tidaknja dia sanggup memberiku makan. Kakek dan nenek kedua-duanja mengatakan bahwa aku mempunjai  kekuatan-kekuatan  gaib.  Bilamana  ada  orang  sakit  dikampung  itu  atau  mendapat  luka  jang  terasa  sakit,  nenek  selalu  memanggilku  dan  dengan  lidah  aku  mendjilat  bagian  dimana  terasa  sakit.  Anehnja,  sisakit  mendjadi  sembuh.  Nenekpun  menduga  bahwa  aku  dapat  melihat  apa-apa  jang  gaib,  akan  tetapi  lintasan-  lintasan  penglihatan  galb  itu  menghilang  ketika  aku  mulai  menemukan  kekuatan  pidatoku  terhadap  rakjat.  Nampaknja,  apa  jang  disebut  kekuatan  ini  kemudian  tersalur  kearah  lain,  Pendeknja,  sesudah  berumur  17  tahun   aku   tak   pernah   lagi   memperoleh   penglihatan   setjara   ilmu   kebatinan.   Watakku   tidak   berobah  sedikitpun  selama  hampir  enam  dasawarsa.  Dalam  umur  tudjuh  tahun  aku  sudah  mendjadi  seorang  pemuja  seni.  Aku  memudja  Mary  Pickford,  Tom  Mix,  Eddie  Polo,  Fatty  Arbuckle,  Beverly  Bayne  dan  Francis  X.  Bushman.  Setiap  bungkus  rokok  Westminster  keluaran  Inggris  berisi  gambar  dari  seorang  bintang  sebagai  hadiah.  Aku  mengumpulkan  bungkus-  bungkus  rokok  jang  sudah  terbuang  dan  menempelkan  pahlawan-  pahlawan jang kupudja itu didinding. Aku mendjaga kumpulan ini dengan njawaku. Ini adalah harta-milikku  sendiri jang pertama.

 

Pada  waktu  berumur  10  tahun  djagoan  Karno  sudah  ternjata  mempunjai  kemauan  jang  keras.  Dengan  kekuatan  pribadiku  aku  mendjadi  tokoh  jang  berkuasa  setiap  kali  berkumpul.  Bahkan  keluargaku  sendiri  berkumpul mengelilingiku dan aku mendjadi pusat perhatian. Pada hari ulang-tahunku jang keduabelas, aku  sudah  mempunjai  pasukan.  Dan  aku  memimpin  pasukan  ini.  Kalau  Karno  bermain  djangirik  dalam  debu  dilapangan  Modjokerto,  jang  lain-lainpun  turut  main.  Kalau  Karno  mengumpulkan  perangko,  mereka  djuga  mengumpulkan. Mereka menamakanku seorang ,,djago” Aku mempunjai sebuah sumpitan jang kuperoleh dari  seorang   kawan.   Kami   menempatkan   bambu   jang   pandjang   dan   berlobang   ketjil   ini   kemulut   dan  menembakkan katjang kearah sasaran. Tentunja si Karno mendjadi djago penjumpit. Kalau kami memandjat  pohon, aku memandjat lebih tinggi dari jang lain. Dan akupun djatuh paling keras pula daripada anak-anak  lain. Akupun lebih sering melukai kepalaku dari jang lain.

 

Tapi setidak-tidaknja tak ada orang jang dapat mengatakan, bahwa aku tidak mentjobanja. Nasibku adalah  untuk  menaklukkan,  bukan  untuk  ditaklukkan,  sekalipun  pada  waklu  ketjilku.  Dalam  permainan  adu  gasing  ada  sebuah  gasing  kepunjaan  kawan  jang  berputar  lebih  tjepat  daripada  kepunjaanku.  Kupetjahkan  siluasi  itu  dengan  berpikir  tjepat  ala  Sukarno  kulemparkan  gasing  itu  kedalam  kali.  Bagaimanapun  djuga,  ada  permainan  dimana  seorang  anak  bangsa  Indonesia  dari  djamanku  tidak  dapat  menundjukkan  keahliannja.  Misalnja  Perkumpulan  Sepakbola.  Aku  bukan  hanja  tidak  bisa  mendjadi  ketuanja,  bahkan  aku  tidak  dapat  lama  mendjadi  anggotanja.  Anggota  jang  lain  adalah  anak-anak  Belanda  jang  terus-terang  tidak  senang  padaku.  Anak  Belanda  tidak  pernah  bermain  dengan  anak  Bumiputera.  Ini  tidak  bisa.  Mereka  orang  Barat  jang  putih  seperti  saldju,  jang  asli,  jang  baik  dan  mereka  memandang  rendah  kepadaku  karena  aku  anak  Bumiputera atau ,,inlander”. Bagiku Perkumpulan Sepakbola itu merupakan pengalaman pahit jang membikin  hati luka didalam. Anak-anak jang berambut djagung mendjaga kedua sisi dari pintu masuk sambil berteriak,  ,,Hei  ………  kauuuu  Bruine  Hei,  anak  kulit  tjoklat  goblok  jang  malang  …..Bumiputera  ……….inlander

 

……….anak  kampung  Hei,  kamu  lupa  memakai  sepatu…………”  Sedangkan  baji-baji  pirang  sudah  tahu  meludah  kepada  kami.  Begitu  mereka  keluar  dari  kain-bedung  orok,  inilah  pengadjaran  pertama  jang  diadjarkan  orangtuanja  kepada  mereka.  Dipagi  hari  aku  bergembira,  karena  aku  bersekolah  disekolah  Bumiputera, dirnana kami semua sama.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 15 dari 109

 

Kami  semua  tigapuluh  orang  murid  di  Inlandsche  School  kelas  dua.  Bapakku  mendjadi  Mantri  Guru  jang  berarti kepala sekolah. Orang Bumiputera dilarang memakai pangkat Kepala Sekolah. Diwaktu itu belum ada  bahasa  Indonesia  persatuan.  Sampai  kelas  tiga  setiap  murid  berbitjara  dalam  bahasa  Djawa  sebagai  bahasa  daerah.  Dari  kelas  tiga  sampai  kelas  iima  guru  memakai  bahasa  Melaju,  bahasa  Melaju  asli  jang  telah  tersebar  keselurah  bagian  dari  Hindia  Belanda  dan  achirnja  mendjadi  dasar  bagi  bahasa  nasional  kami,  bahasa  Indonesia.  Dua  kali  seminggu  kami  diadjar  bahasa  Belanda.Ketika  aku  naik  kekelas  lima,  bapak  menerangkan  maksudnja.  ,,Tjita-tjitaku  hendak  mengirim  kau  kesekolah  tinggi  Belanda,”  katanja.  ,,Karena  itu, usaha kita jang pertama ialah memasukkan engkau kesekolah rendah Belanda. “Karena teringat kembali  akan pengalamanku di Perkumpulan Sepakbola aku bertanja, ,,Apakah saja tidak dapat meneruskan sekolah  Bumiputera ?”,,Pendidikan Bumiputera hanja sampai kelas lima.

 

Tidak  ada  landjutannja  buat  kita.  Kita  tidak  boleh  masuk  Sekolah  Menengah  Belanda  kalau  tidak  keluaran  Sekolah Rendah Belanda dan tanpa idjazah ini orang tidak bisa masuk Sekolah Tinggi Belanda.”,,Apakah saja  bisa masuk kesana berdasarkan kepandaian ?” aku bertanja dengan perasaan kuatir.,,Kau masuk dengan hak  istimewa.   Pegawai   Gubernemen   dan   orang   kelahiran   bangsawan   diberi   kesempatan   untuk   menikmati  pendidikan Belanda. Jang lain tidak.”Mengingat keadaan kami aku bertanja, ,,Apakah tjuma-tjuma ?”,,Mana  bisa.   Kita   mesti   membajar   uang   sekolah.”,,Belanda   djuga?”,,Tidak,   mereka   bebas.   Akan   tetapi   dalam  pendjadjahan  tak  seorangpun  dapat  mentjapai  suatu  kedudukan  tanpa  pendidikan  Belanda.  Kita  harus  madju.  Aku  akan  menemui  Kepala  Sekolah  Rendah  Belanda  untuk  mengadjukan  permohonan.”Gedung  itu  bagus terbuat dari kaju, bukan bambu seperti sekolah kami dan dinding luarnja berwarna biru-muda. Disitu  terdapat  tudjuh  kelas.  Berlainan  dengan  medja  kami  di  Sekolah-Bumiputera,  maka  bangku-bangku  disini  mempunjai tempat tinta dan latji untuk buku.

 

 

Setelah  aku  menempuh  udjian,  Kepala  Sekolah  memberitahukan  kepada  bapak,  ,,Anak  tuan  sangat  pintar,  akan  tetapi  bahasa  Belandanja  belum  tjukup  baik  untuk  kelas  enam  Europeesche  Lagere  School.  Kami  terpaksa  mendudukkannja  satu  kelas  lebih  rendah.  “Ketika  kami  pergi  kami  merasa  sangat  tertekan.  Bapak  mengeluh.  ,,Ini  suatu  pukulan  jang  hebat  bagi  kita.  Tapi  walaupun  bagaimana,  tidak  ada  djalan  lain  lagi.”,,Umur  saja  sudah  empatbelas,”  aku  memprotes.  ,,Terlalu  tua  untuk  kelas  lima.  Tentu  orang  mengira  saja  tinggal  kelas  karena  bodoh.  Saja  tentu  diberi  malu.”,,Baiklah,”  bapak  memutuskan  disaat  itu  djuga,  ,,Kalau  perlu  kita  membohong.  Akan  kita  kurangi  umurmu  satu  tahun  Kalau  sudah  mulai  tahun-peladjaran  baru  engkau  didaftarkan  dengan  umur  tiga-belas.”Masih  ada  satu  persoalan  mengenai  bahasa  Belandaku.  Sekalipun kami orang jang tidak mampu, bapak mengambil seorang guru jang mengadjar bahasa Belanda di  Europeesche Lagere School ini untuk memberikan peladjaran chusus kepadaku sedjam setiap hari. Aku ingat  betul  namanja.  Juffrouw  M.P.  De  La  Riviere.  M.P.  kependekan  dari  Maria  Paulina.  Katakanlah,  bahwa  ia  orang  jang  paling  tidak  menarik  didunia  ini  dibandingkan  dengan  perempuan  lain  dan  karena  itu  ia  tetap  melekat  dalam  pikiranku.  Tjara  jang  paling  baik  untuk  menerangkan  arti  daripada  pendidikan  barat—dan  bagaimana  bapak  telah  bersusah-pajah  mengorbankan  uang,  prinsip  dan  segala  sesuatu  untuk  itu—- ialah  dengan  menghubungkannja  dengan  kisah  pertjintaanku  jang  pertamakali.  Aku  berumur  empatbelas  tahun  dan tidak ragu lagi hatiku jang muda ini telah tertambat pada Rika Meelhuysen, seorang gadis Belanda. Rika  adalah  gadis  pertama  jang  kutjium.  Dan  harus  kuakui,  bahwa  aku  sangat  gugup  waktu  itu.  Sedjak  itu  aku  lebih   ahli   dalam   hal   itu.Tapi,   aduh,  aku   mentjintai   gadis   itu   mati-matian   dan   kuikuti   turun   naiknja  gelombang   irama   dari   seluruh   kehidupan   anak   sekolah.   Aku   membawakan   buku-bukunja,   aku   dengan  sengadja  berdjalan  melalui  rumahnja,  karena  mengharapkan  sekilas  pandang  dari  dia.  Dan  nampaknja  aku  selalu  setjara  kebetulan  berada  dimana  dia  ada.  Tjintaku  ini  kusimpan  dalam  kalbuku  sendiri.  Aku  takut  mengutjapkan  sepatah  kata,  karena  takut  ketahuan  oleh  orangtuaku.  Aku  jakin,  bahwa  bapak  akan  sangat  marah  kepadaku  kalau  sekiranja  ia  mendengarku  bergaul  dengan  anak  gadis  kulitputih.  Sunggubpun  aku  sangat   ingin   menjampaikan   sesuatu   tentang   hal   itu   kepadanja,   ketakutan   terhadap   kemarahannja  menjebabkan  kata-kataku  membeku  dikerongkongan.  Karena  itu,  keinginan  jang  menjala-njala  ini  hanja  kupertjajakan kepada diriku jang sedang dimabuk kepajang.

 

 

Pada  suatu  sore  aku  berdjalan-djalan  naik  sepeda  dengan  Rika  Meelbuysen  dan  ketika  membelok  diudjung  djalan  gang  kami  tepat  menubruk  bapak.  Aku  mulai  menggigil  karena  takut.  Dia  bersikap  hormat,  tapi  aku  sangat kuatir akan apa jang akan menjusul nanti kalau aku sudah sampai dirumah. Inilah aku, putera bapak  satu-satunja,  jang  bertjinta-tjintaan  dengan  orang  Belanda  jang  dibentji.  Sedjam  kemudian  aku  menjusup  masuk rumah dalam keadaan masih tergontjang. Bapak segera mendekatiku dan berkata, ,,Nak, djangan kau  takut  tentang  perasaanku  terhadap  teman  perempuanmu  itu.  Itu  baik  sekali.  Pendeknja,  hanja  dengan  djalan  itu  engkau  dapat  memperbaiki  bahasa  Belandarnu  !”  Ketika  datang  waktunja  untuk  masuk  sekolah  menengah,  bapak  sudah  tahu  apa  jang  harus  dikerdjakannja.  Ia  menggunakan  pengaruh  kawan-  kawannja  untuk  memasukkanku  kesekolah  menengah  jang  tertinggi  di  Djawa  Timur,  jaitu  Hogere  Burger  School  di  Surabaja.,,Nak,” katanja, ,,Maksud ini sudah ada dalam pikiranku semendjak kau dilahirkan kedunia.” Semua  telah  diaturnja  dan  aku  akan  tinggal  dirumah  H.O.S.  Tjokroaminoto,  ialah  orang  jang  kemudian  merobah  seluruh  kehidupanku.,,Tjokro,”  ia  menerangkan  padaku,  ,,Adalah  kawanku  di  Surabaja  sedjak  sebelum  kau  ada.”,,0,”  kataku  gembira,  ,,Saja  kira  dia  keluarga  kita.”  ,,Tidak,”  djawab  bapak.  ,,Oo,  barangkali  mungkin

 

 

keluarga   jang   sangat   djauh,   tapi   tidak

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

 

serapat

 

seorang

 

kemenakan

 

atau

 

paman.”

 

Kemudian   bapak

 

Halaman 16 dari 109

 

memandang   kepadaku   sesaat.   ,,Kautahu   siapa   Tjokro?”   ,,Saja   hanja   tahu,   dia   berkeliling   untuk  mempropagandakan  kejakinan  politiknja.  Saja  ingat  dia  datang  kekampung  kita  untuk  mengadakan  pidato  dan  menginap,  bapak  dengan  dia  mengobrol  sampai  waktu  subuh.”  ,,Tjokro  adalah  pemimpin  politik  dari  orang Djawa.

 

Sungguhpun  engkau  akan  mendapat  pendidikan  Belanda,  aku  tidak  ingin  darah  dagingku  mendjadi  kebarat-  baratan. Karena itu kau kukirim kepada Tjokro, orang jang didjuluki oieh Belanda sebagai ‘Radja Djawa jang  tidak  dinobatkan.  Aku  ingin  supaja  kau  tidak  melupakan,  bahwa  warisanmu  adalah  untuk  mendjadi  Karna  kedua.”  Aku  tidak  membawa  apa-apa  ketika  berangkat  ke  Surabaja.  Tak  ada  barang  untuk  dibawa.  Satu-  satunja jang mengikuti kepergianku adalah sebuah tas ketjil dengan pakaian sedikit. Bapak menundjuk salah   seorang  guru  untuk  mengiringi  perdjalananku  dikereta-api  jang  lamanja  enam  djam  itu.  Tidak  dirajakan,  tidak  dipestakan  kepergianku  itu.  Jang  kuingat  hanja  bahwa  aku  menangis  getir.  Aku  meninggalkan  rumah.  Aku   meninggalkan   ibu.   Aku   baru   seorang   anak   15   tahun   jang   masih   takut-takut.   Dipagi   itu,   dihari  keberangkatanku   ibu   melepasku   dengan   peringatan   bahwa   aku   tidak   lagi   akan   kembali   untuk   tinggal  bersama-sama  dengan  mereka.  Didepan   rumah  kami  dia  memerintahkan,  ,,Berbaringlah  ditanah,  nak.  Berbaring  sadja  biarpun  kotor.”  Kemudian  ibu  melangkahi  badanku  pulang-balik  sampai  tiga  kali.  lni  sesuai  dengan kepertjajaan menurut ilmu kebatinan. Dengan melangkahi anaknja dengan tubuhnja sendiri darimana  sianak  dilahirkan  dan  jang  mengandung  kekuatan  kekuatan  sakti  dari  kehidupan,  berarti   bahwa  sianak  mendapat restu dari ibunja untuk selama-lamanja. Seakan-akan ia berkata setiap kali, ,,Anak ini berasal dari  kandunganku dan kuberkati dia.”Kemudian dia menjuruhku bangkit. Sekali lagi ia memutar badanku arah ke  Timur dan berkata dengan sungguh-sungguh, ,,Djangan sekali-kali kaulupakan, anakku, bahwa engkau adalah  putera sang fadjar.”

 

 

Bab 4

 

Surabaja: Dapur Nasionalisme

 

DARI  djenis  binatang  prasedjarah  jang  digali  dikepulauan  kami,  ahli-ahli  purbakala  membuktikan  bahwa  setengah  djuta  tahun  jang  lalu  pulau  Djawa  sudah  didiami  orang.  Kebudajaan  kami  adalah  kebudajaan  purba.  Bukalah  buku  Ramayana.  Didalamnja  orang  akan  membatja  keterangan  mengenai  ,,Negeri  Suarna  Dwipa jang mempunjai tudjuh buah keradjaan besar”. Suarna Dwipa, jang berarti pulau-pulau emas, adalah  nama negeri kami pada waktu ia diabadikan dalam tjerita-tjerita klasik Hindu duaribu limaratus tahun jang  lalu.Dari  abad  kesembilan  ketika  negeri  kami  bernama  Keradjaan  Sriwidjaja  sampai  abad  keempatbeias  waktu   negeri   kami   bernama   Madjapahit,   kami   punja   ,,negeri   jang   terkenal   makmur   telah   mentjapai  tingkatan ilmu jang demikian tinggi sehingga mendjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh dunia-beradab”.  Demikianlah   keterangan   jang   terdapat   dalam   surat-surat-gulung-perkamen   jang   berharga   dari   negeri  Tiongkok dan menurut dugaan adalah bibit dari kebudajaan seluruh Asia. Negeri kami masih tersohor dalam  lingkungan  internasional  ketika  Christopher  Columbus  mentjari  kepulauan.  Rempah-rempah  gugusan  pulau-  pulau  jang  sekarang  kita  namakan  Kepulauan  Maluku.  Seumpama  Columbus  tidak  berlajar  mentjari  djahe,  buah-pala,  lada  dan  tjengkeh  kami  dan  tidak  sesat  pula  didjalan,  tentu  dia  tidak  akan  menemukan  benua  Amerika.  Ketika  djalan  laut  menudju  Hindia  achirnja  ditemukan  orang,  modal  asing  mengerumuni  pantai  kami,  seperti  semut  mengerumuni  tempat  gula.  Dari  Lisboa  datanglah  Vasco’da  Gama.  Dari  negeri  Belanda  Cornelis de Houtman: Ini merupakan titik-tanda dimulainja ,,Revolusi Perdagangan” di Eropa.

 

 

Kapitalisme  ini  tumbah  hingga  ia  mengenjangkan  lapangan  eksploitasi  dalam  masjarakat  mereka  sendiri.  Barang-barang jang sebelumnja diimpor dari Timur, sekarang sudah diekspor ke Timur; djadi Timur mendjadi  pasar-pasar  tambahan  untuk  barang-barang  berlebih.  Daerah  Timur  mendjadi  suatu  pasar  untuk  modal  berlebih   jang   tidak   lagi   bisa   memperoleh   djalan   keluar.   Liberalisme   dalam   ekonomi   lalu   membawa  Liberalisme  dalam  politik.  Untuk  mengendalikan  ekonomi  dari  negara  lain,  terlebih  dulu  negara  itu  harus  ditaklukkan.  Pedagang  pedagang  mendjadi  penakluk;  bangsa-bangsa  Asia-Afrika  didjadjah  dan  kelobaan  ini  membuka  pintu  kepada  djaman  Imperialisme.  Djawa  diduduki  diabad  ke  16;  Maluku  diabad  ke  17  dan  lambatlaun  Negeri  Belanda  menguasai  kepulauan  kami  setjara  berturut-turut  hingga  ke  Bali  jang  baru  dikuasai   ditahun   1906.   Dengan   tjepat   kekuasaan   asing   menanamkan   akar-akarnja.   Mereka   mengambil  kekajaan  kami,  mengikis  kepribadian  kami  dan  musnalah  Putera-puteri  harapan  bangsa  dari  suatu  Bangsa  jang  Besar  jang  pandai  melukis,  mengukir,  membuat  lagu,  mentjiptakan  tari.  Kami  tidak  lagi  dikenal  oleh  dunia   luar,  ketjuali   oleh   penghisap-penghisap  dari  Barat   jang  mentjari  kemewahan  di  Hindia.  Akibat  daripada  Imperialisme  sungguh  djahat  sekali.  Orang  laki-laki  diambil  dari  rumahnja  dan  dipaksa  mendjadi  budak  dipulau-pulau  jang  djauh,  dimana  terdapat  kekurangan  tenaga  manusia.  Perempuan-perempuan  dipaksa bekerdja dikebun tarum dan mereka tidak boleh menghentikan pekerdjaannja, sekalipun melahirkan  pada waktu menanam. Tempe adalah bungkah jang lunak dan murah terbuat dari katjang kedele jang diberi  ragi.  Negeri  tempe  berarti  negeri  jang  lemah.  Itulah  kami  djadinja.  Kami  terus-menerus  dikatakan  sebagai  bangsa  jang  mempunjai  otak  seperti  kapas.  Kami  mendjadi  pengetjut;  takut  duduk,  takut  berdiri,  karena  apapun  jang  kami  lakukan  selalu  salah.  Kaml  mendiadi  rakjat  seperti  dodol  dengan  hati  jang  ketjil.  Kami

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 17 dari 109

 

lemah seperti katak dan lembut seperti kapok. Kami mendjadi suatu bangsa jang hanja dapat membisikkan,  ,,Ja  tuan”Sampai  sekarang  orang  Indonesia  masih  terbawa-bawa  oleh  sifat  rendah  diri,  jang  masih  sadja  mereka  pegang  teguh  setjara  tidak  sadar.  Hal  itu  menjebabkan  kemarahanku  baru-baru  ini.  Wanita-wanita  dari kabinetku selalu menjediakan djuadah makanan Eropa. ,,Kita mempunjai penganan enak kepunjaan kita  sendiri,” kataku dengan marah.

 

,,Mengapa  tidak  itu  sadja  dihidangkan  ?”  ,,Ma’af,  Pak,”  kata  mereka  dengan  penjesalan  ,,Tentu  bikin  maIu  kita  sadja.  Kami  rasa  orang  Barat  memandang  rendah  pada  makanan  kita  jang  melarat.”  Ini  adalah  suatu  pemantulan  kembali  dan  pada  djaman  dimana  Belanda  masih  berkuasa.  Itulah  perasaan  rendah-diri  kami  jang  telah  berabad-abad  umurnja  kembali  memperlihatkan  diri.  Edjekan  jang  terus-menerus  dipompakan  oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidak-mampuan kami, menjebabkan kami jakin akan hal tersebut.  Dan  kejakinan  bahwa  engkau  bangsa  jang  hina,  lagi  bodoh  adalah  suatu  sendjata  jang  ada  dalam  tangan  pendjadjah.   lmperialisme   adaIah   kumpulan   kekuatan   djahat   jang   nampak   dan   jang   tidak   nampak.  Penindasan jang sudah demikian lama dirasakan menjebabkan bangkitnja suatu masa para pelopor. Sun Yat  Sen  mendirikan  Gerakan  Nasional  Tiongkok  ditahun  1885.  Kongres  Nasional  India:  ditahun  1887.  Aguinaldo  dan Rizal membangkitkan Filipina. ditahun-tahun permulaan abad ke-20.

 

Seluruh  Asia  bangkit  dan  diabad  keduapulah  jang  megah  ini,  dalam  mana  isolasi  tidak  akan  terdjadi  lagi,  maka  bangsa  Indonesia  jang  lemah  dan  pemalu  itupun  dapat  merasakan  gelora  daripada  kebangkitan  ini.  Dalam bulan Mei 1908 para pemimpin di Djawa menjusun partai nasional jang pertama dengan nama ,,Budi  Utomo”,  jang  artinja  ,,Usaha  jang  Sutji”.  Ditahun  1912  organisasi  ini  memberi  djalan  kepada  Sarekat  Islam  jang  mempunjai  anggota  sebanjak  dua-setengah  djuta  orang  dibawah  pimpinan  H.O.S.  Tjokro  Aminoto.  Bangsa  Indonesia  jang  menderita  setjara  perseorangan  sekarang  mulai  menjatukan  diri  dan  persatuan  nasional mulai tersebar. Ia lahir di Djakarta,.akan tetapi sang baji baru pertamakali melangkahkan kakinja di  Surabaja.  Ditahun  1916  maka  Surabaja  merupakan  kota  pelabuhan  jang  sangat  sibuk  dan  ribut,  lebih  menjerupai  kota  New  York.  PeIabuhannja  baik  dan  mendjadi  pusat  perdagangan  jang  aktif.  Ia  mendjadi  suatu  kota  industri  jang  penting  dengan  pertukaran  jang  tjepat  dalam  perdagangan  gula,  teh,  tembakau,  kopi.  Ia  mendjadi  kota  tempat  perlombaan  dagang  jang  kuat  dan  orang-orang  Tionghoa  jang  tjerdas  ditambah  dengan  arus  jang  besar  dan  para  pelaut  dan  pedagang  jang  membawa  berita-berita  dari  segala  pendjuru  dunia.  Penduduknja  semakin  bertambah,  terdiri  dari  pekerdja  pelabuhan  dan  peketdja  bengkel  jang masih muda-muda dan jang bersemangat menjala-njala.la mendjadi kota dimana bergolak persaingan,  pemboikotan,   perkelahian   didjalan-djalan.   Kota   itu   bergolak   dengan   ketidak-puasan   dari   orang-orang  revolusioner.  Ketengah-tengah  kantjah  jang  mendidih  demikian  itulah  seorang  anak-ibu  berumur  15  tahun  masuk dengan mendjindjing sebuah tas ketjil.

 

 

Keluarga  Tjokroaminoto  terdiri  dari  enam  orang.  Jaitu  Pak  dan  Bu  Tjokro,  anak-anaknia  Harsono  jang  12:tahun  lebih  muda  daripadaku,  Anwar  10  tahun  lebih  muda,  puteri  mereka  Utari  lima  tahun  lebih  muda  dan  seorang  baji  ,  Pak  Tjokro  semata-mata  bekerdja  sebagai  Ketua  Sarekat  Islam  dan  penghasilannja  tidak  banjak. Dia tinggal dikampung jang penuh sesak tidak djauh dari sebuah kali. Menjimpang dari djalanan jang  sedjadjar dengan kali itu ada sebuah gang dengan deretan rumah dikiri-kanannja dan ia terlalu sempit untuk  djalan  mobil.  Gang  kami  namanja  Gang  7  Peneleh.  Pada  seperempat  djalan  djauhnja  masuk  kegang  itu  berdirilah  sebuah  rumah  buruk  dengan  paviljun  setengah  melekat.  Rumah  itu  dibagi  mendjadi  sepuluh  kamar-kamar ketjil, termasuk ruang loteng.

 

Keluarga  Pak  Tjokro  tinggal  didepan;  kami  jang  bajar-makan  dibelakang.  Sungguhpun  semua  kamar  sama  melaratnja,  akan  tetapi  anak-anak  jang  sudah  bertahun-tahun  bajar  makan  mendapat  kamar  jang  namanja  sadja  lebih  baik.  Kamarku  tidak  pakai  djendela  samasekali.  Dan  tidak  berpintu.  Didalam  sangat  gelap,  sehingga  aku  terpaksa  menghidupkan  lampu  terus-menerus  sekalipun  disiang  hari.  Duniaku  jang  gelap  ini  mempunjai sebuah medja gojah tempatku menjimpan buku, sebuah korsi kaju, sangkutan badju dan sehelai  tikar  rumput.  Tidak  ada  kasur.  Dan  tidak  ada  bantal.  Surabaja  diwaktu  itu  sudah  menikmati  kemegahan  lampu  listrik.  Setiap  kamar  mempunjai  fitting  dan  setiap  pembajar-makan  membajar  ekstra  untuk  lampu.  Hanja  kamarku  jang  tidak  punja.  Aku  tidak  punja  uang  untuk  membeli  bolanja.  Aku  beladjar  sampai  djauh  malam  dengan  memakai  pelita.  Bahkan  akupun  tidak  mampu  membeli  kelambu  untuk  menutupi  balai-balai  dan  supaja  terhindar  dari  njamuk.  Kamar  itu  ketjil  seperti  kandang-ajam.  Tidak  ada  udara  segar  dan  mendjadi  sarang  serangga.  Akan  tetapi  karena  tak  ada  orang  lain  jang  mau  tinggal  denganku  dikamar  jang  gelapi itu, maka setidak-tidaknja aku dapat memilikinja untuk diriku sendiri.

 

 

Sewanja  11  rupiah,  termasuk  makan.  Atau  setjara  perhitungan  kasarnja  empat  dollar  sebulan.  Bapak  mengirimiku  uang  duabelas  rupiah  setengah,  dengan  sisanja  limapuluh  sen  untuk  uang-saku.  Ditahun  1917  bapak  dipindahkan  ke  Blitar.  Karena  pemindahan  ini  merupakan  kenaikan  djabatan,  nasib  bapak  berobah   sedikit.  Oleh  sebab  itu  ia  dapat  mengirimiku  f  1,50  untuk  uang-saku  setiap  bulannja.Memang  sukar  bagi  seorang  inlander  untuk  memasuki  H.B.S.  Disamping  f  15,00  sebulan  untuk  uang-sekolah  dan  pet  seragam  bertuliskan H.B.S., kami harus membajar lagi f 75,00 setiap tahun untuk uang buku. Aku ingat betul djumlah

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 18 dari 109

 

ini,   karena   aku   menghitung   setiap   rupiahnja.   Kudjaga   agar   djangan   ada   jang   terpakai   setjara   tidak  disengadja. Walaupun aku anak jang patuh, harus kuakui, bahwa aku menulis surat pulang hanja kalau dalam  kesempitan  sadja.  Kukira  ini  sama  sadja  dengan  setiap  anak  muda,  bukan  ?  Dengan  tidak  usah  membuka-  surat-suratku  terlebih  dulu  bapakpun  sudah  tahu  isinja,  bahwa  si  Karno  minta  uang.  Suratku  kepada  orangtuaku selalu dimulai dengan kalimat manis jang itu-itu djuga dan tidak pernah berobah-robah: ,,Bapak  dan lbu jang tertjinta’ saja berada dalam keadaan sehat-sehat sadja dan harapan saja tentu agar Bapak dan  Ibu keduanja demikian pula hendaknja.”

 

Kemudian  setelah  salam  itu,  dibaris  jang  ketiga  aku  langsung  menjampaikan  maksud  jang  terpenting.  Aku  menulis,  ,,Sekarang  saja  sedang  kekurangan  uang.  Apakah  Bapak  dan  lbu  dapat  mengirimi  barang  sedikit  ?”Disamping ibuku jang penjajang itu selalu mengirimiku setjara diam-diam satu atau dua rupiah bila ia punja  uang,  akupun  mengusahakan  sumber  lain.  Pak  Poegoeh,  suami  kakakku.  Mereka  tinggal  sekira  50  kilometer  dari  Surabaja  dan  Pak  Poegoeh  selalu  memberiku  uang  lima  rupiah  untuk  ongkos  pulang.  Karena  uang  itu  tidak  habis  semua  untuk  ongkos  perdjalanan,  maka  aku  sering  menemui  mereka.  Pak  Poegoeh  enam  tahun  lebih  tua  daripadaku  dan  bekerdja  dikantor  irigasi  dari  Departemen  Pekerdjaan  Umum.  Sekalipun  kami  seperti  kakak  beradik,  aku  tak  pernah  minta  bantuan  uang  kepadanja  setjara  terang-terangan.  Tjara  orang  Djawa  kebanjakan  tidak  langsung.  Kuminta  kepada  kakakku  jang  menjampaikannja  pula  kepadanja.  Dan  permintaan   ini   kupikirkan   lebih   dulu   semasak-masaknja.   Aku   tak   pernah   meminta   diluar   batas   jang  kuperkirakan dapat diperoleh dengan mudah.

 

 

Sebagai hasil dari kebidjaksanaan sematjam ini aku kadang-kadang mendapat lebih dari pada jang kuminta.  Terasa  hari  Iibur  sangat  menjenangkan  apabila  hadiah  itu  datang  karena  aku  lalu  bisa  mendjamu  kawan-  kawanku dengan kopi atau djadjan. H.B.S. terletak satu kilometer dari Gang Paneleh Setiap anak mempunjai  sepeda. Aku sendiri jang tidak. Biasanja aku membontjeng dengan salah seorang kawan atau berdjalan kaki.  Aku mulai menabung dan menabung terus dan ketika uangku terkumpul delapan rupiah, kubeli Fongers jang  hitam  mengkilat,  sepeda  keluaran  Negeri  Belanda.  Aku  merawatnja  bagai  seorang  ibu.  Ia  kugosok-gosok.  Kupegang-pegang.  Kubelai-belai.  Pada  suatu  kali  Harsono  jang  berumur  tudjuh  tahun  setjara  diam-diam  memakai   sepedaku   itu   dan   menabrakkannja   kepohon   kaju.   Seluruh   bagian   mukanja   patah.   Harsono  ketakutan.  Ia  tidak  berani  mengatakan  padaku,  dan  ketika  aku  mendengar  berita  itu,  kusepak  pantatnja  dengan keras. Kasihan  Harsono. Ia menangis. Ia berteriak. Berminggu-minggu lamanja  aku tergontjang  oleh   Fongersku    jang    hitam    mengkilat    itu    jang    sekarang    sudah    bengkok-bengkok.    Achirnja    aku    dapat  mengumpulkan  delapan  rupiah  lagi  dan  membeli  lagi  sepeda  jang  lain  tapi  untuk  Harsono.  Sekali  dalam  seminggu  aku  menikmati  satu-satunja  kesenanganku  Film,  Aku  sangat  menjukainja.  Betapapun,  tjaraku  menonton  sangat  berbeda  dengan  anak-anak  Belanda.  Aku  duduk  ditempat  jang  paling  murah.  Tjoba  pikir,  keadaanku  begitu  melarat,  sehingga  aku  hanja  dapat  menjewa  tempat  dibelakang  lajar.  Kaudengar  ?  Dibelakang lajar ! ! Diwaktu itu belum ada film bitjara, djadi aku harus membatja teksnja dan terbalik dan  masih  dalam  bahasa  Belanda  !  lama-kelamaan  aku  mendjadi  biasa  dengan  keadaan  itu  sehingga  aku  dapat  dengan tjepat membatja teks itu dari kanan kekiri. Aku tidak peduli, karena tak ada tjara lain lagi. Bahkan  aku  bersjukur  karena  masih  bisa  menjaksikannja.  Saat  satu-satunja  jang  menjebabkan  aku  ketjewa  ialah,  bila  dipertundjukkan  film  adu-tindju.  Aku  samasekali  tak  dapat  menaksir,  tangan  siapa  jang  melakokan  pukulan.

 

 

Dimasa  itu  ,,Yankee  Doodle”  jang  mendjadi  lagu  kegemaranku.  Mereka  memutarnja  pada  tiap  istirahat  dan  sambil  duduk  seorang  diri  dalam  gelap  dibelakang  lajar  aku  menjanjikannja  dengan  lunak  untuk  diriku  sendiri. Sampai sekarang aku masih menjanjikan lagu itu. Pada suatu kali sebuah sirkus datang kekota kami.  Dalam pertundjukan itu mereka melepaskan merpati-merpati dan kalau ada jang hinggap dibahu seseorang,  itulah  jang  memenangkan  hadiah.  Kami  segera  mengetahui  bahwa,  ketika  burung  itu  hinggap  pada  teman  kami,  jang  sama-sama  bajar-makan,  hadiahna  seekor  kuda.  Djadi  berkupullah  kami  Suarli  pemenang  jang  beruntung  itu,  kami  pemuda  lainnja  sebanjak  setengah  lusin  dan  seekor  kuda  tua  jang  sudah  letih.  Kami  tidak  dapat  akal  akan  diapakan  kuda  itu.  Tapi  kami  harus  membawanja  keluar,  karena  itu  kami  bawa  ia  pulang. Dibagian belakang rumah ada pekarangan, akan tetapi tidak ada djalan untuk bisa sampai ketempat  itu ketjuali melalui tengah rumah. Dengan tenang kami buka pintu serambi muka dan rumah Pemimpin Besar  Rakjat  Djawa  dan  mempawaikan  kuda  kami  melalui  kamar-duduk,  terus  kehalaman  belakang  dimana  ia  ditambatkan kebatang sawo.

 

Tak seorangpun diantara kami jang punja uang untuk membeli makan mulut orang lain, sekalipun mulut itu  kepunjaan seekor kuda. Begitulah, dua hari kemudian Suarli mendjualnja. Ketjuali satu sirkus dan film, masa  itu  bukanlah  masa  jang  menggembirakan  bagiku.  Aku  tidak  mempunjai  kesenangan  semasa  mudaku.  Aku  terlalu  serius.  Aku  tidak  mengikuti  kesenangan  seperti  iang  dialami  oleh  anak-anak  sekolah  iang  lain.  Mungkin  apa  jang  dinamakan  tindakan  kegila-gilaan  sebagaimana  jang  dituduhkan  kepadaku·  sekarang,  adalah sematjam imbangan untuk mengedjar kerugian dimasa muda. Tidak ada kesenangan-kesenangan jang  menjegarkandalam  kehidupanku  hingga  aku  berumur  50  tahun.  Kegembiraan  jang  kutjari  sekarang  mungkin  sebagai   usahaku   untuk-menutupi   segala   sesuatu   jang   tidak   pernah   kunikmati   dimasa   muda,   sebelum

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 19 dari 109

 

waktunja  terlambat.  Aku  tidak  tahu  dengan  pasti.  Aku-  tak  pernah  memikirkannja  hingga  datang  waktunja  bagiku untuk mendjalankan pembedahan diri dengan djalan otobiografi ini.

 

Bagaimanapun  djuga,  ini  adalah  pertjakapan  antara  kita  antara  engkau,  pembatja,  denganku.  Dan  karena  aku-berbitjara  dan  gelora  hati  jang  meluap-luap,  kemudian  merenungkan  semua  ini  sebagai  kesedihanku  dimasa  jang  silam,  aku  merasa  mungkin  djuga  benar  bahwa  aku  sedang  berusaha  mengimbangi  kekurangan  diriku  sendiri  sekarang.  Pendeknja,  aku  tidak  mengalami  masa  senang  di  Surabaja.  Pada  waktu  aku  mula  datang,  aku  menangis  setiap  hari.  Ah,  aku  sangat  kehilangan  ibu  tak  dapat  kutjeritakan-kepadamu  betapa  Wanita senantiasa memberikan pengaruh jang besar dalam hidupku. Sekarang, aku tidak punja ibu, tidak ada  nenek   untuk   membudjukku   jang   selamanja   mengagumiku   —   tidak   ada   Sarinah   jang   dengan   tekun  mendjagaku.  Aku  merasa  sebatang  kara.  Bu  Tjokro  adalah  seorang  wanita  jang  manis  dengan  perawakan  ketjil  bagus.  Dia  sendirilah  jang  mengumpulkan  uang  makan  kami  saban  minggu.  Dialah  jang  membuat  peraturan  seperti:  (l)  Makan  malam  djam  sembilan  dan  barangsiapa  jang  datang  terlambat  tidak  dapat  makan. (2) Anak sekolah sudah harus ada  dikamarnja djam 10  malam. (3) Anak sekolah harus bangun djam  empat  pagi  untuk  beladjar.  (4)  Main-main  dengan  anak  gadis  dilarang.  Aku  memelihara  hubungan  rapat  dengan Bu Tjokro, akan tetapi dia terlalu sibuk untuk dapat memperhatikanku sebagai seorang ibu. Karena  memerlukan    hati    seorang    perempuan,    aku    menoleh    pada    Mbok    Tambeng,    perempuan    pembantu  rumahtangga, untuk menghiburku. Dia mendjadi pengganti ibuku. Dia menambal tjelanaku. Dia tahu bahwa  gado-gado  adalah  kegemaranku,  karena  itu  dia  suka  menjusupkan  ekstra  untukku.  Mbok  sajang  kepadaku,  tapi  ah  !  aku  sangat  merindukan  kasih-sajang  itu.  Masih  sadja  si  Mbok  tidak  bisa  mendjadi  penghibur  jang  tjukup  bagi  seorang  anak  jang  halus  perasaannja.  Djiwaku  mendjerit- djerit  mentjari  kepertjajaan  hati,  bahkan hati seorang bapak kemana aku dapat menoleh. Pak Tjokro bukanlah orangnja.

 

Seorang pemimpin hanja tertarik pada soal-soal politik. Bahunja bukanlah tempat bersandar untuk menangis.  Atau tangannja bukanlah tempat merebahkan diri dengan enak.Sekalipun demikian Pak Tjokro sangat senang  kepadaku.  Kasih  sajangnja  ini  dinjatakannja  terutama  dimusim  kemarau  tahun  1918.  Biasanja  aku  pulang  mengundjungi  orangtuaku  dalam  waktu  libur.  Dalam  dua  bulan  libur  tinggal  di  Blitar  aku  merentjanakan  pergi ketempat kawan-kawan untuk sehari di Wlingi, jang djaraknja 20 kilometer dari Blitar. Semua rentjana  telah   disiapkan   dan   dengan   keinginan   jang   besar   menghadapi   tudjuan   aku   melambai   kepada   bapak,  mentjium  ibu  dan  memulai  perdjalananku.  Aku  baru  sadja  sampai  dirumah  kawan  kawanku  ketika  bahana  menggemuruh   jang   menakutkan   memenuhi   angkasa   dan   tanah   bergontjang-gontjang   dibawah   kakiku.  Perempuan-perempuan  tua  jang  ketakutan,  anak-anak  jang  mendjerit  dan  para  pekerdja  jang  letih  oleh  membanting-tulang  terpentjar  keluar  dari  pondok-pondok  mereka  menudju  kampung  jang  penuh  sesak.  Ketakutan, kebingungan dan kekatjauan menghinggapi rakjat kampung.

 

 

Raksasa Gunung Kelud, gunung berapi di Blitar, mentjari saat itu untuk menundjukkan kemurkaan dari Dewa-  dewa. Langit mendjadi hitam oleh arang dan abu bermil-mil djauhnja. Dimana-mana ledakan lahar. Daerah  itu diselubungi oleh asap, api dan ratjun. Dengan kekuatan jang hebat lahar jang mendidih-didih mentjurah  menuruni lereng gunung ketempat jang lebih rendah dan menggenang disana antara Blitar dan Wlingi. Banjak  orang   jang   mati.Aku   sangat   kuatir   karena   kutahu   orangtuaku   tentu   sangat   susah   memikirkan   diriku  …….Hidupkah  dia  ……..Matikah  dia.  Mereka  sadar,  bahwa  anaknja  berada  tepat  didjalan  dimana  gunung  itu  memuntahkan  isinja  dan  mereka  tidak  dapat  memperoleh  berita.  Sementara  itu   aku  mendengar,  bahwa  separo negeri kami telah kena landa, karena itu pikiranku dilumpulkan oleh kekuatiran tentang apakah jang  mungkin   terdjadi   terhadap   orangtuaku.   Aku   harus   kembali   setjepat   mungkin,   akan   tetapi   tidak   ada  kendaraan   jang  bagaimanapun   bentuknja  jang  dapat  menjeberangi  lautan  lahar   jang  menggelora  itu.  Achirnja,  satu-satunja  djalan  jang  harus  ditempuh  ialah  dengan  mengarunginja  berdjalan  kaki.  Selagi  lahar  masih  agak  panas,  aku  mulai  melangkahkan  kaki  menudju  djalan  pulang.  Aku  masih  djauh  ketika  mereka  menampakku,   lalu   datang   berlari-lari   menjongsongku   ditengah   djalan.   Mereka   memelukku.   Mereka  mentjiumku.

 

Mereka mengelus pipiku. ,,0, engkau masih hidup,” teriak bapak. ,,Engkau masih hidup engkau masih hidup.”  Ibu menangis. Aku merangkul orangtuaku dengan kedua belah tanganku. Aduh, kami gembira, gembira sekali  bertemu  satu  sama  lain.  Di  Surabaja,  Pak  Tjokropun  rupanja  merasa  tjemas  memikirkan  keadaanku.  Ia  menaiki  mobilnja  dan  melakukan  perdjalanan  sehari  penuh  hanja  karena  hendak  mengetahui  bagaimana  keadaanku. Mula-mula ia tidak dapat menemuiku atau orangtuaku. Rumah kami selamat, akan tetapi rumah  itu sudah mendjadi tumpukan lahar dan lumpur. Sampai di Djalan Sultan Agung 53 ia hanja mendapati rumah  kosong  samasekali.  Ketjuali  beberapa  ekor  burung-burung  ketjil.  Ia  djadi  sangat  bingung  sebelum  bertemu  dengan  kami.  Djadi  aku  menjadari  bahwa  Pak  Tjokro  mentjintaiku  dengan  tjaranja  sendiri.  Hanja  tjaranja  itu  tidak  tjukup  bagi  seorang  anak  jang  kesepian.  Ia  djarang  berbitjara  denganku.  Bahkan  aku  djarang  melihatnja.  Ia  tidak  mempunjai  waktu  jang  senggang.  Kalau  ia  dirumah  tentu  ada  tamu  atau  ia  bersamadi  dalam kesunjian.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 20 dari 109

 

Oemar  Said  Tjokroaminoto  berumur  33  tahun  ketika  aku  datang  ke  Surabaja.  Pak  Tjokro  mengadjarku  tentang  apa  dan  siapa  dia,  bukan  tentang  apa  jang  ia  ketahui  ataupun  tentang  apa  djadiku  kelak.  Seorang  tokoh  jang  mempunjai  daja-tjipta  dan  tjita-tjita  tinggi,  seorang  pedjoang  jang  mentjintai  tanah  tumpah  darahnja.  Pak  Tjokro  adalah  pudjaanku.  Aku  muridnja.  Setjara  sadar  atau  tidak  sadar  ia  menggemblengku.  Aku  duduk  dekat  kakinja  dan  diberikannja  kepadaku  buku-bukunja,  diberikannja  padaku  miliknja  jang  berharga  Ia  hanja  tidak  sanggup  memberikan  kehangatan  langsung  dari  pribadinja  kepada  pribadiku  jang  sangat  kuharapkan.  Karena  tak  seorangpun  jang  mentjintaiku  seperti  jang  kuidamkan,  aku  mulai  mundur.  Kenjataan-kenjataan  jang  kulihat  dalam  duniaku  jang  gelap  hanjalah  kehampaan  dan  kemelaratan.  Karena  itu  aku  mengundurkan  diri  kedalam  apa  jang  dinamakan  orang  Inggris  ,,Dunia  Pemikiran”.  Buku-buku  mendjadi   temanku.   Dengan   dikelilingi   oleh   kesadaranku   sendiri   aku   memperoleh   kompensasi   untuk  mengimbangi  diskriminasi  dan  keputus-asaan  jang  terdapat  diluar.  Dalam  dunia  kerohanian  dan  dunia  jang  lebih  kekal  inilah  aku  mentjari  kesenanganku.  Dan  didalam  itulah  aku  dapat  hidup  dan  sedikit  bergembira.  Selurah   waktu   kupergunakan   untuk   membatja.  Sementara   jang   lain   bermain-main,  aku   beladjar.   Aku  mengedjar  ilmu  pengetahuan  disamping  peladjaran  sekolah.  Kami  mempunjai  sebuah  perpustakaan  jang  besar dikota-ini jang diselenggarakan oleh Perkumpulan Theosofi. Bapakku seorang Theosof, karena itu aku  boleh memasuki peti harta ini, dimana tidak ada batasnja buat seorang anak jang miskin.

 

 

 

Aku menjelam samasekali kedalam dunia kebatinan ini. Dan disana aku bertemu dengan orang-orang besar.  Buah pikiran mereka mendjadi buah pikiranku. Tjita-tjita mereka adalah-pendirian dasarku. Setjara mental  aku   berbitjara   dengan   Thomas   Jefferson.   Aku   merasa   dekat   dan   bersahabat   dengan   dia.   karena   dia  bertjeritera    kepadaku    tentang    Declaration    of    Independence    jang    ditulisnja    ditahun    1776.    Aku  memperbintjangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perdjalanan Paul Revere.  Aku  dengan  sengadja  mentjari  kesalahan-kesalahan  dalam  kehidupan  Abraham  Lincoln,  sehingga  aku  dapat  mempersoalkan   hal   ini   dengan   dia.Pada   waktu   sekarang,   apabila   ada   orang   menegur,   ,,Hai    Sukarno,  mengapa  engkau  tidak  suka  kepada  Amerika  ?”  maka  aku  akan  mendjawab,  ,,Apabila  engkau  mengenal  Sukarno,  engkau  tidak  akan  -mengadjukan  pertanjaan  itu.?  Masa  mudaku  kupergunakan  untuk  memudja  bapak-bapak  perintis  dari  Amerika  Aku  ingin  berlomba  dengan  pahlawan-pahlawannja.  Aku  mentjintai  rakjatnja.  Dan  aku  masih  mentiintainja.  Bahkan  sekarangpun  aku  masih  membatja  madjalah  Amerika  dari  ,,Vogue”  sampai  ke  ,,Nugget’..Aku  akan  selalu  merasa  berkawan  dengan  Amerika.  Ja,  berkawan.  Aku  mengatakannja  setjara  terbuka  Aku  menuliskan  tentang  diriku  sendiri.  Kunjatakan  ini  dengan  tertjetak.  Suatu  pendirian  dasar  seperti  jang  kumiliki  takkan  dapat  membiarkanku  tidak  berkawan  dengan  Amerika.  Didalam dunia pemikiranku akupun berbitjara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan  Beatrice  Webb  jang  mendirikan  Gerakan  Buruh  Inggris  aku  berhadapan  muka  dengan  Mazzini,  Cavour  dan  Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria.

 

 

Aku  berhadapan  dengan  Karl  Marx,  Friedrich  Engels  dan  Lenin  dari  Rusia  dan  aku  mengobrol  dengan  Jean  Jacques  Rousseau’  Aristide  Briand’  dan  Jean  Jaures  ahli  pidato  terbesar  dalam  sedjarah  Perantjis.  Aku  meneguk~semua tjerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnja adalah Voltaire. Aku adalah Danton  pedjoang besar dari Revolusi Perantjis. Seribu kali aku menjelamatkan Perantjis seorang diri dalam kamarku  iang  gelap.  Aku  mendjadi  tersangkut  setjara  emosionil  dengan  negarawan-negarawan  ini.  Disekolah  kami  mendengarkan peIadjaran tetntang pengadilan rakiat dari bangsa Junani kuno. Ia melekat dalam pikiranku.  Aku   membajangkan   pemikir-pemikir   jang   sedang   marah   selagi   berpidato   dan   meneriakkan   sembojan-  sembojan seperti ,,Persetan dengan Penindasan” dan ,,Hidup’ Kemerdekasn”. Hatiku terbakar menjaIa-njala.  Macam  itu,  ketika  semua  orang  sudah  menguntji  pintu,  kamar  kandang-ajamku  mendiadi  ruang-pengadilan  aku sebagai seorang pemuda Junani jang terbakar oleh enthusiasme.

 

Sambil  berdiri  diatas  medjaku  jang  gojah  aku  ikut  terbawa-oleh  perasaan.  Aku  mulai  berteriak  Selagi  aku  berpidato  dengan  sangat  keras  kepada  tak  seorangpun,  kepala-kepala  berdjuluran  keluar  pintu,  mata  bertondjolan  dari  kepala  dan  terdengar  suara  anak-anak  muda  berteriak  dalam  gelap’  ,,Hei,  No,’  kau  gila  ?  Ada  apa….Hei,  apa  kau  sakit  ?”  dan  kemudian  tukang-tukang  sorak  itu  kembali  pada  djawabannja  sendiri,  ,,Ah,  tidak  ada  apa-apa.  Tjuma  si  No  mau  menjelamatkan  dunia  lagi”  dan  satu  demi  satu  pintu-pintu  menutup   lagi   dan   membiarkan   aku   sendiri   dalam   kegelapan.   Pada   waktu   aku   semakin    mendekati  kedewasaan,  duniaku  didalam  semakin  lebar  dan  mentjakup  pula  kawan-kawan  dari  Tjokroaminoto.  Setiap  hari  para  pemimpin  dari  partai  lain  atau  pemimpin  tjabang  Sarekat  Islam  datang  bertamu.  Dan  setiap  kali  mereka tinggal selama beberapa hari. Sementara kawan-kawanku serumah keluar  menjaksikan pertandingan  bola, aku duduk dekat kaki orang-orang ini dan mendengarkan.

 

Kadang-kadang kubagi tempat-tidurku dengan salahseorang pemimpin itu dan minum dari mata-air keahlian  mereka hingga waktu fadjar. Aku menjukai waktu makan, Kami makan setjara satu keluarga, djadi aku dapat  mengikuti dan meresapkan pertjakapan politik. Pada waktu mereka melepaskan lelah disekeliling medja, aku  bahkan kadangkadang berani mengadjukan pertanjaan. Mahaputera-mahaputera ini putera-putera jang besar  dari rakjat Indonesia—tidak mengatjuhkanku karena aku masih anak-anak. Sekali pada waktu makan malam  mereka  mempersoalkan  tentang  kapitalisme  dan  tentang  barang-barang  jang  diangkut  dari  kepulauan  kami

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 21 dari 109

 

untuk memperkaja Negeri Belanda. Disaat inilah aku bertanja pelahan, ,,Berapa banjak jang diambil Belanda  dari  Indonesia  ?”,,Anak  ini  sangat  ingin  tahu,”  senjum  Pak  Tjok,  kemudian  menambahkan,  ,,De  Vereenigde  Oost Indische Compagnie menjedot— atau mentjuri— kira-kira 1800 djuta gulden dari tanah kita setiap tahun  untuk  memberi  makan  Den  Haag.”,,Apa  jang  tinggal  dinegeri  kita  ?”  kali  ini  aku  bertanja  lebih  keras  sedikit.,,Rakjat  tani  kita  jang  mentjutjurkan  keringat  mati  kelaparan  dengan  makanan  segobang  sehari,”  kata   Alimin,   jaitu   orang   jang   memperkenalkanku   kepada   Marxisme.   ,,Kita   mendjadi   bangsa   kuli   dan  mendjadi  kuli  diantara  bangsabangsa,”  sela  kawannja  jang  bernama  Muso.,,Sarekat  Islam  bekerdja  untuk  memperbaiki keadaan dengan mengadjukan mosi-mosi kepada Pemerintah,” kata Pak Tjok menerangkan dan  kelihatan  senang  karena  mempunjai  murid  jang  begitu  bersemangat.  ,,Pengurangan  padjak  dan  serikat-  serikat sekerdja hanja dapat digerakkan dengan kooperasi dengan Belanda— sekalipun kita membentji kerdja-  sama   ini.”,,Tapi   apakah   baik   untuk   membentji   seseorang   sekalipun   ia   orang   Belanda   ?”   ,,Kita   tidak  membentji  rakjatnja,”  dia  memperbaiki,  ,,Kita  membentji  sistim  pemerintahan  Kolonial.”  ,,Mengapa  nasib  kita tidak berobah djika rakjat kita telah berdjoang melawan sistim ini sedjak berabad-abad?”

 

 

,,Karena pahlawan-pahlawan kita selalu berdjoang sendiri-sendiri. Masing-masing berperang dengan pengikut  jang ketjil didaerah jang terbatas,” Alimin mendjawab.,,0, mereka kalah karena tidak bersatu,” kataku. Ahli  pikir   India,   Swami   Vivekananda,   menulis,   ,,Djangan   bikin   kepalamu   mendjadi   perpustakaan.   Pakailah  pengetahuanmu untukdiamalkan.” Aku mulai menerapkan apa-apa jang telah kubatja kepada apa jang telah  kudengar.  Aku  memperbandingkan  antaraperadaban  jang  megah  dari  pikiranku  dengan  tanah-airku  sendiri  jang  sudah  bobrok.Setapak  demi  setapak  aku  mendjadi  seorang  pentjinta  tanah-air  jang  menjala-njala  dan  menjadari  bahwa  tidak  ada  alasan  bagi  pemuda  Indonesia  untuk  menikmati  kesenangan  dengan  melarikan  diri  kedalam  dunia  chajal.  Aku  menghadapi  kenjataan  bahwa  negeriku  miskin,  malang  dan  dihinakan.  Aku  berdjalan-djalan seorang diri dan merenungkan tentang apa jang sedang berputar dalam otakku. Satu djam  lamanja aku berdiri tak bergerak diatas diambatan ketjil jang melintasi sungai ketjil dan memandangi iring-  iringan  manusia  jang  tak  henti-hentinja.  Aku  melihat  rakjat  tani  dengan  kaki-ajam  berdjalan  lesu  menudju  pondoknja  jang  buruk.  Aku  melihat  Kolonialis  Belanda  duduk  mentjekam  diatas  kereta  terbuka  jang  ditarik  oleh  dua  ekor  kuda  jang  mengkilat.  Aku  melihat  keluarga  orang  kulitputih  kelihatan  bersih-bersih,  sedang  saudara-saudaranja jang belkulit sawomatang begitu kotor, badannja berbau, badjunja tjompang-tjamping,  anak-anak  mereka  djorok-djorok.  Aku  bertanja  dalam  hati,  apakah  orang  bisa  tetap  bersih  apabila  mereka  tidak – punja pakaian lain untuk penggantinja.

 

 

Kuisap   masuk   tubulrku   bau   daripada   sisa   makanan   jang   sudah   busuk   dan   bau   selokan-selokan   jang  melemaskan,   dan   kulekatkan   dengan   kuat   didalam   lobang   hidungku   bau   busuk   daripada    kemelaratan  rakjatku,   sehingga   sekalipun   aku   pergi   10.000   mil   dari   disungai   aku   masih   tetap   mentjiumnja.   Aku  memandang kedalam keputus asaan dari setiap laki-laki dan perempuan jang kulihat. Aku terhanjut bersama  rakjatku.  Rakjatku  jang  miskin  lagi  papa.  Dari  djembatan  aku  menoleh  kearah  massa   jang  seperti  semut  banjaknja  dan  aku  mengerti  sedjelas-djelasnja,  bahwa  inilah  kekuatan  kami.  Dan  aku-menjadari  sesadar-  sadarnja akan penderitaan mereka. Sekalipun anak ketjil tak-akan dapat menahan rawan hatinja pada waktu  pertamakali  melihat   kata-kata   peringatan   dikolam-renang  jang  berbunji,  ,,Terlarang  bagi  andjing  dan  bumiputera.”   Andjing   didahulukan.   Dapatkah   seorang   manusia   tidak   tersinggung   perasaannja,   apabila  seorang kondektur Bumiputera harus menundukkan kepala kepada setiap Belanda jang menaiki tremnja ? Aku  seorang  anak  berumur  14  tahun  ketika  mukaku  ditampar  oleh  seorang  anak  berhidung  pandjang,  tak  lain  hanja   disebabkan   karena   aku   seorang   inlander.   Apakah   menurut   pendapatmu   tindakan-tindakan   jang  demikian itu tidak meninggalkan gores luka dalam hati ? Ja, aku mempunjai kesadaran sebagai seorang anak.  Aku  memulai  persembahan  hidupku  ini  pada  umur  16  tahun.  Perkumpulan  politik  jang  pertama  kudirikan  adalah Tri Koro Darmo jang berarti ,,Tiga  Tudjuan Sutji” dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi  dan sosial jang kami tjari. Ini pada dasarnja adalah suatu organisasi sosial dari para peladjar seumurku. Jong  Java’,   sebagai   langkah   kedua,   mempunjai   dasar   jang   Iebih   luas.   Begitupun   pergaulan   sosial   kami  berlandaskan   kebangsaan.   Kami   membaktikan   diri   untuk   memperkembangkan   kebudajaan   asli   seperti  mengadjarkan tari Djawa atau mengadjar main gamelan.

 

 

Jong   Java   pun   banjak   melakukan   pekerdjaan-pekerdjaan   sosial.  Kami   pergi   kekampung-kampung   jang  berdekatan  untuk  mengumpulkan  dan  bagi  sekolah  atau  untuk  membantu  korban  bentjana  letusan  gunung.  Kami  mengadakan  pertunjukan  ditempat-terapat  jang  memerlukan  pertolongan  dan  mengeluarkan  biaja-  biaja  itu  dari  hasil  uang  masuk.  ,,  Harus  kuakui  sekarang,  bahwa  tampangku  dimasa  muda  sangat  tampan  sehingga kelihatan seperti anak gadis. Karena hanja sedikit wanita terpeladjar pada waktu itu, tidak banjak  anak  gadis  jang  mendjadi  anggota  kami.  Dan  potonganku  lebih  banjak  menjerupai  seorang  perawan  tjantik  sehingga kalau Jong Java mengadakan pertundjukan. Manaakalau diserahi memainkan peran wanita jang naif  itu.  Aku  betulbetul  membedaki  pipi  dan  memerahkan  bibirku.  Akan  kutjeritakan  sesuatu  kepadamu.  Aku  tidak  tahu,  bagaimana  pendapat  orang-asing  tentang  seorang  Presiden  jang  mau  mentjeritakan  hal  jang  demikian  itu  Tetapi  sungguhpun  demikian  aku  akan  mentjeritakannja  djuga.  Aku  membeli  dua  potong  -roti  manis. Roti bulat. Seperti roti-gulung. Dan kuisikan kedalam badjuku. Ditambah dengan bentuk-badanku jang  langsing  setiap  orang  menjatakan,  bahwa  aku  kelihatan  sangat  tjantik.  Untunglah  dalam  peranku  itu  tidak

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 22 dari 109

 

termasuk  adegan  mentjium  laki-laki.  Selesai  pertundiukan  kupikir,  tentu  aku  tak  dapat  menghamburkan  uangku begitu sadja Karena itu kukeluarkan roti itu dari dalam badju dan kumakan.

 

Sambil memandangku diatas panggungpara penontonpun memberikan komentaraja, bahwa aku memperlihat-  kan  bakat  jang  besar  untuk  tampil  dimoka  umum.  Akupun  sangat  setudju  dengan  pendapat  mereka,  tidak  lama kemudian aku mendapat kesempatan lain. Ketika itu diadakan pertemuan dari Studieclub, jaitu suatu  kelompok sebagai pengadjaran tambahan dan bertudjuan untuk membahas buah-buah pikiran dan tjita-tjita.  Disinilah  aku  mengadakan  pidato  jang  pertama.  Aku  berumur  16  tahun.  Ketua  Studieclub  mendapat  giliran  untuk berbitiara dan mendadak aku dikuasai oleh suatu dorongan jang kuat untuk berbitjara. Aku tidak dapat  mengendalikan  diriku  selandjutnja.  Selagi  duduk  dalam  pertemuan  itu  aku  melompat  dan  berdiri  diatas  medja.   Suatu   gerak   perbuatan   chas   seperti   kanak-kanak.   Kukira   ini   disebabkan   karena   aku   bersifat  emosionil.  Sekarangpun  aku  masih  demikian.  Ketua  menjatakan,  ,,Adalah  mendjadi  suatu  keharusan  bagi  generasi  kita  untuk  menguasai  betul  bahasa  Belanda.”Setiap  orang  setudju.  Setiap  orang,  ketjuali  aku  sendiri.  Aku  gugup  tentunja,  akan  tetapi  ketika  aku  memperoleh  perhatian  mereka,  aku  berbitjara  dengan  suara  jang  tenang  sekali,  ,,Tidak.  Saja-tidak  setudju,  ,,Tanah  kebanggaan  kita  ini  dulu  pernah  bernama  Nusantara. Nusa berarti pulau. Antara berarti diantara.

 

 

Nusantara  berarti  ribuan  pulau-pulau  ini,  dan  banjak  diantara  pulau-pulau  ini  lebih  besar  daripada  seluruh  negeri Belanda Djumlah penduduk Negeri Belanda hanja segelintir djika dibandingkan dengan penduduk kita.  Bahasa  Belanda  hanja  dipergunankan  oleh  enam  djuta  orang.,,Mengapa  suatu  negeri  ketjil  jang  terletak  disebelah  sana  dari  dunia  ini  menguasai  suatu  bangsa  jang  dulu  pernah  begitu  perkasa,  sehinngga  dapat  mengalahkan  Kublai  Khan  jang  kuat  itu?”  Dengan  suara  tenang  dan  tidak  terburu-buru  atau  tegang  aku  selandjutja mengemukakan alasan-alasan ditambah dengan kenjataan-kenjataan. Aku mengachiri pidato itu  dengan kata-kata, ,,Saja berpendapat, bahwa jang harus kita kuasai pertama-tama lebih dulu adalah bahasa  kita sendiri. Marilah kita bersatu sekarang untuk mengembangkan bahasa Melaju. Kemudian baru menguasai  bahasa  asing.  Dan  sebaiknja  kita  mengambil  bahasa  Inggris,  oleh  karena  bahasa  itu  sekarang  mendjadi  bahasa  diplomatik.  ,,Belanda  berkulit  putih.  Kita  sawomatang.  Rambut  mereka  pirang  dan  keriting.  Kita  punja  lurus  dan  hitam.  Mereka  tinggal  riboan  kilomerer  darisini.  Mengapa  kita  harus  berbitjara  bahasa  Belanda?!” Maka terdjadilah keributan karena sangat kagum. Mereka tak pernah mendengar hal sematjam ini  sebelumnja.   Kuingat   Direktur   H.B.S.,   Tuan   Bot,   berdiri   disana.   Dia   tidak   berbuat   apa-apa   melainkan  memandang  kepadaku  dengan  muka  tidak  senang  samasekali,  seakan  dia  berkata,  ,,Oooh—Oooh,  Sukarno  mau bikin susah !” Sekalipun aku tidak membikin susah, aku sudah tjukup dibikin susah. Aku adalah anak baru  disekolah Belanda ini dan tambahan lagi seorang anak Bumiputera.

 

 

H.B.S. mempunjai 300 orang murid. Hanja 2 diantaranja orang Indonesia. Aku dikeliiingi dari segala djurusan  oleh  anak  laki-laki  dan  anak-anak  gadis  Belanda.  Sudah  tentu  mereka  tidak  senang  padaku.  Terketjuali  barangkali beberapa anak gadis, maka aku dianggap sepi. Sekolah mulai djam tudjuh pagi sampai djam satu  siang,  enam  hari  dalam  seminggu.  Diantara  djam-djam  peladjaran  ada  waktu  istirahat,  pada  waktu  mana  setiap  anak  bermain  atau  djadjan.  Akan  tetapi  anak-anak  Belanda  tentu  memisah  dari  kami.  Mereka  berusaha  supaja  kami  tidak  ada  kawan.  Merekapun  berusaha  supaja  hidung  kami  selalu  berlumuran  darah.  Sewaktu kami masih sebagai siswa baru, seorang anak jang rapi pakai tjelana baru dan kaku berwarna putih  jang mendjadi ketentuan untuk tahun pertama berdiri mengangkang menghalangi djalanku dan mengedjek,  ,,Menjingkir dari djalanku, anak inlander.” Ketika aku berdiri disana dia  melepaskan tangannja PANGGGG !’  Tepat dihidungku ! Djadi, kupukul dia kembali. Setiap hari aku pulang babak-belur. Aku tak pernah mendjadi  tukang  berkelahi,  tapi  sekalipun  aku  dapat  menahan  penghinaan  aku  tak  dapat  menghindari  perkelahian  tangan.  Kadang-kadang  kukalahkan  mereka,  akan  tetapi  terkadangpun  mereka  mengalahkanku.  Kamipun  mengalami diskriminasi didalam sekolah.

 

 

Sekolah   begitu   keterlaluan   terhadap   kami,   sehingga   kalau   seorang   anak   Bumiputera   membuat   suatu  kesalahan maka Direktur menghukumnja dengan larangan masuk kelas selama dua hari. Kami mentjurahkan  tenaga dengan sungguh-sungguh kepada peladjaran. Akan tetapi sekalipun kami bertekun siang dan malam,  nilai jang didapat oleh anak-anak Belanda pasti lebih tinggi daripada jang diterima oleh anak Indonesia. Nilai  ketjakapan  diukur  dengan  angka.  Angka  10  jang  tertinggi  dan  angka  enam  adalah  batas  nilai  tjukup  dan  inilah  kebanjakan  jang  diterima  oleh  inlander.  Kami  mempunjai  suatu  pameo  mengenai  angka-angka  ini:  angka  sepuluh  adalah  untuk  Tuhan,  sembilan  untuk  professor,  angka  delapan  untuk  anak  jang  luarbiasa,  tudjuh untuk Belanda dan enam untuk kami. Angka sepuluh tidak pernah diterima oleh anak Bumiputera. Aku  adalah penggambar tjat-air jang luarbiasa.

 

Ditahun  kedua  kami  disuruh  menggambar  kandang-andjing.  Sementara  jang  lain  masih  mengukur-ukur  dan  menaksir-naksir  dengan  potlot  aku  sudah  selesai  menggambar  kandang  jang  lengkap,  didalamnja  seekor  andjing jang dirantai dan sepotong tulang. Guru perempuan kami memperlihatkan gambarku kepada seluruh  kelas. Ia mengatakan, ,,Gambar ini begitu hidup dan penuh perasaan, karena itu patut mendapat nilai jang  setinggi mungkin.” Tapi apakah aku memperoleh angka jang paling tinggi itu ? Tidak. Selalu orang kulitputih

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 23 dari 109

 

lebih  pandai.  Lebih  tjerdas.  Orang  kulitputih  lebih  banjak  tahu.  Alat  kolonial  tidak  akan  berhasil,  ketjuali  djika ia memupuk keunggulan kulitputih terhadap sawomatang. Guru-guru sangat sajang kepadaku. Aku anak  jang  patuh,  sungguhsungguh  dan  hormat.  Hanja  sesekali  aku  bertindak  diluar  garis.  Aku  tidak  pernah  betul  betul  kurang-adjar,  akan  tetapi  pada  suatu  kali  setelah  pidatoku  jang  pertama  aku  berdjalan  melalui  ruangan ketika professor Egberts  melihatku  dan meneriakkan, ,,Hai, Sukarno, bagaimana dengan kau punja  ‘Jong  Java’?”  dan  aku  mengedjek,  Ja,  Professor,  bagaimana  pula  dengan  tuan  punja  ‘Oud  Holland’  ?”Aku  mendjadi  favorit  dari  guru  bahasa  Djerman  jang  djuga  memimpin  Kelompok  Perdebatan  kami.  Dalam  memperdebatkan  persoalan  kehilir-kemudik  dan  mengadjukan  pendapat-pendapat  jang  berlawanan,  aku  memperbaiki   ketjakapan   berbitjara.   Professor   Hartagh   melihat,   bahwa   aku   dapat   memimpin   kawan-  kawanku.

 

Pada suatu pertemuan Hartagh menjampaikan kepada ke 20 orang murid setjara bersamasama dan kepadaku   setjara pribadi, bahwa aku akan mendjadi pemimpin jang besar kelak. Professor mungkin punja bola-kristal’  untul meramal. Iapun pernah mentjeritakan kepada orang lain, bahwa dia akan mendjadi guru dan memang  itu dia djadinja.Seorang guru perempuan betul-betul sangat sajang kepadaku, sehingga ia memberiku nama  Belanda.  Aku,  tjalon  pemimpin  dari  suatu  revolusi  dimasa  jang  akan  datang,  dengan  nama  Belanda  ?  Dia  menamaiku   Kerel.   Dia   bahkan   memanggilku   ,,Schat”,   perkataan   Belanda   untuk   kesajangan.   Kalau   dia  kelupaan  kuntji  atau  sesuatu  barang,  dia  lalu  menundjukku  dan  berkata  dengan  manis,  ,,Schat,  maukah  engkau pergi kekamarku dan mengambil kuntji ?” Ach, ini adalah hak istimewa iang sangat besar. Pada suatu  hari  dia  mengandjakku  kerumahnja  untuk  menerima  peladjaran  tambahan  bahasa  Perantjis.  Aku  gemetar  karena anugerah jang istimewa itu. Pada waktu umurku semakin mendekati kedewasaan aku masih gemetar  dengan  anugerah  istimewa  sematjam  ini.  Akan  tetapi  karena  alasan-lain.  Aku  sangat  tertarik  kepada  anak-  anak  gadis  Belanda.  Aku  ingin  sekali  mengadakan  hubungan  pertjintaan  dengan  mereka.  Hanja  inilah  satu-  satunja  djalan  jang  kuketahui  untuk  memperoleh  keunggulan  terhadap  beagsa  kulitputih  dan  membikin  mereka  tunduk  pada  kemauanku.  Bukankah  ini  selalu  mendjadi  idaman  ?  Apakah  seorang  djantan  berkulit  sawomatang   dapat   menaklukkan   seorang   lakilaki   kulitputih   ?   Ini   adalah   suatu   tudjuan   jang   hendak  diperdjoangkan.  Menguasai  seorang  gadig  kulitputih  dan  membikinnja  supaja  menginginiku  adalah  suatu  kebanggaan.

 

 

Seorang  pemuda  tampan  senantiasa  mempunjai  kawan  gadis-gadis  jang  tetap.  Aku  punja  banjak.  Mereka   bahkan  memudja  gigiku  jang  tidak  rata.  Dan  aku-mengakui  bahwa  aku  sengadja  mengedjar  gadis  gadis  kulitputih.  Tjintaku  jang  pertama  adalah  PauIine  Gobee,  anak-  salah-seorang  guruku.  Dia  memang  tjantik  dan  aku  tergila-gila  kepadanja.  Kemudian  menjusul  Laura.  Oo,  betapa  aku  memudjanja.  Dan  ada  lagi  keluarga  Raat.  Mereka  ini  keluarga  Indo  dan  mempunjai  beberapa  orang  puteri  aju.  H.B.S.  letaknja  diarah  jang  berlawanan  dengan  rumah  keluarga  Raat,  tapi  sekalipun  demikian  setiap  hari  selama  berbulan-bulan  aku   mengambil   djalan   keliling,   hanja   untuk   lewat   dimuka   rumahnja   dan   untuk   menangkap   selintas  pandangannja.  Dekat  itu  terdapat  Depot  Tiga,  warung  tempat  minum.  Aku  kadang-kadang  diadjak  oleh  salahseorang  kawan  kesana  dan  disanalah  kami  dapat  duduk  dengan  gembira  dan  memandangi  gadis-gadis  Belanda  lalu.  Kemudian  bagai  suatu  tjahaja  jang  bersinar  dalam  gelap,  muntjullah  Mien  Hessels  dalam  kehidupanku.  Hilanglah  Laura,  lenjaplah  keluarga  Raat  dari  ingatan  dan  lenjap  pulalah  kegembiraan  Depot  Tiga. Sekarang aku punja Mien Hessels. Dia samasekali milikku dan aku sangat tergila-gila kepada kembang  tulip berambut kuning dan pipinja jang merah mawar itu. Aku rela mati untuknja kalau dia menghendakinja.  Umurku  baru  18  tahun  dan  tidak  ada  jang  lebih  kuinginkan  dari  kehidupanku  ini  selain  daripada  memiliki  djiwa  dan  raga  Mien  Hessels.  Aku  mengharapnja  dengan  perasasn  berahi  dan  sampailah  aku  pada  suatu  kesungguhan   hati,   aku   harus   mengawininja.   Tak   satupun   jang   dapat   memadamkan   api   jang   sedang  menggolak dalam diriku. Ia adalah bagai kembang-gula diatas kue jang takkan dapat kubeli. Kulitnja lembut  bagai   kapas,   rambutnja   ikal   dan   pribadinja   memenuhi   segala-galanja   jang   kuidamkan.   Untuk   dapat  merangkulkan   tanganku   memeluk   Mien   Hessels   nilainja   lebih   dari   segala   harta   bagiku.   Achirnja   aku  memberanikan diri untuk berbitjara  kepada bapaknja. Aku mengenakan pakaian jang terbaik, dan memakai  sepatu.

 

 

Sambil duduk dikamarku jang gelap aku melatih kata-kata jang akan kuutjapkan dihadapannja. Akan tetapi  pada  waktu  aku  mendekati  rumah  jang  bagus  itu  aku  menggigil  oleh  perasaan  takut.  Aku  tak  pernah  sebelumnja  bertamu  kerumah  seperti  ini.  Pekarangannja  menghidjau  seperti  beludru.  Kembang-kembang  berseri tegak baris demi baris, lurus dan tinggi bagai pradjurit. Aku tidak punja topi untuk dipegang, karena  itu sebagai gantinja aku memegang hatiku.Dan disanaIah aku berdiri, gemetar, dihadapan bapak dari puteri  gadingku,  seorang  jang  tinggi  seperti  menara  jang  memandang  kebawah  langsung  kepadaku  seperti  aku  ini  dipandang sebagai kutu diatas tanah. ,,Tuan,” kataku. ,,Kalau tuan tidak berkeberatan, saja ingin minta anak  tuan.”   ,,Kamu?   Inlander   kotor,   seperti   kamu   ?   sembur   tuan   Hessels,   ,,Kenapa   kamu   berani-beranian  mendekati  anakku  ?  Keluar,  kamu  binatang  kotor.  Keluar  !”  Dapatkah  orang  membajangkan  betapa  aku  merasa  seperti  didera  dengan  tjambuk  ?  Dapatkah  kiranja  orang  pertjaja,  bahwa  noda  jang  ditjorengkan  dimukaku  ini  pada  satu  saat  akan  pupus  samasekali  ?  Sakitnja  adalah  sedemikian,  sehingga  disaat  itu  aku  berpikir,  ,,Ja  Tuhan,  aku  tak  akan  dapat  melupakan  ini.”  Dan  djauh  dalam  lubukhatiku  aku  merasa  pasti,  bahwa aku tidak akan dapat melupakan dewiku jang berparas bidadari itu, Mien Hessels.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 24 dari 109

 

23 tahun kemudian, jaitu tahun 1942. Djaman perang. Aku sedang melihat-lihat etalase pada salahsatu toko  pakaian  laki-laki  disuatu  djalanan  Djakarta,  ketika  aku  mendengar  suara  dibelakangku,  ,,Sukarno  ?”Aku  berpaling  memandangi  seorang  wanita  asing,  ,,Ja,  saja  Sukarno.”Dia  tertawa  terkikik-kikik,  ,,Dapat  kau  menerka  siapa  saja  ini  ?”Kuperhatikan  dia  dengan  saksama.  Dia  seorang  njonja  tua  dan  gemuk.  Djelek,  badannja tidak terpelihara. Dan aku mendjawab, ,,Tidak, njonja. Saja tidak dapat menerka. Siapakah Njonja  ?”,,Mien  Hessels,”  dia  terkikik  lagi.  Huhhhh  !  Mien  Hessels  !  Puteriku  jang  tiantik  seperti  bidadari  sudah  berobah mendjadi perempuan seperti tukang sihir. Tak pernah aku melihat perempuan jang buruk dan kotor  seperti  ini.  Mengapa  dia  membiarkan  dirinja  sampai  begitu.  Dengan  tjepat  aku  memberi  salam  kepadanja,  lalu  meneruskan  perdjalananku.  Aku  bersjukur  dan  memudji  kepada  Tuhan  Jang  Maha-Penjajang  karena  telah  melindungiku.   Tjatji-maki   jang  telah  dilontarkan  bapaknja  kepadaku  sesungguhnja  adalah  suatu  rahmat jang tersembunji. Kalau dipikir-pikir, tentu aku takkan bisa lepas dari perempuan ini. Aku bersjukur  kepada  Tuhan  atas  perlindungan  jang  telah-diberikanNja.  Huhhh,  orang  apa  itu  !  Djalan  hidupku  sebagai   seorang  pentjinta  dimasa  belia  berachir  ketika  Bu  Tjokroaminoto  meninggal.  Keluarga  Pak  Tjokro  dengan  anak-anak  jang  bajar-makan  pindah  kerumah  lain.  Dan  pemimpin  jang  kumuliakan  itu  keadaannja  begitu  tertekan,  sehingga  aku  merasa  kasihan  melihatnja.  Anaknja  masih  ketjil-ketjil,  dia  seorang  diri  dan  rumah  itu asing suasananja. Seluruh keluarga nampaknja tidak berbahagia samasekali. Aku tidak dapat memandangi  keadaan jang demikian itu.Kami belum lama menempati rumah jang baru itu ketika saudara Pak Tjok datang  menemuiku  dan  berkata,  ,,Sukarno,  kaulihat  bagai  mana  sedihnja  hati  Tjokroaminoto.  Apakah  tidak  dapat  kau  berbuat  sesuatu  supaja  hatinja  gembira  sedikit  ?”  Hatiku  sangat  berat  dan  mendjawab,  ,,Saja  dengan  segala  senang  hati  mau  mengerdjakan  sesuatu,  supaja  dia  dapat  tersenjum  lagi.  Tapi  apa  jang  dapat  saja  lakukan  ?  Saja  tidak  bisa  mendjadi  isteri  Pak  Tjokro.”,,Bukan  begitu,  tapi  engkau  dapat  menggembirakan  hatinja dengan tjara lain.”

 

 

,,Tjara lain ?

 

” Ja ?

 

,,Bagaimana ?”

 

,,Djadi menantunja. Puterinja Utari sekarang tidak punja ibu lagi. Tjokro sangat kuatir terhadap haridepan  anaknja  itu  dan  siapa  jang  akan  mendjaganja  dan  mengasihinja.  Inilah  jang  memberatkan  pikirannja.  Saja  kira,  kalau  engkau  minta  kawin  dengan  anak  saudaraku  itu,  mungkin  ini  akan  mengurangi  sedikit  tekanan  perasaan dari Pak Tjokro.”

 

,,Tapi umurnja baru 16,” kataku memprotes.

 

,,Ja  memang,  can  engkau  belum  21.  Perbedaan  umur  tidak  begitu  djauh.  Katakanlah  pada  saja,  Sukarno,  apakah ada perhatianmu sedikit terhadap anak kakakku ?”

 

,,Jah,”   aku   menerangkan   pelahan-lahan.   ,,Saja   sangat   berterima   kasih   kepada   Pak   Tjokro…….   Saja  mentjintai  Urari  Tapi  tidak  terlalu  sangat.  Sungguhpun  begitu,  sekiranja  saja  perlu  memintanja  untuk  meringankan  beban  dari  djundjunganku,  jah,  saja  bersedia.  “Aku  mendatangi  Pak  Tjokro  dan  mengadjukan  lamaranku.  Dia  sangat  gembira  dan  oleh  karena  akan  mendjadi  menantu  aku  segera  dipindahkan  kekamar  jang   lebih   besar   dengan   perabot   jang   lebih   banjak.   Sampai   dihari   ia   menutup   mata,   ia   tak   pernah  mengetahui, bahwa aku mengusulkan perkawinan ini hanja karena aku sangat menghormatinja dan menaruh  kasihan kepadanja. Kami kawin dengan tjara jang kita namakan ,,kawin gantung” Ini adalah perkawinan biasa  jang dibenarkan dalam hukum dan agama.

 

Orang   Indonesia   mendjalankan   tjara   ini   karena   beberapa   alasan.   Kadang-kadang   dilangsungkan   kawin  gantung  terlebih  dulu,  karena  kedua-duanja  belum  mentjapai  umur  untuk  dapat  menunaikan  kewadjiban  mereka setjara djasmaniah. Atau adakalanja sianak dara tinggal dirumah orangtuanja sampai pengantin laki-  laki sanggup membelandjai rumahtangga sendiri.Dalam hal kami, aku dapat tidur dengan isteriku kalau aku  menghendakinja.  Akan  tetapi  aku  tidak  melakukannja  karena  dia  masih  kanak-kanak.  Boleh  djadi  aku  seorang  jang  pentjinta,  akan  tetapi  aku  bukanlah  seorang  pembunuh  anak  gadis  remadja  Itulah  sebabnja,  mengapa  kami  melakukan  kawin  gantung.  Pesta  kawinnjapun  digantung.Disaat-saat  aku  mengawini  Utari  terdjadi dua buah peristiwa, lain tidak karena pendirian jang kolot. Penghulu setjara serampangan menolak  untuk menikahkan kami karena aku memakai dasi. Dia berkata, ,,Anak muda, dasi adalah pakaian orang-jang  beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam.”

 

,,Tuan   Kadi”   aku   membalas,   ,,Saja   menjadari,   bahwa   –   dulunja   mempelai   hanja   memakai   pakaian  Bumiputera,  jaitu  sarung.  Tapi  ini  adalah  tjara  lama.  Aturannja  sekarang  sudah  diperbarui.”,,Ja,”  katanja

 

 

membentak,   ,,Akan   tetapi

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH

 

pembaruan   itu

 

RAKJAT INDONESIA

 

hanja

 

untuk

 

memakai

 

pantalon

 

dan

 

djas

 

buka.”

 

Halaman 25

 

,,Adalah

 

dari 109

 

kegemaran saja untuk berpakaian rapi dan memakai dasi,” aku menerangkan dengan tadjam.,,Dalam hal ini,  kalau  masih  terus  berkeras  kepala  untuk  berpakaian  rapi  itu,  saja  menolak  untuk  melakukan  pernikahan.”  Apabila  aku  ditegur  dengan  keras  dimuka  umum,  atau  disuruh  harus  begini-begitu  atau  lain-lain,  aku  mendjadi   keras.   Dalam   hal   ini   biarpun   Nabi   sendiri   sekalipun,   takkan   sanggup   menjuruhku   untuk  menanggalkan dasi. Aku menjentak bangkit dari korsiku dan mendjawab dengar tandas, Barangkali lebih baik  tidak   kita   landjutkan   hal   ini   sekarang.”   Timbul   protes   keras   dari   imam   mesdjid,   akan   tetapi   aku  menggeledek, ,,Persetan, tuan-tuan semua. Saja pemberontak dan saja akan selalu memberontak, saja tidak  mau  didikte  orang  dihari  perkawinan  saja.”  Kalau  sekiranja  tidak  dihadapan  salah  seorang  tamu  kami  jang  djuga  seorang  alim  dan  sanggup  menikahkan  kami,  mungkinlah  Sukarno  tidak  akan  bersatu  dengan  Utari  Tjokroaminoto dalam pernikahan menurut agama.

 

Ketika lima menit lagi aku akan menghabisi masa djedjakaku, terdjadilah peristiwa aneh jang kedua. Tepat  sebelum aku mengindjak ambang-pintu aku mengambil rokok untuk melakukan hembusan jang terachir. Aku  mengeluarkan  korek-api  dari  kantong,  menggoreskan  sebuah  disisi  kotaknja  untuk  menjelakannja  dan  …….  Sisst …….seluruh kotak itu menjala oleh djilatan api. Anak-korek-api jang ada dalam kotak itu menjala  semua  sampai jang terachir. Karena djilatan api ini djariku terbakar. Kuanggap kedjadian ini sebagai pertandaburuk  dan  memberikan  kepadaku  suatu  perasaan  ramalan  jang  gelap.  Aku  tidak  mentjeritakan  hal  ini  kepada  siapapun,  akan  tetapi  aku  tidak  dapat  menghindarkan  diri  dari  perasaan  jang  menakutkan  ……..  Ehhh…..  Apa maksudnja ini ?

 

Sekalipun   kedudukanku   sebagai   orang   jang   baru   kawin,   waktuku   dimalam   hari   kupergunakan   untuk  mempeladjari Pak Tjokro. Aku mendjadi buntut dari Tjokroaminoto. Kemana dia pergi aku turut. Sukarnolah  jang  selalu  menemaninja  kepertemuan-pertemuan  untuk  berpidato,  tak  pernah  anaknja.  Dan  aku  hanja  duduk  dan  memperhatikannja.  Dia  mempunjai  pengaruh  jang  besar  terhadap  rakjat  Sekalipun  demikian,  setelah berkali-kali aku mengikutinja aku menjadari, bahwa dia tak pernah meninggikan atau merendahkan  suaranja dalam berpidato. Tak pernah membuat lelutjon. Pidato-pidatonja tidak bergaram. Aku tidak pernah  membatja  salah-satu  buku  jang  murah  tentang  bagaimana  tjara  mendjadi  pembitjara  dimuka  umum.  Pun  tidak pernah berlatih dimuka katja. Bukanlah karena aku sudah tjukup berhasil, akan tetapi karena aku tidak  mempunjai apa-apa.

 

Tjerminku   adalah   Tjokroaminoto.   Aku   memperhatikannja   mendjatuhkan   suaranja.   Aku   melihat   gerak  tangannja dan kupergunakan penglihatanku ini pada pidatoku sendiri. Mula-mula sekali aku beladjar menarik  perhatian  pendengarku.  Aku  tidak  hanja  menarik,  bahkan  kupegang  perhatian  mereka  Mereka  terpaksa  mendengarkan.  Suatu  getaran  mengalir  kesekudjur  tubuhku  ketika  mengetahui,  bahwa  aku  memiliki  suatu  kekuatan  jang  dapat  menggerakkan  massa.  Aku  menguraikan  pokok  pembitjaraanku  dengan  sederhana.  Pendengarku   menganggap   tjara   ini   mudah   untuk   dimengerti,   karena   aku   lebih   banjak   mendasarkan  pembitjaraanku kepada tjara bertjerita, djadi tidak semata-mata memberikan fakta dan angka. Aku berbuat  menurut getaran perasaanku. Pada suatu malam Pak Tjokro tidak dapat memenuhi undangan kesuatu rapat  dan  kepadaku  dimintanja  untuk  menggantikannja.  Kali  ini  adalah  suatu  pertemuan  ketjil,  akan  tetapi  aku  menggunakan ke sempatan ini dengan sebaik-baiknja. Aku mulai dengan suara lunak. ,,Negeri kita, saudara,  adalah  tanah  jang  subur,  sehingga  kalau  orang  menanamkan  sebuah  tongkat  kedalam  tanah,  maka  tongkat  itu  akan  tumbuh  dan  mendjadi  sebatang  pohon.  Sekalipun  demikian  rakjat  menderita  kekurangan  dan  kemelaratan adalah beban jang harus dipikul sehari-hari.

 

 

Puntjak  gunung  menghisap  awan  dilangit,  turun  kebumi  dan  negeri  kita  diberi  rahmat  dengan   hudjan  jang  melimpah-limpah.  Akan  tetapi  kita  kekurangan  makan  dan  perut  kita  mendjerit-djerit   kelaparan.”,,Ja,  betul,” mereka berteriak dari tempat duduknja. Suaraku mulai naik. ,,Saudara tahu apa sebabnja, saudara-  saudara  ?  Sebabnja  ialah,  oleh  karena  orang  jang  mendjadjah  kita  tidak  mau  menanamian  uang  kembali  untuk   memperkaja   bumi   jang   mereka   peras.   Pendjadjah   hanja   mau   memetik   hasilnja.   Ja,   mereka  menjuburkan bumi kita ini. Betul ! Akan tetapi tahukah saudara dengan apa mereka menjuburkan bumi kita  ini  ?  Tahukah  saudara  apa  jang  dikembalikan  kebumi  kita  ini  setelah  350  tahun  mendjadjah  ?  Saja  akan  tjeritakan kepada saudara-saudara. Bumi kita ini mereka  suburkan dengan majat-majat jang bergelimpangan  dari rakjat kita jang mati karena kelaparan, kerdja keras dan hanja tinggal tulang-belulang !,,Maka dari itu  saja  bertanja,  apakah  saudara  tidak  setudju  dengan  saja  ?  Seperti  saja  sendiri,  apakah  hati  saudara  tidak  digontjang-gontjang  oleh  keinginan  untuk  merdeka  ?  Saja  pergi  tidur  dengan  pikiran  untuk  merdeka.  Saja  bangun  dengan  pikiran  untuk  merdeka.  Dan  saja  akan  mati  dengan  tjita-tjita  untuk  merdeka  didalam  dadaku.

 

Apakah  saudara  tidak  setudju  dengan  saja  ?”  ,,Setudjuuuuuu  !”  mereka  berteriak,  ,,Ja……..kami  setudju  !”  Mereka melihat kepadaku kalau aku berbitjara. Mereka memandang kepadaku seperti memudja, mata-mata  terbuka  lebar,  muka-muka-terangkat  keatas,  meneguk  semua  kata-kataku  dengan  penuh  kepertjajaan  dan  harapan. Nampak djelas, bahwa aku mendjadi pembitjara jang ulung. Ia berada dalam uratnadiku.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 26 dari 109

 

Aku  menghirup  lebih  banjak  lagi  persoalan  politik  dirumah  Pak  Tjokro,  dapur  daripada  nasionalisme.  Dan  setelah  mengikuti  setiap  pidatoku  maka  kawan-kawan  seperdjoangan  mulai  mengerti  lebih  banjak  tentang  pendirianku.  Kemudian  mulai  setudju.  Lalu  mengikuti  pendirianku.  Dan  mentjintaiku.  Mereka  memilihku  sebagai sekretatis dari Jong Java dan beberapa waktu kemudian aku mendjadi ketua.

 

Akupun  menulis  untuk  madjalah  Pak  Tjok,  ,,Oetoesan  Hindia”,  akan  tetapi  dengan  nama-samaran,  karena  memang  susah  untuk  memasuki  sekolah  Belanda  sambil  menulis  dalam  madjalah  jang  menbela  tindakan  untuk   merobohkan   Pemerintah   Belanda.   Aku   kembali   kepada   Mahabharata   untuk   memperoleh   nama-  samaranku.  Aku  memilih  nama  ,,Bima”  jang  berarti  ,,Pradjurit  Besar”  dan  djuga  berarti  keberanian  dan  kepahlawanan.  Aku  menulis  lebih  dari  500  karangan.  Seluruh  Indonesia  membitjarakannja.  Ibu,  jang  tidak  tahu  tulis-batja,  dan  bapakku  tidak  pernah  tahu  bahwa  ini  adalah  anak  mereka  jang  menulisnja.  Memang  benar,  bahwa  keinginan  mereka  jang  paling  besar  adalah,  agar  aku  mendjadi  pemimpin  dari  rakjat,  akan  tetapi  tidak  dalam  usia  semuda  itu  I  Tidak  dalam  usia  jang  begitu  muda,  jang  akan  membahajakan  pendidikanku dimasa jang akan datang. Bapak tentu akan marah sekali dan akan berusaha dengan berbagai  djalan untak mentjegahku menulis. Aku tidak akan memberanikan diri menjampaikan kepada mereka, bahwa  Karno  ketjil  dan  Bima  jang  gagah  berani  adalah  satu.  Ramalan-emas  jang  pertamakali  diutjapLan  oleh  ibu  diwaktu  aku  lahir— jang  didengungkan  kembali  oleh  nenekku  pada  waktu  aku  masih  botjah  ketjil  dan  jang  didengungkan  lagi  dimasa  mudaku  oleh  Professor  Hartagh—kemudian  diutjapkan  pula  ketika  aku   berada  diambang-pintu usiaku jang keduapuluh. Dan oleh dua orang jang berlainan.

 

 

Dr.  Douwes  Dekker  Setiabudi  adalah  seorang  patriot  jang  telah  menderita  selama  bertahun-tahun  dalam  pembuangan. Ketika umurnja sudah lebih dari 50 tahun ia menjampaikan kepada partainja, jaitu Nationaal  Indische  Partij,  ,,Tuan-tuan,  saja  tidak  menghendaki  untuk  digelari  seorang  veteran.  Sampai  saja  masuk  keliang-kubur saja ingin mendjadi pedjoang untuk Republik Indonesia. Saja telah berdjumpa dengan pemuda  Sukarno.  Umur  saja  semakin  landjut  dan  bilamana  datang  saatnja  saja  akan  mati,  saja  sampaikan  kepada  tuan-tuan, bahwa adalah kehendak saja supaja Sukarno jang mendjadi pengganti saja.” ,,Anak muda ini,” ia  menambahkan,  ,,akan  mendjadi  ‘Djuru-selamat’  dari  rakjat  Indonesia  dimasa  jang  akan  datang.”Ramalan-   jang kedua keluar dari Pak Tjokro, seorang penganut Islam jang saleh. Dia banjak mempergunakan waktunja  untuk  sembahjang  dan  mendo’a.  Setelah  beberapa  lama  melakukan  samadi,  ia  kembali  kepada  seluruh  keluarganja  pada  suatu  malam  jang  berhudjan  dan  ia  berbitjara  dengan  kesungguhan  hati?  ,,Ikutilah  anak  ini.  Dia  diutus  oleh  Tuhan  untuk  mendjadi  Pemimpin  Besar  kita.  Aku  bangga  karena  telah  memberinja  tempat  berteduh  dirumahku.”  Sepuluh  Djuni  1921  aku  lulus.  Sebelas  Djuni  rentjana  jang  telah  kuperbuat  untuk   diriku   sendiri   ditolak   mentah-mentah.   Kawan-kawanku   dan   aku   bermaksud   akan   meneruskan  peladjaran kesekolah tinggi di Negeri Belanda. Ibu tidak mau tahu samasekali dengan itu.

 

 

Aku  bersoal  dengan  dia.  ,,Ibu,  semua  anak-anak.jang  lulus  dari  H.B.S.  dengan  sendirinja  pergi  ke  Negeri  Belanda.   Itulah   djalan   jang   biasa.   Kalau   orang   mau-memasuki   sekolah   tinggi   dia   pergi   ke   Negeri  Belanda.”,,Tidak.  Tidak  bisa.  Anakku  tidak  akan  pergi  ke  Negeri  Belanda,”  ia  memprotes.,,Apa  salahnja  keluar negeri ?”,,Tidak ada salahnja,” katanja. ,,Tapi banjak djeleknja untuk pergi kenegeri Belanda. Apakah  jang   menjebabkan   kau   tertarik?:Pikiran   untuk   mentjapai   gelar   universitas   ataukah   pengharapan   akan  mendapat seorang perempuan kulitputih ?”,,Saja ingin masuk universitas, Bu.” ,,Kalau itu jang kauingini, kau  memasuki  jang  disini.  Pertama  kita  harus  mengingat  kenjataan  pokok  jang  mengendalikan  sesuatu  dalam  hidup  kita,  Uang.  Pergi  keluar  negeri  memerlukan  biaja  jang  sangat  besar.  Disamping  itu,  engkau  adalah  anak jang dilahirkan dengan darah Hindia. Aku ingin supaja engkau tinggal disini diantara bangsa kita sendiri.   Djangan lupa sekali-kali, ‘nak, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah dikepulanan ini.” Dan begitulah  aku mendaftarkan diri keuniversitas di Bandung. Mungkin suara ibu jang kudengar. Akan tetapi sesungguhnja  tangan Tuhanlah jang telah menggerakkan hatiku.

 

 

Bab 5

 

Bandung: Gerbang Kedunia Putih

 

MINGGU  terachir  bulan  Djuni  tahun  1921  aku  memasuki  kota  Bandung,  kota  seperti  Princeton  atau  kota-  peladjar   lainnja   dan   kuakui   bahwa   aku   senang   djuga   dengan   diriku   sendiri.   Kesenangan   itu   sampai  sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok. Djadi dapat dibajangkan, betapa menjenangkan  masa  jang  kulalui  untak  beberapa  waktu.  Salah  satu  bagian  daripada  egoisme  ini  adalah  berkat  suksesku  dalam pemakaian petji, kopiah beludru hitam jang mendjadi tanda pengenalku, dan mendjadikannja sebagai  lambang kebangsaan kami. Pengungkapan tabir ini terdjadi dalam pertemuan Jong Java, sesaat sebelum aku  meninggalkan  Surabaja.  Sebelumnja  telah  terdjadi  pembitjaraan  jang  hangat  karena  apa  jang  menamakan  dirinja kaum intelligensia, jang mendjauhkan diri dari saudara-saudaranja rakjat biasa, merasa terhina djika  memakai blangkon, tutup kepala jang biasa dipakai orang jawa dengan sarung, atau petji jang biasa dipakai  oleh  tukang  betja  dan  rakjat-djelata  lainnja.  Mereka  lebih  menjukai  buka  tenda  daripada  memakai  tutup

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 27 dari 109

 

kepala jang merupakaa pakaian sesungguhaja dari orang Indonesia. Ini adalah tjara dari kaum terpeladjar ini  mengedjek dengan-halus terhadap kelas-kelas jang lebih rendah.

 

Orang-orang ini bodoh dan perlu beladjar, bahwa seseorang tidak akan dapat meminpin rakjat-banjak djika  tidak  menjatukan  diri  dengan  mereka.  Sekalipun  tidak  seorang  djuga  jang  melakukan  ini  diamtara  kaurn  terpeladjar,  aku  memutuskan  untuk  rnempertalikan  diriku  dengan  sengadja  kepada  rakjat-djelata.  Dalam  pertemuan  selandjutnja  kuatur  untuk  memakai  petji,  pikiranku  agak  tegang  sedikit.  Hatiku  berkata-kata.  Untuk   memulai   suatu   gerakan   jang  djantan   iseperti   ini   setjara   terang-terangan   memang   memerlukan  keberanran.  Sambil  berlindung  dibelakang  tukang-sate  didjalanan  jang  sudah  mulai  gelap  dan  menunggu  kawan-kawan seperdjoangan jang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua berlagak  seperti mereka itu orang Barat kulit putih, aku ragu-ragu untuk sedetik. Kemudian aku bersoal dengan diriku  sendiri,  ,,Djadi  pengikutkah  engkau,  atau  djadi   pemimpinkah  engkau   ?”—  ,,Aku   pemimpin,”  djawabku  menegaskan—,,Kalau  begitu,  buktikanlah,”  kataku  lagi  pada  diriku.  ,,Hajo  madju.  Pakailah  petjimu.  Tarik  napas jang dalam ! Dan masuk SEKARANG ! ! !”Begitulah kulakukan. Setiap orang memandang heran padaku  tanpa kata-kata. Disaat itu nampaknja lebih baik memetjah kesunjian dengan buka bitjara, ,,Djanganlah kita  melupakan   demi   tudjuan   kita,   bahwa   para   pemimpin   berasal   dari   rakjat   dan   bukan   berada   diatas  rakjat.”Mereka masih sadja memandang.

 

 

Aku  membersihkan  kerongkongan.  ,,Kita  memerlukan  suatu  lambang  daripada  kepribadian  Indonesia.  Petji  jang memberikan sifat chas perorangan ini, seperti jang dipakai oleh pekerdja-pekerdja dari bangsa Melaju,  adalah  asli  kepunjaan  rakjat  kita.  Namanja  malahan  berasal  dari  penakluk  kita.  Perkataan  Belanda  ‘pet’  berarti  kupiah.  ‘Je’  maksudnja  ketjil.  Perkataan  itu  sebenarnja  ‘petje’.  Hajolah  saudara-saudara,  mari  kita  angkat-  kita  punja  kepala  tinggi-tinggi  dan  memakai  petji  ini  sebagai  lambang  Indonesia  Merdeka.”Pada  waktu  aku  melangkah  gagah  keluar  dari  kereta-api  distasiun  Bandung  dengan  petjiku  jang  memberikan  pemandangan   jang   tjantik,   maka   petji   itu   sudah   mendjadi   lambang   kebangsaan   bagi   para   pedjoang  kemerdekaan.  Kalau  sekarang  petji  itu  bagiku  lebih  rnerupakan  sebagai  lambang  untuk  pertahanan  diri.  Sesungguhaja, kepalaku kian hari semakin botak. Karena orang Islam diharuskan mentjutji rarnbutnja setelah  dia   berhubungan   dengan   seorang   perempuan,   maka   kawan-kawan   menggangguku,   ,,Hei   Sukarno,   itu  barangkali jang membikin Bung botak.” Apapun alasannja, aku gembira karena telah mempunjai pandangan  kedepan   44   tahun   jang   lalu   untuk   membikin   petji   ini   begitu   hebat,   sehingga   masjarakat   sekarang  menganggap tidak pantas djika membuka petji dimuka umum. Pak Tjokro mempunjai seorang kawan lama di  Bandung.  Dan  orang  ini  telah  sering  mendengar  tentang  pemuda  jang  rnendapat  perlindungan  dari  Pak  Tjokro.

 

Ketika  aku  pindah  dari  Djawa  Timur  kedaerah  Djawa  Barat  ini,  Pak  Tjokio  telah  meggusahakan  tempatiku  menginap dirumah tuan Hadji Sanusi. Aku pergi lebih dulu tanpa Utari untuk mengatur tempat dan melihat-  lihat   kota,   rumah   mana   jang   akan   mendjadi   tempat   tinggal   kami   selama   empat   tahun   begitulah  menurut.perkiraanku  diwaktu  itu.  Aku  merasa  hawanja  dingin  dan  wanitanja  tjantik-tjantik.  Kota  Bandung  dan  aku  dapat  saling  menarik  dalam  waktu  iang  singkat.Seorang  laki-laki  jang  sudah  setengah  baja  jang  memperkenalkan dirinja sebagai Sanusi datang sendiri mendjemputku dan membawaku kerumahnja. Dengan  segera aku mengetahui, bahwa perdjalanan pendahuluan ini tidaklah sia-sia. Sekalipun aku belum memeriksa  kamar, tapi djelas bahwa ada keuntungan tertentu dalam rumah ini. Keuntungan jang utama sedang berdiri  dipintu  masuk  dalam  sinar  setengah  gelap,  bentuk  badannja  nampak  djelas  dikelilingi  oleh  tjahaja  –  lampu  dari belakang.

 

Perawakannja  ketjil,  sekuntum  bunga  merah  jang  tjantik  melekat  disanggulnja  dan  suatu  senjuman  jang  menjilaukan-mata.  Ia  isteri  Hadji  Sanusi,  Inggit  Garnasih.  Segala  pertjikan  api,  jang  dapat  memantjar  dari  seorang  anak  duapuluh  tahun  dan  masih  hidjau  tak  berpengalaman,  menjambar-njambar  kepada  seorang  perempuan dalam umur tigapulahan jang sudah matang dan berpengalaman. Disaat pertama aku melangkah  melalui pintu masuk aku berpikir, ,,Aduh,Luarbiasa perempuan ini.” Aku sadar, lebih baik aku tjepat-tjepat  berhenti  mengingatnja.  Karena  itu  ingatan  kepada  njonja-rumah  itu  kubilangkan  dari  pikiranku—untuk  sementara— kemudian menjuruh datang Utari dan memusatkan pikiran pada persoalan masuk Sekolah Teknik  Tinggi mengedjar gelar Insinjur—bukan untuk merusak perkawinan orang. Diwaktu sekarang kami mempunjai  Universitas Indonesia di Djakarta, Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta, Universitas Airlangga di Surabaja,  Universitas   Lambung   Mangkurat   di   Kalimantan   dan   berlusin-lusin   universitas   penuh-sesak   menurut  kemampuannja.  Akan  tetapi  pada  waktu  aku  memasuki  Sekolah  Teknik  Tinggi  kami  hanja  11  orang  anak  Indonesia.  Aku  termasuk  salah-seorang  dari  11  orang  jang  berrnuka  hitam,  terapung-apung  kian-kemari  dalam  Lautan  kulitputih  berarnbut  merah,  berdjerawat  dan  bermata  hidjau  seperti  kutjing.  Seperti  dugaan  kami,  anak-anak  Belanda  tidak  mau  tahu  dengan  kami  didalam  campus  itu.  Kalaupun  rnereka  memberi  perhatian  kepada  kami,  itu  hanja  untuk  membusukkan  kami  atau  menjorakkan,  ,,Hei  kamu,  anak  inlander  bodoh, mari sini.” Aku tidak tahu kekuatan apa jang ada padaku.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 28 dari 109

 

Aku  hanja  tahu,  bahwa  sekalipun  aku  tidak  mengutjapkan  sepatah  kata,  kehadiranku  sadja  sudah  tjukup  untuk   menutup   mulut   orang-orang   jang   menghina,   lalu    menghentikan   perintah-perintahnja.    Kami  membanting-tulang  di  Sekolah.  Pekerdjaan  rumah  banjak  sekali.  Kuliah-kuliah  jang  diberikan  enarn  hari  dalam  seminggu  ditambah  dengan  udjian  tertulis  setiap  triwulan  selama  sebulan  penuh,  sungguh-sunggah  rasanja  seperti  akan  mematahkan  tulang-punggung  karena  bertekun.  Waktuku  tidak  banjak  untuk  Utari.  Akupun  tidak  banjak  mempunjai  persamaan  dengan  dia.  Selagi  aku  beladjar  ilmu  pasti,  ilmu  alam  dan  mekanika,   jang   bernama   isteriku   itu   berada   dipekarangan   belakang   bermain   dengan   kawan-kawan   perempuannja.  Selagi  aku  mempidatoi  perkumpulan  pemuda  diwaktu  malam,  baji  jang  telah  kukawini   bergelut dengan seorang anak, kemenakan njonja Inggit. Kami menempuh djalan masing-masing. Dia masih  hidjau   sekali.   Sifat   pemalunja   terlalu   berkelebihan,   sehingga   djalang   berbitjara   denganku,   kalaupun  ada.Kami  tidur  berdampingan  disatu  tempat-tidur,  tapi  setjara  djasmaniah  kami  sebagai  kakak  beradik.  Di  Bandung  dia  djatoh  sakit.  Sementara  dia  terbaring  dengan  pajah  aku  merawatnja.  Berkali-kali  aku  melap  tubuhnja jang panas dengan alkohol, dari udjung kepala sampai keudjung djari-kakinja, namun tak sekalipun  aku mendjamahnja. Ketika ia sudah pulih kembali antara kamipun tidak terdapat perhubungan djasmani.

 

 

Kami  bahkan  dengan  setulus  hati  tidak  mengidamkan  satu  sama  lain  dalam  arti  tjinta  antara  laki-laki  dan  dara  jang  sebenarnja.  Maksudku,  dia  tidak  mernbentjiku  dan  aku  tidak  membentjinja,  akan  tetapi  ini  bukanlah  perkawinan  jang  lahir  dari  perasaan  berahi  jang  menjala-njala.  Tidak  banjak  kesempatan  untuk  menggunakan  waktu  bagi  kesenangan  diri,  oleh  karena  seluruh  djiwa  dan  ragaku  segera  penuh  dengan  berbagai  kesukaran.  Setelah  tinggal  di  Bandung  selama  dua  bulan,  suratkabar  memuat  berita-berita  besar  tentang  kegiatan  revolusioner  jang  terachir,  aksi-pemogokan  di  Garut.  Kedjadian  ini  dianggap  sebagai  persoalan  afdeling,  jaitu  persoalan  daerah.  Pemerintah  Kolonial  sudah  dibikin  susah  oleh  pertumbuhan  Nasionalisme  jang  pesat.  Njamuk  tjelaka  jang  baru  mendengung-dengung  ditahun  1908  dengan  sembojan-  sembojan  politik  tanpa  kekerasan,  sekarang  telah  mendjadi  besar  dan  mengandung  ratjun  ketidak-puasan  dengan  gigitannja  jang  mematikan.  Para  pekerdja  sudah  diorganisir;  rnereka  menuntut  hak;  menuntut  undang-undang  perburuhan  jang  mendjamin  djam-kerdja  jang  lebih  pendek  daripada  18  djam;  menuntut  upah  jang  pantas  dan  menuntut  suatu  masjarakat  jang  bekerdja  tanpa  ,,Exploitation  de  l’homme  par  l’homme”.  Di  Indonesia  telah  bertunas  organisasi  para  pekerdja  seperti  Persatuan  Buruh  Gula  dan  Serikat  Pekerdja Rumah Gadai.

 

Dalam djaman dimana orang Barat telah mengenal pemogokan sebagai hak dari serikat-serikat buruh untuk  mentjoba memperbaiki nasibnja jang menjedihkan, maka pemerintah Hindia Belanda dalam usahanja untuk  mematikan  ,,sifat-radikal”  dan  ,,Komunisme”,  sebagaimana  mereka  menamakannja,  mengeluarkan  undang-  undang baru, Artikel 161. Jaitu larangan terhadap pemogokan. Hukum pidana bahkan sekarang menetapkan,  bahwa barangsiapa jang menghasut seseorang untuk melakukan pemogokan diantjam dengan hukurnan enam  tahun pendjara.Ini sangat menusuk hatiku pribadi, karena para pembesar berkejakinan bahwa pemogokan di  Garut  dipupuk  oleh  Sarekat  Islam.  Dihari  itu  djuga  mereka  menahan  Tjokroaminoto.  Keluarga  Pak  Tjokro  sedang berada dalam kekurangan. Penderitaan mereka adalah penderitaanku djuga. Apa akal…… Apa akal

 

…..Apakah  aku  akan  madju  terus  dan  memikirkan  diri  sendiri  serta  apa  jang  kuharapkan  dapat  tertjapai  dihari  esok  ?  Ataukah  aku  akan  mundur  kebelakang  dan  memikirkan  Pak  Tjokro  dan  apa   jang  telah  dikerdjakannja untukku dihari kemarin ? Dihadapanku terentang djalan-raja berlapiskan emas jang menudju  kepada  idjazah  sekolah  tinggi.  Dibelakangku  terhampar  djalanan  kembali  menudju  kamar  jang  gelap  dan  kehidupan  jang  suram.  Soalnja  adalah  mana  jang  lebihpenting  mana  jang  lebih  mudah  dapat  dikorbankan  oleh  seoranganak  Bumiputera  ?  Gerbang  menudju  dunia  putihkah  ?  Atau  mengorbankan  kesetiaan  kepada  prinsipnjakah   ?   Bagiku   tidak   ada   kesangsiandjiwa.   ,,Saja   akan   meninggalkan   Bandung   besok   menudju  Surabaja,”dengan  tegas  kusampaikan  kepada  njonja  Inggit  didapur  esok  paginja.  ,,Untuk  berapa  lama  ?”  tanjanja.,,Saja  tidak  tahu.  Barangkali  untuk  selama-lamanja.  Ini  tergantung  kepada  lamanja  hukuman  Pak  Tjokro.  Apakah  enam  bulan  atau  dua  puluh  tahun,  selama  itu  pula  saja  harus  berbuat  apa  jang  harus  saja  perbuat.” Ia menjediakan kopi tubruk, kopi hitam pekat jang tak dapat kutinggalkan, dan tangannja gemetar  sedikit.   ,,Dengan   meninggalkan   sekolah   ada   kemungkinan   engkau   melepaskan   segala   harapan   untuk  mentjapai tjita-tjitamu,” hanja itu utjapannja ,,Saja menjadari hal itu.

 

 

Saja djuga menjadari, bahwa Pak Tjokro mertuaku. Saja anak tertua dari keluarganja. Tapi soalnja bukan itu  sadja,  lebih  lagi  dari  itu.  Saja  harus  berbakti  pada  orang  jang  kupudja  itu  dan  kepada  prinsipku.”  ,,Tapi  isterinja jang baru tidak menulis surat kepadamu untuk minta bantuan,” ia mengemukakan. ,,Anaknja djuga  tidak memberi kabar apa-apa tentang kesukaran mereka. Malahan tak seorangpun meminta engkau datang.  ,,Saja  harus  pergi.  Kurasakan  dalam  dadaku,  bahwa  itu  mendjadi  tugas  saja  ….Tidak  !  Saja  rasakan  ini  sebagai   hak-istimewaku   untuk   bisa   menjelamatkan   mertjusuar   ini   jang   telah   menundjukkan   djalan  kepadaku.”Aku  memperhatikan  bubuk  kopi  turun  hingga  ia  mengendap  kedasar  tjangkir.  ,,Saja  mendapat  kabar,  bahwa  penahanan  terhadap  Pak  Tjokro  dua  hari  jang  lalu  itu  tidak  diduga  samasekali.  Belanda  mendadak  menggedor  rumahnja  ditengah  malam  buta  dan  menggiringnja  dengan  udjung  bajonet  kedalam  tahanan. Dia tidak mendapat kesempatan untuk mengatur keluarga jang ditjintainja.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 29 dari 109

 

Dan  tak  seorangpun  jang  akan  mengawasi  mereka.,,Djadi  nampaknja  djelas  bagimu,  bahwa  dari  semua  pengikutnja  jang  djumlahnja-djutaan  orang  itu  hanja  engkau  jang  akan  memikul  kewadjiban  itu  diatas  pundakmu ?” ,,Ja, itu kewadjiban saja. Dia mergulurkan tangannja pada waktu saja memerlukan rumah dan  tempat   berteduh.   Sekarang   saja   harus   berbuat   begitu   pula   kepadanja   Mengediar   kehidupan   sendiri,  sementara  orang  jang  sudah  diakui  keluarga  berada  dalam  kesusahan  bukanlah  tjara  orang  Indonesia.”  ,,Maksudmu,”   katanja   lunak,   ,,Bahwa   itu   bukanlah   tjara   Soekarno.”Dipagi   itu   djuga   aku   rnelaporkan  keberhentianku  mengikuti  kuliah.  Presiden  dari  Sekolah  Teknik  Tinggi,   Professor  Klopper,  rupanja  kuatir  terhadap  tindakanku  ini.  ,,Sudah  mendjadi  kebiasaanmu,  bahwa  seluruh  keluarga  memberikan  korban  mereka  untuk  meneruskan  pendidikan  dari  salah-seorang  anggotanja  jang  berbakat,  bukan  ?”  ia  menanjaku  dengan  ramah.,,Ja,  tuan.  Saja  kira,  bahkan  kelaparanpun  tak  dapat  mentjegah  keluarga  saja  mengadakan  biaja  jang  perlu  bagi  pendidikan  anaknja.  Sebagai  mantri-guru  bapak  membanting  tulang  seperti  pekerdja  lainnja.

 

Ibu  duduk  berdjam-djam  lamanja  melukis  kain  batik  sampai  tengah  malam  hingga  pelita  dan  pemandangan  matanja  mendjadi  samar.  Supaja  dapat  mengumpulkan  dengan  susah-pajah  uang  300  rupiah  untuk  uang-  kuliah  setahun,  orangtua  saja  baru-baru  ini  menambah  orang  bajar-makan.  Kakak  saja  dan  suaminja  djuga  membantu   setiap   bulan.”,,Kalau   dibelakang   hari,”   Professor   Klopper    melandjutkan,   ,,;Engkau   hanja  ditempatkan  sebagai  pekerdja  dilapangan,  bagaimana  engkau  membajar  kembali  kepada  orang-orang  jang  menjokongmu  selama  beladjar  ?”,,Itu  bukanlah  kebiasaan  kami,”  aku  menerangkam  ,,Mereka  akan  marah  kalau saja mentjoba jang demikian. Tjara kami sebaliknja. Kami harus selalu bersedia membantu orang jang  pernah  menolong  kita  diwaktu  ia  memerlukannja.  Itulah  jang  dinamakan  gotong-rojong.  Saling  membantu.  Dan   karena   itulah   saja   harus   pulang.”   Dihari   berikutnja   aku   mengumpulkan   isteriku,   mengumpulkan  segalaharapan   dan   idamanku   dan   membawa   semua   ia   pulang   ke   Surabaja.   Supaja   dapat   membantu  rumahtangga   aku   bekerdja   sebagai   klerk   distasiun   kereta-api.   Kedudukanku   adalah   sebagai   ,,Raden  Sukarno,’- BKL. Der Eerste Klasse. Eerste Categorie.”

 

 

Sebagai seorang klerk kantor kelas satu golongan satu aku menelan uap dan asap selama tudjuh djam dalam  sehari, karena kantorku jang tidak dimasuki hawa bersih berhadapan dengan rel dari pelataran stasiun jang  menjedihkan.  Tugas  beratku  jang  utama  adalah  membuat  daftar  gadji  untuk  para  pekerdja.  Oleh  karena  bekerdja sehari penah, aku tidak punja kesempatan mengulangi peladjaran. Akan tetapi ada baiknja, karena  tempat jang luarbiasa ramainja ini mendjadi tempat keluar-masuk kereta-api jang datang dari kota-kota lain  seperti  Madiun,  Djogja,  Malang,  Bandung  dan  aku  dapat  berhubungan  dengan  massa  pekerdja.  Tak  pernah  aku menjia-njiakan kesempatan untuk menaburkan bibit Nasionalisme.Aku menerima 165 rupiah sebulan. 125   kuserahkan kepada ketuarga Pak Tjokro. Diwaktu mereka patah semangat dan bersusah hati, kubawa mereka  menonton film dengan apa jang masih tersisa dari uangku jang 40 rupiah itu. Atau kubelikan barang barang  ketjil  seperti  kartu-pos  bergambar.  Hanja  ini  jang  dapat  kuadakan,  akan  tetapi  besar  artinja  bagi  mereka.   Kuberikan pakaianku untuk dipakai. Aku mendjaga disiplin mereka dengan pukulan sandal pada belakangnja.

 

 

Aku  mendjalankan  segala  tugas  orangtua,  sampai  kepada  menjunatkan  Anwar.  Aku  sendiri  mentjari  obat,  mentjari   orang   alim   dan   menjelenggarakan   selamatannja.   Bertahun-tahun   kemudian,   setelah   Anwar  mendjadi    seorang    tokoh    politik,    aku    mengganggunja,    ,,Nah,    djangan    kaulupakan,    akulah    jang  menjunatkanmu.”Pada  waktu  Pak  Tjokro  didjatuhi  hukuman  karena  persoalan  politik,  Belanda  melarang  anak-anaknja  untuk  melandjutkan  sekolah.  Djadi,  Sukarnolah  jang  mengadjar  mereka.  Akupun  mengadjar  mereka  menggambar.  Untuk  membeli  kertas  atau  batutulis  tidak  ada  uang,  akan  tetapi  dinding  rumah  di  Djalan   Plambetan   dipulas   dengan   kapur   putih.   Bukankah   dinding   putih   baik   untuk   digambari   ?   Maka  kugambarkan  dari  luar  kepala  gambar  persamaan,dan  karikatur  dari  bintang  film  kesajanganku,  Frances  Ford. Terlepas dari persoalan apakah kami mendjadi tokoh- tokoh politik dimasa-masa jang akan datang atau  tidak, maka pada waktu itu sesungguhnjalah kami merupakan suatu rumahtangga jang terdiri dari anak-anak  jang ketakutan dan lapar dalam arti jang murni. Dan Aku ? Aku adalah jang paling besar, hanja itu.

 

 

Pak  Tjokro  dibebaskan  pada  bulan  April  1922.  setelah  tudjuh  bulan  meringkuk  dalam  tahanan.  Bulan  Djuli,  pada  waktu  mulai  tahun  peladjaran  baru  setjara  resmi,  aku  kembali  ke  Sekolah  Teknik  Tinggi  dan  kembali  kepada  njonja  Inggit.  Utari  dan  aku  tidak  dapat  lebih  lama  menempati  satu  tempat-tidur,  bahkan  satu  kamarpun tidak. Djurang antara kami berdua semakin lebar. Sebagai seorang jang baru kawin kasih sajangku  kepadanja  hanja  sebagai  kakak.  Sebagai  kepala  rumahtangga  dari  Pak  Tjokro  perananku  sebagai  seorang  bapak.   Jang   tidak   dapat   dibajangkan   sekarang   adalah   peraaanku   sebagai   seorang   suami.   Aku   telah  memperhatikan,  kalau  engkau  membelah  dada  seseorang  termasuk  aku  sendiri  maka  akan  terbatja  dalam  dadanja itu bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tertjapai apabila si isteri merupakan perpaduan  dari  pada  seorang  ibu,  kekasih  dan  seorang  kawan.  Aku  ingin  di  ibui  oleh  teman  hidupku.  Kalau  aku  pilek,  aku  ingin  dipidjitnja.  Kalau  aku  lapar,  aku  ingin  memakan  makanan  jang  dimasaknja  sendiri.  Manakala  badjuku kojak, aku ingin isteriku menarnbalnja. Dengan Utari keadaannja terbalik. Aku jang mendjadi orang  tuanja, dia sebagai anak.

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 30 dari 109

 

Ia  bukan  idamanku,  oleh  karena  tidak  ada  tarikan  lahir  dan  dalam  kenjataan  kami  tak  pernah  saling  mentjintai.  Sebagai  teman  seperdjuangan,  orang  jang  demikian  tidak  sanggup  menemaniku  pada  waktu  tenagaku  terpusat  pada  penjelamatan  dunia  ini,  sedang  dia  sementara  itu  main  bola-tangkap.  Sudah  mendjadi suatu kebiasaanku untuk menoleh kepada seorang wanita supaja hatiku dapat terhibur. Kalauharus  diadakan  pilihan  antara  wanita  jang  memiliki  tangan  jang  tjantik  dengan  seorang  jang  memiliki  hati  jang  lembut, maka aku seringkali tertarik pada jang terachir ini. Aku tidak lebih mengutarnakan hubungan lelaki-  perempuan,  akan  tetapi  aku  memerlukan  hati  jang  lembut  dan  dorongan  jang  besar  dan  mulia  jang  hanja  dapat  diberikan  oleh  hati  seorang  wanita.  Inggit  dan  aku  berada  bersama-sama  setiap  malam.  Aku  adalah  orang jang selalu bangun dan membatja. Inggitpun lambat pergi tidur karena harus menjiapkan makan untuk  hari  berikutnja.  Dia  selalu  ada  disekelilingku.  Dia  adalah  njonja  rumah.  Aku  orang  bajar-makan.  Kami  berteduh  dibawah  atap  jang  sama.  Aku  melihatnja  dipagi  hari  sebelum  ia  menggulung  sanggulnja.  Dia  melihatku dalam pakaian pijama. Aku senantiasa makan bersama-sama dengan dia. Memakan makanan jang  dimasaknja  sendiri.  Sajuran  seperti  lodeh,  jaitu  sajuran  jang  dimasak  dengan  santan  pakai  tjabe  jang  kusenangi atau ontjom jang djuga kusukai ataupun makanan lain jang chusus dibuatnja untuk menjenangkan  hatiku.  Dia  itulah  bukan  isteriku  jang  membereskan  karnarku,  melajaniku,  memperhatikan  pakaianku  dan  mendengarkan buah-pikiranku. Dialah orang jang bertindak sebagai ibu kepadaku, bukan Utari.

 

 

Tuan  Sanusi  orang  jang  sudah  berumur  dan  samasekali  tidak  peduli  terhadap  isterinja.  Seorang  pendjudi  dengan kegemarannja jang luarbiasa main  biljar. Setiap malam  ia berada dirumah bola untuk  mentjobakan  ketjakapannja.  Pada  praktekola  mereka  bertjerai  disatu  rumah.  Rumahtangga  mereka  tidak  berbahagia.  Sebagai suami-isteri, mereka serumah, lain tidak. Lalu masuklah kedalam lingkungan ini seorang muda jang   bernafsu dan berapi-api. Ia sangat tertarik kepadanja. Ia melihat dalam  diri perempuan itu  seorang wanita  jang sadar, bukan kanak-kanak, seperti jang satunja jang masih main kutjing-kutjingan diluar. Keberanian ini  mulai   bangkit.   Aku   seorang   jang   sangat   kuat   dalam   arti   djasmaniah   dan   dihari-hari   itu   belum   ada   televisi……hanja  Inggit  dan  aku  dirumah  jang  kosong.  Dia  kesepian.  Aku  kesepian.  Perkawinannja  tidak  betul.  Dan  perkawinanku  tidak  betul.  Dan  adalah  wadjar,  bahwa  hal-hal  jang  demikian  itu  tumbuh.  Inggit  dan   aku   banjak   mengalami   sast-saat   jang   menjenangkan   bersama-sama.   Kami   keduanja   mempunjai  perhatian  jang  sama.  Dan  barangkali  djuga…..  jah,  kami  keduanja  bahkan  sama  mentiintai  Sukarno.  Disamping  hakekatnja  sebagai  seorang  perempuan,  diapun  memudja  Sukarno  setjara  menghambakan  diri  samasekali dan membabi-buta baik atau buruk, benar atau salah. Tidak lain dalam hidupnja ketjuali Sukarno  serta segala apa jang mendjadi pikiran, harapan dan idaman Sukarno. Aku berbitjara dia mendengarkan.

 

 

Aku  berbitjara  dengan  sangat  gembira;  dia  menghargai.  Utari  menjadari-apa  jang  terdjadi,  akan  tetapi  ia  mengetahui, bahwa persatuan kami tidak akan membawa kebahagiaan. Karena ia tidak pernah mengenalku  dalam   arti   suami-isteri   jang   sebenarnja,   maka   tidak   timbul   iri   hati   dari   pihaknja.   Hadji   Sanusipun  mengetahui  apa  jang  sedang  berkembang,  akan  tetapi  perkawinannja  sudah  sedjak  lama  rusak.  Aku  tidak  merasa  bahwa  aku  merebutnja  dari  sang  suami  ataupun  merusak  suatu  rumahtangga  jang  berbahagia,  sebagaimana  jang  dikatakan  oleh  madjalah  madjalah  luar  negeri.  Tidak  ada  sesuatu  jang  akan  dirusakkan.  Bahkan Sanusi sendiripun tidak ada usaha untuk merebut hati isterinja lagi. Tanpa mendramakannja dengan  teliti,  kukira  tentu  ada  bersembunji  perasaan-perasaan  bersalah.  Aku  tidak  ingat  betul,  apakah  aku  meng  alaminja   sedemikian   banjak   ketika   itu   ataukah   aku   rnengeluarkannja   sekarang   sebagai   usaha   untuk  menerangkan tindakan-tindakan itu. Akupun tidak tahu, bagaimana perasaan rakjatku mengenai Presidennja  jang   membitjarakan   ini   sarnpai   sedemikian   djauh   .   Aku   tidak   menghendaki   mereka   mendjadi   malu.  Anggaplah,    karena    peristiwa    pertjintaan    sedang    tumbuh    diwaktu    itu    aku    mentjoba    menganalisa  kedjahatannja.  Dan  aku  tidak  pernah  berhenti  menganalisanja.  Kumaksud  bukan  affair  Inggit  sadja.  Jang  kumaksud  adalah  seluruh  kehidupanku.  Seakan  aku  menganalisa  setjara  abadi  kekuatan-kekuatan  jang  ada  dalam  diriku.  Dan  kekuatan-kekuatan  jang  ada  disekelilingku.  Otakku  dan  djiwaku  selalu  bernjala-njala  dengan  perdjuangan  jang  tak  habis-habis  antara  jang  baik  dan  jang  djahat.  Setelah  enam  bulan  berada  di  Bandung aku sendiri rnembawa Utari pulang kerumah bapaknja. ,,Pak,” kataku. ,,Saja mengembalikan Utari  kepada bapak.” ,,Keputusan siapa ini ?” tanja Pak Tjokro. ,,Saja, Pak. Sajalah jang ingin bertjerai. “Kemudian  ia  hanja  bertanja,  ,,Apakah  dia  menerima  keputusanmu?”Aku  mendjawab,  ,,Ja.  Dia  sudah  tentu  susah  karena, walaupun bagaimana, anak-anak gadis kita menganggap pertjeraian itu suatu kernunduran.

 

Dia  barangkali  merasa  sedikit  bingung,  sebab  selama  dua  tahun  kami  kawin  aku  tak  pernah  menjentuhnja.  Sebenarnja dia tidak ingin bertjerai, akan tetapi diapun menjadari bahwa djalan inilah jang paling baik bagi  kami  berdua.”Pak  Tjokro  mengangguk  diam.  ,,Pak,  saja  menunggu  sampai  bapak  keluar  dari  tahanan  untuk  menjampaikan  hal  ini.  Perkawinan  kami  sudah  tidak  baik  dari  permulaannja  dan  tidak  akan  baik  untuk  seterusnja. Tanpa pertjeraian tidak dapat dibina perkawinan jang berbahagia.”Pak Tjok menghargai apa jang  kukatakan.   Ia   tidak   menanjakan   persoalan-persoalan   pribadi.   Dan   setelah   kedjadian   ini   Pak   Tjokro  sekeluarga  dan  aku  selalu  dalam  hubungan  jang  baik.  Hubungan  kami  tetap  seperti  sebelumnja.  Apa  jang  kuutjapkan  setjara  resmi  hanjalah,  ,,Saja  djatuhkan  talak  satu  kepadarnu,”  dan  perkawinan  kami  berachir.  Djadi,  tjara  kami  bertjerai  ringkas  sadja.  Tidak  melalui  banjak  prosedur.  Dalarn  agama  Islam  terdapat  tiga  tingkatan pertjeraian. Talak satu masih membuka djalan untuk rudjuk kembali-dalarn tempo 100 hari. Talak

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 31 dari 109

 

dua,  tingkat jang  lebih kuat dari jang  pertama, mengulangi maksud untuk  bebas dari isterirnu,  akan tetapi  masih mernbuka kesempatan sedikit sekiranja masih ingin bergaul dengan dia.

 

Tingkat terachir adalah untuk menjatakan, ,,Saja tjeraikan engkau.” Setelah talak tiga ini djatuh, hubungan  perkawinan  sudah  diputuskan  dengan  resmi  dan  sisuami  tidak  dapat  mengawini  kembali  isterinja  itu,  ketjuali.djika   susteri   kawin   dulu   sementara   dengan   laki-laki   lainja.   Hukurn   Islam   tidak   mengizinkan  perempuan  mentjeraikan  lakinja.  Pun  tidak  dapat  menolak  untuk  ditjeraikan.  Tentu  sadja  kalau  suaminja  sangat  kedjam  dan  ia  mengadu  kepada  Kadi,  ,,Suami  saja  memukul  saja,”  atau  kalau  dia  bersumpah,  ,,Dia  tidak  pernah  datang  kepada  saja  dan   menurut  kenjataan  dia  tidak  pernah  mempergauli  saja  selama  berbulan-bulan,”  dan  memohon  kepada  Kadi  supaja  mengizinkannja  bertjerai  atas  alasan  jang  tertentu  itu,  maka  Kadi  itu  dapat  mentjeraikannja.  Hakim  agama  ini  mempunjai  kekuasaan  untuk  memberi  izin  guna  meringankan keadaan.ni menurut Nabi Muhammad s.a.w. Hukum-Hukum Islam diadakan dipadang-pasir. Dan  dimana  dipadang-pasir  orang  bisa  mentjari  ahli  hukum  atau  Surat  Pertjeraian  ?  Itulah  sebabnja  mengapa  kami tidak mempunjai aturan seperti di Barat. Djadi, ditahun 1922, aku hanja menjerahkan pengantinku jang  masih kanak-kanak itu kepada bapaknja, dan itulah seluruhnja.

 

 

Aku kembali ke Bandung dan kepada tjintaku jang sesungguhnja. Suatu malam, setelah kami bersama-sama  selama satu tahun, aku mengusulkan. Ini adalah usul jang sangat sederhana. Kami hanja berdua seperti biasa  dan aku berkata pelahan, ,,Aku mentjintaimu.” Dia. ,,Akupun begitu,” keluar tjepat dari mulutnja. Aku ingin  mengawinimu”   kubisikkan.,,Akupun   ingin   mendjadi   isterimu,”   dia   membalas   berbisik.,,Apakah   menurut  pendapatmu  kita  akan  rnendapat  kesulitan  ?”,,Tidak,”  katanja  lunak.  ,,Aku  akan  bitjara  dengan  Sanusi  besok.”Sanusi  mau  bekerdja-sama.  Dalam  tempo  jang  singkat  Inggitpun  bebas.  Tidak  terdjadi  adegan  jang  serarn  seperti  dilajar-putih.  Kukira  dia  merasa,  bahwa  iniiah  djalan  jang  paling  baik  ditempuh.  Setelah  itu  Inggit, dia dan aku senantiasa dalam hubungan jang baik. Kenjataannja, tidak lama kemudian dia kawin lagi.  Dalam  waktu  jang  singkat  Utaripun  kawin  dengan  Bachrum  Salam,  kawan  sama-sama  bajar-makan  dirumah  Pak  Tjokro.  Mereka  memperoleh  delapan  orang  anak  dan  ketika  buku  ini  ditulis  mereka  masih  mendjadi   suami-isteri. Djadi nampak kedua belah pihak tidak begitu merasa luka. Inggit dan aku kawin ditahun 1923.

 

 

Keluargaku  tak pernah menjuarakan satu perkataan  mentjela ketika aku berpindah dari isteriku jang masih  gadis  kepada  isteri  lain  jang  selusin  tahun  lebih  tua  daripadaku.  Apakah  mereka  menekan  perasaannja  karena perbuatanku, ataupun merasa malu kepada Pak Tjokro, aku tak pernah – mengetahuinja. Inggit jang  bermata   besar   dan   memakai   geIang   ditangan   itu   tidak   mempunjai   masa   lampau   jang   gemilang.   Dia  samasekali  tidak  terpeladjar,  akan  tetapi  intellektualisme  bagiku  tidaklah  penting  dalam  diri  seorang  perempuan.   Jang   kuhargai   adalah   kemanusiaannja.   Perempuan   ini   sangat   mentjintaiku.   Dia   tidak  memberikan pendapat-pendapat. Dia hanja memandang dan menungguku, dia mendorong dan memudja. Dia  memberikan  kepadaku  segala  sesuatu  jang  tidak  bisa  diberikan  oleh  buku.  Dia  memberiku  ketjintaan,  kehangatan,  tidak  mementingkan  diri  sendiri.  Ia  memberikan  segala  apa  jang  kuperlukan  jang  tidak  dapat  kuperoleh semendjak aku meninggalkan rumah ibu. Psychiater akan mengatakan bahwa ini adalah pentjarian  kembali kasih-sajang ibu.

 

Mungkin djuga, siapa tahu. Djika aku mengawininja karena alasan ini, maka ia terdjadi setjara tidak sadar.  Dia. waktu itu dan sekarangpun masih seorang perempuan jang budiman. Pendeknja, kalau dipikirkan setjara  sadar,  maka  perasaan-perasaan  jang  dibangkitkannja  padaku  tidak  lain  seperti  pada  seorang  kanak-kanak.  Inggit   dalam   masa   selandjutnja   dari   hidupku   ini   sangat   baik   kepadaku.   Dia   adalah   ilhamku.   Dialah  pendorongku.  Dan  aku  segera  memerlukan  semua  ini.  Aku  sekarang  sudah  mendjadi  mahasiswa  ditingkat  kedua.  Aku  sudah  kawin  dengan  seorang  perempuan  jang  sangat  kuharapkan  dengan  perasaan  berahi.  Aku  sekarang   sudah   melalui   umur   21   tahun.   Masa   djedjakaku   sudah   berada   dibelakangku.   Tugas   hidupku  merentang  didepanku.  Pikiran  embryo  jang  dipupuk  oleh  Pak  Tjokro  dan  mulai  menemakan  bentuk  di  Surabaja  tiba-tiba  petjah  mendjadi  kepompong  di  Bandung  dan  dari  keadaan  chrysalis  berkembanglah  seorang  pedjuang  politik  jang  sudah  matang.  Dengan  Inggit  berada  disampingku  aku  melangkah  madju  memenuhi amanat menudju tjita-tjita.

 

Bab 6

 

Marhaenisme

 

AKU  baru  berumur  20  tahun  ketika  suatu  ilham  politik  jang  kuat  menerangi  pikrranku.  Mula-mula  ia  hanja  berupa  kuntjup  dari  suatu  pemikiran  jang  mengorek-ngorek  otakku,  akan  tetapi  tidak  lama  kemudian  ia  mendjadi  landasan  tempat  pergerakan  kami  berdiri.  Dikepulauan  kami  terdapat  pekerdja-pekerdja  jang  bahkan  lebih  miskin  daripada  tikus-geredja  dan  dalam  segi  keuangan  terlalu  menjendihkan  untuk  bisa  bangkit  dibidang  sosial,  politik  dan  ekonomi.  Sungguhpun  demikian  masing-masing  mendjadi  madjikan  sendiri.  Mereka  tidak  terikat  kepada  siapapun.  Dia  mendjadi  kusir  gerobak  kudanja,  dia  mendjadi  pemilik

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 32 dari 109

 

dari kuda  dan gerobak itu dan dia tidak mempekerdjakan buruh lain. Dan terdapatlah nelajan-nelajan jang  bekerdja   sendiri   dengan   alat-alat— seperti   tongkat-kail,   kailnja   dan   perahu—   kepunjaan   sendiri.   Dan  begitupun  para  petani  jang  mendjadi  pemilik  tunggal  dari  sawahnja  dan  pemakai  tunggal  dari  hasilnja.   Orang-orang  sematjam  ini  meliputi  bagian  terbanjak  dari  rakjat  kami.  Semua  mendjadi  pemilik  dari  alat  produksi mereka sendiri, djadi mereka bukanlah rakjat proletar. Mereka punja sifat chas tersendiri.

 

Mereka tidak termasuk dalam salahsatu bentuk penggolongan. Kalau begitu, apakah mereka ini sesungguhnja  ? Itulah jang mendjadi renunganku berhari-hari, bermalam-malam dan berbulan-bulan. Apakah sesungguhnja  saudaraku  bangsa  Indonesia  itu  ?  Apakah  namanja  para  pekerdja  jang  demikian,  jang  oleh  ahli  ekonomi  disebut  dengan istilah ,,Penderita Minimum” ?- Disuatu pagi  jang indah aku bangun dengan keinginan untuk  tidak mengikuti lculiah— ini bulcan tidak sering terdjadi. Otakku sudah terlalu penuh dengan soal-soal politik,  sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian pada studi.

 

Sementara  mendajung  sepeda  tanpa  tudjuan—sambil  berpikir—alcu  sampai  dibagian  selatan  kota  Bandung,  suatu  daerah  pertanian  jang  padat  dimana  orang  dapat  menjaksikan  para  petani   mengerdjakar.  sawahnja  jang ketjil, jang masing-masing luasnja kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena boberapa hal perhatianku  tertudju  pada  seorang  petani  jang  sedang  mentjangkul  tanah  mrliknja.  Dia  seorang  diri.  Pakaiannja  sudah  lusuh. Gambaran jang chas ini kupandang sebagai perlambang daripada rakjatku. Aku berdiri disana sedjenak  memperhatikannja    dengan    diam.    Karena    orang    Indonesia    adalah    bangsa    jang    ramah,    maka    aku  mendekatinja. Aku bertanja dalam bahasa Sunda, ,,Siapa  jang punja semua jang engkau kerdja-kan sekarang  ini ?”

 

Dia berkata kepadaku, ,,Saja, djuragan.”

Aku bertanja lagi, ,,Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”

,,0, tidak, gan. Saja sendiri jang punja.”

,,Tanah ini kaubeli ?”

,,Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun.”

Ketika  ia  terus  menggali,  akupun  mulai menggali aku  menggali  setjara  mental.  Pikiranku mulai

bekerdja.  Aku  memikirkan  teoriku.  Dan  semakin  keras  aku  berpikir,  tanjaku  semakin  bertubi-tubi  pula.  ,,Bagairnana dengan sekopmu ? Sekop ini ketjil, tapi apa-ka’il kepunjaanmu djuga ?”

 

,,Ja, gan.”  ,,Dan  tjangkul ?”  ,,Ja, gan.”  ,,Badjak ?”  ,,Saja punja, gan.”

 

 

 

 

 

 

,,Untuk siapa hasil jang kaukerdjakan ?”  ,,Untuk saja, gan.”

 

 

,,Apakah tjukup untuk kebutuhanmu ?”

 

Ia  mengangkat  bahu  sebagai  membela  diri.  ,,Bagaimana  sawah  jang  begini  ketjil  bisa  tjukup  untuk  seorang  isteri dan empat orang anak ?”

 

,,Apakah ada jang didjual dari hasilmu ?” tanjaku.

 

,,Hasilnja sekedar tjukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnja untuk didjual.”

 

,,Kau mempekerdjakan orang lain ?”

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 33 dari 109

 

,,Tidak, djuragan. Saja tidak dapat membajarnja.”

 

,,Apakah engkau pernah memburuh ?”

 

,,Tidak, gan. Saja harus membanting-tulang, akan tetapi djerih-pajah saja semua untuk saja.”

 

Aku menundjuk kesebuah pondok ketjil, ,,Siapa jang punja rumah itu ?”

 

,,Itu gubuk saja, gan. Hanja gubuk ketjil sadja, tapi kepunjaan saja sendiri.”

 

“Djadi  kalau  begitu,”  kataku  sambil  menjaring  pikiranku  sendiri  ketika  kami  berbitjara,  “Semua  ini   engkau  punja ?”

 

“Ja, gan.”

 

Kemudian aku menanjakan nama petani muda itu. Ia menjebut namanja. ,,Marhaen.” Marhaen adalah nama  jang blasa seperti Smith dan Jones. Disaat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku akan memakai nama itu  untuk  rnenamai  semua  orang  Indonesia  bernasib  malang  seperti  itu  !  Semendjak  itu  kunamakan  rakjatku  rakjat Marhaen. Selandjutnja dihari itu aku mendajung sepeda berkeliling mengolah pengertianku jang baru.  Aku  memperlantjarnja.  Aku  mempersiapkan  kata-kataku  dengan  hati-hati.  Dan  malamnja  aku  memberikan  indoktrinasi  mengenai  hal  itu  kepada  kumpulan  pemudaku.,,Petani-petani  kita  mengusahakan  bidang  tanah  jang sangat ketjil sekali.

 

Mereka adalah korban dari sistim feodal, dimana pada mulanja petani pertama diperas oleh bangsawan jang  pertama   dan   seterusnja   sampai   keanak-tjutjunja   selama   berabad-abad.   Rakjat   jang   bukan   petanipun  mendjadi korban daripada imperialisme perdagangan Belanda, karena nenek-mojangnja telah dipaksa untuk  hanja  bergerak  dibidang  usaha  jang  ketjil  sekedar  bisa  memperpandjang  hidupnja.  Rakjat  jang  mendjadi  korban  ini,  jang  meliputi  hampir  seluruh  penduduk  Indonesia,  adalah  Marhaen.”  Aku  menundjuk  seorang  tukang  gerobak,  ,,Engkau…….  engkau  jang  disana.  Apakah  engkau  bekerdja  dipabrik  untuk  orang  lain  ?”,,Tidak,” katanja.,,Kalau begitu engkau adalah Marhaen.” Aku menggerakkan tangan kearah seorang tukang  sate. ,,Engkau…… engkau tidak punja pembantu, tidak punja madjikan engkau djuga seorang Marhaen.

 

Seorang  Marhaen  adalah  orang  jang  mempunjai  alat-alat  jang  sedikit,  orang  ketjil  dengan  milik  ketjil,  dengan  alat-alat  ketjil,  sekedar  tjukup  untuk  dirinja  sendiri.  Bangsa  kita  jang  puluhan  djuta  djiwa,  jang  sudah  dimelaratkan,  bekerdja  bukan  untuk  orang  lain  dan  tidak  ada  orang  bekerdja  untuk  dia.  Tidak  ada  penghisapan  tenaga  seseorang  oleh  orang  lain.  Marhacnisme  adalah  Sosialisme  Indonesia  dalam  praktek.”  Perkataan  ,,Marhaenisme”  adaiah  lambang  dari  penemuan  kembali  kepribadian  nasional  kami.  Begitupun  nama  tanah-air  kami  harus  mendjadi  lambang.  Perkataan  ,,Indonesia”  berasal  dari  seorang  ahli  purbakala  bangsa  Djerman  bernama  Jordan,  jang  beladjar  dinegeri  Belanda.  Studi  chususnja  mengenai  Rantaian  Kepulauan kami. Karena kepulauan ini setjara geografis berdekatan dengan India, ia namakanlah ,,Kepulauan  dari  India”.  Nesos  adalah  bahasa  Junani  untuk  perkataan  pulau-pulau,  sehingga  mendjadi  Indusnesos  jang  achirnja mendjadi Indonesia.

 

Ketika kami merasakan perlunja untuk menggabungkan pulau-pulau kami rnendjadi satu kesatuan jang besar,  kami  berpegang  teguh  pada  nama  ini  dan  mengisinja  dengan  pengertian-pengertian  politik  hingga  iapun  mendjadi pembirnbing dari kepribadian nasional. Ini terdjadi ditahun 1922-1923. Dalam tahun-tahun inilah,  ketika  kami  sebagai  bangsa  jang  dihinakan  diperlakukan  seperti  sampah  diatas  bumi  oleh  orang  jang  menaklukkan  kami.  Karni  tidak  dibolehkan  apa-apa.  Ditindas  dibawah  tumit  pada  setiap   kali,  bahkan  kami  dilarang  mengutjapkan  perkataan  ,,lndonesia”.  Telah  terdjadi  sekali  ditengah  berapi-apinja  pidatoku,  kata  ,,lndonesia” melompat dari mulutku.

 

,,Stop……..stop………”perintah    polisi.    Mereka    meniup    peluitnja.    Mereka    memukulkan    tongkatnja.  ,,Dilarang samasekali mengutjapkan perkataan itu ………..hentikan pertemuan ” Dan pertemuan itu dengan  segera  dihentikan.  Di  Surabaja  aku  tak  ubah  seperti  seekor  burung  jang  mentjari-tjari  tempat  untuk  bersarang.   Akan   tetapi   di   Bandung   aku   sudah   mendjadi   dewasa.   Bentuk   fisikku   berkembang   dengan  sewasjarnja. Bintang matinee Amerika jang mendjadi idaman didjaman itu adalah Norman Kerry dan, supaja  kelihatan  lebih  tua  dan  lebih  ganteng,  aku  memelihara  kumis  seperti  Kerry.  Tapi  sajang,  kumisku  tidak  melengkung  keatas  pada  udjung-udjungnja  seperti  knmis  bintang  itu.  Dan  isteriku  menjatakan,  bahwa  Charlie  Chaplinlah  jang  berhasil  kutiru.  Achiroja  usahaku  satu-satunja  untuk  meniru  seseorang  berachir  dengan kegagalan jang menjedihkan dan semua pikiran itu kemudian kulepaskan segera dari ingatan. Ditahun  1922 aku untuk pertamakali mendapat kesukaran. Ketilka itu diadakan rapat besar disuatu lapangan terbuka  dikota  Bandung.  Seluruh  lapangan  menghitam  oleh  manusia.  Ini  adalah  rapat  Radicale  Concentratie,  suatu

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 34 dari 109

 

rapat  raksasa  jang  diorganisir  oleh  seluruh  organisasi  kebangsaan  sehingga  walcil-wakil  dari  setiap  partai  jang  ada  dapat  berkumpul  bersama  untuk  satu  tudjuan,  jaitu  memprotes  berbagai  persoalan  sekaligus.  Setiap pemimpin berpidato. Dan aku, aku baru seorang pemuda. Hanja mendengarkan. Akan  tetapi tiba-tiba  terasa olehku suatu dorongan jang keras untuk mengutjapkan sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku  sendiri. Mereka semua membitjarakan omongkosong.

 

Seperti  biasa  mereka  meminta-minta.  Mereka  tidak  menuntut.Naiklah  tangan  jang  berapi-api  dari  Sukarno,  mertjusuar  dari Perkumpulan Pemuda,  untuk minta  izin ketua  agar diberi kesempatan berpidato dihadapan  rapat.,,Saja  ingin  berbitjara,”  aku  berteriak.,,Silakan,”  ketua  berteriak  kembali.Disana  ada  P.I.D.,  Polisi  Rahasia  Belanda,  jang  bersebar  disegala  pendjuru  Tepat  dimukaku  berdiri  seorang  polisi  bermuka  merah  mengantjam dan berbadan besar. Ini adalah alat jang berkuasa jaitu kulitputih. Hanja dia sendiri jang dapat  menjetopku. Dia seorang dirinja, dapat membubarkan rapat. Dia seorang dirinja, dengan kekuasaan jang ada   padanja dapat mentjerai-beraikan pertemuan kami dan mendjebloskanku kedalam tahanan. Akan tetapi aku  masih  muda,  tidak  mau  peduli  dan  penuh  semangat.  Djadi  naiklah  aku  kemimbar  dan  mulai  berteriak,  ,,Mengapa  sebuah  gunung  seperti  gunung  Kelud  meledak  ?  Ia  meledak  oleh  karena  lobang  kepundannja  tersumbat   Ia   meledak   oleh   karena   tidak   ada   djalan   bagi   kekuatan-kekuatan   jang   terpendam   untuk  membebaskan    dirinja.    Kekuatan-kekuatan    jang    terpendam    itu    bertumpuk    sedikit    demi    sedikit  dan………..DORRR. Keseluruhan itu meletus.,,Kedjadian ini tidak ada bedanja dengan Gerakan Kebangsaan  Icita Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan untuk mentjari djalan keluar bagi  perasaan-perasaan  kita  jang  sudah  penuh,  maka  saudara-saudara,  njonja-njonja  dan  tuan-tuan,  suatu  saat  akan  terdjadi  pula  ledakan  dengan  kita..Dan  rnanakala  perasaan  kita  meletus,  Den  Haag  akan  terbang  keudara. Dengan ini saja menantang Pemerintah Kolanial jang membendung perasaan kita.

 

 

Dari  sudut  mataku  aku  melihat  Komisaris  Polisi  itu  menudju  kedepan  untuk  mentjegahku  terus  berbitjara,  akan  tetapi  aku  begitu  bersemangat  dan  menggeledek  terus.,,Apa  gunanja  kita  putulan  ribu  banjaknja  berkumpul disini djikalau jang kita kerdjakan hanja menghasilkan petisi ? Mengapa kita selalu merendah diri  memohon kepada ‘Pemerintah’ untuk meminta kebaikan hatinja supaja mendirikan sebuah sekolah untuk kita  ?  Bukankah  itu  suatu  Politik  Berlutut  ?  Bukankah  itu  suatu  politik  memohon  dengan  mendatangi  Jang  Dipertuan  Gubernur  Djendral  Hindia  Belanda,  jang  dengan  rnemakai  dasi  hitam  menerima  delegasi  jang  membungkuk-bungkuk dan menundjukkan penghargaan kepadanja dan menjerahkan kepada pertimbangannja  suatu petisi ? Dan merendah diri memohon pengurangan padjak? Kita merendah diri….memohon, merendah  diri memohon………Inilah kata-kata jang selalu dipakai oleh pemimpin-pemimpin kita.

 

,,Sampai sekarang kita tidak pernah mendjadi penjerang. Gerakan kita bukan gerakan jang mendesak, akan  tetapi  gerakan  kita  adalah  gerakan  jang  meminta-minta.  Tak  satupun  jang  pernah  diberikannja  karena  kasihan.  Marilah  kita  sekarang  mendjalankan  politik  pertjaja  pada  diri  sendiri  dengan  tidak  mengemis-  ngemis.  Hajo  kita  berhenti  mergemis.  Sebalikn.ja,  hajo  kita  berteriak,  ,,Tuan  Imperialis,  inilah  jang  karni  TUNTUT   !”Kemudian,   polisi-polisi   jang   mahakuasa   dan   mahakuat   ini,   jang   punja   kekuasaan   untuk  menghentikan  rapat  ini,  bertindak.  Mereka  menjetop  rapat  dan  menjetopku.  Heyne,  Kepala  Polisi  Kota  Bandung,   sangat   marah.   Sambil   menjiku   kanan-kiri   melalui   rakjat   jang   berdiri   berdjedjal-djedjal,   ia  melompat  keatas  mimbar,  menarikku  kebawah  dan  mengumumkan,  ,,Tuan  Ketua,  sekarang  saja  menjetop  seluruh pertemuan. Habis. Tamat. Selesai. Tuan-tuan semua dibubarkan. Sernua pulang sekarang. KELUAR !”  Begitu pertamakali Sukarno membuka mulutnja, ia segera harus berhubungan dengan hukum. Dengan tjepat  aku  mendjadi  buah-tutur  orang  dan  setiap  orang  mengetahui  nama  Sukarno.  Aku  memperoleh  inti  pengikut   jang  kuat.  Akan  tetapi,  sajang,  akupun  mengembangkan  pengikut  jang  baniak  diantara  polisi  Belanda.  Kemanapun aku pergi mereka ikuti.

 

 

Maka  mendjalarlah  dari  mulut  kemulut:  ,,Di  Sekolah  Teknik  Tinggi  ada  seorang  pengatjau.  Awasi  dia.”  Dengan  satu  pidato  si  Karno—jang  pendiam,  jang  suka  menarik  diri  dan  ditjintai  membuat  musuh-musuh  djadi geger dan selama 20 tahun kemudian aku tak pernah ditjoret dari daftar hitam mereka. Prestasiku jang  pertama  ini  menimbulkan  kegemparan  hebat,  sehingga  aku  segera  dipanggil  kekantor  Presiden  universitas.  ,,Kalau  engkau  ingin  melandjutkan  peladjaran  disini,”  Professor  Klopper  memperingatkan,  ,Engkau  harus  bertekun  pada  studimu.  Saja  tidak  keberatan  djika  seorang  mahasiswa  mempunjai  tjita-tjita  politik,  akan  tetapi   haruslah   diingat   bahwa   ia   pertama   dan   paling   utama   memenuhi   kewadjiban   sebagai   seorang  mahasiswa. Engkau harus berdjandji, mulai hari ini tidak akan ikut-tjampur dalam gerakan politik.”Aku tidak  berdusta   kepadanja.   Aku   menerangkan   persoalanku   dengan   djudjur.   ,,Professor,   apa   jang   akan   saja  djandjikan   ialah,   bahwa   saja   tidak   akan   melalaikan   peladjaran-peladjaran   jang   tuan   berikan   dalam  kuliah.”,,Bukan itu jang saja minta kepadamu.”,,Hanja itu jang dapat saja djandjikan, Professor.

 

 

Akan  tetapi  djandji  ini  saja  berikan  dengan  sepenuh  hati.  Saja  berdjandji  dengan  kesungguhan  hati  untuk  menjediakan  letih  banjak  waktu  pada  studi  saja.”  Ia  sangat  baik  mengenai  hal  ini.  ,,Apakah  kata-katamu  dapat  saja  pegang,  bahwa  engkau  akan  berhenti  berpidato  dalam  rapat  umum  selama  masih  dalam  studi  ?”,,Ja,  Professor,”  aku  berdjandji,  ,,Tuan  memegang  utjapan  saja  jang  sungguh-sungguh.”Dan  djandji  ini

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 35 dari 109

 

kupegang  teguh.  Berbitjara  dihadapan  massa  bagiku  lebih  daripada  segala-galanja  untuk  mana  aku  hidup.  Oleh karena aku tidak dapat berbitjara membangkitkan semangat rakjatdjelata dalam keadaan sesungguhnja  maka  kulakukanlah  ini  dalam  chajalan.  Pada  suatu  malam  rumah  Inggit  jang  disediakan  djuga  untuk  bajar-  makan penuh dan kami terpaksa membagi tempat. Aku membagi tempat-tidurku dengan seorang peladjar.

 

Ditengah malam aku diserang oleh suatu desakan untuk berpidato dengan nafsu jang bernjala-njala, seakan-  akan aku berbitjara dihadapan 10.000 orang jang bersorak-sorai dengan gegap-gempita. Sambil berdiri tegak  aku  menganggap  tempat-tidurku  sebagai  mimbar  dan  aku  mulai  menggegapgeletar.,,Engkau  tahu  apakah  Indonesia  ?”  aku  berteriak  kepunggung  temanku  setempat-tidur.  ,,Indonesia  adalah  pohon  jang  kuat  dan  indah  ini.  Indonesia  adalah  langit  jang  biru  dan  terang  itu.  Indonesia  adalah  mega  putih  jang  lamban  itu.  Indonesia  adalah  udara  jang  hangat  ini.”,,Saudara-saudaraku  iang  tertjinta,  laut  jang  menderu  memukul-  mukul   kepantai   ditjahaja   sendja,   bagiku   adalah   djiwanja   Indonesia   jang   bergerak   dalam   gemuruhnja  gelombang  samudra.  Bila  kudengar  anak-anak  ketawa,  aku  mendengar  Indonesia.  Manakala  aku  menghirup  bunga-bunga,   aku   menghirup   Indonesia.   Inilah   arti   tanah-air   kita   bagiku.”Setelah   beberapa   djam  mendengarkan    perkataanku    jang    membakar    hati,    Djoko    Asmo    lebih    memerlukan    tidur    daripada  mendengarkan  golakan  perasaanku.  Djam  dua  tengah  malam  dia  tertidur  njenjak  ditengah-tengah  pidatoku  jang mentjatjau. Aku kehabisan tenaga samasekali sehingga ditengah pidato pembelaanku jang bersemangat  akupun  terhempas  lena.  Esok  paginja  kami  baru  tahu,  bahwa  kami  lupa  mematikan  lampu.  Kelambu  kami  hampir  hangus  samasekali.  Lampu  itu  menjala  sepandjang  malam  sampai  mendjilat  kebagian  bawah  dan  kami  kedua-duanja  hampir  kelemasan  oleh  udara  dan  asap  jang  hebat.  Tapi  untunglah.  Kami  tidak  turut  terbakar.  Terpikir  olehku,  kalau  seseorang  hendak  mendjadi  Djuru  selamat  daripada  bangsanja  dikemudian  hari  untuk  membebaskan  rakjatnja,  haruslah  ia  menjelamatkan  dirinja  sendiri  lebih  dulu.Aku  masih  terlalu  banjak menjurahkan waktu untuk pemikiran politik, djadi tak dapatlah diharapkan akan mendjadi mahasiswa  jang   betul-betul   gemilang.   Kenjataan   bahwa   aku   masih   dapat   melintasi   batas   nilai   sedang   sungguh  mengherankan.  Siapa  jang  beladjar  ?  Bukan  aku.  Tidak  pernah.  Aku  mempunjai  ingatan  seperti  bajangan  gambar  dan  dalam  pada  itu  aku  terlalu  sibuk  memompakan  soal-soal  politik  kekepalaku,  sehingga  tidak  tersisa  waktuku  untuk  membuka  buku  sekolah.  Dewi  dendamku  adalah  ilmu  pasti.  Aku  tidak  begitu  kuat  dalam ilmu pasti.

 

 

Menggambar arsitektur bagiku sangat menarik, akan tetapi kalkulasi bangunan dan komputasi djangan tanja.  Kleinste  Vierkanten  atau  jang  dinamakan  Geodesi,  sematjam  penjelidikan  tanah  setjara  ilrnu  pasti  dimana  orang  mengukur  tanah  dan  beladjar  membaginja  dalam  kaki-persegi,  dalam  semua  ini  aku  gagal.  Untuk  udjian  ilmu  pasti  kuakui,  bahwa  aku  bermain  tjurang.  Tapi  hanja  sedikit.  Kami  semua  bermain  tjurang  dengan  berbagai  djalan.  Ambillah  misalnja  peladjaran  menggambar  konstruksi   bangunan.  Aku  kuat  dalam  peladjaran  ini.  Dalam  waktu  udjian  dosen  berdjalan  pulang-balik  diantara  medja-medja  memperhatikan  setiap orang. Segera setelah ia berada dibagian lain dalam ruangan ketika menghadapkan punggungnja pada  kami,  salah-seorang  jang  berdekatan  mendesis,  ,,Ssss,  Karno,  buatkan  bagan  untukku,  kau  mau  ?”  Aku  bertukar   kertas   dengan   dia.   dengan   terburu-buru   membuat   gambar   jang   kedua   dan   dengan   tjepat  menjerahkan kembali kepadanja. Kawan-kawanku membalas usaha ini dalam peladjaran Kleinste Vierkanten  kalau  Professor  membuat  tiga  pertanjaan  dipapan-tulis  dan  hanja  memberi  kami  waktu  45  menit  untuk  mengerdjakannja.  Kawan-kawan  menempatkan  kertasnja  sedemikian  rupa  disudut  bangku,  sehingga  aku  dapat dengan mudah menjalin djawabannja. Sudah tentu aku mentjontoh dari mahasiswa jang lebih pandai  dalam ilmu pasti.

 

Tjara  ini  bukanlah  semata-mata  apa  jang  dinamakan  orang  berbuat  tjurang.  Di  Indonesia  ini  adalah  wadjar  djika  digolongkan  dalam  apa  jang  kami  sebut  kerdja-sama  jang  erat.  Gotong-rojong.Alasan  mengapa  aku  gagal dan hanja memperoleh nilai tiga adalah karena pada suatu kali sang Professor melakukan taktik litjik  terhadap kami. Ia mengedjutkan kami dengan udjian lisan, dimana kami menempuhnja satu persatu. Hanja  Professor  dan  seorang  mahasiswa  jang  ada  dalam  ruangan.  Aku  karenanja  djatuh.Semua  kuliah  diadjarkan  dalam  bahasa  Belanda.  Aku  berpikir  dalam  bahasa  Belanda.  Bahkan  sekarangpun  aku  memaki-maki  dalam  bahasa  Beianda.  Kalau  aku  mendoa  kehadirat  Tuhan  Jang  MahaKuasa,  maka  ini  kulakukan  dalam  bahasa  Belanda.Kurikulum  kami  disesuaikan  menurut  kebutuhan  masjarakat  pendjadjahan  Belanda.  Pengetahuan  jang  kupeladjari  adalah  pengetahuan  teknik  kapitalis.  Misalnja,  pengetahuan  tentang  sistim  irigasi.  Jang  dipeladjari bukanlah tentang bagaimana tjaranja mengairi sawah dengan djalan jang terbaik. Jang diberikan  hanja  tentang  sistem  pengairan  tebu  dan  tembakau.  Ini  adalah  irigasi  untuk  kepentingan  Imperialisme  dan  Kapitalisme. Irigasi dipeladjari tidak untuk memberi makan rakjat banjak jang kelaparan, akan tetapi untuk  membikin  gendut  pemilik  perkebunan.  Peladjaran  kami  dalam  pembuatan  djalan  tidak  mungkin  dapat  menguntungkan rakjat. Djalan-djalan jang dibuat bukan melalui hutan dan antar-pulau sehingga rakjat dapat  berdjalan   atau   bepergian   lebih   mudah.   Kami   hanja   diadjar   merentjanakan   djalan-djalan   tambahan  sepandjang  pantai  dari  pelabuhan  kepelabuhan,  djadi  pabrik-pabrik  dengan  demikian  dapat  mengangkut  hasilnja setjara maksimal dan komunikasi jang tjukup antara kapal-kapal jang berlajar. Ambillah ilmu pasti.  Universitas  manapun  tidak  memberi  peladjaran  rantai-ukuran.  Kami  diberi.  Ini  adalah  sebuah  pita  jang  pandjangnja 20 meter jang hanja dipakai oleh para pengawas diperkebunan-perkebunan.

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 36 dari 109

 

Diruangan   bagan,   kalau   kami   membuat   rentjana   kota   teladan,   kamipun   harus   menundjukkan   tempat  kedudukan    ,,Kabupaten”,    jaitu    tempat    tinggal    Bupati    jang    mengawasi    rakjat    desa    membanting-  tulang.Diminggu  terachir  ketika  diadakan  pelantikan  aku  mempersoalkan  ini  dengan  Rector  Magnificus  dari  Sekolah   Teknik   Tinggi   ini,   Professor   Ir.   G.   Klopper   M.E.,,Mengapa   kami   diisi   dengan   pengetahuan-  penyetahuan  jang  hanja  berguna  untuk  mengekalkan  dominasi  Kolonial  terhadap  kami  ?”  tanjaku.,,Sekolah  Teknik  Tinggi  ini,”  ia  menerangkan,  ,,didirikan  terutama  untuk  memadjukan  politik  Den  Haag  di  Hindia.  Supaja  dapat mengikuti ketjepatan ekspansi dan  eksploitasi,  pemerintah saja merasa  perlu  untuk mendidik  lebih banjak insinjur dan pengawas jang berpengalaman.”,,Dengan perkataan lain, kami mengikuti perguruan  tinggi   ini   untuk   memperkekal   polilik   Imperialisme   Belanda   disini   ?”,,Ja,   tuan   Sukarno,   itu   benar,”   ia  mendjawab.  Dan  begitulah,  sekalipun  aku  harus  mempersembahkan  seluruh  hidupku  untuk  menghantjurkan  kekuasaan Kolonial,  rupanja aku harus berterima-kasih pula kepada mereka atas pendidikan jang kuterima.  Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia jang berhasil bersama-sama denganku, maka pada tanggal 25 Mei  1926 aku memperoleh promosi dengan gelar ,,Ingenieur”. Idjazahku dalam djurusan teknik sipil menentukan,  bahwa  aku  adalah  seorang  spesialis  dalam  pekerdjaan  djalan-raja  dan  pengairan.  Aku  sekarang  diberi  hak  untuk menuliskan namaku: Ir. Raden Soekarno. Ketika ia memberi gelar sardjana teknik kepadaku, Presiden  universitas  berkata,  ,,Ir.  Sukarno,  idjazah  ini  dapat  robek  dan  hantjur  mendjadi  abu  disatu  saat.  Ia  tidak  kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang.  Ia akan tetap hidup dalam hati rakjat, sekalipun sesudah mati.” Aku tak pernah melupakan kata-kata ini.

 

 

 

Bab 7

 

Bahasa Indonesia

 

DJANDJIKU sudah terpenuhi. Pendidikanku sudah selesai. Mulai saat ini untuk seterusnja tidak ada jang akan  menghalang-halangiku  mendjalankan  pekerdjaan  untuk  mana  aku  dilahirkan.Semendjak  aku  berdiri  diatas  djambatan  di  Surabaja  itu  dan  mendengarkan  djeritan  rakjatku,  aku  menjadari  bahwa  akulah  jang  harus  berdjuang  untuk  mereka.  Hasrat  jang  menjala-njala  untuk  membebaskan  rakjatku  bukanlah  hanja  ambisi  perorangan. Djiwaku penuh dengan itu. Ia meliwati sekudjur badanku. Ia mengisi padat lubang hidungku. Ia  mengalir  melalui  urat-nadiku.  Untuk  itulah  orang  mempersembahkan  seluruh  hidupnja.  Ia  lebih  daripada  hanja  sebagai  kewadjiban.  Ia  lebih  daripada  panggilan  djiwa.  Bagiku  ia  adalah  satu  …………kejakinan.  Menurut  para  mahaguru  thesisku  tentang  konstruksi  pelabuhan  dan  djalanan-air  ditambah  dengan  teoriku  tentang  perentjanaan  kota  mempunjai  ,,nilai  penemuan  dan  keaslian  jang  begitu  tinggi”,  sehingga  untukku  disediakan  djabatan  sebagai  assisten  dosen.  Aku  menolaknja.  Djuga  ditawarkan  pekerdjaan  pemerintahan  kota. Inipun kutolak.

 

Salah-seorang mahaguru, Professor Ir. Wolf Schoemaker, adalah seorang besar. Ia tidak mengenal warnakulit.  Baginja   tidak   ada   Belanda   atau   Indonesia.   Baginja   tidak   ada   pengikatan   atau   kebebasan.   Dia   hanja  menundukkan kepala kepada kemampuan  seseorang.  ,,Saja menghargai ketjakapanmu,” katanja. ,,Dan saja  tidak ingin ketjakapan ini tersia-sia. Engkau mempunjai pikiran jang kreatif. Djadi saja minta supaja engkau  bekerdja  dengan  pemerintah.  “Sungguhpun  aku  keberatan,  ia  menjerahkanku  kepada  Direktur  Pekerdjaan  Umum  jang  meminta   kepadaku   untuk  merentjanakan  suatu  projek  untuk  perumahan  Bupati.  Insinjur-  kepalanja  sudah  tentu  seorang  Belanda  jang  tidak  mengenal  samasekali  kehidupan  orang  Indonesia  dan  kebutuhannja.  Akan  tetapi  oleh  karena  aku  tidak  menghendaki  pekerdjaan  ini,  kusampaikan  kepadanja  pendapatku  tentang  rentjana  arsitekturnja,  ,,Maafkan  saja,  tuan,  konsepsi  tuan  didasarkan  pada  semangat  pedagang rempah-rempah Belanda. Setiap orang Belanda merentjanakan setjara teknis salah. Persil-persil di  Bandung   hanja   15   meter   lebar   dan   20   meter   kedalam   dan   rumah-rumahnja   sempit.   Kota   Bandung  direntjanakan  seperti  kandang-ajam.  Bahkan  djalannja  sempit,  karena  ia  dibuat  menurut  tjara  berpikir  Belanda  jang  sempit.  Sama  sadja  dengan  projek  jang  tuan  rentjanakan.  Ia  tidak  mempunjai  ‘Schwung’.  “Karena aku telah menolak pekerdjaan jang diberikan itu, aku merasa wadjib memberi pendjelasan kepada  Professor Schoemaker, ,,Tuan telah menjatakan, bahwa saja dalam ruang-lingkup jang ketjil memiliki daja-  tjipta. Jah, saja ingin mentjipta,” kataku dengan hebat. ,,Akan tetapi untuk saja sendiri.

 

 

Saja  tidak  jakin  dikemudian  hari  akan  mendjadi  pembangun  rumah.  Tudjuan  saja  ialah  untuk  mendjadi  pembangun dari suatu bangsa.,,Politik usang dari Gerakan Kebangsaan kami, jaitu mengadakan kerdja-sama  dengan pemerintah dengan tjara mengemis-ngemis, hanja menghasilkan djandji-djandji jang.tidak ditepati.  Dengan usaha saja, kami baru-baru ini memulai politik non-kooperasi. Ini didasarkan pada kehendak pertjaja  pada  diri  sendiri  dan  dibidang  ekonomi  terlepas  dari  bantuan  negara  asing.”Kawanku  itu  mendengarkan  dengan tenang, kemudian berkata, ,,Anak muda, hendaknja bakatmu dipergunakan setjara maksimal. Kalau  engkau  berdiri  sendiri,  ini  akan  memakan  waktu  bertahun-tahun  untuk  bisa  madju.  Hanja  orang-orang  Belanda jang berpangkat tinggi atau pegawai pemerintahlah jang bisa berhasil mengadakan biro arsitek. Dan  mereka   tentu   keberatan   untuk   mempekerdjakan   seorang   muda   jang   tidak   berpengalaman   dan   djuga  kebetulan  berada  paling  atas  dalam  daftar-hitam  polisi,  karena  dianggap  sebagai  pengatjau.  Usul  saja  ini  adalah  permulaan  jang  baik  untukmu.”  Pandangannja  itu  memang  baik.  ,,Professor,  saja  menolak  untuk

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 37 dari 109

 

bekerdja-sama,  supaja  tetap  bebas  dalam  berpikir  dan  bertindak.  Kalau  saja  bekerdja  dengan  pemerintah,  setjara diam-diam saja membantu politik penindasan dari rezim mereka jang otokratis dan monopolistis itu.  Pemuda  sekarang  harus  merombak  kebiasaan  untuk  mendjadi  pegawai  kolonial  segera  setelah  memperoleh  gelarnja. Kalau tidak begitu, kami tidak akan merdeka selama-lamanja.”

 

,,Djangan  terima  pekerdjaan  djangka  lama,  kalau  sekiranja  perasaan  tidak-senangmu  begitu  kuat,”  ia  mempertahankan,  ,,Akan  tetapi  buatlah  satu  rumah  ini  sadja  untuk  Bupati.  Tjobalah  kerdjakan  …………

 

Kerdjakanlah  atas  permintaan  saja.”Aku  melakukan  sebagaimana  jang  dimintanja.  Pekerdjaan  ini  sangat  berhasil  dan  aku  dibandjrri  dengan  permintaan  untuk  mengerdjakan  karja  teknik  sematjam  itu  untuk  pedjabat-pedjabat  lain.  Sungguhpun  bantuan  uang  dari  keluargaku  sudah  tidak  ada  lagi  semendjak  aku  selesai dan sekalipun aku tidak mempunjai djalan jang njata untak membantu isteriku, aku menolaknja. Aku  membuat rentjana Kabupaten hanja karena sangat menghargai  dan menghormati Professor itu.  Akan tetapi  ini  adalah  jang  pertama  dan  terachir  aku  bekerdja  untuk  Pemerintah.  Kemudian,  ketika  Departemen  Pekerdjaan  Umum  menawarkan  kedudukan  tetap  kepadaku,  aku  menolaknja  dengan  alasan  bahwa  aku  memperdjuangkan non-kooperasi. Aku sangat memerlukan uang dan pekerdjaan.

 

Aku sudah tidak mempunjai harapan samasekali untuk memperoleh kedua-duanja ini ketika aku mendengar  lowongan disekolah Jajasan Ksatrian jang diselenggarakan oleh pemimpin kebangsaan Dr. Setiabudi. Mereka  mentjari  seorang  guru  jang  akan  mengadjar  dalam  dua  mata  peladjaran.  Jang  pertama  adalah  sedjarah,  untuk  mana  aku  sangat  berhasrat  besar.  Mata  peladjaran  jang  lain  ?  Ilmu  pasti  !  Dan  dalam  segala  segi-  seginja   lagi   !   Djadi   sebagaimana   telah   kutegaskan   dengan   segala   kedjudjuran   jang   pahit,   kalau   ada  matapeladjaran  jang  samasekali  tidak  bisa  kuatasi,  maka  itulah  dia  ilmu  pasti.  Akan  tetapi  aku  tidak  mempunjai pilihan lain.

 

Guru  jang  ditugaskan  untuk  melakukan  tanja-djawab  bertanja,  ,,Ir.  Sukarno,  tuan  adalah  insinjur  jang  beridjazah,  djadi  tentu  tuan  ahli  dalam  ilmu  pasti,  bukankah  begitu  ?”  ,”Oh,  ja  tuan,”  aku  menjeringai  meretjik  kepertjajaan.  —  ,,Ja,  tuan.  Ja,  betul.  Saja  menguasainja.”  ,,Baiklah,  tuan  dapat  mengadjar  ilmu  pasti ?” tanjanja.,

 

,,Mengapa  tidak,”  aku  membohong.  ,,Saja  menguasai  betul  ilmu  pasti.  Menguasainja  sungguh-  sungguh.  Ini  matapeladjaran  jang  saja  senangi.”  Inggit  dan  aku  sudah  kering  samasekali,  tidak  mempunjai  apa-apa  lagi.  Apa  jang  dapat  kami  suguhkan  kepada  tamu  hanja  setjangkir  teh  entjer  tanpa  gula.  Djadi,  apa  jang  harus  kukatakan  kepadanja  ?  Bahwa  aku  samasekali  tidak  dapat  mengadjar  ilmu  pasti  ?  Bahwa  sesungguhnja  aku  gagal dalam peladjaran itu ?

 

Kalau  demikian,  tentu  aku  tidak  akan  memperoleh  pekerdjaan  itu.Temanku,  Dr.  Setiabudi,  datang  sendiri  kepadaku dan sekali lagi bertanja, ,,Bagaimana pendapatmu sesungguhnja, bisakah engkau mengadjar?” Dan  kuulangi  dengan  suara  jang  tergontjang  dan  tersinggung,  ,,Apakah  saja  bisa  mengadjar?  Tentu  saja  bisa  mengadjar.   Tentu   sadja   saja   bisa.   Sudah   pasti.”,,Ilmu   pasti   djuga   ?”,,Ja,   ilmu   pasti   djuga.”Aneh,  kenjataannja  aku  menghadapi  kesukaran  djustru  dalam  peladjaran  sedjarah.  Kelasku  berdjumlah  30  orang  murid, termasuk Anwar Tjokroaminoto.

 

Tak  seorangpun  memberiku  petundjuk  dalam  tjara  mengadjar.  Djadi  aku  mentjobakan  tjaraku  sendiri.  Sajang, aku tidak berhasil mendekati metode jang resmi. Dalam peladjaran sedjarah aku mempunjai gajaku  sendiri. Aku tidak  menjesuaikan  samasekali teori bahwa anak-anak harus  diadjar setjara kenjataan. Angan-  anganku  ialah  hendak  menggerakkan  mereka  supaja  bersemangat.  Aku  lebih  berpegang  pada  pengertian  sedjarah  daripada  mengadjarkan  nama-nama,  tahun  dan  tempat.  Aku  tak  pernah  memusingkan  kepala  tentang  tahun  berapa  Columbus  menemukan  Amerika,  atau  tahun  berapa  Napoleon  gagal  di  Waterloo  atau  hal-hal lain jang sama remehnja seperti apa jang biasanja mereka adjarkan disekolah. Kalau seharusnja aku  memperlakukan    murid-muridku    sebagai    anakanak    jang    masih    ketjil,    jang    kemampuannja    dalam  matapeladjaran   ini   terpusat   pada   mengingat   fakta-fakta,   maka   aku   berfalsafah   dengan   mereka.   Aku  memberikan  alasan  mengapa  ini  dan  itu  terdjadi.  Aku  memperlihatkan  peristiwa-peristiwa  sedjarah  setjara  sandiwara.  Aku  tidak  memberikan  pengetahuan  setjara  dingin  dan  kronologis.  Ooo  tidak,  Sukarno  tidak  memberikan hal sematjam itu. Itu tidak bisa diharapkan dari seorang orator jang berbakat dari lahirnja. Aku   mengajunkan  tanganku  dan  mentjobakannja.  Kalau  aku  bertjerita  tentang  Sun  Yat  Sen,  aku  betul-betul  berteriak dan memukul medja.

 

 

Sudah  mendjadi  aturan  dari  Departemen  Pengadjaran  Hindia  Belanda,  sekolah-sekolah  dikundjungi  oleh  penilik-penilik-sekolah pada waktu-waktu tertentu. Pada waktunja jang tepat seorang penilik sekolah datang  mendengarkan  peladjaran  sedjarahku.  Dia  duduk  dengan  tenang  dibelakang  kelas  untuk  memperhatikan.  Selama  dua  djam  aku  mengadjar  dengan  tjara  jang  menurut  pikiranku  paling  baik,  sementara  mana  aku  menjadari bahwa dia mendengarkan dengan saksarna.Setjara kebetulan peladjaran kali ini berkenaan dengan  Imperialisme. Karena aku sangat menguasai pokok persoalan ini, aku mendjadi begitu bersemangat sehingga

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 38 dari 109

 

aku terlompat-lompat dan mengutuk seluruh sistimnja. Dapatkah engkau membajangkan ? Dihadapan penilik  sekolah  bangsa  Belanda  jang  memandang  padaku  dengan  wadjah  tidak  pertjaja,  aku  sungguh-sungguh  menamakan  Negeri  Belanda  sebagai  ,,Kolonialis  jang  terkutuk  ini”  !  Ketika  peladjaran  dan  kisahku   kedua-  duanja selesai, penilik sekolah itu menjatakan dengan seenaknja bahwa menurut pendapatnja sesungguhnja  aku bukan pengadjar jang terbaik jang pernah dilihatnja dan bahwa aku tidak mempunjai masa depan jang  baik dalam pekerdjaan ini.

 

Ia berkata kepadaku, ,,Raden Sukarno, tuan bukan guru, tuan seorang pembitjara !” Dan inilah achir daripada  karierku  jang  singkat  sebagai  guru.26  Djuli  1926  aku  membuka  biro  teknikku  jang  pertama,  bekerdjasama  dengan seorang teman sekelas, Ir. Anwari.Aku tak pernah lagi mendapat kesempatan untuk memasuki Ruang  Keilmuan.  Kehidupan  segera  memikulkan  beban  diatas  pundakku  dan  melemparkan  aku  keatas  tumpukan  sampah  dan  kedalam  pondok-pondok  jang  botjor  dan  gojah.  Kehidupan  melemparkan  daku  kepasar-pasar.  Kehidupan  membuangku  kehutan-hutan,  kekampung-kampung  dan  sawah-sawah.  Aku  tidak  mendjadi  guru.  Aku  mendjadi  djuru  chotbah.  Mimbarku  adalah  pinggiran  djalan.  Kumpulanku  ?  Massa  rakjat  menggerumut  jang  sangat  merindukan  pertolongan.  Ditahun  1926  aku  mulai  mengchotbahkan  nasionalisme  terpimpin.  Sebelum  itu  aku  hanja  memberikan  kepada  pendengarku  kesadaran  nasional  lebih  banjak  daripada  jang  mereka ketahui sebelumnja. Sekarang aku tidak sadja mengojak-ojak mereka untuk bangun, akan tetapi aku  memimpin mereka. Aku menerangkan, bahwa sudah datang waktunja untuk mendjelmakan suatu masjarakat  baru  jang  demokratis  sebagai  ganti  feodalisme  jang  telah  bertjokol  selama  berabad-abad.  Aku  berkata  kepada  para  pendengarku,  ,,Kita  tidak  lagi  akan  membiarkan  diri  kita  setjara  patuh  mengikuti  tjara  hidup  jang  akan  membawa  kita  kepada  kehantjuran  kita  sendiri.  Kehidupan  jang  terdiri  dari  kelas-kelas,  kasta-  kasta dan jang-punja dan tidak-punja menimbulkan perbudakan.

 

 

Didalam  kehidupan  modern  manusia  berdjoang  untuk  meninggikan  harkat  kehidupan  rakjat.  Mereka  jang  tidak  menghiraukan  hal  ini  akan  dibinasakan  oleh  rakjat-banjak  dan  oleh  bangsa-bangsa  jang  berdjoang  untuk  memperoleh  haknja.,,Kita  memerlukan  persamaan  hak.  Kita  telah  mengalami  ketidaksamaan  selama  hidup  kita.  Mari  kita tanggalkan  pemakaian  gelar-gelar.  Walaupun  saja  dilahirkan  dalam  kelas  ningrat,  saja  tidak  pernah  menjebut  diriku  raden  dan  saja  minta  kepada  saudara-saudara  mulai  dari  saat  ini  dan  untuk  seterusnja supaja saudara-saudara djangan memanggil saja raden.

 

Mulai  dari  sekarang  djangan  ada  seorangpun  menjebutku  sebagai  Tedaking  Kusuma  Rembesing  Madu  —  ‘Keturunan  Bangsawan’.  Tidak,  aku  hanja  tjutju  dari  seorang  petani.  Feodalisme  adalah  kepunjaan  masalah  jang   sudah   dikubur.   Feodalisne   hukan   kepunjaan   Indonesia   dimasa   jang   akan   datang.”Sementara   aku  mendidik para pendengarku untuk menghabisi sistim feodal, aku melangkah selangkah madju, ialah kebidang  bahasa  Dalam  bahasa  Djawa  sadja  terdapat  13  tingkatan  jang  pemakaiannja  tergantung  pada  siapa  jang  dihadapi berbitjara, sedang kepulauan kami rrrempunjai tidak kurang dari 86 dialek sematjam itu.,,Sampai  sekarang,” kataku, ,,bahasa Indonesia harlja dipakai oleh kaum ningrat. Tidak oleh rakjat biasa. Nah, mulai  dari hari ini menit ini mari kita berbitjara dalam bahasa Indonesia.

 

,,Hendaknja rakjat Marhaen dan orang bangsawan berbitjara dalam bahasa jang sama. Hendaknja seseorang  dari satu pulau dapat berhubungan dengan saudara-saudaranja dipulau lain dalam bahasa jang sama. Kalau  kita, jang beranak-pinak seperti kelintji, akan mendjadi satu masjarakat, satu bangsa, kita harus mempunjai  satu bahasa persatuan. Bahasa dari Indonesia Baru.”Sebelurn ini, seorang Djawa dari golongan  rendah tidak  boleh  sekalikali  menanjakan  kepada  orang  Djawa  jang  lebih  tinggi  deradjatnja,  ‘Apakah  engkau  memanggil  saja ?’  Dia  tidak akan  berani mengutjapkan  begitu sadja perkataan ,,engkau” kepada  orang  jang  lebih  atas.  Seharusnja ia memakai perkataan ,,kaki tuan” atau ,,kelom tuan”. Dia harus mengutjapkan, ,,Apakah kelom  tuan memanggil saja ? “Tingkatan perhambaan sematjam inipun dinjatakan dengan gerak.

 

Aku menundjuk dengan djari telundjukku, akan tetapi orang jang lebih rendah tingkatnja dihadapanku akan  menundjuk dengan ibudjari. Keramahan jang demikian itu memberikan kepada sipendjadjah suatu sendjata  rahasia  jang  membantu  melahirkan  suatu  bangsa  ,,tjatjing”  dan  ,,katak”  seperti  mereka  menamakannja.  Kamipun disebut sebagai ,,rakjat jang paling pemalu didunia.”Bertahun-tahun kemudian aku tergila-gila pada  seorang  Puteri  jang  muda  dan  tjantik  dari  salahsatu  kraton  di  Djawa,  akan  tetapi  penasehat-penasehatku  menjatakan,   bahwa   aku   sebagai   orang   jang   telah   bergabung   dengan   rakjat-djelata   tidak   mungkin  mengawininja. Sekalipun hatiku luka, mereka menundjukkan bagaimana aku telah memimpin pemberontakan  melawan feodalisme, djadi tidak bisa sekarang memasuki golongan itu. Dan berachirlah hubungan ini dengan  suatu  kisah  pertjintaan  setjara  platonis.  Dikalangan  kaum  bangsawan  di  Djawa  seorang  isteri  tidak  pernah  kehilangan  deradjatnja  jang  tinggi.  Kalau  ia  mengawini  seorang  lelaki  jang  lebih  rendah  deradjatnja,  suaminja harus mengadjukan permohonan untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk bertjintaan dengan isterinja  sendiri,  sisuami  jang  boleh  djadi  bergelar  raden,  terlebih  dulu  harus  meminta  idzin  dari  isterinja.  Mungkin  maksudnja baik. Akan tetapi, aku tidak dapat melihat Sukarno dalam kedudukan jang demikian.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 39 dari 109

 

Didjaman  Feodal  kami  tidak  mempunjai  bentuk  panggilan  jang  luas  seperti  Mister,  Mistres,  Miss  atau  jang  dapat  mentjakup  seluruh  lapisan  dan  tingkat  seseorang.  Ketika  aku  memaklumkan  Bahasa  Indonesia,  kami  memerlukan suatu rangkaian sebutan jang lengkap jang dapat dipakai setjara tidak berobah-robah antara tua  dan muda, kaja dan miskin, Presiden dan rakjat tani. Disaat itulah kami mengembangkan sebutan Pak atau  Bapak,  Bu  atau  Ibu  dan  Bung  jang  berarti  saudara.  Didjaman  Revolusi  Kebudajaan  inilah  aku  mulai  dikenal  sebagai Bung Karno.Tahun 1926 adalah tahun dimana aku memperoleh kematangan dalam tiga segi. Segi jang  kedua  adalah  dalam  kepertjajaan.  Aku  banjak  berpikir  dan  berbitjara  tentang  Tuhan.  Sekalipun  dinegeri  kami  sebagian  terbesar  rakjatnja  beragama  Islam,  namun  konsepku  tidak  disandarkan  semata-mata  kepada  Tuhannja  orang  Islam.  Pada  waktu  aku  melangkah  ragu  melalui  permulaan  djalan  jang  menudju  kepada  kepertjajaan,  aku  tidak  melihat  Jang  Maha-Kuasa  sebagai  Tuhan  kepunjaan  perseorangan.  Menurut  djalan  pikiranku   maka   kemerdekaan   bagi   seseorang   meliputi   djuga   kemerdekaan   beragama.   Ketika   konsep  keagamaanku  meluas,  ideologi  dari  Pak  Tjokro  dalam  pandanganku  semakin  sempit  dan  semakin  sempit  djuga.  Pandangannja  tentang  kemerdekaan  untuk  tanah-air  kami  semata-mata  ditindjau  melalui  lensa  mikroskop dari agama Islam. Aku tidak lagi menoleh kepadanja untuk beladjar. Djuga kawan-kawannja tidak  lagi mendiadi guruku. Sekalipun aku masih seorang pemuda, aku tidak lagi mendjadi penerima. Aku sekarang  sudah  mendjadi  pemimpin.  Aku  mempunjai  pengikut.  Aku  mempunjai  reputasi.  Aku  sudah  mendjadi  tokoh  politik jang sederadjat dengan Pak Tjokro.

 

 

Dalam  hal  ini  tidak  terdjadi  pemutusan  tiba-tiba.  Ini  terdjadi  lebih  mirip  dengan  pemisahan  diri  setjara   pelahan  sedikit  demi  sedikit.  Sekalipun  antara  Pak  Tjokro  dan  aku  terdapat  perbedaan  jang  besar  dibidang  politik,  akan  tetapi  antara  kami  tetap  terdjalin  hubungan  jang  erat.  Orang  Asia  tidak  menemui  kesukaran  untuk  membedakan  ideologi  dengan  peri-kemanusiaan.  Ketika  seorang  nasionalis  bernama  Hadji  Misbach  menjerang  Pak  Tjokro  setjara  serampangan  dalam  suatu  kongres,  kuminta  supaja  dia  minta  ma’af  kepada  kawan  lamaku  itu.  Hadji  Misbach  kemudian  menjatakan  penjesalannja.  Menentang  seseorang  dalam  bidang  polrtik  tidaklah  berarti  bahwa  kita  tidak  mentjintainja  setjara  pribadi.  Bagi  kami,  jang  satu  tidak  ada  hubungannja dengan jang lain. Hal ini tidak dapat diselami oleh pikiran orang Barat, tapi ini senada dengan  mentalita  orang  Timur.  Misainja  sadja,  kusebut  Pak  Alimin  dan  Pak  Muso.  Kedua-duanja  sering  bertindak  sebagai  guruku  dalam  politik  ketika  aku  tinggal  dirumah  Pak  Tjokro.  Kemudian  mereka  berpindah  kepada  Komunisme,  pergi  ke  Moskow  dan  belakangan  ditahun  1948,  setelah  aku  mendjadi  Presiden,  mengadakan  pemberontakan Komunis dan usaha perebutan kekuasaan.

 

 

Mereka merentjanakan kedjatuhanku. Akan tetapi orang Djawa mempunjai suatu peribahasa, ,,Gurumu harus  dihormati,  bahkan  lebih  daripada  orangtuamu  sendiri.”  Ketika  Pak  Alimin  sudah  terlalu  amat  tua  dan   sakit,  aku mengundjunginja. Lalu surat-suratkabar mengotjeh, ,,Hee, lihat Sukarno mengundjungi seorang Komunis  !  “Ja,  Pak  Alimin  telah  mentjoba  mendjatuhkanku.  Akan  tetapi  dia  adalah  salah-seorang  guruku  dihari  mudaku.  Aku  berterima-kasih   kepadanja   atas  segala  jang  baik  jang  telah  diberikannja  kepadaku  Aku  berhutang  budi  kepadanja.  Jang  sama  beratnja  untuk  dilupakan  ialah  kenjataan,  bahwa  dia  adalah  salah-  seorang  perintis  kemerdekaan.  Seseorang  jang  berdjuang  untuk  pembebasan  tanah-airnja— tak  pandang  bagaimana  perasaannja  terhadapku  kemudian  —  berhak  mendapat  penghargaan  dari  rakjatnja  dan  dari  Presidennja.Sama  djuga  halnja  dengan  Pak  Tjokro.  Sampai  dihari  aku  akan  menutup  mata  untuk  selama-  lamanja aku akan tetap menulis namanja dengan hati jang lembut. Dalam bidang politik Bung Karno  adalah  seorang   Nasionalis.   Dalam   kepertjajaan   Bung   Karno   seorang   jang   beragama.   Akan   tetapi   Bung   Karno  mempunjai  kepertjajaan  jang  bersegi  tiga.  Dalam  bidang  ideologi,  ia  sekarang  mendjadi  sosialis.  Kuulangi  bahwa  aku  mendjadi  sosialis.  Bukan  Komunis.  Aku  tidak  mendjadi  Komunis.  Masih  sadja  ada  orang  jang  berpikir bahwa Sosialisme sama dengan Komunisme. Mendengar perkataan sosialis mereka tidak dapat tidur.  Mereka melompat dan memekik, ,,Haaa, saja sudah tahu ! Bahwa Bung Karno seorang Komunis !” Tidak, aku  bukan   Komunis.  Aku   seorang   SosiaIis.   Aku   seorang  Kiri.   Orang  Kiri   adalah   mereka   jang   menghendaki  perubahan kekuasaan kapitalis, imperialis jang ada sekarang.

 

 

Kehendak  untuk  menjebarkan  keadilan  sosial  adalah  kiri.  Ia  tidak  perlu  Komunis.  Orang  kiri  bahkan  dapat  bertjektjok  dengan  orang  Komunis.  Kiriphobi,  penjakit  takut  akan  tjita-tjita  kiri,  adalah  penjakit  jang  kutentang   habis-habisan   seperti   Islamophobi.   Nasionalisme   tanpa   keadilan   sosial   mendjadi   nihilisme.  Bagaimana  suatu  negeri  jang  miskin  menjedihkan  seperti  negeri  kami  dapat  menganut  suatu  aliran  lain  ketjuali haluan sosialis ? Mendengar aku berbitjara tentang demokrasi, seorang pemuda menanjakan apakah  aku seorang demokrat. Aku berkata, ,,Ja, aku pasti sekali seorang demokrat.” Kemudian dia berkata, ,,Akan  tetapi menurut pandangan saja tuan seorang sosialis.” ,,Saja sosialis, djawabku. Ia menjimpulkan semua itu   dengan,   ,,Kalau   begitu   tentu   tuan   seorang   sosialis   demokrat.”Mungkin   ini   salah   satu   djalan   untuk  menamaiku.  Orang  Indonesia  berbeda  dengan  bangsa  lain  didunia.  Sosialisme  kami  adalah  sosialisrne  jang  dikurangi  dengan  pengertian  rnaterialistisnja  jang  ekstrim,  karena  bangsa  Indonesia  adalah  bangsa  jang  terutama takut dan tjinta kepada Tuhan. Sosialisme kami adalah suatu tjampuran. Kami menarik persamaan  politik dari Declaration of Independence dari Amerika.

 

 

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 40 dari 109

 

Kami menarik persamaan spirituil dari Islam dan Kristen. Kami menarik persamaan ilmiah dari Marx. Kedalam  tjampuran jang tiga ini kami tambahkan kepribadian nasional : Marhaenisme. Kemudian kami memertjikkan  kedalamnja Gotong-rojong jang mendjadi djiwa, inti daripada bekerdja bersama, hidup bersama dan saling  bantu-membantu.  Kalau  ini  ditjampurkan  semua,  maka  hasilnja  adalah  Sosialisme  Indonesia.  Konsepsi-  konsepsi ini, jang dimulai semendjak tahun duapuluhan dan tak pernah aku menjimpang daripadanja, tidak  termasuk begitu sadja dalam penggolongan sesuai dengan djalan pikiran orang Barat, tetapi memang orang  harus  mengingat,  bahwa  aku  tidak  mempunjai  djalan  pikiran  Barat.  Merubah  rakjat  sehingga  mereka  tergolong dengan baik dan teratur kedalam kotak Barat tidak mungkin dilakukan. Para pemimpin jang telah  mentjoba,  gagal  dalam  usahanja.  Aku  selalu  berpikir  dengan  tjara  mentalita  Indonesia.  Semeadjak  dari  sekolah  menengah  aku  telah  mendjadi  pelopor.  Dalam  hal  politik  aku  tidak  berpegang  kepada  salah-satu  tjontoh.   Mungkin   inilah   jang   menjebabkan,   mengapa   aku   djadi   sasaran   dari   demikian   banjak   salah-  pengertian.  Aliran  politikku  tidak  sama  dengan  aliran  orang  lain.  Tapi  disamping  itu  latar  belakangkupun  tidak  bersamaan  dengan  siapapun  djuga.  Nenekku  memberiku  kebudajaan  Djawa  dan  Mistik.  Dari  bapak  datang Theosofisme dan Islamisme. Dari ibu Hinduisme dan Buddhisme. Sarinah memberiku Humanisme. Dari  Pak Tjokro datang Sosialisme. Dari kawan-kawannja datang Nasionalisme.Aku menambah renungan-renungan  dari Karl Marxisme dan Thomas Jeffersonisme. Aku beladjar ekonomi dari Sun Yat Sen. Aku beladjar kebaikan  dari  Gandhi.  Aku  sanggup  mensynthese  pendidikan  setjara  ilmu  modern  dengan   kebudajaan  animistik  purbakala  dan  mengambil  ibarat  dari  hasilnja  mendjadi  pesan-pesan  pengharapan  jang  hidup  dan  dapat  dihirup sesuai dengan pengertian dari rakjat kampung.

 

 

Hasil  jang  keluar  dari  semua  ini  dinamakan  orang—dalam  istilah  biasa—  Sukarnoisme.  Aku  tumbuh  dari  Sarekat  Islam,  akan  tetapi  belum  menukarnja  dengan  partai  lain  jang  formil.  Apa  jang  disebut  organisasi  politikku  ditahun  1926  adalah  pertumbuhan  dari  Bandung  Studenten  Club  jang  disponsori  oleh  universitas,  agar para mahasiswa dapat bermain bridge atau biljar. Ia didirikan untuk pesta-pesta dan kegembiraan. Anak  Bumiputera  dibolehkan  masuk  club  itu  akan  tetapi,  setelah  mengikutinja,  aku  menjadari  bahwa  kami  tidak  dapat mendjadi anggota pengurus. ,,Saja tidak dapat menerima keadaan sematjam itu,” kataku, ,,Saja akan  keluar  dari  perkumpulan  ini.”  Seperti  di  Modjokerto,  setiap  orang  main  ikut-ikutan  dengan  pemimpin.  Pada  waktu Sukarno keluar dari Bandung Studenten Club ini, anak Indonesia lainnjapun mengikutinja. Dengan lima  orang  anak  Indonesia  aku  mendirikan  Perkumpulan  Studi.  Aku  memilih  bahan  batjaan  jang  bernilai  seperti  ,,Handelingen  der  Tweede  Kamer  van  de  Staten  Generaal”  (Kegiatan  Tweede  Kamer  dari  Staten  Generaal  Negeri  Belanda)  dari  perpustakaan.  Dan  kami  setjara  berganti-ganti  membatjanja  seminggu  seorang.  Pada  setiap  penutupan  lima  mingguan  sekali  kami  mengadakan  pertemuan— biasanja  dirumahku  —  dan  duduk  sepandjang  malam  memperdebatkan  pokok-pokok  dari  strategi  jang  ada  didalamnja.  Orang  selalu  dapat  mengetahui,   kapan   Bung   Karno   mempeladjari   buku   itu.   Kalimat-kalimat   jang   perlu,   diberi   bergaris  dibawahnja.  Paragraf-paragraf  diberi  lingkaran.  Siapa  sadja  jang  membatjanja  setelah  itu  dapat  melihat  dengan  mudah  aliran  pikiranku.  Kutuliskan  kritik-kritikku  dipinggir  pinggir  halaman.  Aku  memberi  tanda  halaman-halaman jang kusetudjui dan memberi tjatatan dibawah halaman-halaman jang tidak kusetudjui.

 

 

 

Tadinja  segar  dan  bersih  dari  rak  perpustakaan,  djilid-djilid  jang  berharga  itu  kemudian  tidak  lagi  bersih  sesudah  itu.Kedalam  Algemeene  Studiclub  ini  hinggaplah  intellektuil-intellektuil  muda  bangsa  Indonesia,  banjak  jang  baru  sadja  kembali  dari  Negeri  Belanda  dengan  idjazah  kesardjanaannja  jang  gilang-gemilang  ditangan mereka. Pertukaran buah-pikiran dalam bidang politik jang aktif adalah kegiatan kami jang pokok.  Tjabang-tjabang  dari  Studieclub  ini  tumboh  di  Solo,  Surabaja  dan  kota  lainnja  di  Djawa.  Kami  kemudian  menerbitkan  madjalah  perkumpulan  —  Suluh  Indonesia  Muda  – —  dan,  sebagaimana  dapat  diduga,  Ketua  Sukarno adalah penjumbang tulisan jang pertama. Karena aku begitu terikat dalam soal-soal politik sehingga  kurang memikirkan soal-soal lain, maka biro teknikku merosot sehingga ia mati samasekali. Pikiranku terlalu   sangat tertudju kepada segi jang dalam dari kehidupan ini daripada memikirkan jang tidak berarti, sehingga  dimalam  terang  bulan  jang  penuh  gairah  aku  bahkan  lebih  memikirkan  isme  daripada  memikirkan  Inggit.  Pada waktu muda-mudi jang lain menemukan kasihnja satu sama lain, aku mendekam dengan ,,Das Kapital”.  Aku  menjelam  lebih  dalam  dan  lebih  dalam  lagi.  Djadi  aku  mendekati  achir  daripada  windu  jang  ketiga.  Sewindu  adalah  suatu  djangka  waktu  jang  lamanja  delapan  tahun.  Tahun  1901  sampai  1909  adalah  windu  dengan  pemikiran  kanak-kanak.  1910  sampai  1918  adalah  windu  pengembangan.  1919  sampai  1927  windu  untuk mematangkan diri. Aku sudah siap sekarang.

 

 

Bab 8

 

Mendirikan P.N.l.

 

WAKTUNJA sudah tepat bagiku untuk mendirikan partaiku sendiri. Ada dua faktor. Ditahun 1917 dinasti dari   Hohenzollern  terpetjah-petjah  di  Djerman,  Franz  Josef  djatuh,  Czar  Alexander  gojah.  Sepihan-sepihan  dari  mahkota-mahkota  dunia  jang  telah  dibinasakan  itu  melajang-lajang  melalui  telinga  Ratu  Wilhelmina  dan  geledek    dari    revolusi    jang    berdekatan    menggulung-gulung    melalui    pekarangannja.1917    membawa  pemberontakan  Bolsjewik  dari  Lenin  dan  lahirnja  Uni  Soviet.  Bela  Kun  memimpin  suatu  pemberontakan  di

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 41 dari 109

 

Hongaria. Buruh Djerman mendirikan Republik Weimar. Disebelah kanan Negeri Belanda dan disebelah kirinja  menganga  djurang  chaos.  Sedang  ia  sendiri  setelah  tiga  tabun  peperangan  hantjur  dalam  segi  materiil  dan  spirituil.  Karena  hubungan  antara  Negeri  Belanda  dan  Hindianja  terputus  akibat  gangguan  peperangan  dan  perhubungan laut jang hampir samasekali tidak ada, maka bagian terbesar dari kekajaannja—kekajaan jang  berasal   dari   anak-tirinja   Indonesia— punah.   Pun   dibidang   politik   ia   lumpuh.   Kebutuhannja   jang   besar  menjebabkan   kekosongan   jang   serius,   jang   segera   diisi   oleh   ketidak-puasan   dan   kekatjauan.   Untuk  melengkapi  nasib  sialnja,  maka  seorang  Sosialis  bernama  Dr.  Pieter  Jelles  Troelstra  mengadakan  gerakan  revolusioner proletariat.

 

Pertama  perang,  kemudian  timbulnja  revolusi,  menjebabkan  negeri  Belanda  mendjadi  lemah.  Digerakkan  oleh   peristiwa-peristiwa   ini   nasionalisme   di   Hindia   Belanda   tumbuh   bagai   bisul-bisul.   Orang   Belanda  menjadari,  bahwa  mereka  harus  melunakkan  hati  penduduknja  jang  berkulit  sawomatang  disepandjang  katulistiwa,  oleh  karena  Belanda  sudah  tjukup  banjak  menghadapi  kesukaran  dipekarangan  muka  rnereka  sendiri,  hal  mana  tidak  memberi  kemungkinan  untuk  bisa  memadamkan  pemberontakan  bila  berkobar  di  Indonesia.  Hindia  adalah  gabusnja  tempat  Belanda  mengapung  Dengan  segala  daja-upaja  mereka  perlu  membelenggu  terus  ,,saudara-saudara”  mereka  jang  berkulit  sawomatang  setjara  patuh.  Karena  negeri-  dibalik-pematang itu terlalu lemah untuk menggunakan kekuatan, maka udara dari peristiwa-peristiwa dunia  membawa mereka kepada Djandji Nopember sebagai djalan untuk menenangkan keadaan. Dibulan Nopember  tahun 1918 Gubernur Djendral, Graaf van Limburg Stirum, mendjandjikan kepada kami hak-hak politik jang  lebih luas, kebebasan jang lebih besar, kemerdekaan untuk mengadakan rapat-rapat umum, hak bersuara di  Dewan Rakjat.

 

Segera  kami  menjadari,  bahwa  Negeri  Belanda  tidak  mempunjai  maksud  untuk  menepatil  djandji-djandji  jang terkenal busuk dan pendek umurnja itu. Dalam setahun Belanda mengchianati kami dengan mengangkat  Gubernur Djendral Dirk Fock, Jang paling reaksioner dari segala djaman. Setjara perbandingan maka rezim-  rezim sebelumnja  adalah moderat. Akan  tetapi Fock sikapnja  lebih menindas dan mengurangi  hak-hak  jang  telah  pernah  diberikan.  Ia  menekan,  mengedjar-ngedjar  dan  mengadakan  undang-undang  jang  mengurangi  kebebasan  apapun  djuga  jang  kami  peroleh  sebelumnja.  Kalau  seseorang  mengeluarkan  tjelaan,  sekalipun  ,,tersembunji”,  dapat  menjebabkannja  masuk  pendjara.  Dengan  perkataan  lain,  kalau  engkau  seorang  diri  dalam  sebuah  gua  dan  utjapanmu  jang  mengigau  dalam  pengasingan  itu  dilaporkan  kepada  polisi,  engkau  dapat  didjatuhi  hukuman  enam  tahun.  Engkau  bahkan-bahkan  masuk  pendjara  karena  berbitiara  dalam  mimpi   !   Pemerintahan   ini   memberikan   peluang   bagi   pemakaian   ,,Undang-undang   Luarbiasa”,   jang  menjebabkan   demikan   banjak   saudara   kami   laki-laki   dan   perempuan   dikirim   ketempat-tempat   jang  membikin berdiri bulu-roma. Undang-undang itu memberi kekuasaan untuk menginternir atau mengeksternir  seorang  Bumiputera  masuk  pendjara  atau  pengasingan  tanpa  diadili  terlebih  dulu.  Pada  waktu  Negeri  Belanda memperoleh kekuatan, maka keadaan semakin memburuk. Fock jang keterlaluan itu digantikan oleh  De Graeff jang lebih djahat lagi. Waktunja sudah datang untuk mendesakkan nasionalisme. Tapi bagaimana ?

 

 

 

Kami  tidak  mempunjai  satu  partaipun  jang  kuat.  Sarekat  Islam  petjah  dua.  Pak  Tjokro  tetap  memegang  kendali dari bagian  jang sudah  lemah, sedang bagian  jang  lain  merobah namanja mendjadi Sarekat Rakjat.   Dengan  dalih  perselisihan  maka  Komunisme  menjusup  kedalam  Sarekat  Rakjat.  Dalam  tahun  1926  mereka  merentjanakan    dan    mendjalankan    ,,Revolusi    Fisik    Besar    untuk    Kemerdekaan    dan    Komunisme”.  Pemberontakan  ini  menemui  kegagalan  jang  menjedihkan.  Belanda  menindasnja  dengan  serta-merta  dan  lebih   dari   2.000   pemimpin   diangkut   dengan   kapal   kepelbagai   tempat   pengasingan.   10.000   orang   lagi  dipendjarakan. Akibat selandjutnja adalah chaos. Serekat Rakjat dinjatakan terlarang. Mereka jang memilih  Sarekat Rakiat sekarang tidak punja apa-apa. Mereka jang semakin tidak puas dengan Tjokropun tidak punja  apa-apa  Tidak  ada  lagi  inti  gerakan  nasional  jang  kuat.  Dalam  pada  itu  aku  sudah  menemukan  pegangan  dalam  bidang  politik.  Pada  setiap  tjangkir  kopi  tubruk,  disetiap  sudut  dimana  orang  berkumpul  nama  Bung  Karno   mendjadi   buah-mulut   orang.   Kebentjian   umum   terhadap   Belanda   dan   kepopuleran   Bung   Karno  memperoleh tempat jang berdampingan dalam setiap buah-tutur.

 

 

Pada  tanggal  empat  Djuli  1927,  dengan  dukungan  dari  enam  orang  kawan  dari  Algemeene  Studieclub,  aku  mendirikan P.N.I., Partai Nasional Indonesia. Rakjat sudah siap. Bung Karno sudah siap. Sekarang tidak ada  jang  dapat  menahan  kami—ketjuali  Belanda.  Tudjuan  daripada  P.N.I.  adalah  kemerdekaan  sepenuhnja  —  SEKARANG. Bahkan pengikut-pengikutku jang paling setia gemetar oleh tudjuan jang terlalu radikal ini, oleh  karena  organisasi-organisasi  sebelumnja  selalu  menjembunjikan  sebagian  dari  tudjuannja,  supaja  Belanda  tidak mengganggu mereka. Denganku, tidak ada jang perlu disembunjikan, tanpa tedeng aling-aling. Dalam  perdebatan  diruangan  jang  tertutup,  beberapa  orang  mentjoba  menggelintjirkanku  dari  rel  itu.  ,,Rakjat  belum  lagi  siap,”  kata  mereka.,,Rakjat  SUDAH  siap,”  djawabku  dengan  tadjam.  ,,Dan  mendjadi  sembojan  kitalah:   ‘Indonesia   merdeka   SEKARANG.’   Kukatakan   ‘Indonesia   merdeka   SEKARANG.”,,Ini   tidak   mungkin  dilakukan,  Bung,”  mereka  memotong  ,,Tuntutan  Bung  Karno  terlalu  keras.  Kita  akan  dihantjurkan  sebelum  mulai.

 

 

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 42 dari 109

 

Memang massa rakjat mendengarkan Bung Karno, mengikuti Bung Karno setjara membabi-buta, akan tetapi  Indonesia  merdeka  SEKARANG  adalah  terlalu  radikal.  Pertama  kita  harus  mentjapai  persatuan  nasional  terlebih  dahulu.”,,Kita  tidak  bersatu.  Betul.  Kita  terlalu  banjak  mempunjai  ideologi.  Setudju.  Kita  harus  memperoleh  persatuan  nasional.  Ja.  Akan  tetapi  kita  tidak  lagi  berdjalan  pelahan-lahan.  350  tahun  sudah  tjukup  pelahan  !  “Mereka  mentjoba  menerangkan  pandangannja  jang  hebat.  ,,Pertama  kita  harus  mendidik  rakjat  kita  jang  djutaan.  Mereka  belum  dipersiapkan  supaja  dapat  mengendalikan  diri  sendiri.  Kedua,  kita  harus  memperbaiki  kesehatan  mereka  supaja  dapat  berdiri  tegak.  Lebih  baik  kalau  segala  sesuatu  sudah  lengkap dan selesai terlebih dahulu.”,,Satu-satunja saat kalau segala sesuatu sudah lengkap dan selesai ialah  bilamana  kita  sudah  mati,”  aku  berteriak.  ,,Untuk  mendidik  mereka  setjara  pelahan  akan  memakan  waktu  beberapa  generasi.  Kita  tidak  perlu  menulis  thesis  atau  membasmi  malaria  sebelum  kita  memperoleh  kemerdekaan. Indonesia merdeka SEKARANG !

 

 

Setelah  itu  baru  kita  mendidik,  memperbaiki  kesehatan  rakjat  dan   negeri  kita.  Hajolah   kita  bangkit   sekarang.”,,Tentu Belanda akan menangkap kita.”,,Belandapun akan mempunjai respek sedikit terhadap kita.  Sudah mendjadi sifat manusia untuk meludahi jang lemah, akan tetapi sekalipun kita menghadapi lawan jang  gagah  berani,  setidak-tidaknja  kita  merasa  bahwa  dia  pantas  mendjadi  lawan.”Aku  memandang  diriku  sebagai seorang pemberontak. Kupandang P.N.I. sebagai tentara pemberontak.

 

Ditahun  1928  aku  mengusulkan.  agar  semua  anggota  memakai  pakaian  seragam.  Usulku  ini  menimbulkan  polemik  jang  hebat.  Seorang  wakil  jang  setia  dari  Tegal  berdiri  dan  menjatakan,  ,,Ini  tidak  sesuai  dengan  kepribadian  nasional.  Seharusnja  kita  memakai  sarung  tanpa  sepatu  atau  sandal.  Hendaklah  kita  kelihatan  seperti orang-orang revolusioner sebagaimana kita  seharusnja.”Aku tidak  setudju.  ,,Banjak orang jang kaki-  ajam,  akan  tetapi  mereka  bukan  orang  jang  revolusioner.  Banjak  orang  jang  berpangkat  tinggi  memakai  sarung,  tapi  mereka   bekerdja   dengan  sepenuh   hati  untuk  kolonialis.   Jang  menandakan   seseorang  itu  revolusioner  adalah  bakti  jang  telah  ditunaikannja  dalam  perdjoangan.  Kita  adalah  suat”  tentara,  saudara-  saudara.  ,,Selandjutnja  saja  mengandjurkan  untuk  tidak  memakai  sarung,  sekalipun  berpakaian  preman.  Pakaian  jang  kuno  ini  menimbulkan  pandangan  jang  rendah.  Disaat  orang  Indonesia  memakai  pantalon,  disaat  itu  pula  ia  berdjalan  tegap  sepert;  setiap  orang  kulitputih.  Akan  tetapi  begitu  ia  memasangkan  lambang  feodal  disekeliling  pinggangnja  ia  lalu  berdjalan  dengan  bungkukan  badan  jang  abadi.  Bahunja  melentur  kemuka.  Langkahnja  tidak  djantan.  Ia  beringsut  dengan  merendahkan  diri.  Pada  saat  itupun  ia  bersikap ragu dan sangat hormat dan tunduk.”,,Sungguhpun begitu,” Ali Sastroamidjojo S.H. membalas, jang  ketika itu mendjadi ketua Tjabang P.N.I. dan kemudian ditahun limapuluhan mendjadi Dutabesar Indonesia  jang  pertama  di  Amerika  Serikat,  ,,Sarung  itu  sesuai  dengan  tradisi  Indonesia.”,,Tradisi  Indonesia  dimasa  jang lalu— betul,” aku meledak, ,,Akan tetapi tidak sesuai dengan Indonesia Baru dari masa datang.

 

 

Kita  harus  melepaskan  diri  kita  dari  pengaruh-pengaruh  masa  lampau  jang  merangkak-rangkak  seperti  pelajan, djongos dan orang dusun jang tidak bernama dan tidak berupa. Mari kita tundjukan bahwa kita  sama  progressif dengan orang Belanda. Kita harus tegak sama tinggi dengan mereka. Kita harus memakai pakaian  modern.”Ali berdiri lagi. ,,Untuk memperoleh pakaian seragam perlu biaja jang besar, sedangkan  kita tidak  punja  uang.”,,Kita  akan  usahakan  pakaian  jang  paling  murah,”  aku  menjarankan.  ,,Tjukup  dengan  badju  lengan pendek dan pantalon. Supaja kita kelihatan gagah dan tampan tidak perlu biaja jang besar. Kita harus  berpakaian  jang  pantas  dan  kelihatan  sebagai  pemimpin.”  Ada  jang  memihak  kepadaku.  Sebagian  lagi  menjokong Ali. Aku kalah.

 

Sungguhpun  demikian  keinginan  untuk  berpakaian  seragam  ini  tidak  pernah  hilang  dari  pikiranku.  Dan  begitulah, setelah mengambil sumpah sebagai Presiden ditahun 1945 aku mulai memakai uniform. Pers asing  kemudian mengeritikku. Mereka mengedjek. Uhhh, Presiden Sukarno memakai kantjing dari emas. Uhhh ! Dia  pakai  uniform  hanja  untuk  melagak.”Tjobalah  pertimbangkan,  aku  seorang  ahli  ilmu  djiwa  massa.  Memang  ada pakaianku jang lain. Akan tetapi aku lebih suka memakai uniform setiap muntjul dihadapan umum, oleh  karena  aku  menjadari  bahwa  rakjat  jang  sudah  dindjak-indjak  kolonialis  lebih  senang  melihat  Presidennja  berpakaian  gagah.  Taruhlah  Kepala  Negaranja  muntjul  dengan  badju  kusut  dan  berkerut  seperti  seorang  wisatawan   dengan   sisi   topinja   jang   lembab   dan   penuh   keringat,   aku   jakin   akan   terdengar   keluhan  keketjewaan. Rakjat Marhaen sudah biasa melihat pakaian sematjam itu dimana-mana. Pemimpin Indonesia  haruslah  seorang  tokoh  jang  memerintah.  Dia  harus  kelihatan  berwibawa.  Bagi  suatu  bangsa  jang  pernah  ditaklukkan memang perlu hal-hal jang demikian itu. Rakjat kami sudah begitu terbiasa melihat orang-orang  asing  kulitputih  mengenakan  uniform  jang  hebat,  jang  dipandangnja  sebagai  lambang  dari  kekuasaan.  Dan  merekapun bagitu terbiasa melihat dirinja sendiri pakai sarung, seperti ia djadi tanda dari rasa rendah-diri.

 

 

Ketika  aku  diangkat  mendjadi  Panglima  Tertinggi,  aku  menjadari  bahwa  rakjat  menginginkan  satu  tokoh  pahlawan. Kupenuhi keinginan mereka. Pada mulanja aku bahkan memakai pedang emas dipinggangku. Dan  rakjat kagum. Sebelum orang lain menjebunja, akan kukatakan padamu lebih dulu. Ja, aku tahu bahwa aku  kelihatan lebih pantas dalam pakaian seragam. Akan tetapi terlepas daripada kesukaan akan pakaian netjis  dan  rapi,  kalau  aku  berpakaian  militer  maka  setjara  mental  aku  berpakaian  dalam  selubung  kepertjajaan.

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA                                                                     Halaman 43 dari 109

 

Kepertjajaan  ini  pindah  kepada  rakjat.  Dan  mereka  memerlukan  ini.1928  adalah  tahun  propaganda  dan  pidato.  Bandung  kubagi  dalam  daerah-daerah  politik:  Bandung  Utara,  Bandung  Selatan,  Bandung  Timur,  Barat,  Tengah,  daerah  sekitar  dan  sebagainja.  Ditiap  daerah  itu  aku  berpidato  sekali  dalam  seminggu,  sehingga aku diberi djulukan sebagai ,,Singa Podium”.Kami tidak mempunjai pengeras-suara, karena itu aku  harus  berteriak  sampai  parau.  Diwaktu  sore  aku  memekik-rnekik  kepada  rakjat  jang  menjemut  ditanah-  lapang.  Dimalam  hari  aku  membakar  hati  orang-orang  jang  berdesak-desak  sampai  berdiri  dalam  gedung  pertemuan.  Dan  dipagi  hari  aku  menarik  urat  leher  dalam  gedung  bioskop  jang  penuh  sesak  dengan  para  pentjinta tanah-air. Kami pilih gedung bioskop untuk pertemuan pagi, oleh karena pada djam itu kami dapat  menjewanja  dengan  ongkos  murah.  Lalu  berdatangan  pulalah  para  pedjoang  kemerdekaan  dari  segala  pendjuru  pulau  Djawa  ke  Bandung  untuk  mendengarkan  aku  berpidato.  Seorang  laki-laki  mengadakan  perdjalanan  dari  Sumatra  Selatan  untuk  mendengarkan  pidato  dari  Singa  Podium  jang,  katanja,  ,,sungguh-  sungguh  menjentuh  tali-hati  setiap  orang  seperti  pemain  ketjapi”.  Kenjataan  ini  adalah  kesan  jang  sangat  luarbiasa  baginja,  oleh  karena  ia  tidak  mempunjai  uang.  Aku  terpaksa  memindjam  uang  segobang  untuk  membelikannja nasi. Keadaan kami terlalu melarat, sehingga uang sepeserpun ada harganja. Aku tidak punja  uang supaja dapat membantunja sekalipun hanja sekian. Akan tetapi kesetiaan dari patriot utama ini patut  dihargai.  Setelah  dua  tahun  ia  kukirim  kembali  untuk  mendjalankan  tugas  didaerahnja  sendiri.  Kamaruddin  ini  mendjadi  salah-seorang  kawan  seperdjoanganku  jang  akrab  sekarang.  Masa  ini  djamannja  kerdja  keras.  Djaman jang memberikan kegembiraan sebesar-besarnja jang pernah kualami. Membikin kerandjingan massa  rakjat sampai mereka mabuk dengan anggurnja ilham adalah suatu kekajaan jang tak ternilai bagiku, untuk  mana aku mempersembahkan hidup ini. Bagiku ia adalah zat hidup.

 

 

Apabila   aku   berbitjara   tentang   negeriku,   semangatku   berkobar-kobar.   Aku   mendjadi   perasa.   Djiwaku  bergetar.  Aku  dikuasai  oleh  getaran-djiwa  ini  dalam  arti  jang  sebenar-benarnja  dan  getaran  ini  mendjalar  kepada  orang-orang  jang  mendengarkan.  Sajang,  diantara  pendengarku  semakin  banjak  anggota  polisi.  Mereka  selalu  berada  dimana  sadja,  kalau  aku  berpidato  dan  menguraikan  siasatku  dengan  teliti.  Memang  ada tjara-tjara untuk mengelabui orang-orang-asing sehingga mereka tidak bisa menangkap setiap insinuasi.  Engkau  dapat  menggunakan  peribahasa  daerah  atau  menjatakan  suatu  pengertian  dengan  gerak.  Rakjat  mengerti. Dan mereka bersorak.

 

Didjaman kami, kami tidak membalas dendam kepada polisi. Taruhlah kami dapat berbuat sedemikian, akan  tetapi hasilnja djauh lebih menjenangkan dengan mempermainkannja. Kalau aku berhadapan dengan wadjah  baru  jang  Mengikutiku  dari  belakang  setelah  selesai  berpidato,  sikapku  selalu  ramah.  Aku  tidak  pernah  membesarkan suara dan mengeledek, ,,Hee, apa-apaan kamu mengikuti aku, ha ?” Tidak pernah sekasar itu.  Dengan  senjum  jang  menjenangkan  aku  seenaknja  membiarkannja  melakukan.  pengedjaran  dibelakangku  dalam  teriknja  sinar  matahari  menudju  salah  satu  daerah  pesawahan  dipinggir  kota.  Dari  pesawat-terbang  maka  daerah  pesawahan  dengan  petak-petak  ketjil  kelihatan  menghampar  bagai  selimut  jang  ditambal-  tambal. Dan pematang-pematang jang mengelilingi tiap petak merupakan dinding penahan air supaja tetap  tinggal  dalam  petak  itu  dan  menggenangi  benih.  Kubiarkan  orang  itu  mengikuti  djedjakku  kepinggir  daerah  pesawahan,  kuletakkan  sepeda  diatas  rumput  dan  berlari  sepandjang  pematang  kerumah  seorang  kawan.  Karena  tiba-tiba  timbul  dalam  pikiranku  hendak  mengundjunginja.  Sudah  tentu  aku  memilih  kawan  jang  tinggal tjukup djauh dari djalan dan kira-kira setengah mil melalui pematang sawah.

 

 

Aku  tahu  betul,  bahwa  orang  Belanda  jang  gemuk  dan  goblok  itu  tidak  boleh  meninggalkan  sepeda  mereka  dipinggir   djalan   kalau   tidak   ada   jang   mendjaga.   Dan   adalah   tugas   kewadjiban   mereka   untuk   tidak  membiarkan lawan seperti Bung Karno lepas dari pandangannja. Djadi, apa akal orang Belanda terkutuk itu ?  Tiada  akal  mereka  lain  selain  memikul  sepeda  jang  berat  itu,  lalu  berdjalan  dengan  terhunjung-hunjung  merentjahi  air  sawah  atau  meniti  pematang  jang  ketjil  itu  sebisa-bisanja.  Memandangi  orang-orang  ini  berkeringat,  memusatkan  tenaga  dan  terhunjung-hunjung  itu  memberikan  kegembiraan  kepadaku  jang  tak  ada taranja. Tjobalah bajangkan ketegangan dari masa ini. Kami adalah peloporpelopor revolusi. Bersumpah  untuk menggulingkan Pemerintah. Dan Sukarno—mendjadi duri jang paling besar. Setiap hari tadjuk-rentiana  menentangku dan tak pernah terluang waktu barang sedjam dimana aku tidak dikedjar-kedjar oleh dua orang  detektif  atau  beberapa  orang  mata-mata  sematjam  itu.Aku  mendjadi  sasaran  utama  bagi  Belanda.  Mereka  mengintipku seperti berburu binatang liar. Mereka melaporkan setiap gerak-gerikku. Sangat  tipis harapanku  agar  bisa  luput  dari  intipan  ini.  Kalau  para  pemimpin  dari  kota  lain  datang,  aku  harus  mentjari  tempat  rahasia  untuk  berbitjara.  Seringkali  aku  mengadakan  pertemuan  penting  dibagian  belakang  sebuah  mobil  dengan  merundukkan  kepala.  Dengan  begini  polisi  tidak  dapat  mendengar  atau   melihat  apa  jang  terdjadi.  Kami   harus   mendjalankan   tjara   penipuan   jang   demikian   itu.Aku   memikirkan   siasat   gila-gilaan   untuk  membikin bingung polisi.

 

 

Tempat  lain  jang  kami  pergunakan  untuk  pertemuan  ialah  rumah  pelatjuran.  Aduh,  ini  luarbiasa  bagusoja.  Hanja semata-mata untuk memenuhi kepentingan tugasku. Kemana lagi seseorang jang dikedjar-kedjar harus  pergi,  supaja  aman  dan  bebas  dari  ketjurigaan  dan  dimana  kelihatannja  seolah-olah  kepergiannja  itu  tidak

 

untuk   menggulingkan   pemerintah?   Tjoba dimana lagi

?

Djadi berapatlah kami disana,   ditempat
BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

Halaman 44 dari 109

 

pelatjuran, sekitar djam delapan dan sembilan malam, jaitu waktu jang tepat untuk itu. Kami pergi sendiri-  sendiri atau dalam kelompok ketjil. Setelah memperoleh kebulatan kata kami bubar; seorang melalui pintu  depan, dua orang agi melalui pintu samping, aku mengambil djalan belakang dan seterusnja.Selalu pada hari  berikutnja aku harus berurusan dengan Komisaris Besar Polisi, Albrechts. Setelah memeriksa tentang gerak-  gerikku ia menjerang ,,Sekarang dengarlah, tuan Sukarno, kami tahu dengan pasti, bahwa tuan ada disebuah  rumah  pelatjuran  semalam.  Apakah  tuan  mengingkarinja  ?”  ,,Tidak,  tuan”  djawabku  dengan  suara  rendah  sambil  memandang  seperti  orang  jang  berdosa,  hal  mana  sepantasnja  bagi  orang  jang  sudah  kawin.  ,,Saja  tidak dapat berdusta kepada tuan. Tuan mengetahui saja, saja kira.”Kemudian ia menarik mulutnja kebawah  kedekat  mulutku  dan  bersuara  seperti  menjalak,  ,,Untuk  apa?  Kenapa  tuan  pergi  kesana  ?”Lalu  kudjawab,  ,,Apa  maksud  tuan  ?  Bukankah  saja  seorang  lelaki  ?  Bukankah  umur  saja  lebih  dari  16  tahun  ?”,,Nah,”  ia  meringis,  mermandang  kepadaku  dekat-dekat.  ,,Kami  tahu.  Apa  tuan  pikir  kami  bodoh?  Lebih  baik  terus-  terang.  Tuan  dapat  mentjeritakan  kepada  kami  mengapa  tuan  kesana.  Apa  alasannja  ?”,,Jaaahhh,  dugaan  tuan untuk apa saja kesana ?” Kataku agak kemalu-maluan. ,,Untuk bertjintaan dengan seorang perempuan,  itulah alasann ja.”,,Saja akan buat laporan lengkap mengenai ini.”,,Untuk siapa ? Isteri saja ?”,,Tidak, untuk  Pemerintah,” dia membentak.,,O,” kataku terengah mengeluarkan keluhan jang bersuara, .,Baiklah.”Pelatjur  adalah mata-mata jang paling baik didunia.

 

Aku  dengan  segala  senang  hati  mengandjurkan  ini  kepada  setiap  Pemerintah  Dalam  gerakan  P.N.I.-ku  di  Bandung  terdapat  670  orang  dan  mereka  adalah  anggota  jang  paling  setia  dan  patuh  daripada  anggota  lain  jang  pernah  kuketahui.  Kalau  menghendaki  mata-mata  jang  djempolan,  berilah  aku  seorang  pelatjur  jang  baik. Hasilnja mengagumkan sekali dalam pekerdjaan ini.Tak dapat dibajangkan betapa bergunanja mereka  ini.  Jang  pertama,  aku  dapat  menjuruh  mereka  menggoda  polisi  Belanda.  Djalan  apa  lagi  jang  lebih  baik  supaja melalaikan orang dari kewadjibannja selain mengadakan pertjintaan jang bernafsu dengan dia. ‘kan ?  Dalam keadaan jang mendesak aku menundjuk seorang polisi tertentu dan membisikkan kepada bidadariku,  ,,Buka  kupingmu.  Aku  perlu  rahasia  apa  sadja  jang  bisa  kaubudjuk  dari  babi  itu.”  Dan  betul-betul  ia  memperolehnja.  Polisi-polisi  jang  tolol  ini  tidak  pernah  mengetahui,  dari  mana  datangnja  keterangan  jang  kami peroleh. Tak satupun anggota partai jang gagah dan terhormat dari djenis laki-laki dapat mengerdjakan  tugas ini untukku ! Masih ada prestasi lain jang mengagumkan dari mereka ini.

 

 

Perempuan-perempuan   latjur   adalah   satu-satunja   diantara   kami   jang   selalu   mempunjai   uang.   Mereka  mendjadi penjumbang jang baik apabila memang diperlukan. Anggota-anggotaku ini bukan sadja penjumbang  jang  bersemangat,  bahkan  mendjadi  penjumbang  jang  besar.  Sokongannja  besar  ditambah  lagi  dengan  sokongan   tambahan.   Aku   dapat   menggunakannja   lebih   dari   itu.Sudah   tentu   tindakanku   ini   mendapat  ketjaman  hebat  karena  memasukkan  para  pelatjur  dalam  partai.  Sekali  lagi  Ali  jang  berbitjara.  ,,Sangat  memalukan,”  keluhnja.  ,,Kita  merendahkan  nama  dan  tudjuan  kita  dengan  memakai  perempuan  sundal—  kalau  Bung  Karno  dapat  mema’afkan  saja  memakai  nama  itu.  Ini  sangat  memalukan.”,,Kenapa  ?”  aku  menentang.  ,,Mereka  djadi  orang  revolusioner  jang  terbaik.  Saja  tidak  mengerti  pendirian  Bung  Ali  jang  sempit.”,,Ini  melanggar  susila”,  katanja  menjerang.  ,,Apakah  Bung  Ali  pernah  menanjakan  alasan  mengapa  saja   mengumpulkan   670   orang   perempuan   latjur   ?”   tanjaku   kepadanja.   ,,Sebabnja   ialah   karena   saja  menjadari,  bahwa  saja  tidak  akan  dapat  madju  tanpa  suatu  kekuatan.  Saja  memerlukan  tenaga  manusia,  sekalipun tenaga perempuan. Bagi saja persoalannja bukan soal bermoral atau tidak bermoral. Tenaga jang  ampuh,  itulah  satu-satunja  jang  kuperlukan.”,,Kita  tjukup  mempunjai  kekuatan  tanpa  mendidik  wanita

 

……… wanita ini,” Ali memprotes. ,,P.N.I. mempunjai tjabang-tjabang diseluruh tanah-air dan semuanja ini  berdjalan tanpa anggota seperti itu. Hanja di Bandung kita melakukan sematjam ini.” ,,Dalam pekerdjaan ini  maka  gadis-gadis  pesanan— pelatjur  atau  apapun  nama  jang  akan  diberikan  kepadanja—adalah  orang-orang  penting,”  djawabku.  ,,Anggota  lain  dapat  kulepaskan.  Akan  tetapi  melepaskan  perempuan  latjur  —  tunggu  dulu.   Ambillah   misalnja   Mme.   Pompadour—dia   seorang   pelatjur.   Lihat   betapa   masjhurnja   dia   dalam  sedjarah.  Ambil  pula  Theroigne  de  Merricourt,  pemimpin  besar  wanita  dari  Perantjis.  Lihat  barisan-roti  di  Versailles.  Siapakah  jang  memulainja  ?  Perempuan-perempuan  latjur.  “Kupu-kupu  malam  ini  jang  djasanja  diperlukan  untuk  mengambil  bagian  hanja  dibidang  politik,  ternjata  memperlihatkan  hasil  jang  gilang-  gemilang pun dibidang lain.

 

Mereka memiliki daja-penarik seperti besi berani. Setiap hari Rabu tjabang partai mengadakan kursus politik  dan anggota-anggota dari kaum bapak akan datang berdujun-dujun apabila dapat melepaskan pandang pada  tentaraku  jang  tjantik-tjantik  itu.  Djadi,  aku  tentu  harus  mengusahakan  supaja  mereka  datang  setiap  minggu.Tidak   sadja   musuh-musuhku   jang   datang   bertamu   kepada   gadis-gadis   itu   guna   memenuhi  kebutuhannja,  akan  tetapi  dari  anggota  kami  sendiripun  ada  djuga.  Dan  mendjadi  tanggung-djawab  jang  paling  besarlah  untuk  membasmi  anasir-anasir  dalam  partai—baik  laki-laki  maupun  perempuan—jang  tidak  bisa  menjimpan  rahasia.  Kamipun  harus  membasmi  tjutjunguk-tjutjunguk— jaitu  orang  jang  dibajar  untuk  memata-matai   partainja   sendiri.   Setiap   tempat   mempunjai   tjutjunguk-tjutjunguk.   Untuk   mejakinkan,  apakah  agen-agen  kami  djudjur  dan  dapat  menutup  mulutnja,  kami  mengudji  mereka.  Selama  enam  bulan  sampai  setahun  gadss-gadis  pelatjur  itu  mendjadi  ,,Tjalon  Anggota”.  Ini  berarti  bahwa,  sementara  kami  memberi  bahan dan mengawasinja, mereka tetap sebagai tjalon. Kalau sudah diangkat mendjadi mata-mata

 

 

jang   diakui   ketjakapannja,   maka   itu   tandanja

 

BUNG KARNO PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT INDONESIA

 

kami

 

sudah

 

jakin

 

ia

 

dapat

 

dipertjaja   penuh.Sebagai

 

Halaman 45 dari 109

 

perempuan  djalanan  seringkali  mereka  harus  berurusan  dengan  hukum  dan  dikenakan  pendjara  selama  tudjuh  hari  atau  denda  lima  rupiah.  Akan  tetapi  aku  mendorongnja  supaja  mendjalani  hukum  kurungan  sadja.

 

Suatu  kali  diadakan  razzia  dan  seluruh  kawanan  dari  pasukan  Sukarno  diangkat  sekaligus.  Karena  setia  dan  patuh  kepada  pemimpinnja,  maka  ketika  hakim  meminta  denda  mereka  menolak,  ,,Tidak,  kami  tidak  bersedia  membajar.”Keempatpuluh  orangnja  dibariskan  masuk  pendjara.  Aku  gembira  mendengarnja,  oleh  karena  pendjara  adalah  sumber  keterangan  jang  baik.  Tambahan  lagi,  ada  baiknja  untuk  masa  jang  akan  datang sebab mereka sudah mengenal para petugas pendjara.Kemudian kusampaikanlah instruksi jang kedua  untuk  didjalankan  nanti  setelah  bebas.  Misalkan  setelah  itu  armadaku  mentjari  sasarannja  disuatu  malam.  Umpamakan  pula  disaat  jang  bersamaan  kepala  rumah  pendjara  sedang  berdjalan-djalan  makan  angin  menggandeng isterinja. Pada waktu ia melalui salah  seorang  bidadari  pilihanku ini,  sigadis  harus tersenjum  genit   kepadanja   dan   menegur   dengan   merdu,   ,,Selamat   malam”   sambil   menjebut   nama   Belanda    itu.  Beberapa  langkah  setelah  itu  tak  ragu  lagi  tentu  ia  akan  berpapasan  dengan  gadisku  jang  lain  dan  diapun  akan menjobut namanja dan meraju.,,Hallo…….Selamat malam untukmu.” Isterinja akan gila oleh teguran  ini. Muslihat ini termasuk dalam perang urat-sjaraf kami.

 

 

Didjaman P.N.I. ini orang telah mengakuiku sebagai pemimpin, akan tetapi keadaanku masih tetap melarat.  Inggit  mentjari  penghasilan  dengan  mendjual  bedak  dan  bahan  ketjantikan  jang  dibuatnja  sendiri  didapur  kami.  Selain  itu  kami  menerima  orang  bajar-makan,  sekalipun  rumah  kami  di  Djalan  Dewi  Sartika  22  ketjil  sadja. Orang jang tinggal dengan kami bernama Suhardi, seorang lagi Dr. Samsi jang memakai beranda muka  sebagai kantor akuntan dan seorang lagi kawanku Ir. Anwari. Kamar tengah mendjadi biro arsitek kami. Sewa  rumah  seluruhnja  75  sebulan.  Uang  makan  Suhardi  kira-kira  35  rupiah.  Kukatakan  ,,kira-kira”  oleh  karena  selain  djumlah  itu  aku  sering  memindjam  beberapa  rupiah  ekstra.  Bahkan  Inggit  sendiripun  memindjam  sedikit-sedikit dari dia. Adalah suatu rahmat dari Tuhan Jang Maha Pengasih, bahwa kami diberi-Nja nafkah  dengan  djalan  jang  ketjil-ketjil.  Kalau  ada  kawan  mempunjai  uang  kelebihan  beberapa  sen,  tak  ajal  lagi  kami  tentu  mendapat  suguhan  kopi  dan  peujeum.  Sekali  aku  mendjandjikan  kepada  Sutoto  kawan  sekelas,  bahwa  aku  akan  mentraktirnja,  oleh  karena  ia  sering  mengadjakku  minum.  Disore  berikutnja  ia  datang  bersepeda  untuk  berunding  dengan  pemimpinnja.  Rupanja  ia  kepanasan  dan  pajah  setelah  mendajung  sepedanja   dengan   tjepat   selama   setengah   djam.   Dan   pemimpin   dari   pergerakan   nasional   terpaksa  menjambutnja  dengan,  ,,Ma’af,  Sutoto,  aku  tidak  dapat  bertindak  sebagai  tuan-rumah  untukmu.  Aku  tidak  punja  uang.”Kemudian  Sutoto  mengeluh,  ,,Ah,  Bung  selalu  tidak  punja  uang.”Selagi  kami  duduk-duduk  dengan    muka    suram    ditangga    depan,    seorang    wartawan    lewat    bersepeda.,,Heee,    kemana?”    aku  memanggil.,,Tjari tulisan untuk koranku,” ia berteriak mendjawab.,,Aku akan buatkan untukmu.”,,Berapa ?”  tanjanja  mengendorkan  djalan  sepedanja.,,10  rupiah  !”  Wartawan  itu  seperti  hendak  mempertjepat  djalan  sepedanja. ,,Oke, lima rupiah.”Tidak ada djawaban. Aku menurunkan tawaranku. ,,Dua rupiah bagaimana ?  Akan kuberikan padamu. Pendeknja tjukuplah untuk bisa mentraktir kopi dan peujeum. Setudju ?”,,Setudju  !”Kawanku itu menjandarkan sepedanja kedinding rumah dan sementara dia dan Sutoto duduk disamping aku  menulis  seluruh  tadjuk.  Tambahan  lagi  dengan  pena.  Tak  satupun  jang  kuhapus,  kutjoret  atau  kutulis  kembali.  Begitu  banjak  persoalan  politik  jang  tersimpan  diotakku.  sehingga  selalu  ada  sadja  jang  akan  ditjeritakan. 15 menit kemudian kuserahkan kepadanja 1.000 perkataan. Dan dengan seluruh uang bajaranku  itu aku membawa Sutoto dan Inggit minum kopi dan menikmati penjeum. Bagi kami kemiskinan itu bukanlah  sesuatu jang patut dimalukan.

 

 

Akan  kutjeriterakan  padamu,  bagaimana  kami  hidup  ditahun-tahun  duapuluhan.  Pada  achir  liburan  Natal  saudara  J.A.H.  Ondang,  seorang  kawan,  datang  kerumah  dilarut  malam.  ,,Bung,”  katanja.  ,,Aku  dalam  kesulitan. Apa Bung mau menolongku ?”,,